Afta, Mahasiswa UMM yang Menang Best Leader, Dangdut, dan Pensi di Ajang Internasional

Adalah Afta Gita Muhammad, seorang mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses membawa banyak kemenangan di Ahmad Dahlan International Youth Camp, Oktober lalu. Ia berhasil memenangkan tiga kategori yakni best leader, pentas seni, dan dangdut song dalam ajang yang dilaksanakan di Kulon Progo, Yogyakarta itu. Adapun kegiatan itu merupakan platform bagi para pemuda dari berbagai negara untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, menjalin kolaborasi internasional, dan memperluas wawasan tentang isu global. Tema tahun ini adalah “Exploring Skills of Youngsters for Addressing Global Challenges,” yang fokus pada pengembangan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah. Afta, sapaan akrabnya mengatakan, kemenangan ini tentu tak lepas dari dukungan Kampus Putih UMM serta dosen pembimbing Novi Puji Lestari, S.E,.M.M. Dalam sesi best leader, ia menampilkan kepemimpinan yang baik, komunikasi yang efektif, dan mampu memfasilitasi diskusi dengan apik. Sementara pada kategori pentas seni, ia menampilan kemampuan pencak silat di hadapan para peserta lain. Ini menjadi caranya menunjukkan keterampilan dalma seni bela diri sekaligus menampilkan budaya Indonesia. “Saya juga Alhamdulillah meraih juara dua di penampilandangdut bersama tim. Sama seperti pencak silat, dangdut juga menjadi kesenian yang juga identik dengan Indonesia. Sehingga, ini menjadi cara saya memperkenalkan Indonesia ke peserta dari negara-negara lain,” katanya melanjutkan. Ia menilai, ADIYC 2024 memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, kreativitas, dan kerjasama tim. Selina itu juga dapat jadi wadah membangun relasi dengan peserta dari berbagai negara. Keberhasilan dalam berbagai kategori tersebut mencerminkan semangat dan kompetensinya dalam berbagai bidang, serta menjadikan pengalaman ini sangat berharga bagi pengembangan dirinya di masa depan. “Sederet penghargaan ini tidak hanya berarti bagi saya, tapi juga bagi anak muda lainnya. Saya ingin agar teman-teman pemuda bisa memberikan yang terbaik, memproduksi ide cemerlang, dan menyediakan solusi apik untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Kita punya energi dan kreativitas yang tentu akan membantu dalam mewujudkan hal tersebut,” tegasnya. (*/wil)
Bahas Lagu Anak, Alumnus UMM Menangi Ajang Penyiar se-Asia Pasifik

Salah satu alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Esty Sulistya sukses sabet juara 1 di ajang kompetisi bergengsi Asia Pacific Broadcast Union (ABU) Prizes 2024. Ia yang juga dosen praktisi di Prodi Pendidikan Bahasa Bahasa Indonesia UMM berhasil menyisihkan pesaingnya dengan apik. Esty berhasil melaju dan kalahkan para peserta lainnya dari 65 negara, lima benua, dan dengan 342 karya. Adapun ABU Prizes merupakan bagian dari rangkaian sidang umum ABU ke-61 yang dilaksanakan di Hotel Hilton Bosphorus, Istanbul, Turkiye pada 22 Oktober lalu. Esty merupakan seorang presenter di Pro 1 Radio Republik Indonesia (RRI) Malang. Ia berhasil meraih penghargaan peringkat pertama untuk kategori Radio On Air Personality. Ada beberapa aspek yang dinilai, mulai dari kemampuan bersiaran, menggali informasi, mengolah kata, menghadirkan harmoni, kenyamanan, kepribadian dalam siaran, hingga kemampuan meng-handle pendengar dan membuat narasumber merasa nyaman. “Ada juga lima kriteria penilaian yang dijadikan acuan di kategori ini, yaitu kreativitas, kedalaman pengetahuan presenter, kemampuan terhubung dengan pendengar, kualitas suara, serta pemahaman editorial seorang presenter,” terang Esty yang memiliki nama asli Etik Sulistyaningsih. Adapun dalam ajang itu, ia menyoroti salah satu tema yang menarik, yakni krisis lagu anak di Indonesia dalam dua dekade terakhir, baik itu dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Ia merangkumnya dengan apik dalam materinya yang berjudul “Melodies for Indonesian Children”. Ia juga