FPP Fest Manjakan Lidah Pencinta Kuliner Kampus Putih

Lima puluhan stand berjejer menjajakan berbagai kudapan hingga minuman kekinian untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner di Kampus Putih. Bazar makanan yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Peternakan ini ada di perhelatan FPP Fest 2019. Even digelar selama tiga hari (23-25/4). Tahun ini jumlah penjual makanan lebih banyak dari tahun sebelumnya yang hanya 30 stand. “Tahun ini, alhamdulillah, ada lima puluh stand yang sudah terisi. Tidak hanya dari stand mahasiswa, melainkan juga ada stand dari masyarakat umum,” ujar Dyah Ayu Tasyakurani selaku ketua pelaksana acara saat ditemui, Rabu (24/4). Dilanjutkan mahasiswi program studi Agribisnis ini, salah satu konsep yang ingin dihadirkan di even tahunan ini yakni bazar. Hal ini bisa dilihat dari begitu banyaknya makanan yang meramaikan bazar di Helyped UMM. Seperti Bakso Mercon, Kings Alpucok, Rujak Njerit, hingga Martabak Jepang Jhony, serta banyak lagi. Di hari kedua, even dimeriahkan 56 peserta lomba mewarnai anak-anak. Mereka berasal dari sepuluh TK yang ada di Kota Malang. Sedangkan pada hari ketiga, yakni malam penutupan, akan diramaikan dengan berbagai penampilan. Dimulai dari band FPP hingga Musikalisasi Puisi dari Komunitas Sanggar Aksara (Sangkar). “Saya harap bazar makanan di FPP Fest 2019 kali ini bisa menjadi jujukkan kuliner alternatif buat teman-teman. Untuk kedepannya, semoga FPP Fest menjadi lebih baik, lebih ramai, dan apa yang diinginkan oleh teman-teman itu benar-benar tersampaikan lewat acara ini,” ungkap Rachmaniar Anissa Putri selaku koordinator Acara. Sebelumnya, sekitar dua ribuan mahasiswa FPP mengkuti Seminar Nasional bersama guru besar dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Rokhmin Dahuri, Selasa (23/4) kemarin. Seminar Nasional tersebut dilaksanakan di Hall Dome UMM dengan tema “Peran Pemuda Dalam Menghadapi Ketahanan Pangan di Era Revolusi Industri 4.0”. Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin menyampaikan pidato “Pembangunan Kelautan dan Perikanan Berbasis Teknologi 4.0 untuk Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Rakyat”. Ia mengajak mahasiswa untuk aktif berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya kelautan. Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu, potensi sektor ekonomi maritim masih belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendongkrak ekonomi. “Kalian harus terjun langsung pada ekonomi riil, salah satunya mengoptimalkan potensi ekonomi maritim untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan masyarakat dunia,” katanya. (riz/can)
Ketua PII: Indonesia Kekurangan Banyak Insinyur

Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Dr. Ir. H. Heru Dewanto. MSc. (Eng). IPU., Selasa (23/4), meluluskan setidaknya 12 insinyur dari Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam kesempatan itu juga, Heru menyampaikan bahwa Indonesia masih membutuhkan banyak insinyur untuk membantu pembangunan infrastruktur di sejumlah wilayah di Indonesia. Dari empat puluh perguruan tinggi (PT) yang mendapat mandat dari PII untuk menyelenggarakan program profesi insinyur, belum mampu memenuhi jumlah yang dibutuhkan. “Lulusan sarjana teknik sekitar enam puluh ribu per tahun. Jika diasumsikan, setiap PT dapat menghasilkan seratus insinyur. Itu artinya dari empat puluhan PT, hanya bisa menghasilkan empat ribu insinyur,” ungkapnya. Setidaknya