Dosen PGSD Jelaskan Peran Guru di Era Gempuran AI

Di tengah derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan, para guru dan dosen justru sedang menghadapi transformasi yang cukup besar. Banyak yang menilai bahwa kecerdasan buatan atau Artifical Intelligence (AI) yang ada mulai mengambil alih peran pendidik dalam proses belajar mengajar. Perkembangan teknologi ini juga mengubah dinamika pendidikan lebih cepat dari sebelumnya. Menurut Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. selaku dosen prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Muhammadiyah Malang, perubahan ini bukan sekadar soal alat baru di kelas, tetapi perubahan cara belajar dan mengajar. “AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya. Namun, dibalik kemudahan itu peran pendidik tidak bisa lagi hanya sebagai penyampai materi, tetapi lebih krusialnya menjadi kurator. Dalam hal ini, pendidik bukan hanya memberi informasi tetapi juga memilah mana sumber yang valid, relevan, dan layak dijadikan rujukan oleh siswa maupun mahasiswa nya. Dalam ekosistem pendidikan, pendidik perlu memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatannya. Menurut Beti, pendidik dituntut untuk bisa menjadi learning experience designer atau mendesain pembelajaran yang adaptif sekaligus menjadi critical thinking coach. Bukan hanya sekedar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari “apa” menjadi “bagaimana” dan “mengapa”. Hal ini tentu akan melatih jiwa keterampilan analitis dan argumentasi. Di balik kekhawatiran akan hilangnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat peluang. Menurutnya, pendidik dapat mendorong pelajar menghasilkan karya otentik meskipun memanfaatkan teknologi. Baginya, AI boleh membantu, tetapi kreativitas, intuisi, dan nilai tetap menjadi orisinalitas manusia. “Yang paling penting Itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ujarnya. Lebih lanjut, Beti berpesan bahwa penggunaan AI cukup sebagai alat untuk memperbesar potensi diri, bukan sebagai pengganti diri. Baginya, pendidikan seharusnya membentuk generasi yang bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya. “Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan menusia secara lebih utuh. Begitupun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tutupnya. (rka/wil)    Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor:  Hassanalwildan Ahmad Zain

UMM Gandeng UiTM Malaysia, Angkat Angkat Permainan Tradisional Jawa ke Ranah Global

Berbagai program internasional tersedia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya agenda bertajuk “Multimedia Cultural Chronicles: Unveiling the Joy of Javanese Traditional Games Collaboration Program” yang menjadi program kerjasama UMM dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Puluhan mahasiswa Malaysia dan Indonesia berkolaborasi dalam agenda yang berlangsung satu minggu itu sejak 23 November 2025. Kegiatan ini menghadirkan mahasiswa internasional dari UiTM untuk mempelajari dan mendokumentasikan permainan tradisional Jawa sebagai bagian dari proyek pembuatan coffee table book. Ini juga bagian dari pertukaran mahasiswa yang tidak hanya berfokus pada pengembangan wawasan budaya, tetapi juga penguatan jejaring internasional mahasiswa. Selama program, peserta akan melakukan pengamatan langsung, wawancara, hingga proses kreatif untuk menghasilkan coffee table book yang menampilkan kekayaan permainan tradisional Indonesia kepada audiens global. Saat pembukaan, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si. menyampaikan, kehadiran mahasiswa UiTM menjadi momentum penguatan kerja sama kedua institusi. “UMM sangat senang dan bangga menerima mahasiswa dari luar negeri. Saya berharap adik-adik memperkuat kolaborasi dan komunikasi karena itu adalah social capital ,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya menjaga perilaku, norma, serta mengembangkan kompetensi selama mengikuti program ini. Apalagi kegiatan ini akan berlangsung di beberapa lokasi di Malang dan Batu. Mulai dari Museum Panji, Desa Wisata Ngawonggo, dan Taman