Mahasiswa UMM Bantu Pengidap Diabetes Lewat Beras Analog Umbi-Kulit Manggis

Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kasus diabetes tertinggi. Dari tahun ke tahun, pravelensi diabetes terus mengalami peningkatan. Melihat fenomena tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Kretifitas Mahasiswa-Riset (PKM – RE) ciptakan beras analog sebagai pangan pengganti bagi penderita diabetes. Adapun proyek PKM ini digarap oleh Rizqi Zidhani Widya Iswara, Dwi Wahyu Lestari, Silvia Feby Rusantiyadi dan Anggita Yumadinda yang tergabung dalam satu kelompok. PKM dengan judul “Beras Analog Dari Umbi Talas Dengan Penambahan Kulit Manggis Sebagai Makanan Pengganti Bagi Penderita Diabetes” ini telah lolos pendanaan dari Direktorat Jendral Perguraan Tinggi (Dikti) pada bulan Mei lalu. Rizqi Zidhani selaku ketua tim menjelaskan bahwa masyarakt Indonesia tidak bisa lepas dari nasi sebagi makanan pokok. Oleh karenanya, beras analog yang mirip dengan nasi bisa menjadi pengganti makanan yang cocok bagi pengidap diabetes. “Beras analog yang mirip dengan beras pada umumnya bisa menjadi makanan pokok pengganti bagi mereka yang menderita diabetes,” imbuhnya. Adapun bahan-bahan pokok dari beras analog ini terdiri dari umbi talas dan kulit manggis. Rizqi, sapaan akrabnya memaparkan bahwa kandungan pada talas yang kaya akan serat cocok untuk pengidap diabetes. Pun dengan  nutrisi pada kulit manggis yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan tubuh bagi mereka yang mengonsumsi. DI samping itu juga dapat mencegah radiasi jahat dari luar tubuh. “Kandungan serat pada talas dan antioksidan pada kulit manggis sangat baik bagi penderita diabetes. Sekaligus bisa mempercepat penyembuhan yang biasanya menjadi masalah,” ujarnya melanjutkan. Adapun mereka telah melakukan riset terkait proyek PKM ini sejak bulan Mei hingga Agustus lalu. Pada awal riset, mereka telah mempersiapkan riset danbahan-bahan pokok. Dilanjutkan dengan proses pembuatan beras analog pada bulan Juni hingga Agustus. Rizqi menuturkan bahwa hasil riset ini nantinya akan dituangkan dalam jurnal penelitian. Mahasiswa Prodi Teknologi Pangan ini mengatakan bahwa hasil penelitian ini akan didaftarkan pada Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Pun melakukan uji kelayakan pada beras sehingga aman untuk dikonsumsi dan dipasarkan. “Saya dan tim berharap beras analog hasil dari penelitian ini bisa menjadi pengganti bisa dikonsumsi secara luas bagi pengidap diabetes, sekaligus membantu proses penyembuhan,” ungkapnya di akhir. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Berdayakan Masyarakat Melalui Sabun Organik Rosemary

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong sivitas akademikanya untuk melakukan pengabdian ke masyarakat. Kali ini giliran tim mahasiswa UMM melalui Program Kreatifitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat (PKM-PM), berinisiatif membentuk wirausaha kreatif diKelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Adapun kelompok PKM-PM yang beranggotakan Afiyah Chantika Fatmasary, Novita Dewi Anggraeni, Andy Harlissa dan Nadira Safira Darmaji ini menjadikan Sabun Organik Rosemary sebagi produk andalan UMKM setempat. Afiyah Chantika selaku ketua tim menceritakan bahwa pengembangan produk sabun rosemary dipilih berdasarkan hasil diskusi dengan warga setempat. Dalam diskusi tersebut, mereka mendapati bahwa situasi pandemi Covid-19 meningkatkan kebutuhan akan sabun. Melihat peluang yang ada, kelompok mahasiswa UMM kemudian melakukan pendampingan dan pengembangan UMKM dengan produk sabun rosemary ini. “Kondisi pandemi ternyata meningkatkan kebutuhan akan sabun. Hal ini tentu bisa menjadi peluang dalam meningkatkan ekonomi warga Bandulan,” imbuhnya. Fiya sapaan akrabnya menjelaskan alasannya memilih bunga rosemary sebagai sabun. Satu di antaranya karena bunga tersebut memiliki kandungan zat anti bakterial yang tinggi. Sehingga cocok sebagai bahan dari sabun yang berfungsi mencegah adanya bakteri pada kulit. Selain itu, rosemary juga memiliki aroma wangi yang khas, sehingga tidak memerlukan pewangi tambahan. Adapun pendampingan untuk membangun UMKM kreatif ini ditujukan kepada Ibu-Ibu PKK. Mereka telah memberikan pelatihan dan pendampingan sebanyak 15 kali sejak bulan Juni lalu. Ibu-ibu setempat diajarkan bagaiaman membuat sabun serta langkah-langkah memasaran produk. Saat ini, Sabun Organik Rosemary tersebut telah tersebar di toko-toko warga. Dijelaskan Fiya, nantinya produk sabun terkait akan dipasarkan secara online agar mendapatkan pasar yang lebih luas. Adapun harga jual untuk sabun sendiri hanya dipatok sebesar Rp11.000. PKM-PM dengan judul “Inovasi Sabun Organik Rosemary Alternatif Upaya Memelihara Kebersihan dan Meningkatkan Perekonomian di Kelurahan Bandulan Kecamatan Sukun – Jawa Timur” tersebut telah lolos pendanaan Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI) pada Mei lalu. Lebih lanjut, mahasiswa Farmasi UMM ini berharap melalui pengabdian ini, pihaknya dapat membentuk UMKM yang mampu menciptakan kemandirian ekonomi, utamanya bagi masyarakat setempat. “Kami berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut. Tidak berhenti di wilayah Bandulan saja. Sehingga akan muncul desa-desa lain yang memiliki produk andalan dan kemandirian ekonomi,” ungkapnya mengakhiri. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Borong Juara di Kejuaraan Karate Provinsi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong kultur berprestasi bagi mahasiswanya, baik itu di bidang akademik maupun non-akademik. Salah satunya yang diraih oleh Palapa Maha Awatara, mahasiswa Psikologi UMM yang sukses memborong tiga prestasi sekaligus di Piala Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang dan Kushin Ryu M Karate-Do Indonesia (KKI) Pengurus Provinsi Jawa Timur (JATIM). Kompetisi tingkat provinsi ini diadakan pada akhir Agustus lalu berlokasi di Gedung Olahraga (GOR) Ken Arok, Kota Malang. Adapun prestasi yang ia raih antara lain juara 1 kumite -67 U21 putra, juara 1 kumite beregu u21 dan best of the best u21.Tara, sapaan akrabnya bercerita, bahwa sejak ia kecil karate telah menjadi olahraga favoritnya. Hobi tersebut mampu membawanya meraih banyak prestasi sebagai atlet, baik di tingkat daerah bahkan nasional. Semua berawal dari sebuah dojo (tempat latihan karate) yang terletak tidak jauh dari rumahnya. “Karena sering menonton orang-orang latihan, tumbuh ketertarikan saya akan karate. Alhamdulillah hobi itu bisa membawa saya menjadi atlet dan memenangkan berbagai kejuaraan hingga saat ini. Apalagi keluarga dan teman-teman juga mendukung. Ditambah lagi berbagai fasilitas yang disediakan oleh Kampus Putih UMM,” ucapnya. Atlet yang juga lolos seleksi provinsi ini mengatakan bahwa latihan intens selama satu bulan sudah menjadi rutinitas dalam persiapan menghadapi kompetisi. Dua minggu latihan penguatan fisik, satu minggu pendalaman teknik dan dua minggu simulasi pertandingan. Ia merasa beruntung karena UMM memberikan banyak fasilitas. Salah satunya unit kegiatan mahasiswa (UKM) karate yang bisa diikuti. Dari situ ia bisa saling latihan bersama dan sharing strategi agar bisa memenangkan pertandingan. “UMM memang sangat mendukung saya dalam setiap kejuaraan. Bukan hanya saya, tapi semua bakat dan potensi mahasiswa diwadahi melalui UKM dan organisasi lainnya. Dengan begitu mahasiswa bisa terus menambah dan meningkatkan skill,” tuturnya. Sebelumnya, mahasiswa angkatan 2021 ini sempat meraih juara di Jember Open, pada Juli. Menariknya, ia juga memborong dua juara di kompetisi itu, di antaranya kategori kumite perorangan dan beregu. “Harapana saya tenti bisa lolos seleksi nasional dan mampu mewakili Indonesia di kejuaraan internasional,” harap mahasiswa asli Bali tersebut. (haq/wil)  

