Keren! Dosen UMM Inisiasi Kampung Aloevera Malang

Siapa yang tak tahu Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) di Kelurahan Jodipan, Kota Malang? Kampung tematik viral inisiasi mahasiswa pratikum Public Relations Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, namanya sudah melenggang ke nasional bahkan ke mancanegara. Menyusul kemudian Kampung Hijau “Tempenosaurus” di Kota Batu yang turut menambah daftar kesuksesan UMM mendampingi suatu wilayah mengembangkan potensinya berbasis potensi lokal. Terbaru, destinasi Kampung Tematik yang diberi nama Kampung Aloevera di Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Berbeda dengan kampung yang ada sebelumnya, Kampung Aloevera mengusung potensi di Kelurahan Ciptomulyo, Kota Malang yakni lidah buaya atau aloevera. Di dalamnya, akan banyak menyuguhkan produk-produk olahan makanan ataupun minuman khas berbahan dasar lidah buaya. Selain itu akan ditambahkan ikon-ikon wisata bertema aloevera. Program ini diinisiasi oleh Pertamina Fuel Terminal Malang melalui program CSR bekerja sama dengan dosen Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Styo Wibowo, M.Si dan Rahadi, M.Si sebagai pendamping program. “Sebelumnya, di tahun 2018, kita pernah melakukan riset sosial mapping (pemetaan sosial, red.) tentang sosial-ekonomi masyarakat di Ciptomulyo. Dari hasil riset itu kemudian dilihat potensinya. Nah, salah satu potensinya adalah aloevera yang bisa dikembangkan,” kata Novin, Jumat (5/6). Untuk menyongsong segala aktivitas produksi di wilayah tersebut, Pertamina Fuel Terminal Malang memberikan bantuan alat produksi. Alat ini berupa mesin oven dan juga peralatan pendukung peningkatan produksi usaha makanan dan minuman khas aloevera. Fuel Terminal Manager Pertamina Malang, Ahmad Zaeni mengatakan bantuan peralatan produksi ini diharapkan mampu menunjang warga di wilayah tersebut dalam memproduksi makanan dan minuman secara optimal. “Harapannya dengan bantuan peralatan produksi ini dapat digunakan sebagai trigger yang mendorong tumbuhnya kelompok masyarakat produktif dan mampu mandiri menghadapi situasi tak menentu selama dan pasca Covid-19,” terang Ahmad Zaeni. Pemberian bantuan alat produksi yang dilaksanakan Kamis (4/6) kemarin, juga berlangsung pelatihan produksi, rebranding produk, dan pemasaran online kepada warga di wilayah tersebut untuk meningkatakan kualitas dan kuantitas produk. (can)
Profesor Ini Hobi Sebar Virus Bercocok Tanam

Di sela kesibukannya mengajar, meneliti dan mengabdi, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Ir. H. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si punya hobi yang tak boleh ditinggalkan: menanam. Di sekitaran rumahnya, bersama warga RT 04/ RW 09 Kelurahan Tulusrejo, Lowokwaru, Kota Malang, Jabal menggerakan warga untuk menanam. ‘Virus’ ini ia sebar sejak hijrah ke Malang beberapa dekade silam. “Sejak kecil saya punya kebiasaan bertanam. Ketika punya rumah di Malang, saya kehilangan tempat untuk bertanam, maksudnya sawah dan tegalan. Akhirnya saya menanam di depan teras rumah, ada tanah sedikit ukuran tiga kali lima belas meter. Melebar ke kavling sebelah yang kebetulan saya beli juga selebar 150 meter persegi,” kata Guru Besar bidang Sosiologi Pertanian, dihubungi Selasa (3/6) kemarin. Sayur yang ia tanam beragam, seperti cabai, terong, sawi, kacang panjang dan ketela pohon, bahkan pohon kelor. Kemudian, tanaman-tanaman tahunan di samping rumah sisi yang lain. Ada belimbing, belimbing wuluh, sirsak dan sebagainya. Letaknya di luar rumah. Namun, siapa saja warga di wilayah kediamannya yang ingin mengambil, seluruh buahnya ia Ikhlaskan. “Semua free, semua boleh mengambilnya,” ungkapnya. Ada lima ribu lubang yang dibiayai oleh ketua RT bersama beberapa pengurus RT yang lain. Karena kebetulan, ada warga di wilayah RTnya yang juga hobi bertanam. Total ada lima orang yang hobi menanam kemudian merealisasikan ide untuk membuat pertanian hidroponik yang dikelola oleh pengurus RTsetempat. Hasilnya akan dijual kepada warga atau pihak yang bisa membeli produk hidroponik yang non pestisida. Lebih jauh Prof. Jabal menjelaskan bahwa menguatkan ketahanan pangan di saat adanya pandemu Covid-19 sangatlah penting. Untuk menjadi salah satu topik pembahasan. Tujuannya adalah mendorong masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri, serta meningkatkan produktifitas masyarakat di rumah. Misalnya dengan berkebun sistem aquaponik dan hidroponik di rumah dan lahan terbatas. (can)
