Begini Cara Unik Mahasiswa UMM Atasi Kecemasan Orangtua ABK

Seringkali penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) hanya berfokus pada anaknya saja, padahal yang lebih sering bersama mereka setiap hari adalah orang tuanya. Maka Rivan Alamsyah, mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama tim melalukan riset yang berhasil lolos ke tahap final Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Adapun riset yang mereka lakukan berfokus pada penurunan kecemasan pada orang Tua dari para ABK dan peran orang tua dalam mendampingi ABK. Menurut Rivan, kecemasan yang dialami orang tua dari ABK seringkali terabaikan. Padahal mereka juga membutuhkan dukungan emosional agar dapat mendampingi anak-anak mereka dengan lebih baik. Adapun program ini lahir dari hasil observasi tim dan melihat jumlah ABK di Indonesia. Di sisi lain perhatian pada kesehatan mental orang tua mereka masih minim. “Kami melihat banyak orang tua ABK yang merasa kewalahan secara emosional, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengelola kecemasan mereka,”katanya. Intervensi psikologi yang diterapkan tim ini adalah metode ‘Guided Imagery’, yaitu teknik yang melibatkan penggunaan imajinasi terstruktur untuk membantu orang tua ABK dalam mengelola kecemasan. Teknik ini mengombinasikan pelatihan deep breathing (pernapasan dalam), visualisasi, stimulasi audio, dan fokus pada pancaindra. “Kami meminta para orang tua untuk menutup mata, mendengarkan instruksi yang diberikan, dan membayangkan situasi yang menenangkan,”jelasnya. Uniknya, program ini tidak hanya teori semata. Tim Rivan berhasil melakukan intervensi di enam Sekolah Luar Biasa (SLB) di kota Malang, yaitu SLB Bhakti Luhur, SLB-B YPTB, SLB Putra Jaya, SLB YPAC, SLB Widya Shantika, dan SMALB BCG Sumber Dharma. Setiap sekolah ini menjadi tempat uji coba pelatihan ‘Guided Imagery’ dengan melibatkan orang tua ABK sebagai peserta. Setelah pelatihan, para orang tua menyatakan bahwa teknik ini sangat membantu mereka dalam menghadapi kecemasan yang selama dirasakan. Tidak hanya memberikan pelatihan, tim Rivan juga memberikan buku modul ajar kepada masing-masing SLB yang menjadi mitra. Modul ini diharapkan bisa menjadi panduan bagi sekolah untuk melanjutkan program ini bahkan setelah tim mahasiswa menyelesaikan intervensi mereka. “Ke depannya, kami berharap program ini tidak hanya diterapkan di beberapa SLB di Jawa Timur, tetapi bisa menjangkau provinsi lain di Indonesia,” katanya. Ia yakin bahwa intervensi seperti ini dapat memberikan dampak besar terhadap peningkatan kualitas hidup para orang tua ABK. Program mereka akan terus berkembang dan menjadi solusi nyata bagi para orang tua ABK di seluruh Indonesia. “Kami sangat bersyukur bisa sampai ke tahap ini, dan tentunya akan memberikan yang terbaik di Pimnas nanti,” pungkasnya. (*/wil)
SCDC UMM Jadi Salah Satu Pusat Keunggulan Paling Banyak Diminati

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Nazarudin Malik, mengapresiasi Center of Excellent (CoE) yang dimiliki Program Studi Ilmu Komunikasi. Menurutnya, dengan mengambil nama kreatif pada School of Creative Digital Communication (SCDC), bisa bermakna selalu membuat inovasi yang tidak mudah ditiru pihak lain. “Kreativitas itu bermakna unimitated, tidak bisa ditiru,” tegasnya. SCDC, kata rektor, memiliki uniqueness dan distinctiveness yang tepat. “CoE SCDC memiliki keunikan dan hal pembeda yang menjadikannya memiliki daya tahan dan pertumbuhan yang baik. Ini nantinya bisa menciptakan keberlanjutan berbasis kreativitas,” kata Nazar ketika membuka Inauguration SCDC Batch 3 di Rayz Hotel UMM, Senin, 23 September lalu. Dalam kesempatan itu, Nazar memberi pembekalan bagi 80 peserta SCDC. Mereka terdiri dari 40 peserta baru kelas Social Media for Branding yang akan memulai berproses semester ini dan