Mensesneg di UMM: Ilmu Sosial adalah Pemimpin Ilmu

MENTERI Sekertaris Negara (Mensesneg) Republik Indonesia Prof. Dr. Pratikno saat menjadi pembicara kunci Konvensi Nasional Ilmu-ilmu Sosial Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) menyampaikan materi dengan fokus pada Pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) dari Perspektif Ilmu Sosial. Bertempat di Teater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (8/8), Menteri Pratikno menyampaikan akumulasi dari pengalamannya selama menjadi praktisi ilmu sosial, khususnya saat dirinya menjadi rektor UGM. Dari pengalamannya tersebut, ia mengungkapkan bahwa ilmu sosial adalah pemimpin segala ilmu. “Untuk mengetahui masyarakat, keinginan masyarakat, kita perlu memiliki ilmu sosial. Produk, yang bagus tidak akan sampai pada masyarakat, tanpa adanya ilmu sosial. Sehingga boleh dikatakan bahwa ilmu sosial adalah pemimpin ilmu” tuturnya di hadapan pengurus HIPIIS dan civitas akademika Kampus Putih, UMM. Lebih lanjut, ia mengungkapkan ilmu sosial tidak lagi ilmu yang berdiri sendiri. Dengan pengalamannya, analogi pohon ilmu yang selama ini dikenalkan sudah tidak dapat dipakai lagi saat ini. Ilmu, dalam konteks revolusi industry 4.0 bertransformasi menjadi pohon belantara, dimana ilmu pengetahuan tidak ada lagi yang monodisiplin. “Sudah saatnya perguruan tinggi menggunakan pendekatan interdisiplin, di mana pemecahan suatu masalah, juga harus dengan menggunakan sudut pandang ilmu yang lainnya. Misalnya seorang direktur rumah sakit sarjana yang ia tempuh kedokteran, tapi magisternya bisa saja mengambil disiplin ilmu manajemen,” sebut Praktikno. Pratikno lantas memberikan contoh pada perusahaan teknologi Gojek. Nadiem Makarim, yang merupakan orang ilmu sosial membangun bisnis dengan misi sosial. Ia mengidentifikasi masalah yang ada pada masyarakat saat ini. Akhirnya ia memberikan solusi dengan memanfaatkan Big Data dengan pendekatan data science. lewat pendekatan ini, ilmu sosial dapat diolah dengan teknologi dan menjadi sesuatu yang bernilai. “lmu sosial adalah di mana sebuah masalah bisa diidentifikasi, dan solusi dapat ditemukan. Terlebih, di Indonesia saat ini memasuki era Revolusi Industri 4.0. yang mana segala solusi bisa juga diselesaikan dengan teknologi,” tuturnya. Berangkat dari hal tersebut, Pratikno lantas menuturkan bahwa SDM yang unggul dan dapat berkembang apabila memiliki karakter ilmuwan sosial masa kini. Di antara karakter unggul ilmuan sosial itu yakni dia berwawasan luas, melihat segala hal dengan perspektif yang berbeda, fleksibel dan responsif, serta cakap berargumentasi. “Pembangunan sumberdaya manusia ke depan harus dilandasi jiwa pejuang, determinasi tinggi untuk maju dan belajar berdasarkan empati dan sosiability. Agar generasi masa depan Indonesia dapat membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkemajuan serta mampu menghadapi segala tantangan,” tutupnya. (bel/can)
Pakar Ilmu Sosial di Konvensi HIPIIS: Perlu Keseimbangan Pembangunan Infrastruktur dan SDM

Sesi pertama Konvensi Ilmu-ilmu Sosial Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPISS) di Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (8/8), fokus menanggapi isu perihal respon ilmu sosial yang terkait dengan Pembangunan Infrastruktur dan Implikasinya terhadap Perubahan Sosial. Konvensi yang dimoderatori Dr. M. Alfan Alfian ini menghadirkan Prof. Dr. Ravik Karsidi, Dra, Fransisca Saveria Sika Ery Seda, MA, PhD (Sosiolog UI), dan Prof. Dr. Bagong Suyatno, (Sosiolog Unair). Sosiolog UI Ery Seda dalam pemaparannya menyebut ada beberapa implikasi