ada dua faktor yang menghambat minimnya lulusan insinyur di Indonesia. Pertama, minat masyarakat untuk menempuh Program Profesi Insinyur. Kedua, kapasitas daya tampung dari PT yang sangat terbatas. “Masalah inilah yang sedikit banyak menghambat pembangunan infrastruktur di Indonesia saat ini,” tutur Heru alumnus University of Leeds, Inggris di hadapan peserta yudisium. Oleh karena itu, pria yang menyandang gelar doktor dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mendorong beberapa perguruan tinggi di Indonesia terutama di luar dari 40 perguruan tinggi yang sudah menerima mandat PII, untuk membantu mencetak lulusan insinyur yang berpotensi. Terlebih, ikut serta membantu memenuhi kebutuhan Indonesia untuk penyediaan jumlah lulusan insinyur yang dibutuhkan. Sementara, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Wakil Rektor 1 UMM mengajak para calon wisudawan menghimbau para calon wisudawan untuk melanjutkan pendidikan di jenjang berikutnya. “Pendidikan di Indonesia harus terus berkembang,“ pesannya. Selain meluluskan program insinyur, acara Yudisium ini juga meluluskan 147 mahasiswa fakultas teknik dari program Sarjana hingga Diploma 3. (zak/can)
Di UMM, Kedubes Prancis Tawarkan Banyak Peluang Beasiswa

Lembaga penyedia informasi beasiswa, Campus France dan Institut Français D’indonésie, hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (23/4). Kehadiran dua lembaga di bawah naungan kedutaan besar (Kedubes) Republik Prancis ini dalam rangka mensosialisaikan beasiswa studi negara di Eropa Barat ini. Ines Schmitt, koordinator nasional Campus France untuk Indonesia menyampaikan bahwa Republik Prancis saat ini memiliki 325 ribu mahasiswa asing dari berbagai negara di dunia. “Pada 2027, Prancis memproyeksikan akan ada 500 ribu mahasiswa internasional yang menempuh pendidikan tinggi,” papar Ines. Sistem pendidikan di Prancis relatif sama dengan negara lainnya, yakni PhD ditempuh tiga tahun, Master 2 tahun, Sarjana 3 tahun dan BTS/DUT atau lebih dikenal dengan bac+2 selama dua tahun. Ines menyatakan, Prancis menjadi negara terbesar keempat yang menerima mahasiswa asing di dunia. “Ini peluang besar,” katanya. Banyak beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Prancis maupun institusi beasiswa lain. Seperti MOPGA, Eiffel Scholarship maupun Erasmus Mundus. “Beasiswa pemerintah juga diberikan kepada mahasiswa yang berminat sekolah di Prancis,” jelasnya. Prancis memiliki 3500 institut, 73 Universitas dan 220 Sekolah Bisnis. Wakil Rektor I UMM, Dr. Syamsul Arifin, M.Si menerangkan bahwa saat ini UMM sedang melakukan penataan dan percepatan kualitas sumber daya manusia. Orientasi tenaga pendidik kedepan, menurut Syamsul, haruslah guru besar. Studi di Prancis, lanjutnya, merupakan kesempatan yang baik untuk jenjang karir yang gemilang. Selain itu, dipesankan Syamsul, selagi masih muda perlu punya amunisi semangat yang banyak untuk memiliki kompetensi yang tinggi. Juga, tentunya ada konsekuensi berat jika memilih melanjutkan studi di luar negeri. “Meninggalkan keluarga dan rindu,” tutupnya yang kemudian disambut tawa oleh para peserta sosialisasi. (mir/can)
Ke Jepang, UMM Kembali Jajaki Kerjasama dengan JIFPRO