magang di semester berikutnya. Sedangkan 40 peserta yang lain telah lulus kelas yang sama semester lalu dan berhak memperoleh sertifikat. Rektor mengingatkan agar semua CoE di UMM memegang teguh nilai-nilai kemuhammadiyahan. Dalam arti, semua keunggulan yang ada di kampus ini harus digerakkan oleh landasan yang kuat, yakni keimanan dan amal soleh. Ia menyebut manifestasi dari keimanan seseorang harus mengejawantah dalam amal meskipun tidak selalu berdampak benefit ekonomi. Ia juga mendorong agar Ikom UMM melanjutkan keunggulan pembelajaran berbasis projek dan studi kasus. “Di UMM, mode pembelajaran yang demikian sudah lama dikembangkan sebelum ada keharusan kurikulum berbasis luaran atau Outcome Based Education (OBE),” tutur Nazar. Momen Inaugurasi dimanfaatkan untuk transformasi penanggung jawab CoE SCDC dari Widiya Yutanti ke Arum Martikasari. Widiya mengungkapkan, meski tidak banyak perubahan pada struktur kurikulum dan mitra industrinya, SCDC kali ini mengalami peningkatan jumlah peminat sehingga pihaknya lebih selektif memilih siapa saya yang eligible menjadi peserta kelas unggulan ini. “Selain itu, dari sisi mitra dunia industri kami juga melakukan evaluasi. Jadi ada yang kami perpanjang kerjasamanya, ada yang terpaksa harus dihentikan, namun juga ada yang baru,” tutur Widiya yang juga kepala Laboratorium Komunikasi UMM. Di sisi lain, Arum menerangkan SCDC adalah CoE yang cukup ketat menerapkan kurikulum. Apalagi kurikulum terkait merupakan hasil kolaborasi pihak prodi dan mitra industri. Dalam pelaksanaannya, kelas di SCDC diampu oleh kolaborasi dosen internal dan praktisi. Tidak hanya dalam bentuk kuliah di kelas maupun di lab, peserta SCDC juga ditempatkan di berbagai unit di UMM, unit bisnis milik UMM dan amal usaha Muhammadiyah untuk mempratekkan optimasi media sosial. “Pada semester berikutnya, mahasiswa akan mengikuti internship full satu semester di perusahaan-perusahaan dan instansi mitra,” terang Arum. Berbeda dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) lain di mana mahasiswa memperoleh konversi mata kuliah sebanyak 20 SKS, pada SCDC mereka mendapat mata kuliah khusus. “Ada enam mata kuliah berbeda dari regular yang berhak diperoleh mahasiswa. Enam mata kuliah itu adalah Research for Social Media, Social Media Structure, Social Media Strategy, Digital Marketing Performance, Project Management, Social Media Optimization Practice, dan Internship on Social Media Optimization,” katanya. Ketua Prodi Komunikasi UMM, Nasrullah, menekankan bahwa CoE di prodinya dibangun dari kesadaran menjawab tantangan perubahan di dunia komunikasi. Saat ini, ujarnya, tidak mungkin menghindari dunia digital. Untuk memenangkan persaingan, maka diperlukan kreativitas. “Kekuatan mahasiswa Komunikasi UMM adalah di kreativitas, saya yakin paling kreatif. Makanya kekhasan prodi saat ini adalah creative digital communication,” pungkasnya. (din/wil)
Terinspirasi dari Kumbang, Mahasiswa UMM Beri Ide Atasi Krisis Air

Bertekad turut andil atasi krisis air bersih di pulau Jawa, Tim Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang ciptakan konsep teknologi jaringan air bersih berbasis teknologi sayap kumbang namibia. Iklim tropis Indonesia menjadi salah satu fokus sumber inovasi teknologi yang tengah dikembangkan. Sonya Dzakiyah Zayyanti selaku ketua tim mengungkapkan, teknologi terbaru ini memanfaatkan potensi kabut dan kelembapan daerah sekitar untuk kemudian dikelola sedemikian rupa hingga menghasilkan air bersih siap minum. Sonya, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa konsep teknologi tersebut terinspirasi dari salah satu video kemampuan bertahan hidup kumbang di Gurun Namibia, Afrika yang terkenal sangat gersang. Menariknya, Kumbang Namibia memanfaatkan sayapnya untuk menampung kabut sekitar hingga memenuhi kebutuhan air demi