Dirjen Kemenag Hadir Beri Motivasi Wisudawan UMM

Segala hal di dunia memang sulit, namun akan terasa mudah jika sudah dibiasakan. Hal itu ditegaskan langsung oleh Prof. Dr. Abu Rokhmad, M.Ag. selaku Direktur Jenderal Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia di hadapan ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang. Ia berkesempatan memberikan cerita sukses dalam gelaran Wisuda ke-115 UMM, 29 Agustus lalu. Menariknya, ia juga merupakan alumnus Kampus Putih UMM. “Semua itu sulit, mulai dari bangun tidur, belajar, bekerja, mencari pasangan, dan lain sebagainya. Saya pastikan itu sulit, kenapa bisa sulit? Karena belum dibiasakan dan belum punya ilmunya. Jadi, tugas kalian para wisudawan yakni memastikan yang sulit itu menjadi mudah,” ungkapnya. Menurutnya, ilmu, pengalaman, serta kemauan menjadi kunci untuk merubah hal yang sulit itu menjadi mudah. Seperti dengan kisah hidupnya yang merupakan anak dari pedesaan. Ia menceritakan perjalanan hidupnya yang cukup menantang, mulai menjadi seorang kuli bangunan hingga marbot masjid. Menurutnya, perjalanan yang cukup melelahkan tersebut bisa dikonversi menjadi modal tekad untuk terus semangat dalam menggapai cita-cita. “Dari seorang marbot, kini menjadi dirjend. Itu merupakan bentuk nyata bahwa semua memiliki kesempatan yang sama. Tinggal bagaimana kita sendiri yang menentukan untuk terus berusaha dalam menggapai cita-cita atau hanya memilih diam saja. Bahkan saya lebih optimis kepada teman-teman wisudawan sekalian. Kalian kini memiliki akses belajar yang lebih mudah, harusnya bisa lebih siap dalam menghadapi tantangan global,” tegasnya. Sementara itu, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menerangkan bahwa untuk bisa menghadapi kehidupan ke depan, anak muda harus mampu selalu mengawal cita-cita. Banyak sekali orang yang gagal menggapai cita-cita karena terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Menurutnya, seseorang harus mempunyai pendirian, keyakinan, serta kemauan yang kuat untuk menggapai apa yang dicita-citakan. “Saya ingin berkisah sedikit. Jadi, ada sebuah perlombaan memanjat gedung, dan ikutlah beberapa katak. Melihat itu, banyak sekali katak lain yang menyoraki dan berkata bahwa itu adalah hal yang mustahil. Namun ada satu anak katak yang berhasil mencapai puncak dan ternyata anak katak itu tuli sehingga tidak dapat mendengarkan sorakan itu tadi. Maknanya apa? Jangan mudah terpengaruh dengan ucapan dan pengaruh lingkungan yang destruktif,” kisahnya. Senada dengan Fauzan, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddi Malik, M.Si. menerangkan bahwa saat ini anak muda menghadapi tantangan rasa bosan. Rasa bosan yang dimaksud ialah rasa bosan dalam menjalani aktivitas, termasuk yang sifatnya positif. Menurutnya, itu merupakan ancaman serius dalam proses menuju kesuksesan. Nazar sapaan akrabnya memastikan, lulusan UMM memiliki etos kerja yang profesional dan tentu dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan persyarikatan Muhammadiyah. Apalagi mengingat bahwa UMM telah memberikan bekal terbaik bagi para mahasiswanya untuk menghadapi keanekaragaman problem kehidupan. “Sikap solutif, kreatif, dan inovatif pasti dimiliki oleh para mahasiswa UMM. Segala bentuk capaian dan proses belajar di UMM merupakan bekal kompleks untuk menghadapi tantangan kehidupan yang kompleks pula. Saya ucapkan selamat dan semangat untuk menyambut kehidupan yang sebenarnya,” pungkasnya. (Faq/Wil)
Beri Kontribusi, Mahasiswa UMM Bantu Langsungkan Festival Keramik Dinoyo

