Pertahankan Akreditasi A, Psikologi Konsisten Bela Kaum Marjinal

PROGRAM Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mempertahankan status akreditasinya. Prodi yang berdiri sejak tahun 1986 itu dinyatakan kembali Terakreditasi A (sangat baik) oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Sesuai surat ketetapan nomor 0493/SK/BAN-PT/Akred/S/V/2016, Psikologi UMM akan menyandang status ini hingga 2021. Dengan demikian, selama sepuluh tahun berturut-turut Psikologi UMM pada posisi sangat baik. Ketua Program Studi Psikologi UMM, Yuni Nurhamida, S.Psi, M.Si, mengatakan meski sama-sama bernilai A, kali ini ada kenaikan angka skor. Untuk itu ia meyakini bahwa Psikologi UMM sudah jauh lebih baik dibanding lima tahun lalu. Lebih lanjut, dikatakan Yuni, Psikologi UMM memiliki keunggulan yang memungkinkan lulusannya langsung siap kerja meski tidak melanjutan ke program profesi. “Kami menerapkan Psikologi terapan yang memberikan tidak hanya knowledge tapi juga skill melakukan intervensi psikologi non klinis pada ranah individu, kelompok, organisasi, dan komunitas. Jadi meski tidak melanjutkan Profesi, siap kerja dalam berbagai area sesuai batasan kode etik psikologi,” ungkap Yuni. Di sisi lain, diakui Yuni, Psikologi UMM berupaya menerjemahkan visi Muhammadiyah yang berpihak pada kelompok marginal. Hal ini dilakukan dengan cara praktikum dan pengabdian pada individu berkebutuhan khusus, sekolah inklusi,  anak-anak panti asuhan, komunitas, serta masyarakat yang kurang memiliki akses pada perguruan tinggi. “Kami ingin membumikan teori dalam realitas ke-Indonesiaan,” tutur Yuni tentang kurikulum yang diterapkan di prodinya. Sampai saat ini UMM merupakan kampus swasta yang secara kontinyu menaikkan status akreditasi Prodinya. Oleh karena secara institusi sudah terakreditasi A, maka saat ini UMM lebih menfokuskan pada kenaikan Akreditasi Prodi-prodi, tak hanya untuk tingkat nasional tetapi juga global. Wakil Rektor I UMM, Prof Dr Syamsul Arifin, MSi, mengatakan pihaknya sedang menyiapkan akreditasi tingkat internasional. Untuk tahap awal, Prodi yang sudah terakreditasi A akan menjadi pilot project. “Seluruh kaprodi sudah diberi kesempatan untuk mencari benchmark di luar negeri sebagai rujukan awal melangkah ke pengakuan internasional,” kata Syamsul. (nas)

Miyuki: Belajar di UMM Sangat Berkesan

JUMAT (10/6) bisa jadi adalah hari paling membuat Miyuki Washiyama bersedih. Bagaimana tidak, hari itu adalah hari terakhirnya di kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) setelah sembilan bulan belajar bahasa dan budaya Indonesia. Ia harus kembali ke negara asalnya, Jepang, saat ia sedang senang-senangnya mengenal UMM, Malang dan Indonesia. Matanya berkaca-kaca saat berpamitan dengan dosen, staf dan teman-teman kuliahnya di Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) UMM. Pengalaman berharga selama studi di UMM membuatnya sulit untuk berpisah. “Saya suka orang-orang, budaya, makanan, saya suka semuanya, saya merasa sedih harus pulang ke Jepang, saya masih mau di sini,” ungkap penggemar nasi goreng dan bakso Malang ini. Sebelum ke UMM, Miyuki adalah mahasiswa di Nihon University. Di kampusnya itu ia mengambil jurusan International Development. Jurusannya ini mewajibkan setiap mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa diluar bahasa Jepang. Oleh karenanya mereka diberi pilihan untuk mempelajari bahasa China, Spanyol atau Bahasa Indonesia. “Karena teman-teman sudah banyak sekali yang memilih belajar bahasa China dan Spanyol, saya memilih Bahasa Indonesia saja, saya juga mau tahu tentang Indonesia” ujar gadis yang akrab disapa Miyuki ini. Kemudian Miyuki mencoba ikut program Beasiswa Darmasiswa. Beasiswa ini merupakan program yang digagas oleh pemerintah Indonesia untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa asing untuk bisa belajar bahasa dan budaya Indonesia. UMM adalah salah satu kampus rujukan yang ditetapkan bagi mahasiswa asing yang berhasil lolos beasiswa ini. Tidak mudah bagi Miyuki untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Ia mengakui harus tes melawan ratusan mahasiswa dari Jepang lainnya. Setelah berhasil melewati semua tahapan tes, kemudian Miyuki dinyatakan lolos untuk belajar Bahasa Indonesia di UMM. “Saya senang sekali bisa belajar di Indonesia,” ungkap gadis kelahiran Tokyo, 23 Januari 1995 ini Akhirnya pada September 2015, Miyuki tiba di Malang. Menginjakkan kaki pertama kalinya di kampus UMM, ia surprise karena melihat kampus UMM yang menurutnya sangat bagus. Ia juga terksesan dengan sambutan hangat yang diterimanya. “Mereka semua baik-baik sekali, sangat ramah, membuat saya langsung merasa nyaman berada disini,” aku Miyuki yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini. Di BIPA UMM banyak mahasiswa asing selain Miyuki yang juga mempelajari Bahasa Indonesia baik mahasiswa dari kawasan Asia, Eropa, Amerika hingga Afrika. Miyuki mengaku memang tidak mudah mempelajari Bahasa Indonesia. “Saya susah bicara yang ada huruf L nya, karena di Jepang tidak ada,” akunya. Miyuki menjelaskan selama sembilan bulan belajar Bahasa Indonesia, Dosen pengajar di BIPA UMM sangat mengayominya dengan baik. Selain itu berkat teman-teman di UMM membuat dirinya bisa belajar dengan cepat. “Mereka sangat baik, mau membantu saya selama belajar disini,” katanya. Setelah menguasai Bahasa Indonesia, Miyuki mengungkapkan keinginannya kembali dan bisa berkarir di Indonesia. Ia mengaku ingin bekerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia. “Saya juga ingin sekali membantu orang-orang di Indonesia terutama di Malang,” tuturnya Sayonara, Miyuki. We love you. (gas/nas)

Haedar Nashir : Dimensi Fikir dan Dzikir Harus Berjalan dalam Koridor Keharmonisan

