Fapsi UMM Latih Posyandu se-Malang Cara Menangani Anak ABK

Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan kegiatan capacity building untuk keterampilan layanan psikologi pada 5-7 September 2024 lalu. Bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kota Malang, Fapsi UMM ingin meningkatkan keterampilan kader posyandu dalam menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Adapun program ini menjadi inisiasi penting dalam membentuk posyandu ABK yang berfokus pada intervensi dan penanganan anak dengan kebutuhan khusus, baik dalam skala kelompok, komunitas, maupun individu. Dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, para kader diberikan pelatihan intensif mengenai cara menghadapi dan mengintervensi ABK. Ni’matuzahroh, S.Psi., M.Si., Ph.D. selaku ketua panitia menjelaskan bahwa agenda itu sangat penting untuk membantu para kader posyandu agar lebih siap ketika dihadapkan langsung dengan anak-anak ABK. “Kami berharap, setelah pelatihan ini, para kader tidak kebingungan lagi dalam menangani ABK di lapangan,” ujarnya. Salah satu materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah teknik intervensi psikologis yang dapat diterapkan pada ABK di berbagai tingkat, mulai dari skala individu hingga komunitas. Para kader juga diajari cara menangani berbagai situasi yang sering terjadi dalam penanganan ABK, seperti kesulitan berkomunikasi dan perilaku agresif. Sehingga para kader mampu menghadapi ABK dengan cara yang tepat dan empati. Tak hanya pelatihan penanganan ABK, kegiatan ini juga menekankan pentingnya program berkelanjutan yang akan dijalankan oleh tiap posyandu. Para kader posyandu diminta untuk menyusun rencana program yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Beberapa posyandu membuat program bekerja sama dengan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan sosialisasi kepada warga setempat untuk memberikan pemahaman lebih luas tentang ABK. Selain itu, beberapa kader juga berinisiatif untuk menggandeng camat dan lurah setempat guna mendapatkan dana formal untuk kegiatan berkelanjutan. “Kami ingin memastikan bahwa program-program yang dirancang oleh kader posyandu bisa benar-benar diimplementasikan dan memberikan dampak positif bagi anak-anak ABK,” jelas Zahroh yang juga dosen Fapsi UMM. Beberapa program inovatif yang disusun oleh posyandu di antaranya melibatkan ABK dalam pembuatan barang prakarya. Hal ini bertujuan untuk menambah keterampilan mereka dan mempersiapkan ABK untuk berkarir di masa depan. “Kami akan melakukan monitoring berkala terhadap program-program tersebut bersama dengan psikolog dari fakultas, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial Kota Malang untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana,” jelasnya. Lebih lanjut, Zahroh menegaskan bahwa kerja sama dengan berbagai pihak akan terus diperluas untuk mendukung keberlanjutan program ini. “Ke depan, kami akan berkolaborasi dengan Pusat Layanan Kesehatan (PLK), fisioterapi, dan dokter yang memiliki pemahaman mendalam tentang kondisi ABK. Dengan begitu, proses penanganan bisa lebih komprehensif,” katanya. Ke depannya, Fakultas Psikologi UMM berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan yang membantu meningkatkan kualitas pelayanan bagi ABK di Kota Malang dan sekitarnya. “Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi posyandu-posyandu lainnya di seluruh Indonesia untuk turut peduli terhadap ABK,” pungkas Zahroh. (Ri/Wil)
Dirjen Kementerian ESDM RI di Closing Pesmaba UMM: Peran Penting Anak Muda Selamatkan Bumi