mengajak para musisi, industri musik, orang tua, dan pemerintah untuk bersama-sama memfasilitasi serta mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu yang membangun karakter kepribadian anak Indonesia. “Anak-anak adalah masa depan bangsa kita. Jadi, sudah selayaknya kita memiliki banyak lagu anak tentang cinta tanah air, persahabatan, cinta kasih, toleransi, dan empati,” pesannya. Keberhasilannya saat ini tidak serta merta ia dapat dengan instan. Ada proses panjang harus Ia lewati untuk dapat menjadi pemenang. Perempuan yang sudah 25 tahun menggeluti dunia profesi sebagai penyiar, presenter, dan reporter radio ini harus melalui tiga tahap seleksi penjurian di level nasional. Sebelum akhirnya dirinya terpilih mewakili Indonesia di ajang bergengsi tersebut. Ia bersaing dengan perwakilan dari 69 RRI di Indonesia untuk kemudian dipilih menjadi lima terbaik hingga ditetapkan tiga terbaik. Di tahap ini, ketiga peserta didampingi untuk mendapatkan pembekalan, produksi baru, dan revisi hingga ditetapkan sebagai perwakilan Indonesia. Sementara itu di level internasional, sebanyak 342 karya diajukan para peserta dari 65 negara untuk diseleksi oleh 60 juri praseleksi. “Puncaknya penjurian akhir dilaksanakan di Kuala Lumpur 10-12 September lalu dengan 18 juri dan 60 buah karya peserta yang masuk finalis di semua kategori. Alhamdulillah saya menang di kategori Radio on Air Personalitiy ABU Prizes 2024 ini,” tuturnya. Adapun sejak sebelum kuliah, Esty memang sudah aktif menjadi MC, moderator dan kegiatan public speaking. Tak hanya di dunia profesi, Ia juga banyak torehkan prestasi di bangku perkuliahan sebagai mahasiswi Ilmu komunikasi UMM. Juara I mahasiswa berprestasi UMM 1998, Juara I lomba karya tulis ilmiah UMM, hingga menjadi wisudawati dengan lulusan terbaik I tingkat universitas UMM. Di tahun ini juga, Ia berkesempatan mewakili voice of Indonesia (VOI) saluran siaran luar negeri RRI. Terakhir, ia berharap radio menjadi media yang tetap bertahan di tengah kemajuan teknologi. Apalagi radio memang memiliki banyak penikmat di seluruh penjuru dunia. “Radio tidak akan mati karena mampu bermetamorfosa sesuai perkembangan zaman, menjadi media komunikasi bagi semua orang,” tutupnya. (zaf/wil)
Dosen Komunikasi UMM ini Jadi Pengajar Asia Pertama di Bydgoszcz Polandia

Beasiswa Erasmus Plus yang diraih dosen program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyisakan kesan mendalam. Bagaimana tidak, Widiya Yutanti, peraih beasiswa Program Erasmus+ Teaching Mobility itu disambut sangat hangat di Kazimierz Wielki University (Uniwersytet Kazimierza Wielkiego/ UKW). Ini karena Widiya adalah dosen asal Indonesia bahkan Asia pertama yang berhasil meraih kesempatan langka mengajar di kampus di kota Bydgoszcz, Polandia. Bagi Widiya, mengajar di UKW juga merupakan pengalaman pertama perjalanannya ke Eropa. Lulusan Master of Art Griffith University Australia ini begitu antusias karena biasanya yang memperoleh kesempatan beasiswa biasanya dari prodi-prodi di Fakultas Pertanian, Peternakan, Ilmu Kesehatan, Tehnik, Psikologi, Hubungan Internasional atau Ekonomi dan Bisnis. “Baru kali ini ada peluang untuk dosen Komunikasi, jadi saya coba apply. Alhamdulillah lolos,” tutur Widiya. Widiya yang juga Kepala Laboratorium Komunikasi UMM, mengajar selama seminggu di UKW semester lalu. Menariknya, ia masuk di kelas Journalism and Social Communication, Institute of Social Communication and Media. “Ini jurusan yang sangat sesuai dengan peminatan saya,” ungkapnya. Di kelas, Widiya menyampaikan topik menarik, yakni ‘An Overview on Mass Media and Journalism Practices in Indonesia’. Tak disangka, mahasiswa juga antusias ingin mendalami praktik media dan jurnalisme di Indonesia. Bagi mereka, Indonesia adalah negara dengan populasi besar yang tentunya memiliki karakteristik, dinamika dan keunikan yang berbeda dengan Polandia. “Itulah sebabnya, saya juga diminta untuk mengisi kelas Sosiologi dan kelas internasional yang diikuti belasan mahasiswa penerima beasiswa Erasmus dari berbagai negara di Eropa, Timur Tengah dan Asia. Tentunya dengan senang hati saya terima tawaran tersebut karena memang tujuan saya selain mengajar tentang komunikasi dan jurnalistik juga mengenalkan UMM dan Indonesia,” ungkap Widiya. Topik-topik berikutnya adalah ‘Media, Society and Pandemic in Indonesia’ dan ‘Journalism and Gender in Indonesia’. Dua topik ini diakuinya menjadi bahan diskusi menarik bagi mahasiswa dan dosen di sana. “Mereka tertarik untuk bisa terus melanjutkan Kerjasama ini ke level lebih lanjut, tidak hanya teaching mobility namun juga kolaborasi dalam bentu join research ataupun publikasi dalam bidang jurnalistik dan komunikasi.” Penanggung jawab kerjasama internasional di Institute of Social Communication and Media UKW, Joanna Janiszewska, PhD, mengungkapkan rasa senangnya dapat menerima Widiya. “Mahasiswa kami juga sangat antusias mengikuti kelas yang disampaikan oleh Widiya. Topik-topik yang disampaikan tentunya dapat memberikan insight dan perspektif baru pada mahasiswa kami terutama tentang praktik media di Indonesia. Saya berharap ke depan UMM terus bisa berkolaborasi dengan UKW,” ungkap Joanna. Widiya berterima kasih kepada UMM yang telah membuka kerjasamanya dengan Erasmus hingga memperoleh kesempatan mengajar ke Eropa. Kesempatan ini tidak disia-siakan untuk mengajak akademisi di UKW agar bisa bekerja sama lebih lanjut. Selain join research, kemungkinan kemitraan lainnya adalah publikasi, guest lecturer dan dan program student exchange lainnya. Selama di Polandia, Widiya juga berkunjung ke Warsawa untuk bertemu dengan alumni Komunikasi UMM yang sedang studi di sana. Iwa Gandiwa, alumni Angkatan 2005 tersebut, sedang mengambil kuliah S2 pada bidang Social Media Management. “Bu Widiya dosen idola saya, senang sekali bisa bertemu di Eropa. Sejak lulus dan bekerja di Pemerintah Provinsi NTB, saya belum pernah bertemu beliau. Terima kasih bu Widiya,” ungkap Iwa. (*/wil)
Kajian di UMM: Menemukan Beragam Inspirasi Sains di Alquran

Mempelajari dan memperdalam ilmu yang ada di Alquran menjadi nilai pedoman tersendiri bagi seorang muslim. Hal itu juga yang dilakukan oleh para sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang. Pada tanggal 24 Oktober lalu, UMM mengadakan pengajian umum Rabiul Akhir bersama pendakwah dan ilmuwan kondang Prof. Agus Purwanto yang digelar di Masjid A.R Fachruddin. Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran rektor, dosen pengajar, hingga mahasiswa tersebut bertemakan Alquran sebagai kitab inspirasi ilmu pengetahuan. Adapun kajian serupa akan terus diselenggarakan UMM secara rutin setiap bulan. Sebelumnya, Kampus Putih sudah mengundang Prof. Haedar Nasir, kemudian putaran yang kedua ada Ustaz Wijayanto. Ini juga menjadi wadah silaturahmi sekaligus menambah ilmu dan pencerahan terkait agama Islam. Dalam kajiannya, Agus mengungkapkan bahwa banyak sekali inspirasi yang bisa didapat dengan mempelajari Alquran. Misalnya tentang bagaimana sebuah pesawat bisa terbang di langit. Alquran memberikan inspirasi bagi dunia penerbangan melalui penjelasan surat An-nahl ayat 79 mengenai burung. Selain itu Agus juga menjelaskan ayat lain yang bisa berkaitan dengan cara kerja kapal. Seperti dalam surat Al-Qamar ayat 13 dan juga Al-Jasiyah ayat 12. Dua ayat tersebut merupakan hal yang sama dan memiliki tujuan yang sama. Pada ayat yang pertama dijelaskan bahwasannya Allah menundukkan lautnya, sedangkan pada ayat yang kedua Allah menundukkan kapalnya. “Lautnya ditundukkan dengan menggunakan bahan yang terapung dan tinggal diberi mesin. Kemudian juga harus bisa menundukkan ombaknya sehingga kapalnya tidak tenggelam. Dua ayat tersebut memiliki misi yang sama. Menggambarkan karakteristik kapal yang berbeda antara kapal kayu dan kapal logam,” Kata Guru Besar Fisika ITS tersebut. Sebagai penutup, Agus yang pernah menjadi dosen UMM itu mengatakan, Alquran tidak hanya menjadi basis nilai saja. Tetapi juga bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi terkait pengembangan sains dan tehnologi. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lilalamin sehingga pola pikir muslim juga harus diubah. Misalnya dengan tidak hanya menjadi consuemr atau user, tapi bisa benar-benar memberikan produk atau inovasi baru agar mampu memberikan manfaat. “Jadi, mari bersama mengembangkan Islam yang mampu memahami materi ilmu-ilmu agama dan juga ilmu di bidangnya masing-masing. Dengan begitu, kita juga mampu memberikan sumbangsih untuk dunia,” pungkasnya. (zaf/wil)
