June 22, 2026, oleh

Sejumlah mahasiswa prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang mengujicobakan board game edukasi bersama Lets Play dan RBC Institute. Foto: dok.UMM
MALUMAT – Inovasi pendidikan terus lahir dari kampus. Kali ini, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 menghadirkan sembilan purwarupa board game edukasi.
Game ini dirancang sebagai media pembelajaran interaktif sekaligus sarana memperkuat literasi dan ketangguhan mental generasi muda. Menariknya, board game edukasi UMM ini hasil kolaborasi dengan Lets Play Indonesia dan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute.
Seluruh karya itu resmi diujicobakan di hadapan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Jumat (19/6/2026).
Inovasi ini menjadi bagian dari upaya merawat warisan pemikiran dan semangat literasi almarhum Abdul Malik Fadjar, sebagai Guru Bangsa. Melalui pendekatan dengan generasi muda, nilai-nilai pendidikan dan literasi dikemas dalam bentuk permainan edukatif .
Direktur RBC Institute, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa pengembangan board game edukasi UMM dilakukan secara intensif selama tiga bulan. Menurutnya, media pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional.
“Kami berharap game-game inovatif ini tidak hanya digunakan di lingkungan PPI AMF, tetapi juga dapat didistribusikan secara nasional untuk meningkatkan kapasitas pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.
Tidak sekadar menjadi sarana bermain, sembilan board game edukasi tersebut juga memiliki landasan akademik yang kuat. Manajer Riset RBC Institute AMF, Ahmad Sulaiman, M.Ed., M.Ag., menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari hilirisasi pembelajaran yang terintegrasi dengan delapan pertemuan kelas.
Menurutnya, board game ini dirancang sebagai instrumen untuk mengukur ketangguhan psikologis atau psychological capital melalui metode pretest dan posttest.
“Sembilan purwarupa game ini akan segera kami publikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)-nya atas nama institusi serta mahasiswa pembuatnya,” jelas Ahmad.
Dukungan juga datang dari industri permainan edukatif. CEO Lets Play Indonesia, Arif Bawono Surya, mengapresiasi kreativitas mahasiswa UMM yang berhasil menerjemahkan konsep akademik ke dalam bentuk permainan yang menarik.
Dalam sesi uji coba, ia meminta para pengembang fokus menerima masukan terkait mekanisme permainan agar kualitas board game edukasi UMM semakin optimal.
“Presentasikan karya kalian dan terbukalah terhadap evaluasi. Pengembangan berikutnya sebaiknya lebih difokuskan pada penguatan alur permainan atau gameplay tanpa perlu mengubah desain visual yang sudah sangat baik,” katanya.
Uji coba yang melibatkan santri jenjang SMP dan SMA ini menjadi tahapan penting untuk melihat efektivitas permainan sebagai media pembelajaran. Berbagai masukan dari peserta akan menjadi bahan penyempurnaan sebelum produk dikembangkan lebih lanjut.
Lahirnya sembilan board game edukasi UMM menunjukkan bahwa luaran akademik perguruan tinggi tidak harus berhenti sebagai laporan penelitian atau tugas perkuliahan. Inovasi tersebut dapat ditransformasikan menjadi instrumen pendidikan yang aplikatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Lebih jauh, board game edukasi ini diharapkan menjadi jembatan untuk meneruskan semangat literasi Abdul Malik Fadjar kepada generasi muda. Dengan pendekatan yang menyenangkan, nilai-nilai pendidikan, kecerdasan kognitif, serta ketangguhan mental dapat ditanamkan sejak dini sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.