menunjang kehidupannya. Sonya mengaku, dari video itu Ia dan timnya mencoba mengembangkan inovasi teknologi berupa jaringan atau instalasi air yang menggunakan kabut sebagai sumber utama untuk menghasikan air bersih. Lebih lanjut, Sonya menaruh kepercayaan besar atas penerapan dan pengembangan inovasi teknologi tersebut sekitar 10-20 tahun mendatang. Menurutnya, Potensi alam tanah air dan inovasi ini merupakan kombinasi yang sangat tepat untuk diterapkan. Ia berharap kombinasi ini nantinya dapat memberikam kontribusi nyata kepada masyarakat. “Dengan beberapa rangkaian proses riset dan penyempurnaan uji kelayakan secara berkala. Saya yakin, inovasi teknologi ini menjadi salah satu solusi potensial yang dapat membantu mengatasi permasalahan krisis air bersih yang belakangan terjadi di pulau Jawa, serta daerah lain yang mengalami permasalahan krisis air,” tuturnya. Inovasi itu lahir berkat tekad yang kuat, kerja keras tim, serta dukungan para dosen. Bahkan ide itu berhasil mengantarkan Sonya dan timnya melaju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Meski demikian, Sonya juga menceritakan kendala dan tantangan yang harus mereka lewati. Ini adalah kali pertama Sonya dan timnya mengikuti forum kompetensi PKM-GFT. Ia mengaku waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dokumen cukup singkat, sehingga membuat mereka sempat tidak percaya diri. “Namun, tantangan dan kendala tersebut Alhamdulillah bisa kami lewati berkat dukungan baik dosen pembimbing dan rekan tim yang selalu support kesuksesan inovasi ini. Apalagi UMM selalu mendukung apapun potensi dan ide yang dimiliki oleh mahasiswanya sehingga kami lebih percaya diri. Saya juga ingin agar anak-anak muda lain bsia turut memberikan ide untuk bumi yang lebih baik,” tambahnya. (din/wil)
Mahasiswa UMM Kembangkan Pengawet Makanan Alami

Indonesia merupakan negara maritim dengan komoditas ikan yang tergolong berlimpah. Maka tidak heran apabila masyarakat pesisir pantai banyak memanfaatkan hasil panen tangkap ikannya untuk dijadikan konsumsi ataupun dijual. Tentu saja hal tersebut tidak lepas dari kualitas kesegaran ikan yang harus tetap dipertahankan. Hal itu mendorong tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah malang (UMM) untuk melakukan riset dna mengembangkan pengembangan bahan pengawet alami yang nantinya dapat digunakan pada fillet ikan. Ketua tim Ibnu Hafid mengatakan, riset ini dilakukan untuk berkompetisi dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang akan diadakan pada tanggal 14-19 Oktober di Surabaya. Terkait risetnya, kombinasi senyawa edible coating dan bacteriocin dapat dijadikan peluang alternatif pengawet yang tahan lebih lama. Kandungan bacteriocin tersebut didapatkan dari bakteri usus udang yang bernama litopenaeus vannamei. “Kita ingin bereksperimen dan melakukan riset di kedua senyawa ini. Apakah lebih baik jika senyawa-senyawa ini dikombinasikan atau diaplikasikan secara terpisa dan dari hasil riset kami mengungkapkan bahwa senyawa edible coating dan bacteriocin lebih baik apabila dikombinasikan,” kata mahasiswa teknologi pangan tersebut. Menurutnya, masyarakat Indonesia cenderung suka menyimpan makanan yang seringkali cepat basi. Maka dari itu banyak masyarakat yang mengolah sisa makanan tersebut berkali-kali ataupun menggunakan pengawet sintetis untuk dijadikan alternatif sebagai perpanjang umur simpan makanan. Hafid mengungkapkan, pengawet sintesis yang banyak digunakan masyarakat dapat memberikan efek samping jika penggunaan dosisnya berlebihan. Maka pengawet alami yang kini sedang mereka kembangkan dapat menjadi solusinya. Apalgi dengan menggunakan dosis yang sangat rendah agar lebih efektif dalam mengawetkan makanan khususnya pada fillet ikan. “Umumnya ikan dapat bertahan di suhu ruang selama 18 jam. Apabila menggunakan pengawet alami