Ini Tanggapan Dosen UMM tentang Seleksi Masuk SD tanpa Calistung

Tahun ajaran baru sebentar lagi tiba. Para orang tua juga sibuk mempersiapkan sekolah terbaik untuk putra-putrinya. Menariknya, muncul isu penghapusan tes baca tulis hitung (calistung) sebagai syarat masuk sekolah dasar. Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim menegaskan bahwa seleksi calon peserta didik baru kelas 1 SD tidak boleh dilakukan berdasarkan tes membaca, menulis, dan atau berhitung. Melihat fenomena tersebut, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dyah Worowirastri Ekowati S.Pd., M.Pd. ikut angkat bicara. Ia menilai, penghapusan tes calistung pada calon siswa SD merupakan hal yang baik. Hal itu engingat hakikat sekolah adalah tempat bermain yang berasal dari bahasa Yunani, “skhole”, yang memiliki arti waktu sengggang untuk bersenang senang. “Jika tes calistung dijadikan salah satu seleksi masuk sekolah dasar, tentu akan memberikan batasan pada calon siswa untuk mahir dan pintar dalam bidangnya. Ini juga berpotensi membebani anak yang sebenarnya memiliki potensi dan keahlian di bidang lain. Selain itu, dapat menggeser fitrah anak di usia PAUD dan TK yang seharusnya datang ke sekolah untuk bermain dan bernenang-senang,” ujar Dyah. Lebih lanjut, pemberian materi calistung tidak perlu masuk kurikulum wajib, melainkan cukup di tataran aktivitas alamiyah. Calistung juga bukan sebuah tuntutan formal dan menjadi syarat naik atau tidak naik kelas. Meski demikian, meninggalkan calistung juga bukan sesuatu yang tepat. Ini bahkan dapat menjadi berbahaya dan mengancam masa depan anak jika mereka sama sekali tidak dikenalkan. Maka perlu adanya metode khusus yang diberikan ke anak usia dini. Metode yang tidak menimbulkan tuntutan besar bagi anak. “Adanya tes saat awal masuk sekolah itu bertujuan untuk mengenal potensi dan kemampuan anak. Sehingga nantinya proses dan metode belajar yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang anak senangi dan minati,” tambahnya. Di akhir, Dyah menyampaikan, pendidikan karakter akan jauh lebih penting dan bermakna bagi anka usia dini dibandingkan dengan pendidikan kognitif. Budi pekerti dan akhlak yang baik akan menjadi kebiasaan yang bagus jika dilakukan sejak kecil. Misalnya saja latihan tertib mengantre, meminta maaf ketika salah, mengucapkan terima kasih saat mendapatkan bantuan dari orang lain, dan lainnya. “Yang penting, jangan biarkan beban mendidik anak itu hanya pada lembaga formal sekolah saja. Perlu adanya penyeimbang dan dukungan dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat. Segala strategi dan sistem yang direncanakan pemerintah adalah untuk kemajuan bangsa dibidang pendidikan. Ini akan sia sia jika tidak dilakukan secara masif dan berbarengan oleh seluruh elemen,” pungkasnya. (rin/Wil)

