Misi Peradaban Perguruan Tinggi Muhammadiyah Menurut Rektor UMM

Perguruan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus menjadi bagian tak terpisahkan dari interaksi dunia pada umumnya, dan interaksi bangsa pada khususnya. Demikian disampaikan Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam kajian Syiar Ramadhan Daring 1441 Hijriyah bagi sivitas akademika, Jumat (1/5), melalui saluran video streaming Youtube. Perguruan tinggi sebagai pusat peradaban, menurutnya merupakan suatu keharusan. Karena memang, perguruan tinggi merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang terdidik, orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi, serta para intelektual. Namun harapan besarnya tidak hanya sekedar mereka memiliki ilmu pengetahuan, tetapi karena yang hendak dijangkau atau yang dinginkan adalah juga keluhuran budi. Mengutip pernyataan Presiden Republik Indonesia ke-3 BJ. Habibie, bahwa iman dan taqwa (Imtaq) harus menjadi ruh sekaligus menjadi sumber inspirasi dalam mengejawantahkan perilaku. Maka, seluruh warga perguruan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah, di dalam misi menjalankan kehidupannya tidak bisa meninggalkan apa yang disebut Imtaq itu. Itulah misi peradaban perguruan tinggi. Peradaban tidak mungkin bisa dibangun hanya dengan berpikir cara-cara parsialitas apalagi ekslusif. Maka, disebut Rektor Fauzan, kita harus menunjukkan bahwa pergerakan dalam mengemban pendidikan tinggi Muhammadiyah harus dijalankan ke arah yang bersifat inklusif. “Sebagai kaum terdidik, sebagai kaum intelektual, kita harus membawa pergerakan Muhammadiyah ke arah pergerakan yang inklusif,” katanya. Apalagi, perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai salah satu amal usaha yang mengemban misi dakwah tentu inklusifitas menjadi suatu keharusan. Dan kitalah sebenarnya yang harus mampu membangun komunikasi dengan semua lapisan, dengan semua masyarakat tanpa melihat ras ataupun golongan. Karena pada hakikatnya, sesuai semboyan UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Muhammadiyah melalui perguruan tinggi, atau melalui UMM ini, menjadi satu amal yang menjadi rahmatan lil ‘alamin. “Kita memang tidak bisa berjuang sendiri. Untuk bisa menciptakan semboyan itu tidak mudah. Tapi saya berkeyakinan dan selalu optimis, ketika kita bisa merangkul semua pihak, Insya Allah Universitas Muhammadiyah Malang akan dirasakan kehadirannya. Dibuktikan melalui karya nyata,” tandasnya. (can)
Menko PMK di Kajian Daring UMM: Bangun Empati Sosial di Tengah Wabah

Dalam kajian dalam jaringan (daring) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Rabu (29/4), secara khusus mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia, khususnya civitas akademika Kampus Putih untuk membangun empati sosial di tengah mewabahnya Covid-19. Karena solidaritas saja tidak cukup. “Harus ada empati sosial berskala nasional. Mereka yang tidak terkena Covid-19, diminta untuk membayangkan bagaimana kalau mereka berada di posisi yang terjangkit. Sehingga tidak muncul sikap antipati, menolak pemakaman, menganggap yang terjangkit sebagai ancaman,” kata Muhadjir di channel youtube UMM1964, agenda yang merupakan rangkaian gelaran Syiar Ramadhan Daring UMM 2020 ini. Karena, sambung Rektor UMM periode 2000-2016 ini, kalau tidak ada empati mereka yang sembuh pun akan menanggung beban masalah sosial, terutama kesehatan mentalnya terganggu. “Padahal mereka sangat butuh pengakuan, butuh untuk segera kembali bersama-sama ke tengah masyarakat,” ungkap Muhadjir yang berada di Jakarta. Kajian ini ditonton oleh civitas akademika UMM dan masyarakat umum. Selain juga memaparkan upaya