June 25, 2026, oleh Humas Universitas

Divisi Mahasiswa Pencinta Alam (DIMPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar Pengembaraan Anggota Muda XLII pada 11–18 Juni 2026. (Foto: Istimewa)

Divisi Mahasiswa Pencinta Alam (DIMPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar Pengembaraan Anggota Muda XLII pada 11–18 Juni 2026. Kegiatan yang mengusung prinsip utama “Safety First” ini menjadi ujian lapangan terakhir di tiga medan ekstrem sebelum para anggota resmi dilantik, sekaligus sarana mencetak generasi muda yang berkarakter tangguh.

Pengembaraan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ujian mental dan kerja sama tim. Sebanyak lima Anggota Muda beserta pendamping diterjunkan langsung ke dalam tiga divisi kegiatan alam bebas, yaitu susur gua, panjat tebing, dan arung jeram. Seluruh rangkaian ini merupakan hasil dari persiapan fisik, teknis, dan simulasi lapangan yang dilakukan secara intensif selama dua bulan penuh.

Setiap divisi menghadapi tantangan yang spesifik. Divisi susur gua harus menjelajahi gelapnya Gua Manten, Gua Tledek, dan Gua Tengger yang memiliki medan vertikal maupun horizontal dengan ruang gerak sangat terbatas. Di tempat lain, divisi panjat tebing diuji keberaniannya menaklukkan Tebing Sepikul setinggi 250 meter yang menuntut konsentrasi tinggi serta penguasaan teknik. Sementara itu, divisi arung jeram harus berjibaku menjinakkan deras dan liarnya jeram di Sungai Pekalen dengan mengandalkan kekompakan mengendalikan perahu karet.

Menghadapi medan yang tidak mudah tersebut, mahasiswi program studi Akuntansi sekaligus peserta dari divisi panjat tebing, Fara Ardinarasti, menuturkan bahwa pengembaraan ini sangat efektif melatih kemampuannya dalam mengendalikan ketakutan dan mempercayai rekan setim dalam situasi kritis.

“Pengembaraan ini bukan hanya tentang melewati gua, menaklukkan tebing, atau menghadapi derasnya arus sungai. Kami belajar bagaimana mengendalikan rasa takut, mengambil keputusan dalam kondisi sulit, dan yang paling penting adalah percaya kepada tim. Setiap rintangan yang kami hadapi menjadi pengalaman yang akan selalu kami ingat sebagai bagian dari proses menjadi anggota DIMPA,” ungkap Fara.

Senada dengan hal tersebut, Pembina UKM DIMPA sekaligus Dosen Program Studi Perikanan UMM, Rindya Fery Indrawan, menegaskan bahwa penaklukan medan alam sejatinya adalah medium pendidikan karakter yang menanamkan kedisiplinan, kepemimpinan, dan kesadaran akan keselamatan.

“Pengembaraan bukanlah sekadar kegiatan untuk menguji kemampuan fisik dan teknik di alam bebas, tetapi merupakan proses pembentukan karakter. Melalui berbagai tantangan di gua, tebing, dan sungai, peserta belajar tentang disiplin, kepemimpinan, kerja sama, serta pentingnya keselamatan dalam setiap aktivitas,” paparnya.

Lebih jauh, Rindya berharap pendidikan yang digembleng melalui organisasi pecinta alam ini mampu menghasilkan mahasiswa yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga peka terhadap kondisi sosial dan bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan.

“Harapan kami, Anggota Muda XLII tidak hanya bangga karena telah menyelesaikan sebuah pengembaraan, tetapi mampu membawa semangat menjaga alam, memiliki jiwa pengabdian kepada masyarakat, serta menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” tambahnya.

Pada akhirnya, pengembaraan ini memberikan pesan penting bahwa alam terbuka adalah guru terbaik untuk menaklukkan ego manusia. Rangkaian uji nyali dan mental ini diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan semasa menjadi Anggota Muda, melainkan menjadi bekal nyata bagi mahasiswa untuk terus tangguh berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan dengan bekal jiwa kepemimpinan yang kuat.(Faq)

 

Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman