Keren! Aplikasi Ini Buat Mafa Terpilih Jadi Duta Anti Narkoba

Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), pada tahun 2017 saja setidaknya ada 3,5 juta pengguna narkoba di Indonesia. Angka ini tentu sangat memprihatinkan. Pemerintah pun telah mengambil langkah tegas melalui berbagai ancaman hukum hingga eksekusi mati kepada terpidana narkoba sejak 2015. Upaya edukasi bahaya narkoba kepada masyarakat Indonesia juga digagas BNN melalui ajang pemilihan Duta Anti Narkoba. Adalah Mafadhotul Zuliatin, mahasiswa Civic Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil menduduki posisi kedua ajang Duta Anti Narkoba Kota Malang 2019 baru-baru ini. Berbekal idenya menggagas aplikasi edukatif bahaya narkoba berbasis android/ iOS, mahasiswa yang akrab disapa Mafa ini tampil apik saat presentasi. Aplikasi yang ia gagas dinilai dewan juri selaras dengan program BNN yakni Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Aplikasi yang dirancang oleh Mafa berisikan beberapa fitur edukasi, diantara adalah quiz interaktif, informasi tentang BNN, dampak narkoba serta undang-undang terkait narkoba. Aplikasi bernama Anti Narkoba EducApp ini dapat dengan mudah diunduh melalui PlayStore, dan segera hadir di AppStore. “Kebanyakan anak muda tentunya pakai gadget. Gadget menjadi salah satu media efektif untuk pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkoba,” tutur mahasiswa angkatan 2017 tersebut, Rabu (10/4). Selain melalui aplikasi, ia juga akan melakukan sosialisasi rutin dua minggu sekali di Car Free Day (CFD). Bersama BNN, Mafa akan menggelar seminar anti narkoba pada Hari Anti Narkoba 26 Juni mendatang. “Kita buka bilik konsultasi untuk konsultasi narkoba yang bersifat privasi. Jadi kalau yang mau buat pengakuan, privasinya terjaga,” tuturnya. Lomba poster, video, foto terkait kenarkobaan akan turut memeriahkan seminar. Mafa sebenarnya tak menyangka dapat menduduki posisi juara dua. Ternyata, interview dan presentasinya mampu memukai para juri. “Sempat pesimis dengan peserta lain yang sudah sering ikut kompetisi serupa,” ujarnya. Mafa bersyukur mendapatkan amanah sebagai Duta Anti Narkoba Kota Malang 2019. (*/mir/can)
Berkat Sagu, Mahasiswa UMM Ini Wakili Jatim di Pilmapres Nasional

Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) mengukuhkan mahasiswa program studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dita Fomara Tuasikal sebagai juara pertama tingkat Jawa Timur (Jatim), di Grand Whiz Trawas-Mojokerto (2/4). Mahasiswa angkatan 2016 ini menyisihkan peserta lain dari lima puluh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di bawah Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII Jawa Timur. Dita mengusung konsep sosial ekonomi pembangunan, yakni Desa Mandiri Pangan dan Energi melalui sumber pangan dan energi alternatif. Melalui karya tulis bertajuk “Multi Function Concept to Support Independent Village: Optimalisasi Potensi Sagu sebagai Upaya Mewujudkan Desa Mandiri Pangan dan Energi Berbasis Sociopreneurship” Dita, panggilan akrabnya, mewakili Provinsi Jawa Timur di ajang Pilmapres di tingkat nasional dalam waktu dekat. Indonesia memiliki luas areal sagu terbesar di dunia dengan luas sekitar 1.128 juta hektar. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal yaitu baru sekitar 11% dari total cadangan pati sagu Indonesia. Indonesia adalah penghasil sagu terbesar di dunia, namun negara yang paling serius mengembangkan sagu justru Jepang. Dilanjutkannya, sagu (Metroxylon sagu) merupakan sumber karbohidrat layaknya beras. Satu porsi nasi seberat 100 gram setara dengan 40 gram tepung sagu. Jika potensi sagu telah dapat dimanfaatkan dengan bijak sebagai pangan alternatif, maka Indonesia seharusnya tidak perlu mengimpor beras sampai dengan 861.601 ton. Terlepas dari itu, sambungnya, ampas