KETUA Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, M.Si secara resmi membuka pengajian dan kajian yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (11/6). Dalam acara bertajuk “Harmoni Fikir dan Dzikir” ini dihadiri sekitar 2500 peserta dari anggota Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Jawa Timur. Dalam sambutan pembukaan, Haedar memaparkan fikir dan dzikir adalah dua dimensi yang sering dibahas untuk mencari keharmonisan. Menurutnya, dalam penerapan kedua dimensi ini sering terjadi permasalahan. “Dimana dimensi fikir sering berjalan sendiri dengan ekstrimismenya dan begitupun dimensi fikir,” paparnya. Banyak kalangan, lanjut Haedar yang sekedar memaknai Bulan Ramadhan sebagai bulan untuk mengolah batiniah dan meningkatkan spiritualisme namun mengesampingkan dimensi fikir, dan sebaliknya. “Hingga di Bulan Ramadhan ini menjadi sangat statis dan egosentris, tidak berkembang,” jelasnya. Oleh karenanya, Haedar mengapresiasi kajian yang rutin diselenggarakan PWM Jatim setiap tahun ini. Dengan adanya kajian ini Ia berharap, muncul pencerahan yang bisa diambil manfaatnya mengenai harmonisasi kemampuan berfikir dan dzikir. “Dalam keislaman posisi ini sangat tepat, karena dimensi fikir dan pikir adalah dua dimensi yang harus kita miliki dan berjalan dalam koridor yang harmoni demi munculnya Islam yang berkemajuan,” imbuhnya. Dalam acara tersebut hadir pula, Wakil Gubernur Jatim, Drs. H. Syaifullah Yusuf. Dalam pemaparannya pria yang akrab disapa Gus Ipul ini menegaskan jika Indonesia patut bangga dan bersyukur memiliki Persyarikatan Muhammadiyah. Menurutnya, persyarikatan yang berdiri pada pada 1912 ini mampu menyemai bibit pergerakan nasional hingga melahirkan kemerdekaan. “Sebagai persyarikatan modern Muhammadiyah berada di garis depan dan berada di tengah pusaran pembangunan Indonesia merdeka,” terang Gus Ipul. Senada dengan Haedar, dikatakan Gus Ipul, bahwa fikir dan dzikir merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Menurutnya, fikir berhubungan dengan intellectual happiness yang bermuara dengan penguatan ketuhanan sementara dzikir berkaitan dengan spiritual happiness untuk mengolah cara berpikir. “Kita harus memiliki keduanya dan membuatnya berjalan beriringan,” katanya. Gus Ipul menilai dengan berbagai pergerakan yang dilakukan Persyarikatan Muhammadiyah, mampu membawa Islam dan Indoneseia berkemajuan. “Muhammadiyah selama saya menjabat sebagai wakil gubernur, Muhammadiyah selalu berperan dalam setiap perkembangan pemerintahan dan masyarakat di Jawa Timur,” imbuhnya mengapresiasi kajian yang sebelumnya selalu diikuti oleh Gubernur Jatim, Soekarwo tersebut. Sementara itu Ketua PWM Jatim, Dr. M. Saad Ibrahim memaparkan kajian ini selain memahamkan tentang makna fikir dan dzikir, juga merupakan ajang silaturahmi anggota Muhammadiyah se-Jawa Timur. “Sekaligus mampu mensyiarkan aktualisasi Islam yang berkemajuan,” jelasnya. Dengan adanya kajian ini di Bulan Ramadhan Saad berharap, masyarakat mampu mengedepankan paradigma Al-fikr Al-Shiyaamiy atau paradigma kepuasaan dan menahan diri. “Indonesia sebagai bangsa yang dikarunia begitu banyak kekayaan alam, maka masyarakatnya harus mampu menahan diri dan mengolahnya demi keberlangsungan anak cucu dan kemajuan tanah air,” imbuhnya. Di sisi lain, Rektor UMM mengatakan aktualisasi untuk membangun peradaban Islam yang berkemajuan tidak cukup hanya dengan ‘dzikir: dan ‘fikir’ saja Menurutnya harus dilanjutkan dengan ‘ukir’. “Ukir ini merupakan hasil karya dan prestasi dari perilaku yang berdasarkan rasa humanisme dan kepekaan serta empati baik personal maupun institusional,” jelasnya. Menariknya, acara ini diawali dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan Ustadzah Ayu Fajar Lestari. Ayu merupakan gadis cilik hafidzul Quran tunanetra yang berasal dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo yang berhasil lolos untuk mengikuti perlombaan tilawah Quran di Jeddah, Arab Saudi. Ada juga pemberian apresiasi oleh Haedar Nashir kepada anggota Muhammadiyah yang berhasil menelurkan karya berupa buku. Ada empat buku yang berhasil diterbitkan, diantaranya berjudul Radikalisme dan Terorisme : “Akar Ideologi dan Tuntutan Aksi” karya Achmad Jainuri, kemudian ada buku berjudul “Semangat Berkemajuan” karangan Imam Robandi, “Kasih Ilahi Tak Bertepi” karya Nur Cholis Huda dan “Fiqih Kekinian” karangan Nadjib Hamid. Selain itu hadir dalam acara tersebut Prof. Dr. Din Syamsudin, MA, Prof. Dr. Malik Fajar, M.Sc, Prof. Dr. Muhajir Effendy, MAP, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, MA, Prof. Dr. Achmad Jainuri, MA, Ph.D, Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, dan Dr. dr. Taufiq Pasiak. Acara ini akan berlangsung hingga Minggu (12/6). (gas/zul/han)