Tumbler Budaya Madura Kreasi Mahasiswa UMM

Tak mudah terurai membuat limbah plastik menjadi ancaman  menakutkan bagi keberlangsungan kehidupan di bumi. Oleh karenanya, beberapa tahun belakangan banyak orang menyuarakan penggunakan tumbler untuk mengurangi pemakaian botol plastik sekali pakai. Dalam rangka mendukung aksi tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kreasikan tumbler bernuansa budaya Madura bernama tumbler pacenan.  “Sudah saatnya kita menjadikan tumbler sebagai bagian dari lifestyle. Ini adalah hal mendesak untuk dilakukan demi menjaga keberlangsungan lingkungan,” ungkap salah satu anggota tim, Rudi. Tidak hanya menjaga lingkungan, Rudi dan tim juga berupaya untuk melestarikan bahasa serta budaya Madura lewat tumbler kreasinya. Rudi mengatakan bahwa hal itu dilakukan karena melihat semakin menurunnya penggunaan bahasa dan nilai-nilai kearifan lokal di Madura. “Kami menggabungkan unsur modern dan tradisional. Modern dari spesifikasi bahan serta proses produksinya, sementara sisi tradisional berupa desain yang mencantumkan peribahasa Madura beserta artinya. Penggunaan peribahasa dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai karakter pada kawula muda,” terang mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia tersebut. Rudi melanjutkan tumbler pacenan ini menggunakan bahan stainless steel dengan ketahanan suhu kurang lebih delapan jam. Menariknya, tumbler ini dilengkapi dengan Light Emitting Diode (LED) pengukur suhu, sehingga bisa diketahui berapa suhu air yang ada di dalamnya. Sementara peribahasa Madura dicetak dengan menggunakan teknik printing ultraviolet (UV) dan grafis laser. “Selain itu, sebagai bagian dari visi edukasi, tumbler ini juga dilengkapi dengan barcode yang terhubung ke website. Di website ini, kami menyediakan berbagai informasi tentang bahasa dan budaya Madura,” lanjut Rudi. Adapun karya inovatif ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K). Ide mereka ini juga telah mendapatkan pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan dengan Perguruan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dalam prosesnya, Rudi dibantu oleh tiga mahasiswa lain yaitu Windi Erica Sari, Tri Febriana, dan Zulfiyah Diyana Putri. Mahasiswa asal Sumenep tersebut mengatakan, dengan adanya tumbler ini diharapkan dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Di samping itu juga dapat melestarikan bahasa Madura dan memberikan edukasi nilai-nilai karakter Madura bagi generasi penerus bangsa. “Ke depan, produk ini akan terus dikembangkan melalui penambahan fitur GPS dan memperluas varian produk seperti kaos bernuansa kearifan lokal Madura. Dengan begitu, keberadaan Tumbler Pacenan dapat memberikan manfaat yang lebih optimal, baik pada aspek lingkungan, pendidikan, budaya, maupun ekonomi,” pungkas Rudi. (syi/wil)

Mahasiswa Farmasi UMM Sabet Penghargaan di Summer School Internasional

