Munir Mulkhan: Muhammadiyah Bekerja untuk Kemanusiaan

CENDEKIAWAN Prof Dr Abdul Munir Mulkhan menilai, saat ini secara kultural umat Islam Indonesia adalah pengikut Muhammadiyah. Hal itu dicirikan dengan pemikiran yang modern dan berkemajuan, semisal tak ada lagi yang menolak sekolah dan tak ada lagi yang dengan gencar mengkritik shalat id di lapangan. Munir berharap, kalangan muda Muhammadiyah memanfaatkan situasi tersebut dengan terus mengembangkan dakwah kultural sehingga bisa lebih dekat dengan masyarakat. “Ini perlu menjadi perhatian, bahwa Muhammadiyah tidak bekerja untuk dirinya sendiri, tapi bekerja untuk publik,” paparnya saat mengisi kegiatan Tadarus Pemikiran Islam kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Kamis (30/6). Karena bekerja untuk publik, maka Muhammadiyah dinilai sebagai organisasi yang mengabdi pada kemanusiaan. Hal itu juga menurut Munir selaras dengan asas Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) sebagai salah satu fondasi amal usaha Muhammadiyah, bahwa Muhammadiyah dalam melaksanakan proses pendidikan dan pelayanan kesehatan, tidak pernah memaksakan seseorang untuk menjadi kadernya. “Bukan agar yang tidak Muslim menjadi Islam, sama sekali bukan. Agar yang Muslim jadi Muhamamdiyah, juga bukan. Muhammadiyah melakukan semua itu semata-mata demi manusia. Ini bukan pernyataan saya. Tapi itu tertulis jelas dalam PKU,” tegas Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Sementara itu Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Syamsul Hidayat MA mengatakan, di tengah dinamisasi dan progresivitas gerakan Muhammadiyah, keragaman pemikiran adalah hal yang tak terelakkan. Namun, lanjut Syamsul, di dalam menyikapi keragaman di lingkup internalnya, Muhamamdiyah berbeda sekali dengan gerakan purifikasi (pemurnian) lainnya. “Kalau gerakan purifikasi yang lain, sedikit berbeda pendapat saja langsung pecah,” ujarnya. Syamsul mencontohkan gerakan Salafi di Indonesia. Ia membagi Salafi di Indonesia setidaknya terdapat lima macam. Dari kesemuanya itu, menurut Syamsul, meski menggunakan kitab dan rujukan yang sama, tetap terjadi perbedaan pendapat, yang lantas mengarah pada perpecahan. Lain hal dengan Muhammadiyah yang menurut Syamsul melihat perbedaan di Internalnya sebagai sebuah kekayaan. “Untuk menghadapinya, kita harus penuh kesabaran memang. Tapi kalau disebut di dalam Muhammadiyah ada yang mengharamkan filsafat, itu hanya sebagian kecil saja. Tidak banyak,” tandas Ketua Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta ini (can/han)