Perwakilan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini bertolak ke Jepang untuk kembali menjajaki kerjasama dengan lembaga penyandang dana CSR Toyota Bhosoku, yakni Japan International Forestry Promotion and Cooperation Center (JIFPRO). Kerjasama ini kaitannya dengan pengelolaan revitalisasi hutan lindung. Sebelumnya, di tahun 2006 UMM dan JIFPRO telah menjalin kerjasama melalui proyek rehabilitasi hutan lindung di kawasan konservasi di taman nasional Bromo. Proyek ini selesai pada tahun 2015. Proses rehabilitasi yang panjang ini berkaitan dengan mekanisme penghijauan yang memerlukan proses pengamatan yang cukup lama. Tatag Muttaqin S.Hut., M.Sc., IPM., dan Novin Farid Setyo Wibowo, S. Sos, M.Si, bertolak ke Jepang (9/4). Bukan tanpa alasan, penjajakan kerjasama ini lantaran pada Februari lalu, UMM juga telah menerima mandat pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. UMM diberi mandat untuk mengelola hutan pendidikan yang berada di kawasan hutan produksi dan hutan lindung Perum Perhutani petak 43A, 44I, 44K-1, 44K-2, 44L dan BE BKPH Pujon KPH Malang seluas 75.09 Ha. Lokasi ini akan menjadi laboratorium lapang sekaligus media pembelajaran pengelolaan kawasan hutan. Sembari menikmati indahnya bunga sakura di taman Ueno, Nakama Eiichiro perwakilan JIFPRO menerima kedatangan Tatag dan Novin. “Kita sampaikan perkembangan lingkungan yang lebih baik atas kerja sama yang telah dijalin sebelumnya,” ungkap Tatag yang merupakaan Ketua Prodi Kehutanan saat ditemui, Selasa (23/4). Tatag mengaku telah menawarkan beberapa program yang berpotensi untuk dikerjasamakan dengan JIFPRO sebagai pengelola dana CSR perusahaan otomotif terkenal Toyota Bhosoku. “Ini masih tahapan penjajakan, kita coba renewing contract, mudah-mudahan gol,” jelas Tatag yang menerima langsung mandat KHDTK. Dalam minggu ini, Nakama Eiichiro berserta tim akan membalas kunjungan Tatag dan Novin ke Indonesia untuk menindaklanjuti penjajakan kerjasama ini. Sejauh ini, Toyota memiliki komitmen besar pada pelestarian lingkungan. Yakni melakukan berbagai kerjasama dengan lembaga yang fokus pada hal ini, termasuk UMM. Selain melakukan pertemuan dengan JIFPRO, Tatag dan Novin juga berkesempatan mengunjungi Museum Toyota di Nagoya yakni ibu kota Prefektur Aichi, Jepang. “Kami bisa melihat perkembangan Toyota awal pendiriannya sebagai perusahaan pengelola kapas, kini menjadi perusahaan otomotif kaliber dunia,” tutur Novin. (mir/can)
Tahun 2020 ASEAN Bisa Jadi Kekuatan Ekonomi Terbesar Kelima Dunia

Staf Ahli Bidang Ketahanan Nasional Kemenko Polhukam Marsda TNI Ahmad Sajili menyebut, pertumbuhan ekonomi ASEAN terus bertumbuh di tengah gejolak ekonomi global. Berdasarkan data ASEAN Secretariat, perekonomian ASEAN adalah yang terbesar keenam di dunia. Sementara, dengan jumlah penduduk sekitar 634 Juta, Indonesia mencatat Produk Domestik Bruto-nya mencapai 2,6 Trilyun USD. “Dengan potensi ini diharapkan pada tahun 2020 ASEAN menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia. Dan 2030 diharapkan menjadi yang terbesar ke empat di dunia setelah Uni Eropa, Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok,” demikian disampaikan Sajili dalam gelaran Diseminasi Informasi Masyarakat ASEAN bertajuk “Tantangan Politik dan Keamanan Di Kawasan” di UMM, Senin (22/4). Ahmad Sajili mengisi kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang diselenggarakan Pusat Studi ASEAN (PSA) UMM. Acara ini turut dihadiri Rektor UMM Dr. H. Fauzan, M.Pd, Brigjen Pol. Anthoni Hutabarat, Asisten Deputi Kerja Sama ASEAN Widya Rahmanto Serta Civitas Akademika Fisip UMM. Diskusi dimoderatori oleh Peggy Puspa Hapsari M.Sc., M.Si selaku Kepala PSA. Saat ini ASEAN telah melewati