Malik Fadjar: Iman dan Amal Saleh Fondasi Islam Berkemajuan

MELANJUTKAN kegiatan syiar di Bulan Ramadhan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan pengajian bagi seluruh civitas akademik UMM, mulai dari pejabat struktural, dosen, staf, hingga karyawan di Masjid AR Fachruddin UMM, Sabtu (11/6). Hadir sebagai narasumber Ketua Badan Pembina UMM Prof Dr HA Malik Fadjar MSc didampingi Rektor UMM, Fauzan. Dalam kajian bertajuk “Aktualisasi Ramadhan Membangun Islam Berkemajuan” ini Malik mengatakan, tidak mudah membangun peradaban Islam di era globalisasi. Menurutnya, era globalisasi telah membuat masyarakat kehilangan rasa sosialnya. “Membangun peradaban itu membutuhkan kepekaan sosial, bagaimana bisa berkembang jika masyarakat saat ini bersikap individualis,” ujarnya. Untuk menciptakan kepekaan sosial, lanjut Malik, bisa dibangun melalui tiga tahapan yakni pembiasaan, pembudayaan dan pendidikan. Ia menjelaskan, melalui pembiasaan, interaksi sosial akan menciptakan budaya kepekaan sosial. Kemudian, tahap pendidikan berperan untuk memahamkan dan mengarahkan peradaban apa yang ingin dibangun, termasuk Islam. “Semua membutuhkan proses yang berkesinambungan, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar kita. Jika sudah, Insya Allah peradaban Islam yang berkemajuan akan terwujud,” papar pria yang juga Anggota Dewan Pertimbanbangan Presiden (Wantimpres) ini. Islam berkemajuan, jelas Malik, adalah Islam yang mampu mengaktualisasikan ilmu berdasarkan iman dan amal saleh. “Iman berarti selalu mengembangkan Islam melalui ilmu berdasarkan Quran dan Hadis. Amal saleh berarti sejalan dengan hati nurani dan harkat martabat kemanusian,” terangnya. Bulan Ramadhan menurut Malik adalah saat yang tepat untuk mengkaji peradaban Islam yang berkemajuan. Karenanya, ia mengapresiasi segala kegiatan khusus yang rutin diselenggarakan UMM selama Ramadhan. “Mudah-mudahan UMM sebagai pusat pendidikan bisa selalu memberikan kontribusi dalam pengembangan peradaban Islam melalui sumber ilmu pengetahuan yang dimilikinya,” harapnya. Sementara itu, Fauzan mengatakan, aktualisasi untuk membangun peradaban Islam yang berkemajuan tidak cukup hanya dengan demeni dzikir dan fikir saja. Hal itu menurutnya harus dilanjutkan dengan dimensi ukir. “Ukir ini merupakan hasil karya dari perilaku yang berdasarkan rasa humanism, yaitu kepekaan dan empati, baik personal maupun institusional,” jelasnya. Karenanya, Fauzan menegaskan akan terus menggelar kegiatan kajian dan pengajian yang rutin diselenggarakan setiap Ramadhan. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Malik yang menyempatkan hadir di kegiatan ini. “Di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai Wantimpres, alhamdulillah beliau bisa hadir di sini. Ke depan, UMM juga akan menghadirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya. Kita syiarkan Islam berkemajuan melalui kegiatan semacam ini,” pungkas Fauzan. (gas/han)