ini maka dapat memperpanjangnya hingga umur simpan sekitar 2 hari di suhu ruang. Penggunaannya cukup mudah, yakni dengan mencelupkan daging ikan ke dalam cairan yang mengandung coating, kemudian ditiriskan dan ditunggu hingga kering,” jelasnya. Meski begitu, riset ini bukan tanpa tantangan. Mereka cukup kesulitan untuk mendapatkan senyawa yang dibutuhkan, bahka hingga sebulan. Beruntung, kampus UMM senantiasa membantu mereka dengan berbagai dukungan. Mulai dari fasilitas, motivasi, pelatihan, bimbingan, hingga biaya. Sehingga, banyak sekali kemudahan dalam melaksanakan eksperimen riset terkait pengembangan pengawet alami ini tersebut. Sebagai penutup Hafid berpesan kepada para konsumen agar lebih aware dalam mengkonsumsi makanan. Apalagi melihat ada beberapa produsen yang masih tidak taat regulasi dalam penggunaan bahan tambahan pangan terutamanya pengawet makanan. Adapun Hafid tidak sendiri dalam pengembangan riset ini. Ia ditemani Abida Zahrotul Hartinia dan Byarna Ayu Apriliani mahasiswa Akuakultur, serta Dyas Nurhidayah Putri mahasiswa dan Dinda Putri Ayuningtyas dari prodi Teknologi Pangan. (zaf/wil)
Cerita Alumnus UMM yang kini Jadi Fisioterapis Tim Voli Nasional

Adalah Muhammad Fauzan Algifari, lulusan S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang meniti karir sebagai fisioterapis profesional. Sejak mahasiswa, ia memang sudah aktif menjadi asisten laboratorium (Aslab) dan kini sukses menorehkan jejak sebagai fisioterapis di tim voli nasional. “Kurang lebih dua bulan setelah menyelesaikan pendidikan profesi, saya mendapatkan kesempatan emas untuk bergabung dalam tim voli nasional sebagai fisioterapis. Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga yang mempertemukan saya dengan atlet-atlet nasional hingga internasional,” katanya. Sebagai fisioterapis, Algi mengemban tanggung jawab yang tidak ringan. Tugas utamanya mencakup empat aspek yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Selain itu, Algi diberi wewenang untuk memberikan medikamentosa kepada para atlet, tentunya atas koordinasi dengan dokter. “Dalam mengerjakan tugas, kami juga dituntut untuk mampu memberikan pendekatan khusus kepada pemain yang mengalami cedera agar psikis mereka tetap terkontrol,” ungkapnya. Selain itu, Algi juga memberikan perhatian khusus dalam mengedukasi para pemain untuk menjaga kondisi tubuh mereka. Ia menekankan pentingnya istirahat yang cukup, penggunaan pelindung seperti tapping, dan memastikan para atlet melakukan pendinginan atau cooling down setelah latihan. Algi merasa bahwa ilmu yang diperoleh dari bangku perkuliahan serta pendidikan profesi di UMM sudah sangat relevan dengan kebutuhan fisioterapi olahraga saat ini. Namun, tantangan terbesar yang ia hadapi adalah tekanan untuk segera memulihkan pemain yang mengalami cedera. Menurut Algi, fisioterapi di dunia voli masih sangat terbuka luas. Ia berharap ke depannya lebih banyak lulusan UMM yang berkarir dan berkarya di bidang ini. “Jangan pernah takut untuk mencoba hal baru, karena fisioterapi di bidang olahraga sangat menjanjikan dan dapat menambah relasi dengan luas,” pesan Algi kepada para rekan-rekannya sesama lulusan fisioterapi. Algi yakin, dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, fisioterapis Indonesia mampu memberikan kontribusi besar dalam dunia olahraga, khususnya voli, baik di tingkat nasional maupun internasional. (*/wil)
Seru! Inagurasi Gen 24 UMM Hadirkan Guyon Waton

