Benarkan Puasa Ramadan Bermanfaat untuk Kesehatan? Begini Kata Dokter UMM

Puasa tidak hanya memiliki nilai ibadah, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang besar. Menurut dr. Mariyam Abdullah, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), puasa dapat meningkatkan metabolisme dan membantu proses detoksifikasi tubuh. Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan metabolisme yang bermanfaat, salah satunya adalah meningkatnya sensitivitas insulin. Kondisi ini berperan dalam mengendalikan kadar gula darah dan mencegahan terjadinya diabetes tipe 2. “Saat berpuasa, tubuh lebih efisien dalam mengatur gula darah, sehingga dapat menurunkan risiko diabetes. Selain itu, puasa juga mampu mengurangi faktor resiko penyakit jantung seperti penurunan tensi, kolesterol jahat dan trigliserida yang kesemuanya berperan dalam menjaga kesehatan jantung ” ujar dr. Mariyam. Tak hanya itu, puasa juga dapat mengurangi peradangan dalam tubuh, yang berperan dalam pencegahan penyakit kronis seperti radang sendi. Penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan proses autophagy, yaitu mekanisme pembersihan dan peremajaan sel-sel tubuh. Proses ini berperan dalam mendetoksifikasi tubuh serta mengurangi risiko berbagai penyakit degeneratif. Manfaat puasa tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga berdampak positif pada kesehatan mental. Selama berpuasa, tubuh menghasilkan keton yang dapat menjadi sumber energi bagi otak, sehingga seseorang cenderung lebih mampu mengendalikan emosi dan menjaga ketenangan diri. “Puasa dapat membantu seseorang lebih sabar dan mengendalikan emosi, sehingga berdampak baik bagi kesehatan mental secara keseluruhan. Hal ini juga dapat meningkatkan fokus dan mengurangi stres karena adanya keseimbangan hormon serotonin dan kortisol,” jelas dr. Mariyam. Meski memiliki banyak manfaat, dr. Mariyam juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan dan hidrasi selama berpuasa. Ia menyarankan agar selalu mengonsumsi makanan kaya serat, protein, dan lemak sehat agar energi bertahan lebih lama. Selain itu, asupan nutrisi yang cukup saat sahur akan membantu tubuh tetap bertenaga sepanjang hari. Menjaga pola tidur yang baik serta memilih aktivitas fisik yang ringan juga menjadi faktor penting agar tubuh tidak mudah lelah selama menjalani puasa. Bagi penderita maag atau masalah pencernaan lainnya, puasa bisa menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar puasa tetap aman bagi mereka. “Makanan berlemak, pedas dan asam bisa memicu produksi asam lambung berlebih, sehingga sebaiknya dihindari. Sebaliknya, pilih makanan yang aman untuk lambung seperti oatmeal, pisang, atau kentang rebus. Selain itu, hindari minuman berkafein seperti kopi dan teh yang dapat meningkatkan produksi asam lambung,” jelasnya. Selain penderita maag, mereka yang memiliki kondisi medis tertentu seperti diabetes atau penyakit jantung juga perlu lebih berhati-hati saat berpuasa. Dehidrasi dan hipoglikemia menjadi dua risiko utama yang harus diwaspadai. Oleh karena itu, memastikan asupan cairan yang cukup serta mengenali tanda-tanda dehidrasi seperti pusing, lemas, dan urine berwarna gelap sangatlah penting. Jika mengalami gejala hipoglikemia seperti gemetar, keringat dingin, dan pusing, sebaiknya segera berbuka dengan makanan yang mengandung gula. Dari sisi perbedaan manfaat kesehatan, puasa Ramadhan dan puasa intermiten memiliki prinsip yang hampir sama dalam hal detoksifikasi tubuh dan peningkatan metabolisme. Namun, puasa Ramadan juga memiliki manfaat spiritual yang tidak dimiliki oleh puasa intermiten. “Puasa Ramadhan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memberikan kesempatan bagi seseorang untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan disiplin diri, dan merasakan empati terhadap sesama yang kurang mampu. Dengan menerapkan pola makan yang sehat dan memperhatikan kondisi tubuh, puasa dapat berjalan dengan optimal tanpa mengorbankan kesehatan. Dengan persiapan yang baik, puasa tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara fisik dan mental,” tutupnya. (vin/wil)
