Tim Robot UMM Juarai Kontes Robot Internasional di Amerika Serikat

PERJUANGAN mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) yang mewakili Indonesia untuk tampil dalam kontes robot internasional di Trinity College Amerika Serikat, 1-2 April 2017 ini tak sia-sia. Dalam kontes bertajuk Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) itu, dua tim dari UMM memborong juara 1 dan 2 sekaligus untuk kategori robot berkaki. Dua tim tersebut yaitu tim InaMuh sebagai juara 1 dan tim Unmuh Malang juara 2. “Di samping itu, tim InaMuh juga meraih juara poster terbaik,” terang dosen pembimbing sekaligus ketua rombongan, Ir. Alik Ansyori Alamsyah, M.T. saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (3/4). Di final, tim dari UMM harus bersaing dengan sejumlah kontestan lainnya yang telah diseleksi di negaranya masing-masing, di antaranya dari Kanada, Tiongkok, Israel, Portugal, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Ada dua hal yang menjadi keunggulan robot-robot UMM, yaitu kecepatan dan ketepatan. Hal itu lantaran robot UMM dibekali dengan sepuluh sensor, yaitu delapan sensor ultrasonik dan dua sensor infra merah sebagai sensor jarak. Sensor-sensor tersebut digunakan agar mudah mendeteksi posisi lilin dan dapat menjangkau lilin dengan cepat dan tepat. Selain itu, robot UMM juga dibekali sensor flame UVTRON-R9454 untuk mendeteksi api lilin. Sensor ini sangat baik jika dibandingkan dengan sensor flame yang lain, karena mampu menangkap cahaya ultraviolet dengan jangkauan spektrum185 nanometer (nm) sampai 260 nm, di mana jangkauan itu hanya dimiliki oleh gas api. Merespon hal ini, Rektor UMM Fauzan mengatakan, semua mahasiswa yang bertanding ke tingkat apapun akan diapresiasi oleh UMM. Semuanya diberikan beasiswa berupa bebas tanggungan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Selain itu, semua karya yang telah dibuat oleh mahasiswa ini nantinya akan dipamerkan dalam festival inovasi dan karya. “Agustus nanti akan digelar festival itu untuk memacu semangat yang lain agar terus menciptakan inovasi dan karya,” jelas Fauzan. (can/han)

DPPM Targetkan Lebih dari 60% Proposal Riset dan Pengabdian Masyarakat Lolos Pendanaan Dikti

KEMENTERIAN Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) meluncurkan panduan usulan penelitian dan pengabdian masyarakat edisi XI di tahun 2017. Merespon hal tersebut, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar sosialisasi panduan pelaksanaan penelitian dan pengabdian masyarakat edisi XI ke semua dosen tetap, Sabtu (1/4) di Auditorium UMM. Kepala DPPM, Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes menyatakan, beberapa peraturan yang ditambahkan adalah proposal yang diunggah merupakan rancangan penelitian dan pengabdian masyarakat yang  Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 106 tahun 2016. Peraturan tersebut, lanjut Sujono, mengatur tentang Standar Biaya Keluaran (SBK). Semua pengeluaran yang dirancang oleh dosen diharapkan dapat meningkatkan pencapaian target luaran yang telah ditetapkan. Perubahan lainnya yang diakomodir panduan edisi XI ini adalah pengelompokan skema penelitian dan rancangan pengaturan untuk luaran tambahan. Pembiayaan luaran dipisahkan dengan biaya penelitian itu sendiri. “Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” ujar Sujono saat ditemui kemarin. Buku panduan edisi XI juga menjelaskan tentang uraian setiap skema program penelitian dan pengabdian masyarakat. Secara rinci dijelaskan tentang tata cara pengajuan, seleksi proposal, monitoring dan evaluasi pelaksaan serta tata cara penulisan hasil kegiatan. Tidak hanya itu, lebih baru, panduan edisi XI juga menjelaskan tentang Tingkat Kesiapterapan Tekhnologi (TKT). TKT mulai digunakan oleh Kemenristek Dikti untuk memetakan kegiatan riset yang dikaitkan dengan tingkat kesiapan tekhnologinya. “TKT digunakan untuk mendukung program hilirisasi dan komersialisasi hasil riset,” ungkap Sujono. Sampai sejauh ini, belum banyak hasil penelitian dosen yang bisa dikomersialisasikan. DPPM mendorong seluruh dosen untuk mengajukan proposal penelitian eksternal. “Sejauh ini, penelitian eksternal baru mencapai 60%, kita terus mendorong agar cluster mandiri yang sudah didapatkan UMM dapat terus dipertahankan,” imbuhnya. (jal/han)