KKN UMM Fokus Pengembangan IT dan Pengentasan Buta Aksara

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan, secara resmi melepas 5100 mahasiswa yang akan mengabdi pada masyarakat lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Helipad UMM, Sabtu (11/6). Dalam sambutan pelepasan, Fauzan mengatakan, mahasiswa harus bisa membawa nama baik UMM dan menjadi teladan di tengah masyarakat. “Kalian adalah generasi yang dianggap memiliki pendidikan tinggi, hal ini tentu harus diimbangi oleh ahklak yang tinggi pula. Apalagi kalian adalah mahasiswa dari perguruan tinggi Muhammadiyah, maka jagalah sikap baik,” ujar Rektor. Fauzan berpesan agar peserta KKN UMM tidak menganggap masyarakat desa sebagai orang yang tidak berpendidikan. Ia menegaskan, mahasiswa harus bisa memperhatikan nilai dan norma yang ada di masyarakat desa. “Kalian hadir di tengah masyarakat, bukan sebagai komunitas yang bebas norma, baik agama maupun budaya. Warga akan menilainya, jangan ciptakan sesuatu yang bertentangan dengan itu,” tegasnya. Fauzan juga menegaskan, peserta KKN harus menghindari kelompok masyarakat desa yang memanfaatkan kehadiran mereka untuk menaikan citranya di tengah konflik kepentingan masyarakat. “Kalian diharapkan tidak berada di tengah kelompok manapun, tapi kalian harus menjadi kelompok yang selalu memosisikan diri sebagai pemberi solusi bagi siapapun,” imbuhnya. Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Prof Dr Sudjono MKes mengatakan, peserta KKN Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017 yang terdiri dari 116 kelompok ini akan ditempatkan 116 Desa, 61 Kecamatan dan 17 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur. Mulai dari desa di Kabupaten dan Kota Malang, Kota Batu, Pasuruan, Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Jombang, Magetan, Madiun, Tulungagung, Blitar, Bondowoso, Probolinggo, Lumajang, Mojokerto, hingga Sampang. Berdasarkan evaluasi, Sudjono mengatakan, di setiap desa yang ditempati peserta KKN UMM masyarakat selalu merespon dengan baik. Menurutnya, hal ini ditandai dengan semakin banyaknya pengajuan dari desa untuk penempatan mahasiswa KKN dari UMM. “Saat mereka pulang, masyarakat desa selalu berharap di periode selanjutnya ada lagi mahasiswa KKN dari UMM yang ditempatkan di desanya,” ujarnya DPPM UMM, lanjut Sudjono, mencoba membangun desa di Jawa Timur melalui aspek ekonomi, sosial, budaya dan agama. Ia menjelaskan, untuk tahun ini, program wajib peserta KKN yang diunggulkan yaitu pengembangan desa melalui sistem teknologi informasi. “Peserta akan membawa software yang dikembangkan UMM yang nantinya perangkat desa akan diajari penggunaannya. Hal ini diharapkan bisa membantu pengerjaan administrasi desa, selain itu di beberapa desa juga kami membawa program dari Kemensos yakni pengentasan buta aksara dan kewirausahaan,” imbuhnya. Ke depan, dikatakan Sudjono, DPPM UMM akan terus memeperluas jangkauan desa yang akan ditempati peserta KKN UMM. Saat ini, lembaganya juga telah bekerjasama dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia untuk menempatkan peserta KKN di Gorontalo. “UMM akan mengirimkan enam orang untuk ikut program ini,” terangnya. Sudjono berharap, KKN yang diselenggarakan DPPM UMM setahun dua kali, yakni di akhir semester ganjil dan genap ini, dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan desa di Indonesia baik, secara fisik maupun non-fisik. “Mudah-mudahan bermanfaat dan memberikan makna bagi masyarakat desa,” harapnya. Jumlah peserta KKN periode ini merupakan yang terbanyak selama penyelenggaraan KKN di UMM. Pelepasan ditandai dengan penerbangan ratusan balon oleh Rektor. Peserta KKN UMM akan diberangkatkan pada 19 Juli dan kembali ke kampus pada 17 Agustus mendatang. (gas/han)