Di hadapan ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM RI Prof. Dr. Eniya Listiani Dewi, M.Eng., IPU. tegaskan bahwa anak muda punya peran dalam transisi energi di Indonesia. Adapun ia hadir dan memerikan motivasi pada maba di penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM, pada 13 September 2024. Orasinya juga senada dengan tema Pesmaba UMM 2024, yakni ‘Generasi Digital Generasi Penyelemat Bumi’. Menurut Listiani, anak muda memiliki peran krusial dalam transisi energi di Indonesia, terutama melalui inovasi dan teknologi, riset dan pendidikan. Selain itu juga terkait perubahan gaya hidup. Sebagai generasi yang lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi, anak muda dapat menciptakan solusi inovatif di sektor energi terbarukan. “Generasi muda ini unik, kalian punya potensi lebih dalam mengembangkan teknologi seperti panel surya, turbin angin, dan baterai penyimpanan energi yang lebih efisien. Kalian juga bisa menemukan cara-cara baru untuk memanfaatkan energi bersih dengan biaya lebih rendah dan dampak lingkungan minimal,” ungkapnya. Menariknya, selama ini UMM telag secara langsung mengimplementasika teknologi untuk mengoptimalkan energi baru terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan dan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) serta optimalisasi panel surya sebagai sumber listrik alternatif di berbagai sektor. Ia juga menegaskan bahwa anak muda bisa mengambil peran dalam sektor riset dan pendidikan. Generasi muda yang terlibat di universitas atau lembaga penelitian dapat membantu menciptakan terobosan penting. Riset mereka dapat berfokus pada pengembangan teknologi energi terbarukan yang lebih canggih, serta mengintegrasikan energi bersih ke dalam jaringan listrik nasional. “Anak muda juga punya peran menyebarkan kesadaran di kalangan masyarakat luas tentang pentingnya transisi energi melalui program penyuluhan yang inovatif. Seperti yang kini ada di Kementerian ESDM yakni Patriot Energi dan Gerilya (Gerakan Inisiatif Tenaga Surya),” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengucapkan selamat kepada seluruh maba yang kini resmi menjadi keluarga besar Jas Merah Kampus Putih. Ia mengungkapkan bahwa seluruh maba kini menjadi bagian penting dari sivitas akademika UMM. Nazar berpesan kepada seluruh maba UMM untuk terus belajar dan mengemabngakn skill serta memperluas pengetahuan. Apalagi Kampus Putih juga sudah menyediakan berbagai wadah. Ia menekankan untuk memanfaatkan waktu singkat 3,5-4 tahun di UMM untuk mengeksplorasi semua hal sebagai bekal menjadi generasi terbaik. “Saudara sekalian, anda adalah harapan kami untuk menjadi generasi yang terbaik menyambut Indonesia Emas 2045. Saudara akan memegang kendali di berbagai bidang dan menjadi pioner dalam membangun peradaban bangsa,” pungkasnya. (Faq/Wil)
Undang Idgitaf, Begini Meriahnya Closing Pesmaba UMM

Suara ramai dan riuh terdengar dari Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 13 September sore hari. Hal itu tak lepas dari kedatangan Idgitaf yang menghibur para mahasiswa baru di penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM. Ia sukses membuat para mahasiswa baru Kampus Putih bersemangat dengan berbagai lagu-lagu hitsnya. Idgitaf atau Gita merasa senang bisa tampil di hadapan ribuan mahasiswa baru UMM. Ia berharap lagu-lagu yang ia bawakan bisa memberikan motivasi dan semangat agar maba menjalani kuliah dengan menyenangkan. Dengan begitu, berbagai mimpi yang ingin dicapai bisa benar-benar digapai. “Saya selalu mendoakan teman-teman semua agar bisa menggapai mimpi. Hidup dengan bahagia dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan hati yang riang,” katanya. Gita juga menghebohkan Dome karena sempat mengajak salah satu maba UMM untuk naik ke panggung. Mengobrol bahkan juga memberikan tandatangan serta berfoto bersama. Hal itu membuat para penonton dan maba berteriak riuh sembari menikmati lagu-lagu yang dibawakannya. Misalnya sajaa yang berjudul Takut, Mengudara, Mulai, dan lain-lain. Salah satu maba UMM