ela yang merupakan limbah setelah panen sagu, mengandung ethanol 80% yang memenuhi syarat pembakaran sempurna sehingga dapat dijadikan sebagai energi alternatif berupa bioethanol. Desa Pelauw di Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah jadi tempat penelitiannya. “Sayang, dengan potensi sagu yang melimpah, penduduk desa ini masih bergantung pada beras dan BBM dari kota Ambon. Padahal hampir di seisi Maluku tidak ada produksi beras sama sekali. Selain itu, sangat sering terjadi kelangkaan BBM sehingga mengharuskan ke pulau sebelah hanya untuk membeli minyak tanah,” bebernya. Diakui Dita, dirinya telah disiapkan secara matang oleh pihak universitas. Dimulai dari persentasi di depan rektor hingga ke kelas-kelas. Juga hingga disiapkan tim khusus, misalnya di aspek kepribadian ada dosen dari fakultas Psikologi, ada juga dosen khusus penampilan yang menilai performa saat persentasi, hingga tata pakaian. Persiapan jelang perlombaan dilakukan secara matang selama dua minggu, dan satu minggu intensif. “Dimulai dari perbaikan proposal, presentasi bahasa inggris, kepribadian, sikap hingga dibentuk tim-tim khusus yang mengawasi dan membimbing,” ujar Dra. Titiek Ambarwati, MM selaku pembimbing Pilmapres UMM. Selain UMM, tujuh universitas yang lolos untuk mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional yakni Universitas Katolik Widya Mandala, Universitas Kristen Petra, Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Universitas Surabaya, Universitas Ciputra, Universitas Muhammadiyah Surabaya, dan Unida Gontor. (riz/can)
Presiden Maspion ke UMM, Kepincut Asri dan Sejuknya Kampus Putih

“Cintailah produk-produk Indonesia,” mungkin sepenggal kalimat ini melekat kuat di pikiran sebagian masyarakat Indonesia. Di iklan produk perusahaan manufaktur kenamaan Indonesia tersebut, ada sosok seorang Alim Markus sang Presiden Direktur Maspion Group. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur ini hadir menyapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (6/3). Alim mengaku ini adalah kali pertamanya berkunjung ke UMM. Dalam sekejab, UMM mampu membuat anak dari Alim Husin ini tersanjung. Pasalnya, UMM memiliki suasana asri dan udara yang sejuk. “Saya diminta Pak Rektor lain kali berkunjung lagi ke UMM,” tuturnya. Selain takjub dengan kemegahannya, ke UMM baginya sekaligus berwisata dan beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kesibukan kota. Pada agenda Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan atas kerjasama Suluh Kebangsaan dan UMM ini, Alim membagi ceritanya sebagai anak bangsa yang sukses membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Ia membagikan kunci suksesnya. “Pendidikan jadi faktor penentu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya dihadapan peserta yang memadati Aula GKB IV lantai 9 UMM. Dalam gelaran bertajuk “Milenial Wujudkan Indonesia Emas 2045, Siapa Takut?” ini disebutkan Alim, bonus demografi Indonesia pada tahun 2030 menuju Indonesia Emas di tahun 2045, adalah peluang untuk tumbuh dan berkembangnya Indonesia secara ekonomi. Bila semua masyarakat milenial memiliki pendidikan yang baik, ke depan Indonesia punya peluang besar untuk memimpin ekonomi dunia. “Oleh karenanya, masyarakat milenial yang bakal meneruskan tampuk kehidupan saat Indonesia di masa keemasannya di usia seratus tahun, harus disipkan menjadi manusia-manusia terdidik. Karena orang berpendidikan akan memberi harapan nyata bagi sesamanya,” ungkapnya. Ia juga mengundang mahasiswa UMM untuk belajar langsung belajar berwirausaha di perusahaan yang ia pimpin. Selain Presiden Direktur PT. Maspion, hadir panelis lain yakni Ketua Suluh Kebangsaan Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U., Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., Staf Khusus Presiden Bidang Agama Tingkat Internasional Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA., Savic Ali, serta dua putri Presiden Republik Indonesia keempat Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid dan Inayah Wahid. (mir/can)