UMM dan JIMM Kembangkan Riset tentang Muhammadiyah

KIPRAH Muhammadiyah lebih dari satu abad menarik minat sejumlah peneliti untuk melakukan riset tentang seluk beluk persyarikatan ini. Sebaran topik riset juga sangat beragam, mulai dari peran dan dinamika Muhammadiyah dalam konteks pendidikan, kesehatan, politik dan ekonomi, hingga pengembangan amal usaha. Salah satu riset menarik tentang Muhammadiyah disampaikan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Fauzik Lendriyono tentang tipologi pemikiran di panti asuhan Muhammadiyah. Dari riset tersebut, ditemukan empat tipologi pemikiran panti asuhan Muhammadiyah, yaitu panti asuhan enterpreneur, panti asuhan pengasuh, panti asuhan pendidikan dan panti asuhan doktrin. Di sisi lain Fauzik mengkritik panti asuhan Muhammadiyah yang dinilainya belum melihat aspek pengkaderan dalam kurikulum yang dijalankan. “Muhammadiyah memiliki 318 panti asuhan di seluruh Indonesia dan memiliki 6000 jumlah anak asuh. Namun kebanyakan pengelola panti belum melihat aspek yang terpenting dari adanya panti asuhan, yaitu pengelolaan yang rapi dan transparansi,” kata Fauzik. Paparan Fauzik merupakan salah satu hasil riset yang dipaparkan pada kegiatan Tadarus Pemikiran Islam kerjasama Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) dan Jaringan Islam Muda Muhamadiyah (JIMM) pada Rabu-Kamis (29-30/6). Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari banyak pihak menampilkan sejumlah presentasi riset tentang Muhammadiyah dari beragam konteks dan sudut pandang. Pada kesempatan yang sama, cendekiawan muda Muhammadiyah Budi Asyhari Afwan juga memaparkan roadmap riset Muhammadiyah. Dia menjelaskan, pendokumentasian riset Muhammadiyah masih kurang teratur sehingga berdampak pada kurangnya signifikansi terhadap upaya reproduksi pengetahuan Muhammadiyah. Hasil riset menunjukkan bahwa masih banyak yang menjadikan Muhammadiyah sebagai perbincangan menarik dalam dunia penelitian. Jumlah thesis yang menjadikan Muhammadiyah sebagai bahan riset sebanyak 323 (89%) dan disertasi 11%. Munculnya angka tersebut memiliki dua arti, di satu sisi Muhammadiyah masih menjadi isu yang menarik, namun di sisi lain Muhammadiyah menjadi topik yang minim diperbincangkan dalam dunia akademik. Menurut Budi, grafik riset Muhammmadiyah pada tahun 1990an sebanyak 15 riset dan naik di tahun 2000. “Pada tahun 2000-an riset Muhammadiyah sebanyak 168 riset serta naik pada era 2010an namun tidak seberapa signifikan yaitu sebanyak 181 riset,” jelas peneliti Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut. Di lain sisi, saat ini Muhammadiyah tidak hanya berdakwah dan dibicarakan lewat dunia nyata saja, namun juga lewat internet. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dosen Universitas Negeri Surabaya, Mohammad Rokib, tentang Siber Muhammadiyah menunjukkan jumlah laman, blog, dan laman sejenis dengan label ‘Muhammadiyah’ berjumlah sekitar 495.000.  Sedangkan isu yang diperbincangkan di internet tentang Muhammadiyah bisa mencapai 17,2% yang membicarakan tentang ideologi Muhammadiyah jika dilihat dengan bahasa Indonesia. Sedangkan jika dalam bahasa Inggris ditemukan bahwa isu Muhammadiyah paling banyak pada bidang politik Muhammadiyah dengan persentase 18%.  “Terkait isu-isu lain yang dibicarakan di internet yaitu tentang keberagaman moderat, menyelamatkan negara dengan jihad konstitusi serta isu kemanusiaan universal tentang adaptasi dan mitigasi perubahan iklim,” ungkap Rokib. (jal/naf/han)

Haedar Nashir Ajak Intelektual Muda Muhammadiyah Rekonstruksi Gerakan Muhammadiyah