Nasi Dimasak Magic Com Berbahaya? Ini Kata Dosen Fikes UMM

Beberapa waktu lalu, beredar kabar bahwa nasi yang dimasak menggunakan magic com memiliki unsur berbahaya, ketimbang yang dimasak dengan cara tradisional.  Hal ini dibantah Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, Ns. Henny Dwi Susanti., MKep. Sp.Kep. Mat., PhD. Menurutnya, isu tersebut tidak benar. Tidak ada perbedaan kandungan dari hasil memasak nasi menggunakan magic com maupun secara tradsional. “Itu tidak benar. Nasi baru akan menjadi cukup berbahaya apabila didiamkan terlalu lama dalam magic com. Hal itu dikarenakan adanya proses gelatinisasi dapat terjadi. Ini membuat perubahan nilai indeks glikemik pada nasi. Makanan yang mengandung kadar indeks glikemik yang tinggi dapat memicu penyakit seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung dan kanker,” jelasnya. Henny, sapaan akrabnya, menambahkan, untuk menikmati nasi dengan kualitas terbaik dan aman, masyarakat hendaknya langsung mengonsumsinya tepat setelah matang. Tidak dianjurkan membiarkan nasi terlalu lama di magic com, apalagi dihangatkan berkali-kali. “Tidak ada batasan maksimum untuk mendiamkan nasi dalam magic com. Tapi lebih baik segera dikonsumsi dengan catatan menunggu nasi sampai dingin terlebih dahulu. Nasi yang dingin, mengandung kadar gula yang lebih rendah dari nasi yang masih panas sehingga lebih aman untuk dikonsumsi tubuh,” tambahnya. Selain memiliki nilai indeks glikemik yang cukup tinggi, nasi juga mengandung kurang lebih 90% karbohidrat, 8% protein dan 2% lemak. Namun, nasi termasuk salah satu makanan yang rendah serat dan memiliki kandungan asam omega 6. “Karbohidrat dalam nasi terdiri dari pati dan gula. Dua unsur itu yang menjadi salah satu alasan mengapa penderita diabetes disarankan untuk menghindari nasi putih”, katanya. Dosen Ilmu Keperawatan ini juga berpesan untuk mengurangi konsumsi makanan yang tinggi karbohidrat seperti nasi dan roti. Mengingat adanya bahaya penyakit yang mengancam di masa depan. Menurutnya, Mengonsumsi makanan alami tanpa olahan bahan kimia adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan. “Perbanyak konsumsi buah dan sayur. Selain memiliki banyak vitamin, keduanya juga memiliki serat. Sehingga bisa menjadi salah satu pilihan agar kita tidak bergarung pada karbohidrat saja,” pungkasnya mengakhiri. (wil)

Dilaksanakan di UMM, DPP IMM Buka Program Djazman English Scholarship

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah menjadi garda terdepan perkaderan mahasiswa di Persyarikatan Muhammadiyah. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. pada pembukaan Djazman English Scholarship & Seminar Internasional. Adapun agenda itu digelar di UMM pada 08 Mei 2023 lalu Dalam acara yang bertajuk “Internasionalisasi Gerakan Inklusif Berkemajuan” itu, Rektor UMM menegaskan bahwa IMM dengan cepat mampu menjawab salah satu tujuan dari Muktamar Muhammadiyah ke-48. Yakni Internasionalisasi Muhammadiyah. “IMM sangat cepat, belum genap satu tahun pasca Muktamar Muhammadiyah ke-48, IMM sudah menjawabnya dengan kegiatan pengkaderan internasionalisasi ini,” tegasnya. Adapun program Djazman English Scholarship akan dilaksanakan selama tiga bulan di UMM. Ada 30 peserta yang sudah lolos seleksi dari ribuan pendaftar yang berasal dari kader IMM se-Indonesia. Fauzan juga menaruh harapan bedar kepada seuruh peserta agar bisa mengembangkan kemampuan bahasa Inggris dengan baik. “Kalian semua adalah kader pilihan. Maksimalkan potensi kalian lewat program ini sebagai wadah meningkatkan intelektualitas, mengingat kalian merupakan regenerator persyarikatan,” katanya. Di sisi lain, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Irwan Aqib, M.Pd. mengungkapkan bahwa ada filosofi kenapa program itu dinamai dengan Djazman. Nama itu berasal dari nama seorang tokoh Muhammadiyah Djazman Al-Kindi, pendiri IMM yang memiliki spirit perkaderan dan intelektualitas yang tinggi. “Pemilihan nama Djazman Al-Kindi ini tentu memiliki alasan. Salah satunya berkat pemikirannya yang kosmopolit,” ungkapnya. Dia juga menegaskan, perkaderan menjadi kunci berlangsungnya suatu gerakan yang ada. Tanpa adanya perkaderan, tidak ada orang-orang yang mampu m melanjutkan perjuangan. Perkaderan ibarat lingkaran proses. Pasti ada masa di mana digantikan dengan yang lebih kuat dan baik. Hal tak jauh berbeda disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM Abdul Musawir Yahya, M.H. Ia menyampaikan bahwa IMM memiliki komitmen besar kepada peryarikatan Muhammadiyah untuk meningkatkan kaderisasi di lingkungan mahasiswa. Termasuk di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). “Komitmen IMM merupakan wahana kaderisasi pertama yang ada di ranah mahasiswa. IMM siap untuk mewadahi kader-kader yang ingin mengembangkan berbagai potensinya,” ungkapnya. Terakhir, Abdul berpesan kepada seluruh kader IMM se-Indonesia untuk turut andil dalam memajukan Muhammadiyah dan Bangsa Indonesia. Bisa dimulai dari niat sungguh-sungguh menuntut ilmu. Pun dengan memberikan solusi serta gagasan-gagasan berkemajuan. “Jangan pernah merasa bosan dengan berproses. Lontarkan setiap gagasan serta kritik berkemajuan untuk pembangunan persyarikatan dan bangsa” ujarnya. (faq/wil)