Ini Harga yang Harus Dibayar Agar Indonesia Tetap Ada di 2045

Alissa Wahid, putri presiden keempat RI Gus Dur menyebut, pekerjaan rumah masyarakat Indonesia tidak mudah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tetapi sangat mungkin untuk diwujudkan. “Kuncinya adalah di bangunan kenegaraan yang baik, yang berkeadilan melalui sistem yang berintegritas, dan bagaimana kita semua mampu menjaga persatuan dan kesatuan,” tegasnya, Selasa (9/4) pagi. Hal ini disampaikan Alisa dalam kesempatan menjadi panelis pada gelaran Dialog Kebangsaan di Aula GKB IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir tokoh lainnya, Mahfud MD Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Alim Markus Presiden Direktur PT. Maspion, Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM, Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, MA., Savic Ali, serta putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid. Untuk Indonesia bisa tetap bertahan hingga di usia seratus tahunnya, yakni di tahun 2045, ada harga yang harus dibayarkan. “Mau nggak kata Indonesia hilang dari peta? Tapi mau nggak membayar harganya supaya kata ‘Indonesia’ itu tetap ada di dalam peta. Harganya adalah, sebagai warga negara, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri,” bebernya dihadapan ratusan peserta gelaran sehari ini. Selain itu, sambungnya, ketika seseorang mau berkembang dan tumbuh menjadi orang yang mandiri dan berdikari. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, kalau Indonesia juga ingin besar, maka manusianya juga harus sejahtera. “Sejahtera itu harus menjadi bagian dari kita. Yang mandiri dan berdikari. Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar, kalau warganya mampu menyangga dirinya sendiri,” ujarnya. Tak cukup itu, pelibatan generasi penerus bangsa untuk menjadikan Indonesia sejahtera juga mesti dilakukan. “Kita butuh para generasi milenial ini untuk men-tasyarufkan atau membagikan ruang dirinya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita butuh generasi yang tidak apatis terhadap politik, kita butuh generasi yang jangan diam terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” tegasnya. Generasi milenial yang hidup di masa teknologi informasi berkembang pesat, membuat generasi ini memiliki keunggulan. Tahun 2012, diceritakannya, kita dikagetkan dengan kasus Satinah, TKI yang terancam dihukum pancung jika tidak mampu membayar diyat sebanyak 21 milyar. Pemerintah Indonesia ketika itu hanya menyanggupi sembilan milyar saja. Tentu belum cukup,” bebernya. Netizen Indonesia, anak-anak muda milenial ketika itu, berinisiatif saweran agar hukuman itu tidak terjadi. Jumlah yang terkumpul 2,8 milyar dalam kurun waktu sekian hari saja. “Itu kekuatan dunia digital dan itu kekuatan anak-anak muda Indonesia. Hal ini juga terjadi pada 2014, saat pengajuan perluasan gedung KPK. Lagi-lagi karena kekuatan netizen, kebijakan itu akhirnya disetujui,” paparnya. Mengutip salah satu konsep ahli Psikologi Keluarga Alisa menyebut, pemimpin milenial harus memiliki karakteristik yang terangkum di lima keterampilan berfikir. Kalau tidak, dia akan menjadi orang yang digilas roda zaman. “Yakni menguasai ilmu, mampu berinovasi, berpikir kritis dan kreatif, menghormati orang lain, serta terakhir yakni mampu membedakan mana benar-mana salah,” pungkasnya. (can)
Pesan Mahfud MD Buat Milenial UMM: Mari Ikut Wujudkan Indonesia Emas 2045