Bulan Agustus identik dengan hari kemerdekaan dan beragam perayaannya. Hal itu pula yang terlihat di Kampung Wisata Keramik Dinoyo Malang. Didukung oleh tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mereka mengadakan festival keramik dan festival lomba melukis keramik pada pertengahan Agustus ini. Bahkan pameran keramik itu berlangsung hingga akhir tahun 2024 nanti. Turut ikut ratusan peserta dan pengunjung yang meramaikan. Adalah Birrina Fara Adyba sebagai ketua, Zafira Auzia Najwa, Elma Bilqis Zahrani, Cindy Aurora Dwiyuniar, dan Inggrid Mahkota Defrilia yang turut membantu jalannya agenda. Mereka yang tergabung dalam program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) UMM itu menilai masyarakat kurang mengetahui seluk beluk terkiat keramik. “Sehingga kami akhirnya ikut serta dalam bagian promosi acara melalui media digital, dokumentasi, serta persiapan dan pelaksanaan kegiatan. Ini juga menjadi cara PMM kami untuk membantu masyaraka sekitar,” kata Birrina menambahkan. Sementara itu, dukungan dan bantuan mahasiswa UMM mendapat apresiasi. Menurut Syamsul Arifin selaku Ketua Kelompok Sadar Wisata Kampung Keramik Dinoyo, para mahasiswa PMM menebar manfata di berbagai aspek. Adapun penyelenggaraan pameran tersebut tidak lain meningkatkan awareness serta interest para warga sekitar Dinoyo. Festival tersebut menampilan berbagai macam hasil karya keramik yang telah diproduksi oleh Kampung Keramik Dinoyo. Mulai dari produk berupa guci, wadah alat melukis, asbak, lonceng, wadah aroma terapi, piring, dan lain-lain. Berbagai produk keramik tersebut juga dijual dengan harga terjangkau. Mulai dari Rp12.000 hingga ratusan ribu rupiah. Tidak hanya itu, dalam kegiatan pameran ini juga terdapat pelatihan khusus terkait melukis keramik. Hanya dengan Rp45.000 rupiah, peserta bisa mendapatkan satu keramik dan alat melukis yang juga nantinya dapat dibawa pulang. Hal menarik lainnya adalah adanya festival melukis keramik yang diikuti anak-anak TK, SD, hingga SMP. Para peserta mendapatkan sertifikat, alat serta bahan untuk melukis, celemek, dan lain-lain. “Harapannya, agenda ini menajdi suatu wadah dan ruang untuk masyarakat untuk mengetahu keramik. Selain itu juga menciptakan generasi baru yang ingin belajar banyak mengenai keramik,” ujarnya. Di sisi lain, salah satu pengunjung Adinda Fitri menilai, festival yang dilaksanakan tidak hanya menjadi hiburan semata. Namun juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. “Alhamdulillah bisa ikut serta dan lebih mengenal keramik. Semoga kegiatan ini bisa dilaksanakan setiap tahun secara rutin. Dengan begitu, keseruan akan keramik juga bisa dirasakan masyarakat,” katanya. (Zaf/Wil)
Siapkan Generasi Cakap, PBA UMM Hadirkan Praktisi Penerjemah Bahasa Arab

Bekali mahasiswa untuk hadapi tantangan dunia kerja, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali datangkan para founder perusahaan penerjemah profesional. Mereka hadir dan memberikan kuliah praktisi melalui program unggulan UMM Center Of Excellence (CoE). Adapun agenda itu dilaksanakan pada 20 Agustus lalu dan diikuti puluhan mahasiswa peserta CoE. Salah satu yang memberikan materi adalah Managing Director CMM Translation Rika Agusmelda. Ia menyampaikan terkait pola pikir wirausaha untuk memasuki dunia kerja. Menurutnya, wirausaha memainkan peran penting dalam mendukung kestabilan ekonomi negara. namun sayangnya, di Indonesia masih ada gap rasion entreprenuer sekitar 3,47% dari total penduduk Indonesia. Angka ini tentu jauh jika dibandingkan dengan negara-negara maju. “Kekurangan jumlah wirausaha ini bisa berdampak pada tingkat pengangguran yang tinggi. Selain itu juga pertumbuhan ekonomi yang lambat dan kurangnya daya saing global,” terangnya. Rika melanjutkan, untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya upaya untuk membentuk generasi yang memiliki skill wirausaha. Selain itu, pola pikir kewirausahaan, pengetahun dan keterampilan, modal, serta perencanaan matang juga sangat menentukan. Hal itu agar anak-anak muda tidak salah mengambil langkah. Sementara itu, turut hadir Addie Priwibowo yang juga sebagai pemateri yang menerangkan mengenai persiapan menuju dunia kerja dari sisi informasi teknologi. Menurutnya, sebagai seseorang yang nantinya terjun di dunia kerja atau memiliki perusahaan sendiri, maka seyogyanya bisa menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi agar memudahkan proses pekerjaan. “Teknologi tentu akan memberikan kemudahan dan kecepatan yang lebih baik. Dengan menguasai teknologi, pekerjaan yang banyak bisa dilakukan dengan lebih mudah. Maka, penggunaan teknologi dalam berbisnis adalah sebuah kebutuhan yang vital. Beberapa aplikasi utama yang harus dikuasai misalnya Microsof Office, Google Workspace, Cloud, PDF, Artifical Intellegence (AI), data compress (WinZip, WinRar), hingga video editing,” tambahnya mengakhiri. (*/Wil)
Tim Dosen UMM Kembangkan Desa Agrowisata di Pasuruan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak bosan-bosan berkontribusi kepada masyarakat. Kini, melalui Progam Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) tim UMM bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk Pengembangan Desa Binaan (PDB). Program yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sujono, M.Kes. ini melanjutkan pendampingan agrowisata di Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, yang kini memasuki tahun kedua. Sujono menjelaskan bahwa pada tahun kedua ini, program pelatihan dan pendampingan difokuskan pada dua kegiatan utama. Pertama, yakni penataan lanskap di area seluas tujuh hektar yang akan dijadikan lokasi agrowisata berbasis tanaman sayuran serta taman bunga. Kemudian yang kedua adalah persiapan pembukaan agrowisata yang difokuskan pada pengembangan kuliner khas desa. “Dengan penataan ini, diharapkan agrowisata Desa Sumbergedang dapat menjadi daya tarik wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga edukasi tentang pertanian dan keanekaragaman hayati,” jelasnya. Adapun program ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi alam yang dimiliki desa tersebut agar dapat berkembang menjadi agrowisata yang mandiri dan sejahtera. Desa Sumbergedang dikenal memiliki keindahan alam yang luar biasa. Terletak di antara Gunung Arjuno di sebelah barat dan Gunung Penanggungan di sebelah timur, desa ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Ditambah lagi, desa ini memiliki sumber air yang mengalir sepanjang tahun. Menjadikannya lokasi yang sangat potensial untuk pengembangan agrowisata. Dalam prosesnya, Sujono tidak sendiri. Ia ditemani Dr. Ratih Juliati, M.M., Jamroji, M.Kom, serta Muhammad Nurul, M.M., M.P. yang bersama-sama memberikan pelatihan dan pendampingan komprehensif kepada masyarakat setempat. Misalnya saja mempersiapkan berbagai produk kuliner berbasis minuman tradisional, seperti sinom dan beras kencur. Begitupun dengan pengembangan olahan pisang yang sesuai dengan nama desa yakni Sumber Gedang yang memiliki arti sumber pisang. “Sesuai dengan nama desanya yakni sumbergedang. Jadi SDA disini itu lebih banyak pisang dengan jenis yang variatif. Pelatihan dan pendampingan diberikan kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) setempat untuk meningkatkan kualitas produksi. Mulai dari pemilihan bahan baku yang berkualitas, proses produksi yang higienis, pengemasan yang menarik, hingga pengurusan sertifikasi halal dan pemasaran digital,” lanjutnya. Menariknya, untuk mendukung peningkatan produksi, para pelaku UKM juga menerima bantuan alat-alat seperti mesin perajang serbaguna, pengemas plastik otomatis, dan pengemas minuman. Mesin perajang serbaguna ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan keripik dalam tiga bentuk, yaitu chips atau lempeng, stik, dan dadu, dengan kapasitas produksi mencapai 30–40 kg/jam. Dengan adanya program ini, Sujono dan tim berharap kapasitas produksi keripik dan minuman khas desa dapat meningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Selain keripik pisang, UKM di Desa Sumbergedang diharapkan mampu memproduksi berbagai jenis keripik lainnya, seperti keripik ketela, singkong, kentang, dan wortel, dalam berbagai bentuk. (*/Faq/Wil)