Riuh ribuan mahasiswa baru (maba) penuhi helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 21 September ini. Itu tidak lepas dari kedatangan Guyon Waton dalam malam Inagurasi Gen 24 UMM. Mereka sukses menghibur para maba UMM dengan berbagai lagu-lagu hits yang dibawakannya. Kehadiran mereka sekaligus menambah suasana keceriaan yang sudah ada sejak Pesmaba lalu. Saat di panggung, vokalis Guyon Waton Faisal Bagus Ibrahim mengaku sangat senang menjadi bintang tamu dalam giat inagurasi tersebut. Menurutnya, kemeriahan yang ada sangatlah terasa dan berkesan baginya. Bagus, sapaan akrabnya, juga berpesan kepada seluruh maba Jas Merah Kampus Putih untuk belajar dengan rajin dan baik agar kelak menjadi orang yang sukses. “Keren sekali kampus UMM ini. Malam hari di Malang kali ini juga sangat meriah dan asyik. Kalian para mahasiswa baru UMM, saya doakan kelak menjadi orang yang sukses dan pastinya bisa membanggakan kedua orangtua serta mereka yang kalian sayangi,” ungkapnya. Sementara itu, salah satu maba yakni Maya Estianty Ega Litia mengungkapkan bahwa acara malam Inagurasi gen24 UMM ini sungguh menghibur. Menurutnya, UMM mempu menciptakan suasana yang sangat nyaman dan menyenangkan bagi ia dan teman-teman yang notabene masih seorang mahasiswa baru. “Acaranya keren banget dan sangat berkesan. Ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi para mahasiwa baru UMM. Bersama teman-etman baru mengawali perkuliahan dengan bahagia. Seluruh rangkaian penyambutan mahasiswa baru tahun ini tentu akan selalu saya ingat,” pungkasnya. Di sisi lain, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa Inagurasi Gen24 ini sengaja digelar oleh Kampus Putih untuk memunculkan euforia di lingkungan pendidikan. UMM ingin menciptakan situasi yang menyenangkan bagi para sivitas akademika, termasuk para maba. “Atmosfer pendidikan yang menyenangkan harus dibangun. Salah satu caranya itu dengan acara inagurasi ini. Hampir setiap tahun kami adakan dengan konsep yang berbeda untuk memberikan warna yang lain. Kalau diperhatikan, mahasiswa UMM ini kebanyakan jauh dari rumah. Nah, kami juga ingin menghadirkan harmoni kekeluargaan di kampus putih bagi mereka,” ungkapnya. Adapun mengundang Guyon Waton sebagai guest star merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada musisi yang melestarikan bahasa daerah. Terlebih lagi saat ini bahasa daerah mulai tergerus oleh globalisasi. Terakhir, Ia berharap kepada seluruh mahasiswa baru untuk memanfaatkan segala momen kebersamaan yang telah diberikan oleh kampus untuk menambah teman, relasi, dan keakraban dengan sesama. (faq/wil)
Pembukaan Pesmaba UMM 2024 Ditandai dengan Pelepasliaran Ribuan Burung

Pelepasan ribuan burung perkutut menjadi pembuka gelaran Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 10 September ini. Mengusung tema ‘Generasi Digital Generasi Penyelamat Bumi’, mahasiswa baru UMM didorong untuk menjadi generasi pelopor dalam upaya penyelamatan bumi. Setidaknya ribuan mahasiswa baru (Maba) UMM yang dijuluki dengan Gen 24 UMM. Turut hadir Brigadir Jenderal Ramli SE. yang mewakili Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A. Panglima Kodam V/ Brawijaya. Ia mengakui bahwa UMM benar-benar menunjukkan komitmennya untuk menghadapi tantangan ke depan. Hal itu dibuktikan dengan ide-ide berkemajuannya dalam mencetak generasi yang unggul. Tidak hanya unggul bagi dirinya pribadi, namun juga unggul pagi lingkungan sekitar. “Kita tahu bersama bahwa UMM menjadi salah satu perguruan tinggi paling terkemuka. Apalagi sekarang memadukan antara narasi digital dan lingkungan. Ada korelasi yang sangat kuat dan stabil. Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu cepat. Meski begitu harus tetap memperhatikan upaya-upaya menjaga lingkungan,” ungkapnya. Terkait pelepasan ribuan burung perkutut lokal (geopleia striata), Kepala Infokom UMM Dr. Ir. Suyatno, M.Si. menjelaskan bahwa itu menjadi salah satu bentuk komitmen UMM untuk menjaga ekosistem dan pelestarian lingkungan. Utamanya dalam rangka menyukseskan misi penyelamatan bumi. Burung-burung ini dilepaskan dan bebas hidup di alam kemudian menciptakan harmoni dan lingkungan yang asri, indah, dan nyaman. “Sebelum dilepaskan, burung-burung tersebut sudah dipantau langsung oleh Kelompok Studi Satwa Liar (KSSL) Kehutanan UMM. Mulai dari aspek makan dan keperluan lainnya sampai mereka bisa hidup secara mandiri di lingkungan kampus,” ungkapnya. Hal lain yang tak kalah menarik adalah maskot SWANUMM yang menjadi simbol dari atmosfer prestasi dan keindahan kampus. Mendorong kehidupan yang mampu berdampingan dengan alam dan pelestarian satwa endemik. Ini juga sekaligus menjadi komitmen UMM untuk terus menjaga dan melestarikan bumi sesuai dengan nilai-nilai sustainable development goals (SDGs). Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. menyebutkan sederet alasan mengapa Pesmaba tahun ini mengampanyekan penyelamatan bumi. Hal itu berangkat dari realita bahwa banyak sumber daya alam mengalami penurunan kualitas. Maka, masyarakat harus mengambil tindakan cepat dan tepat. Khususnya para akademisi dan anak-anak muda yang harus disiapkan menjadi generasi penyelamat bumi. “Gen-24 ini memang kami proyeksikan sebagai generasi digital yang dapat berkontribusi secara signifikan dalam upaya penyelamatan bumi. Melalui pemanfaatan teknologi yang cerdas, kreativitas, dan semangat kolaboratif, generasi ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ungkapnya. Terakhir, Nazar sapaan akrabnya berharap bahwa ke depan Gen 24 ini dapat menjadi insan akademis yang kreatif serta inovatif. Sekaligus dapat menjadi pemimpin yang mampu mengabdikan diri kepada masyarakat dengan dedikasi penuh dan tetap menjunjung tinggi akhlakul karimah. (Faq/Wil)
Diskusi RBC Institute UMM: Pentingnya Kesadaran Perempuan Lawan Kekerasan

RBC Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah acara diskusi publik pada 19 September ini. Mereka berdiskusi terkait ‘Merawat Kesadaran Kritis Perempuan dalam Melawan Kekerasan’. Acara kolaborasi antara RBC Institute dan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur itu menghadirkan Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D. komisioner Komisi Nasional Perempuan Republik Indonesia sebagai pembicara utama. Dalam diskusi itu, Alimatul mengupas tuntas tantangan-tantangan yang dihadapi perempuan dalam melawan kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Salah satu fokus utama yang diangkat adalah kesadaran kritis perempuan terhadap kondisi sosial-budaya yang sering kali memarjinalkan korban kekerasan seksual. “Banyak korban kekerasan seksual enggan melapor karena mitos yang masih kuat di Indonesia terkait keperawanan. Sementara mitos keperjakaan tidak ada. Kondisi tidak perawan sering kali dianggap menjijikkan sehingga korban memilih untuk diam. Belum lagi adanya reviktimisasi. Korban justru sering disalahkan kembali dengan ucapan-ucapan seperti, ‘kamu sih genit’ atau ‘kamu yang memancing’,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya merawat kesadaran kritis di kalangan perempuan agar mereka bisa melawan stereotip yang membatasi hak-hak mereka, termasuk dalam melawan berbagai bentuk kekerasan. Menurutnya, diskusi ini menjadi platform penting bagi para peserta untuk berbagi pengalaman, pandangan, dan strategi dalam mengatasi stigma yang mengakar kuat di masyarakat. Adapun acara yang terbuka untuk umum ini dihadiri oleh peserta dari berbagai lapisan masyarakat. Termasuk sivitas akademika dari berbagai universitas, perwakilan PDNA se-Malang Raya, dan siswa-siswi dari Sekolah Pesantren Enterpreneur Al Maun Muhammadiyah (SPEAM) Kota Pasuruan sebagai peserta termuda. Bahkan, banyak peserta datang dari luar kota seperti Trenggalek dan Pasuruan yang turut serta dala diskusi yang berlangsung di RBC Institute. Direktur Eksekutif RBC Institute Subhan Setowara berharap agenda itu dapat membuka ruang-ruang diskusi lebih luas di kalangan masyarakat untuk mendukung perempuan. Utamanya dalam perjuangan mereka melawan kekerasan, terutama melalui pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor sosial yang menyebabkan mereka sulit melapor atau bahkan tertekan secara psikologis. “Melalui diskusi ini, peserta dapat mengambil peran lebih aktif dalam merawat kesadaran kritis untuk mewujudkan lingkungan yang lebih aman dan adil bagi perempuan,” tegasnya. (*/wil)