Cita-cita Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju, adil dan beradab dalam rangka menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045 akan terwujud, kata Prof. Dr. M. Mahfud MD., S.H., S.U., jika memenuhi sejumlah syarat. Yakni jika ideologi bangsanya kokoh, ekonominya baik, hukum dan keadilan ditegakkan, politik yang demokratis, budaya gotong royong, serta mengedepankan persaudaraan. Hal itu disampaikan Mahfud MD Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan ini dalam gelaran Dialog Kebangsaan yang digelar di Aula Gedung Kuliah Bersama IV lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir para tokoh lain sebagai pembicara yakni Dr. Alim Markus Presiden Direktur PT. Maspion, Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM, Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, MA, serta Savic Ali. Dilanjutkan Hakim Konstitusi periode 2008-2013 ini, Indonesia Emas juga disokong oleh sejumlah indikator lain. Diantaranya pemanfaatan bonus demografi, bonus geografi, juga kesadaran hidup bernegara untuk terus bersatu. “Kalau beberapa indikator ini terpelihara sampai tahun 2045, artinya ketika Indonesia di usianya 100 tahun, barulah Indonesia sudah bisa dikatakan emas,” katanya, Selasa (9/4). Pertanyaannya, sambung Mahfud, kita bisa sampai ke sana ataukah tidak? Hati-hati, Mahfud mewanti-wanti ke seluruh peserta, banyak negara-negara besar yang tidak sampai ke sana. Dicontohkannya, Uni Soviet tidak sampai usia 100 tahun. Padahal pernah berjaya luar biasa. “Pernah menjadi negara menakutkan dunia karena kehebatannya. Bubar hanya dalam kurun waktu 87 tahun,” bebernya. Meski begitu, sambungnya, ada begitu banyak ancaman untuk cita-cita itu dapat terwujud. Di antaranya intoleransi. Makannya kita berkumpul seperti ini untuk mengingatkan bahwa sekali kita terpecah, karena intoleransi, sekali kita terpecah karena tidak sadar pentingnya pluralisme, mungkin kita tidak akan sampai Indonesia Emas 2045. Dan itu akan mengakibatkan kita rugi,” ujarnya. Sementara, menurut perspektif Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-22 ini, mulai dari sekarang masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial, harus bekerja secara sungguh-sungguh untuk menegakkan hukum dan keadilan agar Indonesia Emas di tahun 2045 itu dapat terwujud. “Karena biasanya negara hancur itu, utamanya, kalau hukum tidak ditegakkan dengan benar,” tegasnya. Rumusnya, ketika masyarakat diperlakukan tidak adil, pasti diakibatkan oleh praktik disorientasi dalam bernegara. Kalau disorientasi dibiarkan, sambungnya, akan menimbulkan distrust, atau ketidakpercayaan publik kepada pemerintah. “Pada tingkatan berikutnya akan terjadi disobedience, atau pembangkangan,” kata Mahfud di gelaran dialog yang dimoderatori putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid. “Jika pembangkangan ini terus dibiarkan, tidak segera ke orientasi awal, maka akan terjadi berikutnya disintegrasi. Disintegrasi ini akan terjadi, jika suatu bangsa kemudian sudah tidak tahan rakyatnya karena tidak diperlakukan tidak adil. Inilah yang menyebabkan negara hancur. Sehingga, untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045 kita harus bagi-bagi tugas,” tuturnya. Ikhtiar berbagi peran ini, khususnya di kalangan milenial, dalam rangka menyiapkan kita untuk membangun bangsa yang beradab. Jangan sampai negara kita hancur karena kita terpecah belah. “Mari bersama-sama membangun bangsa Indonesia yang maju dan beradab dengan memanfaatkan segala kelebihan yang kita miliki. Agar Indonesia Emas di tahun 2045 dapat tercapai,” tandasnya. (can)
Ke Amerika, Ken Dedes UMM Ini Siap Harumkan Nama Indonesia