PWM-UMM Beri Pelatihan Hisab dan Kalender Hijriyah Global Tunggal

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipercaya menjadi tuan rumah Sosialisasi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) dan Pelatihan Hisab yang diselenggarakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Dalam agenda yang dilaksanakan pada 24-25 Agustus itu, hadir ratusan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Agenda akbar tersebut dibuka langsung oleh Sekretaris PWM Jawa Timur Prof. Dr. Biyanto, M.Ag. Ia menegaskan kembali perjalanan KHGT yang dimulai dari pembicaraan dokumen-dokumen organisasi sejak Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tahun 2015 silam. Kemudian, dikuatkan kembali pada Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo, Surakarta tahun 2022, hingga disinggung kembali dalam Konsolnas Muhammadiyah, Juli lalu. “Dari hasil 9 risalah Konsolnas Muhammadiyah kemarin disampaikan bahwa KHGT dan kewajiban kita untuk mensosialisasikan itu merupakan bagian yang penting untuk terus kita follow-up. Ini adalah hal yang sangat penting bagi kita untuk meneguhkan kembali semangat sila-sila dalam risalah Islam berkemajuan. Salah satu sila yaitu mengembangkan tajdid dan ijtihad yang bisa direalisasikan dengan KHGT,” ujarnya. Ia berharap dengan kegiatan forum sosialisasi, diskusi, sekaligius pelatihan selama dua hari itu mampu memberikan pemahaman lebih dalam tentang KHGT dan hisab. Selain itu juga menjadi upaya mengawal peradaban Islam, baik saat ini maupun masa depan. Sementara itu, Ketua MTT PWM Jawa Timur Dr. Ahmad Zuhdi Dh, MA. menyampaikan apresiasi dan berterimakasih atas kerjasama PWM Jatim dengan UMM yang berhasil merealisasikan agenda tersebut. Ia menjelaskan, proses perjalanan dari inovasi KHGT ini tidaklah mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Selain itu, perlu banyak pertimbangan rasionalitas hingga terbentuk satu kesepakatan, seperti halnya dalam kesepakatan penentuan waktu secara wujudul hilal. Di akhir, Ia berharap para peserta harus lebih dulu paham tentang KHGT dan keistimewaanya, sebelum menyampaikannya pada warga Muhammadiyah. Pada kesempatan yang sama, hadir Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. Menurutnya, Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang memiliki semangat kemajuan, inovatif, dan pemikiran yang strategis. Adapun penerapan KHGT menjadi salah satu yang sangat strategis. Setidaknya bisa meminimalisir persoalan-persoalan yang menimbulkan perdebatan didalam prosesnya. Untuk itu, UMM sangat menyambut kegiatan sosialisasi ini terkait dengan KHGT yang bisa jadi diluar sana ada yang berpendapat hal ini tidak realistis. (Din/Wil)
Hadir sebagai Alumnus, Kepala BPSDM Jatim Beri Tips pada Wisudawan UMM

Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) harus menjadi kader militan bukan kader yang meletan. Hal itu selalu terngiang di benak Dr. Ramliyanto, SP., MP., selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur yang merupakan alumnus Kampus Putih UMM. Ia juga berkesempatan memberikan orasi ilmiah di hadapan para wisudawan UMM pada 27 Agustus 2024 ini. “Motivasi itu diberikan oleh dosen dan rektor saat itu. Sehingga membuat saya dan teman-teman tidak menyerah dalam menghadapi berbagai keterbatasan. Hal itu juga yang harus dipegang teguh oleh para wisudawan,” katanya. Kehadirannya dalam acara wisuda ke-115 menjadi momen penuh rasa syukur dan bahagia baginya. Ia juga memberikan