Peringati Sumpah Pemuda, UMM Tunjukkan Cara Merawat Merah Putih

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berkomitmen merawat dan menjaga kebhinnekaan serta persatuan Indonesia. Salah satunya tercermin dalam Sarasehan Kebangsaan bertajuk ‘Sintesis Kebhinnekaan untuk Merah Putih’ yang digelar pada 28 Oktober 2024 lalu. Turut hadir berbagai kalangan, mulai dari budayawan, tokoh-tokoh dari berbagai agama, tokoh dari berbagai perhimpunan umat beragama, komunitas preman mengajar, organisasi pergerakan mahasiswa, dan lain sebagainya. Mereka hadir dan membangun komitmen bersama untuk kebhinekaan dengan latar belakang agama yang berbeda. Mulai dari Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya Pendeta David Tobing, Ketua PHDI Malang Istianah, hingga dosen UMM Pradana Boy yang juga menjadi Duta Internasional Dialog antar Agama. Penyatuan cara pandang Ini menjadi cara menarik untuk memperingati hari Sumpah Pemuda Indonesia di UMM dalam rangka memperkuat kebhinekaan merah putih. Adapun Sarasehan ini menjadi rangkaian kegiatan dari Festival Kebangsaan yang dilaksanakan setiap tahun oleh UMM. Ini menjadi agenda rutin yang selalu Kampus Putih lakukan sebagai upaya merawat kebangsaan . Dimulai pada setiap awal Oktober bertepatan dengan Sumpah Pemuda dan akan terus melibatkan para tokoh lintas agama dari berbagai daerah. Terkait agenda ini, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa umat manusia tidak hanya terdiri dari perbedaan jenis kelamin atau usia saja. Latar belakang budaya dan agama juga menjadi hal strategis yang perlu untuk dipikirkan bersama. Maka, sarasehan kebangsaan yang digelar di UMM ini punya peran penting. Apalagi UMM memang menasbihkan diri dengan slogan ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Maka, Kampus Putih percaya semua orang sama, duduk sejajar sebagai anak bangsa. “Latar belakang budaya masing-masing manusia sangatlah krusial, bukan hanya di aspek ras saja. persinggungan agama dan budaya juga menarik untuk dibahas. Banyak orang bilang bahwa hurud D dalam kebudayaan itu adalah ‘din’ yang artinya agama dalam bahasa Arab. Jadi, Ini isyarat bahwa agama itu inklusif dan melekat di dalam diri semua orang,” tegas Nazar. Lebih lanjut, Nazar menilai bahwa peringatan ini menumbuhkan gairah patriotisme tentang Indonesia yang dirangkai dalam rumah Kebhinnekaan. Tidak hanya perayaan, tapi ini menjadi pengingat untuk melahirkan kelompok-kelompok pelopor yang secara sadar mengampanyekan keberagaman dengan gaya dan caranya masing-masing. “Namun, jangan sampai kelompok-kelompok ini malah menciptakan rasa yang berbeda-beda,” tegasnya. Rektor asal Sumbawa itu menilai bahwa ada tugas besar yang harus diemban oleh para tokoh kultural seperti guru, tokoh agama, dan budayawan untuk merefleksikan budaya sebagai konsep agama yang melekat pada semua manusia. Memebntu masyarakat yang tidak membedakan umat manusia dalam segala spek kulturalnya. Dengan begitu, tiap manusia akan merasa nyaman dan tidak terasing sekalipun berada di tengah-tengah orang yang berbeda. “Ini menjadi tugas besar yang harus dialkukan jelang 100 tahun usia Indonesia. Jelang tahun 2045 di mana Indonesia diprediksi menjadi negara yang sejahtera. Sekali lagi saya ucapkan selamat memperingati sumpah pemuda. Mari meneguhkan persatuan dan kebhinnekaan Indonesia,” pungkasnya. (wil)
Begini Pandangan Tiga Tokoh Agama di Sarahsehan Kebangsaan UMM