KETUA Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Haidar Nashir, mengatakan jika ingin membaca Muhammadiyah kini dan masa depan perlu dilakukan rekonstruksi ideologi. Baginya, tidak mungkin ber-Muhammadiyah tanpa memahami ideologinya. Hal ini disampaikannya saat membuka gelaran Tadarus Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) di Auditorium UMM, Rabu (29/6). Menurut Haidar, Muhammadiyah merupakan gerakan Tajdid, dimana istilah Tajdid ini bisa berganti sesuai dengan konteksnya saat ini. “Pada awalnya Muhammadiyah berfokus pada purifikasi (pemurnian) yang kemudian berkembang dan berubah sesuai konteks zamannya dengan substansi yang sama, yakni amar ma’ruf nahi munkar,” terang Haidar. Sementara Rektor UMM, Drs Fauzan MPd dalam sambutannya mengapresiasi tema yang diangkat dalam kegiatan kali ini, yakni Membaca Muhammadiyah: Kini dan Masa Depan. Katanya, tema yang diangkat dalam gelaran tadarus tahun ini bukan hanya sekadar melalui proses perenungan yang panjang, akan tetapi justru lebih merupakan bentuk serpihan makna dari nuzulul quran. “Karena semangatnya membaca saat ini untuk kepentingan umat di masa mendatang,” tandasnya. Di materi sesi pertama “Membaca Muhammadiyah: Kini dan Masa Depan”, tadarus yang dihadiri seratus pemikir serta tokoh muda Muhammadiyah se-Indonesia ini menghadirkan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr Muhadjir Effendi MAP. Menurutnya, sejak dulu Muhammadiyah telah dikenal dengan ke egaliterannya membuka diri dalam perekrutan kader. “Dibanding organisasi lain, Muhammadiyah lebih egaliter. Organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah bukan menjadi satu-satunya sumber kader. Kita juga harus menjadikan sumber-sumber lain untuk dijadikan kader,” jelasnya. Itulah kenapa, lanjut Muhadjir, Muhammadiyah harus memahami keragaman pemikirannya. “Tapi tentu, kader ortom harus tetap menjadi sumber utama kader,” tutur pria yang juga wakil ketua Badan Pembina UMM ini. Selain Muhadjir, hadir pula cendikiawan Muhammadiyah, Dr Zuly Qodir sebagai narasumber dalam sesi pertama ini. Ia berharap supaya kader-kader Muhammadiyah masuk dalam aktivitas keagamaan pada wilayah media publik. Pasalnya, ustadz-ustadz kini memadati acara kultum dan pengajian di televisi tak lebih dari sekedar ustadz intertain. “Yang banyak sekarang ustadz-ustadz selebritis, dan seringkali menyampaikan pesan keagamaan yang tidak kontekstual,” kata Zuly dikutip dari pwmu.co. Berperan di media publik sangat penting bagi Muhammadiyah dalam rangka mencerdaskan umat Islam di Indonesia. Apalagi beberapa ustadz yang sering muncul di layar televisi itu mempertontonkan perilaku yang jauh dari ajaran Islam. Misalnya, ada ustadz yang pada bulan puasa ini melarang orang untuk bekerja keras, dan hanya disuruh untuk memperbanyak wirid atau mendekatkan diri pada Allah. “Tentu saja ini sangat problematis. Iya kalau pekerjaan mereka sebagai ustadz enak karena ceramah sana-sini digaji Rp20 juta, lalu bagaimana orang-orang lain?” tutur Zuly. Sebab itu, lanjut Zuly, Muhammadiyah secara organisatoris perlu mengambil peran ini, dengan tujuan untuk mencerdaskan umat.  (can/jal/zul)