Menarik, Dosen UMM Ceritakan Pengalaman Ramadan di Australia

Berpuasa bukan menjadi penghalang semangat belajar dan produktivitas dalam menjalani kehidupan sebagai akademis. Hal ini disampaikan Rosalin Ismayoeng Gusdian, M.A., Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah mengejar gelar doktor ke Negeri Kanguru. Ini adalah tahun ke-duanya menjalani studi dan penelitian sebagai mahasiswa program doctoral bidang pendidikan di University of New South Wales (UNSW), Australia. Meski tengah menjalani ibadah puasa di benua yang berbeda, Ia mengaku sangat menikmati aktivitas akademiknya. “Ibadah puasa adalah salah satu bentuk pengabdian kita sebagai hamba Allah SWT. Disamping itu juga banyak peristiwa besar pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW yang dilakukan saat berpuasa. Itulah yang memotivasi saya untuk tetap produktif beraktivitas di bulan suci Ramadan ini,” ungkapnya. Wanita yang akrab disapa Ocha tersebut sedang proses menyelesaikan studinya yang berjudul ‘Designing Pedagogical Translanguaging Tasks at Higher Education’. Studi yang dibimbing langsung oleh Prof. Andy Gao (leading researcher dalam bidang TESOL) ini mempelajari mengenai perspektif dosen bahasa inggris dalam mendesain pembelajaran yang mengintegrasikan translanguaging kepada peserta didik. Translanguaging sendiri merupakan salah satu pendekatan pembelajaran pendidik dengan menggunakan bahasa yang familiar dan sudah dikuasai oleh peserta didik. Ini merupakan salah satu metode bagi pendidik untuk mendukung dan mempermudah proses belajar peserta didik. Lebih lanjut, Ia membagikan experience Ramadan di masa peralihan antara summer ke musim gugur (autumn). Tak jauh berbeda dengan Indonesia, di Sydney, lama waktu berpuasa di awal Ramadan sekitar 14,5 jam, yakni sekitar pukul 05.00 – 19.30. Durasi tersebut juga akan semakin pendek ke belakangnya, begitupun juga terjadi penurunan derajat suhu mengingat mendekati musim dingin. Bulan Ramadan sangat identik dengan takjil dan pasar Ramadan. Menurutnya, Lakemba Night Market adalah salah satu spot ngabuburit sekaligus berburu takjil dan menu untuk berbuka yang wajib dikunjungi saat Ramadan di Australia. Dikelilingi berbagai suburb (subdivisi geografis) dengan jumlah komunitas muslim yang sangat besar, tempat ini dinobatkan sebagai pasar takjil terbesar di Australia. Menariknya, tak hanya menjadi tempat favorit umat Islam yang mayoritas adalah warga pendatang, ini juga menjadi ikon daya tarik penduduk lokal warga Australia sendiri. “Sebagai warga Indonesia yang dibesarkan oleh tradisi dan budaya, senang sekali rasanya dapat menghabiskan waktu ngabuburit dan berburu takjil bersama di Lakemba Night Market. Di sana juga banyak tersedia menu takjil dari berbagai daerah dan negara, terlebih lagi kuliner dari negara Timur Tengah mudah kita temui sepanjang jalan,” sambungnya. Menariknya, tak hanya pasar Ramadan, di Sydney juga terdapat banyak restaurant yang menjual menu makanan dan minuman khas Indonesia yang rasanya tergolong authentic. Meski demikian, Ocha mengaku tetap merindukan menu berbuka dan suasana Ramadan di kampung halamannya. Mulai dari menu berbuka dengan ikan pindang dan sayur bening bayam, hingga tradisi patrol saat sahur atau berpatroli saat sahur yang hanya bisa Ia rasakan di Indonesia. Di samping itu, Ia sangat bersyukur bisa berkesempatan mendapatkan pengalaman akademik dan sosial yang sangat berharga bersama UMM. (din/wil)
Rektor UMM di Depan Awak Media: Jurnalistik Bisa Majukan Bangsa