UMM Potato Seeds Sukses Kembangkan Bisnis Benih Kentang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Potato Seeds menjadi salah satu unit bisnis yang terus berkembang. Bergerak di bidang hilirisasi dan komersialisasi hasil riset, unit ini sukses memproduksi benih kentang unggul bebas virus. Dengan semangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas serta kontinyuitas produksi kentang di Indonesia, UMM Potato Seeds telah melakukan berbagai program, utamanya setelah mendapat dukungan dari Kementerian Ristek Dikti melalui Program Pengembangan Usaha Kampus. Koordinator UMM Potato Seeds Dr. Ir. Syarif Husen, M.P. menjelaskan, salah satu faktor kunci di balik kesuksesan unit bisnis tersebut adalah penerapan inovasi teknologi dalam proses produksi benih kentang. Teknologi Temporary Immersion Bioreactor (TIB) merupakan hasil pengembangan oleh tim peneliti UMM yang Syarif ketuai. Itu menjadi andalan inovasi dalam industri benih yang berjalan. TIB memungkinkan produksi benih kentang dalam skala besar dengan kualitas yang lebih baik dan waktu yang lebih singkat dibandingkan metode konvensional. Adapun UMM Potato Seeds tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi, tetapi juga membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak terkait. Di antaranya dengan para petani, pemerintah, dan lembaga penelitian. Kemitraan ini memungkinkan pertukaran pengetahuan, akses ke sumber daya, dan distribusi benih kentang yang lebih luas. Dalam upaya meningkatkan swasembada benih kentang, UMM Potato Seeds menjalin kerjasama dengan mitra penangkar benih dasar yang tersebar di seluruh Jawa Timur. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat produksi benih berkualitas tinggi dan memenuhi kebutuhan petani di wilayah tersebut. Lebih lanjut, Syarif mengatakan bahwa meskipun telah mencapai banyak prestasi, UMM Potato Seeds masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan pemasaran ke luar Jawa, persaingan bisnis, dan perubahan iklim. Namun, tantangan ini juga membuka peluang bagi pihaknya untuk terus berinovasi dan mengembangkan produk-produk baru yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan yang dinamis. Dengan adanya UMM Potato Seeds, Syarif berharap mampu memberikan dampak ekonomi dan berkembangnya usaha penakar benih kentang dasar di Jawa Timur. Hal itu bis dilihat dari kajian ekonomi prospek profitabiltas dari usaha bisnis penangkar benih, baik benih penjenis maupun benih dasar kentang. Pada Profitabilitas usaha benih penjenis, produk yang dihasilkan dalam program ini adalah benih kentang bebas virus berupa plantlet dan didistribusikan ke seluruh Indonesia. “Bisnis ini diperkirakan mampu menghasilkan nilai nilai net present value sebesar Rp628.684.924. Sedangkan pada penangakar benih dasar kentang kelas G0 menghasilkan nilai nilai net present value Rp449.850.154,” katanya. Terakhir, Syarif menjelaskan bahwa UMM Potato Seeds berkomitmen mewujudkan visi untuk menjadi pusat unggulan dalam produksi benih kentang di Indonesia. Yakni dengan terus melakukan penelitian dan pengembangan, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas jaringan distribusi. Unit bisnis ini dinilai memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan benih kentang berkualitas skala nasional. “Terlebih dengan dukungan dari Program Usaha Kampus PUK dari Kementerian Ristek Dikti yang telah masuki tahun kedua ini. Hal ini tentu dapat meningkatkan omzet penjualan dan menjadi support untuk meningkatkan income generating kampus,” pungkasnya. (*/zaf/wil)