usia 50 tahun sejak didirikan 1967 dan mempersiapkan diri melewati pembentukan masyarakat MEA 2020. Dengan adanya ASEAN, masyarakat mampu menjalani kehidupan masyarakat majemuk dengan penuh kedamaian. “Karena ada begitu banyak pengaruh dari kekuatan negara besar, sengketa perbatasan dan wilayah, hingga perbedaan kepentingan,” tuturnya. Kegiatan ini adalah kerjasama yang merupakan program dari Polhukam sebagai koordinator pilar Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN yang bertanggung jawab mendiseminasikan Stakeholder Nasional. “Jadi tidak hanya memberikan informasi tetapi menerima masukan agar masyarakat ASEAN dapat berperan dalam mengimplementasi rencana aksi ASEAN,” ungkap Sajili. Sementara, berbicara tentang Ketahanan Politik di kawasan ASEAN, terkait program presiden 2019-2066 tentang Sumber Daya Manusia, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menjawab tantangan ini. “Karena stabilitas keamanan politik dimanapun, itu ditentukan oleh yang pertama adalah ekonomi yang kedua adalah keterampilan,” ungkap Rektor UMM Fauzan dalam pidato sambutannya. “Dalam konteks ini, penguatan di aspek pendidikan menjadi bagian yang sangat penting dalam rangka menciptakan SDM unggul. Karena SDM menjadi variabel yang sangat dominan untuk menentukan arah bangsa. Oleh karena itu, mahasiswa harus menjadi orang yang maksimal, orang yang selalu berfikir optimal, dan orang yang selalu ideal. Itulah yang sebenarnya mampu membangkitkan bangsa kita,” pungkasnya. (riz/can)
UMM Bangun PLTMH Baru di Boonpring Turen

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Fakultas Teknik dan sejumlah pihak kembali menjadi pelopor pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan melakukan pembangunan stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) baru-baru ini. Kali ini pembangunan dilakukan di lingkungan Eco Wisata Andeman, Desa Sanankerto, Kecamatan Turen Kabupaten Malang, Jawa Timur. UMM tak sendiri, PLTMH ini juga dikerjasamakan dengan Bank Nasional Indonesia (BNI), Jawa Pos Radar Malang, Bumdes Kerto Raharjo serta didukung oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Dalam pembangunannya memakai dana CSR Bina Lingkungan dari BNI. “Kita memakai dana sekitar 348 juta,” kata Ali Suasono, Head Office Banking BNI wilayah Malang dalam acara peletakan batu pertama, Sabtu (20/4). Ketua Tim Teknis PLTMH UMM, Ir Suwignyo, MT menerangkan PLTMH di lingkungan Eco Wisata Andeman – Boon Pring ini berbasis masyarakat untuk mendukung konservasi sumber air Andeman dan pengembangan ekowisata terpadu. “Upaya ini didasarkan pada Sumberdaya Mata Air Andeman dan keinginan masyarakat serta Pemerintah Desa Sanakerto yang potensial untuk dikembangkan,” terangnya. “Pengembangan sumberdaya mata air ini diharapkan dapat terbentuknya pusat perkembangan ekonomi perdesaan berbasis masyarakat. Tujuannya guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi, pengembangan lapagan kerja dan masyarakat produktif pendukung pariwisata serta pengembangan lingkungan sosial berkelanjutan,” sambungnya saat ditemui di sela acara peletakan batu pertama. Salah satu potensi mata air Andeman adalah energi listrik yang dihasilkan PLTMH yakni pada siang hari dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif perdesaan dan untuk pengembangan irigasi pompa kawasan agrowisata. Serta dapat dijadikan sebagai taman edukasi wisata sains-teknologi energi terbarukan.Pada malam harinya dimanfaatkan untuk