Tradisi yang selalu dijaga oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah buka puasa bersama media. Hal itu juga dilaksanakan UMM pada 17 Maret 2025 lalu. Kegiatan ini diselenggarakan bukan hanya sekadar bentuk penghargaan terhadap peran media, tetapi juga mencerminkan komitmen UMM dalam mempererat hubungan dengan pihak eksternal, khususnya wartawan. Hal itu dijelaskan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. Menurutnya, buka puasa bersama ini menjadi simbol sinergi yang baik antara kampus dan media. Ini tentunya mendukung perkembangan informasi dan pemberitaan yang akurat mengenai dunia pendidikan. Nazar melanjutkan, UMM mempunyai brand image yang kuat, dan selalu menonjolkan nilai-nilai kesatuan dalam ekosistem pendidikan kampus. UMM tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik, tetapi juga menciptakan lingkungan yang sehat untuk mendukung berbagai kegiatan di dalamnya. Salah satunya adalah keterlibatan mahasiswa dalam dunia jurnalistik. Melalui program-program yang ada, mahasiswa di UMM diberi ruang untuk berperan aktif dalam dunia pemberitaan di kampus. Hal ini terlihat jelas sejak tahun 1998, di mana setiap program studi (prodi) di UMM memiliki majalah sendiri, yang menjadi media bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan jurnalistik mereka. Contohnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Teknik (FT) memiliki majalah sendiri yang diberi nama Fokus dan Didaktika. Nazarudin juga memberikan pandangannya mengenai pentingnya hubungan antara kampus dan dunia jurnalistik. Ia juga membahas mengenaihubungan antara kampus dengan dunia jurnalistik. Menurutnya, proses akulturasi yang baik antara dunia jurnalistik dan kampus akan menegakkan nama baiknya sebagai lembaga yang memberi pencerahan, janji optimis, serta prakteknya kepada masyarakat. Ini membuktikan bahwa tidak ada yang dapat diselesaikan dengan baik tanpa kolaborasi yang kuat antara kedua pihak ini. Dia juga menyoroti isu yang sedang hangat menjadi perbincangan publik terkait tagar #KaburAjaDulu. Meski viral, namun ia melihat aspek berbeda. Misalnya terjadinya banyak deportasi yang terjadi di Kota San Francisco, khususnya di Bandara Los Angeles. Maka dari itu, media berperan vital dalam membangun citra positif Indonesia di mata dunia internasional., “Peran jurnalistik sangat penting untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa Indonesia jauh lebih baik daripada di mana pun,” tambahnya. Selanjutnya, Nazar juga memberikan penjelasan terkait cara menciptakan ekosistem pendidikan yang dinamis dan berkelanjutan. Jika ingin mahasiswa dapat tumbuh dan berkembang, maka perlu adanya suasana yang mendukung serta kegiatan yang mengandung unsur kreativitas dan inovasi. “Seiring berjalannya waktu, dunia kampus terus berkembang menjadi pusat yang melahirkan ide-ide baru yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tambahnya. Dalam konteks lebih luas, perkembangan politik Indonesia yang terus berubah dari Orde Lama ke Orde Baru menunjukkan betapa pentingnya transformasi ilmu, termasuk dalam bidang jurnalistik. Peran jurnalistik di kampus-kampus seperti UMM berperan penting dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi informasi dan komunikasi. Proses akulturasi jurnalistik kampus, ang menyatukan gairah jurnalistik ilmiah dan seni, berperan sebagai wadah untuk menumbuhkan pemikiran kritis dan konstruktif di kalangan mahasiswa. “Seiring berjalannya waktu, para jurnalis kampus turut berperan dalam merubah pandangan masyarakat tentang peran media dalam kehidupan sehari-hari,” katanya. Secara keseluruhan, peran jurnalistik di kampus tidak hanya terbatas pada dunia kampus itu sendiri, tetapi juga memberikan dampak yang lebih luas kepada masyarakat. UMM, melalui berbagai program dan kegiatan jurnalistik, berhasil menciptakan lingkungan yang sehat dan produktif. Mahasiswa dapat belajar dan berkontribusi secara langsung dalam mengatasi masalah-masalah sosial yang ada. Dengan demikian, pendidikan jurnalistik di UMM tidak hanya melahirkan jurnalis yang berkualitas, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. “Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengingatkan kepada jurnalis kampus dan komersial bahwa sesungguhnya engine of growth atau mesin pertumbuhan bagi sebuah bangsa terletak pada literasi jurnalistik yang memberikan energi optimis dan positif bagi masyarakat. Sehingga mereka berani menjawab tantangan dan memecahkan persoalan” tutupnya tegas. (din/wil)