Prof. Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si.: Perlu Rekayasa Sosial Tingkatkan Komoditas Tani Indonesia

SEBAGAI negara agraris, pertanian merupakan komoditas utama Indonesia. Pembangunan di sektor pertanian memberikan kontribusi besar bagi perkembangan perekonomian nasional. Hal itu menjadi motivasi Guru Besar Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Prof Dr Ir Jabal Tarik Ibrahim MSi menekuni bidang ini. Lahir dari keluarga petani di daerah Probolinggo, Jabal muda sudah sangat tertarik untuk mengembangkan pertanian di Indonesia. Kondisi petani dan kurangnya pengetahuan petani tentang bagaimana mengatur pertanian mereka menjadi titik fokus Jabal saat itu. Karena itulah, harapan yang telah dipupuknya sejak kecil kini diwujudkannya. Kondisi pembangunan pertanian saat ini dirasakannya masih begitu-begitu saja. Walaupun sudah ada peningkatan dalam hal pengelolaan produk pertanian, namun peningkatan pembangunan masih perlu dilakukan. “Keinginan untuk lebih meningkatkan pembangunan pertanian dan kesejahteraan petani itu selalu ada, agar berkembang lebih baik lagi dan lagi,” ujarnya. Keinginan Jabal ini mendapat sambutan dari banyak pihak, termasuk dukungan pendanaan dari Food Agriculture Organisation (FAO) di bawah koordinasi PBB. Risetnya pada 2012 ini bermula dari mandat yang diberikan Bank Indonesia Kediri untuk mengembangkan wilayah dengan komoditas unggulan cabai. Laporannya lantas dipercaya pemerintah daerah dan pihak Bank Indonesia Kediri untuk ditunjukkan pada perwakilan FAO di Indonesia. Hingga akhirnya, dia dipercaya untuk melanjutkan penelitiannya pada komoditas lain dengan bantuan dana dari FAO. Riset lanjutan yang dilakukannya tidak terbatas pada daerah Kabupaten Kediri saja, tetapi daerah lain seperti Blitar dan Tulungagung. Kajiannya pun lebih luas, yakni berkaitan dengan rantai nilai komoditas cabai. Mulai dari tahap pembibitan, budidaya, hingga panen dan pengelolaan yang baik. Tak hanya itu, manajemen rantai nilai komoditas ini juga diteliti oleh Jabal. Penelitian Jabal ini memiliki dampak luar biasa bagi petani. Pasalnya, melalui desain pertanian ini, petani mampu memperkirakan harga produknya di pasaran. Sehingga, mereka juga bisa memperkirakan waktu tanam yang lebih efektif, yaitu saat kondisi alam mendukung dan harga produknya sedang tinggi di pasaran. Secara tidak langsung, petani lebih mudah ‘balik modal’ dan kesejahteraannya ikut meningkat. Hasil riset ini kemudian juga diterapkan pemerintah daerah Kabupaten Kediri dan Blitar, bahkan FAO juga menerapkannya untuk pertanian Indonesia di sektor Jawa Barat dan Sumatra. Lantaran riset ini, perkembangan petani tidak lagi hanya mengikuti arus, namun bisa lebih berkembang. Sebab, ada rekayasa sosial yang membuat mereka lebih berkembang. Alumnus program doktoral Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Penyuluhan Pembangunan ini juga pernah melakukan riset terkait Irigasi di Sulawesi Tengah. Risetnya itu lebih mengarah pada proses pengembangan perairan, memilah daerah-daerah yang belum dan yang sudah terairi dengan baik. Untuk melakukan riset ini, dia tidak sendiri. Bekerjasama duarekannya dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM dia menerapkan teknologi pengindraan jarak jauh. Dengan drone, ia memetakan sistem perairanwilayah Sulawesi Tengah. Melakukan riset dengan terjun langsung ke lahan pertanian bukanlah perkara mudah. Minimnya akomodasi serta kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi pria kelahiran 16 Juli 1966 ini. Terlebih, ditambah ketidaksabaran petani yang ingin mengetahui hasil riset dalam waktu singkat. “Disangka sebagai perwakilan perusahaan yang akan mengganggu mereka juga pernah, tapi ya dijalani saja,” imbuhnya. Tidak hanya melalui riset dan pengabdian masyarakat, peraih dosen berprestasi FPP UMM tahun 2015 ini juga membuktikan keahliannya dengan meraih Penulisan Abstrak Seminar Terbaik dalam forum International Conference on Green Development in Tropical Regions (Andalas University dan USAID, 2015). Selain itu, Jabal juga pernah terlibat dalam Irrigation Area Survey Using Micro Unmanned Aerial Vehicle (Gumbasa Irrigation Area Case Study), USAID, 2015. (nai/han)