UMM Bagi Kisah Kiprah Perempuan di Bidang Industri

Siapa bilang perempuan punya ruang terbatas di masyarakat. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa perempuan punya kesempatan yang sama untuk sukses dan berkarir. Dalam gelaran webinar Inspirasi Teknologi Rekayasa melalui Zoom (Intermezo) Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membagikan kisah inspiratif para perempuan karir di bidang industri. Intermezo yang mengusung semangat perempuan berkarya di bidang teknik ini, turut mengundang dua perempuan hebat di balik kejayaan perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia dan luar negeri. Mereka adalah Esther Gayatri Saleh yang merupakan Chief Test Pilot PT Dirgantara Indonesia dan Imelda Mayasari Iriyono yang menjabat sebagai Factory Manager Multinational Company di Vietnam. Kisah-kisah inspiratif para perempuan ini diawali dengan kisah awal mula mereka memutuskan untuk terjun di bidang teknik mesin, di mana bidang ini didominasi oleh pria. Diskusi yang berlangsung santai selama sembilan puluh menit ini banyak membahas bagaimana menjadi seorang perempuan yang tidak lupa akan fitrahnya dalam membersamai keluarga sekaligus bekerja untuk membuat diri menjadi lebih berdaya dan bermanfaat bagi orang lain. Hal menarik lain yang yang dapat dipetik dari kegiatan ini adalah peran penting perempuan di industri ini. Peran penting tersebut katakan oleh Imelda adalah soft-skill yang dimiliki oleh para perempuan belum tentu dimiliki oleh para pria yang bekerja di bidang yang sama. “Kita sebagai perempuan jelas memiliki soft-skill yang mungkin tidak banyak pria miliki, salah satunya teknik berkomunikasi yang diplomatis” tutur Imelda. Kisah Esther Gayatri Saleh yang merupakan satu-satunya Test Pilot perempuan di dunia menjadi hal yang sangat menarik untuk diungkap lebih jauh pada sesi Intermezo spesial hari Kartini. Esther memaparkan bahwa untuk menjadi engineer kita perlu belajar banyak dari pengalaman. “Secara khusus, di dunia penerbangan kita dituntut harus memiliki kemampuan mengekplorasi diri walau dari latang belakang pendidikan berbeda,” tandas Eshter. Lebih lanjut, Esther menjelaskan meskipun latar belakang pendidikan yang ia miliki sangat bertolak belakang dari bidang yang ia geluti saat ini, beliau dituntut mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang bersifat teknik dan non-teknik. “Selain itu, menjadi engineer harus punya kemampuan melakukan beberapa tugas dalam waktu yang bersamaan atau multi-tasking, memiliki management waktu yang baik, kemapuan memecahkan masalah. Hal tersebut akhirnya dapat mematahkan kiraan orang bahwa pilot ya harus laki-laki,” papar Esther. Selanjutnya, Imelda juga menjelaskan bagaimana cara menjadi lebih prfesional dan mahir di bidnag teknik. Ada dua hal penting yang harus para perempuan perhatikan untuk meningkat kualitas diri di bidang teknik yaitu functional dan soft-skill. “Pertama, functional skill bearti kita harus meningkatan kemahiran dan keahlian kita pada satu bidang yang kita geluti. Kedua, soft-skill yang lebih berfokus pada bagaimana kemampuan kita dalam berkomunikasi,” papar Imelda. Imelda Mayasari juga mengimbuhkan bahwa perempuan memiliki peran segitiga tidak sama sisi. Di satu sisi, perempuan harus berperan sebagai seorang karyawan di tempat dia bekerja, sebagai ibu yang harus mengasuh anak-anaknya dan seorang istri yang harus mendampingi suami. “Sisi dari segitiga itu bisa berbeda-beda panjangnya tergantung prioritas yang sedang dihadapi. Jadi kita harus bisa memainkan peran yang sangat baik untuk ketiga peran tersebut,” pungkas Imelda. (nis/can)
Alumni UMM Populerkan Cara Mengajar Daring Kreatif lewat Media Corona

Pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 memberi berbagai tantangan bagi guru. Bagaimana tidak? Kondisi yang serba terbatas dan dibatasi ini tidak menyurutkan tuntutan akan profesionalitas guru dalam pembelajaran. Maka, guru harus terus bersemangat, terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Hal itu dibedah dalam Webinar Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM) yang bertema “Menjadi Guru Kreatif dan Inovatif di Masa Pandemi”, Rabu (20/5). Webinar yang berlangsung selama 3 jam ini menghadirkan Dr.Sugiarti, M.Si. dan Nariyanto, M.Pd. sebagai pemateri. Salah satu kreativitas dan inovasi yang dapat diterapkan guru adalah melalui penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan kompetensi siswa. Media pembelajaran ini, menurut Nariyanto, haruslah yang mudah didapat, aman, ekonomis, dan ramah lingkungan. “Di sekitar kita ada berbagai hal yang bisa dimanfaatkan. Tidak perlu mengeluarkan biaya mahal. Di sekitar kita sudah tersedia. Jika kita sebagai guru bisa melihatnya, bisa memanfaatkannya, justru itu yang membanggakan,” ujar alumni Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia tersebut beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan ini, Nariyanto kemudian menjelaskan ‘Media Corona’ sebagai media inovatif pembelajaran di masa pandemi ini. Media Corona adalah singkatan dari Corat-coret Romantika Bermakna. Penggunaan media ini hanya membutuhkan kertas dan alat tulis. Selanjutnya, ia menjelaskan empat langkah penerapan media Corona. Caranya, guru menetapkan tema terlebih dahulu. Misalnya temanya binatang. Guru kemudian meminta siswa membuat coretan yang tidak beraturan di atas kertas yang sudah disediakan. Kemudian, guru menentukan sudut pandang sesuai tema. Kita bisa minta siswa untuk memutar kertas ke kiri atau membaliknya sehingga ada pengalaman baru, ada hal yang terduga yang kita hadirkan. “Terakhir, guru meminta siswa menebalkan bagian yang terpakai serta menghilangkan yang tidak digunakan sesuai tema. Dengan begitu, insyaAllah anak-anak akan merasa senang dan lebih kreatif. InsyaAllah nggak ada lagi gambar dua gunung, sawah, dan jalan lagi,” terangnya pada 510 peserta webinar sambil mempraktikkannya di atas kertas. Tak hanya Media Corona, guru yang sudah 9 kali memenangkan berbagai kompetisi guru inovatif sejak tahun 2014 ini mengajukan dua media lain yakni Media Tambang Berantai dan Media Sikamin. Media Tambang Berantai bertujuan untuk melatih komunikasi anak. Penerapannya adalah dengan meminta anak membuat kelompok kecil dengan sesama siswa yang rumahnya dekat untuk belajar bersama dan menyelesaikan tugas komunikasi bersama secara berantai. Tentu, pada praktiknya tetap dengan mengindahkan aturan social distancing. Adapun ‘Media Sikamin’ atau Aksi Media Beraksi di Kamar Bercermin bertujuan untuk bekerja sama dengan anggota keluarga. Penerapannya yakni dengan meminta siswa melaksanakan instruksi guru di depan cermin dengan divideo oleh anggota keluarga lain. Sejalan dengan itu, pada kesempatan sebelumnya, Dr. Sugiarti, M.Si juga mengungkap bahwa pengajaran kreatif di rumah dapat dilakukan melalui tiga cara yakni menggunakan video pembelajaran, merekam kegiatan anak di rumah, dan membuat proyek di rumah. Dari sini terlihat sekali bahwa pembelajaran yang dilaksanakan secara daring menuntut penggunaan teknologi dan peran serta orang tua. Meski demikian, guru tidak akan pernah tergantikan. “Video pembelajaran, fitur-fitur pembelajaran daring itu memang merupakan teknologi. Kita dimudahkan oleh adanya teknologi. Namun, guru tidak akan tergantikan oleh teknologi. Mengapa? karena ada proses pembentukan kepribadian dalam pembelajaran. Teknologi tidak akan sampai pada ranah penanaman pendidikan karakter. Demikian juga orang tua. Ada keterbatasan-keterbatasan,” tambahnya. Lebih lanjut, problematika yang terjadi di lapangan adalah bahwa tidak semua teknologi yang canggih dengan berbagai macam fiturnya itu dapat dijangkau oleh siswa dan orang tua. Oleh sebab itu, dalam pandangan Dr. Sugiarti, guru dapat memanfaatkan media yang mudah dijangkau seperti WhatsApp. “Kita memang dihadapkan pada persoalan sarana prasarana teknologi. Sejauh ini yang paling mudah WA, yasudah, kita pakai WA. Kita tidak harus pakai Zoom, tidak harus pakai Edmodo, atau fitur-fitur yang lain yang menyulitkan. Kita fokus saja pada penguasaan kompetensi anak,” terang Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM ini. Melalui kegiatan webinar ini, diharapkan guru-guru mendapatkan inspirasi pembelajaran inovatif di masa pandemi. Lebih dari itu, guru-guru mendapatkan energi baru dalam mengemban amanah profesinya. (*/can)
Bionic Family Project Tingkatkan Ketahanan Pangan Keluarga di Masa Pandemi