Mahasiswa UMM Asal Afrika Ini Ungkap Beda Ramadan di Indonesia dan Negara Asalnya

Ramadan menjadi bulan yang penuh makna bagi umat Muslim di seluruh dunia. Termasuk bagi Boubacar Demba Barry, seorang mahasiswa asal Guinea, Conakry, Afrika Barat, yang kini tengah menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. Demba berbagi pengalamannya menjalani puasa di Indonesia serta perbedaan yang ia rasakan dibandingkan dengan negaranya. Ia yang telah tinggal di Indonesia selama enam bulan, mengungkapkan bahwa durasi puasa di Guinea dan Indonesia tidak jauh berbeda, yakni sekitar 15 jam. Namun, ada satu hal yang cukup kontras baginya. “Di negara asal saya, orang berpuasa di musim kemarau dengan cuaca yang panas, sedangkan di Indonesia, berpuasa di musim hujan dengan suhu yang lebih dingin,” ujarnya. Selain perbedaan musim, ia juga menemukan bahwa ada tradisi unik yang hanya ada di Indonesia. Salah satunya adalah kegiatan ngabuburit sebelum berbuka dan sahur on the road. Di Guinea, menurutnya, tidak ada tradisi seperti itu. “Biasanya, orang-orang hanya berkumpul di kedai kopi setelah bekerja untuk mengobrol hingga waktu berbuka tiba, tetapi tidak ada acara kumpul-kumpul khusus untuk berbuka atau sahur,” tambahnya. Meskipun begitu, ia merasa puas menjalani Ramadan di Indonesia. Menurutnya, cuaca yang lebih sejuk membuatnya lebih nyaman berpuasa dibandingkan di negara asalnya. Terkadang ia bahkan tidak merasa sedang berpuasa karena perbedaan waktu dan cuaca yang lebih bersahabat. Namun, ada tantangan tersendiri yang ia rasakan, yaitu sulitnya menemukan makanan khas Guinea untuk berbuka puasa. “Satu-satunya yang saya rasakan adalah kurangnya makanan yang biasa saya makan untuk berbuka puasa. Seperti lafidi, jenis makanan khusus yang saya sangat suka dan bubur yang terbuat dari beras atau jagung,” katanya. Meski begitu, ia tetap menikmati kuliner Indonesia. Dari sekian banyak makanan yang ia coba, nasi goreng serta nasi putih dengan ayam goreng atau bebek goreng menjadi favoritnya. Karena menurutnya rasanya yang enak dan cocok dengan seleranya. Pengalaman Ramadan di Indonesia bagi Demba tidak hanya memperkaya perspektifnya tentang budaya Muslim di negara lain, tetapi juga memberinya kesempatan untuk beradaptasi dengan tradisi baru. “Saya sangat menikmati Ramadan di sini. Meskipun ada beberapa hal yang berbeda, tetapi saya merasa nyaman dan bisa berpuasa dengan baik, saya berharap selama bulan Ramadan ini memohon kepada Allah SWT agar selalu memberikan kesehatan, akhlak dan karakter yang baik untuk menjalankan kewajiban agama ini. Semoga Allah SWT menerima doa-doa kita. Selain itu, agar saya dapat terus beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan dan realitas baru di Indonesia.” Pengalamannya menjadi cerminan bagaimana Ramadan tetap terasa istimewa di mana pun seseorang berada. Dengan berbagai perbedaan budaya dan tradisi, semangat ibadah dan kebersamaan tetap menjadi esensi utama dalam menjalani bulan suci ini. (vin/wil)
Mahasiswa UMM dan Ratusan Orang Patrol Sahur di Malang

Salah satu budaya asyik warga Indonesia saat bulan puasa adalah patrol membangunkan sahur. Hal itu pula yang mendorong tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng rombongan patrol Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk) di daerah Kebalen Wetan Gang 8 pada 16 Maret lalu. Ada lebih dari 250 orang yang turut serta berpatrol membangunkan sahur, ikut makan sahur bersama masakan hotel bintang empat, dan menyaksikan live cooking. Bahkan juga aktif bermain permainan serta membaca buku bacaan di Mobil Kamis Membaca (KaCa) sembari menunggu waktu sahur. Terkait kegiatan ini, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa UMM ingin terjun dan meramaikan kegiatan-kegiatan warga di bulan puasa. Termasuk berkolaborasi dalam aktivitas patrol yang mungkin hanya ada di Indonesia. Apalagi melihat antusiasme warga yang memang sangat bersemangat. Bahkan mereka memiliki lagu tersendiri untuk membangunkan sahur. Tidak hanya tim patrol saja yang hafal, hampir seluruh warga juga menghafalnya. “Selain itu, kami juga menyediakan live cooking dari salah satu hotel yang UMM punya, Rayz Hotel UMM. Begitupun makanan-makanan yang disediakan juga hasil masakan hotel Rayz. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim untuk mennjaga semangat dalam berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” tegasnya. Selain berpatrol bersama, UMM juga mendatangkan Mobil KaCa yang memberikan bacaan dan hiburan bagi anak-anak dan ibu-ibu. Ada ratusan buku anak-anak yang bisa dibaca dan dinikmati. Sementara ibu-ibu bisa turut serta bermain games menarik dan mendapatkan doorprize. Koordinator Mobil KaCa Hassanalwildan menjelaskan, kegiatan patrol sahur memang menarik. Apalagi jika ada buku-buku yang bisa dibaca untuk menunggu waktu sahur atau bahkan saat ingin berbuka. “Sebelumnya, Mobil KaCa juga turut serta menyediakan bacaan di kegiatan Ngabuburead maupun Sahur on The Road (SOTR) UMM. Mulai dari sahur di Pasar Besar, Ngabuburead di Gresik, Merjosari, hingga sahur bareng geng motor beberapa waktu lalu,” katanya. Di sisi lain, salah satu orang yang meramaikan patrol, Astrid mengaku senang akan kehadiran UMM. Apalagi Gerpakkk juga sangat aktif membantu membangunkan sahur. Berbagai fasilitas yang diberikan juga asyik dan menarik. Mulai dari makanan lebih dari 300 porsi, games-gemas menarik, merchandise dan lainnya. “Harapannya, UMM juga bisa kolaborasi dengan komunitas-komunitass lain atau warga-warga lain. Menyelenggarakan agenda yang serupa atau bahkan agenda yang lebih unik lainnya. Tidak hanya sata bulan puasa, tapi juga di bulan-bulan lainnya,” katanya berharap. (wil)
Pengurus Organisasi Mahasiswa UMM dibuatkan Retreat di Ramadan

Bulan Ramadhan menjadi bulan yang penuh dengan ibadah dan refleksi. Hal itupula yang mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk melangsungkan Baitul Arqam Organisasi Mahasiswa (Ormawa). Diikuti ratusan mahasiswa pengurus organisasi, agenda retreat tersebut dilaksankan selama tiga hari, dimulai sejak 13 Maret lalu. Dengan mengusung tema ‘Gerakan Ashabul Kahfi: Meneguhkan Gerakan Profetik dan Prestasi’ program retreat ini bertujuan untuk menginspirasi para mahasiswa agar dapat terus bergerak dalam gerakan positif dan prestasi, meski di tengah kesibukan sebagai aktivis. Layaknya retreat kepala daerah yang dilakukan pemerintah RI, ada berbagai pemateri yang memberikan masukan dan motivasi dalam agenda retreat tersebut. Bedanya, retreat untuk mahasiswa ormawa di UMM ini disebut dengan Baitul Arqam. Salah satu materi yang menarik disampaikan oleh Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si., selaku anggota Badan Pembina Harian UMM. Ia membahas tema ‘Dari Aksi ke Prestasi: Cara Aktivis Mengelola Potensi untuk Masa Depan Gemilang’. Melalui pemaparan materi yang sangat keren ini, dia berharap para peserta dapat lebih termotivasi untuk menorehkan banyak prestasi, sembari tetap berkiprah dalam dunia pergerakan sebagai aktivis. Menurutnya, setiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda, baik dalam dunia akademik maupun non-akademik. “Setiap orang memiliki kapasitas yang bisa terus dipupuk, salah satunya dengan berpartisipasi dalam kegiatan positif seperti pendidikan, pelatihan, pengalaman, serta motivasi,” tambahnya. Menurutnya, mengembangkan potensi diri juga tak hanya bergantung pada usaha, namun juga doa kepada Allah, amal sholeh, dan keputusan pribadi yang tepat. Pandai memilih lingkungan saat berkuliah adalah langkah yang sangat tepat agar mereka dapat berprestasi. Lingkungan yang baik dapat memberikan dampak positif dalam perkembangan pribadi. Apapun kegiatan yang dilakukan, selama itu berdampak positif, maka peluang untuk meraih