Kemenristek Dikti Tawarkan Beasiswa Credit Transfer Bagi Mahasiswa UMM

KEMENRISTEK Dikti memberikan kuota sebanyak 2250 mahasiswa dan staf di perguruan tinggi seluruh Indonesia untuk bisa mengikuti program beasiswa credit transfer pada 2016. Hal tersebut disampaikan Direktur Pembelajaran Kemenristek Dikti, Dr Paristiyanti Nurwardani MP pada kegiatan sosialisasi beasiswa credit transfer yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (9/6). “Syaratnya, universitas terlebih dahulu harus memiliki MoU, setidaknya ada joint curriculum minimal satu semester dengan perguruan tinggi yang dituju dan ada flexibility learning outcome dengan program studinya,” jelas Paristiyanti. Untuk kualifikasi bahasa Inggris, masing-masing wilayah memberikan standar yang berbeda. Paristiyanti menerangkan, untuk kawasan Asia mahasiswa harus memiliki nilai Test of English as a Foreign Language (TOEFL) minimal 550, untuk Eropa minimal 600 dan kawasan Amerika Serikat minimal 650. “Mahasiswa juga harus memiliki sopan santun yang baik. Pengalaman aktif di kegiatan sosial juga bisa menjadi nilai tambah yang menjadi keunggulan dan pembeda,” jelasnya. Ia berharap banyak mahasiswa UMM yang tertarik untuk ikut dalam program yang setiap tahunnya dibuka oleh Kemenristek Dikti ini. “Kami akan memperjuangkan setiap tahun kuota untuk program ini bertambah, UMM sebagai salah satu kampus ternama harus bisa memanfaatkan peluang ini,” katanya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof Syamsul Ariffin MSi menjelaskan, UMM memiliki komitmen agar terus meningkatkan kerjasama di tingkat internasional untuk memberikan peluang mahasiswa UMM bisa menempuh studi di level internasional. “Ini adalah salah satu upaya untuk mencapai visi kami yakni mengembangkan internasionalisasi,” paparnya. Saat ini, lanjut Syamsul, kerjasama internasional UMM dalam skema credit transfer telah dilakukan dengan Tongren University, Tiongkok dan University of Minho, Portugal. “UMM juga akan terus mencoba menjalin kerjasama ini dengan universitas-universitas mancanegara lainnya,” pungkasnya. (gas/han)

Lagi, Pengajian PWM Jatim Digelar di UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) tahun ini kembali menjadi tuan rumah pelaksanaan Pengajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim). Kegiatan yang dipusatkan di UMM Dome itu akan berlangsung Sabtu-Minggu (11-12/6) mendatang. Sekretaris PWM Jatim, Ir Tamhid Masyhudi, mengatakan hingga kini belum ada gedung dan tempat penyelenggaraan pengajian PWM Jatim yang bisa menampung lebih dari 2.500 peserta seperti di UMM. Lagi pula, bagi UMM menggelar acara pengajian di bulan Ramadhan bukan hanya jadi acara rutin namun juga menjadi warna tersendiri sebagai kampus Muhammadiyah. “Sampai saat ini selain UMM belum ada tempat yang bisa menampung peserta pengajian lebih dari 2.500 orang, jadi kita masih membutuhkan UMM untuk acara seperti ini,” kata Tamhid. Selain gedung, acara ini juga memerlukan penginapan peserta karena berlangsung selama dua hari. Tema pengajian kali ini adalah “Harmoni Fikir dan Zikir”. Tema yang terkesan simple dan klise ini akan dibahas oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah dan kalangan pemerintah. Sesuai rundown acara, pembicara yang sudah konfirmasi untuk hadir antara lain, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Gubernur Jatim Soekarwo, dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Sementara pembicara lainnya, Malik Fadjar, Muhadjir Effendy, Taufik Pasiak, Abdul Mu’ti serta Amin Abdullah. Acara juga akan diisi dengan penjelasan mengenai Lazismu, lembaga zakat milik Muhammadiyah. Acara akan dibuka sore hari usai solat Asyar. Menariknya, pada seremoni pembukaan, pembacaan ayat suci Alquran akan dibawakan oleh Ustadzah Ayu Fadjar Lestari yang baru saja menerima penghargaan sebagai hafidzah tuna netrta dari PDM Ponorogo. Selain itu, pembukaan juga diisi sambutan rektor UMM, Fauzan, dan Ketua PWM Jatim, Saad Ibrahim. Sementara itu, panitia lokal di UMM memastikan sudah menyiapkan kedatangan peserta dari berbagai daerah. Sesuai pengalaman tahun-tahun sebelumnya, peserta yang hadir jauh melebihi yang terdaftar melalui PWM. “Untuk itu kita perlu antisipasi, termasuk jumlah makan untuk buka dan sahur, serta penginapan. Tetapi kami juga mohon maaf apabila yang datang melebihi kapasitas maka kami memprioritaskan yang sudah terdaftar di PWM,” kata H. Alfan, kabag Perlengkapan UMM. (nas)