UMM Terima Penghargaan Kampus dengan Kontribusi Teraktif Bidang Keinsinyuran

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak henti-hentinya meraih prestasi. Teranyar, UMM menerima penghargaan sebagai perguruan tinggi yang berkontribusi aktif pada Pengembangan Keinsinyuran. Penghargaan itu diterima dalam gelaran pembukaan Musyawarah Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur 2023 pada 5 Mei 2023 lalu di Surabaya. Adapun penghargaan diberikan langsung oleh Ketua Pimpinan Wilayah PII Jawa Timur, Prof. Dr Ir. HM. Bisri, MS kepada Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd. Fauzan, sapaan akrabnya, mengatakan sangat mengapresiasi raihan tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa Kampus Putih merupakan universitas mumpuni, termasuk dalam bidang keinsinyuran. Meski begitu, ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus berpacu memberikan yang terbaik dalam pengembangan keilmuan. “Semoga dengan penghargaan ini, UMM bisa terus maju dan bisa selalu berkontribusi di dunia rekayasa (engineering). Raihan ini juga menjadi penegasan bahwa kami adalah institusi pendidikan yang menjadi tempat berproses dan mengemban ilmu bagi calon-calon insinyur masa depan,” ungkap Fauzan. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa UMM telah banyak melahirkan prestasi di bidang engineering. Salah satunya adalah sederet piala yang berhasil dimenangkan oleh mahasiswa UMM di berbagai kompetisi. Tidak terbatas pada tingkat nasional semata, tapi juga berhasil mengharumkan nama kampus di level dunia. “Inovasi-inovasi juga senantiasa ditelurkan oleh mahasiswa dan dosen. Hal itu menjadi satu dari sekian solusi di tengah banyaknya problem masyarakat. Pun dengan pendirian lebih dari 54 Center of Excellence (CoE) yang menjadi cara kami berkontribusi bagi negeri. Anak-anak muda di dalamnya akan dibekali dengan skill yang sesuai dengan kebutuhan pasar, sehingga bisa langsung terserap di dunia kerja dan bahkan membuka usaha sendiri,” katanya. Rektor asal Kediri itu juga menegaskan penghargaan dari PII ini menjadi salah satu bahan bakar agar UMM lebih atkif bergerak dan berkontribusi dalam program yang bersifat nyata. Tidak hanya pada tataran teori saja. Namun benar-benar memberikan efek positif, termasuk dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Selain kategori perguruan tinggi, ada beberapa kategori yang disediakan oleh PII. Salah satunya yang diberikan kepada beberapa pemerintah daerah dan kota. Di antaranya kepada Pemda Jember, Malang Kota, Kota Surabaya dan lainnya. (zak/wil)