Beragam tokoh agama dan budayawan hadir dalam Sarahsehan Kebangsaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 28 Oktober ini. Tiga di antaranya juga berkesempatan untuk membagikan perspektif dan pandangannya, termasuk mengenai perdamaian dan merawat kebhinnekaan. Mereka adalah Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya Pendeta David Tobing, Ketua PHDI Malang Istianah, hingga dosen UMM Pradana Boy yang juga menjadi Duta Internasional Dialog antar Agama. Dalam penjelasannya, Pendeta David Tobing menyinggung mengenai pentingnya komunikasi, diskusi, serta dialog antar umat beragama. Ia juga menyampaikan perspektif dan peran umat Kristen dalam mewujudkan perdamaian dan persatuan di Indonesia. Dalam agama Kristen, perdamaian dan persatuan adalah kedua hal yang mutlak dan harus terwujud dalam kehidupan. Seperti dalam Matius 5:9 yang berbunyi ‘Berbahagialah orang yg membawa damai, karena mereka akan disebut anak anak Allah’. “Kerukunan antar umat beragama harus diwujudkan secara aktif dengan membangun komunikasi yang baik. Salah satunya terwujud dalam program FKAUB Barikan Anak Nusantara yang dimeriahkan oleh anank-anak dengan latar belakang agama, budaya, dan kepercayaan yang berbeda. Dengan menanamkan jiwa perdamaian dan persatuan dalam diri anak-anak bangsa serta masyarakat antar umat beragama, saya yakin keberagaman agama akan mewujudkan perdamaian dan persatuan di Nusantara,” tambahnya. Adapun Sarasehan ini menjadi rangkaian kegiatan rutin dari Festival Kebangsaan yang dilaksanakan setiap tahun oleh UMM. Dimulai pada setiap awal Oktober bertepatan dengan Sumpah Pemuda dan akan terus melibatkan para tokoh lintas agama dari berbagai daerah. Di sisi lain, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Istianah menyoroti persepsi perdamaian dan persatuan dari sudut pandang agama Hindu. Ia menekankan kiblat lima keyakinan agama hindu yang disebut ‘Panca Sradha’. Perempuan yang akrab disapa Ratih itu juga menandasakan pentingnya keharmonisan dalam mencapai kehidupan persaudaraan yang tenteram dan damai. Menurutnya, keragaman suku, ras, agama, dan budaya tak menjadi penghalang kita dalam mewujudkan ‘Hidup Rukun’ di Nusantara. “Segala bentuk bakti yang kita lakukan dengan cara kita masing-masing adalah untuk berbakti pada Tuhan yang Maha Esa. Sesama saudara patutnya kita junjung tinggi nilai moral asah, asih, asuh. Sehingga, tertanam juga dalam diri kita nilai ‘Tat Twam Asi’ yang maknanya aku adalah kamu dan kamu adalah aku,” sambungnya. Hal selaras juga dijelaskan Pradana Boy. Ia fokus membahas terkait fragmentasi fenomena yang sedang terjadi serta kondisi dunia saat ini. Beberapa faktor yang menyebabkannya adalah ekonomi global, geopolitik, perang, perubahan iklim, disrupsi, dan identitas. Menariknya, Ia menyoroti pentingnya juga memaknai sisi sejarah Indonesia sebagai suatu bangsa atau negara dari awal masa hinduisme-budhisme, masa kesultanan Islam, masa kemerdekaan, hingga masa bangsa-negara. Menurutnya, makna sebenarnya dari sintesis kebhinekaan adalah ketergantungan satu sama lain antara manusia. “Perpecahan ada karena sebagian orang tidak begitu paham akan pentingnya sejarah dalam mewujudkan perdamaian dan persatuan dunia. Fenomena krisis antar umat beragama yang terjadi bukanlah masalah agamanya, tetapi orang orang yang mempraktekan agamanya. Tentu, perdamaian dapat kita wujudkan di antara perbedaan. Meskipun agama kita berbeda, tetapi muara agama kita sama yaitu kebajikan,” pungkasnya. (din/wil)
Peduli Lansia, Mahasiswa UMM Ciptakan Closet Duduk Hidrolik