Kabar membanggakan datang dari mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Annisa Berliana Dewi berhasil mendapatkan penghargaan Best Participant dalam gelaran International Summer School beberapa waktu lalu. Adapun acara yang dilaksanakan pada 23-26 Agustus lalu ini diselenggarakan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI). Annisa, panggilan akrabnya menuturkan bahwa ada sebanyak 3.000 mahasiswa Farmasi dari 16 negara yang turut hadir dalam Summer School tersebut. Beberapa di antaranya berasal dari Timor Leste, Malaysia, hingga Brazil. “Mengingat keadaan pandemi yang belum membaik, pelaksanannya pun juga masih secara virtual demi mengurangi penularan. Meski begitu saya merasa nyaman walaupun tidak bertemu secara langsung dengan peserta lain,” ungkapnya menjelaskan. Ia kembali mengatakan bahwa penghargaan tersebut ia raih berkat keaktifannya selama agenda berlangsung. Selain itu, raihan nilai yang ia dapat dalam post-test di hari terakhir menjadi nilai lebih untuknya. Kecepatan dalam pengerjaan juga mendapat perhatian tersendiri dalam mendukung penilaian yang ia dapat sebagai best participant. “Beruntung, UMM telah menyediakan kelas English for Specific Purposes (ESP) bagi para mahasiswa. Jadi, saya tidak kesulitan jika harus mengikuti acara internasional seperti saat ini. Kemampuan bahasa Inggris ini sangat membantu saya dalam memahami materi yang disampaikan,” tutur Annisa. Annisa mengaku bahwa ia sudah menargetkan untuk menjadi best participant sejak hari pertama. Apalagi saat ada pengumuman bahwa akan dipilih tiga peserta terbaik pada akhir Summer School. Selain Annisa dari UMM yang mendapat peringkat pertama best participant, adapula mahasiswa dari Universitas Jenderal Achmad Yani yang menempati peringkat kedua. Sementara peringkat ketiga diraih oleh mahasiswa dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Lebih lanjut, Mahasiswa asli Malang itu menerangkan bahwa Summer School tersebut membahas terkait tanaman herbal yang ada di Sumatera dan pemanfatannya sebagai imunomodulator. Menurutnya, tema tersebut sangat menarik bagi masyarakat luas, khususnya para mahasiswa Farmasi. Hal itu tidak lepas dari khasiatnya yang mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, utamanya di tengah pandemi Covid-19. Terakhir, mahasiswa yang memiliki hobi membaca buku tersebut mengatakan bahwa pandemi bukan halangan untuk berprestasi dan berkarya. Sebaliknya, ia mengajak mahasiswa lain untuk memanfaatkan situasi ini dengan sebaik-baiknya. “Kini kebanyakan Summer School, kompetisi, dan juga perlombaan sering dilangsungkan secara virtual. Hal itu tentu memudahkan kita dalam mengikuti serta memenangkannya karena tidak perlu jauh-jauh datang ke lokasi. Semoga saya dan teman-teman lain dapat kembali menorehkan prestasi di masa depan,” tegasnya. (wil)

Membanggakan, Prodi Sosiologi UMM Raih Akreditasi Unggul

Setelah sepuluh tahun mempertahankan akreditasi A, Program Studi (Prodi) Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mendapat Akreditasi Unggul. Akreditasi ini dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada akhir bulan Agustus lalu. Menurut Sertifikat Akreditasi yang diperoleh, Akreditasi Unggul ini berlaku selama satu tahun mulai dari tanggal 1 Agustus 2021 lalu. Rachmad Kristiono Dwi Susilo, S.Sos, MA., Ph.D selaku Ketua Prodi Sosiologi mengatakan bahwa raihan akreditasi ini diperoleh setelah prodi sosiologi melengkapi empat kategori penilaian dari BAN-PT. pertama, yaitu jumlah dosen tetap yang dimiliki. Menurut Rachmad, prodi sudah melampaui standar minimal yang dibutuhkan. Kemudian ada pula kurikulum, jajak pendapat dari mahasiswa dan alumni. Penilaian yang terakhir yakni dari aspel jaminan mutu. “Jauh-jauh hari, kami telah mempersiapkan data-data yang diperlukan. Tepatnya sudah kami mulai sejak bulan april kemarin. Alhamdulillah, usaha kami membuahkan hasil yang maksimal dengan memperoleh akreditasi unggul,” ungkap Koordinator Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) Malang Raya tersebut. Lebih lanjut, karena akreditasi ini hanya berlaku selama satu tahun, Rachmad mengatakan bahwa Prodi Sosiologi akan bersiap untuk penilaian akreditasi selanjutnya. Ia menuturkan bahwa tantangan ke depan akan lebih berat. Hal itu tidak lepas dari format penilaian akreditas selanjutnya yang akan menggunakan Sembilan aspek penilaian. Ia mengaku sempat kewalahan saat melakukan proses jajak pendapat ke mahasiswa dan alumni. Jumlahnya yang melimpah membuat pihaknya cukup kesulitan. Terhitung, sudah ada lebih dari 5.000 alumni yang sudah diluluskan. Ditambah dengan jumlah mahasiswa aktif membuat angkanya semakin membludak.  “Dengan jumlah tersebut, tentu kami cukup kesulitan dalam mencari dan meminta pendapat kepada mereka. Maka, untuk selanjutnya akan kami persiapkan dengan lebih matang,” tutur Rachmad melanjutkan. Terakhir, Rachmad mengatakan akan kembali membenahi tim akreditasi prodi dan melakukan peningkatan kurikulum untuk penilaian selanjutnya. Selain itu, persiapan akan dilakukan lebih awal pada bulan januari tahun depan. “Perolehan akreditasi unggul ini memang sangat membanggakan namun kita tidak boleh lengah. Ke depan, prodi sosiologi akan bekerja keras dalam perbaikan mutu akademiknya,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Bantu Pasokan Listrik Masjid, Mahasiswa Elektro UMM Rancang PLTS

Meski pemerintah Republik Indonesia telah lama mendorong penggunaan energi terbarukan, namun pada kenyatannya masih banyak masyarakat yang menggunakan energi primer. Di antaranta minyak bumi dan batu bara. Melihat hal itu, muncullah ide brilian dari tim Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mitra dosen untuk merancang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada Agustus lalu. Uniknya, gagasan energi terbarukan ini diimplementasikan di Masjid, tepatnya di Masjid K.H. Ahmad Dahlan, Karangploso, Kabupaten Malang. Damas Yudha Muzakki, salah satu anggota tim mengatakan bahwa sebagian besar masjid di Indonesia masih bergantung pada listrik dari PLN. Begitupun dengan Masjid dan gedung Taman Pendidikan Quran (TPQ) Aisyiyah serta tempat pengasuhan anak di lokasi tersebut. “Paling tidak, penggunaan PLTS ini bisa mengurangi penggunaan listrik yang biasa masjid gunakan,” imbuhnya. Damas, panggilan akrabnya menerangkan bahwa PLTS yang digagas memiliki empat panel surya. Ditambah dengan satu inverter serta satu baterai yang terpasang. Dijelaskan oleh Damas, PLTS tersebut mampu menghasilkan daya listrik sebesar 800 watt. Jumlah ini dirasa mampu memasok kebutuhan listrik untuk alat elektronik yang ada di ketiga gedung tersebut. “Perancangan PLTS ini memakan biaya yang lumayan besar. Alhamdulillah kami mendapatkan sebagian besar biayanya melalui program dari UMM,” tuturnya melanjutkan. Sementara itu, saat acara serah terima, Sugiyanto selaku ketua takmir masjid K.H. Ahmad Dahlan berterimakasih kepada mahasiswa UMM yang telah memasang PLTS tersebut. Dengan adanya inovasi ini, pihak masjid bisa menghemat biaya tagihan listrik tiap bulannya. “Tentu sangat membantu dan dapat menekan biaya listrik. Semoga masjid kami ini bisa menginspirasi masjid yang ada di wilayah lain, khususnya Malang,” ujar Sugiyanto. Selain PLTS, tim pengabdian mahasiswa tersebut juga memasang Smart Breaker otomatis. Dengan adanya fitur ini, lampu yang ada di tiga gedung tersebut dapat dihidupkan secara otomatis melalui aplikasi smart home. Hal ini juga akan berkontribusi membantu menekan biaya listrik yang biasa dikeluarkan oleh pihak masjid. Bahkan mereka juga memasang CCTV sebagai bentuk preventif jika ada kejahatan terjadi. Damas tidak sendiri dalam merumuskan ide dan pengabdiannya. Ia ditemani Ahmad Nawawi, Yuslih Ariawan, Firmansyah, dan Amir Ma’sum. Di lain kesempatan, Novendra Setyawan, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing berharap, inovasi PLTS ini mampu memberikan motivasi bagi masyarakat luas, utamanya daerah Karangploso. Ia juga ingin agar para warga sadar akan kondisi Bumi saat ini. “Kami berharap ke depannya energi alternatif semacam ini bisa lebih menopang kebutuhan energi yang ada di Indonesia,” pungkasnya. (*/haq/wil)