Ken Dedes Maria Kunthy adalah salah satu dari tiga mahasiswa anggota Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pada tanggal 10 April mendatang akan berlaga di Amerika Serikat. Hebatnya, mahasiswa yang akrab disapa Ken Dedes ini menjadi perempuan pertama yang turut berlaga dalam ajang robot internasional dari UMM. Tiap kali berlatih menguji robot kategori beroda rancangannya; MuForIna, Ken Dedes hampir selalu menghabiskan waktu seharian penuh. “Sebelum bahkan mendekati kompetisi begini, latihan yang kami lakukan semakin masif,” ungkap mahasiswa teknik elektro angkatan 2015 yang merupakan putri pasangan Totok Hadi Purwanto dan Maria Wigati tersebut. Saat ditanya prosesnya hingga berkesempatan berlaga di Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) ini, Ken Dedes menceritakan perjalanannya tak mudah. “Sebelum bergabung dengan Tim Robotika, saya diminta untuk mendampingi sekaligus mengajar anak-anak Sekolah Dasar Muhammadiyah untuk belajar robot,” tutur saat diwawancarai, Senin (8/4). Setelah melewati masa panjang itu, dengan tekad kuat dan kesungguhan akhirnya Ken Dedes memutuskan bergabung dengan tim yang notabene beranggotakan para laki-laki ini, dan berkesempatan untuk mendesain robotnya sendiri. Dalam merancang robot MuForIna, Ken Dedes mengaku didukung penuh oleh pembimbing dan kawan-kawan seperjuangannya di LSO Robotik. Di Amerika nanti, Ken Dedes akan melawan 32 tim dari berbagai negara. Tim-tim itu terdiri dari berbagai negara diantaranya dari Israel, Kanada, Tiongkok, Uni Emirate Arab, Portugal dan tentu saja tuan rumah Amerika Serikat. Dengan robot rancangannya, ia optimis dapat mengukir prestasi layaknya pendahulunya. “Harus optimis menang seperti pesan Pak Rektor saat pelepasan,” tuturnya. Saat gelaran pemeran akademik Festival Kabangsaan II 6 April lalu, Ken Dedes berkesempatan berbincang singkat dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK). Ia mendapatkan dukungan penuh. JK menaruh harapan besar pada tim robot UMM yang akan berlaga di Amerika. “Seneng banget dapat dukungan moril dari Pak Wapres, makin semangat,” ungkapnya. Menjadi perempuan pertama yang ikut kontes internasional, Ken Dedes berhasil membuktikan bahwa perempuan juga dapat berprestasi layaknya laki-laki. Ia berharap, ke depan para perempuan dapat memiliki kemauan dan tekad kuat untuk mengukir prestasi. “Mumpung masih kuliah. Ayo! Tentu nanti yang bangga bukan hanya orang tua, tetapi kampus dan Indonesia,” tandasnya. (mir/zak/can)
Tim Robotika UMM Kembali Berlaga di Amerika

Tim Robotika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan kembali bertanding di tingkat internasional pada 13-15 April 2019 di Trinity College Hartford Connecticut, Amerika Serikat. UMM mewakili Indonesia karena berhasil keluar sebagai juara nasional berdasarkan surat penugasan dari Ditjen Belmawa Kemenristekdikti Republik Indonesia nomor T/274/B3.1/KM/02.04/2019. Tak tanggung-tanggung, UMM memberangkatkan tiga tim jagoannya di kompetisi yang juga pernah dimenanginya pada tahun 2017. Yakni Zhafarul (robot kaki 4), Dome_Ina (robot kaki 6), dan MuForIna (robot beroda). Masing-masing robot membutuhkan waktu pembuatan 4 bulan, dimulai dari proses perakitan hingga siap berkompetisi di ajang kontes robot bergengsi tingkat dunia ini. Kompetisi robotik internasional bertajuk Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) ini mempertandingkan dua jenis kategori, yakni robot berkaki dan robot beroda. Dengan membawa status juara bertahan, tim robotik UMM optimis mendapat hasil terbaik di kompetisi robot pemadam api tingkat dunia. Yakni dengan mengusung beberapa teknologi andalan dan inovasi terbaru. Di tahun 2017, dua tim dari UMM memborong juara 1 dan 2 sekaligus untuk kategori robot berkaki. Dua tim tersebut yaitu tim InaMuh sebagai juara 1 dan tim Unmuh Malang sebagai juara 2. Di samping itu, tim InaMuh juga meraih juara poster terbaik. Atas pengalaman inilah, mereka optimis akan kembali menang, tentunya melalui penyesuaian beberapa teknologi dan mengusung inovasi baru. Kontes diikuti 32 tim dari berbagai negara, seperti Israel, Tiongkok, dan lainnya. Adalah Alfan