Gus Solah Ajak Mahasiswa UMM Miliki Jiwa Humanis

PIMPINAN dan pengasuh pondok pesantren Tebuireng Jombang, KH. Salahudin Wahid hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (1/4). Ulama yang akrab disapa Gus Solah menyambangi kampus putih untuk memberi kuliah umum bertema “Humanisme Islam dalam Kehidupan Materialistik-Hedonistik” di Masjid A.R. Fachruddin UMM. Saat ini, kata Gus Solah, humanisme sering dimaknai sebagai bagian yang terpisah dari nilai-nilai spiritual transenden. Masyarakat seharusnya mempunyai harkat, martabat, dan kemampuan untuk memutuskan masa depannya. Namun, memasuki era posmodernisme, manusia malah menjadi kelompok mu’tazilah, memisahkan diri dari agama dan menentukan hidup dengan caranya sendiri. Humanisme dikenal sejak awal kehidupan Islam. Banyak ayat dalamAl-Quran yang juga menerangkan hal ini. Salah satunya yang sering diungkapkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yakni surat Al-Maun. Surat ini menyinggung bahwa manusia yang mendustakan agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi humanisme. “Manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Dikirimkan ke bumi untuk menjadi khalifah, menjadi wakil Tuhan Tuhan, jadi lengkapilah dengan kemampuan untuk mempergunakan akal. Inilah humanisme Islam,” ujar Gus Solah. Sementara itu, lanjut Gus Solah, masyarakat Indonesia tak pantas menganut prinsip hedonisme dan matrealisme. Hedonisme adalah paham yang menganut bahwa hidup mesti digunakan untuk kepuasan diri. Sedangkan matreliasme beranggapan bahwa hidup adalah materi, tak ada yang selain itu. Selain bertentangan dengan falsafah hidup bangsa Indonesia, hal ini tentunya bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Gus Solah juga mengungkapkan ketidaksetujuannya akan slogan yang sering terdengar “muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga. “Indonesia akan mendapat bonus demografi pada 2020 sampai 2030 nanti. Ini adalah potensi yang luar biasa, jadi harus digunakan untuk berkarya lebih. Tidak mungkin lah, mudanya foya-foya tuanya kaya raya, matinya masuk surga,” tuturnya. Namun, ada hal-hal yang mengancam bonus demografi yang makin marak di Indonesia. Oleh karenanya, Gus Solah berpesan pada para pemuda untuk menjauhi ancaman itu. “Rokok, narkoba, gizi buruk, dan hedonisme ini,” pungkasnya. Sementara itu, dalam sambutannya Rektor UMM Fauzan menegaskan kuliah umum oleh tokoh agama ini adalah sebagian dari upaya UMM untuk berkontribusi dalam memperbaiki karakter mahasiswa. (ich/han)