ucapan selamat kepada para wisudawan yang menyandang gelar akademik yang membanggakan. Ramli yakin, para wisudawan akan mampu mengatasi berbagai tantangan karena berbagai ilmu yang telah didapat. Ramli juga menceritakan perjalanannya hingga titik sekarang. Dimulai pada tahun 1999 di mana ia menjabat sebagai pegawai negeri sipil kementerian dalam negeri di Jawa Timur. Kemudian pada 2021 ia mendapat amanah menjadi Kepala Biro Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur. Sebuah lembaga yang bertugas dalam penataan kelembagaan, ketatalaksanaan, dan pelayanan publik serta reformasi birokrasi. Meskipun tugas yang diembannya tidak sesuai dengan jurusan yang ia ambil saat berkuliah, namun semangat yang ditanamkan oleh para dosen UMM membuatnya mampu memimpin proses reformasi birokrasi di Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan lancar. Bahkan ia telah mendorong berbagai inovasi pelayanan publik yang mendapat apresiasi ditingkat nasional hingga internasional. Ramli merasa bangga menjadi bagian dari UMM. Sebuah kampus yang telah membentuk dirinya menjadi sosok yang sukses dan berdedikasi tinggi dalam pengabdian kepada negara. “UMM bukan hanya kampus akademik, tapi juga kampus kehidupan. Di sini, saya mendapatkan bekal ilmu pengetahuan sekaligus bekal kehidupan yang sangat berharga,” ujarnya menutup. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa UMM merupakan ibu kandung kedua bagi para alumni Universitas Muhammadiyah Malang. Artinya, hubungan yang kokoh antara alumni dan kampus harus selayaknya hubungan anak dengan orangtua. Program-program yang ada di UMM juga sepenuhnya didedikasikan untuk menghasilkan insan-insan yang ulul albab. Kualitas seluruh proses yang ada selalu mengedepankan nilai komitmen UMM sebagai pusat unggulan Center of Excellence (CoE). Terakhir, ia mengatakan salah satu unggulan terpenting yang dimiliki UMM adalah memberi bekal kepada mahasiswa dan sivitas agar terbiasa mengasah kemampuan berpikir yang dilandasi agama dan kemauan kuat untuk belajar ilmu pengetahuan. Didukung oleh rasa kemanusiaan dan spiritual yang tinggi. Itulah karakter dari UMM Pasti dan UMM berkemajuan. (Zaf/Wil)
Mahasiswa Fisioterapi UMM Dikirim Belajar Vojta Teraphy ke Thailand

Dua mahasiswi Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (Fises) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkesempatan mengikuti pertukaran pelajar internasional di Thailand. Keduanya berhasil mendapatkan program International Student Exchange di Physical Therapy Mahidol University, Thailand. Adalah Syabina Zahra Rienanda dan Nur Halizah Rahma Dini yang merupakan mahasiswa tahun ketiga yang mengikuti program tersebut sejak Juni 2024 lalu. Adapun program ini sepenuhnya dibiayai oleh kampus melalui beberapa persyaratan dan seleksi. Program itu menjadi upaya Fikes UMM untuk melebarkan saya di dunia internasional. Zahra, sapaan akrabnya, sempat menceritakan kegiatannya di sana, terutama yang berkaitan dengan kesehatan. “Kami mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru yang sebelumnya belum pernah didapatkan di Indonesia, misalnya saja Vojta Therapy. Kami mempelajari teknik ini pada saat melakukan clinical practice di Klinik Pediatri Mahidol University bersama PT. Soraya. Alhamdulillah ada banyak hal yang bisa kami praktekkan nanti,” tandasnya. Adapun Vojta Therapy merupakan sebuah metode neuromuskular dinamis menggunakan prinsip refleks lokomotor dan kinesiologi. Metode ini dapat diberikan pada pasien dengan permasalahan sistem saraf pusat dan sistem muskuloskeletal di segala rentang usia. Menariknya, metode Vojta Therapy dikembangkan oleh Prof. Vaclav Vojta yang merupakan seorang spesialis neurologi anak pada abad ke-20 dan sekarang sudah banyak berkembang di Eropa. Metode ini memberikan banyak