Dolan. Para peserta diajak melihat dan merasakan pengalaman bermain permainan tradisional di masing-masing lokasi. Kemudian menyusun video yang terkait bagaimana memainkannya dan bisa disebarluaskan. Salah satu mahasiswa Malaysia Tengku Syamimi Afiqah, mengungkapkan bahwa program itu memberikan pengalaman akademik dan budaya yang berharga. Menurutnya, lingkungan di UMM sangat ramah dan menginspirasi. Kolaborasi itu memungkinkan mereka untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang budaya Indonesia, terutama permainan tradisional yang didokumentasikan. Output utama kegiatan ini berupa coffee table book yang menampilkan berbagai permainan tradisional Indonesia. Selain itu juga video-video yang menjelaskan bagaimana permainan tradisional Indonesia itu dimainkan. Adapun kegiatan kolaboratif ini menjadi langkah konkret UMM dalam memperkuat jejaring internasional sekaligus mempromosikan budaya lokal ke tingkat global melalui pendekatan multimedia. (rka/wil)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Kadis PUPR Batu sekaligus Alumnus UMM Beri Motivasi ke Wisudawan

Suasana Wisuda Ke-120 Universitas Muhammadiyah Malang pada 27 November 2025 mencapai puncaknya ketika Ir. Alfi Nurhidayat, Kepala Dinas PUPR Kota Batu, menyampaikan cerita suksesnya yang sarat akan makna. Pidato Alfi yang juga alumnus UMM ini menjadi momen pembuka yang menggerakkan para wisudawan untuk menatap dunia baru dengan keberanian dan keteguhan hati. Dalam sambutannya, Alfi menyampaikan syukur dan terima kasih atas dukungan UMM yang menurutnya sangat berarti. Ia menegaskan pentingnya menjaga hubungan sesama alumni dan memberikan kontribusi terbaik bagi diri sendiri, kampus, hingga masyarakat. Ia menekankan satu pesan yang kuat bahwa para lulusan hari ini akan melangkah ke dunia nyata yang sifatnya tidak selalu mudah, tetapi bekal keilmuan dari UMM menjadi modal untuk melewati setiap tantangan. “Saya yakin semua wisudawan dan wisudawati bisa melampaui semua ujian itu dan bisa sukses,” katanya. Ia juga memberikan ucapan selamat kepada para wisudawan dan orang tua dengan penuh penghargaan. Ia mengajak mereka menanamkan keyakinan bahwa perjalanan hidup tidak memiliki garis akhir. Dikarenakan setiap tahap selalu membuka peluang untuk belajar dan bertumbuh. Setiap pencapaian hanyalah jeda singkat sebelum langkah baru dimulai. Hidup terus bergerak, dan para wisudawan ikut berkembang bersama alurnya. Sementara itu, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A., selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur turut menyampaikan apresiasi mendalam. Menurutnya, UMM telah menunjukkan pergerakan jihad fisabilillah melalui kerja keras, kerja cerdas, dan kemampuan mengikuti perkembangan global. Ia mengungkapkan kebanggaan kepada para orang tua yang mempercayakan putra putrinya untuk ditempa menjadi intelektual yang berilmu dan berakhlak. Meski begitu, Thohir memperingatkan bahwa mulai esok para wisudawan memasuki wilayah baru yang ia sebut sebagai kampus tanpa tembok, tempat rintangan dan cobaan hadir tanpa pola. Ia berpesan agar para lulusan menjaga integritas dan martabat diri, serta menjadi pribadi shaleh dan shalehah yang membanggakan keluarga, bangsa, dan negara. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengajak para wisudawan menjadikan momen wisuda sebagai waktu refleksi. Menurutnya, ukuran kehidupan bukanlah gelar semata, tetapi kontribusi. Sekecil apa pun bentuknya, yang penting bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Ia menekankan pentingnya profesionalitas serta kemampuan membawa diri dengan baik di tengah masyarakat. Ia mengutip kalimat dari Andrew Grove, CEO Intel Corporation, ‘Only paranoid survive’ yang ia jelaskan sebagai sikap untuk terus mawas diri dan memperbaiki kekurangan demi menjaga amanah dan kepercayaan publik. Baginya, peningkatan kualitas ibadah adalah fondasi utama dalam menjaga integritas dan orientasi hidup. (bil/wil) Penulis: Zlatan Abil Ibrahim | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Resmi Dikukuhkan, Tiga Guru Besar UMM Ini Kuasai Bidang Ekologi Industri, Keperawatan Komunitas, hingga Pendidikan Islam