Eskalator UMM Juarai Kompetisi PR Tingkat Nasional

TIGA mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini kembali meraih torehan membanggakan dengan menjuarai ajang kompetisi Public Relations (PR) bergengsi tingkat nasional. Mereka menjadi juara pertama pada event Jogja Public Relations Days (JPRD) yang diselenggarakan organisasi profesi Perhumas Muda Yogyakarta pada 25 Maret lalu. Tiga mahasiswa yang tergabung dalam klub PR Eskalator UMM tersebut yaitu Hanny Dwi Rahmawati, Bertya Salama Mentari, dan Syahidah Nabilah Muslim. Ketiganya merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2015 yang mengambil konsentrasi PR. “Semula, kami sempat pesimis karena berhadapan dengan peserta lain yang notabene berasal dari perguruan tinggi ternama,” kata koordinator kelompok Hanny Dwi Rahmawati saat ditemui Sabtu (1/4). Bagaimana tidak, tim ini berhasil mengalahkan sembilan finalis lainnya yang di antaranya berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, London School of Public Relations, Universitas Islam Indonesia, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Islam Sultan Agung, serta Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta. Selain berasal dari kampus ternama, para peserta JPRD sebagian besar memiliki pengalaman yang mumpuni dalam berbagai kompetisi PR tingkat nasional. “Mereka rata-rata berpengalaman, sedangkan bagi kami, ini merupakan debut perdana, makanya kami sempat pesimis. Namun, alhamdulillah semua pertanyaan juri bisa kami jawab dengan baik,” ujar mahasiswi asal Palu, Sulawesi Tengah ini. Adapun juri yang menilai yakni dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Client Service Director di Ogilvy Public Relations Jakarta, Rizanto Binol, serta Head of Corporate Reputation Department STIKOM The London School of Public Relations Jakarta Olivia Deliani Hutagaol. Hanny beserta kedua kawannya itu dituntut membuat strategi Public Relations sesuai tawaran tema panitia, yakni terkait Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Dari 25 kawasan yang masuk dalam daftar KSPN, Pantai Morotai, Sulawesi Tenggara dipilih sebagai objek strategi komunikasi kelompok ini. “Kemarin kita buat proposal 15 halaman dengan tempo pengerjaan selama satu bulan. Sampai sana, katanya di sana ada brief 2-nya. Ternyata brief 2 itu cuma jebakan batman, kita cuma diminta presentasi brief 1 aja,” kata Hanny saat menceritakan pengalaman lombanya. Diakui Hanny, kerjasama antar anggota dan ide berbeda jadi kunci keberhasilan mereka. “Selain berkat bimbingan kakak-kakak tingkat kami, teamwork jadi hal yang penting dilakukan. Selain itu, bagi kami, ide sederhana itu justru bagus kalau realistis,” imbuh Hanny. “Pas awarding itu kami udah nggak mau datang karena pesimis bakal bisa menang, karena mau hujan juga. Tapi sampai akhirnya dinyatakan jadi juara itu bikin speechless banget,” tambah Syahidah yang turut diwawancarai. (can/han)