Davina Bilqis menilai bahwa Pesmaba UMM 2024 sangat seru. Tidak hanya pembukaannya saja, tapi juga di setiap rangkaiannya. Termasuk penutupan yang menghadirkan Idgitaf sebagai guest star. Menurutnya, UMM berhasil membuat mahasiswa barunya bersemangat untuk mengawali perkuliahan. “Senang sekali rasanya. Saya pikir ospek akan menyeramkan tapi ternyata di UMM ospeknya seru dan menyenangkan. UMM membuat kami semakin siap menghadapi proses perkuliahan dengan baik,” katanya. Di sisi lain, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. mengatakan, maba memang harus disambut dengan kegiatan yang membahagiakan. Dengan begitu, mereka bisa mengawali proses menimba ilmu di kampus dengan gembira. Selain itu juga dikenalkan dengan berbagai fasilitas, dosen, gedung, yang ada di UMM sehingga mereka tidak kebingungan saat benar-benar menjadi mahasiswa. “Selain membekali maba dengan pengatahuan dan wawasan yang berguna untuk kuliah, kami juga ingin menghapus stigma negatif bahwa ospek kampus itu menyeramkan. Padahal osek adalah kegiatan awal yang punya peran dalam kelancaran studi mahasiswa,” kata dosen asal Lombok itu. Ia melanjutkan, maka dari itu UMM selalu memberikan hiburan penyemangat di penutupan Pesmaba setiap tahun. Dengan begitu, mahasiswa senang dan tidak tertekan. Apalagi mereka juga berada di lingkungan yang baru dan harus beradaptasi. “Semoga Pesmaba UMM bisa memberkas di hati maba dan memberikan bekal yang cukup untuk menghadapi dunia perkuaahan,” pungkasnya. (Wil)
UMM Press Jadi Tuan Rumah Konsolidasi Penerbit Buku Nasional

Saat ini, era digital telah berkembang pesat. Maka tidak heran apabila segala kegiatan bisa dilakukan secara online. Seperti halnya membaca buku yang kini dapat dilakukan kapan saja dengan hanya membuka sebuah gadget. Hal itu mendorong Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (APPTIMA) untuk menggelar menggelar workshop tata kelola penerbitan buku dan konsolidasi pada 10-12 September di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam kegiatan tersebut, UMM Press yang menjadi tuan rumah dan APPTIMA melihat bahwa e-book memiliki selling poin rupiah yang tidak kalah menarik dari pada buku cetak. Ketua APPTIMA Budi Nugroho menjelaskan, workshop ini berupaya mendorong para generasi baru agar dapat meningkatkan kebiasaan membaca buku di manapun berada. Beberapa materi juga disiapkan seperti tata sejarah penerbitan buku, kelola penerbitan buku, kebijakan kelembagaan penerbitan buku ilmiah, hingga tips menulis buku ilmiah. Adapun para peserta merupakan anggota dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) seluruh Indonesia. Selain itu turut hadir pewakilan Perpustakaan Nasional, Gramasurya, dan lainnya. “Kegiatan ini menjadi wadah untuk belajar persama terkait pengelolaan maupun penerbitan buku pada masing-masing perguruan tinggi. Harapannya, kita bisa saling bantu untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas pengelolaan buku tersebut,” kata Budi. Menurutnya, peningkatan kapasitas SDM pengelola penerbitan merupakan hal penting dan menjadi sebuah tantangan tersendiri. Maka dari itu, APPTIMA akan terus melakukan pendampingan dan pelatihan. Ia juga berterimakasih karena UMM mendukung penuh dan memfasilitasi kegiatan tersebut dengan baik. Utamanya penerbit UMM Press yang mampu menjalankan perannya dengan baik. Ke depan, APPTIMA akan terus mendukung perkembangan literasi di era digital. Salah satunya dengan tidak hanya berfokus pada penerbitan buku yang dilakukan oleh para akademisi namun juga mendorong literasi para mahasiswa dengan mengadakan pelatihan untuk menulis artikel opini, jurnal, hingga novel. Harapannya, itu akan bisa meningkatkan daya baca, nalar, serta menulis pada setiap individu mahasiswa. “Kami juga tentu akan memastikan bahwa kualitas buku tetap terjaga