Peduli terhadap keselamatan masyarakat lanjut usia (lansia), Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan inovasi closet duduk hidrolik ramah lansia. Menariknya, inovasi tersebut sukses meraih prestasi kategori “Best Funcionality” dalam Lomba Nasional Tahunan Rancang Bangun (LNT-RBM) XIII yang digelar di Ternate, Maluku Utara, awal Oktober ini. Berawal dari kegelisahannya dan tim terhadap mobilitas lansia saat berada di kamar mandi, Ahmad Khaidir Ali dan tim lebih mengutamakan fungsi dan ketahanan inovasi rancangan mereka. Ahmad, sapaan akrabnya, mengaku mendapatkan ide tersebut dari hasil riset bersama timnya di Rumah Singgah Lansia Hizbul Wathan Malang. Sebagian besar keluhan para lansia yang muncul adalah ketika mereka berada di di kamar mandi. Maka dari itu, karya closet duduk hidrolik tersebut didesain sedemikian rupa dengan mempertimbangkan kemudahan akses para lansia saat menggunakannya. Alat hidrolik yang terpasang pada closet membantu mobilitas naik dan turun para lansia. “Mayoritas keluhan dari para lansia yang kami temui adalah kesusahan saat menggunakan closet. Seperti yang kita ketahui bersama, fungsi alat hidrolik sudah banyak dimanfaatkan untuk memudahkan manusia dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Untuk itu, kami memanfaatkan fungsi alat hidrolik yang menjadi salah satu poin utama rancangan desain kami,” sambungnya. Di samping mengutamakan fungsi alat hidrolik, Ahmad juga sangat mempertimbangkan ketahanan alatnya dari jenis material yang digunakan. Tahan akan korosi menjadi fokus penting dalam pemilihan material inovasinya. Misalnya, ketahanan terhadap beberapa faktor lingkungan yang berpeluang menyebabkan korosi pada logam, seperti kontak langsung dengan air dan oksigen. Uniknya, alat tersebut juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang mengalami kendala kesehatan dan yang membutuhkan. Ia dan tim sangat senang bisa turut berpartisipasi mewakili UMM dalam kompetisi luar biasa ini. Meski demikian, Ia juga menceritakan kesulitan dan tantangan yang harus Ia dan timnya hadapi sebelumnya. Salah satunya perhitungan mendetail seputar komposisi dan jangka waktu ketahanan alat hingga biaya yang diperlukan. “Kami sempat mengalami kendala dalam perhitungan komposisi struktur alat, material yang digunakan, dan jangka waktu ketahananya. Beruntung, pihak UMM sangat peduli dan mendukung penuh inovasi kami. Di bawah bimbingan dosen Bu Iis Siti Aisyah, kami akhirnya bisa menemukan desain final yang bisa dibangun. Selain itu, sosialisasi secara berkala sangat dibutuhkan kepada para lansia agar mereka bisa optimal menggunakannya,” tambahnya. Terakhir, Ia berharap inovasi desain rancangannya bisa bermanfaat bagi masyarakat umum. Ia juga mengaku sangat terkesan dengan berbagai inovasi anak muda lain. Menurutnya, hal itu membuktikan bahwa ide-ide anak muda memang harus dieprtimbangkan untuk memajukan bangsa. “Ide-ide rancangan para peserta mahasiswa dari berbagai kampus sangat fresh dan sangat bagus. Saya juga berharap, mahasiswa Teknik Mesin UMM lainnya mampu melahirkan rancangan alat lain yang lebih inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” pesannya. (wil)
FPP UMM Perkuat Rekognisi Internasional dengan Summer Course

Iklim internasional terus dijalankan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM dengan melangsungkan Summer Course Faculty of Agriculture and Animal Science (SCFAAS) 2024 pada 16-24 Oktober. Ada puluhan mahasiswa dan dosen dari sederet kampus di Asia Tenggara, mulai dari Malaysia hingga Vietnam. Ada beberapa universitas yang turut serta seperti Universitas Putra Malaysia (UPM), Silpakorn University, Prince Songkla University, Universitas Sultan Zainal Abidin, dan lainnya. Terkait summer course ini, Wakil Rektor IV UMM Salis Yuniardi, Ph.D menjelaskan, aktivitas ini juga menjadi bentuk kolaborasi UMM dalam membangun sustainability Southeast Asia. Apalagi kampus memang memegang peran penting dalam upaya tersebut. “Ini merupakan inovasi yang apik serta menjadi usaha FPP untuk menghadirkan iklim internasional. Tidak hanya memberikan pengalaman, tapi juga membuka peluang menjalin kerjasama-kerjasama lainnya,” kata Salis. Adapun program SCFAAS 2024 disambut baik oleh para peserta baik dari mahasiwa internsional, maupun mahasiswa dari UMM. Rangkaian kegiatan diawali dengan diskusi secara virtual dari kampus