sosial dari pembangunan infrastruktur yang perlu diperhatikan lebih jauh oleh para pegiat ilmu-ilmu sosial. Secara umum, implikasi pembangunan infrastruktur diharapkan dapat mendukung pengentasan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, pemerataan hasil pembangunan untuk mengurangi kesenjangan wilayah, memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara langsung, serta meningkatkan konektivitas. “Yakni meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan pelayanan sistem logistik nasional bagi penguatan daya saing bangsa di lingkup global yang berfokus pada keterpaduan konektivitas daratan dan maritim, mengurangi disparitas antar wilayah, antar kawasan, dan antar pendapatan masyarakat termasuk masyarakat miskin dalam upaya pemerataan pembangunan. Serta, menggerakkan ekonomi riil serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar khususnya di sektor jasa konstruksi,” papar Ery. Namun sebaliknya, pembangunan infrastruktur juga memiliki implikasi negatif. Dua kasus yang dipaparkan Ery di antaranya konflik Agraria karena pembebasan lahan. Seperti pada kasus yang terjadi di pembangunan infrastruktur Trans Papua dan kasus pembangunan Trans Jawa. Disebutnya, pembangunan infrastruktur ini berpotensi menimbulkan deagrarianisasi serta mendorong urbanisasi. “Dari kasus ini kita perlu membedakan, secara konseptual tentang dampak dengan perubahan sosial,” kata Ery. Sementara, Ketua dewan pertimbangan HIPISS Prof. Dr. Ravik Karsidi menyebut, pada periode kedua ini pemerintag telah mencanangkan prioritas pembangunan Infrastruktur dan pengembangan sumberdaya manusia. “Untuk investasi infrastruktur kembali modalnya akan berlangsung lama, sementara pengembangan SDM modal malah mungkin tidak akan kembali, tetapi merupakan sesuatu yang wajib diadakan agar kita bisa mengikuti perkembangan dunia yang menuntut berubah,” kata Ravik. Di sisi lain, Sosiolog Unair Prof. Dr. Bagong Suyatno justru mengkritik fokus pembangunan infrastruktur dengan mengajukan pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dalam pembangunan infrastruktur. Menurutnya, di setiap pembangunan infrastruktur selalu ada pihak yang diuntungkan dan bahkan dirugikan. “Kalau satu daerah yang kurang maju dihubungkan melalui sebuah infrastruktur ke daerah yang lebih maju, apakah selalu menguntungkan daerah yang kurang maju?” ungkapnya. “Kuncinya adalah pada peningkatan kualitas SDM-nya. Sejalan yang dikatakan Pak Ravik, agar pembangunan infrastruktur bisa menghasilkan dampak positif bagi perubahan sosial yakni diperlukan integrasi yang baik di bidang infrastruktur, ekonomi, sosial dan administrasi. Selain itu juga diperlukan strategi khusus membangun SDM melalui reformasi bidang pendidikan, mental dan birokrasi khususnya capability yang mampu menyesuaikan tuntutan baru perubahan sosial,” tandas Bagong.(can)
Peneliti Liverpool University di UMM: Kebisingan Berdampak Besar Pada Psikologis dan Fisiologis Seseorang

Peneliti dari Liverpool University, United Kingdom (UK) Sang Hee Park, PhD menyebut, noise atau kebisingan yang merupakan persepsi terhadap suara yang mengganggu ternyata berdampak besar pada psikologis dan fisiologis manusia. Simpulan ini ia paparkan saat kuliah tamu di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (8/8). Secara fisiologis, kebisingan dapat berdampak pada tekanan darah, ritme jantung, dan juga kinerja syaraf. Sementara, lanjut Sang Hee Park secara psikologis noise juga memiliki dampak sangat besar pada stress dan depresi seseorang. Hal ini Sang Hee Park tuangkan dalam penelitiannya yang bertema