UMM Perkuat Jejaring Cendekiawan Muda Muhammadiyah

BERSAMA Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menjaga ruh keilmuan di tubuh Muhammadiyah, khususnya di kalangan mudanya. Hal itu di antaranya tergambar dalam tradisi tadarus pemikiran Islam bagi para cendekiawan muda Muhammadiyah se-Indonesia yang intens digelar di UMM. Sebagaimana tradisi tahun-tahun sebelumnya, Tadarus Pemikiran Islam JIMM kali ini kembali diadakan pada bulan Ramadhan, yaitu pada Rabu-Kamis (29-30/6), di Auditorium UMM. Menurut koordinator nasional JIMM Dr Pradana Boy ZTF MA(AS), kegiatan ini amat penting untuk mendialogkan teks-teks al-Quran agar bisa menjadimenjadi instrumen perubahan sosial. Spirit kegiatan ini juga tak lepas dari semangat awal pendirian Muhammadiyah sebagai gerakan sosial yang memihak kelompok terpinggirkan. Namun dalam perjalanannya, kata Pradana,Muhammadiyah perlu membaca ulang arah geraknya untukmempertajam cita-cita sosial tersebut. “Sebagai organisasi Islam yang peduli perubahan sosial, maka refleksi kritis terhadap realitas sosial perlu dipertimbangkan serta dicarikan solusinya sebagai pendekatan baru dalam metode tafsir Muhammadiyah,” papar kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM ini. Tadarus akan dihadiri lebih dari seratus pemikir dan tokoh muda Muhammadiyah se-Indonesia. Mereka akan memperbincangkan isu-isu pemihakan sosial, seperti kemiskinan, kesenjangan pendidikan, kesehatan, serta politik yang bervisi kemanusiaan. Tadarus juga menampilkan presentasi riset-riset mutakhir tentang Muhammadiyah dan Islam Indonesia. “Selain itu, juga akan ada sesi khusus terkait strategi dan aksi JIMM pada dasawarsa kedua,” jelas dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM ini. Tradisi tadarus kerjasama UMM dan JIMM telah berlangsung sejak 13 tahun yang lalu. Ketika diadakan pertama kali pada 2003, para pemikir yang terjaring kala itu relatif masih sangat muda karena sebagian besar baru lulus sarjana atau fresh graduate. “Menariknya, saat ini, banyak di antara para pemikir muda tersebut telah meraih gelar doktor dari berbagai kampus ternama di luar negeri,” kata Pradana yang juga merupakan doktor lulusan National University of Singapore (NUS) ini. Dalam konteks yang lebih luas, kata Pradana, ketika berbicara tentang Muhammadiyah secara global, banyak orang selalu menganggap Muhammadiyah itu wahabi. “Kalau ada gerakan terorisme di mana-mana, orang selalu menghubungkannya dengan Muhammadiyah. Karena katanya Muhammadiyah itu wahabi.” Di tengah situasi itu, lanjut Pradana, terjadi perang ideologi yang mengharuskan Muhammadiyah perlu lebih menata diri serta melakukan pembacaan untuk saat ini dan masa depan. Bagi Pradana, untuk merespon hal tersebut secara arif dan tepat diperlukan gerakan intelektual yang memiliki kepekaan membaca situasi nasional dan global. Karena itulah, bagi Pradana, di antara masifnya Muhammadiyah bergerak dalam aspek amal, Muhammadiyah jangan sampaimelupakan aspek intelektual lantaran amal juga dinilainya sebagaiproses kerja intelektual melalui sebuah refleksi. “Betul bahwa Kiai Dahlan (pendiri Muhammadiyah) disebut sebagai man of action, tapi mana mungkin aksi itu dilakukan tanpa refleksi. Selain harmonisasi fikir dan zikir, menurut saya perlu juga harmoni antara amal dan intelektual,” ungkapnya. Sementara itu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Muhadjir Effendi MAP berharap, pertemuan para pemikir Muhammadiyah ini bisa menghadirkan pencerahan bagi ruh gerakan Muhammadiyah di masa kini dan mendatang. “Kelompok intelektual di dalam Muhammadiyah tidak boleh mati. Kalau gerakan intelektual ini mati, apa yang akan dibanggakan oleh Muhammadiyah? Acara seperti ini harus terus dijalankan,” tutur wakil ketua Badan Pembina UMM ini. (can/han)

Lolos Uji, Radiologi RS UMM Raih Sertifikat Hijau

PERANGKAT peralatan radiologi Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) dinyatakan sangat aman dari radiasi. Hal ini dipastikan setelah diperiksa kelayakannya oleh Badan Pemeriksa tenaga Nuklir Nasional (Bapeten). Wakil Direktur RS UMM, dr Thantowi Jauhari, M.Kes, menerangkan pemeriksaan berlangsung beberapa waktu lalu. Selain dokumen surat-surat, Bapeten juga menginspeksi langsung prosedur keamanan petugas dan pasien dari risiko radiasi. “Alhamdulillah, hasilnya sudah keluar dan RS UMM memperoleh  sertifikasi green. Itu artinya sangat aman dan layak pakai,” kata Tomy panggilan Wadir RS UMM itu. Menurutnya, di Malang tidak semua rumah sakit memperoleh tanda ‘hijau’ ini. Pasien yang akan menggunakan jasa peralatan radiologi bisa melihatnya dari logo yang ditempel di sekitar area peralatan tersebut. Jika ada logo merah itu artinya tidak layak, sedangkan kuning tandanya perlu perbaikan. “Untuk tanda merah peralatan tidak boleh digunakan dan akan mendapatkan sanksi hukum,” terang Tomy. RS UMM menggunakan peralatan radiologi untuk beberapa kegunaan. Antara lain rontgen, CT Scan 64 Slice, Cath Lab jantung dan C Arm. Saat ini penggunaan peralatan tersebut termasuk dapat melayani pasien dari peserta BPJS. Diraihnya sertifikasi hijau dari Bapeten, membuat RS UMM siap bersaing dengan RS lain di Malang dan sekitarnya. Keutamaan pelayanan paripurna yang dimilikinya akan semakin memacu pelayanan yang lebih baik. “Mudah-mudahan sertifikasi ini menambah kepercayaan masyarakat kepada RS UMM,” tegas Tomy. (nas)