Melalui Seminar Agro Online Pangandaru (Pendampingan Pangan dari Rumah) Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska–PB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Mahasisawa Relawan Siaga Bencana Maharesigana mengajak masyarakat untuk membuat projek keluarga (18-20/5). Family Project di masa krisis pandemi Covid-19 sangatlah dibutuhkan. Selain sebagai wahana rekreasi keluarga di rumah, namun juga diharapkan mampu memberikan dampak positif pada perekonomian keluarga. Menghadirkan Prof. Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si., Prof. Dr. Wahyudi, M.Pd., dan Riza Rahman Hakim, S.Pi., M.Si., sejumlah 300 orang peserta belajar untuk memenuhi kebutuhan pangan berbasis pertanian dan perikanan melalui aplikasi telekonferensi. Peserta mampu melihat langsung contoh projek keluarga yaitu bionic (Bionic Family Project) yang merupakan kombinasi dari budidaya BIONA dan Aquaponic. Bionic sering dikenal dengan budidaya ikan dan tanaman sayuran secara bersamaan di lahan terbatas yang sering ditemukan di daerah perumahan perkotaan. “Masyarakat harus segera beradaptasi dengan The New Normal saat dan pasca terlewatinya masa krisis pandemi Covid-19. Masyarakat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarga secara mandiri, sehingga pembelajaran budidaya ikan dan bertani di rumah perlu dimaksimalkan,” jelas Prof. Jabal selaku Guru Besar Fakultas Pertanian dan Perikanan (FPP) UMM tersebut. Selain itu, salah satu dosen pengajar FPP-UMM, Riza menjelaskan bahwa setiap keluarga dapat membuat projek bionic dalam bentuk One House One Pond (OHOP) dimana setidaknya setiap rumah memiliki satu bak yang digunakan untuk menanam sayur dan membudidayakan ikan. Selama berada di rumah, OHOP dapat meningkatkan kemandirian pangan keluarga, menjadi aktifitas yang menyenangkan bersama keluarga, dan wahana belajar anak. (*/can)
Keluar BUMN Pilih Wirausaha, Pemuda Alumni UMM Raih Omzet Ratusan Juta

Tiada keberhasilan dalam usaha, sebelum kita merasakan pahitnya kegagalan. Hal ini dibuktikan oleh pengusaha muda asal Palembang, Dimas Agung Mahendra. Alumni Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2017 ini berhasil mendirikan perusahaan distributor beromzet ratusan juta rupiah perbulan Aquagro Indonesia Mature, setelah beberapakali mengalami kegagalan. Pria 24 tahun ini mengaku, berbagai usaha di berbagai bidang telah ia coba sejak duduk di bangku SD, SMP, SMA hinga kuliah. Bukannya untung, sebagian besar justru berujung rugi. “Saya jualan mulai SD, jualan stiker. SMP juga jualan foto copy-an. Jadi teman-teman yang mau foto copy titip ke saya, saya ambil untung 100 rupiah. SMA jualan nasi uduk dan risoles. Saya juga sempat ternak ikan mulai lele sampai patin. Tapi semuanya gagal,” urainya mengenang. Meski demikian ia tak menyerah. Jiwa wirausahanya tetap menyala. Sayangnya, kedua orang tua Dimas tidak merestui. ”Gak boleh sama orang tua. Sekolah tinggi-tinggi kok gak jadi pegawai kata mereka. Akhirnya tahun pertama setelah lulus saya kerja di salah satu bank. Benar saja, saya gak betah,” jelasnya. Dimas berpindah perusahaan yang lebih lekat dengan latar belakang studinya. Menjadi staf salah satu BUMN di bidang perikanan dan dipercaya sebagai akunting. Meski awalnya ragu, posisi ini justru menjadi tambang emasnya menimba banyak ilmu untuk kesuksesan usaha di masa depan. “Ternyata kalau pengusaha itu gak bisa akutansi, sama saja bohong. Rugi terus. Gak kelihatan untungnya. Dari sini saya mulai belajar. Saya mencuri sistem pembukuan, mencuri sistem pemasaran dan yang lain. Kebetulan kan saya bidang keuangan, jadi saya ketemu sama bos-bosnya (produsen, red.) ketemu para pemilik ikan, daging dan lain-lain,” kata Dimas mengenang. Kesempatan bertatap muka dengan berbagai pemasok utama pangan di bidang pertanian, peternakan dan perikanan membangkitkan mimpi lamanya. Putra dari Pristianto dan Farida Rostantina ini ingin memutus rantai pasokan agar masyarakat semua kelas dapat mengakses bahan pangan kualitas terbaik dengan harga terjangkau. Ia pun mulai gusar dengan cita-citanya hingga memutuskan untuk keluar. “Saat keluar saya pegang uang 300 ribu saat itu dan bertekad mau mulai bisnis. Itu bodoh sekali rasanya. Akhirnya uangnya saya sedekahkan, saya sisakan cuman 78 ribu. Lalu saya bikin product knowledge, sejenis brosur. Misalnya tentang ikan, ini harganya sekian kulitasnya sekian. Lalu saya keliling ke restaurant-restauran, rumah makan, warung-warung, saya julan beras, ikan, daging tanpa ada barangnya. Modal hanya printer dan kertas saja,”kata Dimas mengenang. Tidak