Psychological and Physiological Effects of Noise. Ia bercerita jika di Korea Selatan, negara asalnya, yang kebanyakan orang tinggal di apartemen, beberapa kasus pembunuhan terjadi akibat stresnya penghuni apartemen akibat kebisingan dari penghuni lantai atasnya. Namun demikian ia juga menambahkan bahwa selain dampak obyektif yang salah satunya ditentukan oleh besaran desibel dari kebisingan. “Sejauh mana dampak kebisingan juga dipengaruhi kepribadian dan kondisi psikologis orang. Seperti contohnya, seorang penghuni apartemen yang punya anak kecil akan lebih empati dan tolerir terhadap kebisingan di lantai atasnya yang diakibatkan anak-anak berlarian atau lompat-lompat,” terangnya di hadapan civitas akademika Fakultas Psikologi UMM. Selain mengisi kuliah tamu, Sang Hee Park juga berdiskusi peluang-peluang kerjasama khususnya riset antara Fakultas Psikologi UMM dengan Liverpool University. “Pemaparannya ini membuka perspektif terutama bagi mahasiswa Psikologi bahwa area cakupan Psikologi sangat luas,” ungkap Dekan Fakultas Psikologi UMM Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Psikolog. (can)
Saatnya Indonesia Investasi Pengembangan SDM Unggul

NEGARA yang maju, nyatanya tidak hanya memprioritaskan pembangunan fisik semata. Pembangunan sumber daya manusia juga musti dimasifkan. “Kita punya bermacam-macam sumber daya alam yang tidak semua negara-negaramaju miliki. Manusianya musti mampu mengolahnya untuk kemajuan negara,” tutur Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., saat keynote speech pada Konvensi Nasional Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Rabu (7/8) sore. Di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menurut salah satu perintis HIPIIS ini, Indonesia sudah saatnya berani berinvestasi pada target pengembangan sumber daya manusia (SDM). Hal ini dapat dilakukan dengan bercermin pada negara-negara maju seperti Singapura dan Jepang. Dua negara ini jelas tidak memiliki banyak sumber daya alam, namun mampu menaklukan dunia. Mereka dapat berkembang pesat karena berani berinvestasi besar untuk SDM. Majunya negara-negara besar saat ini juga dilatari penguatan identitas yang telah dilakukan melalui budaya. “Betapa kuatnya kultur Jepang mempengaruhi dunia seiring dengan perkembangan kecanggihan teknologinya. Indonesia yang memiliki beragam budaya sebenarnya punya kesempatan besar lebih maju daripada negara-negara yang hanya memiliki satu macam budaya saja,” ujarnya di hadapan pengurus HIPIIS, guru IPS se-Malang Raya, dan civitas akademika UMM. Pembangunan fisik memang harus dilakukan. Tetapi, sambung Malik yang juga Ketua Badan Pembina Harian UMM, jangan sampai melupakan SDM yang akan menjalankan hasil pembangunan tersebut. HIPIIS, ungkap Malik menegaskan, memiliki peran yang strategis untuk berkontribusi melalui ilmu-ilmu sosial. Keanekaragaman sosial yang ada di Indonesia menjadi peluang besar meraih Indonesia yang berkemajuan. Yakni maju manusianya dan maju negaranya. Momentum peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke-74 ini, bagi Malik menjadi titik puncak untuk melihat betapa besarnya Indonesia. Fokus pembangunan SDM unggul sudah tepat bila menjadi agenda besar negara. “Cita-cita menjadi negara yang maju dan dapat memaksimalkan SDMnya sudah di depan mata. Semoga HIPIIS terus dapat berkontribusi melalui gagasan-gagasannya untuk mewujudkan Indonesia yang unggul,” tandas Malik. (mir/can)
Ketua Umum HIPIIS: Pembangunan SDM Adalah Bentuk Pembangunan Sesungguhnya