Pakar Politik FISIP UMM Soroti Gurita Praktik Korupsi Malang Raya

Praktik korupsi di Malang Raya yang menyeret sejumlah pejabat pemerintah ke jeruji besi menjadi  topik orasi ilmiah pada Yudisium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Periode III Tahun 2021. Gelaran yudisiumtersebut diadakan pada Selasa (31/8) lalu di Taman Rekreasi Sengkaling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun Dr. Salahudin, M.Si, M.PA, pakar politik pemerintahan FISIP UMM memaparkan mengenai jejaring praktik korupsi yang ia teliti di depan 296 peserta yudisium secara virtual. Salahudin menyebut aktor politik yang terlibat dalam praktik korupsi di Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, umumnya dilakukan oleh kepala daerah dan pejabat eselon I-III. Kemudian juga didukung oleh aktor politisi parlemen. Menurut hasil riset doktor bidang Ilmu Politik tersebut, ada kepentingan kelompok, pribadi, serta bisnis yang terlibat. Sehingga kebijakan APBD yang dirumuskan bersama tidak memihak kepentingan masyarakat. “Praktik korupsi ini didukung oleh jejaring politik yang melibatkan politik pengaruh dan politik dominasi. Politik pengaruh menggunakan kekuatan politik untuk memengaruhi aktor-aktor lain. Sementara politik dominasi mendorong elit yang berkuasa untuk mengambil dominasi dalam pengambilan keputusan. Mereka jugalah yang akan memengaruhi dominasi aktor-aktor lain sehingga dapat menguasai pengambilan kebijakan,” jelas Salahudin. Dijelaskan Salahudin, dari situ dapat terlihat bahwa jejaring korupsi  sudah mengakar kuat di tiga kota terkait. Korupsi yang terjadi juga dibentuk melalui desain yang diatur secara politik. Menurutnya, ada kepentingan bisnis pada desain yang dibentuk hingga akhirnya dapat  mengendalikan kebijakan anggaran dan berujung pada korupsi anggaran. “Praktik korupsi memberikan gambaran kepada kita sebagai akademisi bahwa beban yang kita pikul akan jauh lebih berat. Perlu adanya gerakan bersama agar muncul kesadaran untuk mengubah struktur pemerintahan dan melakukan aksi nyata. Lain daripada itu adalah untuk meminimalisir praktik korupsi di daerah kita masing-masing,” ungkapnya. Adapun penyelenggaraan yudisium itu menggunakan sistem belnded dan standar protokol kesehatan yang ketat. Acara ini juga bisa disimak melalui tayangan live streaming Youtube FISIP UMM.  Ditemui di kesempatan yang sama, Zaenal Abidin, M.Si selaku ketua panitia yudisium mengatakan pemilihan venue outdoor ini bertujuan untuk memberikan kesan berbeda. “Kami ingin memberikan kesan yang menarik untuk para calon wisudawan. Oleh karenanya kami memilih di luar ruangan ketimbang di dalam ruangan yang biasa dilakukan,” jelas Zaenal. Pada yudisium periode III itu, terbaik pertama tingkat fakultas diperoleh oleh Ani Nuraini dari Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial dengan IPK 3,96. Kemudian terbaik kedua diraih oleh calon wisudawan dari Prodi Hubungan Internasional yang bernama Cindy Rezma Fanny  dengan perolehan IPK 3,90. Sedangkan terbaik ketiga berhasil dirdidapat oleh Syaqila Febriani Noor Muthia dari Prodi Kesejahteraan Sosial dengan IPK 3,87. (*/syi/wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Sarung Tangan Pencegah Saraf Terhimpit

Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan penyakit yang terjadi akibat terhimpitnya saraf yang ada di pergelangan tangan. Sindrom ini umumnya ditemui pada orang-orang yang sering menggunakan tangan secara berulang dalam bekerja. Dalam rangka mencegah CTS di kalangan pekerja, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan alat medical wristband untuk menanggulanginya. Salah satu anggota tim, Arif Kusuma Firdaus, mengatakan bahwa penyakit ini umumnya menyerang pegawai kantoran, pemetik daun teh, pelinting rokok, dan juga gamer professional. Hal ini disebabkan penggunaan tangan yang berulang dan dalam jangka waktu yang lama. Utamanya saat bekerja yang memakan waktu panjang. “Bagi para pekerja, penyakit ini cukup mengganggu produktivitas. Jika telah terkena sindrom ini, pergelangan tangan akan terasa sakit jika dipakai bergerak agak berat atau secara terus-menerus. Hal ini akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari serta aktivitas di tempat kerja,” ungkap mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) itu. Arif menjelaskan bahwa medical wristband yang dirancang timnya ini berbentuk sarung tangan. Pada bagian tengah alat ditanamkan sensor untuk mendeteksi gerakan di pergelangan tangan. Khususnya gerakan ke arah ibu jari atau istilah medisnya radial deviasi. Informasi yang diperoleh dari sensor akan dikirim ke microcontroller Arduino untuk diproses. “Dari situ bisa ditentukan apakah jumlah gerakan tangan yang dilakukan akan beresiko menjadi CTS atau tidak. Jika beresiko, alat ini akan bergetar sebagai peringatan kepada si pemakai,” ujar mahasiswa kelahiran Malang tersebut. Perbedaan disiplin ilmu antara tim dan topik yang dibahas menjadi kendala terbesar ketika proses pembuatan alat. Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengatakan jika seluruh kelompoknya berasal dari bidang kedokteran sementara proses pembuatan alatnya lebih condong ke bidang elektronika. Oleh karena itu, tim ini bekerja sama dengan Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika UMM untuk proses pembuatan alat. “Dalam proses pembuatan alat, kami mendiskusikan semua bahan dan komponen serta perancangan dengan LSO Robotika. Untuk bahan dalam pembuatan sensor, tim kami menggunakan fibroin dan laponite. Kedua bahan tersebut memiliki kelebihan yaitu ramah lingkungan. Sehingga lebih mudah untuk di daur ulang atau diuraikan kembali,” jelas Arif. Medical wristband ini diikutsertakan pada Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta  (PKM-KC) dan berhasil memperoleh pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti). Dalam PKM ini, Arif tidak sendiri. Ia ditemani oleh tiga mahasiswa FK lainnya yaitu, Aurizan Adli, Agam Siswanto Hardoyo, dan Waldiyansyah Rizkyfi Makky. “Kami berencana melakukan pengembangan dan perbaikan lagi pada desain dan cara kerja alat ini. Kami berharap kedepannya alat ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Sehingga dapat disebarkan dan bermanfaat bagi orang banyak,” pungkasnya. (syi/wil)

Webinar Internasional FAI UMM Kaji Tantangan Islamic Studies Pasca Pandemi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melaksanakan berbagai kegiatan internasional meski masih berada di situasi pandemi. Salah satu di antaranya yakni webinar internasional yang digelar oleh Fakultas Agama Islam (FAI) pada Selasa (31/8) lalu. Adapun gelaran yang membahas terkait Islamic Studies in the Post-Pandemic Covid-19 Era: Challenges and Critical Issues ini terbagi dalam dua sesi dan dilaksanakan secara daring. Webinar internasional itu turut mengundang para pakar dari berbagai negara. Beberapa di antaranya Assoc. Prof. Dr. Muhammad Ali dari The University of California Riverside-USA dan . Adapula Prof. Dr. Moncef Ben Abdel Jelel dari The University De Saosa, Tunisia dan Prof. Dr. Nadirsyah Hosen dari Monash University- Australia. Pun hadir sebagai keynote speaker, Datin Prof. Dr. Rayhanah Bt Abdullah dari University of Malaya. Di