November 7, 2025, oleh Humas Universitas

Bahlil Lahadalia menjelaskan konsep energi bersih berbasis etanol kepada mahasiswa UMM — langkah menuju kemandirian energi nasional. (Foto / istimewa)

SEWAKTU.id – Sorakan mahasiswa tak membuat Bahlil Lahadalia gentar. Di podium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ia berdiri tegak, tersenyum, dan membuka dengan kalimat yang langsung menyita perhatian.

“Om suka kalau kalian agak sedikit ‘gimana-gimana’ gitu,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu tahu betul, isu energi mudah disusupi hoaks. Karena itu, ia memilih menghadapi langsung — berdialog di hadapan mahasiswa, menjelaskan soal kebijakan etanol yang sempat ramai di media sosial.

Bahlil menjelaskan dengan detail bahwa etanol bukan sekadar bahan kimia, tetapi bahan bakar masa depan.

“Etanol itu didapatkan dari jagung, tebu, dan singkong. Campuran ini digunakan untuk menurunkan emisi dan membuat energi lebih bersih,” jelasnya.

Ia menambahkan, Indonesia sedang bergerak menuju campuran bahan bakar baru — B50 untuk solar dan S10 untuk bensin.
Artinya, 50% bahan bakar berasal dari Crude Palm Oil (CPO) dan 10% dari etanol nabati.

Langkah ini, kata Bahlil, bukan hanya bagian dari kebijakan transisi energi global, tapi juga strategi untuk mengurangi impor BBM yang mencapai Rp520 triliun per tahun.

Di forum itu, Bahlil memaparkan data perbandingan:

“Yang bilang ini hoaks itu mereka yang tidak ingin kuota impor dipangkas,” tegasnya,
menyinggung pihak-pihak yang disebut “nyaman di zona impor.”

Menurutnya, Indonesia sudah terlalu lama tergantung pada energi fosil impor. Ia ingin perubahan yang nyata — bukan sekadar wacana di atas kertas.