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui Tim Mekatronik dalam ajang Kontes Kapal Indonesia (KKI) pada 04-06 Desember lalu. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga mampu bersaing dalam inovasi teknologi maritim di level nasional. Tim Mekatronik UMM berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Juara 3 race FERC, Juara 1 poster FERC, Best Speed FERC dan Tim Favorite. Prestasi ini semakin mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus berdampak yang aktif melahirkan inovator muda di bidang teknologi perkapalan dan energi. Dewi Fatmawati selaku Manager Tim Mekatronik UMM mengaku bahwa menuju titik ini sangatlah tidak mudah. Butuh banyak perjuangan dan pengorbanan yang timnya lakukan, mulai dari latihan, riset, hingga trial and error yang selalu terjadi. “Berbahan bakar bensin menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami, itu membuat perancangan mesinnya harus dilakukan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi demi menjaga stabilitas dan kecepatan kapal di lintasan air. Dalam proses persiapan, kami memulai seluruh tahapan dari nol, mulai dari penyusunan proposal, riset perhitungan, pembuatan bodi kapal, hingga produksi video presentasi yang kami unggah ke YouTube. Semua proses itu memakan waktu sekitar enam bulan penuh, sejak Juni hingga Desember.” Jelasnya Fatma sapaan akrabnya mengaku bahwa timnya sempat mengalami kendala serius, terutama pada aspek teknis mesin dan kestabilan kapal saat uji coba. Namun berkat kerja keras tim, evaluasi berulang, serta pendampingan dosen, seluruh kendala tersebut berhasil diatasi hingga kapal dapat tampil optimal di arena perlombaan. Menariknya, mereka juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus, baik dalam bentuk pendanaan, fasilitas pendukung, sistem pembinaan, hingga dukungan moral dan doa. Dukungan ini menjadi faktor penting yang menjaga semangat dan konsistensi tim selama proses panjang menuju kompetisi. UMM dinilai tidak hanya hadir sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai penyedia ekosistem prestasi mahasiswa. Terakhir, Fatma berpesan kepada mahasiswa UMM, khususnya generasi penerus Tim Mekatronik, agar tidak hanya berorientasi pada popularitas organisasi, tetapi juga fokus pada keseimbangan antara penguasaan teknis (how to build) dan pengembangan diri serta manajemen tim (how to grow). Ia menekankan bahwa keberhasilan tim hanya bisa terwujud jika seluruh aspek tersebut berjalan secara seimbang dan berkelanjutan. “Jangan hanya mengejar nama besar tim. Kuasailah teknisnya, kembangkan diri kalian, dan bangun manajemen tim yang solid. Semua itu harus berjalan bersama-sama kalau kalian ingin benar-benar berhasil.” Pesannya(*alg/faq)   Penulis: Musthafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Teliti AI dan Bahasa, Dosen UMM Raih Beasiswa ke Austria

Perjalanan Fida Pangesti, S.Pd., M.A., dosen Bahasa Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menuju studi doktoral di Austria ternyata memiliki cerita tersendiri. Ia sudah mengincar beasiswa IASP sejak dua tahun lalu, meski saat itu ada syarat tahun kelulusan yang belum bisa dipenuhinya. Namun serangkaian pengalaman akademik mulai dari Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024 justru membuka jalan baru yang mengarahkan fokusnya pada pertemuan dua hal favorit berupa pengajaran tata bahasa Indonesia dan kecerdasan buatan (AI). Austria dipilih bukan hanya karena reputasi akademiknya yang kuat, tetapi juga karena atmosfer belajarnya yang aman, inklusif, dan sangat mendukung peneliti internasional. “Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik saya sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,”ujarnya. Proses seleksi beasiswa ia jalani dengan penuh dinamika, mulai dari berkas administrasi hingga wawancara luring dengan 4 pewawancara Austria dan 1 pewawancara Indonesia yang langsung membahas inti penelitiannya. “Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung fokus ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” ungkapnya. Penelitian utamanya berjudul AI-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language, yang berusaha menilai bagaimana generative-AI bisa meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar. Menurutnya, tata bahasa adalah salah satu area yang paling sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pemelajar. Dengan pendekatan mix method, ia akan melakukan eksperimen intervensi berbasis AI dan dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Meski riset belum berjalan, ia menyebut penyusunan desain intervensi menjadi tantangan tersendiri karena harus mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, hingga semantik. “Supervisor sangat suportif. Saya bebas memilih mata kuliah lintas jenjang dan diarahkan melakukan pilot penelitian di kelas BIPA di Vienna, bahkan disarankan berkunjung dan berkolaborasi dengan ahli AI dalam pembelajaran bahasa di Nanyang Technological University Singapore,” ujarnya. Di luar kegiatan akademik, Austria menawarkan banyak kejutan menyenangkan. Mulai dari budaya Ruhetag yang membuat semua toko tutup saat hari Minggu, menomorsatukan pejalan kaki, hingga banyaknya diskusi serta workshop lintas budaya, lintas agama, dan lintas disiplin ilmu. Perpustakaan menjadi tempat favoritnya, bukan hanya karena suasananya yang tenang, tetapi juga karena sering melihat lansia yang tetap giat belajar—pemandangan yang menurutnya sangat menginspirasi. “Saran saya, persiapkan portofolio sejak awal, bangun jaringan dengan calon pembimbing, dan pilih topik yang benar-benar relevan. Kesiapan dan ketekunan sering lebih berpengaruh daripada sekadar kecerdasan,” kata Fida. Pada akhirnya, perjalanan Fida bukan sekadar cerita tentang mendapatkan beasiswa internasional, tetapi juga tentang bagaimana riset yang ia jalankan bisa membuka jalan baru bagi pembelajaran BIPA berbasis teknologi. Penelitiannya menegaskan bahwa AI bukan hanya tren, tetapi alat strategis untuk membuat pembelajaran tata bahasa Indonesia lebih mudah, menarik, dan siap bersaing di ranah global. (vin/wil)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Alumni Teknik Mesin UMM, Letkol Basofi, Ajak Wisudawan Berani Keluar dari Zona Nyaman

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Wisuda Ke-120 untuk Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana pada Selasa, 25 November 2025 di Hall Dome UMM. Momentum ini bukan hanya menjadi seremoni pengukuhan akademik, tetapi juga ruang refleksi atas perjalanan hidup, perjuangan, dan nilai perubahan yang mengiringi para lulusan memasuki dunia profesional. Melalui rangkaian sambutan dan cerita sukses, kampus putih menegaskan misinya sebagai kawah candradimuka yang tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga manusia berkarakter yang siap berkontribusi bagi bangsa. Pada kesempatan tersebut, Letkol Kav. Basofi Cahyowibowo, ST., Komandan Kodim 1607 Sumbawa sekaligus alumni Teknik Mesin UMM angkatan 1997, menyampaikan bahwa perjalanan seorang mahasiswa hingga menjadi profesional selalu dibentuk oleh keberanian untuk berubah dan konsistensi memperbaiki diri. Ia memaparkan bahwa masa kuliahnya di UMM, termasuk dinamika dan kegagalannya, justru menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter kepemimpinan. Ia juga menekankan bahwa pengalaman organisasi, kedisiplinan, dan kemampuan menghadapi situasi sulit menjadi bekal utamanya ketika terjun ke dunia militer. “Saya berdiri di sini bukan karena sempurna, tetapi karena pernah gagal dan belajar banyak dari kegagalan itu. UMM adalah tempat yang menempa saya untuk bangkit, meskipun dulu saya bukan mahasiswa yang paling rajin. Karena itu, saya ingin para wisudawan memahami bahwa kegigihan sering lebih menentukan daripada sekadar kemampuan teknis,” ujarnya. Ia juga menekankan mengenai tantangan masa depan yang menuntut adaptasi cepat. Ia menegaskan bahwa keberhasilan di masa depan sangat ditentukan oleh kemampuan membaca peluang serta kesiapan mental menghadapi perubahan. Ia juga menyoroti bahwa tantangan yang akan dihadapi para lulusan semakin