prestasi akan terbuka lebih lebar. Tak lupa, dia juga berbagi kisah sukses beberapa alumni UMM yang kini telah berhasil mengukir prestasi gemilang, seperti Prof. Fauzan, Hilmi Faiq, Ali Muthohirin, Abdur dan masih banyak yang lain. “Mereka yang tetap optimis meskipun peluang yang ada terlihat sempit, justru dapat membuka jalan sukses yang lebih lebar,” tegasnya. Melalui kegiatan Baitul Arqam ini, para mahasiswa UMM juga diajak untuk tidak hanya berkesibukan pada dunia akademik saja, tetapi juga untuk mengasah keterampilan diri dan terus berkembang dalam berbagai bidang. Dengan dukungan motivasi dari pembicara yang sangat kompeten, para peserta diharapkan dapat mengembangkan diri dan menjadikan bulan Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk memperbaiki kualitas diri, serta terus mengejar prestasi yang lebih gemilang. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. juga memberikan wawasan berharga mengenai pentingnya ilmu dan iman dalam kehidupan seorang aktivis. Mengutip dari QS. Al-Mujadillah ayat 11, Tri menegaskan bahwa seseorang yang memiliki ilmu dan iman akan meninggikan derajatnya di hadapan Allah dan manusia. Selain itu, Tri juga menyoroti pentingnya keterampilan dalam mengatur waktu bagi seorang aktivis, terlebih bagi mahasiswa yang ingin berprestasi di dunia akademis. “Seorang aktivis harus bisa mengatur waktu dengan baik. Kuliah dan berprestasi itu dapat berjalan beriringan, tidak ada yang saling menghalangi,” katanya.Adapun acara ini menjadi bukti bahwa Ramadhan bulan merupakan bulan yang penuh dengan kesibukan dan ibadah. Selain itu juga dapat menjadi waktu yang sangat tepat untuk melakukan kegiatan positif dan berdampak besar dalam kehidupan. Dengan semangat yang membara, segala potensi dapat dikembangkan agar masa depan dapat lebih sukses dan berkualitas. (nam/wil)
Ngabuburit UMM, Hibur Warga Pakai Angklung hingga Bermain Golf

Meski diiringi hujan deras, tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) masih sigap langsungkan agenda Ngabuburead. Bersama Seniman Angklung Jalanan, Tim UMM Hibur warga sekitar Taman Merjosari, Malang pada 13 Maret 2025 ini. Selain bermain musik, mereka juga menyajikan berbagai games, merchandise, dan permainan golf. Selain itu membagikan takjil dan es dukungan dari Rayz Hotel UMM. Tak lupa, turut hadir mobil Kamis Membaca (KaCa) menyediakan beragam buku bacaan bagi para warga dan anak-anak, khususnya untuk menghabiskan waktu menjelang berbuka. Kepala Humas UMM, Dr. M. Isnaini menyebut bahwa kali ini mereka sengaja mengundang teman-teman seniman angklung untuk datang. Selain sebagai cara meramaikan agenda Ngabuburead, kehadiran mereka juga menjadi upaya melestariakn budaya. Apalagi angklung memang terkenal sebagia salah satu alat musik tradisional. Terhitung, belasan lagi dimainkan oleh Angklung Jalanan dan menghibur para warga yang tengah mencari takjil dan makan. “Kami juga ingin memberikan kesempatan bagi teman-teman seniman jalanan untuk unjuk kebolehan. Tidak banyak yang bisa memainkan angklung dna menghibur orang. Apalagi melihat banyak warga yang biasanya datang ke Taman Merjosari untuk menunggu waktu magrib,” katanya menambahkan. Ada hal unik lain yang menjadi daya tarik tim UMM kemarin. Yakni adanya golf mini dan berbagai challenge yang membuat anak-anak dan ibu-ibu datang mencoba. Apalagi dengan adanya hadiah-hadiah menarik, seperti topi, kaos, tumbler, bahkan juga uang tunai. Salah satu warga sekitar yang berhasil mendapatkan hadiah adalah Vivin Dwi. Menurutnya, hadirnya tim UMM di momen ngabuburit adi hal pembeda di sore itu. “Taman merjosari jadi makin ramai, penjual juga senang jualannya laku, kemudian orang-orang yang lewat juga bisa turut ikut bermain games dan menyaksikan permainan angklung. Semoga UMM bisa meneruskan agenda serupa di berbagai tempat. Saya yakin akan disambut baik oleh warga dan komunitas,” tambahnya. Selain Vivin, turut hadir Dinda Putri yang menghabiskan waktu membaca buku di Mobil KaCa di UMM. Sembari menunggu waktu maghrib, ia duduk membaca dan bersantai mendengarkan alunan angklung yang dimainkan seniman jalanan. Menurutnya, Mobil KaCa ini bisa meningkatkan literasi dan minat baca warga, utamanya anak-anak dan remaja. Apalagi ada ratusan buku yang tidak banyak dimiliki. “Iya, ada beberapa buku yang bisa kita baca, mulai dari Harry Potter, buku-buku indie, bahkan juga buku tips dan motivasi. Jika mobil ini rutin keliling, saya yakin banyak anak-anak dan remaja yang menyukainya. Semoga UMM bisa terus memberikan manfaat ke sesama,” pungkasnya. (wil)