di masing-masing penerbit. Selalu memperhatikan detail-detail kecil seperti substansi, penulis, performa tim, desain layout, cover, hingga hilir marketingnya,” katanya menambahkan. Terakhir, ia menilai bahwa semua pihak memiliki peran untuk meningkatkan daya baca dan literasi masyarakat. Termasuk di dalamnya Muhammadiyah yang turut andil memakukan bangsa melalui pendidikan sejak sebelum kemerdekaan. “Kita harus bisa menciptakan suasana menulis yang menyenangkan untuk para akademisi agar nantinya dapat menghasilkan buku yang bermutu sehingga layak baca dan layak dipasarkan. Hal itu tentu akan bermuara pada upaya mencerdaskan bangsa,” pungkasnya. (Zaf/Wil)
Mahasiswa Matematika UMM Raih Bronze Medal KTI Nasional

Matematika identik dengan pelajaran yang banyak tidak disukai banyak orang. Hal itu mendorong sederet mahasiswa prodi Matematika Universitas Muhammmadiyah Malang (UMM) untuk memberikan ide. Dua judul topik menarik diikutsertakan dalam ajang Idea Fest Karya Tulis Ilmiah di Yogyakarta Agustus lalu dan berhasil membawa pulang bronze medal. Dua tema mereka yakni tentang ‘Cara Berpikir Rasional dalam Menyelesaikan Masalah Kontekstual Matematika’ dan ‘Cara Mengubah Pola Pikir Siswa agar Menyukai Pelajaran Matematika melalui Permainan’. Ketua tim, Annisa Khoirunnillah menjelaskan latar belakang keapa kelompoknya memilih tema tersebut. Menurutnya, banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika sangat sulit untuk dipahami. Hal itu membuat timnya ingin mengubah pola pikir tersebut. “Kebanyakan anak zaman sekarang cenderung tidak bisa lepas dari gawai, digital, dan game. Maka kami membuat suatu permainan kartu yang dikaitkan dengan matematika. Dengan begitu, para siswa dapat belajar secara nyaman dan asyik sambil bermain kartu tersebut,” ujarnya. Tidak hanya sukses membawa medali, mereka juga meraih penghargaan video terfavorit. Video tersebut berisi berbagai hasil rangkuman dari karya tulis ilmiah yang telah dibuat. Meski sukses membawa pulang prestasi, Nisa juga mengatakan beberapa kendala dan tantangan. Misalnya saja lomba tersebut dilaksanakan di waktu yang bersamaa dengan ujian akhir semester. Hal itu membuat mereka mau tidak mau harus berusaha ekstra mengatur waktu. Beruntung, kerjasama yang apik mampu membawa mereka ke puncak prestasi. Menurutnya, kemenangan ini tak lepas dari kontribusi kampus UMM yang selalu mewadahi dan membantu mahasiswanya. Termasuk terkait persiapan lomba, dosen pendamping, motivasi-motivasi, biaya, dan lain sebagainya. Ia merasa dukungan penuh UMM memudahkan timnya untuk bisa berekspresi dan berinovasi dengan baik. Nisa tidak sendiri dalam menndapatkan medali. Ia ditemani oleh Auliya Lely, Annisa Khoirunnillah, Syafirda Azmi Aulia, dan Fitrotun Nisa. “Sebagai generasi hebat masa depan, saya mengajak anak-anak muda lain untuk bisa menyiapkan diri. Mempersiapkan Indonesia yang smeakin maju dan mampu meraih Indonesia Emas 2045. Banyak hal yang bisa kita lakukan, termasuk kami yang sudah memberikan sumbangsih di bidang pendidikan. Kami akan terus melakukannya, begitupun dengan mahasiswa dan anak-anak muda lain,” pungkasnya. (Zaf/Wil)
Wisudawan UMM Ini Bikin Banyak Karya Musik

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melahirkan seorang wisudawan berprestasi yang telah mengukir banyak penghargaan, khususnya di dunia musik. Adalah Aldo Al Qodri, lulusan program studi Ilmu Komunikasi (Ikom) yang telah menunjukkan kiprah gemilangnya di industri musik. Selama kuliah, Aldo berhasil memproduksi banyak karya musik, mulai dari genre pop, lagu kampanye, hingga jingle komersial. Tidak hanya itu, beberapa lagunya bahkan telah dibeli oleh artis terkenal dan sering terdengar di berbagai platform. Sejak kecil, Aldo sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia musik. Hobinya