UMM Siap Distribusikan Kurma Bantuan Arab Saudi

PANITIA Syiar Ramadhan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menerima hibah dari Kedutaan Besar dan dermawan Arab Saudi berupa buku, kurma dan paket buka untuk dibagikan kepada masyarakat luas. Bantuan yang terdiri dari 1,5 ton kurma, 245 paket buku yang setiap paketnya terdiri dari 15 buku keagamaan berbahasa Indonesia, 4 buku berbahasa Arab dan 1 Al-Quran serta 2.267 paket buka puasa. Seluruh bantuan dipusatkan di Markaz Dakwah UMM di masjid AR Fachruddin. Kepala Kantor International Relations Office (IRO) UMM, Dr. Abdul Haris, MA yang menerima langsung bantuan menjelaskan bantuan ini datang karena UMM dipercaya baik dalam mengelola setiap bantuan tersebut. “Alhamdulillah selama ini kami melakukan pendistribusian dengan baik dan hasil pendistribusian bantuan juga kami laporkan secara berkala,” ujarnya. Haris memaparkan bantuan yang telah diberikan sejak 2013 datang dari mushinin Arab Saudi yang dikoordinasikan Ustadz Abdul Hamid Al-Syahtri. Enam tahun lalu Hamid pernah mengajar di UMM sebagai dosen Bahasa Arab. “Meski sudah tidak mengajar lagi di sini ustadz Hamid memang tetap menjalin silaturahim,” terangnya. Haris berharap kepercayaan yang diberikan ini dapat menambah keakraban UMM dengan Arab Saudi dalam hal pelayanan sosial masyarakat. “Semoga hubungan baik ini bisa terus terjalin kedepannya dan menambah syiar dakwah di Bulan Ramadhan,” harapnya. Kepala Markaz Dakwah UMM, Shofroni Hidayat, menegaskan pihaknya siap menjalankan amanah untuk menyalurkan bantuan ini. Bantuan ini akan dibagikan kepada lembaga-lembaga di bawah Persyarikatan Muhammadiyah, sekolah, masjid, dan pondok pesantren. “Kami juga membagikan kepada masyarakat di Malang yang berhak menerimanya,” terangnya. Karena tingginya peminat, Shofroni menjelaskan bantuan tidak akan dibagikan secara langsung kepada masyarakat melainkan dengan cara mengajukan perminat. “Jadi pihak-pihak yang berhak dan ingin mendapatkan bantuan bisa langsung daftar ke Markas Dakwah di lantai satu Masjid AR-Fachrudin UMM,” jelasnya. Seperti diketahui, setiap tahunnya selama Bulan Ramadhan, UMM memang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan khusus. Selain penyaluran bantuan tadi, UMM juga menyelenggarakan kajian dan pengajian, dialog, halaqah, gebyar apresisasi seni, bakti sosial dan pelayanan kesehatan, serta pekan i’tikaf Ramadhan. (gas/nas)