Muhammad Syukron Eko, Alumni UMM yang Terpilih Jadi Ketua PPI Polandia

MUHAMMAD Syukron Eko begitu lekat dengan Polandia. Sewaktu menjadi mahasiswa strata satu di Jurusan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Syukron berkesempatan studi selama dua semester di Politechnika Lubelska Polandia pada 2013-2014 melalui beasiswa pertukaran Erasmus Mundus. Dua tahun setelahnya, yaitu pada 2016 lalu, tak lama selepas meraih gelar Sarjana Komputer (S.Kom) di UMM, Syukron kembali berangkat ke Polandia untuk menempuh studi master di University of Warsaw dengan beasiswa dari pemerintah Polandia, yaitu Ignacy Łukasiewicz Scholarship. Tak heran jika pada akhirnya Syukron dipercaya oleh para mahasiswa Indonesia yang saat ini tengah kuliah di Polandia untuk menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Polandia. “Ini amanah yang tidak ringan bagi saya, namun berbekal pengalaman organisasi selama di UMM, serta dukungan teman-teman di sini, saya yakin PPI Polandia akan lebih maju,” tuturnya. Selama kuliah di UMM, Syukron memang sangat proaktif terlibat dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan maupun komunitas sosial dan internasional. Beberapa di antaranya yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), International Language Forum (ILF) UMM, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Informatika UMM. Ia juga aktif di organisasi internasional ASEAN Youth Leader Association (AYLA) serta komunitas belajar Akademos dan Rumah Inspirasi Malang. Syukron berharap, dengan terpilih sebagai ketua PPI Polandia, ia dapat lebih mengenalkan kesenian dan kebudayaan Indonesia pada masyarakat Eropa umumnya, dan warga Polandia khususnya. Setelah resmi dilantik pada 1 April 2017 ini, Syukron berencana merumuskan sejumlah gelaran budaya, bekerjasama dengan kedutaan besar Polandia, Warung Indonesia Polandia, lembaga kesenian gamelan serta berbagai instansi dan lembaga terkait. Dengan berbagai gelaran budaya, Syukron ingin berkontribusi langsung bagi kemajuan dan perkembangan PPI Polandia. Salah satu strateginya, lanjut Syukron, ialah memperkenalkan eksistensi PPI Polandia ke masyarakat luas melalui media massa. “Kami juga akan melakukan siaran pendidikan, termasuk mengadakan event sosial dan keagamaan melalui siaran langsung PPI TV Polandia,” jelas Syukron. (jal/han)

Puska-PB UMM Latih Masyarakat Terdampak Banjir Jadi Wirausaha

PRIHATIN akan kondisi kelurahan Bareng, Malang, Jawa Timur, yang kerap menjadi lokasi langganan banjir, Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska-PB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pelatihan peningkatan ekonomi masyarakat terdampak bencana, tepatnya di RW VII dan VIII. Pelatihan ini, menurut  tenaga ahli bidang ekonomi Puska-PB UMM Eka Kadharpa Utama Dewayani, dimaksudkan untuk memberikan pengarahan, bekal, maupun ilmu untuk berwirausaha agar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Lokasi yang dipilih disebutnya memang merupakan langganan banjir, dan sering sekali mereka harus menganggur ketika banjir tersebut datang. “Kebanyakan dari mereka bukan pengangguran tetapi pekerja musiman dan bahkan serabutan. Jadi kami ingin memberikan bekal wirausaha untuk mereka,” ujar tenaga ahli bidang ekonomi Puska-PB UMM Eka Kadharpa Utama Dewayani. Pelatihan yang diberikan berupa wirausaha di bidang konveksi, makanan-minuman, dan budidaya jamur. “Ketiga bidang wirausaha tersebut dipilih setelah mendapat persetujuan warga sebelumnya. Dalam pelatihan dihadirkan para pelaku bisnis tiga bidang tersebut, yang nantinya bersama dengan UMM akan membimbing masyarakat,” tambahnya. Tak hanya itu, konsep pelatihannya juga dilakukan lebih mendalam. Diawali dengan mendalami materi oleh akademisi yakni dalam hal manajemen pemasaran, operasional, akutansi pembukuan, pemasaran online, dan juga studi kelayakan bisnis. “Kami tak ingin hanya sekadar memberikan pelatihan produksi saja. Kami sepakat untuk mendampingi mulai dari produksi sampai dengan pemasaran, agar nantinya kegiatan ekonomi ini dapat benar-benar meningkatkan pendapatan masyarakat,” lanjutnya. Tak hanya itu, UMM juga akan mengadakan business visit atau berkunjung ke beberapa tempat produksi bidang-bidang tersebut. Hal tersebut demi meningkatkan produksi dan kualitas barang binaannya. “Kami nanti akan berkunjung ke Blitar dan Tulungagung, untuk belajar terkait ketiga bisnis ini,” lanjutnya. Program pelatihan wirausaha ini akan dilakukan selama lima bulan masa pendampingan, dengan 40 peserta dari warga sekitar. (yun/oci/han)

Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., Guru Besar Kaya Penelitian dan Pengabdian

DALAM berkarya, Guru Besar Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM Prof Dr Ir Indah Prihartini MPselalu berpikir tentang apa manfaatnya bagi masyarakat. Tak mengherankan jika riset yang dilakukan Indah selalu diawali keprihatinannya pada kondisi masyarakat. Salah satunya ketika ia menemukan bahwa air susu segar sapi perah mengandung 12 residu organoklorin paling berbahaya. “Ternyata, sumber residu susu berasal dari pakan hijau, konsentrat, dan air minum yang dikonsumsi sapi,” jelas peraih juara satudosen berprestrasi 2011 Kopertis Wilayah VII ini. Indah melanjutkan, pakan itu berasal dari tanaman, sementara tanaman dibudidaya dengan bahan kimia dan intensif pestisida-insektisida. Residu itu lalu tertinggal di buah, biji, dan daun, termasuk dichloro-diphenyl-trichloroethane (DDT), salah satu pestisida sintetis berbahaya yang baru bisa didegradasi 30 tahun di tanah. Melalui penelitian mendalam, Indah akhirnya menghasilkan temuan tentang mikroba atau bakteri yang bisa mendegradasi senyawa komplek organik dan anorganik, termasuk senyawa berbahaya DDT. “Tiap mikroba punya siklus hidup. Siklus inilah yang dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian, peternakan, dan perikanan, yang berkualitas dan aman dikonsumsi,” katanya. Di samping penelitian tersebut, beberapa proyek riset yang tengah dilakukan Indah di antaranya identifikasi antibakteri berbasis herbal dan implementasinya pada budidaya ikan nila dan mas, juga tentang senyawa aktif fungi sebagai biofungisida bagi proteksi tanaman. Ia pun tengah meriset pengembangan dan produksi starter untuk biogas berbasis rumput serta melakukan perakitan feed–food aditif alami berbasis potensi lokal. Selain itu, Indah aktif mengawal program pengembangan pembibitan sapi potong lokal berbasis kawasan di Brang Rea, Nusa Tenggara Barat, dan mendampingi pengembangan klaster sapi perah di Kabupaten Jember. Sebelumnya pada 2015 ia juga mengawal pengembangan teknologi pengawetan dan peningkatan kualitas pakan ruminansia di Bangkalan, Madura. Di tahun yang sama, Indah berperan aktif dalam pengembangan klaster sapi potong terpadu berbasis padi di Matang Segantar, Kalimantan Barat. (ich/can/han)