Lewat CoE UMM, Anak Muda Pasti Lulus Tepat Waktu dan Pasti Bekerja

Demi memajukan bangsa, beragam terobosan diciptakan oleh Universitas Muhammadiyah malang (UMM). Salah satu yang menarik dan diapresiasi oleh banyak pihak adalah Center of Excellence (CoE). Bukan hanya oleh tokoh lokal, tapi juga dari mereka yang berada di level internasional. Berkat program ini, muncul anak-anak muda yang kreatif dan memiliki kemampuan sesuai dengan kebutuhan pasar yang bisa langsung berkarya di banyak sektor. Salah satunya Ahmad Faturokhim, alumnus Prodi Akuakultur UMM. Berawal dari kecintaannya akan udang dan tambak, ia berinisiatif untuk turut mengikuti CoE Udang yang dibuka oleh Kampus Putih. Apalagi didukung dengan latar belakangnya yang sudah menekuni tambak udang sejak lama. Begitu lulus dari kuliah dan CoE pada 2022 lalu, ia langsung tancap gas menjalankan bisnis tambak udang vaname yang letaknya di Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Menariknya, omzet yang berhasil ia dapat bisa mencapai 400 juta pertahun. “Kalau dihitung-hitung omzetnya yang bisa diperoleh sekitar 100 jutaan per tiga bulan. Jadi mungkin bisa dapat 400 jutaan selama satu tahun,” tegas Fatur. Adapula Danny Shevarivo yang sukses direkrut PT. Indotama Seraya Artha sebelum lulus berkat turut serta mengikuti CoE human resource and development (HRD). Menariknya, berkat program ini pula Danny bisa lulus dengan cepat yakni 3,5 tahun. Danny, sapaan akrabnya, menjelaskasn bahwa CoE HRD memberikan pengalaman baru dan skill yang memang dibutuhkan industri. Bahkan, dari program CoE UMM ini ia mendapatkan sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) level staf HRD. “Selain itu, saya juga mendapatkan sepuluh kompetensi unggul dari CoE dan surat pengalaman kerja dari perusahaan terkait. Usai menjalani program CoE, saya juga berhasil direkrut dan langsung bekerja di perusahaan terkait sekalipun saya belum diwisuda,” katanya. Hingga saat ini, ada lebih dari 40 CoE yang sudah berjalan. Ada kelas udang, metaverse, School of Creative Digital Communication, welding inspector, dan sederet lainnya. Sebagian besar sudah bisa langsung direkrut oleh dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Sebagian juga mampu membuka usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Terkait hal ini, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan bahwa program unggulan seperti CoE harus terus dimunculkan dan dijalankan secara matang. Menariknya, program ini juga berupaya mengantisipasi perpindahan minat mahasiswa yang berbeda dengan jurusannya. Jadi, mereka yang kuliah hukum dibolehkan untuk ikut CoE lain seperti kelas metaverse, koi, anggrek, dan lainnya. “CoE tidak boleh berdasarkan pada textbook semata. Kalau hanya menggunakan textbook, program ini hanya akan berjalan di tempat tanpa ada perkembangan signifikan. UMM akan menjadikannya program yang fleksibel dan berani menciptakan inovasi,” tegasnya. Fauzan menegaskan, CoE juga turut membantu menyiapkan bangsa untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Apalagi Indonesia sudah mulai memasuki momen bonus demografi yang harus dimanfaatkan dengan maksimal, sehingga impian menjadi negara dengan kekuatan ekonomi kuat bisa tercapai. (wil)

Takjub akan Arsitektur hingga Dicibir Karena Kerudung, Begini Cerita Staf UMM di Polandia