Fikes UMM Dorong Ujian Klinik OSCE Diterapkan Secara Nasional

Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong agar profesionalisme perawat diuji sejak di bangku kuliah melalui metode OSCE atau Objective Structured Clinical Examination. Jika ujian OSCE diberlakukan secara nasional, maka profesionalisme perawat diharapkan dapat tercapai standard yang sama. “Selama ini ujian klinik untuk D3 Keperawatan masih bersifat tertulis. Mestinya bisa seperti kedokteran yang sudah seatle menggunakan OSCE untuk mendapatkan register dokter,” kata Dekan Fikes UMM, Yoyok Bekti Prasetyo, S.Kep, M.Kep, Sp.Kom saat meninjau ujian akhir praktek klinik OSCE terstandard untuk mahasiswa D3 Keperawatan UMM, Rabu (8/5). UMM sendiri sudah menggunakan OSCE sebagai syarat kelulusan mahasiswanya sejak tiga tahun lalu. Hal ini dibenarkan Kaprodi D3 Keperawatan UMM, Reni Ilmiasih, M.Kep, Sp. Kep. An. Kali ini sebanyak 65 mahasiswanya mengikuti ujian OSCE. “Dengan cara ini ke depan kami sudah siap jika OSCE standard nasional akan digunakan sebagai bentuk uji kompetensi perawat nasional,” kata lulusan Universitas Indonesia untuk spesialisasi keperawatan anak ini. Ujian OSCE, kata Reni, bertujuan melihat kemampuan atau performa mahasiswa dalam memberikan perawatan pada pasien. Uji ini meliputi kemampuan kognitif, atitude dan skill. “Tentu saja skill antara perawat dan dokter berbeda⁠⁠⁠⁠.Kalau pada perawat penekanannya pada bagaimana memberikan pelayanan keperawatan dengan nursing process meliputi assessment, nursing diagnostic, intervention, implementation, and evaluation,” terangnya. Sekretaris Prodi D3 Keperawatan, Nurlailatul Masruroh, MNS, menambahkan metode OSCE ini menjadi salah satu metode evaluasi yang secara berkala digunakan oleh Prodi D3 Keperawatan di setiap akhir mata kuliah tertentu yang memiliki muatan praktek. “Dengan menggunakan OSCE terstandard nasional maka berbagai area seperti pengetahuan, kemampuan analisis, kecakapan ketrampilan dan pemecahan masalah pada tiap-tiap mahasiswa dapat diukur dengan baik,” terang Nurlailatul yang akrab disapa Ila ini. Dirincinya, OSCE akhir praktek klinik ini melibatkan 16 orang penguji yang stand by di 16 station untuk melakukan penilaian di departemen Keperawatan Medikal Bedah,  Keperawatan Jiwa, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Komunitas dan Keperawatan Gawat Darurat. “Di setiap station rata-rata membutuhkan waktu 10 menit untuk melakukan tindakan mengatasi atau memecahkan masalah kasus pasien yang ada di soal,” tutur lulusan Ila. Menurut Master of Nursing dari Thailand ini, tidak banyak kampus yang memiliki fasilitas dan sumberdaya clinical instructure untuk menyelenggarakan OSCE. “Itulah sebabnya mungkin masih sulit jika ini diterapkan secara nasional. Tetapi bagi UMM yang penting kita siap,” pungkasnya. (nas)

Tilawah, Kajian Quran dan Solat Dhuhur Berjamaah di Fikes UMM

Ada yang berbeda di kampus II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama bulan Ramadhan ini. Setiap pukul 11.00 hingga 12.30, seluruh kegiatan adminsitratif dan pengajaran dihentikan. Seluruh dosen dan pegawai Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) mengikuti kegiatan bersama di masjid Ad-Dakwah UMM. Dekan Fikes, Yoyok Bekti Prasetyo, mengatakan bulan Ramadhan adalah bulan pembentukan atau pendidikan. Oleh karenanya dengan kebiasaan baru ini diharapkan dapat meningkatkan budaya relijius pegawai dan mahasiswa Fikes. “Kita namai ini dengan 90 minutes enjoy with Allah and Alquran, dengan tujuan agar selama waktu itu kita benar-benar break dan mendekatkan diri pada Allah,” kata Yoyok. Selama break berlangsung di masjid Ad-Dakwah, kegiatan yang dilakukan adalah tadarus Quran atau tilawah sambil menunggu waktu dhuhur. Setelah solat berjamaah dilanjutkan dengan kajian Islam. Yotok berharap Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi istimewa. “Sesunguhnya Allah ta’ala mengkhususkan bulan Ramadhan dari pada bulan bulan yang lain dengan keistemewaannya. Kegiatan ini dilaksanakan sengaja mengambil waktu khusus selama 90 menit selain dalam rangka siar ramadhan tapi yg lebih penting menghadirkan budaya lembaga, corporate culture dalam aktivitas sehari hari menjadi bagian dari UMM. Semoga ramadhan tahun ini lebih baik,” tutur Yoyok. (nas)