kompleks dan membutuhkan adaptasi cepat. Perubahan teknologi, persaingan global, serta tuntutan profesionalisme membuat setiap sarjana harus memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Menurutnya, karakter kuat dan kedisiplinan diri adalah modal penting yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan akademik semata. “Kenali diri Anda, pahami medan yang Anda hadapi, dan jangan pernah berhenti menyesuaikan langkah. Kesuksesan bukan ditentukan dari seberapa cepat Anda memulai, tetapi seberapa teguh Anda bertahan. Semoga para wisudawan hari ini melangkah dengan keyakinan bahwa perjalanan panjang masih menanti, dan UMM telah membekali Anda dengan fondasi terbaik untuk menaklukkannya,” ujarnya. Pada kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Ahtim Wahyuni, M.Ag., menyampaikan bahwa menjadi lulusan UMM adalah sebuah kebanggaan karena kampus ini merupakan perguruan tinggi swasta terbaik di Jawa Timur. Menjadi wisudawan bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal perjalanan baru di tengah masyarakat. Menurutnya, tanggung jawab seorang sarjana bukan hanya membawa nama baik almamater, tetapi juga memastikan ilmunya memberi manfaat nyata bagi kemajuan umat. “Sebuah pesan Rasulullah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama, dan harapan tersebut kini berada di pundak para lulusan UMM yang siap kembali ke daerah masing-masing untuk mengabdi,” ujarnya. Memperkuat rangkaian pesan tersebut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. turut memberikan arahan strategis mengenai masa depan kampus dan lulusan. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus memperkuat kualitas pendidikan, inovasi, dan kolaborasi global. Ia menyampaikan, karena UMM tidak hanya mendidik mahasiswa untuk menjadi sarjana, tetapi membentuk manusia unggul yang visioner, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman. Apresiasi juga diberikan penuh kepada seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan orang tua yang selama bertahun-tahun menjadi pilar keberhasilan akademik para wisudawan. “Dengan perkembangan teknologi, digitalisasi, dan transformasi industri, UMM akan terus memperkuat kurikulum adaptif dan program berbasis praktik nyata. Wisudawan harus menjadi agen perubahan yang membawa nilai Islam berkemajuan dalam setiap langkah profesional dan pengabdian mereka ke masyarakat luas,” ujarnya. (vin/wil)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Datangkan Pakar dari Belanda, FH UMM Kaji Demokrasi di Era Digitalisasi

Gelombang digitalisasi yang kian intensif membawa dampak signifikan terhadap proses pembentukan kehendak publik, yang merupakan fondasi utama legitimasi dalam negara demokratis. Untuk mengkaji dinamika tersebut secara lebih komprehensif, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 18 November 2025 menghadirkan Dr. Sascha Hardt dalam kuliah tamu bertema “Digitalization and Constitutional Change: Challenges and Opportunities for Democratic Legitimacy”. Sebagai pakar hukum tata negara, Hardt menjelaskan bahwa inti dari demokrasi representatif terletak pada legitimasi negara yang bersumber dari kehendak rakyat. Namun, menurutnya, digitalisasi membuat proses pembentukan kehendak publik tidak lagi berlangsung secara alami. Dunia digital memungkinkan pihak tertentu memengaruhi opini individu secara sistematis melalui algoritma yang tidak transparan. Kondisi ini membuat proses demokrasi tampak berjalan sebagaimana mestinya, tetapi pada dasarnya dikendalikan oleh sistem digital yang dirancang oleh perusahaan teknologi maupun aktor politik tertentu. Hardt menegaskan bahwa persoalan hari ini tidak lagi sesederhana “pemilu curang” atau “hak pilih dibatasi”, karena distorsi terjadi jauh sebelum rakyat mengekspresikan pilihan politiknya. “Masalah terbesar demokrasi modern bukanlah apakah pemilu berlangsung jujur, tetapi apakah kehendak individu sebelum masuk bilik suara benar-benar milik mereka atau hasil manipulasi ekosistem digital?” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa media sosial bekerja dengan prinsip selektivitas informasi yang ekstrem. Algoritma menentukan mana informasi yang dianggap relevan bagi pengguna, sehingga masyarakat terjebak dalam ruang gema (echo chambers) yang membatasi akses pada pandangan berbeda. Kondisi ini membuat publik tidak lagi terpapar argumen beragam yang menjadi syarat deliberasi demokratis yang sehat. Lebih lanjut, Hardt memaparkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan membuat proses manipulasi semakin presisi. Aktor politik dapat menargetkan kelompok tertentu dengan pesan yang disesuaikan berdasarkan profil psikologis individu. Dalam konteks ini, Hardt menilai digitalisasi berpotensi merusak dua prinsip penting demokrasi sebagaimana dikemukakan Cass Sunstein. Pertama, masyarakat harus memiliki akses terhadap isu-isu yang sama untuk membangun kesadaran kolektif. Kedua, masyarakat harus terpapar perbedaan pendapat untuk mencegah polarisasi ekstrem. Akademisi asal Belanda tersebut, juga mengkritisi respons negara yang dinilai lambat dalam menghadapi ancaman digital. Menurutnya, banyak regulasi bersifat reaktif dan tidak mampu mengejar kecepatan inovasi teknologi. Ia menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan infrastruktur digital yang bukan hanya aman, tetapi juga transparan dan dapat diawasi secara publik. Tanpa hal tersebut, proses politik akan terus dimanfaatkan oleh pihak yang menguasai teknologi informasi. “Legitimasi politik pada akhirnya akan rapuh bila negara tidak mampu menjamin bahwa rakyat membentuk pendapat politiknya secara bebas, bukan hasil kurasi algoritmik yang disembunyikan,” ucapnya. Meski demikian, Hardt menilai digitalisasi tetap membuka sejumlah peluang bagi penguatan demokrasi, antara lain memperluas akses publik terhadap proses pengambilan keputusan dan meningkatkan partisipasi politik. Namun, ia menekankan bahwa peluang tersebut hanya dapat diwujudkan jika negara, akademisi, dan masyarakat sipil berkomitmen membangun literasi digital, transparansi algoritma, serta mekanisme pengawasan terhadap platform digital berskala besar. Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum UMM Prof. Dr. Tongat, S.H., M.Hum. mengapresiasi pentingnya diskusi tersebut sebagai langkah untuk memperkaya kajian hukum tata negara kontemporer. Ia menilai bahwa isu digitalisasi bukan lagi wacana masa depan, melainkan persoalan aktual yang tengah membentuk ulang hubungan antara negara, warga, dan teknologi. Fakultas Hukum UMM, menurutnya, akan terus menghadirkan diskusi lintas negara agar mahasiswa dapat memahami persoalan global yang berdampak langsung pada tata kelola demokrasi Indonesia. Melalui forum seperti ini, UMM menunjukkan komitmennya untuk memperkuat kapasitas intelektual mahasiswa dalam membaca perubahan zaman secara kritis dan solutif. “Paparan materi kali ini sangat penting bagi mahasiswa dan akademisi hukum. Kita tidak bisa lagi memahami konstitusi hanya dalam konteks analog karena ada tantangan baru yang menuntut kajian serius, terutama terkait legitimasi kekuasaan di era digital,” ujar Tongat. (vin/wil)

Diarak Klub Motor, Begini Prosesi Pengukuhan Guru Besar Baru FKIP UMM

Iring-iringan klub motor menjadi daya tarik tersendiri sesaat sebelum pengukuhan tiga buru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 22 November ini. Para guru besar baru ini diantar puluhan motor moge dari rektorat UMM menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM. Ketiga Guru besar itu ialah Adapun ketiganya adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Mulai dari pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor ini juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Dalam suasana penuh kebanggaan, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. lebih lanjut, Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P., memberikan apresiasi tinggi atas capaian kampus putih. Ia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Muhadjir dalam kalimatnya juga membeberkan bahwa dari tiga profesor baru ini memiliki titik temu dalam hal bagaimana menciptakan masa depan indonesia yang lebih hijau, baik, dan sustainable. “Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” katanya. Kemudian, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Dia juga menyoroti pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas. (*nam/wil)