disangka, salah satu restoran Padang terbesar di daerah Tanjung Perak tertarik dengan penawarannya. Dimas pun mengambil beras dari Kepanjen seberat 1 kg sebagai contoh. “Dengan uang sisa 70an ribu saya haya bisa dapat 1 kg. Itu saya ambil Kepanjen. Sesampainya lagi di restoran Padang itu, beras langsung dimasak, saya diminta menunggu. Setelah berasnya matang, semua karyawan sekitar 15 orang diminta menyincip dan ternyata cocok. Saya lagsung dapat purchase order 3 ton beras,” kenangnya haru. Mendapat order pertama sebanyak 3 tonberas bukan berarti masalah selesai. Problem selanjutnya muncul. Ia tak punya uang untuk membeli beras tersebut yang total mencapai Rp. 36 juta-an. “Akhirnya saya cari teman yang bapaknya kaya atau kenal-kenalan yang kaya. Dapatlah bapak temen saya. Saya ajak kerjasama, teryata dia mau. Dia investasi 40 juta. Lalu saya mulai menjajakan produk saya ke restoran yang lain, ke rumah sakit, lalu masuk ke perusahaan hingga pengiriman-pengiriman lain ke luar pulau,” terangnya. Dimas makin bersemangat. Usaha impiannya di masa kuliah terwujud. Keinginannya untuk menyediakan bahan pangan berkualitas dengan harga terjangkau bagi semua kalangan sudah di depan mata. Kini, dengan mensuplai berbagai usaha kuliner dan retail baik BUMN maupun swata, omzet ratusan juta dengan keuntungan puluhan juta rupiah per bulan bisa ia kantongi. Mimpinya pun semakin tinggi. Di tengah wabah Covid-19, saat banyak ibu-ibu kesulitan berbelanja, Dimas menyiapkan aplikasi belanja bahan pangan berkualitas dengan harga bersahabat. “Aplikasi namanya Ever Fresh. Dalam 1-2 bulanan ini akan kita launching ke playstore. Kita jual semua sayur, daging, ikan, beras dengan harga yang terjangkau karena kita coba putus rantai. Ini cita-cita saya sejak awal kuliah untuk memutus rantai pasok. Saya langsung beli di petani. Saya mencoba membidik pasar menengah ke bawah. Saya lihat ibu-ibu saat ini susah belanja karena Covid-19. Di Surabaya misalnya, banyak pasar yang ditutup. Ini menjadi peluang sekaligus usaha untuk membantu masyarakat,” katanya. Berbeda dengan toko sayur online lain yang hanya tersedia di aplikasi, Ever Fresh juga melayani pembelian di luar aplikasi. Para pembeli hanya perlu menyampaikan pesanannya melaui WhatsApp, selanjutnya sayur akan diantar. Ini untuk memudahkan para ibu yang tidak terlalu akrab dengan teknologi. “Sekarang memang zamannya 4.0, zamannya teknologi. Tapi jangan lupa, ibu-ibu usia di atas 40 tahun itu sulit mau mengikuti teknologi. Padahal populasi mereka sangat tinggi sekali. Kalau mereka langsung harus serba online nanti kaget. Nah, makanya saya membuat perpaduan antara online dan offline,” pungkasnya. (sil/can)
UMM Sebar Inspirasi Dunia Kerja dari Para Expert BUMN

Untuk memberikan inspirasi pada mahasiswa dan calon mahasiswa tentang gambaran dunia pekerjaan di dunia teknik permesinan, pada 30 April 2020 Program Studi (Prodi) Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan langsung Senior Manager HRD PT. Barata Doni Tri Prasetio, S.Psi dan HCPO PT Pindad John Salale C.O serta Wakil Rektor 3 UMM Dr. Nur Subeki, ST., MT. dalam agenda Inspirasi Teknologi Rekayasa melalui Zoom (INTERMEZO) seri 2 . John Salale dan Doni Tri Prasetio menjelaskan secara lebih detail tentang persyaratan bagi peserta mahasiswa Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) baik di PT Barata maupun Di PT Pindad. Di antaranya mahasiswa dapat menambah relasi, mengetahui karir dan pekerjaan yang sesuai, mempraktekkan ilmu yang didapat, dan tentu dapat meningkatkan kualitas diri mahasiswa. Untuk bisa sebagai peserta PMMB mahasiswa harus memenuhi syarat secara akademik dan lulus test kesehatan. Selama melakukan magang di PT Pindad dan PT. Barata memiliki hak yang sama sebagaima nama karyawan tetap. Untuk lebih menginspirasi lagi, pada tanggal 14 Mei 2020 Prodi Teknik Mesin UMM menghadirkan pemateri dari PT INKA Hana Dita Puspita (Senior manager Pengembangan SDM dan Diklat) dan M. Evan Wiryawan (Senior Manager Desain Mekanik). Pada kesempatan pertama yaitu Hanna Dita menjelaskan manfaat dari mahasiswa yang mengikuti program PMMB, khusunya di PT INKA. Yaitu mahasiswa dapat menambah relasi, mengetahui karir dan pekerjaan yang sesuai, mempraktekkan ilmu yang didapat, dan tentu dapat meningkatkan kualitas diri mahasiswa. Program PMMB ini dapat diikuti oleh mahasiswa dengan cara