manfaat bagi dunia fisioterapi. Di sisi lain, Halizah juga turut bercerita pengalamannya di Thailand. “Tidak hanya Vojta Therapy, kami juga dikenalkan dengan beberapa modalitas lain seperti Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), Transcranial Direct Current Stimulation (TDCS), dan Peripheral Magnetic Stimulation (PMS). Hal ini tentu memperkaya pengetahuan dan ilmu yang sudah didapat di perkuliahan Fikes,” tegasnya. Kehadiran dua mahasiswa UMM di Mahidol University disambut baik oleh salah satu dosen, Dr. Jenjira Thanalamchokai. Menurutnya, hal-hal ini bisa menjadi modal yang sebenarnya hanya bsia didapatkan di tingkat master ataupun doktoral. “Namun, kamimendorong mahasiswa exchange untuk bisa mempelajari metode dan wawasan-wawasan terkait. kami memberikan kesempatan untuk mempelajari modalitas-modalitas tersebut,” katanya yang juga pakar neurologi. (*/Wil)
Alumnus UMM Ini Dirikan Banyak Bisnis Penerbitan dan Aktif Kegiatan Sosial

Dimulai dari sebuah hobi melakukan berbagai riset serta menulis, akhirnya alumnus Universitas Muhammadiyah Malang ini sukses mendirikan sebuah perusahaan penerbitan. Adalah Luthfi Jayadi Kurniawan alumnus UMM yang kini menjadi Direktur Utama serta Komisaris di PT. Citila Group. Ia merupakan alumnus angkatan 1989 program studi Kesejahteraan Sosial FISIP. Dari dulu, ia memang memiliki hobi menulis dan membaca. Hal itu mengatarkannya pada keinginan untuk mendirikan perusahaan, utamanya di bidang penerbitan. Kini ia telah memiliki beberapa perusahaan yang telah berkembang di berbagai bidang. Mulai dari perusahaan yang bergerak di aspek percetakan, perusahaan media, perusahaan distribusi dan online shop, tour and travel, dan mengoperasikan jaringan toko buku di Indonesia. Itu juga menjadi caranya untuk menampung ide-ide masyarakat dan anak muda agar bisa tertuang dalam karya buku. Hingga saat ini, ia telah banyak membantu membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat disekitar. Ia mengatakan, keberhasilannya tak lepas dari fasilitas kampus UMM seperti perpustakaan yang cukup bagus. Berkat fasilitas perpustakaan tersebut, para mahasiswa mendapatkan wadah untuk memperoleh berbagai ilmu secara mudah dan gratis. Tidak hanya itu, lingkungan yang ada di kampus turut membantu menjadikannya seorang aktivis mahasiswa. Luthfi sapaannya, juga menggarisbawahi pentingnya lingkungan sosial di UMM dalam membentuk karakter mahasiswa. Melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan dan organisasi, mahasiswa Kampus Putih didorong untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan kreativitas, dan membangun relasi sosial yang kuat. Hal ini sejalan dengan visi UMM untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepribadian yang tangguh dan berintegritas. Hal itupula yang membuatnya berani ambil risiko dan berupaya meraih mimpinya. Selama masa kuliah ia banyak aktif diberbagai organisasi ekstra maupun intra kampus. Dalam organisasi intra kampus ia aktif pada himpunan mahasiswa jurusan Kesos, kemudian menjadi ketua umum senat mahasiswa FISIP, dan juga pemimpin majalah mahasiswa FISIP “Muara”. Setelah menempuh jenjang perkuliahan, ia menjadi seorang aktivis sosial. Sehingga banyak pengalaman yang didapatkan ketika ia melakukan advokasi sosial dan menjadi pendamping para buruh, petani, serta masyarakat miskin. Menurutnya, menjadi seorang aktivis sosial telah mengantarkannya dalam menekuni berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Misalnya aktif dalam kegiatan Non Goverment Organitation (NGO), menjadi ketua Ikatan Pekerja Sosial Jawa Timur, menjadi pembina di yayasan pendidikan politik dan peradaban, serta kegiatan sosial lainnya. Bahkan pada tahun 2019 ia sempat terpilih menjadi 10 besar calon pimpinan KPK oleh Presiden RI. “Saat saya menjadi seorang mahasiswa Kesos, saya sangat menikmati banyak pengalaman dan ilmu yang telah didapatkan. Pengalaman secara akademik dan non akademik sangat membantu menumbuhkan karakter saya,” ujarnya. Terakhir, ia berpesan kepada para mahasiswa UMM agar mampu memiliki dedikasi karakter pribadi yang baik, mempunyai kapasitas sosial dan akademik yang unggul. Sehingga nantinya mampu menjadi penggerak serta penuntun dalam membangun peradaban masyarakat. (Zaf/Wil)