pemerintah untuk menanggulangi efek wabah Covid-19, Muhadjir lantas berpesan untuk betul-betul mematuhi protokol Covid-19. Salah satu di antaranya mencuci tangan. “Sebetulnya kita yang rajin shalat sudah cukup mematuhi protokol ini. Makannya, saya rasa, di Indonesia tidak terjadi wabah besar-besaran karena sebagian besar dari penduduk Indonesia mendirikan shalat,” ujar Muhadjir. Protokol berikutnya, memakai masker dan menjaga jarak. Muhadjir kemudian mengapresiasi langkah Muhammadiyah yang tidak menganjurkan mengadakan shalat berjamaah di masjid. “Di tengah wabah seperti ini, sebaiknya shalat di rumah saja. Insya Allah lebih berpahala. Ketimbang mereka yang ngeyel tetap melaksanakannya, justru memungkinkan virus Covid-19 untuk menulari kepada lainnya,” sebut Muhadjir. Yang tidak kalah penting adalah hindari kerumunan. Muhadjir menyebut, bahwa pusat penyebaran Covid-19 sebagian besar adalah tempat ibadah. Karena intensitas penularan salah satunya adalah bagaimana tata cara kita beragama. “Covid-19 ini tingkat mutasinya tinggi. Kalau dia gagal menyerang lapisan masyarakat tertentu atau etnis tertentu, dia akan segera beralih bentuk melakukan mutasi lainnya,” tuturnya. Sementara itu, Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si yang membuka Kajian daring UMM ini mengatakan, lembaga pendidikan seperti UMM yang memiliki infrastruktur penelitian, fokusnya tengah dicurahkan untuk berpartisipasi dalam mempercepat penanganan Covid-19. Di samping tetap melakukan kegiatan charity untuk kemanusiaan, sambung Syamsul, kita juga senantiasa untuk terus berdoa. (can)
UMM Beri Kompensasi Uang Kuliah saat Pandemi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan bantuan biaya pendidikan terdampak Covid-19 bagi mahasiswa aktif. Besaran bantuan biaya pendidikan ini sebesar satu juta rupiah. Kebijakan ini tercantum dalam Surat Keputusan Rektor Nomor: 16/SK/UMM/IV/2020. Untuk mahasiswa aktif semester 2, 4, 6, 8, 10 di Semester Genap 2019/2020 dilakukan pemotongan Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) sebesar Rp. 500.000,-. Dikarenakan Heregistrasi sudah berlangsung maka pemotongan dilakukan di awal semester ganjil 2020/2021. Untuk mahasiswa aktif semester 1, 3, 5, 7, 9, 11 di Semester Ganjil 2020/2021 dilakukan pemotongan SPP sebesar Rp. 500.000,-. Untuk mahasiswa semester lanjut, atau yang tinggal wisuda dilakukan pemotongan biaya wisuda sebesar Rp. 500.000,-. Sementara untuk mahasiswa semester 1 angkatan 2020 Semester Ganjil 2020/2021 dilakukan pemotongan SPP di awal heregistrasi sebesar Rp. 500.000,-. “Kita semua memahami kondisi ini. Semoga wabah ini cepat berlalu. Potongan untuk mahasiswa ini sebagai salah satu dukungan untuk meringankan mahasiswa,” ungkap Fauzan. (can)
Di Tengah Pandemi, Syiar Ramadhan UMM Dilakukan Daring

Pandemi Covid-19 belum juga usai hingga memasuki bulan Suci Ramadhan tahun ini. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan kebijakan social dan physical distancing untuk menekan penyebaran virus. Hal ini tentu berdampak pada berubahnya pola Interaksi antara manusia. Dari yang tadinya tatap muka, menjadi perjumpaan yang segalanya serba dalam jaringan (daring). Termasuk berubahnya format syiar-syiar Ramadhan yang bisanya digaungkan untuk memeriahkan dakwah di tengah masyarakat. Hal ini juga yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada gelaran tahunan Syiar Ramadhan in Campus 1441 Hijriyah tahun ini. Dalam kondisi mewabahnya Pandemik Covid-19 ini, UMM mensiasati beragam kegiatan tatap muka, menjadi bersifat daring. Di samping itu, UMM ikut berperan mengurangi dampak Covid-19 yang dialami mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus melaui kegiatan “UMM Peduli, UMM Berbagi” berupa pembagian sembako yang dilakukan secara berkala. Kegiatan yang dilakukan berupa kajian-kajian Ramadhan, yang disiarkan langsung melalui streaming Youtube di channel umm1964 dapat diakses oleh semua orang. Misalnya sebagai kajian pembuka, dimulai oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., dengan tema “Ramadhan di Tengah Bencana Global sebagai Momentum Instropeksi Kehidupan Beragama dan Bermasyarakat. Rektor Dr. Fauzan, M.Pd. turut memberi ucapan selamat puasa. Dalam sambutannya Fauzan mengajak kepada umat Islam untuk memaknai puasa Ramadan secara substantif. Ia menguraikan bahwa, ramadan yang datang setahun sekali tidak boleh hanya lewat begitu saja dan hanya dirasakan secara seremonial. Melainkan bulan suci ramadan harus dijadikan sebagai kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan. “Derajat ketaqwaan juga seharusnya mampu diimplementasikan dalam kehidupan,” tutur Fauzan di kediamannya, Kamis (23/4). Fauzan lantas berpesan, khususnya kepada civitas akademika UMM, “Kampus Putih” yang mengemban amanah dakwah sudah seyogyanya bukan hanya mengurusi pendidikan semata. Melainkan keberadaannya juga sebagai role model pendidikan atau uswah khasanah. Ditekankan kepada civitas akademik, bahwa dalam setiap mengerjakan sesuatu tidak boleh lepas dari kontrol keimanan. “Jangan sampai kita ini berpuasa tapi sama sekali tidak mengubah esensi kehidupan kita,” tambahnya. Haedar Nashir sendiri berpesan, sebagai orang yang beriman harus menghadapi segala musibah dengan spirit iman yang kokoh. Sebagai agama wahyu, Islam memberikan jawaban atas segala persoalan yang datang. Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan nilai keimanan. Ada beberapa esensi keimanan bagi seorang muslim dalam menghadapi musibah. Diantaranya, orang beriman semakin yakin terhadap kekuasaan Allah. Segala sesuatu tidak pernah lepas dari sunatullah. Di sisi lain, pembagian paket sembako dilakukan terdiri dari 3 cluster. Cluster 1 (0-4 KM) yakni wilayah Karangploso, Dau, Mulyoagung dan Tlogomas. Cluster 2 (4-10 KM) yakni Dinoyo, Mojolangu, dan Merjosari. Sementara cluster 3 (10 KM ke atas) diberikan kepada mahasiswa dan masyarakat wilayah Blimbing, Sumbersari, Batu, dan daerah terjauh dari UMM. “Proses distribusi sembako dilakukan dengan standar protokol kesehatan,” ungkap Pulung, penanggungjawab Syiar Ramadhan in Campus 2020. Kegiatan I’tikaf Ramadhan dan pembagian zakat yang biasanya diadakan di Masjid AR. Fachruddin Kampus II UMM atau kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah banyak, akan tetap diselenggarakan dengan memperhatikan standar protokol kesehatan. “Sementara untuk kegiatan shalat Idul Fitri masih menunggu keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, apakah UMM akan tetap selenggarakan shalat Idul Fitri secara umum,” terang dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM ini. (can)
UMM Salurkan Ribuan Paket Sembako

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (22/4), membagikan lebih kurang 2000 paket sembako kepada masyarakat di lingkungan Kampus I, II dan III UMM. Koordinator pengadaan dan pendistribusian sembako, Hasim, A.Md. menyatakan UMM secara aktif turut serta membantu masyarakat untuk menanggulangi dampak pandemik Covid-19. Di tahap pertama, pembagian paket sembako dilakukan di Auditorium BAU dengan protokol kesehatan yang sesuai standar Pemerintah. “Sebagai bentuk tanggungjawab sosial kita di bawah naungan Muhammadiyah, kegiatan ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat terdampak Covid-19,” jelas Hasim. Sasaran dibagikannya paket sembako