menulis dan menciptakan lagu mulai terlihat ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Berawal dari kebiasaan menonton acara musik di televisi dan mendengarkan lagu-lagu dari sinetron, Aldo meminta orang tuanya untuk membelikan gitar. Dengan belajar secara otodidak, Aldo mulai menyalurkan bakatnya dalam menciptakan musik. Perjalanan musik Mahasiswa Asal Lumajang itu semakin berkembang ketika ia memasuki bangku SMP. Ia memberanikan diri mengikuti berbagai lomba musik dan juga bergabung dengan sekolah musik Purwacaraka, salah satu sekolah musik terkemuka di Indonesia. Prestasinya mulai bersinar ketika ia menulis lagu pertamanya saat SMA di tahun 2017, yang terinspirasi dari pengalaman jatuh cinta. Lagu tersebut ternyata berbuah manis dan bahkan dibeli oleh sebuah band. Ia juga menceritakan bahwa pertama kali ia membuat lagu jingle berawal dari Prodi Ikom UMM yang memberikan kesempatan kepadanya untuk menyukseskan acara tahunan Komakksi Ikom UMM. Dari sana ia mulai membuat jingle. “Ilmu komunikasiUMM sangat membantu dalam karier musik saya. Saya dibekali kemampuan meriset tren sosial yang sedang berkembang untuk dijadikan tema lagu, cara berkomunikasi dan menjaga hubungan dengan klien. Selain itu juga menulis lirik lagu yang mudah diingat dan enak didengar menjadi hal penting dan semuanya ada di Ikom UMM,” jelasnya. Dari situ, Aldo sukses menciptakan jingle untuk berbagai merek ternama, seperti Yamaha, Unesco, Mars, beberapa program di TVRI, dan masih bayak lagi. Menurutnya, mengejar musik dan kuliah bersamaan tentu tidak mudah. Maka perlu manajemen waktu yang baik agar semuanya selesai. Tidak hanya berkarya di industri musik komersial, Aldo juga aktif berpartisipasi dalam proyek-proyek musik kampanye sosial. Kepekaannya terhadap isu-isu sosial yang ia pelajari selama di Ilmu Komunikasi UMM, membuatnya sering diundang untuk menciptakan lagu-lagu yang mendukung gerakan sosial atau lingkungan. Adapun kini, Aldo terus aktif menciptakan karya-karya musik yang tidak hanya bernilai komersial, tetapi juga memiliki pesan sosial. Ia akan menggunakan ilmunya dengan baik dan membanggakan nama jas merah UMM. (Ri/Wil)
Pesmaba UMM: Beri Skill Digital, SDGs, dan Anti Bullying

Para mahasiswa senior harus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) harus mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan mahasiswa baru, tanpa praktik kekerasan atau perploncoan. Hal itu ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. di hadapan ribuan mahasiswa baru (maba) pada Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM. Adapun agenda itu dilaksanakan langsung di Dome UMM, 11 September lalu. Lebih lanjut, Muhadjir menerangkan bahwa kehidupan di masyarakat saat ini semakin kompleks dan penuh tantangan. Hal ini membuat pendidikan tinggi memiliki peran krusial dalam membentuk individu yang tangguh. Menurutnya, Kampus Putih menjadi tempat ideal bagi mahasiswa untuk menempa diri, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga spiritual dan sosial. Selama ini, UMM menanamkan nilai bahwa orang yang bermanfaat adalah mereka yang mampu membawa kebaikan di mana pun mereka berada. “Mahasiswa UMM didorong untuk menjadi individu yang diperhitungkan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Hal ini didukung dengan program-program unggulan di UMM, seperti Center of Excellence (CoE) yang berfokus pada pengembangan keterampilan kreatif dan inovatif. Selain itu ada beragam pilihan program pengembangan lain di bidang akademik maupun non-akademik yang bisa saudara geluti,” ungkap Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM itu. Terakhir, ia juga berpesan kepada seluruh mahasiswa senior untuk mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan mahasiswa baru, tanpa praktik kekerasan atau perploncoan. Menurutnya, senior