Lulus 100%, UMM Angkat Sumpah dan Lantik Ners 27

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar Angkat Sumpah Profesi dan Pelantikan Ners ke-27 di Ballroom Rayz Hotel UMM. Menariknya, para ners tersebut lulus 100%. Acara semakin khidmat dengan hadirnya para orangtua wali mahasiswa, baik secara luring maupun daring dari berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia. Dengan pembacaan basmalah, forum sidang Angkat Sumpah Profesi dan Pelantikan Ners 27 dibuka oleh DPW PPNI Provinsi Jawa Timur pada 21 Agustus lalu. Kemudian, forum dilanjutkan dengan pembacaan Laporan Pendidikan dan SK kelulusan ners yang dibacakan oleh Sunardi, M. Kep sebagai Kaprodi Pendidikan Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM. Dinyatakan sebanyak 69 mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Ners FIKES UMM dinyatakan 100% lulus Uji Kompetensi Nasional (Ukomanas). Adapun mahasiswa lulusan ners terbaik adalah Dinda Putri Safitri dengan IPK 3,96 dan disusul terbaik kedua Indah Beliana Fauziah dan terbaik ketiga Nabilah Widya dengan total IPK yang sama. “Selamat pada mahasiswa prodi Ners FIKES UMM angkatan 27. Kalian hebat. Alhamdulillah, dalam 2 tahun berturut-turut kalian lulus 100%. Ini tidak lepas dari pembinaan akademik yang terstruktur, penyiapan rumah sakit yang mumpunj, dan persiapan mental yang terus-menerus dilakukan oleh seluruh sivitas akademika Fikes UMM,” ungkapnya. Pelantikan dan pengambilan sumpahprofesi ners dipandu oleh Dekan Fikes UMM, Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp. Kom. Ia berpesan bahwa sumpah yang diucapkan mengandung tanggung jawab terhadap bangsa dan negara Republik Indonesia. Begitupun dengan memelihara Pancasila, UUD 1945, serta demi kesejahteraan rakyat. Yoyok juga sangat mengapresiasi para orangtua wali Mahasiswa dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang sudah menyempatkan hadir membersamai di momen penting tersebut. Ia menyampaikan, Prodi Pendidikan Profesi Ners UMM berhasil meluluskan 100% mahasiswa di Ukomnas yang sekaligus memperpanjang rekor UMM. Tak luput, Ia juga merasa sangat bangga dengan pencapaian dari proses panjang yang dilewati oleh para mahasiswa. “Saya berharap dan saya sepakat bahwa perjuangan ini jangan berhenti disini. Pasti, adik-adik akan terus berjuang. Dan salah satu hal yang menarik sekaligus pilihan alternatif di UMM untuk memperkuat apa yang sudah kita capai, adalah menjadi Perawat Diaspora. Hingga saat ini, sudah tercatat puluhan orang alumni Ners UMM yang bekerja di luar negeri dan sudah kita identifikasi, serta terus kami bangun komunikasinya. Ada yang berada di Jepang, Timur Tengah (Kuwait dan sekitarnya), Belanda, dan Jerman. Selain itu, Fikes UMM sudah memiliki kerjasama dengan salah satu Konsorsium Rumah Sakit di Jerman,” katanya. Lebih lanjut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. dalam sambutannya, menyampaikan bahwa, momen ini adalah sebuah proses yang tidak lahir begitu saja. Sumpah adalah bentuk isyarat yang bertahap hingga menjadi sebuah tekad. Tekad inilah yang nantinya selalu lterefleksikan dalam sikap dan tindak-tanduknya, baik dalam menjalani profesi dan kehidupan kemanusiaanya. “Khoirunnas Anfa’uhum Linnas memiliki makna yang mendalam dan sedapat mungkin kita menjadi orang pertama yang membantu dan memberi pertolongan dalam bentuk apapun. Itulah wajah penting dari apa yang kita sebut sebagai reputasi lulusan UMM,” ungkapnya. (Din/Faq)