Achmadillah Fauzi, Rohmansyah, Ken Dedes Maria Khunty yang kesemuanya merupakan mahasiswa Prodi Teknik Elektro. Selain itu mereka juga dibantu anggota WS Robotika yang berperan mengerjakan mekanik, penyediaan hardware, algoritma, hingga menguji performa robot. Semua robot memiliki misi memadamkan api dengan cepat di titik pada satu ruangan atau kamar yang menyerupai rumah. Posisi titik api diletakan secara acak oleh dewan juri sehingga robot dituntut harus cerdas untuk mencari api tersebut. Setelah memadamkan api, robot dituntut untuk kembali ke titik start. Robot dengan catatan tercepat bakal keluar sebagai pemenang. “Robot yang telah berhasil memadamkan api berhak bertanding pada level berikutnya. Pada level ini, selain memadamkan api, robot juga dituntut untuk menyelamatkan boneka dan memindahkannya ke zona aman,” terang Alfan, mahasiswa prodi teknik elektro angkatan 2015, selaku ketua tim. Alfan yakin kawan setimnya akan mengulang kesuksesan para seniornya terdahulu. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam sambutan pelepasannya menyatakan bakal membebaskan skripsi jika berhasil memenangi kontes ini. Fauzan lantas berpesan kepada para delegasi dan mahasiswanya yang hadir ketika itu untuk berhenti menjadi penonton. Sebaliknya, jadilah pemain. “Saya tidak menarget harus juara satu, tetapi yang terbaik sajalah yang saya minta,” ungkapnya. Dua tim lainnya yang dimotori Bayu Irawan Nugroho mahasiswa teknik elektro dan Dwi Nur Fajar mahasiswa teknik informatika juga akan unjuk gigi di Kontes Robot Indonesia (KRI) Regional IV pada 21-23 April 2019 di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Rombongan ini mempertandingkan dua jenis robot, yakni satu robot pemadam api (DOME), dan tiga robot sepak bola (Zhafarul). Robot sepakbola pada kompetisi ini harus memiliki spesifikasi yang wajib dipenuhi. Yakni mendeteksi objek, menggiring bola, menendang, hingga lokalisasi. Pendeteksian objek tersebut agar robot dapat membedakan bola, lawan, garis, dan gawang. Robot akan dinyatakan memenangkan pertandingan ketika robot lebih banyak memasukan bola ke gawang lawan. (zak/riz/can)
Replika Dinosaurus Terbesar dari Tempe Masuk MURI

KELOMPOK mahasiswa praktikum event management “Prospero” Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukir Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Sabtu, (6/4) siang ini. Rekor yang diukir adalah pembuatan replika dinosaurus terbesar yang terbuat dari tempe. Replika dinosaurus berukuran 7×5 meter ini ‘disembelih’ oleh Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. Hal ini sekaligus menandai peresmian destinasi wisata baru di Kota Batu, Kampung Hijau Tempenosaurus. Kehadirannya menyusul kesuksesan Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) sebelumnya. “Dilaunchingnya Kampung Hijau Tempenosaurus sesungguhnya menginisiasi bangunan peradaban kemanusiaan. Karena yang diharapkan dari pembangunan di manapun adalah people center development; pusat dari seluruh pembangunan adalah pembangunan manusia yang ada di dalamnya,” kata Khofifah. Disebut Khofifah, membangun perkampungan adalah membangun peradaban. Membangun peradaban adalah membangun tatanan sosialnya, budayanya, serta estetikanya. “Partnership ini terbangun dengan sangat baik, antara korporasi yakni PT. Indana dan UMM sebagai perguruan tinggi,” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyebut, proses pembangunan kampung ini tidak cukup berhenti pada pengecetan. Pihaknya juga akan mulai memikirkan perencanaan tatanan sosial, ekonomi, bahkan pendidikannya. “Utamanya pada upaya peningkatan kompetensi masyarakatnya,” sebutnya. Upaya pembangunan dari segala aspek oleh UMM juga dilakukan di wilayah lainnya. Selain tentunya KWJ, lainnya yakni Wisata Kampung Topeng Desaku Menanti Kota Malang, serta sejumlah