February 21, 2026, oleh

RRI.CO.ID, Malang – Sepanjang Jalan Cakalang dan Jalan Polowijen II, Malang, ramai oleh giat Saur On The Road yang diselenggarakan mahasiswa KKN Tematik UMM 2026 Kelompok 14, pada Jumat 20 Februari 2026. Kegiatan ini memadukan syiar Ramadan dengan tradisi patrol gugah sahur yang sarat nilai budaya.
Memasuki hari kedua, suasana terasa lebih meriah karena dukungan dari Dormi Hostel dan Kuliner Sengkaling UMM yang membagikan nasi box kepada warga di sepanjang rute patrol. Aksi berbagi ini memperkuat makna solidaritas dan kepedulian sosial di bulan suci.

Keunikan kegiatan ini tampak dari kehadiran penari Topeng Malang di barisan terdepan rombongan. Tradisi membangunkan sahur dipadukan dengan ekspresi seni, menjadikan patrol bukan sekadar rutinitas, melainkan perayaan budaya.
Di barisan belakang, para mahasiswa dan warga menabuh kentongan, kendang perkusi, galon air, ompreng, dan berbagai perkakas dapur. Bunyi ritmis yang tercipta menghadirkan semangat kolektif sekaligus menghidupkan suasana kampung.
Nurul Hamida, Humas UMM, sebelum santap sahur bersama menyampaikan salam pimpinan universitas dan menegaskan makna kegiatan ini.
“Saur On The Road ini membawa spirit Ramadan untuk menghidupkan kembali kebersamaan, kekompakan, budaya gotong royong, dan saling berbagi. Tahun ini akan menyasar komunitas gang motor, pedagang pasar krempyeng, serta kampung tematik di Kota Malang. Semoga berjalan lancar dan mendapat berkah Allah SWT,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari pengabdian sosial dan kultural UMM kepada masyarakat luas.
Bagi mahasiswa KKN Kelompok 14, ini adalah penyelenggaraan kedua dan terlihat semakin mahir memainkan alat patrol. Mereka sebelumnya mendapat workshop dari Aak Agus Wayan (Arca Tatasawara) serta berdiskusi dengan Dr. Redy Eko Prasetyo (Duo Etnicholic), pembakti Kampung Cempluk, dan Arik Sugiyanto, pelestari gamelan Malang dari Lesanpuro.
Proses belajar tersebut memperkaya pemahaman mahasiswa bahwa patrol bukan hanya musik ritmis, tetapi warisan tradisi dengan nilai historis dan sosial yang kuat.
Rangkaian kegiatan dimulai dan berakhir di Kampung Budaya Polowijen, dilanjutkan dengan penampilan Tari Topeng Grebeg Sabrang pada pukul 03.00 dini hari—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Maknanya mendalam: anak-anak muda tidak hanya “menyabrang” kampung untuk membangunkan sahur, tetapi juga menampilkan simbol keberanian dan semangat melalui tari Grebeg Sabrang.
Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, menyampaikan apresiasi atas kepedulian UMM terhadap pelestarian tradisi patrol kentongan.
“Kami berterima kasih karena UMM peduli pada pelestarian tradisi. Kentongan adalah alat komunikasi kewaspadaan dan informasi; setiap pukulan punya arti dan makna, selain sebagai kesenian musik tradisional,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa menghidupkan kembali kentongan penting untuk mengimbangi perubahan patrol modern yang kini banyak menggunakan musik tong-tong bahkan sound horeg, agar akar budaya tetap terjaga.
Kehadiran UMM dalam mendampingi Patrol Saur On The Road di Kampung Budaya Polowijen menjadi inspirasi bahwa Ramadan dapat menjadi momentum membangunkan bukan hanya warga untuk sahur, tetapi juga kesadaran generasi muda untuk menjaga tradisi dan warisan budaya Nusantara. (Mey)