Setiap tahun Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengirim sivitas akademikanya untuk mengikuti pertukaran ke berbagai benua, termasuk ke Eropa. Melalui Erasmus+ Programme of Staff Training Mobility, Wahyu Widi Astutik, S.Pd. berkesempatan mendapatkan pelatihan staf selama satu minggu pada penghujung April lalu di Lublin University of Technology, Polandia. Widi, begitu ia kerap disapa, mengatakan bahwa program ini merupakan hasil kerjasama antara uni eropa pada platform Erasmus+ Programme dengan UMM yang sudah terjalin cukup lama. “UMM menjadi satu-satunya kampus di Indonesia yang mendapatkan kesempatan beasiswa program pelatihan ini. Tentunya masih harus mengikuti seleksi kemampuan berbahasa Inggris sebagai salah satu dasar untuk berkomunikasi,” ungkap Widi. Lebih lanjut, wanita asal Pasuruan itu juga menceritakan aktivitasnya selama mengikuti pelatihan. Di hari pertama dan kedua, kegiatan dibuka dengan perkenalan dan juga campus tour, mengelilingi gedung kampus, perkantoran dan juga laboratorium. Kemudian di hari berikutnya mengikuti pertemuan dengan bagian manajemen perkantoran dan departemen arsip dari kampus Lublin. “Saya banyak belajar terkait administrasi kantor, keuangan dan tata kelola pengarsipan di universitas tersebut.  Di sana regulasi sangat jelas dan detail, semua diatur sedemikian rinci agar meminimalisir kesalahan pegawai dan mengurangi celah kelalaian dalam melakukan tugas pokok dan fungsinya,” pungkas Widi. Widi juga mengungkapkan program ini memberikannya pengalaman baru dan juga kesempatan untuk mengunjungi museum, kota tua dan taman di beberapa kota di Polandia. Ia terpesona dengan tatanan kota serta arsitektur Kota Lublin dan Warsaw yang rapi serta bersih. “Di semua bahu jalan, selalu ada taman untuk mengimbangi polusi udara. Fasilitas kendaraan umum juga banyak disediakan sehingga kita tidak perlu khawatir jika bepergian dan tentunya wilayah mereka ramah untuk pejalan kaki. Budaya kerja disana juga sangat humanis, kerja dimulai dari jam 10.00 sampai 14.00. Semua orang bekerja dengan sangat tekun dan disiplin,” terang Widi. Kendati demikian, wanita yang memiliki hobi membaca itu sempat mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari warga lokal karena kerudung yang ia kenakan. Beberapa orang masih berpikir dirinya membawa ancaman islamisasi. Beberapa kali ia diteriaki dan dicibir. “Beberapa kali saya berhadapan dengan orang yang mencibir wanita berjilbab. Pernah ada pengalaman unik juga. Saya bertemu dengan orang yang membawa anjing dan ia menyuruh anjingnya untuk mengecek saya, apakah saya membahayakan atau tidak. Saat anjingnya mendekat saya bilang kalau saya hanya orang biasa tidak perlu dicek dengan anjingnya, lalu mereka pun pergi,” jelas wanita asal Pasuruan itu. Terakhir Widi berharap ada lebih banyak lagi kesempatan bagi para staf UMM untuk bisa mengikuti program seperti ini. “Semoga saya dan segenap sivitas akademika di UMM bisa membangun kolaborasi dan kerjasama lain. Membuka kesempatan agar bisa mengembangkan potensi dan meningkatkan kualitas SDM,” harap Widi mengakhiri. (zak/wil)