Kemenristek Dikti Sediakan 1000 Beasiswa ke Timur Tengah

BEKERJASAMA dengan Kementrian Pendidikan Saudi Arabia, Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) RI menyediakan 1000 beasiswa bagi program magister dan doktoral. Kerjasama tersebut dilakukan dalam rangka merespon perkembangan pendidikan yang semakin pesat. Staf khusus Kemenristek Dikti KH. Dr. Abdul Wahid Maktub menyatakan solusi yang inovatif dapat muncul ketika lingkungan sudah bagus dan sangat mendukung. Lingkungan yang dibentuk seharusnya bukan hanya lingkungan formal, namun dibutuhkan juga lingkungan informal. “Semua beasiswa yang disediakan bertujuan agar bisa menghadirkan inovasi-inovasi yang cepat untuk permasalahan Indonesia,” jelasAbdul Wahidsaat presentasi beasiswa Timur Tengah akhir pekan lalu (25/3) di Ruang Sidang Senat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam rancangan Kemenristek Dikti, pada 2015-2019 yang menjadi prioritas utama adalah peningkatan mutu pendidikan tinggi di setiap Perguruan Tinggi (PT). selain mutu pendidikan tinggi, relevansi, akses, daya saing dan juga tata kelola PT menjadi sasaran selanjutnya yang ingin diperbaiki Kemenristek Dikti hingga 2019 nanti. “Yang ingin meneruskan program magister dan doktoral harus rajinmengecek lamankita dan kalau bisa juga memiliki jaringan,” terangWahid. Untuk mencapai mutu pendidikan yang ditargetkan, Kemenristek Dikti membuat grand design pendidikan tinggi 2015-2025. Konsep tersebut diantaranya memuat pemberian afirmasi pada PT yang masih lemah, pembedaan orientasi kampus menjadi konsep yang juga sedang digarap Kemenristek Dikti. “Perlu ada kampus yang diarahkan ke penelitian, kampus yang diarahkan ke pengajaran dan semacamnya,” imbuhnya. Selain itu, target Kemenristek Dikti untuk peningkatan mutu adalah masuknya PT di Indonesia dalam world class university. Paling tidak, lanjut Wahid, minimal ada limaPT di Indonesia yang bisa masuk 500 PT terbaik versi QS Ranking. Inovasi dan komersialisasi di segala bidang yang dilakukan PT juga semakin lama perlu ditingkatkan. “Penelitian yang dilakukan sebagian bisa diproduksi secara komersial. Jika berkaitan dengan regulasi, maka peraturan yang menghambat pengembangan PT harus diperbaiki dan dimaksimalkan,” paparnya. Menurut Wahid, selain gerakan strukturasi, gerakan kulturasi juga dibutuhkan di lingkungan PT. Gerakan kulturasi sendiri akan terbangun jika PT selalu memperbaharui caranya dengan metode yang lebih modern. Wahid berharap, penerapan gerakan kulturasi dapat menjadikan UMM sebagai father university atau universitas pelopor yang hidupnya diabdikan untuk orang lain atau life for other. (jal/han)

Zulfikar Bagas Anoraga, dari Papua hingga Eropa

BELUM genap tiga tahun Zulfikar Bagas Anoraga kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berbagai pengalaman internasional sudah direngkuhnya. Mulai dari proyek sosial di India selama dua bulan, program kredit transfer di Tongren University Cina selama satu semester, dan terakhir beasiswa Erasmus+ di Universidad de Murcia Spanyol selama enam bulan. Saat ini, Bagas tengah berada di Spanyol, karena sejak Januari hingga Juli mendatang ia mengikuti program Erasmus+ tersebut. Perjuangannya meraih beasiswa yang disebut terakhir ini tak mudah, karena saat pendaftaran program dibuka, ia sedang menjalani program kredit transfer di Cina. “Saya dapat kabar ada pendaftaran Erasmus+. Untuk mendaftar, saya agak kesulitan karena semua berkas saya di Indonesia, tidak dibawa ke Cina. Akhirnya, saya meminta bantuan teman kontrakan untuk mengurusi persyaratan, mulai dari transkrip hingga surat aktif kuliah,” kisah Bagas. Bahkan, saat pengumuman lolos beberapa bulan setelahnya, ia juga tidak sedang berada di Malang, karena sedang berlibur di kampung halamannya, Papua. “Kelolosannya saya tahu dari teman. Maklum saja, di sana (Papua) susah sekali sinyal internet. Sempat tidak percaya saya berhasil lolos, rasanya seperti mimpi. Bahkan, orang tua saya sampai menitikkan air mata,” cerita Bagas haru. Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM ini berujar, motivasi utamanya meraih beasiswa luar negeri ialah orang tuanya. “Saya termotivasi belajar menjadi lebih baik demi orang tua saya,” ujarnya. Siapa sangka, awalnya Bagas ternyata bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun, keputusannya melanjutkan pendidikan selepas SMA membulatkan tekadnya untuk belajar sungguh-sungguh. Kini, Bagas bermimpi menjadi dosen. Di mata Bagas, meraih beasiswa luar negeri bukan hal sukar bila dibarengi niat yang kuat. “Asalkan kita ulet dan mau bersusah-payah berjuang. Yang paling penting ialah mencari informasi selengkap-lengkapnya, sehingga lebih mudah mempersiapkan persyaratan yang dibutuhkan,” pungkasnya. (ich/han)