ini antara lain ke juru parkir, petugas cleaning service, pensiunan UMM yang membutuhkan, sopir mikrolet, terlebih warga dan mahasiswa yang tinggal di sekitar lingkungan UMM yang membutuhkan. “Hari ini kami membagikan 600 paket ke perwakilan kelompok penerima manfaat. Selebihnya akan dibagi ke sejumlah lokasi seperti ke Tlogomas, Tegalgondo, Mulyoagung, Sumber Sari dan sejumlah wilayah lainnya di sekitar ketiga Kampus UMM,” kata Hasim. Senada dengan Hasim, penanggungjawab pendistribusian paket sembako Rahmat Pulung Sudibyo, S.P., MP. menyampaikan bahwa total sembako akan didistribusikan dalam empat kloter selama bulan Ramadan. Model pendistribusian ini dibuat mengacu pada skema protokol kesehatan. “Pembagian sembako ini dibagi menjadi empat kloter bertujuan untuk menghindari kerumunan atau penumpukan warga penerima paket sembako,” imbuh Pulung. Tak hanya membagikan pada warga, UMM Peduli juga telah menyiapkan skema pembagian paket sembako untuk mahasiswa UMM yang masih tinggal di Malang. “Paket sembako ini tidak hanya akan didistribusikan kepada warga terdampak pandemik, namun juga pada mahasiswa UMM yang masih bertahan di Malang,” tambah Pulung. Penyaluran paket sembako kloter pertama tersebut diberikan kepada cleaning service yang merupakan pekerja harian di lingkungan UMM. Salah satu penerima penyaluran paket sembako, Humairah Luthfiah menyatakan bahwa kegiatan ini sangat membantunya di tengah perekonomian yang sedang tidak stabil akibat pandemik ini. “Secara pribadi saya sangat bersyukur dengan program UMM Peduli ini. Sangat membantu perekonomian saya sebagai salah satu orang yang terdampak ini,” jelasnya. (nis/can)
Rektor Fauzan: Ramadhan Momentum Tingkatkan Ketakwaan

Sambut bulan ramadhan 1441 H, Keluarga Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar pengajian dengan Pembicara, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Kamis (23/4) melalui media daring. Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM dalam sambutannya mengajak kepada umat Islam untuk memaknai puasa ramadan secara substantif. Ia menguraikan bahwa, ramadan yang datang setahun sekali tidak boleh hanya lewat begitu saja dan hanya dirasakan secara seremonial. Melainkan bulan suci ramadan harus dijadikan sebagai kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan. “Kita tahu bahwa Al Qur’an menyampaikan pesan bahwa pada hakikatnya puasa ramadan yaitu mengejar sebuah derajat ketaqwaan. Derajat ketaqwaan juga harusnya mampu diimplementasikan dalam kehidupan,” tuturnya. Sehingga antara kehidupan sehari-hari seorang muslim bukan menjadi suatu yang parsial dengan keimanan yang dimiliki. Karena seharusnya sikap dan perilaku keseharian seorang muslim adalah cerminan dari keimanannya. Selain sebagai bulan untuk meningkatkan ketaqwaan, bulan ramadan oleh seorang muslim harus juga menjadi ajang untuk bermuhasabah diri. Karena kemungkinan di bulan lain, kaum muslimin kerap kali dalam menjalankan kehidupannya lepas dari kontrol iman. “Dalam kesempatan ramadan kali ini kita mencoba untuk mengendalikan diri kita, kita mencoba untuk menjadikan iman kita sebagai kontrol dalam kehidupan. Kalau itu bisa kita lakukan adalah indikator yang sangat sederhana adalah perubahan dari perilaku yang kruang baik menjadi perilaku yang baik,” urainya. Perilaku baik atau dalam bahasa agama adalah akhlakul karimah, menurut Fauzan jika muslimin mampu berakhlakul karimah maka ini adalah indikasi dari seorang muslim yang perilakunya dikontrol oleh keimanan. Khususnya kepada civitas akademika UMM, “kampus putih” yang mengemban amanah dakwah sudah seyogyanya bukan hanya mengurusi pendidikan semata. Melainkan