harus menjadi contoh yang baik bagi para juniornya yang masih baru bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Jas Merah Kampus Putih. “Peran senior di lingkungan kampus juga sangat penting. Senior diharapkan tidak hanya menjadi pembimbing, tetapi juga memberikan teladan bagi adik-adik kelas. Dengan dukungan dari senior yang bijak, saya harap juga semakin mempercepat mahasiswa UMM berkembang menjadi generasi yang mampu menghadapi tantangan global dengan baik,” pesannya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa Kampus Putih selalu menyiapkan mahasiswanya untuk menjadi individu tangguh dalam hal pengetahuan, keterampilan, dan keagamaan. Melalui Center of Excellence (CoE), UMM menekankan pentingnya pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia unggul, dengan keterampilan inovatif dan kreatif. CoE ini dirancang sebagai pusat keunggulan yang mengombinasikan pengetahuan dasar (knowledge base) dengan keterampilan khusus sesuai minat dan bakat mahasiswa. Program ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan yang solutif dalam menghadapi tantangan di masyarakat. “Program CoE di UMM bersifat lintas bidang, sehingga mahasiswa dapat memilih program yang tidak terbatas pada jurusan yang ditempuh. Hal ini menunjukkan komitmen UMM dalam mengakomodasi pengembangan individu mahasiswa melalui pendekatan multidisiplin berbasis minat dan passion, yang diimplementasikan melalui praktik nyata,” tegas Nazar, sapaannya. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa tahun ini, UMM juga akan memperkenalkan pendidikan dasar digital kepada seluruh mahasiswa serta program SDGs yang berfokus pada pendidikan iklim dan tanggung jawab terhadap bumi. Selain itu, mahasiswa UMM akan diberikan pembelajaran bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan satu bahasa pilihan sesuai minat, sebagai bekal komunikasi menghadapi masa depan yang semakin dinamis. (Faq/Wil)
Meriahnya Pesmaba UMM: Flying Board hingga Formasi Flashlight

Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu menghadirkan hal-hal baru tiap tahunnya. Gelaran ini juga ditunggu-tunggu, tidak hanya oleh para mahasiswa UMM, tapi juga ditunggu oleh masyarakat. Pada Pesmaba 2024 yang dimulai pada 9 September ini, berbagai hal menarik disuguhkan. Mulai dari atraksi flying board di danau UMM, berbagai macam formasi flashlight, hingga pengibaran enam bendera oleh tim flying fox. Bahkan ada ucapan selamat datang raksasa di gedung kuliah dan kehadiran tim pemadam kebakaran yang memeriahkan. Terkait keseruan Pesmaba, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa semua hal menarik tersebut memang sudah disiapkan sejak lama. Khususnya untuk menyambut maba gen 24 UMM. “Maba harus mengawali perkualiahan dengan bahagia. Salah satu cara UMM yakni dengan menampilkan hal baru dan unik seperti di Pesmaba tahun ini,” katanya. Adapun saat atraksi, atlet flying board menunjukkan kebolehannya dengan manuver-manuver di atas air. Selain itu juga melakukan salto yang membuat takjub ribuan penonton yang memadati pinggir danau UMM. Adapula enam bendera yang dikibarkan para mahasiswa melalui jalur flying fox. Di antaranya bendera Selamat Datang Gen 24 UMM, Pionir Digital, dan Pelestari Bumi. Di samping itu juga ada bendera Stop Genosida Palestina, Hapuskan Rasisme Global, serta Bersama Wujudkan Kedamaian. “Tiap bendera memiliki maknanya masing-masing dan menjadi spirit berkontribusi Kampus Putih dan mahasiswa. Maba gen 24 UMM diharapkan mampu menjadi pionir digital sekaligus sukses melestarikan bumi. Mereka harus bisa menjadi pemimpin yang mencegah rasisme global, menghentikan genosida di Palestina, dan bersama mewujudkan kedamaian,” tambah Dr. M. Isnaini, M.Pd. selaku kepala Humas UMM. Sementara itu, koordinator flashlight Pesmaba