January 17, 2026, oleh Humas Universitas

Siswa Program Tahfidz Smamita mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran verifikasi arah kiblat menggunakan instrumen modrn di masjid Manarul Ilmi (Satrio/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Pembelajaran bermakna kembali ditunjukkan oleh SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) melalui kegiatan edukatif yang memadukan ilmu sains dan ibadah. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Manarul Ilmi lantai 2, Rabu (14/1/2026).

Siswa kelas X dan XI Program Tahfidz Smamita mengikuti pembelajaran verifikasi arah kiblat menggunakan instrumen modern berupa kompas kiblat yang dilengkapi laser 16 line. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan literasi sains sekaligus pemahaman praktik keagamaan.

Pembelajaran dirancang secara kontekstual agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mempraktikkan langsung penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya terkait ketepatan arah kiblat sebagai salah satu syarat sah salat.

Sebelum praktik, siswa dibekali materi dasar mengenai penentuan lokasi geografis, mulai dari mengenali tempat yang akan diverifikasi, menentukan koordinat lintang dan bujur, hingga memahami konsep arah kiblat berdasarkan posisi Ka’bah di Makkah. Pembekalan ini menjadi fondasi penting untuk memahami hubungan antara data geografis, arah mata angin, dan perhitungan arah kiblat secara ilmiah.

Pada sesi praktik, siswa secara berkelompok melakukan pengukuran arah kiblat dengan memanfaatkan kompas laser 16 line. Instrumen ini memungkinkan visualisasi arah yang lebih presisi melalui bantuan garis laser, sehingga memudahkan verifikasi kesesuaian arah kiblat di berbagai titik lokasi yang diuji. Antusiasme siswa tampak ketika mereka membandingkan hasil pengukuran dengan pengetahuan sebelumnya.

Siswa Tahfidz Smamita amati Kompas Laser 16 Line sebagai penentu arah kiblat (Satrio/KLIKMU.CO)

Muhammad Syamsu Alam Darajat SH MA, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang selaku pembimbing, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan verifikasi arah kiblat menggunakan instrumen modern berbasis ilmu astronomi.

“Sebelum kegiatan, siswa Tahfidz Smamita mendapatkan pembekalan materi dasar yang meliputi cara menentukan lokasi yang akan diverifikasi, mencari koordinat geografis lintang dan bujur, hingga menentukan azimut kiblat secara ilmiah,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya ketepatan arah kiblat. Menurutnya, kesalahan satu derajat saja dapat menyebabkan arah kiblat melenceng sejauh kurang lebih 111 kilometer dari titik Ka’bah. Jika melenceng satu derajat ke utara, arah salat bisa menghadap wilayah Eropa, sedangkan jika satu derajat ke selatan, arah salat dapat menghadap wilayah Afrika.

“Peserta diharapkan tidak lagi sekadar menghadap ke arah barat saat salat. Arah barat bukanlah arah kiblat, dan bangunan masjid atau musala pun tidak selalu dapat dijadikan acuan karena arah bangunan bisa berbeda dengan arah kiblat yang sebenarnya,” jelasnya.

Staf Ismuba Smamita, Ummu Syarifah SPdI, yang mendampingi siswa Tahfidz, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran bahwa ibadah dalam Islam dapat dan perlu didukung oleh pendekatan ilmiah. Dengan demikian, ketepatan dan keyakinan dalam beribadah semakin kuat.

Selain itu, siswa juga dilatih berpikir kritis, teliti, serta bertanggung jawab terhadap data yang mereka peroleh. Melalui kegiatan ini, Smamita terus menghadirkan pembelajaran integratif yang menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman.

Diharapkan, pengalaman belajar tersebut mampu membentuk siswa yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang kuat serta mampu mengamalkan ilmu dalam kehidupan nyata.