Lapak Baca hingga Belajar Bahasa Isyarat Jadi Program Utama Ramadan RBC UMM

Menyemarakkan bulan suci Ramadhan, RBC Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Ngabuburead. Agenda ini merupakan ebuah agenda literasi tahunan yang kali ini mengusung tema Ramadhan Inklusif. Kegiatan utama berupa lapak baca gratis akan hadir selama sepekan penuh, 6-12 Maret 2025 di Alun-Alun Kota Malang. Masyarakat umum dapat langsung bergabung tanpa biaya untuk menikmati beragam koleksi buku dari perpustakaan RBC Institute. Tak sekadar membaca, Ngabuburead tahun ini menghadirkan berbagai aktivitas menarik yang memperkaya pengalaman Ramadhan bagi semua kalangan. Selain menikmati buku, pengunjung juga bisa mengikuti fun games interaktif dan diskusi kopi bersama barista RBC Smart Coffee, yang akan membahas seni meracik kopi dalam suasana santai menjelang waktu berbuka puasa. Puncak acara digelar pada 10-12 Maret 2025 dengan kelas bahasa isyarat gratis yang bekerja sama dengan Akar Tuli Malang, salah satu komunitas Tuli terbesar di Kota Malang. Kelas ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mengenal dan memahami bahasa isyarat, sebagai langkah kecil dalam menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. “Ngabuburead bukan sekadar ajang membaca, tetapi juga menjadi wadah kebersamaan yang merangkul semua kalangan, termasuk teman-teman dari komunitas Tuli. Melalui literasi dan bahasa isyarat, kami ingin menghadirkan semangat Ramadhan yang lebih inklusif,” ujar Direktur Eksekutif RBC Institute, Subhan Setowara. Setelah acara berlangsung banyak peserta yang turut menanyakan informasi kelas bahasa isyarat reguler. Mereka harap titik pelatihan kelasnya diperbanyak untuk kegiatan yang seperti ini agar semakin luas juga manfaat yang dirasakan warga sekitar. Dengan semangat berbagi ilmu dan kebersamaan, Ngabuburead diharapkan dapat menjadi ruang refleksi dan interaksi yang lebih luas di tengah masyarakat. Menjadi contoh luar biasa dalam menikmati Ramadhan dengan cara berbeda. (zaf/wil)
Tips Dosen UMM untuk Hindari Impulsif Buying Menjelang Lebaran

Fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu faktor psikologis yang dapat mempengaruhi seseorang untuk berbelanja secara berlebihan menjelang lebaran. Hal itu diungkapkan Uun Zulfiana selaku dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menyebut, faktor lain seperti kepuasaan emosional yang dipengaruhi oleh berbagai paparan iklan di media sosial dan faktor kebiasaan yang tidak mampu menahan diri (self control) juga dapat menciptakan sifat impulsif. Bahkan juga menjadi faktor psikologis seseorang berlanja berlebihan Terkait fenomena konsumtif yang berlebihan, ia melihat hal itu berawal dari kombinasi faktor kognitif, emosional dan perilaku situasional. Sehingga membuat faktor-faktor tersebut dapat berkaitan satu sama lain, terutama self control yang menjadi kaitan paling terdekat. Pengaruh sosial seperti teman dan keluarga juga sangat mungkin untuk dapat mempengaruhi perilaku berbelanja seseorang menjelang lebaran. “Karena penyebabnya adalah self control. Ketika seseorang memiliki kontrol diri yang rendah, ia akan sangat mudah untuk dipengaruhi oleh faktor eksternal baik keluarga maupun teman,” tambahnya. FOMO mungkin akan erat hubungannya dengan kepercayaan diri. Jika kepercayaan diri rendah, ia akan lebih mudah untuk mengikuti tren sosial, terutama menjelang