Rektor: Puasa Bagi Pemimpin Hakikatnya Konsolidasi Batiniah

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Drs Fauzan MPd berpesan kepada seluruh fungsionaris mahasiswa agar menjadikan puasa sebagai ajang konsolidasi batiniah. Konsolidasi batiniah, menurut rektor adalah menata batin. “Puasa itu bagi pemimpin saatnya mengevaluasi seberapa jauh perilaku yang bersumber dari batin,” ujarnya saat silaturahmi dan buka bersama seluruh fungsionaris mahasiswa di Auditorium Utama UMM, Sabtu (25/6). Dihadapan sekitar 200 fungsionaris tersebut baik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas, Senat Mahasiswa (SEM) Universitas, BEM Fakultas, SEM-Fakultas, dan Lembaga Semi Otonom (LSO) serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Fauzan juga mengingatkan agar pemimpin itu harus berani dikritik, dievaluasi, tidak hanya sekedar ingin dipuji. “Kalian ini kan representasi dari seluruh mahasiswa UMM. Kalian ini adalah pemimpin bagi teman-teman anda sendiri. Untuk itulah jadilah orang yang bermanfaat” pesannya. Wakil Rektor III, Dr Sidik Sunaryo MSi MHum mengatakan silaturahmi dan buka bersama dengan fungsionaris mahasiswa ini merupakan agenda tahunan yang rutin diadakan. “Apalagi ini adalah para fungsionaris baru yang baru saja terpilih melalui serangkaian Pemilu Raya yang tertib. Jadi sangat penting kita bisa bersilaturahmi dalam ajang kali ini,” ujarnya. Acara ini kemudian diakhiri dengan buka bersama dan sholat Maghrib berjamaah ditempat yang telah disediakan. (zul/nas)

Farmasi UMM-Unair Kerjasama Siapkan Profesi Apoteker

PROGRAM Studi (Prodi) Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melanjutkan kerjasamanya dengan Farmasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kali ini, kerjasama antar dua perguruan tinggi yang sudah berlangsung 10 tahun ini diperbaharui dengan refreshing course bagi dosen. “Ini sebagai upaya persiapan prodi profesi Apoteker yang akan segera dibuka di FIKES UMM,” ujar Dekan FIKES UMM, Yoyok Bekti Prasetyo SKep MKep SpKom usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Ruang Sidang Fakultas Farmasi Unair, Kamis(24/6). Pembukaan Prodi Profesi Apoteker di UMM, menurut Dekan Fakultas Farmasi Unair Dr Umi Athiyah MSApt merupakan langkah yang tepat karena kelengkapan fasilitas dan berbagai syarat yang sudah dipenuhi. “Akreditasi prodi yang sudah B dan institusi yang sudah A menjadi prasyarat yang sudah dipenuhi oleh UMM. Prodi Profesi ini nantinya juga bisa sinergi dengan RS UMM,” kata Umi yang pernah berkunjung ke RS UMM. Sementara Wakil Dekan FIKES UMM bidang Akademik, Siti Rofida MFarm Apt mengatakan Prodi Profesi Apoteker UMM ini sudah mendapat persetujuan dari Kemenristek Dikti pada pertengahan Mei lalu. “Saat ini tinggal menunggu surat keputusannya,” katanya. Rencananya, prodi ini akan dibuka tiap semester dengan kuota 50 mahasiswa. Penandatanganan MoU ini juga disaksikan oleh Kepala Prodi Farmasi UMM Nailis Syifa MFarm. Apt, Sekretaris Prodi Farmasi UMM Dian Ernawati MFarm Apt, dan salah satu dosen senior Farmasi Unair Drs H Ahmad Inoni Apt. “Semoga kerjasama kali ini dapat terus meningkatkan kapasitas prodi Farmasi dan prodi Apoteker UMM untuk melahirkan farmasis muhammadiyah yang profesional,” harap Yoyok. (zul/nas)