wilayah lainnya. UMM juga akan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Turen, Kabupaten Malang. Proses pembuatan tempe dinosaurus ini sudah mulai dilakukan, Selasa (2/4). Hal ini dikarenakan proses pembuatan tempe membutuhkan waktu cukup lama, yakni 3-4 hari. Tak sampai mubadzir, nantinya replika ini dibagikan kepada pengunjung dan juga masyarakat yang melintas di sekitar kawasan wisata Jawa Timur Park 3. Jamroji selaku dosen pembimbing praktikum mengungkapkan, untuk mewujudkan pemecahan rekor MURI tersebut, Jamroji dan mahasiswa bimbingannya melibatkan baik warga sekitar maupun perusahaan penyedia cat KWJ PT. Inti Daya Guna Aneka Warna (Indana), dan juga Jawa Timur Park Group. “Untuk membuat replika tempe dinosaurus tersebut dibutuhkan kurang lebih 12-15 orang dan menghabiskan biaya hampir 20 juta rupiah untuk menyiapkan alat dan juga bahan yang diperlukan,” ungkap dosen yang juga sukses mendampingi kelompok mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi “Guys Pro” menggarap KWJ. Untuk tercapainya pemecahan rekor ini, usaha yang tentu dilakukan tidaklah mulus. “Banyak hal yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama. Karena proyek ini melibatkan berbagai pihak. Sehingga dalam membuat suatu keputusan harus di musyawarahkan bersama,” sambung Jamroji di sela acara. Ketika pengajuan pemecahan rekor MURI ini ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi. Rencana awal replika tempe dinosaurus itu akan diberi formalin dan hendak dipamerkan di Jawa Timur Park 3. Namun begitu, untuk kategori makanan, tempe yang dibuat replika disyaratkan untuk dikonsumsi dan tidak boleh tersisa. (*/mir/can)
Wapres Jusuf Kalla: Bangsa Tak Memiliki Batas

“Apa beda negara dengan bangsa?” demikian Wakil Presiden RI melempar pertanyaan kepada ribuan peserta Festival Kebangsaan II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (6/4). Seringkali, katanya, kita sulit membedakan keduanya. “Negara jelas ada batasnya, tetapi bangsa tidak memiliki batas. Batasnya adalah kesamaan, perasaan, sejarah, juga tujuan,” tegasnya. Batas-batas inilah, sambung Jusuf Kalla, yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Walaupun kita berbeda-beda. “Indonesia memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh negara atau bangsa lain. Kita memiliki negara kepulauan terbesar di dunia, yakni sekitar 17 ribu pulau. Penduduknya adalah modal utama. Meski begitu hanya kuantitasnya, melainkan dari kulitasnya. Penduduk itu aset,” ungkapnya. Pola pikir inilah yang diadopsi China dengan jumlah 1,4 milyar penduduk. Bagi China, dengan jumlah penduduk yang sangat besar, tak dipandang sebagai beban. serta memunculkan anggapan bahwa negaranya tak bisa maju. “Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar, dan alhamdulillah juga damai dibanding dengan negara berpenduduk Islam lainnya. Inilah potensi kita,” kata Jusuf Kalla. Semua hal yang terdapat di Indonesia itu, disebut Jusuf Kalla, sebagi modal bagi Indonesia untuk maju. Kita menghargai kebangsaan kita dengan Kebhinekaan. Perbedaan bukanlah kelemahan, tetapi perbedaan adalah kekuatan. “Apa yang dilakukan UMM hari ini (menggelar Festival Kebangsaan, red.) ialah bagaimana usaha untuk membina bangsa yang besar,” ujar Jusuf Kalla. Sementara, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. menyebut, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak boleh hilang dari Republik ini. “Diadakannya Festival Kebangsaan di kampus ini, karena memang UMM telah bertekad menyatakan dirinya ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” kata Badan Pembina Harian UMM ini. Lebih jauh lagi, Bhineka Tunggal Ika disebut Malik, bukanlah suatu kebetulan. Tapi lahir dari kesadaran, penghayatan, serta kecermatan para pendiri bangsa ini, bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat majemuk. “Bahkan sadar betul, kemajemukan bangsa Indonesia itu multi dimensi. Yakni dengan perbedaan latar belakang agama, suku, sosial-ekomini, termasuk dalam pilihan politik,” ungkapnya. Komitmen bangsa ini, ditegaskannya, bahwa Pancasila merupakan puncak kesepakatan bangsa, tidak boleh diganti oleh paham kebangsaan lain. “Pancasila adalah ideologi bangsa. Pancasila adalah dasar negara. Pancasila sudah sangat final dan tidak boleh digeser. Tapi Pancasila, sangat terbuka untuk ditelaah, dikembangkan, dan direaktualisasikan sesuai dengan zamannya,” tambah Malik. Di sisi lain, pendiri Institute for Syriac Cristian Studies (ISCS) Bambang Noorsena dalam orasi kebangsaannya juga menekankan, perbedaan bukan alasan untuk kita saling menafikkan, saling meniadakan, bahkan saling berhadap-hadapan dalam sebuah konflik. “Melainkan justru menjadikannya suatu kekayaan bersama yang harusnya kita rayakan, bahkan sejak awal perkembangan bangsa ini,” ungkapnya. Negara Indonesia. disebutnya, mampu menjaga segala perbedaan tersebut dan menjadikannya sebagai kekuatan dan juga kekayaan bangsa. “Sudah bukan saatnya lagi Indonesia memperdebatkan masalah agama, suku, maupun bahasa. Karena karena Pancasila sudah berjalan bersama berdasarkan relnya masing-masing. Pancasila adalah sarana untuk mempersatukannya,” pungkasnya. (*/can)
Wapres Jusuf Kalla Resmikan Lima Infrastruktur Baru UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan pembangunan fisik untuk menunjang aktivtas akademis maupun non akademisnya. Infrastruktur terbaru yang dibangun dengan mandiri diantaranya Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV berlantai Sembilan dan renovasi gedung pertemuan menjadi Hotel Kapal Garden Sengkaling. Sedangkan infrastruktur baru lainnya merupakan bantuan pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dna Perumahan Rakyat (PUPR). Tiga infrastruktur bantuan pemerintah tersebut adalah dua unit jembatan, yakni Jembatan Sengkaling dan Jembatan GKB IV dan satu unit Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Kehadiran Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla dalam pembukaan Festival Kebangsaan II UMM Sabtu (6/4), sekaligus meresmikan lima infrastruktur baru. Peresmian ditandai dengan penandatangan prasasti usai Jusuf Kalla membuka agenda yang dihadiri ribuan mahasiswa dan unsur masyarakat dan latar belakang agama. “Beberapa kali hadir di Universitas Muhammadiyah Malang, dan selalu mengagumi perkembangan universitas swasta seperti UMM. Idenya, spiritnya, kampusnya yang dibelah sungai (Brantas, red.) dan tentu saja hasil dari produk-produk akademiknya yang membanggakan,” ungkapnya disaksikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Gubernur Jawa Timur, dan unsur pejabat pemerintahan lainnya. UMM, sambung Jusuf Kalla, selayaknya bukan hanya sebagai kampus Muhammadiyah. Karena kampus ini begitu terasa unsur persaudaraan dan keragaman yang sangat merepresentasikan keragaman yang baik. “Kemajuan kita akan sangat ditentukan oleh model pendidikan seperti ini,” ungkap Jusuf Kalla yang pada tahun 2014 juga turut meresmikan Rumah Sakit UMM ini. Dalam kesempatan ini juga digelar produk-produk riset mahasiswa dan para dosen, baik dari UMM maupun dari perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya. Pagelaran produk riset ini dimaksudkan mengenalkan untuk direspon oleh pelaku usaha dan pelaku bisnis. Wapres Jusuf Kalla juga turut melihat berbagai produk riset ini usai membuka secara resmi Festival Kebangsaan II ini. Acara diselenggarakan dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), pelaku dan pemilik perusahaan, dan Badan Musyawarah Gereja Kristen Malang Raya. Sementara yang hadir, selain mahasiswa, terdiri atas tokoh agama, tokoh etnis, tokoh organisasi, dan pejabat pemerintahan. (*/can)