lebaran. Hal itu akan membuat seseorang membeli banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Selain itu juga meningkatkan kemungkinan impulsif buying. Untuk mengatasi hal itu, Uun memberikan sederet tips meningkatkan kesadaran dan self control agar terhindar dari perilaku impulsif buying. Pertama, meningkatkan kesadaran diri dengan cara menegaskan pada diri untuk meningkatkan self awareness. Komitmen yang kuat pada diri sendiri memberikan dampak yang bagus untuk menekan perilaku ini. Kedua, membuat perencanaan anggaran belanja, mencatat apa saja yang dibutuhkan. Menghindari keinginan yang tidak sesuai dengan anggaran. Ketiga, mengalihkan perhatian dengan aktivitas positif lainnya. “Jadi, kita bisa mencoba hal-hal baru seperti olahraga, aktif di komunitas, membaca, dan lainnya. Jangan malah rebahan dan melihat live TikTok, Shopee, dan lainnya. Ini justru akan meningkatkan keinginan untuk membeli barang yang tidak perlu. Terakhir, lakukan kontrol diri atau self management dan pengelolaan emosi secara positif agar tidak lepas kendali. Selain itu juga membangun hubungan sosial atau dukungan sosial yang positif,” pungkasnya mengakhiri. (zaf/wil)
Dosen UMM Beri Tips Atur Keuangan saat Ramadan

Bulan puasa seringkali dianggap sebagai bulan yang bisa menekan pengeluaran. Tapi nyatanya, biaya yang keluar lebih banyak daripada bulan-bulan lainnya. Salah satu penyebabnya adalah alokasi biaya untuk agenda bukber hingga baju baru ataupun pernak-pernik menjelang lebaran. Iqbal Ramadhani Fuadiputra, selaku dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan, hal-hal itulah yang meningkatkan pengeluaran bulanan seseorang atau keluarga. “Untuk meminimalisir hal tersebut, teman-teman bisa melihat pola konsumsi diri di bulan Ramadan. Lakukan secukupnya dan tidak terlalu berlebihan serta jangan sampai mubazir,” tambahnya. Menurutnya, salah satu tips dan trik yang bisa dilakukan agar dapat mengatur keuangan saat bulan Ramadhan adalah dengan menyiapkan dana silaturahmi dari biaya bulan-bulan sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk merespon ketika menerima ajakan berbuka puasa. Tips lainnya yakni memilah buka bersama mana saja yang harus dihadiri untuk silatruahmi. Kemudian yang terpenting adalah membelanjakan dana untuk kebutuhan puasa dna lebaran, dan mengesampingkan keinginan-keinginan yang tidak perlu. Iqbal menegaskan, mengikuti berbagai agenda buka bersama (bukber) boleh-boleh saja saat bulan puasa karena itu merupakan bentuk nilai sillaturahmi sesama umat muslim. “Meski begitu, harus tetap disesuaikan dengan kemampuan finansial yang kita miliki. Jangan sampai agenda bukber malah membuat kita kelabakan dalam hal keuangan,” katanya. Alternatif solusi lain yang ia tawarkan yakni mengubah agenda buka bersama menjadi agenda lain. Inti dari pertemuan adalah silaturahmi, maka agenda bukber bisa diganti dengan safari masjid atau qiyamul lail bersama. Menurutnya, hal ini tetap mengikat silaturahmi namun tidak menghilangkan hal-hal yang essential dalam proses beribadah di bulan Ramadhan. Terkait usaha dadakan yang sering muncul saat Ramadan, Iqbal juga memberikan tips agar tidak rugi. Dimulai dengan pemilihan produk yang bisa dijajakan. Mengingat banyak sekali masyarakat yang berburu makanan atau takjil, maka menjual produk makanan ringan ataupun minuman menjadi pilihan yang lebih tepat. Tips kedua yakni mencari lokasi berjualan di tengah pusat keramaiaan, agar produk dapat dengan cepat terjual. Kemudian yang terpenting menurutnya adalah mengkreasikan produk makanan atau minuman menjadi lebih kekinian agar lebih menarik. Terakhir ia menyampaikan, untuk menghindari perilaku boros, maka perencanaan untuk pemasukan dan pengeluaran sangat diperlukan. “Harapannya, planning yang tepat akan memberikan dampak yang tepat pula bagi keuangan kita. Tidak menghabiskan banyak uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Sehingga mengeluarkan biaya untuk hal-hal essential,” katanya. (zaf/wil)