Anak UTBK di UMM, Wali Camaba Asyik Naik Bebek Viral

Sepeda Air Bebek Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi incaran para orangtua peserta ujian tertulis berbasis komputer (UTBK) Kampus Putih. Banyak yang mengantre dan ingin merasakan sensasi wisata di tengah kampus. Adapun UTBK yang dilaksanakan 4-6 Mei ini merupakan seleksi untuk calon mahasiswa baru Fakultas Ilmu Kesehatan Jurusan Farmasi dan Fakultas Kedokteran UMM. Salah satu orang tua, Fahrudin Asjhar merasa bahwa UMM menjadi tempat yang sejuk dan menyenangkan untuk belajar. Apalagi ditambah fasilitas unik yang disediakan, seperti perahu bebek. Menurutnya, hal itu menambah kenikmatan sendiri saat berada di lingkungan Kampus Putih. “Apalagi bebek-bebek ini juga sering viral di Instagram maupun TikTok. Beberapa kali lewat di media sosial saya. Fasilitas unik seperti ini juga bisa membantu mahasiswa agar lebih produktif. Misalnya saat suntuk mengerjakan tugas, mereka bisa sesekali bermain untuk melepaskan penat,” tambahnya. Fahrudin, sapaan akrabnya, menilai bahwa sejauh yang ia rasakan, UMM bisa dikatakan menjadi kampus yang menyenangkan. Selain bebek air, para orang tua dan mahasiswa juga disediakan mobil golf untuk mobilitas di dalam kampus. “Apalagi kampus UMM kan luas. Dengan adany mobil golf ini tentu memudahkan kami untuk pergi ke lokasi-lokasi yang diinginkan,” tambahnya. Terkait pilihan untuk menguliahkan sang anak, ia mengatakan bahwa UMM menjadi pilihan tepat. Hal itu mempertimbangkan berbagai hal, termasuk fasilitas, akreditasi, hingga kualitas pengajar. Ditambah lagi UMM yang pernah menyandang Kampus Islam terbaik dunia serta seringkali mendapatkan penghargaan bergengsi. Sementara itu, hal menarik disampaikan salah satu peserta UTBK Fakultas Kedokteran (FK) UMM Faliya Fatmah Azzahra Arifin. Iamenyampaikan bahwa pilihannya pada kampus putih dirasa bisa meningkatkan kualitas dirinya. Selain itu juga bisa menunjukkan jalan baginya untuk menjadi dokter yang bermanfaat bagi sesama. “Saya jatuh hati dengan FK UMM. Di samping karena biaya kuliah yang relatif terjangkau untuk kedokteran, fasilitasnya juga memadai. Jaringan profesi kedokterannya baik dan menunjang  karir setelah lulu,” ungkapnya. Terakhir, Faliya sapaan akrabnya berpesan kepada lulusan sekolah menangah atas untuk tidak ragu mencoba peruntungan di kampus swasta. Menurutnya saat ini swasta maupun megeri tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Tinggal melihat saja, mana yang cocok dan mampu mengantarkan mahasiswanya menuju kesuksesan. (Faq/Wil)

Kebakaran Malang Plaza, Ini Saran Dosen UMM

Baru-baru ini, terjadi kebakaran di Malang Plaza yang disebabkan oleh korsleting listrik pada awal Mei dini hari. Kebakaran itu bahkan mengakibatkan kerugian sebesar 56 Miliar. Gedung yang sudah berusia 50 tahun tersebut memang memiliki potensi besar terjadinya kebakaran, apalagi jika manajemen perawatan gedung tidak berjalan dengan baik. Terutama perawatan elektrifikasi pada bangunan seperti kabel penerangan atau instalasi listrik yang sudah tua yang dapat menyebabkan korsleting. Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Erwin Rommel, M.T. selaku Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia melanjutkan bahwa perawatan kelistrikan, ketersediaan dan berfungsinya alat pendeteksi api dan juga alat pemadam api ringan (APAR) menjadi salah satu Langkah dalam mencegah bencana kebakaran “Kuncinya adalah perawatan rutin secara berkala oleh pengelola gedung terhadap instalasi dan sistem kelistrikan, serta penataan ruang dan material yang rawan terbakar. Juga maintenance pada perangkat sistem proteksi kebakaran yang telah terpasang pada bangunan” tambahnya. Selain memaparkan faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya kebakaran serta langkah pencegahannya, Erwin juga menjelaskan terkait management fire protection system yang baik bagi gedung. 5-10% anggaran keseluruhan konstruksi gedung baiknya digunakan untuk mengadakan fire protection system. “Sayangnya, pihak pengelola gedung sering lupa dalam pengadaan sistem penanganan kebakaran. Paling tidak siapkan 5-10% dari total anggaran pembangunan untuk hal tersebut,” ungkapnya Erwin mengatakan, sistem proteksi tidak cukup hanya dari peralatan yang terpasang di gedung saja, tetapi juga harus disiapkan dari luar bangunan. Misalnya ketersediaan mobil pemadam kebakaran yang bisa mencapai ketinggian bangunan tertentu. Baik dari pemerintah daerah maupun pihak swasta. Menurutnya, bangunan-bangunan publik yang ada di Malang Raya, termasuk gedung pusat perbelanjaan, bioskop, perhotelan, apalagi gedung usianya sudah diatas 10 tahun perlu dilakukan evaluasi secara insentif dan berkala. Utamanya terkait kelayakan dan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Khusus untuk gedung Malang Plaza, selain usia bangunannya yang sudah cukup tua, adanya tambahan pusat pusat kegiatan di dalamnya, mengakibatkan perubahan instalasi kelistrikan. Hal ini yang membuat potensi terjadinya kebakaran semakin besar. Terakhir, Erwin berpesan serta memberikan saran kepada Pemerintah Kota Malang untuk mengevaluasi bangunan-bangunan, terutama bangunan untuk layanan publik secara intensif dan berkala “Sebenarnya regulasi untuk peningkatan kualitas layanan gedung sudah ada yakni sertifikat layak fungsi (SLF). Tetapi sayangnya itu hanya dilakukan saat bangunan itu akan berfungsi. Sedangkan pasca operasional bangunan gedung belum ada regulasinya, termasuk  kerentanan bangunan terhadap kebakaran” pungkasnya. (*faq/wil)

