June 6, 2026, oleh Humas Universitas

Penampakan gunung Arjuno-Welirang. (FOTO: Travel Kompas)

jatim.times MALANGMaraknya pembangunan yang terjadi di kawasan lereng gunung dinilai berpotensi mengancam fungsi ekologis hutan sebagai daerah resapan air dan penyangga kehidupan masyarakat di wilayah hilir. Hal tersebut disampaikan oleh pakar kehutanan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tatag Muttaqin, buntut penolakan masyarakat terkait alih fungsi lahan di kawasan lereng Gunung Arjuno-Welirang beberapa waktu lalu.

Tatag mengingatkan agar setiap rencana pembangunan di wilayah pegunungan memperhatikan prinsip konservasi dan daya dukung lingkungan. Menurutnya, kawasan dengan kemiringan lebih dari 45 persen umumnya berfungsi sebagai daerah tangkapan dan resapan air yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.

“Saya sebagai akademisi sangat prihatin apabila terjadi hal-hal seperti itu, karena secara teori, kawasan dengan kemiringan 45 persen adalah wilayah resapan air dan berfungsi sebagai perlindungan,” jelasnya kepada TIMES Indonesia, Jumat (5/6/2026).

Ia juga menjelaskan bahwa kawasan lereng gunung adalah tempat flora dan fauna hidup. Lanjutnya, hilangnya vegetasi di kawasan lereng dapat meningkatkan risiko erosi dan degradasi lingkungan. Selain itu, tanah kehilangan lapisan atas atau topsoil yang selama ini menjadi sumber utama kesuburan lahan.

Menurut Tatag, dampak kerusakan tersebut tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam di kawasan hulu. Penurunan kualitas tanah berpotensi menurunkan produktivitas pertanian dan mendorong penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.