keberadaannya juga sebagai roll model pendidikan atau uswah khasanah. Ditekankan kepada civitas akademik, bahwa dalam setiap mengerjakan sesuatu tidak boleh lepas dari kontrol keimanan. “Jangan sampai kita ini berpuasa tapi sama sekali tidak mengubah esensi kehidupan kita,” tambahnya. Sehingga puasa yang dijalankan oleh seroang muslim harusnya memberikan dampak signifikan pada perubahan baik kepada akhlak. Namun jika setelah melaksanakan puasa akan tetapi sikapnya tetap buruk, maka sama saja hanya menjalankan puasa secara lahirian, bukan merepasi dan menemukan ruh puasa itu sendiri. (SM/can)
UMM Kukuhkan Wakil Rektor Masa Jabatan 2020-2024

Hari ini, Rabu (22/4) pagi, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. mengukuhkan Wakil Rektor (Warek) baru masa jabatan 2020-2024 secara daring. Warek I diisi oleh Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.yang membidangi Akademik dan Pengembangan Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Warek II diisi Dr. Nazaruddin Malik, M.Si yang membidangi Umum, Kepegawaian, dan Keuangan. Sementara, posisi Warek III diisi Dr. Nur Subeki, S.T., M.T. yang membidangi Kemahasiswaan dan Alumni. Warek IVdiisi Dr. SidikSunaryo, S.H., M.Si., M.Hum. yang membidangi Kelembagaan, Sumber Daya Manusia, dan Kerjasama. Rektor Fauzan usai pelantikan di ruang sidang Rektor menyampaikan, bahwa kampus ini mengembangkan misi dakwah Muhammadiyah. Sebuah misi suci yang buah karyanya dipersembahkan untuk umat dan bangsa. Oleh karena itu, sambung Fauzan, diperlukan energi yang besar, kuat dan terus berpikir ke depan, serta selalu memohon ridho Allah dalam menjalankan manajemen UMM ini. Pada kesempatan ini Rektor Fauzan jugamenyampaikan, adanya penambahan jabatan Warek IV dilakukan untuk merespons perkembangan. Ia menegaskan bahwa usulan itu dibuat karena formasi sebelumnya belummeng-cover perkembangan yang dibutuhkan dalam situasi tiga tahun terakhir. Fauzan lantas mengajak kepada para Warek UMM untuk merenungkan kembali tentang hakekat sebuah jabatan. Jabatan apapun yang tengah diemban adalah amanah, yang apabila kita menjalankannya dengan standar ilahiyah yang didasari dengan hati yang ikhlas, Insya Allah, Allah SWT akan memberikan yang terbaik bagi kerja kita semua. “Dengan niat yang tulus dan selalu husnudzon dalam menjalankan amanah ini, Insya Allah, kemajuan akan kita dapat,” demikian disampaikan Rektor Fauzan usai melantik yang disaksikan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. H. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., serta civitas akademika UMM yang ikut dalam proses pelantikan melalui online meeting. Ketua Majelis Diktilitbang Muhammadiyah Prof. H. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. menaruh harapan kepada para Warek baru UMM. Semoga dengan formasi baru ini, UMM dapat menghadapi tantangan dengan lebih baik, dan diselesaikan dengan baik juga. Tentu saja, kata Lincolin, kerjasama sangat diharapkan antara empat wakil rektor ini. UMM sudah sangat besar, sangat besar. “Hampir semua melihat ke UMM. Jadi, UMM harus menjadi contoh yang baik bagi seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang ada di Indonesia. Menjadi acuan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang lain,” pungkas Lincolin di kediamannya. Di sisi lain, Ketua BPH UMM, Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. dalam sambutannya menyampaikan kesyukurannya, di tengah-tengah kehidupan yang mengalami perubahan besar-besaran ini, UMM tetap dapat melengkapi kepemimpinan di lingkungan UMM. “Mudah-mudahan dengan kelengkapan kepemimpinan ini, perjalanan UMM ke depan semakin pesat,” kata Malik yang tersambung