Kucing hingga Kota Pabrik di Pameran Foto UMM

Apresiasi tertinggi seniman adalah ketika karyanya tidak hanya dinikmati oleh diri sendiri, namun juga oleh banyak orang. Itulah hal yang melatarbelakangi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FOCUS (Fotografi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menyelenggarakan Gelar Karya. Adapun pameran menampilan berbagai hasil foto di empat kota berbeda dari kegiatan Jalan-Jalan Sambil Motret (Jambret). Mulai dari Greisk, Surabaya, Semarang, hingga Yogyakarta. Beberapa foto yang dipamerkan adalah gedung-gedung perkotaan, kegiatan masyarakat, hingga pemandangan alam. Pun dengan perayaan tahunan yang dilaksanakan oleh warga. Gelar Karya yang dilaksanakan pada April lalu itu mengundang antusias penikmat fotografi. Ketua Umum UKM FOCUS UMM, Nurita Noviandari mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk penghargaan para anggota dan pengurus FOCUS. Selain itu juga menjadi wadah bagi teman-teman untuk menunjukkan hasil potretnya yang terbaik. “Misalnya foto kucing yang ada tengah pintu. Komposisinya sangat bagus dan momennya juga pas. Bahkan foto itu masuk delapan besar kompetisi nasional. Adapula foto yang diambil di Gresik, di mana gambarnya menunjukkan bahwa Gresik memang kota industri. Ada sungai yang mengalir di pinggir bangunan besar pabrik-pabrik,” jelasnya. Foto menarik lain adalah foto human interest yang diambil di Lawang Sewu Semarang. Yakni foto seorang penari di Lawang Sewu bersama karya-karya di dalamnya. Menggambarkan Semarang dan budayanya yang masih dirawat. “Jambret menjadi salah satu jalan bagi kami untuk mengeksplor diri. Jadi para anggota bisa merasakan suasana hunting bersama dan menghasilkan karya terbaik untuk dipamerkan,” tambahnya. Itha, begitu ia kerap disapa, mengatakan bahwa Jambret pada tahun ini diadakan di luar Malang Raya. Ada banyak sekali foto-foto yang diambil oleh teman-teman FOCUS, tapi setelah melalui proses koreksi dan seleksi, akhrinya terpilihlah 20 foto terbaik yang dipamerkan dalam gelar karya. Adapun Jambret juga dinilai memberikan pengalaman baru bagi anggota UKM FOCUS. Mengusung tema “Telusur”, kegiatan ini memberikan sudut pandang baru dari sebuah kehidupan melalui kamera. Menangkap gambar dan menceritakan hal yang mungkin belum diketahui.Ia berharap, Gelar Karya bisa menambah inspirasi baru mahasiswa tentang seni fotografi. Jadi bukan hanya mengambil gambar semata, tapi ada pesan dan nilai filosofis di dalamnya. Sementara itu, salah satu pengunjung Gelar Karya, Muhammad Iqbal mengatakan bahwa hasil foto-foto yang di pamerkan unik. Hal itu juga menambah referensi dan perspektifnya akan seni fotografi. Apalagi ia juga mengaku mendalami hobi fotografi sejak lama. “Saya memang suka memotret sejak lama. Kita bisa mendalami dan mengerti arti sebuah foto lewat diskusi dan juga pameran. Semoga aktivitas semacam ini bisa terus dilanjutkan dan dikembangkan di Kampus Putih UMM,” pungkasnya. (Wil)