mendaftar melaui Universitas maupun FHCi, maupun dengan cara daftar secara mandiri. Fasilitas yang akan didapat adalah uang saku dan juga sertifikat industri. Sedangkan untuk jangka waktunya adalah selama 6 bulan. Yang harus menjadi perhatian bagi calon mahasiswa yang ikut magang di PT INKA ini adalah bahwa mahasiswa tersebut harus mempersiapkan proposal yang akan diajukan pada PMMB tersebut. Setelah itu pelamar akan menunggu hasil pengumuman dari perusahaan. “Pelaksanaan PMMB di PT INKA berjalan selama minimal 6 bulan, baik itu In class training maupun praktek pada bidang masing-masing yang sesuai. Setelah selesai pelaksanaan akan diadakan uji kompetensi sevagai syarat akhir untuk mendapatkan sertifikat kompetensi,” ungkap Hanna. Selanjutnya M. Evan Wiryawan menjelaskan betapa pentingnya penguasaan desain dan analisis baik dalam pembuatan kendaraan, pesawat, pabrik industri, peralatan dan mesin industri dan lain sebagainya. Teknik mesin biasanya terdiri dari: Perancangan Mekanik dan Konstruksi, Proses Manufaktur dan Sistem Produksi, Konversi energi dan Ilmu Bahan/ Metalurgi. Lebih lanjut Evan menjelaskan di era moderen ini penggunakan bantuan software yang sering digunakan seperti MATLAB (Matrix Laboratory), 2. Mechanical Desktop merupakan program CAD (Computer Aided Design), ANSYS mechanical, Solidwork, ANSYS (Design Modeler, Profesional, DesignSpace dan Knowledge Manager), Mechanical Toolbox, Steam, Gas Dynamics Software, CATIA dan lainnya di dunia industri. Bahkan dalam urainnya Ivan menjelaskan bahwa banyak peluang untuk jurusan Teknik Mesin dalam pandemi covid-19 yang bisa dilakukan kajian bersama antara industri, dosen dan mahasiswa bisa dilakukan di industri atau di kampus. Artinya di masa pandemic covid-19 ini PKN bisa dilakukan secara online seperti menganalis menggunakan software. UMM terus berupaya memperbanyak mitra industri sebagai wadah pengayaan wawasan dan keterampilan dalam mempersiapkan mahasiswa masuk ke dunia kerja. “Ada setidaknya 142 perusahaan di bawah naungan BUMN yang siap menyerap mahasiswa magang dari UMM,” kata Wakil Rektor 3 UMM Dr. Nur Subeki, ST., MT. Program ini sejalan program Pemerintah bahwa BUMN punya andil besar dalam pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. “Salah satu cara yang ditempuh adalah mendekatkan dunia pendidikan, sekolah dan perguruan tinggi dengan industri,” tandas Nur Subeki. (can)
UMM Apresiasi Dosen dan Karyawan Berprestasi

TRADISI tahunan pemberian tanda prestasi bagi dosen dan karyawan berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali diselenggarakan Selasa (19/5) siang. Dalam kesempatan yang sama, UMM juga menyerahkan tanda bakti 25 tahun atau lebih bagi dosen dan karyawannya. Sedianya penyerahan tanda prestasi dan bakti ini diberikan dalam momentum Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu. Karena Corona, penyerahan tanda apresiasi ini tertunda dan baru bisa diselenggarakan sekarang. Penyerahan penghargaan dilakukan dengan protokol kesehatan ketat. Peraih dosen berprestasi tingkat universitas yakni peringkat pertama Zulfatman, M.Eng., Ph.D. (Fakultas Teknik/ Teknik Elektro); peringkat kedua Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan/ Pendidikan Biologi); ketiga Gonda Yumitro, S.IP., MA. (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/ Hubungan Internasional). Pemenang dosen berprestasi berhak mengikuti kompetisi Pemilihan Dosen Berprestasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Jawa Timur. Sementara untuk tenaga kependidikan berprestasi yakni pertama Agus Santoso, S.Sos. (Biro Kemahasiswaan); kedua Slamet Supriyadi (Biro Administrasi Keuangan); Ketiga Misbahudin Arif (Laboratorium Komputasi dan Bisnis); harapan pertama Muh. Hasyim Musthofa, SE. (Biro Hukum dan Kepegawaian); harapan kedua Imron Rosadi, A.Md. (Fakultas Hukum); Nur Ishmah, S.IP. (UPT. Perpustakaan). Secara bergantian, Wakil Rektor I, II, III dan IV serta pejabat struktural UMM menyerahkan piagam penghargaan. Acara penyerahan Tanda Prestasi Dosen dan Karyawan Berprestasi ini disiarkan secara langsung di channel YouTube UMM, UMMTube. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd dalam sambutan dan pengarahannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para peraih penghargaan. “Saya atas nama pimpinan UMM mengucapkan terimakasih banyak, bapak dan ibu tetap beristiqomah untuk menjalankan tugas dan kewajiban. Mudah-mudahan semangat yang bapak ibu tunjukan dicatat sebagai ibadah dan prestasi di hadapan Allah SWT,” kata Fauzan. Lebih lanjut Fauzan menyebut, tiap dari sivitas akademika UMM adalah representasi institusi. “Konsekuensi logis dari itu semua adalah kita harus menjadi ibrah, menjadi ustad, dan contoh uswah. Kita harus bisa mengambil peran-peran strategis di masyarakat. Harus menjadi orang yang mampu dibanggakan. Tidak hanya di sisi akademik, tapi juga di non-akademik,” ungkapnya. Ditegaskan Fauzan, selain dicatat sebagai bentuk apresiasi institusi, penghargaan ini sekaligus memberikan peringatan kepada sivitas akademika. “UMM hanya menuntut satu, yakni sadar bahwa UMM tempat kita mengabdi adalah sebuah amal usaha Muhammadiyah. Muhammadiyah visi utamanya adalah amar ma’ruf dan nahi munkar,” pungkasnya. Sementara Wakil Rektor IV Dr. Sidik Sunaryo, SH. M.Si. yang didapuk memberi orasi pengembangan Sumberdaya Manusia UMM menyatakan, wujud nyata dari sebuah organisasi adalah SDM. “SDM yang punya pikiran-pikiran yang besar dan tindakan yang besar itu lahir karena UMM punya dua nilai dasar, yakni Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Nilai dasar Al Islam itu intinya kejujuran. Sementara nilai dasar Kemuhammadiyahan intinya adalah keikhlasan. Orang-orang yang besar itu adalah orang yang memiliki sifat jujur dan ikhlas,” ujar Sidik. Dua nilai dasar itu, menurut Sidik, jika diterjemahkan dalam konteks pengelolaan SDM setidaknya ada lima unsur. Pertama, semua yang kita lakukan harus dianggap sebagai ibadah. “Bekerja sampai jam berapapun dan di manapun, harus dimaknai sebagai ibadah kepada Allah SWT. Agar ikhlas dan jujur tadi. Bukan sebagai ajang mencari insentif, upah, dan lemburan,” sebutnya. Kedua, semua kerja-kerja ibadah kita untuk kepentingan kemanusiaan dan untuk kepentingan peradaban. “Oleh karena itu, dari seluruh unit pelayanan, dari mulai yang paling rendah dan yang paling tinggi, nilai-nilai kemanusiaan harus dijunjung,” paparnya. Ketiga, semua sivitas akademika UMM harus memiliki satu tujuan. Adanya bidang, unit, lembaga dan bagian-bagian lainnya adalah untuk mempercepat visi-misi dan tujuan-tujuan UMM. Tidak boleh terpisah antara yang satu dengan yang lain. Maka, kata Sidik, seluruh pemahaman sivitas akademika tentang organisasi harus sama. Keempat, segala ketidakjelasan dan permasalahan yang dihadapi institusi harus mengedepankan nilai permusyawaratan. Jangan mengembangkan sikap-sikap yang tidak saling percaya. “Terakhir atau yang kelima adalah prestasi. Kita ini punya harga, karena punya harga perlu diberi penghargaan. Harga kita adalah raihan prestasi, harga kita adalah dalam bentuk pengabdian. Jaga penghargaan itu,” tandasnya. (can)
Berkebun di Rumah, Langkah Mudah Tingkatkan Kemandirian Pangan

Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska-PB) berkolaborasi dengan Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajak seluruh masyarakat untuk memulai dan mengembangkan hobi berkebun di rumah. Hal ini dilakukan dengan mengadakan Seminar Agro Online Pendampingan Pangan dari Rumah (Pangandaru) bertemakan “Langkah Mudah Menuju Masyarakat Mandiri Pangan”. Menghadirkan Guru Besar Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM Prof. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si. di hari pertama (18/05). Peserta seminar melalui aplikasi zoom dan youtube mencapai 300 orang. Prof. Jabal menjelaskan bahwa menguatkan ketahanan pangan di saat adanya pandemi Covi-19 sangatlah penting untuk menjadi salah satu topik pembahasan. Tujuannya adalah mendorong masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri, serta meningkatkan produktifitas masyarakat di rumah. Hal ini dapat dilakukan dengan berkebun dengan sistem aquaponik dan hidroponik yang dapat dilakukan di rumah dengan halaman atau ruang terbatas. “Harapannya masyarakat dapat bergotong royong untuk memenuhi ketersediaan komoditas pangan secara domestik atau dari tingkat rumah tangga, desa, kecamatan, dan kota. Selain mengusir rasa bosan, bertanam merupakan salah satu langkah mudah untuk berdonasi oksigen,” jelas Prof. Jabal. Rindya Fery Indrawan, S.Pi selaku Ketua Maharesigana menjelaskan bahwa kajian Agro Online Pagandaru khusus membahas ketahanan pangan selama tiga hari berturut-turut 18-20 Mei dengan pemateri yang berbeda. Hari