Sepasang Suami Istri Lulus Bersama Dalam Program Doktor UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencatat momen bersejarah ketika sepasang suami istri, Hadinoto dan Eni Suhesti, menjalani ujian terbuka doktoral di hari yang sama pada 22 Agustus lalu. Keduanya adalah mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian di UMM, mereka dikenal memiliki semangat akademik yang tinggi dan komitmen kuat terhadap studi mereka. Adapun Hadinoto dengan penelitiannya yang berjudul Strategi Konservasi Burung Pada Berbagai Tipe Habitat di Kota Pekanbaru. Ia menyoroti peran penting burung dalam ekosistem dan mengamati dampak perubahan tutupan lahan di Provinsi Riau, yang sebagian besar didominasi oleh perkebunan monokultur, terhadap keanekaragaman burung. Ia juga menerangkan bahwa burung menjadi indikator kesehatan lingkungan, sehingga keberagaman habitat sangat penting untuk konservasi mereka. “Penelitian ini mengidentifikasi 34 famili, 75 jenis, dan 2.244 individu burung di enam tipe habitat yang berbeda di Pekanbaru. Dengan metode survei lapangan dan analisis SWOT, disusun strategi konservasi yang mendukung pertumbuhan dan pelestarian burung. Persepsi masyarakat terhadap burung di Pekanbaru secara umum baik, dengan skor rata-rata 104,03 (83,22%), yang menunjukkan kesadaran akan pentingnya konservasi burung,” jelasnya. Hadi sapaan akrabnya berharap hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah, akademisi, dan peneliti dalam upaya konservasi burung. Strategi yang diusulkan mendukung pelestarian dan pemanfaatan peluang konservasi yang ada, serta memberikan rekomendasi dalam penyusunan peraturan terkait pelestarian burung di Pekanbaru dan sekitarnya. Sementara itu, Eni Suhesti dengan penelitian yang Berjudul Model Rakitan Teknologi Peningkatan Kualitas dan Produksi Madu Apis mellifera L. Dengan Pakan Acacia crassicarpa menjelaskan bahwa. Penelitian tersebut bertujuan meningkatkan kualitas dan produksi madu dari lebah Apis mellifera di Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Riau, dengan menggunakan tanaman Acacia crassicarpa sebagai sumber pakan. Eni sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Acacia crassicarpa merupakan tanaman yang menghasilkan nektar sepanjang tahun dan sangat potensial untuk mendukung produksi madu. Ia mengaku Penelitian tersebut dilakukan dalam tiga tahap yakni survei komposisi dan produksi nektar pada berbagai usia tanaman, eksperimen pengaruh waktu panen dan umur tanaman terhadap kualitas dan produksi madu, serta penyusunan model teknologi untuk peningkatan kualitas dan produksi madu. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur tanaman dan waktu panen mempengaruhi kualitas madu, dengan waktu panen optimal 30 hari dan umur tanaman terbaik 8 hingga 18 bulan. Model teknologi yang disusun meliputi persiapan lokasi, perawatan koloni, dan pemanenan optimal. Model ini diharapkan dapat meningkatkan produksi madu berkualitas tinggi di daerah rawa gambut,” terangnya. Fenomena ini juga menginspirasi banyak mahasiswa lain, menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan dukungan yang kuat, mencapai tujuan akademik yang tinggi bukanlah hal yang mustahil. Jas Merah Kampus Putih sangat bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan akademik mereka dan berharap bahwa prestasi ini akan memberikan dampak positif yang luas, baik di kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum. Pencapaian Hadinoto dan Eni Suhesti ini memperlihatkan bahwa kesuksesan akademik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh sinergi yang tercipta dari hubungan yang mendukung dan semangat kolektif dalam mencapai tujuan bersama. (Faq)