masing-masing. Lalu, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi Kampus Putih dan belajar lebih dalam mengenai bahasa, budaya di Indonesia, dan sekilas tentang ilmu pertanian-peternakan. Salah satu dosen dari Malaysia, Dr. Eric Lim berharap para mahasiswanya bisa lebih memahami budaya luar, dalam hal ini Indonesia. Kemudian jug bisa mengembangkan kolaborasi sesama mahasiswa. Selain itu, ia juga ingin bisa menjalin kerjasama, tidak hanya dengan UMM tapi juga bergabung dengan universitas lain sehingga bentuk kolaborasi lebih besar. “Ini kali kedua saya datang ke Malang dan UMM merupakan kampus yang bagus, dingin, dan orang-orangnya sangat ramah. Semoga bisa kembali bertemu di SCFAAS selanjutnya,” tambah Eric. Sementara itu Wakil Dekan I FPP Ir. Henik Sukorini, Ph.D. menjelaskan, kerjasama internasional ini juga mewadahi para dosen luar negeri maupun dosen UMM dalam kegiatan Visiting Lecture. Sebuah program pertukaran pengajar (dosen) untuk secara bergantian berkesempatan mengajar di beberapa perguruan tinggi luar negeri yang bekerjasama dengan UMM. Seperti dosen UPM mengajar di Peternakan UMM, Silpakorn University mengajar di Agribisnis, dosen Kasetsart University berkesempatan bertemu mahasiswa Akuakultur UMM, dan masih banyak lagi. Henik sapaan akrabnya menyebut program ini diselenggarakan bertujuan untuk menciptakan Internasionalisasi atmosfer akademik di UMM terkhusus di FPP UMM. “Ini menjadi cara kami menciptakan internasionalisasi atsmosfer akademik. Apalagi lima prodi kami sudah terakreditasi ASIIN. Lalu, untuk rencana jangka panjang kami sedang melakukan negosiasi dengan beberapa kampus luar negeri untuk bisa mengadakan student exchange antar kampus kolaborator kurang lebih selama satu semester,” sambungnya. (din/wil)
Berkat Relasi Internasional UMM, Dosen FH Ini Terbang ke Portugal

Sukses bermitra dengan banyak Perguruan Tinggi di beberapa negara dunia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga aktif terlibat dalam beragam kegiatan internasional. Adalah Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. dosen Fakultas Hukum UMM yang sukses terbang ke Portugal dalam rangka program Erasmus+ Teaching-Mobility University of Minho (UMinho) selama lima hari, Oktober ini. Adapun Teaching Mobility merupakan program pertukaran dosen yang berisi full sharing dan diskusi tentang basic masing-masing Sivitas akademika, fakta-fakta lapangan seputar kampus, hingga berkesempatan belajar materi bahasa portugis. Fatih, sapaan akrabnya, mengaku tak hanya berdiskusi tentang sistem hukum saja. Namun ia juga banyak belajar seputar kehumasan disana. Mulai dari belajar komunikasi yang efektif, hingga langkah dalam membangun kepercayaan diri pada mahasiswa baru. Salah satu program UMinho yang sangat menarik perhatiannya adalah program dan slogan mereka yakni ‘Show UMinho’ atau ‘This is UMinho’ atau ‘I am UMinho’. “Menurut saya, ‘Show UMinho’ ini merupakan program branding yang menarik dan bagus untuk diterapkan. Dari awal mahasiswa baru masuk kampus, sudah ada break down dari program sekaligus slogan tersebut. Sehingga, tertanam internalisasi nilai pada diri mahasiswa tentang bagaimana cara mencintai kampus sejak masih mahasiswa baru,” sambungnya. Lebih lanjut, Ia menyoroti manajemen dan sistem pembelajaran UMinho yang cukup berbeda dengan sistem waktu pembelajaran di kebanyakan kampus di Indonesia. Sistem waktu pembelajaran yang fleksibel memudahkan mahasiswanya untuk belajar secara maksimal di jam perkuliahan. Selain itu, sama seperti pada kebanyakan kampus eropa pada umumnya, tidak ada intimidasi antara dosen dengan para mahasiswanya di area kampus. “Ada tiga hal positif yang ingin saya bawa ke kampus. Pertama, mengenai metode pembelajaran yang fleksibel, sehingga tidak memberatkan mahasiswa. Lalu, program branding kampus yang lebih terstruktur terkait bagaimana membangun kenyamanan lingkungan kampus dari internalisasi nilai slogan tersebut. Dan yang terakhir, terkait menciptakan keamanan, kenyamanan, dan