Jamroji, S.Sos., M.Comms. menjelaskan bahwa setelah menjadi pioner sejak 2014 lalu, kini UMM mulai meninggalkan metode flashmob. Sebagai gantinya, Kampus Putih mempopulerkan flashlight yang lebih menarik dan unik. Adapun cara itu sudah mereka lakukan sejak Pesmaba 2023 lalu. “UMM memang selalu membuat tren baru. Dulu di 2014 kami menjadi pioner flashmob, sekarang kami juga datang dengan tren flashlight memanfaatkan gawai para mahasisa baru. Hal itu tentu memudahkan dan memberikan kesna unik,” katanya. Dalam kesempatan itu, para maba UMM membentuk dua formasi utama. Pertama, formasi dengan tulisan ‘Menyala UMMku’ sebagai komitmen untuk terus menyala dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Kedua, yakni formasi ‘Menyala Mabaku’ yang menjadi harapan agar para mahasisa baru bisa mengembangkan potensi dan bakatnya, kemudian menyala serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Gelaran spektakuler itu membuat takjub para mahasiswa baru. Salah satunya Zafira Azzahra Putri, mahasiswa manajemen asal Kalimantan timur. Ia mengaku senang dan bahagia bisa bergabung dengan UMM, apalagi Pesmaba tahun ini sangat meriah. Ia menilai hal itu membuatnya lebih bersemangat mengawali proses perkuliahannya di Kampus Putih. “Seru sekali, apalagi dengan adanya atraksi flying board dan flying fox. Kemudian juga formasi flashlight yang tidak ada duanya. Keseruan ini tentu akna viral dan membuat Pesmaba tahun ini semakin menarik perhatian masyarakat luas. Semoga berbagai pesan yang ada di pesmaba ini bisa kami laksanakan dan mampu mendorong kami menjadi generasi unggul yang siap wujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Wil)
Ribuan Orangtua Hadiri Silaturahmi Wali Maba UMM

Lulus dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak harus dengan skripsi, ada skema-sekma lain yang bisa ditempuh oleh mahasiswa. Hal Itu ditegaskan langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. di hadapan ribuan wali mahasiswa baru (Maba) pada 7 September 2024 lalu. Adapun agenda tersebut merupakan Pertemuan Wali Maba Kampus Putih tahun ajaran 2024-2025 dengan para pimpinanan UMM. Lebih lanjut, Nazar menjelaskan bahwa jika hanya menggunakan skripsi sebagai satu-satunya skema tugas akhir, maka hal itu akan membatasi kreativitas mahasiswa. Terutama dalam pengembangan minat dna bakatnya. “UMM menyediakan berbagai mekanisme ekuivalensi tugas akhir. Jadi tugas akhir itu tidak selalu melalui skripsi. Namun juga bisa berupa publikasi jurnal imiah bereputasi, penelitian, mekanisme Center of Excellence, bahkan dengan berbagai prestasi lainnya termasuk dibidang non-akademik. Itu sengaja kami berikan agar mahasiswa bisa menjelajahi lebih jauh minat dan bakatnya,” jelasnya Ia juga menerangkan bahwa sistem pembiayaah di UMM sangatlah fleksibel. Orang tua mahasiwa dapat melakukan pembayaran SPP sebanyak dua kali dalam satu semester. Bahkan untuk pembiayaan Dana Pengembangan Pendidikan (DPP) bisa hingga 12 kali selama perkuliahan. “kebetulan saya ini seorang ekonom, jadi tahu betul situasi dan kondisi ekonomi saat ini. Bisa dikatakan, kondisi saat ini belum begitu stabil pasca pandemi Covid. Masih banyak sektor yang mengalami penurunan tingkat, termasuk daya beli masyarakat. Hal itu pasti berpengaruh pada tingkat penerimaan pendapatan. Jadi skema pembiayaan di UMM ini kami desain sedemikian rupa untuk memberikan relaksasi dalam pembayaran,” jelasnya. Sementara itu, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa UMM memberikan sederet kepastian kepada seluruh mahasiswa dan juga orangtua. Di antaranya Pasti Lulus Tepat Waktu, Pasti Bekerja, dan Pasti Mandiri. Menurutnya, hal itu menjadi bentuk komitmen sebuah kampus kepada seluruh mahasiswanya. “Jika bapak ibu sekalian tanya ke kampus, kapan anak saya bisa lulus? Jawaban yang sering