Mahasiswa Kelas Internasional Psikologi Menangi Kompetisi di Taiwan

Jauh dari hiruk pikuk laboratorium dan buku-buku teori, tim mahasiswa kelas internasional Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mencuri perhatian di kancah internasional. Mereka meriah penghargaan outstanding performance dan juara favorit dalam ajang Mandarin Singing Competition di Asia University, Taiwan, November 2025 ini. Salah satu anggota tim, Khanum Mayyada Tetteng menceritakan bahwa keikutsertaan mereka dalam kompetisi tersebut bermula dari sebuah ajakan sederhana. “Kami awalnya mendaftar tanpa banyak pertimbangan. Niatnya cuma berani mencoba, menang atau tidak menang, yang penting tampil,” ujarnya. Berbekal niat tersebut, Khanum dan dua rekannya membawakan lagu Mandarin berjudul No Reason. Tantangan terberat yang dihadapi adalah tingkat kesulitan lagu, mencakup bagian rap (nge-rap). Padahal ia dan timnya baru saja memulai kelas Bahasa Mandarin saat tiba di Asia University. “Kami sempat mengira lomba ini hanya digelar secara lokal. Namun, saat tiba di lokasi, ternyata kami tampil di panggung aula yang sangat besar, dengan kontestan dari berbagai negara seperti Filipina, Vietnam, Italia, Mongolia, India, Mesir, dan negara lainnya,” katanya. Meskipun rasa gugup melanda, mereka sepakat untuk tampil maksimal. Momen paling berkesan adalah ketika Khanum mulai melakukan rap Bahasa Mandarin. Saat itu, dukungan dari penonton, terutama dari mahasiswa internasional lain, memecah keheningan aula, kemudian mengantar mereka meraih dua gelar bergengsi. Prestasi ini menjadi salah satu warna dari perjalanan Khanum dan mahasiswa UMM lain sebagai mahasiswa Kelas Internasional Psikologi UMM. Adapun program yang mereka tempuh melalui skema double degree ini kini berlangsung di Asia University Taiwan. Program ini mewajibkan mahasiswa untuk menempuh studi dua tahun di UMM dan dua tahun di Asia University, Taiwan. Hasilnya, mahasiswa akan mendapatkan dua gelar sekaligus, yaitu Sarjana Psikologi (S.Psi) dari UMM dan Bachelor of Science (BSc) dari Asia University, di mana kedua ijazah tersebut diakui dan diverifikasi legalitasnya di Indonesia. Khanum menekankan bahwa keunggulan UMM terletak pada penekanan praktikum bertingkat sejak semester awal. Berbeda dengan di Asia University yang lebih fokus pada penguatan teori, UMM memberikan pengalaman praktik yang kaya. Hal ini sangat penting untuk bekal mereka saat kerja nanti. Selain program double degree ke Taiwan, Kelas Internasional Psikologi UMM juga memiliki program Credit Transfer selama satu semester ke Turki. Kampus di Taiwan sendiri aktif mendukung mahasiswa internasional dengan mengadakan trip budaya dan wisata yang dibiayai oleh pemerintah setempat, serta menyelenggarakan kelas pengantar penuh dalam Bahasa Inggris. Menurut Khanum, Kelas Internasional Psikologi UMM memberikan pondasi kuat sebelum berangkat ke luar negeri. Praktikum yang bertingkat dari semester ke semester, ditambah pengajarnya sangat menguasai di bidangnya, membuat mahasiswa lebih siap menghadapi pembelajaran global. “Kesiapan beradaptasi dengan perbedaan budaya dan sistem pendidikan adalah kunci. Manfaatkan setiap kesempatan, baik akademik maupun non-akademik, karena pengalaman ini sangat berharga untuk membuka wawasan dan pengembangan diri,” tegasnya. Prestasinya ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul secara akademis. Namun juga memiliki keberanian untuk tampil di panggung global dan meraih penghargaan. (ali/wil)

FKIP UMM Kukuhkan Guru Besar Baru, Kaji Mikrobiologi, Kurikulum, hingga Bioetika