Muhadjir Effendy: Sejarah Perintah Puasa Ada di Al-Quran

KETUA Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Muhadjir Effendy MAP mengungkap jika sejarah perintah puasa diceritakan dalam Al-Quran. Hal ini dijelaskannya dalam Kajian Nuzulul Quran dalam rangka Syiar Ramadhan 1437 H Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/6) malam. Sebelum menceritakan sejarah perintah puasa, dalam kajian bertema “Hikmah Diturunkannya Al Quran bagi Peradaban Masyarakat Berkemajuan” di Masjid AR Fakhruddin UMM ini, Muhadjir menjelaskan bahwa Al-Quran merupakan sebuah kompilasi atau kumpulan ayat-ayat yang Allah turunkan pada Nabi Muhammad atau nabi terakhir. “Artinya tidak ada lagi  kitab atau nabi setelah Al-Quran dan Nabi Muhammad, karena keduanya adalah yang terakhir,” jelas Rektor UMM periode 2000-2016 dalam penyampaian tausiyah-nya. Rasulullah dulu, kata Muhadjir, menerima wahyu tersebut selama 23 tahun yang terbagi di Madinah dan Mekkah. Untuk selanjutnya nama surat yang turun di Madinah yaitu Madaniyah dan yang turun di Mekkah yaitu Makiyah. Dalam waktu turunnya Al-Quran tersebut beberapa ulama mengalami perdebatan. “Menurut Syafiurrahman dalam kitabnya, yang paling logis turunnya Al Quran yaitu pada tanggal 21 Ramadhan, karena terdapat hadis yang menjelaskan bahwa hari tersebut bertepatan dengan kelahiran Rasulullah,” katanya. Pada awal diturunkannya perintah puasa oleh Allah, menurut Muhadjir, tidak disertai dengan caranya dan harinya. Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa berpuasa dilakukan di hari yang ditentukan. Penafsiran hari yang ditentukan adalah Bulan Ramadhan dan cara berpuasanya masih mengikuti nabi-nabi sebelumnya. “Nabi Muhammad memberikan contoh berpuasa sesuai dengan puasa Nabi Adam, namun karena para sahabat merasa keberatan akhirnya Allah tidak mengurangi waktu berpuasanya namun hanya memberikan keringanan berupa  boleh berhubungan suami-istri dan makan serta minum setelah fajar menghilang,” tuturnya. Keringanan-keringan yang diberikan oleh Allah tersebut melalui Nabi Muhammad berasal dari perbuatan para sahabat yang tidak mau mengaku kepada Rasul bahwa mereka tidak kuat dengan cara puasa jika mengikuti Nabi terdahulu. Akhirnya dalam ayat Al Quran menjelaskan secara runtut kapan dilaksanakan puasa, bagaimana melakukan hingga perintah bahwa manusia jika ingin meminta sesuatu sebaiknya meminta saja niscaya Allah akan mengabulkan, terangnya kemudian. Menurutnya, masyarakat saat ini terlalu banyak yang gampang menghakimi perilaku seseorang radikal dan semacamnya. “Sebaiknya jangan mudah terpengaruh oleh paham-paham yang kita sendiri belum paham akan hal tersebut,” Terangnya. Dalam acara yang dihadiri oleh jamaah shalat taraweh dan Isya tersebut, Muhadjir juga menjelaskan bahwa sebenarnya nama shalat taraweh merupakan shalat yang santai. “Karena Rasulullah itu ketika melakukan shalat taraweh tidak terburu buru dan biasanya diselingi dengan menghafal Al-Quran atau kegiatan lainnya,” terangnya mengakhiri kajian ba’da shalat taraweh tersebut. (jal/zul/han)