via Google Meet di kediamannya di Malang. Sebagaimana diketahui, sambung Malik, bahwa UMM ini telah menempuh perjalanan panjang mengantarkan dari generasi ke generasi, mengantarkan kehidupan bermuhammadiyah dan berakademik, sesuai dengan amanat yang telah digariskan oleh Majelis Diktilitbang Muhammadiyah. Disebutkan Rektor UMM tahun 1983-2000 yang sempat menjabat Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia periode 2015-2019 ini, tradisi UMM yang memiliki Warek IV ada pada awal-awal Malik memimpin. Tapi, tambah Malik, bagaimanapun juga kelengkapan tahun ini menjadi bagian penting dalam kemajuan UMM. “Saya berharap, UMM dapat dikelola dengan baik. Meskipun universitas ini milik ormas besar Muhammadiyah, tapi dalam mengelolannya hendaknya tetap menggunakan prinsip profesional dan selalu konsisten mampu membawa misi UMM ke depan untuk menjawab seluruh tuntutan dan tantangan,” tandas Malik. (can)
55 Dokter Baru UMM Disumpah via Daring

Di tengah himbauan Pemerintah untuk melakukan physical distancing (pembatasan fisik), Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) tak surut untuk melakukan sumpah kepada 55 dokter baru, Senin (20/4). Uniknya, sumpah profesi dokter ini dilakukan via dalam jaringan (daring) melalui video conference. Meski dilakukan via daring, acara penting ini tetap berlangsung hikmat. Dekan FK UMM, Dr. dr. Meddy Setiawan, Sp.PD, FINASIM, mengemukakan bahwa di tengah kondisi pandemi ini, kita tetap harus menaati dan mendukung anjuran Pemerintah untuk melakukan physical distancing guna mencegah mata rantai penularan Covid-19. “Kita dari akademisi dan institusi kesehatan harus memberi contoh pada masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19 ini,” ucap dr. Meddy usai acara. Meski begitu, sumpah Dokter angkatan 42 periode III ini tetap dihadiri 3 calon dokter. Ketiganya hadir di Aula Kampus II sebagai perwakilan, sedangkan yang lain mengucap sumpah dari rumah masing-masing. Mereka menganut agama berbeda, sehingga sumpah ini juga dihadiri oleh tiga rohaniawan, yaitu Muslim, Katolik, dan Protestan. “Meskipun sumpah dokter dilakukan via daring, tetapi saat pembacaan lafal sumpah tetap terasa sakral nya. Ditambah para dokter yang disumpah ini didampingi orangtua atau kerabatnya di sebelahnya,” ungkap Umar Thalib, salah satu dokter yang disumpah asal Purwokerto, Jawa Tengah. Pasca disumpah, putra pasangan Najib Thalib dan Widad Basalamah ini lantas berharap agar dengan gelar baru ini dapat segera menjalankan amanahnya dengan baik dan bertanggungjawab. “Dan yang pasti dapat membantu tenaga medis di luar sana yang sudah bekerja keras di garda terdepan melawan pandemi ini,” ungkap Umar saat dihubungi via WhatsApp (21/4). Pada periode ini, prosentase kelulusan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Pendidikan Dokter (UKMPPD) baik Computer Based Test (CBT) maupun Objective Structured Clinical Examination (OSCE) sangat membanggakan. FK UMM meluluskan 100% first taker dengan jumlah terbanyak yaitu 55 dokter. Pada kesempatan ini, Wakil Rektor I, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, turut memberikan ucapan selamat di akhir acara dari kantornya. “Mudah-mudahan para dokter baru dapat bermanfaat bagi bangsa, terutama di tengah kondisi seperti ini,” ungkap Syamsul. (ysn/can)
Dirikan Pesantren Elit yang Peduli Wong Alit