KONVENSI Nasional pertama Himpunan Indonesia untuk Perkembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (7/8) hari ini. Ketua Umum pengurus pusat HIPIIS Prof. Dr. Muhadjir Effendy menyatakan, tema yang diangkat “Sumbangan Ilmu-ilmu Sosial dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia bagi Kemajuan Bangsa” sengaja disinkronkan dengan program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode 2. “Saya kira ini momentum bagus, mumpung pembangunan insfrastruktur sedang berjalan. Sebaiknya kita (HIPIIS) juga segera memberikan masukan terhadap perkembangan-perkembangan yang sudah terjadi. Dan perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dengan adanya pembangunan infrastruktur yang, bisa dibilang, besar-besaran pada periode kepemimpinan Bapak Jokowi yang pertama,” ungkap Muhadjir yang juga Mendikbud RI di Hall Dome UMM. Tentu saja, sambung Muhadjir, pembangunan sumber daya manusia yang diharapkan pada era pemerintah Joko Widodo yang kedua adalah dalam konteks bagaimana mengoptimalkan, mengapitalisasi, memultiplayerkan, serta melipatgandakan manfaat infrastruktur yang sudah ada. Karena infrastruktur, katanya, pada dasarnya baru prasyarat pembangunan. Adapun pembangunan sesungguhnya, ketika sudah menyentuh dan menangani manusianya itu sendiri. “Karena itu kita bisa katakan bahwa pembangunan infrastruktur adalah prasyarat dari pembangunan yang sesungguhnya. Ibarat shalat, infrastruktur itu baru wudhunya, baru menutup auratnya, tapi belum shalat itu sendiri. Dan shalatnya itu, ketika membangun sumber daya manusia itu sendiri,” ungkap Muhadjir di hadapan para tamu undangan yakni pengurus HIPIIS dari 13 wilayah di Indonesia, guru ilmu pengetahuan sosial (IPS) se-Malang Raya, serta civitas akademika UMM. Fokus pembangunan SDM, menurut Muhadjir, taruhannya lebih besar. Lebih besar ketimbang pembangunan infrastruktur itu sendiri. Karena membangun manusia, tidak bisa “dipanen” dalam waktu yang singkat. Tapi, mungkin, baru akan bisa dipanen satu atau dua dekade ke depan. “Tentu saja pembangunan ini akan menjadi masalah ketika, pembangunan sumber daya manusia ini ditunggu-tunggu didak ada umpan balik atau feedback dari apa yang kita lakukan,” terang Muhadjir. Sehingga, Muhadjir yang juga wakil ketua Badan Pembina Harian UMM ini berharap, Konvensi yang diselenggarakan ini betul-betul bisa intens memberikan masukan, kritik, dan saran yang sifatnya konstruktif untuk masyarakat Indonesia, khususnya masukan untuk Kabinet Kerja periode kedua agar betul-betul bisa sejalan seiring dengan cita-cita nasional kita. Yaitu, menciptakan masyarakat yang adil dan makmur, sesuai dengan cita-cita dari kemerdekaan kita,” ungkapnya. (riz/can)
Rawat Budaya, Mahasiswa UMM Gaungkan Kembali Seni Barongan

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kelompok Kuliah kerja Nyata 84 UMM 2019 mencoba kembali menggaungkan kesenian khas Jawa Timur, Seni Barongan. Salah satunya melalui Festival Barongan di Lapangan Ndawung Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Sabtu (3/8). Ketua Panitia, Luguh Wasono menjelaskan, festival Barongan ditunjukkan untuk menggaungkan seni budaya Barong agar tetap lestari. Lalu juga untuk meningkatkan kreativitas insan seni budaya serta menciptakan komunikasi dan hubungan baik antar pelaku seni. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi event tahunan. Lomba Barong perorangan ini diikuti sebanyak 44 peserta dari seluruh wilayah Kabupaten Malang. Menariknya perlombaan kali ini tidak hanya diikuti oleh kalangan laki-laki saja, akan tetapi perempuan dan anak-anak. Hal ini membuktikan bahwa kesenian Barongan tidak membatasi gender dan usia pemainnya. Perlombaan dibagi menjadi menjadi dua babak. Antara lain babak penyisihan dan final yang diikuti oleh 30 orang peserta. Sementara kriteria penilaian ditekankan pada kelincahan gerak pemeran Barong dan penjiwaan karakter. “Fashion, tata busana, kostum dan keindahan Barong, serta etika dan tata krama pemeran Barong,” ujar dia. “Selain tentunya melestarikan budaya khas Malangan, agenda ini juga mempromosikan kabupaten Malang itu sendiri, khususnya Desa Kedungsaalam Kecamatan Donomulyo sebagai Desa Budaya. Selain itu juga acara ini digelar utamanya memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-74,” kata Luguh, Senin (5/8) siang. Kesenian ini mencerminkan sifat-sifat kerakyatan, spontanitas, kekeluargaan dan kesederhanaan. Lalu juga sifat kasar, keras, kompak, dan keberanian yang berlandaskan kebenaran. Pemainnya memakai kostum yang menyerupai singo Barong sebagai bentuk samaran makhluk berkaki empat atau dua dengan kepala singa. Selain Barong, festival ini juga mengadakan senam anti narkoba bersama siswa-siswi SDN 4 Kedungsalam. Lalu dilanjutkan dengan senam Lien Tien Kung dan lomba mewarnai tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diikuti 287 peserta. “Seluruh warga sangat antusias,” tambah dia. (*/can)
Libatkan 20 Wasit Profesional, RS UMM Gelar Kompetisi Futsal Antar RS se-Malang Raya

MERAYAKAN hari jadinya yang ke-6 tahun, Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) menggelar berbagai kegiatan, baik kegiatan internal maupun eksternal. Salah satu kegiatan eksternal yang diadakan adalah Kompetisi Futsal antar Rumah Sakit se-Malang Raya, Sabtu-Minggu (3-4/8). Acara yang dibuka langsung oleh Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Malang yakni Haris Thofly ini mendapat antusias di luar ekspektasi penyelenggara. Kompetisi ini telah diikuti oleh puluhan unit kesehatan hingga terkumpul 27 tim. Bahkan ada beberapa unit kesehatan yang mengirimkan lebih dari 1 tim. Kompetisi futsal ini sendiri menggunakan sistem penyisihan, di mana seluruh tim akan dibagi menjadi beberapa grup kecil. Satu grup terdiri dari 3-4 tim untuk memperebutkan juara grup dan runner up sebagai syarat untuk dapat lolos ke babak selanjutnya. Tak tanggung-tanggung, kompetisi ini menghadirkan 20 wasit profesional dari PSSI Malang. Kompetisi berlangsung dua hari, di mana hari pertama difokuskan pada laga penyisihan dan hari kedua difokuskan pada laga knock out hingga laga Final. Menurut dr. Viva Maiga Mahliafa Noor, MMRS. ketua panitia menyampaikan, selain kompetisi futsal, masih banyak rangkaian acara lain. “Kami juga mengadakan kegiatan lain seperti pilling massal, lomba cuci tangan antar unit kesehatan, hingga seminar kecantikan,” ungkapnya. Agenda ini juga sekaligus dijadikan ajang silaturahmi. Karena sebagai unit kesehatan, sambung Viva, bukan untuk berkompetisi namun saling bahu-membahu melayani masyarakat. Selain itu kompetisi ini juga memperebutkan sertifikat, trophy dan juga uang tunai jutaan rupiah. Salah satu pemain dari RS UMM yakni Rifky Harli Putra Pratama mangaku senang dengan kompetisi ini. “Semoga tahun depan dapat terselenggara kembali dengan region yang lebih luas lagi. Se-Jatim misalnya,” ungkap kapten dari tim RS UMM tersebut. (zak/can)
Mobil KaCa UMM Sosialisasi Mitigasi Bencana di Lereng Semeru

