June 23, 2026, oleh

MALANG POSCO MEDIA-Ketekunan dan etos kerja yang tinggi menjadi kunci kesuksesan. Apalagi dipadu semangat tanpa menyerah. Itulah resep rahasia Galang, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam meraih kesuksesannya. Dari awalnya seorang buruh yang mengais limbah, lalu tekun berproses hingga kini sukses menjadi pebisnis.
Jarum jam di dinding Tera Thai Salon Day Spa, Gdynia, Polandia, menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat. Suasana di dalam salon terasa hangat meski di luar suhu udara di angka 11 hingga 20 derajat Celsius.
Tidak lama, satu per satu pelanggan berdatangan memasuki salon. Mereka yang datang rata-rata telah memesan jadwal pijat sejak tiga hari sebelumnya.
Di tengah kesibukan aktifitas sore itu, seorang pria tampak sigap bergerak. Yakni Galang, ‘Arek Malang’ pemilik salon tersebut. Ia tak segan turun tangan membantu resepsionis melayani pelanggan yang membeludak. Alumnus Jurusan Agribisnis UMM itu, kini telah menetap dan menjadi warga di kota pesisir utara Polandia tersebut
Pemandangan itu jauh berbeda dibanding lima tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di Gdynia, Polandia. Kala itu, Galang datang ke Polandia sebagai perantau yang belum memiliki pekerjaan tetap. Pada Mei 2021, tepatnya ketika pandemi Covid-19 masih membatasi mobilitas masyarakat di berbagai negara dan saat banyak orang memilih bertahan di rumah, Galang justru nekat merantau ke Eropa.
“Keinginan ke luar negeri sebenarnya sejak 2020. Karena pembatasan di Indonesia lebih ketat, sehingga 2021 saya paksa pergi,” kenang Galang.
Bagi Galang, Gdynia bukan sekadar tempat mengadu nasib. Kota yang berjarak 25 kilometer dari Gdansk, kota yang paling populer untuk kalangan pecinta sepak bola itu terasa familiar. Sebab, menurut Galang, suasananya hampir mirip dengan Kota Batu.
Galang pun mulai mencari pekerjaan dan menggantungkan harapannya di Polandia. Mulanya ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan sesuai latar belakang pendidikannya. Namun kenyataan berkata lain.
Agensi yang menyalurkannya justru menempatkan dia sebagai buruh kebersihan gudang. Setiap hari, pekerjaannya membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membereskan limbah sisa kegiatan industri. Pekerjaan fisik itu menjadi pintu masuk yang umum bagi pekerja migran karena tidak membutuhkan kemampuan bahasa Polandia yang tinggi.
“Pengalaman itu memang berat, tetapi justru menjadi fase penting untuk belajar bertahan, memahami budaya kerja Eropa, dan membentuk mental sebagai perantau,” kata Galang.
Singkat cerita, dari pekerjaan itu, Galang tetap berkomitmen dan tekun menjalaninya. Sehingga membawa Galang melanglang buana ke sejumlah pekerjaan lainnya. Bahkan ia kemudian sempat bekerja di toko kebab.
Tidak disangka, dari bekerja di toko kebab itu lah, karir Galang ternyata mulai menanjak. Selama 3,5 tahun, ia meniti jenjang hingga menjadi kepala toko. Di sanalah ia juga mulai menyerap lebih banyak bahasa Polandia, sistem pajak, legalitas usaha, dan celah bisnis di Eropa. Ia menyadari bahwa kesuksesan di luar negeri membutuhkan kejelian melihat peluang, bukan sekadar bekerja dan menerima gaji.
Tidak hanya itu, berkat subsidi tempat tinggal dan biaya makan yang ditanggung tempat kerja, tabungannya terkumpul dengan cepat. Dengan modal tabungan yang lumayan, keputusan besar pun diambil Galang tepatnya pada Agustus 2024 lalu.
Galang banting setir membuka usaha spa, terinspirasi dari perbincangan dengan pekerja pijat asal Bali. Di Eropa yang jarang mengenal budaya pijat, layanan ini menjadi komoditas emas. Warga lokal begitu menggemari teknik pijat Asia, terutama untuk refleksi dan melepas pegal.
Galang kemudian menggandeng terapis asal Bali untuk merintis usaha spa, meski harus membagi waktu dengan pekerjaannya di restoran kebab. Ia menjelaskan bahwa membuka usaha di Eropa menuntut pemahaman regulasi yang sangat ketat dan perhitungan finansial yang matang.
“Membangun usaha di Eropa tidak sesederhana membuka bisnis di Indonesia. Saya harus memahami regulasi yang sangat detail, mulai dari pajak perusahaan, keamanan pelanggan, administrasi usaha, hingga kewajiban menggunakan jasa lawyer dan akuntan,” beber dia.
Artinya, perjuangan merintis usaha spa yang kemudian diberi nama Tera Thai ini memang tidak mudah. Dengan modal Rp 365 juta atau 90 ribu zloty, ia harus menempuh birokrasi ketat tersebut.
Selama tujuh bulan pertama, Galang melakoni double job atau kerja ganda. Ia tetap menjadi kepala toko kebab sembari mengelola spa, bekerja hingga 16–18 jam sehari. “Itu modal saya sebagai pendatang. Jadi ya memang arus ‘ngoyo’ (kerja keras) daripada warga asli,” ujar pria yang hobi motor trail ini.
Kerja kerasnya terbayar tuntas. Setelah melepas jabatan di toko kebab pada Maret 2025, Galang kemudian fokus penuh pada bisnisnya. Omzet Tera Thai bahkan mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta per bulan. Prestasi ini membuatnya berani melebarkan sayap dengan membuka cabang kedua di Gdansk pada akhir Mei 2026.
Meski kini harus berhadapan dengan persaingan ketat di kota besar, Galang mengaku tetap optimis. Baginya, kunci kesuksesan di Polandia adalah ketekunan. Ia melihat warga lokal cenderung santai dan tidak menjadikan uang sebagai segalanya, bahkan enggan bekerja di akhir pekan. Celah itulah yang ia manfaatkan dengan etos kerja khas perantau Indonesia.
Dari buruh kasar yang membersihkan sisa limbah, kini Galang sukses membuktikan untuk berdiri tegak sebagai pengusaha di negeri orang. Tidak hanya itu, juga sekaligus membuktikan bahwa ketekunan melampaui batas jarak dan perbedaan budaya. Dengan modal ketekunan yang ia yakini itu, Galang percaya rezeki akan selalu mengiringi.
“Kadang kita tidak pernah tahu rezeki ada di mana kalau tidak berani mencoba dan terus belajar,” tandasnya.