Langsungkan UTBK, UMM Siapkan Mobil Golf dan Perahu Bebek untuk Wali Camaba

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) laksanakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) gelombang pertama untuk mahasiswa baru Fakultas Kedokteran (FK) dan Farmasi. Berdasarkan data PMB, total peserta calon mahasiswa baru untuk kedua jurusan tersebut di gelombang pertama ini mencapai lebih dari seribu peserta. Adapun ujian ini berlangsung selama tiga hari pada tanggal 4-6 Mei mendatang. Ada yang menarik dalam gelaran UTBK UMM kali ini. Sembari menunggu anaknya melaksankaan tes, para orang tua dan mereka yang mengantar bisa mencoba mobil golf mengitari Kampus Putih. Mereka bisa melihat gedung-gedung, fasilitas, lapangan, dan berbagai hal lainnya. Mereka juga diberi kesempatan untuk mencoba perahu bebek di danau UMM yang viral di media sosial. Terkait ujian, Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM Nurudin mengatakan, ada sebanyak 18 ruangan yang disiapkan untuk seleksi ini. Proses ujian di bagi menjadi dua sesi, yakni pagi dan siang hari yang diikuti calon mahasiswa baru dari seluruh Indonesia. “Pelaksanaan UTBK sudah berlangsung sejak empat tahun lalu. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya joki maupun kecurangan-kecurangan lainnya. Di Setiap ruangan juga terdapat pengawas dan juga bagian teknisi untuk membantu para peserta jika terjadi masalah pada komputer,” jelasnya. Lebih lanjut, Nurudin menambahkan, dalam ujian kali ini pihak panitia melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan metal detector. Pemeriksaan ini berguna untuk menjaring alat-alat elektronik berukuran mini yang mungkin dibawa peserta. Hal itu juga untuk mengantisipasi keccurangan yang mungkin terjadi. Selain itu, UMM juga dibantu dari pihak kepolisian agar proses ujian tetap aman. Terakhir, Nurudin berharap proses seleksi mahasiswa baru ini dapat berjalan dengan lancar dan aman. Karena calon mahasiswa baru ini akan menjadi orang-orang yang sangat diperlukan di bidang kedokteran dan farmasi. “Dari data yang ada, jumlah peserta mirip seperti tahun sebelumnya dan Insyaallah bisa terus bertambah di gelombang berikutnya. Kami tentu berharap mahasiswa baru yang terpilih nantinya bisa menjadi bibit-bibit unggul untuk masa depan,” ujar Nurudin. Di lain sisi, salah satu peserta UTBK Fakultas Kedokteran (FK) UMM, Nauroh Nur Azziyati Siswoyo mengaku optimis bisa lolos seleksi di Kampus Putih. “Alhamdulilah tadi bisa mengerjakan dengan baik karena sudah belajar denga rajin. Insya Allah soalnya bisa terjawab sekitar 70%,” ungkap Ziya. Adapun alasan Ziya memilih kedokteran UMM karena ingin menjadi seperti orang tua yang juga dokter. Selain itu pekerjaan dokter juga merupakan pekerjaan yang mulia yang langsung berinteraksi langsung dengan masyarakat, sehingga bisa mengedukasi di bidang kesehatan. Pun dengan upaya menangani berbagai penyakit yang diderita masyarakat. “Saya kira Kampus UMM juga bagus. Fasilitasnya mumpuni dan memadai. aAkreditasi dan prestasinya juga terus naik. Insyaallah prospek kerja kedepan juga terjamin” pungkas perempuan asal Kediri itu. (Zak/Wil)