samping itu turut hadir para pakar dari UMM seperti Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Dr. Pradana Boy ZTF, Dr. Rahmat Hakim. M.MA . dan Dr. Abdul Haris, MA . Membuka acara, Prof. Dr. Tobroni, M.Si selaku dekan FAI UMM menilai bahwa pandemi juga berdampak pada perkembangan kajian keislaman. Maka dari itu perlu adanya diskusi untuk menemukan formula baru dalam kajian tersebut. “Di tengah situasi pandemi, semua bidang keilmuan berlomba-lomba mengambil peran untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang ada. Termasuk bidang kajian islamic studies,” tuturnya. Menurutnya, saat ini kajian Islamic studies masih berkisar tentang apa yang terjadi saat ini di masa pandemi. Belum ada kajian yang membahas dengan baik tentang bagaimana peran bidang kajian ini di masa setelah pandemi. Padahal, menurut Tobroni, hal ini sangat dibutuhkan para akademisi untuk dijadikan referensi keilmuan. “Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya untuk menggali, memetakan dan mendefenisikan kembali keilmuan tentang Islamic Studies khusunya dalam bidang Pendidikan Islam, Hukum Islam, dan Ekonomi Islam,” tegasnya. Sementara itu, Muhammad Ali dalam paparannya menjelaskan terkait Kajian Islam yang ada di Amerika.  Menurutnya, kini Islam tidak hanya dipelajari oleh kalangan muslim saja, namun juga oleh non-muslim.  Bagi para penganut Islam, kajian islam diharapkan dapat membuat mereka menjadi muslim yang lebih baik. Sementara bagi non-muslim, mereka ingin lebih tahu, memahami dan mengapresiasi terkait Islam yang sebenarnya. “Kajian Islam ini diharapkan dapat menghasilkan muslim-muslim yang lebih memahami Islam. Di samping itu juga dapat memberikan hubungan yang baik antar muslim dan organisasi. Lebih luas juga untuk mengusahakan hubungan baik dengan para non-muslim,” imbuhnya. Berbeda dengan Indonesia atau Malaysia, Amerika tidak mengatur keharusan atau pelarangan warganya untuk belajar agama. Maka dari itu ada berbagai institusi pendidikan Islam yang bisa ditemui di sana. Beberapa di antaranya adalah Seminar Islam, American Islamic College, Muslim Liberal Arts, hingga yang tersedia di higher education seperti universitas. Ali juga menjelaskan terkait berpikir kritis dalam kajian islam. Menurutnya berpikir kritis harus mampu memahami hubungan logis antar ide-ide, menyelesaikan masalah secara sitematis serta percaya pada akal ketimbang emosi sesaat. “Pun harus ada fakta dan bukti. Di samping itu, dalam kajian Islam kita juga harus open minded terhadap penjelasan alternatif yang ada,” tutur Ali. Pada kesempatan yang sama, Moncef menerangkan mengenai pengajaran berlapis bahasa Arab di kawasan Muslim. Menurutnya, penggunaan pendidikan daring sudah menjadi keharusan di era pandemi. Akan muncul berbagai tantangan seperti kurikulum yang dituntut interaktif, aksesnya, kemampuan para pendidik, kemampuan siswa berteknologi dan keterjangkauan. “Pendidikan juga akan lebih efisien jika menggunakan teks, debat, diskusi dan pendekatan kritis,” ungkapnya. Lebih lanjut, Moncef juga menganjurkan agar institusi seperti UMM dapat menggunakan dua metode dalam pengajaran bahasa arab. Pertama, yakni memulai kampung  bahasa arab yang diatur oleh kampus. Menurutnya, kampugn tersebut bisa menjadi aset yang baik. “Penggunaan twin teaching method yang disusun oleh para ahli bahasa arab dan Indonesia juga bisa dilakukan untuk memberikan hasil yang maksimal,” pungkasnya. Webinar internasional ini dibagi menjadi dua sesi utama. Pada sesi pertama, para pakar mengkaji mengenai “Islamic and Arabic Education in The Global Context: Learning Process, Technology and Characters”. Sementara sesi kedua lebih fokus pada “Maqashid and Sustainable Development Goals”. (wil)