penerangan kawasan wisata dan lingkungan sekitarnya. Sebelum melakukan pembangunan diperlukan desain dan analisa kelayakan agar pada saat proses pembangunan PLTMH dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang direncanakan. Serta pada saat pasca pembangunan, PLTMH tidak terjadi masalah sosial dan ekonomi. Kegiatan studi kelayakan ini dilakukan untuk mengetahui apakah pembangunan PLTMH memenuhi kelayakan dari segi teknis dan ekonomi. Secara teknis PLTMH Desa Sanankerto mengandalkan debit air 0,50 M3 perdetik dengan mengambil dari sumber air Andeman. Turbin yang digunakan berbeda dengan yang dipakai pada PLTMH di UMM sebelumnya. “Turbin Boonpring menggunakan propeller poros vertikal. Jika berhasil akan kita kembangkan untuk produksi turbin dan akan dijual,” kata dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik UMM tersebut. Turbin ini, sambung Suwignyo, merupakan rancangan tim teknik UMM sendiri. Energi yang digerakkan dari turbin rancangannya mencapai 14 kWatt sepanjang tahun. Dalam pembuatan PLTMH Boonpring Desa Sanankerto ini direncanakan akan di mulai pada bulan Mei dan rampung pada akhir September. “PLTMH Boonpring selanjutnya akan menjadi laboratorium lapangan bagi Fakultas Teknik UMM,” tambahnya. Kepala Desa Sanankerto, H. Subur, S.E, menerangkan keberadaan PLTMH di wilayah yang dipimpinnya ini diakui akan menambah nilai lingkungan Boonpring sebagai tempat tujuan wisata sehingga mampu memunculkan inovasi-inovasi baru di dalamnya. “Selain akan menambah produktivitas pengerajin bambu, kedepannya Sanankerto akan dijadikan pusat pembelajaran Agrowisata,” tuturnya saat memberi sambutan. Wakil Bupati Kabupaten Malang mengaku bangga dengan capaian ini. “Di Indonesia sumber energi terbarukan masih menjadi tantangan yang harus dikembangkan. Terlebih di era modern, pembangunan PLTMH ini memegang peranan vital dalam mencapai kemajuan pembangunan di bidang lainnya. Harapannya pembangunan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Sanusi yang turut memberi sambutan. (bel/can)
Seminar Internasional Komunikasi: Kupas Pemberitaan Media Pasca Teror Di Selandia Baru

Gambaran negatif sekaligus stereotip terhadap agama Islam seringkali kita jumpai pada pemberitaan sejumlah media. Hal tersebut disampaikan Budi Suprapto, staf pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Seminar Internasional “Pasca Teror Penembakan di Selandia Baru: Respon dan Cara Pemberitaan Media Mengenai Muslim” di Auditorium BAU, Kamis (18/4) pagi. Ironi sekali, sambungnya, melihat di Indonesia yang mayoritas penduduk memeluk agama Islam, tetapi belum memiliki kekuatan yang memadai saat berhadapan dengan pemberitaan yang merugikan umat Islam, maupun kelompok Islam. “Terdapat empat kunci dari wacana yang sering digunakan media Indonesia dalam memaknai kelompok Islam, yaitu ekstremis, fundamentalis, teroris, dan anti NKRI,” tuturnya. Tiga diantara wacana tersebut yakni ekstremis, fundamentalis dan teroris bahkan kerap dijumpai pada pemberitaan Barat. Sementara Tobias Hoheneder, staf pengajar University Erlangen Numberg, Jerman juga menyampaikan pembingkaian Islam di media. “Meskipun Jerman merupakan negara yang menerima imigran muslim, akan tetapi 80% pemberitaan menunjukkan sisi negatif dari Muslim,” tandasnya. Berbeda dengan di Indonesia, menurut Budi Suprapto, media tidak menunjukkan eksistensinya sebagai media di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Tidak banyak media di