April 14, 2026, oleh

Baliho bertuliskan “Aku Harus Mati” yang menjadi sorotan karena dinilai berpotensi berdampak pada kesehatan mental masyarakat. (Pemprov DKI Jakarta)
KLIKMU.CO – Fenomena shock marketing di ruang publik kembali menuai sorotan. Kali ini, baliho bertuliskan kalimat ekstrem “Aku Harus Mati” dinilai berpotensi membahayakan kesehatan mental, terutama bagi kelompok rentan.
Dia menjelaskan bahwa dari sudut pandang psikologi klinis, terdapat perbedaan mendasar antara ruang publik dan ruang privat seperti bioskop. Di ruang publik, semua orang dapat terpapar pesan tanpa seleksi, sehingga tidak ada kontrol terhadap dampak psikologis yang ditimbulkan.
Ia menilai, kalimat “Aku Harus Mati” yang bersifat absolut dan tanpa konteks dapat menjadi pemicu berbahaya. Bagi individu dengan riwayat depresi, trauma, atau pikiran negatif, pesan tersebut dapat memunculkan validasi terhadap kondisi psikologis yang sedang dialami.
May menambahkan, risiko paparan semakin besar ketika baliho tersebut dilihat oleh anak-anak dan remaja yang belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang. Mereka berpotensi menangkap pesan secara harfiah, sehingga dapat memengaruhi pola pikir dan menormalisasi gagasan tentang kematian sebagai jalan keluar.
Lebih lanjut, ia menyoroti perbedaan antara edukasi kesehatan mental dan strategi promosi yang hanya mengedepankan sensasi. Menurutnya, edukasi yang tepat harus memberikan konteks, solusi, dan harapan, bukan sekadar kejutan visual tanpa tanggung jawab moral.
Dia juga mengingatkan adanya risiko Werther effect, yaitu fenomena ketika paparan konten terkait bunuh diri dapat memicu perilaku imitasi pada individu rentan, terlebih jika tidak disertai pesan bantuan atau solusi.
“Mengingat kasus bunuh diri di Malang belakangan ini cukup tinggi, stimulus provokatif seperti ini bisa menjadi penguat risiko yang memperburuk kondisi psikologis masyarakat,” ujarnya.
Sebagai solusi, May mendorong industri kreatif agar lebih bijak dalam mengangkat isu kesehatan mental. Ia menegaskan bahwa promosi boleh saja kreatif, namun harus tetap mengedepankan prinsip tidak membahayakan.
Menurutnya, pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam menyaring konten reklame di ruang publik. Pelibatan psikolog klinis dinilai mendesak untuk menilai tingkat risiko psikologis sebelum iklan ditayangkan.
“Peran pemerintah daerah sangat krusial dalam menyeleksi konten visual reklame. Pelibatan pakar psikologi kini sangat diperlukan agar ruang publik tetap aman dan ramah mental bagi siapa pun,” pungkasnya.
(Faqih/AS)