diberikan kampus-kampus selalu bergantung pada mahasiswanya dalam menjalani kuliah. Tapi itu menurut saya bukanlah jawaban yang bertanggung jawab. Maka bisa kami pastikan, anak bapak ibu sekalian bisa lulus tepat waktu dengan bekal skill di berbagai program UMM,” tegasnya. Fauzan juga menjelaskan program unggulan UMM, yakni Center of Excellence (CoE) berbasis program studi yang menjadi wadah mahasiswa dalam menningkatkan minat dan bakatnya. Nantinya mahasiswa dapat lebih fokus pada peminatan yang ingin ditekuni. “Kita ambil contoh di program studi peternakan, disitu ada CoE Kelas Profesional Unggas dan Ruminansia. Mahasiswa bisa memilih salah satunya jika ia benar-benar meminati kelas tersebut. Kelas itu juga kerja sama langsung dengan Mitra dari Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Mereka bisa langsung belajar dan praktik, serta sebagai bonusnya juga bisa langsung bekerja di sana bahkan ketika masih belum lulus kuliah,” terangnya. Terakhir, Fauzan berterimakasih kepada seluruh wali maba yang telah mempercayai putra putrinya menjadi bagian jas merah kampus putih. Ia juga berpesan kepada seluruh wali maba untuk tetap memantau perkembangan putra putrinya selama menempuh pendidikan di UMM. “Orangtua jangan sampai putus komunikasi dengan anak selama kuliah. Saya yakin, bapak dan ibu sekalian yang mempercayakan putra putrinya di UMM memang tahu betul akan reputasi UMM di kancah nasional hingga internasional,” pungkasnya. (Faq/Wil)
UMM Pertegas Komitmen Jadi Kampus Inklusi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung inklusivitas di lingkungan akademik. Salah satunya dengan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pembentukan Lembaga Layanan Disabilitas (LLD). Acara ini diselenggarakan pada 4 September lalu dan diikuti puluhan skretaris prodi dan kaprodi dari berbagai program di UMM. FGD ini menghadirkan dua pemateri utama, yakni psikolog Siti Suminarti Fasikhah dan Ni’matuzahroh. Mereka memaparkan tentang pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan ramah bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus. Dalam sesi diskusi, Siti Suminarti Fasikhah menekankan bahwa inklusivitas bukan hanya sekedar label. Namun merupakan upaya berkelanjutan yang harus diwujudkan melalui kebijakan, sarana prasarana, serta dukungan yang menyeluruh bagi seluruh sivitas akademika. Di sisi lain, Ni’matuzahroh selaku pemateri kedua menilai bahwa UMM telah lama membuka peluang bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus dan beragam karakteristik. Termasuk di dalamnya terkait hambatan fisik, kognitif, sosial, dan emosi. “Upaya untuk memodifikasi proses dan evaluasi pembelajaran sudah dilakukan. Namun dengan adanya LLD, diharapkan komitmen ini semakin kuat dan terintegrasi,” katanya menegaskan. Selama ini, UMM terus menunjukkan dedikasinya terhadap prinsip education for all. Melalui FGD ini, berbagai program studi di UMM diharapkan dapat lebih memahami dan meningkatkan kapasitas mereka dalam mendukung mahasiswa berkebutuhan khusus, sehingga tercipta suasana belajar yang adil dan setara. Adapun pembentukan LLD di UMM merupakan langkah strategis untuk menyatukan berbagai upaya yang telah dilakukan secara terpisah menjadi satu lembaga yang terstruktur dan terarah. LLD akan berfungsi sebagai pusat koordinasi dan pengembangan layanan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, serta memberikan pelatihan bagi tenaga pendidik dan staf dalam menangani kebutuhan khusus di lingkungan kampus. Ni’matuzahroh melihat, terselenggaranya FGD ini juga menjadi upaya UMM untuk mempertegas peranannya dalam mendukung inklusivitas. Selain itu juga langkah untuk memastikan bahwa seluruh mahasiswa, tanpa terkecuali, dapat meraih pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan mereka. (*/Wil)