Dua buah kompleks pendidikan mewah hadir di salah satu ujung jalan desa. Bangunan berkonsep modern dengan rindang pepohonan tampak berdiri kokoh. Semangat milenial dan futuristik dengan nuansa Islam hadir di sana. Tazkia Internasional Islamic Boarding School (IIBS). Siapa sangka, pondok pesantren yang memiliki 810 orang siswa ini tumbuh dari mimpi seorang anak muda untuk mendirikan sebuah miniatur lembaga pendidikan yang sederhana. Ia adalah Muhammad Ali Wahyudi, alumni Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Saya itu cita-citanya ingin membuat miniatur lembaga pendidikan. Kalau seperti UMM itu terlalu besar, ya ingin saya kecilin. Kalau kampus buat mahasiswa, ya saya nanti bikin buat santri,” ujar pria kelahiran Pamekasan tersebut mengulik ke belakang. Semasa kuliah Ali mengaku tidak terlalu menonjol di dunia akademik. Namun semangatnya untuk meningkatkan soft skill termasuk jiwa entrepreunership menyala-nyala. Selain suka berdagang, ia juga rajin mengasah keterampilan dengan berbagai kegiatan lain. Mulai dari ngaji ke kiyai-kiyai salaf, ikut seminar nasional hingga berjualan. “Saya pernah menunda bayar SPP demi ikut seminar motivator-motivator nasional, seperti Tung Desem Waringin, Mario Teguh, Bob Sadino, Helmi Yahya, Reza M. Syarief, Purdie E. Chandra dan pakar pendidikan Prof. Dr. Arief Rachman (Pendiri Lab School Jakarta). Ilmu itu sedikit banyak berpengaruh kepada jiwa pendidikan dan entrepreuner saya,” ujarnya. Selain berdagang, Ali juga aktif mengajar mulai duduk di masa kuliah. Baginya, berkontribusi bagi dunia pendidikan adalah panggilan jiwa. Ia pun secara langsung terjun di Madrasah Pesantren Wahid Hasyim Malang, Pondok Pesantren Ar Rohmah Malang, lalu Al-Izzah IIBS Batu. “Setelah hampir 13 tahun lebih ikut orang, lalu timbul keinginan untuk belajar mandiri karena saya punya prinsip lebih baik menjadi ikan besar di kolam yang kecil, dari pada menjadi ikan kecil di kolam yang besar. Karena memperbesar kolam itu jauh lebih gampang dan lebih cepat dari pada menunggu besarnya ikan,” ujarnya. Tahun 2005 Ali memutuskan mimpi mulianya dengan membantu pendidikan anak yatim. Lalu berdirilah panti asuhan Permata Mulia. Isinya anak-anak yatim yang dibiayai sekolah dan kuliahnya. Namun sayang, dengan kemampuan financial pribadi, Ali hanya mampu membiayai 6 orang anak. “Sehingga terbesit pikiran, kalau ini dibagusin, dirapikan, dimanajemen, saya bisa pakai subsidi silang. Dan ini saya wujudkan di Tazkia. Sejak awal berdiri, sampai saat ini dan mudah-mudahan bisa naik lagi, 10% dari penerimaan santri Tazkia itu untuk yatim dan dhuafa. Makanya saya kasih tagline Tazkia, pesantren elit yang peduli wong alit,” katanya. Ali sadar, dirinya hanya seorang guru di pesantren dengan latar belakang akademik yang biasa-biasa saja. Namun pengalaman selama 13 tahun di dunia pendidikan ia yakini dapat menjadi bekal istimewa yang mengajarkan banyak hal, termasuk bagaimana mendirikan sebuah lembaga pendidikan. “Karenanya saya harus lebih dulu menjadi resources integrator atau bahasa saya tukang jahit yang baik, yang mampu mengikat dan menyulam kompetensi-kompetensi orang sehingga menjadi kekuatan umat yang besar,” kata pria yang juga menyelesaikan pendidikan S2 Kebijakan Pengembangan Pendidikan di UMM ini. Meneruskan langkah, Ali lalu mencari orang-orang yang mau dan mampu berlayar bersama. Pertama para ustadz dan kiai yang ikhlas. Lalu orang-orang kaya yang peduli (Aghnia Sholih) terhadap pendidikan dan terakhir adalah orang-orang pintar yang punya kemampuan leadership dan manajemen yang baik. “Dan gabungan orang alim, orang kaya, orang pintar itulah yang saya jahit dengan ilmu yang namanya resources integrator. Jadi dari awal saya sudah memahami saya tidak bisa sendirian. Kalau saya hanya sendirian, punya experience tapi gak punya keilmuan yang baik, ilmu agama yang baik dan tidak punya uang maka bayangan saya, paling banter saya bikin proposal. Makanya saya selalu bilang Tazkia