FKIP UMM Terpilih Jadi Anggota Konsorsium Pendidikan Guru Indonesia-Australia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpilih sebagai anggota Konsorsium Pendidikan Guru Indonesia-Australia (PGI-A), akhir Agustus lalu. UMM menjadi salah satu dari sepuluh universitas di Indonesia yang proposalnya dinilai memenuhi syarat. Ini menjadi cerminan komitmen dan reputasi FKIP UMM sebagai LPTK terkemuka dalam mengembangkan mutu pendidikan guru baik di tingkat nasional maupun internasional. Adapun Konsorsium PGI-A adalah inisiatif strategis yang mengedepankan kolaborasi antara institusi pendidikan di Indonesia dan Australia. Pendanaan konsorsium ini bersumber dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dana mandiri PT Indonesia dan Australia, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) Indonesia, serta berbagai sumber daya potensial lainnya. Dalam konsorsium ini, FKIP UMM akan berkolaborasi dengan lima universitas terkemuka di Australia, yaitu Western Sydney University, University of Adelaide, Deakin University, Central Queensland University, dan University of Newcastle. Terkait hal ini, Dekan FKIP UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani MM. bersyukur dan menilai bahwa raihan ini adalah langkah penting dalam memberi kontribusi terhadap dunia pendidikan dalam skala yang lebih besar. Utamanya dalam meningkatkan kualitas pendidikan guru di Indonesia dan Australia. Kolaborasi ini tidak hanya akan membantu dalam mengembangkan kapasitas kelembagaan LPTK sebagai penyelenggara PPG yang menghasilkan calon guru profesional, tetapi juga memperkuat jejaring antara kedua negara dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Trisakti menambahkan bahwa ada lima kegiatan utama yang akan diimplementasikan dalam konsorsium ini. Misalnya saja menginisiasi program beasiswa untuk gelar S2 dan S3 bagi guru, praktisi pendidikan, dan dosen pendidikan guru, terutama dalam bidang-bidang penting seperti literasi, numerasi, pendidikan anak berkebutuhan khusus, kepemimpinan sekolah, serta lintas disiplin. Ada pula program non-gelar yang diusulkan termasuk micro credential, visiting scholar, dan post-doc berorientasi praktik, serta program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) untuk mahasiswa S1. Selanjutnya, konsorsium ini akan melaksanakan pengembangan kurikulum dan pembukaan kampus pendidikan guru di Indonesia. Kampus ini akan berfungsi sebagai pusat pengembangan guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan, serta pusat penelitian pendidikan dan program pascasarjana pendidikan atau pendidikan profesi. “Kelima inisiatif program yang akan diimplementasikan dalam skema jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang ini diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas pendidikan dan memperluas kesempatan bagi pendidik di kedua negara,” tambahnya. Secara teknis, pelaksanaan kegiatan dalam konsorsium ini akan terbagi dalam tiga tahap utama. Pertama, pertemuan G20S yang akan dilaksanakan untuk membentuk National Steering Committee (NSC) yang terdiri dari perwakilan kedua negara bersama dengan koordinator dari LPTK dan institusi pendidikan guru di Australia. Kedua, pembentukana sekretariat konsorsium yang akan mengelola administrasi dan koordinasi kegiatan. Ketiga, pertemuan berkala akan diadakan sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun untuk memantau dan mengevaluasi kemajuan program. Dengan bergabungnya FKIP UMM dalam Konsorsium Pendidikan Guru Indonesia-Australia (PGIA), Trisakti berharap akan terjadi kemajuan yang signifikan dalam kualitas pendidikan guru di kedua negara. Inisiatif ini menegaskan adanya upaya bersama dalam memajukan pendidikan dan menciptakan peluang yang lebih baik bagi para pendidik serta calon guru. (*/wil)