menghargai orang lain,” tambahnya. Di samping belajar banyak hal di area kampus, ia juga berkesempatan field trip ke beberapa perpustakaan dan tempat bersejarah di Braga. Fatih juga mengaku kagum terhadap sejarah dan budaya disana. Mulai dari cerita dibalik Kota Braga yang memiliki sejarah panjang dalam berdirinya negara Portugal hingga budaya masyarakatnya yang sangat mengutamakan keamanan pejalan kaki. Fenomena menarik lainnya tentang rumah makan Portugal adalah quality control kebersihan dan keamanan makanan. Terakhir, Fatih juga menyoroti pentingnya keberadaan asosiasi sesama pengguna bahasa Indonesia. Menurutnya, hal itu sangat membantu untuk dapat perkumpulan yang positif, sehingga membantu cepat dalam beradaptasi di lingkungan baru. Ia berharap bisa menyerap dan menyalurkan banyak ilmu serta inovasi selama belajar di UMinho yang nantinya bermanfaat juga bagi UMM. (din/wil)
Ruang Inklusif Digencarkan di UMM Autism Summit 2024

Demi mendukung kesadaran akan individu dengan autisme, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah UMM Autism Summit 2024. Agenda yang dilaksanakan pada awal Oktober itu dihadiri oleh ratusan masyarakat, ahli, sivitas akademika, dan para pembicara yang mumpuni. Terlebih lagi ada talkshow yang menghadirkan tiga pemateri yang memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam bidang autisme. Salah satunya Nina Rukmina Dewi, seorang orang tua dari anak penyandang autisme dan konselor pendidikan. Menurutnya, penting bagi para orang tua untuk tidak panik ketika menghadapi situasi sulit. Ia juga mendorong agar terus mencari dan tidak menyerah dalam mendapatkan solusi terbai bagi anak. “Ketika kita diamanahi untuk memiliki anak berkebutuhan khusus, kita juga harus menjadi istimewa dalam kerja keras dan pembelajaran. Penerimaan terhadap keunikan anak juga harus kita tanamkan sejak awal. Jika orang tua hanya bersikap biasa-biasa saja, segala keistimewaan anak bisa menjadi masalah baru yang lebih kompleks,” tambahnya. Di sisi lain, turut hadir Bayu Dwito Wicaksono, S.T., seorang profesional yang baru terdiagnosa autisme pada usia 30 tahun dan kini bekerja di lingkungan yang inklusif. Bayu menjelaskan bahwa penting untuk menyuarakan kesadaran autisme di lingkungan terdekat dan media sosial. Ia juga menekankan pentingnya menciptakan ruang yang aman dan inklusif di lingkungan pendidikan dan tempat kerja, agar semua orang dapat berkontribusi tanpa merasa terpinggirkan. “Inklusivitas berarti melibatkan semua orang dan mendengarkan kebutuhan individu. Kita harus membuat orang-orang di sekitar kita memahami bahwa setiap individu, terlepas dari diagnosis mereka, memiliki hak untuk diterima dan dihargai,” jelas Bayu. Penjelasan lebih lanjut disampaikan oleh Dr. Cahyaning Suryaningrum, dosen Fakultas Psikologi UMM. Dalam sesi talkshow-nya, ia menilai dukungan psikologis bagi anak-anak dengan autisme harus digencarkan. Anak-anak ini sering kali menghadapi tantangan yang berat, baik dari dalam diri mereka sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Mereka berjuang untuk beradaptasi dan berkembang dalam lingkungan yang sering kali tidak memahami mereka. Maka, menciptakan ruang yang sama bagi semua anak untuk tumbuh dan berkembang tanpa menganggap mereka sebagai minoritas adalah salah satu kunci. Lebih lanjut, Cahyaning menjelaskan, setiap respon yang diberikan oleh anak-anak dengan autisme harus dihargai. “Dukungan harus datang dari keluarga, teman, dan masyarakat luas. Kita harus belajar untuk menerima dan mencintai anak-anak berkebutuhan khusus, karena mereka juga berjuang untuk menemukan tempat mereka di dunia ini,” katanya Adapun UMM Autism Summit 2024 diharapkan menjadi platform yang efektif untuk meningkatkan pemahaman dan dukungan terhadap individu dengan autisme. Melalui kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan masyarakat umum, acara ini bertujuan untuk mendorong masyarakat agar lebih inklusif dan peduli terhadap keberagaman. (*/Wil)