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah dan mengukuhkan guru besarnya. Kali ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengukuhkan tiga guru besar baru pada 22 November 2025. Penelitian dan kepakaran bidang yang dimiliki juga menarik, ada yang fokus pada pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Adapun ketiganya adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Pertama, ada Mahfud yang memberikan orasi ilmiah menarik. Ia menegaskan bahwa gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan keberagaman. Ia menilai pendidikan nasional selama ini kerap terjebak pada keseragaman, padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa, dan tradisi yang harus tetap hidup dalam proses belajar. Karena itu, KIS menurutnya wajib memberi ruang bagi identitas lokal, menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran sekaligus pijakan untuk melangkah ke arah global. Kurikulum ini diharapkan tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga menuntun arah peradaban bangsa menuju tujuan pendidikan yang humanis dan berkeadaban. “Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya. Lebih jauh, Mahfud menjelaskan bahwa KIS mesti terintegratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya, dan kehidupan nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Ia menekankan perlunya kurikulum yang menghubungkan mata pelajaran dengan kearifan lokal serta realitas sosial, sehingga anak tidak belajar untuk ujian, tetapi untuk memahami dunia dan dirinya. Menurutnya, kurikulum berjiwa humanis, inklusif, dan berbasis teknologi yang berkeadilan adalah syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, dalam orasinya, Lud menjelaskan persoalan limbah cair yang kini semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu juga hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Ia menegaskan bahwa pendekatan kimia tidak lagi memadai karena berpotensi menciptakan residu baru yang berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, krisis ekologis modern hanya dapat diatasi melalui teknologi hijau yang memanfaatkan kemampuan biologis organisme hidup secara lebih aman dan berkelanjutan. “Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan bahwa solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri, riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS serta efektif mematikan patogen. Ini kemudian saya rumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan kemampuan tinggi menurunkan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen,” katanya. Lebih lanjut, ia mengembangkan konsep biofitoremediator, yakni teknologi hibrid yang menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. Sistem ini terbukti mempercepat penurunan polutan, meningkatkan jangkauan remediasi, serta memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan, termasuk logam berat hingga 100 ppm. Ia menegaskan bahwa keberhasilan paten biofitoremediator dan penerapannya pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan, dan tapioka menjadi bukti bahwa pendekatan bioremediasi tidak hanya solusi teknis, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral manusia untuk menjaga keberlanjutan ekologis. Di sisi lain, Atok menilai bahwa pendidikan sains di Indonesia masih lemah karena peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik laboratorium yang dilakukan. Perkembangan bioteknologi yang cepat menghadirkan dilema etis baru yang tidak tertampung dalam kurikulum konvensional, sehingga pendidikan bioetika menjadi kebutuhan mendesak agar keputusan ilmiah tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Menurutnya, pembelajaran biologi tidak boleh berhenti pada hafalan konsep, melainkan harus menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap tindakan ilmiah. Ia menjelaskan bahwa lemahnya literasi etis membuat mahasiswa mengerjakan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya, dan kondisi ini berpotensi melahirkan praktik berisiko serta mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab persoalan ini, ia mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model OIDDE secara konsisten meningkatkan kemampuan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral ketika menghadapi dilema eksperimen, serta memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” pungkasnya. (vin/wil)