itu sukses berjamaah,” jelasnya. Hadirnya Tazkia IIBS diharapkan dapat menjawab kebutuhan umat karena Ali mengaku, seringkali saat tengah berkunjung ke luar kota atau bahkan luar negeri, banyak ia dapati kerinduan orang tua masa kini terhadap suasana pesantren. Mereka ingin anaknya merasakan pengalaman belajar di pesantren. Namun sayang, si anak sudah tidak compatible dengan pesantren dimana mereka harus masak sendiri, harus mencuci sendiri dan lain-lain. “Muslim urban yang bagus di kota, mereka itu ingin menyekolahkan anaknya ke pesantren, khususnya pesantren salaf karena pesantren itu adalah miniatur kehidupan yang sesungguhnya. Namun ternyata gak mampu. Mereka lalu memilih sekolah internasional tanpa dilihat background agamanya. Harapan kami Tazkia itu mampu memadukan, blanded antara tradisi pesantren salaf misalnya, makanya ada kitabnya dengan pendidikan standard internasional,” kata Ali. Saat ini, santri Tazkia IIBS sudah inden sampai 5 tahun ke depan dengan jumlah santri kurang lebih 1800an dan semuanya berbayar. Itu artinya, ke depan akan ada 180 yatim duafa nanti yang akan sekolah di Tazkia. Semangat ini ingin terus Ali besarkan. “Harapan jangka pendeknya, kami ingin Tazkia itu lebih banyak cabangnya sehingga lebih banyak orang yang menikmati, dan jumlah anak yatim maupun yatim sosial jadi lebih banyak lagi yang sekolah di Tazkia,” pungkasnya. (sil/can)
Cegah Kecemasan Berlebih Covid-19, BK UMM Buka Layanan Konseling Gratis

Upaya percepatan penanggulangan persebaran virus Corona (Covid-19) nyatanya tidak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah. Berbagai macam cara dapat diambil berbagai lapisan masyarakat untuk mengatasi permasalahan tersebut dalam rangka membantu tugas pemerintah. Seperti yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Perguruan Tinggi berjuluk Kampus Putih ini, lewat Unit Pelayanan Teknis (UPT) Bimbingan Konseling Fakultas Psikologi memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat yang memiliki kecemasan berlebih akibat Covid-19. Kepala UPT. Bimbingan dan Konseling UMM, Hudaniah, S.Psi., M.Si. menjelaskan kehadiran pelayanan konseling ini bermula saat pihaknya melihat keberagamanrespon dari sivitas akademika UMM terhadap persebaran Covid-19. Keadaan sebenarnya dalam internal terutama di mahasiswa beragam, ada yang santai meresponnya, ada mahasiswa yang cemas karena orangtuanya juga ikut cemas dan menyuruh anaknya segera pulang. “Perguruan tinggi yang tidak luput dari kecemasan saat mahasiswa yang seharusnya ikut kuliah online malah nongkrong di warung kopi,” ucap Hudaniah. Melihat kondisi tersebut UPT. BK UMM memutuskan membuka layanan dalam upaya menekan kecemasan dengan memberikan pelayanan konseling. Hudaniah melanjutkan, jika biasanya pelayanan dilakukan secara tatap muka atau pertemuan langsung. Konseling Covid-19 diberikan secara online dengan memanfaatkan platform berbagai media sosial yang ada. Tidak hanya untuk internal Kampus Putih. Layanan ini juga dibuka untuk seluruh masyarakat. “Karena online itu bisa menjangkau lebih luas yah, terus kemarin ada beberapa tanya kalau dari luar UMM boleh tidak menggunakan layanan ini? Ya tentu. Ini juga sebagai bentuk kepedulian sosial kami untuk masyarakat dan negara ini,” imbuh Hudaniah. Dalam konseling Covid-19 ini, BK UMM menerjunkan 4 tenaga ahli yang siap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hudaniah menjelaskan, ada kemungkinan jumlah tersebut akan ditambah tergantung respon masyarakat seperti apa nantinya. Sehingga layanan konseling Covid-19 yang resmi dibuka sejak Maret lalu ini dapat memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat. (*/can)