pertama membahas terkait langkah-langkah meningkatkan kemandirian pangan, disusul dengan hari kedua dan ketiga dengan tema yang lebih khusus mebahas ketahanan pangan dengan perspektif pertanian dan perikanan. “Kondisi krisis dengan adanya pandemi Covid-19 memaksa kita untuk terus berinovasi dalam memenuhi kebutuhan pangan. Kita harus beradaptasi dengan kondisi The New Normal,” jelas mahasiswa Magister Agrobisnis UMM tersebut. Selain adanya diskusi Agro Online Pangandaru, Maharesigana juga mengadakan live streaming Cabin Talk melalui aplikasi instagram. Kegiatan dilakukan setiap hari Senin dan Jumat dengan tema dan pemateri berbeda. Selain itu, Maharesigana juga mengadakan open donation dan pembagian sembako, pengadaan Alat Pelindung Diri (APD), serta penyemprotan disenfektan di tempat-tempat umum. (*/can)
Kisah Alumni UMM Jalani Ramadan di Amerika

Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kasmawati Ahmad, untuk bisa menjalani Ramadhan di Amerika. Terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19. Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini mengaku menjalani Ramadhan dengan tidak mudah. Peraih beasiswa LPDP Indonesia Timur untuk studi Master Business Administration di Clark University ini mengaku rindu momen Ramadan yang tidak bisa ia dapatkan saat berada di Negeri Paman Sam, di antaranya salat tarawih berjamaah dan tradisi membangunkan sahur. “Ingat banget, kalau di Indonesia, semua masjid pasti sudah penuh dengan jamaah. Di Masjid ramai dan kadang ketemu kerabat yang sudah lama tidak ketemu. Di saat sahur, bisa kedengaran suara anak-anak sambil nyanyi atau teriak-teriak “sahur-sahur”. Di sini, cuma suara alarm HP aja atau teman yang bangunin. Nggak ada suara adzan. Sedih banget sebenarnya,” kata perempuan asal Pulau Buru, Maluku itu. Kasma lantas bercerita, semula ia sempat khawatir menjalani Ramadan di Amerika dengan lama waktu puasa selama 16 jam, sementara di Indonesia hanya 13 jam. Namun berkat teman-temannya dari berbagai negara sesama muslim, ia bisa menikmati Ramadan di tanah rantau. “Alhamdulillah, saya sangat menikmati suasana ramadan di Amerika walaupun saya sempat khawatir dengan perbedaan waktu dan lingkungan di sini. Kebetulan saya tinggal dengan kawan-kawan muslim dari empat negara yang berbeda apalagi di sini muslim community-nya sangat kuat sehingga masalah perbedaan suasana bisa sedikit ringan untuk saya hadapi,” paparnya. Meski begitu, Kasma -demikian ia akrab disapa, tetap bisa melalui Ramadan dengan indah bersama empat teman kosnya yang juga muslim. Mereka berasal dari Arab Saudi, Pakistan, India dan Algeria. Setiap harinya, mereka sepakat untuk memasak makanan khas dari negara masing-masing. Lidah Indonesianya tak bisa dibohongi. Kasma pun lebih memilih memasak kolak, gorengan dan sambal karena mudah dan praktis. Sementara teman-temannya yang lain membuat sup, roti dan pasta dengan rasa yang bervariasi. “Makanan di atas meja saat buka puasa jadi sangat bervariasi,” tutur perempuan yang pernah aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini. Sementara untuk mengobati rasa rindu terhadap jajanan buka puasa di Indonesia, Kasma memilih untuk membuatnya sendiri. “Saya masih belajar untuk mencoba memasak beberapa jajanan yang bisa mengobati rasa rindu rumah,” katanya. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Amerika, Kasma yang tinggal di Worcester, Massachusetts mengaku tidak mengalami kesulitan. Ia dapat dengan mudah menemukan supermarket yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari. Dekat apartemennya, ada lima supermarket asia yang menyediakan bahan-bahan masakan merek Indonesia. “Bahkan di sini, saya bisa gampang dapat ikan segar tiap hari jumat di salah satu Asian Market. Jaraknya hanya 8 menit jalan kaki dari apartemen saya. Saya biasanya belanja seminggu sekali langsung ke supermarket,” tuturnya. Saat berkunjung ke supermarket, ia pun tidak khawatir sebab beberapa supermarket sudah menyediakan sarung tangan untuk tiap pengunjung. Lokasi supermarket pun sudah disterilisasi dan patuh pada aturan physical distancing. Sebelum mengambil studi Master di Amerika, Kasma lebih dulu bertandang ke Amerika untuk membawa konsep kewirausahaan sosial. Kasma terpilih mewakili provinsinya, Maluku, dalam ajang Young Southeast Asian Leader Initiatif (YSEALI) pada tahun 2019 selama lima pekan. (can)