UMM-Sido Muncul Kerjasama Obat Herbal

SETELAH bekerjasama dengan Pangkalan Udara Militer (Lanud) Abdulrahman Saleh Malang dalam bidang budidaya tanaman herbal, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini bekerjasama dengan PT Sido Muncul. Kerjasama dengan salahsatu industri obat herbal nasional ini untuk mengimplementasikan hilirisasi akademik dengan dunia industri. Kunjungan UMM ke Sido Muncul dipimpin oleh Asisten Rektor bidang Kerjasama Drs Soeparto MPd, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM Yoyok Bekti Prasetyo SKep MKep SpKom, Dekan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM Dr Damat, dan perwakilan dari Lanud Abdulrahman Saleh Malang Mayor Benarum dan Letkol Mulyono. Rombongan UMM diterima oleh salah satu General Manajer PT Sido Muncul, DR H Dian Ridianto MT IPP. Damat menyebut, UMM punya potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar dalam hilirisasi akademik dengan dunia industri. “UMM punya dosen-dosen dengan berbagai kepakaran dibidang pertanian, farmasi, dan lain sebagainya ini siap untuk mengawali kerjasama,” ujar Damat. Senada, Yoyok menyebut keberadaan RS UMM dapat dimaksimalkan potensinya dalam pelayanan kefarmasian terkait manajemen obat dan lainnya. “Salah satu terobosan di bidang ini adalah dengan mengembangkan secara bersama-sama obat-obat herbal yang dalam bidang kesehatan di sebut sebagai complementary alternative medicine (CAM),” kata Yoyok. Sementara itu, Dian menyambut kerjasama antara UMM dengan Sido Muncul. Menurutnya, industri yang sehat harus kuat dan untuk kuat itu harus bersama-sama. “Oleh karena itu kerjasama antara industri, pemerintah, dan PT (Perguruan Tinggi) merupakan suatu keniscaan yang harus dilakukan,” ujarnya. Ia menyebut, UMM adalah perguruan tinggi yang terkenal dengan berbagai terobosan-terobosannya. Dian berharap, kerjasama UMM dengan Sido Muncul tidak hanya sebatas perjanjian kerjasama (MoU), namun sudah dalam bentuk riil. (zul/nas)

Fikes UMM Buka Program Alih Jenjang

FAKULTAS Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan membuka program alih jenjang mulai tahun ajaran 2016/2017. Program yang akan dibuka tepatnya pada September 2016 ini memberi kesempatan pada perawat lulusan program studi D3 Keperawatan ke jenjang Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners. Wakil Dekan Bidang Akademik Fikes UMM, Siti Rofida MFarm Apt menyebut pembukaan program alih jenjang ini untuk meningkatkan pendidikan perawat. “Profesi perawat merupakan profesi di bidang kesehatan yang terus berproses untuk memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas bagi masyarakat. Salah satu aspek penting adalah peningkatan pendidikan perawat,” ujar Siti. Pengumuman pembukaan program alih jenjang ini dilakukan Selasa (21/6) di ruang rapat kampus 2 UMM dihadiri beberapa pejabat rumah sakit (RS) mitra Fikes UMM, seperti RS Islam Aisiyah, Rumah Sakit UMM, RS Islam Dinoyo, RS Tentara Soepraoen, RS Lavalette, RSUD Kepanjen, RS WAFA Kepanjen dan organisasi profesi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Siti melanjutkan, program alih jenjang pada prodi S1 Keperawatan dan prodi Ners di UMM didesain 3 semester akademik dan 2 semester profesi. ”Sehingga hanya dibutuhkan 2,5 tahun bagi lulusan Ahli Madya Keperawatan untuk memperoleh gelar SKep.Ners. nantinya,” lanjutnya. Sementara itu, Kepala Program Studi (Kaprodi) S1 Keperawatan, Nurul Aini MKep menambahkan kegiatan pembelajaran program ini akan dilakukan dengan pendekatan active learning sistem blok dengan berbagai metode seperi tutorial, expert panel, project based learning, skill lab, critique journal, dan lainnya. Senada, Kaprodi Profesi Ners Sunardi MKep menambahkan program ini juga mempertimbangan experiences recognition perawat lulusan D3 Keperawatan yang nota bene telah memiliki pengalaman bertahun-tahun bekerja sebagai klinisi di rumah sakit dan puskesmas. “Sehingga akan menjadi bahan pertimbangan untuk mengkonversi salah satu mata kuliah di jenjang profesi Ners,” katanya. Keunggulan program ini, menurut Sunardi, adalah adanya mata kuliah peminatan di mana mahasiswa bisa memilih untuk memperdalam skill di berbagai bidang keahlian keperawatan. “Fikes UMM tentu saja sangat berkomitmen untuk menjaga kualitas program ini dengan menjaga kuota 40 mahasiswa dengan asumsi 10 persen dari total jumlah mahasiswa reguler,” tambahnya. (zul/han)