November 22, 2025, oleh

Malang, Tugumalang.id – Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, menyebut banjir dengan intensitas tinggi yang kerap melanda Malang Raya dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan serta penutupan saluran drainase di berbagai kawasan permukiman.
Ia menjelaskan, frekuensi banjir di Malang Raya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah titik bahkan mengalami genangan dengan ketinggian mencapai perut orang dewasa. Kondisi ini ditengarai terjadi akibat berkurangnya daya resap air serta banyaknya saluran drainase yang tertutup bangunan warga, sehingga aliran air tidak berjalan optimal.

Amalia menilai, perubahan fungsi lahan menjadi kawasan terbangun membuat air hujan tidak lagi terserap secara maksimal dan langsung mengalir ke badan jalan. Situasi tersebut memicu genangan, mempercepat kerusakan infrastruktur, serta berdampak pada ketahanan bangunan di sekitarnya.
“Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya, Jumat (21/11/2025).
Dari sisi teknik sipil, ia menuturkan banjir memberikan dampak signifikan terhadap infrastruktur dan bangunan. Lapisan aspal sering kali terkelupas usai terendam air, yang kemudian mempercepat munculnya jalan berlubang dan menurunkan kualitas permukaan jalan.
Sementara itu, pada bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif berpotensi merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Jika banjir terjadi berulang, risiko kerusakan struktural semakin besar, terutama pada bangunan yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air tinggi.
“Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya.
Untuk bangunan yang terlanjur berdiri di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan sejumlah langkah mitigasi, antara lain:
-
Melakukan peninggian bangunan agar terhindar dari genangan.
-
Menambah titik sumur resapan atau biopori di sekitar rumah.
-
Memasang papan penahan air di pintu saat hujan deras untuk mencegah air masuk.
Dari perspektif penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang dilakukan pemerintah sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia juga menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga menyulitkan air untuk masuk ke saluran.
“Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” terangnya.
Lebih lanjut, Amalia menekankan pentingnya perencanaan lokasi sebelum pembangunan rumah serta penerapan aturan tata kota secara konsisten. Salah satunya dengan menyediakan minimal 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar fungsi resapan tetap terjaga. Ia berharap pemerintah dapat lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran infrastruktur, sehingga upaya mitigasi banjir di Malang Raya bisa berjalan lebih maksimal dan berkelanjutan.