Banyaknya korban yang terdampak bencana alam di Indonesia, terkhusus Jawa, mendorong Tim Mobil KaCa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan mitigasi bencana. Medium literasi inklsusif berkonsep Mobil Pintar ini terjun ke tengah siswa SD dan SMP yang ada di desa Bambang kecamatan Wajak Kabupaten Malang, Kamis (1/8) untuk memberikan edukasi seputar kebencanaan. Kehadiran Mobil KaCa UMM di tengah siswa-siswi di lereng Semeru ini atas inisiasi kelompok Kuliah Kerja Nyata 18 UMM. Salah satu alasan dipilihnya lokasi ini karena dikenal dengan wilayah yang sering terjadi bencana gampa bumi dan juga longsor. “Mengingat lokasi Desa Bambang Kecamatan Wajak ini berada di lereng gunung Semeru,” kata Fani Wahyu Pamungkas, koordinator desa KKN 18 UMM. Materi mitigasi bencana disampaikan oleh Liyana Nurul Azmi dari Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM yang berafiliasi langsung dengan organisasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Dalam materi mitigasi bencana ini, para siswa diajarkan bagaimana cara menyelamatkan diri ketika suatu bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir dan juga Tsunami sedang terjadi. Materi disampaikan dengan cara yang unik dan menggembirakan agar para siswa dapat menerima materi yang disampaikan dengan maksimal. Metode yang digunakan yakni melalui bernyanyi dan bermain permainan yang kaitannya pada kewaspadaan saat terjadi bencana. Bahkan, sempat dilakukan juga simulasi agar para siswa dapat menerapkan secara langsung materi yang diajarkan melalui beragam metode itu. Selain materi mitigasi bencana, adapula kelas menulis cerita anak yang disampaikan oleh Achmad Sulchan An Nauri. Dalam materi kali ini para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap siswa harus membuat satu buah kalimat yang saling berkaitan sehingga menciptakan sebuah rangkaian kalimat yang padu. Para siswa nampak antusias menceritakan kembali karangan cerita yang mereka rangkai. “Para siswa di desa ini memang sejak awal sangat antusias dalam belajar. Hal itu terlihat ketika kami melaksanakan program mengajar di beberapa sekolah dan juga membuka bimbingan belajar di posko pemondokan mahasiswa. Namun sangat disayangkan, kurangnya tenaga pendidik di desa ini membuat perkembangan belajar mereka sedikit terhambat,” ungkap Fani, mahasiswa Prodi Teknik Industri tersebut. Salah satu siswa asal SDN 2 Bambang juga mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran mobil kaca ini. Terlebih tentang materi kebencanaan. “Saya sangat senang dengan adanya mobil pintar ini. Saya bisa membaca buku dan mendapat pengetahuan tentang cara menyelamatkan diri dari bencana yang terjadi,” tutur Muhammad Hanafi yang pada saat ditemui sedang asik membaca komik Warkop DKI Reborn ini. (zak/can)
Bantu Pasarkan Tape Singkong Banjarsari Lewat Medsos

SINGKONG memang jadi komoditas yang melimpah di Desa Banjarsari Kabupaten Malang. Hanya saja, pengetahuan seputar pemasaran produk masih jadi masalah tersendiri. Potensi yang seharusnya bisa dilejitkan ini ditangkap oleh kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 94 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan mengadakan pelatihan penggunaan media sosial sebagai alat pemasaran, Selasa (27/7) lalu. Pelatihan ini merupakan salah satu program kerja yang dibuat oleh divisi Ekonomi dan Kewirausahaan (KWU) dari kelompok KKN 94 UMM. Pelatihan sehari ini mengundang salah satu dosen Fakultas Pertanian dan Perternakan (FPP) dari UMM yaitu Aprilia Devi Anggraini S.pt, M.sc sebagai pemateri. Aprilia menangkap bahwa potensi olahan singkong berupa tape ini bisa meningkatakn penjualan melalui media sosial. Pelatihan dimulai dengan memberikan tips dan trik dalam pengembangan produk seperti kemasan, label serta inovasi varian olahan tape. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan umum mengenai media sosial yang biasa digunakan sebagai media pemasaran. Setelah dijelaskan mengenai media sosial, peserta langsung diajak untuk mempraktikkan cara menggunakan media sosial untuk pemasaran secara online. Target kami ini Kelompok Wanita Tani (KWT), anggota PKK, dan pelaku wirausaha. “Sebelumnya sudah sering ada pelatihan pemasaran, tapi ini sudah baik karena mengajarkan langsung cara berjualan di Facebook. Tantangannya, masyarakat masih banyak yang kurang paham tentang cara menggunakan hp apalagi media sosial seperti itu” ucap Solikha, ketua Kelompok Wanita Tani yang menjadi salah satu peserta. “Produk di sini sebetulnya sudah sesuai dengan komoditas unggulan yang diharapkan oleh masyarakat. Jadi lebih tepatnya kami cuma membantu melatih dalam pemasaran melalui media social. Selain itu, kami juga mendampingi mereka dalam proses pengemasan serta menyertakan logo produk itu sendiri agar memiliki nilai jual lebih tinggi dari sebelumnya,” ucap Dhiva, ketua pelaksana dari pelatihan tersebut. Banyak cara yang dilakukan untuk mengembangkan usaha tape singkong ini. Hanya saja, selama ini proses pemasarannya belum mampu menaikkan penghasilan yang signifikan. “Tape ini adalah hasil olahan home industry. Biasanya setiap outlet tape menjual produk tapenya dalam bentuk kwintal ke beberapa kota seperti Tulungagung, Blitar, dan Batu. Semoga lewat medsos bisa menaikkan penjualan,” terang Dhiva. (*/can)
Jombang Minta UMM Lejitkan Potensi Daerahnya

Kiprah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan kepada daerah melalui pemaksimalan potensi lokal telah diakui banyak pihak. Apresiasi dan kerjasama tak hanya berangkat dari sesama institusi pendidikan, melainkan juga dari unsur pemerintahan. Kali ini dijalankan dengan Kabupaten Jombang (28/7). Penandatanganan dilakukan langsung Rektor UMM, Dr. H. Fauzan, M.Pd dan Bupati Jombang, Hj. Mundjidah Wahab. UMM-Jombang bekerjasama dalam bidang diklat, bidang penelitian, bidang pengabdian kepada masyarakat, bidang peningkatan kualitas SDM dan bidang peningkatan penerapan dan pengembangan teknologi. Fauzan menyampaikan, jika kerja sama tersebut akan memacu pertumbuhan kualitas segala bidang agar semakin pesat. “Banyak ranah yang dapat dikembangkan bersama,” tuturnya saat memberikan sambutan. Di antaranya pendidikan keahlian teknologi informasi dalam rangka menghadapi tantangan Industri 4.0. Dalam kerja sama tersebut, UMM diminta secara khusus membantu meningkatkan skill SDM pada sektor pertanian, peternakan dan perikanan masyarakat Jombang. Hal ini dipandang strategis untuk ditingkatkan, karena menyangkut potensi ekonomi juga mengingat salah satu hasil bumi terbesar Jombang pada sektor pertanian. Selain itu, sektor pendidikan juga akan digarap oleh UMM. Program yang akan diberikan yakni pemaksimalan kemampuan guru dan ustadz pondok pesantren dalam menguasai teknologi informasi. Menurut Fauzan, sektor ini menjadi sangat penting untuk menciptakan pendidikan yang semakin berkualitas di era digital. UMM juga bakal membina Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk kurangi angka pengangguran . Melalui upaya pembinaan UKM, UMM berharap dapat memberikan kontribusi terbaiknya bagi masyarakat. Tak hanya itu, UMM juga akan upayakan penanganan kepada anak-anak jalanan agar memiliki masa depan yang cerah. Sebelumnya, UMM telah melakukan kerja sama dengan pemerintah Kabupaten Jombang, tepatnya pada era Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P saat menjadi Rektor. Kerja sama tersebut mengizinkan UMM untuk mendirikan laboratorium Fakultas Kedokteran (FK) UMM di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. (mir/can)