July 10, 2026, oleh

Malang, Beritasatu.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong industri besar farmasi melakukan transfer teknologi untuk kebutuhan riset vaksin mRNA (messenger RNA) pencegahan demam berdarah. BPOM menyebut jika riset vaksin ini terwujud, maka bangsa Indonesia akan memiliki vaksin mRNA pertama kali di dunia.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan untuk mempercepat inovasi kesehatan tersebut, pihaknya menggandeng perguruan tinggi dan industri farmasi.
“Kami memadukan 187 universitas terbaik di Indonesia dengan sekitar 50.000 industri besar untuk melakukan transfer teknologi dan saling melengkapi. Salah satu output-nya adalah peluncuran riset vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah,” kata Taruna Ikrar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (9/7/2026).
Menurutnya untuk menjembatani percepatan inovasi kesehatan tersebut, BPOM secara strategis mengusung konsep kolaborasi ABG (academia, business, government). Apalagi saat ini, kata dia, realita inovasi kefarmasian mengarah pada living therapy, di mana penyakit bawaan hingga kerusakan saraf akibat stroke kelak dapat disembuhkan melalui terapi sel hidup.
“Konsep ini dirancang untuk mengintegrasikan riset murni dari kampus, kelengkapan fasilitas industri, serta kepastian regulasi dari pemerintah,” tandasnya.
Sementara itu Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menambahkan kolaborasi lintas sektoral dengan berbagai pihak, termasuk BPOM akan semakin memperkuat ekosistem solusi komprehensif di lingkungan kampus.
UMM juga akan mengembangkan service excellence hub, industrial and business partnership, serta menjadikan kampus ini sebagai talent incubator pool.
“Ke depan UMM terus melakukan transformasi masif melalui program center of eExcellence (CoE) serta pembekalan digital dasar bagi mahasiswa serta menjadikan kampus ini sebagai talent incubator Pool,” pungkas Nazarudin.