Indonesia yang menggunakan kata muslim dalam pemberitaannya. Bahkan, ia menambahkan, presiden Indonesia tidak begitu menunjukkan eksistensinya dalam menyatakan sikap terhadap terorisme. Jika dilihat, pembingkaian media Jerman mengenai muslim, misalnya berupa penindasan wanita, masalah integrasi, serta dikaitkan dengan stigma, kecurigaan dan stereotip tertentu, yakni sebagai agama yang pro pada kekerasan dan sarang terorisme. Tobias juga menceritakan bagaimana talkshow pada media di Jerman hanya mengundang penceramah dari kelompok yang dikenal radikal saja. Sementara, disampaikan Mustafa Selcuk, seorang kandidat PhD Aristoteles University of Thessaloniki, pasca aksi penembakan di Selandia Baru, dunia Barat mulai merubah cara pandangnya terhadap muslim. Dan mulai memandang sisi positif muslim. “Jerussalem yang negaranya memiliki permasalahan dengan negara muslim, media juga menyatakan penembakan tersebut sebagai aksi teror,” lanjutnya. (mir)
Rektor UMM: Rektor Cup Jadi Ajang Lahirkan Para Juara

Kompetisi tahunan Rektor Cup Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dibuka oleh Rektor Dr. Fauzan, M.Pd Sabtu (20/4) pagi. Gelaran kompetisi di bidang penalaran, olahraga dan kreativitas bagi mahasiswa UMM ini diikuti oleh 24 Unit Kegiatan Mahasiswa yang berlomba di 64 cabang lomba. Beragam perlombaan tersebut sudah dimulai sejak awal April lalu, dan akan berakhir pada 4 Mei mendatang. Tahun ini, kembali sepuluh fakultas di tingkat strata 1 akan merebutkan piala bergilir bergengsi sebagai juara umum. Setahun lalu, piala ini bertengger di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dr. Rinikso Kartono, M.Si, Dekan FISIP UMM menyerahkan kembali piala bergilir ke Rektor UMM untuk diperbutkan kembali. Penyerahan ini disambut riuh tepuk tangan para peserta Rektor Cup 2019. Selain itu, dalam rangka mewadahi kreativitas, daya saing, serta ketangkasan mahasiswa, lanjut Fauzan, Rektor Cup menjadi ajang membuktikan diri bahwa segala hal dapat diraih dengan usaha yang keras. Menurutnya, banyak pelajaran yang dapat diambil dalam kompetisi tahunan memperebutkan piala rektor ini. “Rektor Cup sudah digelar sejak tahun 90-an, ini bukanlah waktu yang sebentar,” tutur Fauzan. Menurut Fauzan, ada manfaat yang sering kali luput dari penyelenggaraanya, bahwa para juara yang dimiliki UMM saat ini juga terlahir dari pembelajaran yang diberikan saat penyelenggaraan Rektor Cup. “Menang ataupun kalah tidaklah begitu penting. Menjadi seorang yang berjiwa besar harus mulai dipupuk sejak mahasiswa. Melalui Rektor Cup, semuanya akan dilatih untuk siap berkompetisi,” ungkapnya. Rektor Cup diharapkan dapat menjadi masa awal untuk melatih benih-benih juara UMM. “Semoga terlahir mahasiswa-mahasiswa yang dapat berprestasi di tingkat regional hingga nasional,” tandasnya. Fauzan bersama Wakil Rektor I, II dan III serta Direktur Utama Radar Malang melakukan kick-off yang menandai dimulainya gelaran ini. Dosen dan karyawan juga turut bertanding sepak bola dengan rekan jurnalis. (mir/can)
Teknik Informatika UMM Resmikan Laboratorium Riset 24 Jam

Keterbatasan waktu penggunaan laboratorium saat riset membuat Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini meresmikan laboratorium yang dapat digunakan 24 jam. Kelebihannya, tidak sekedar kelapangan waktu akses, laboratorium ini juga dilengkapi dengan banyak teknologi terkini untuk menunjang kegiatan praktikum maupun riset dosen dan mahasiswa. “Adanya laboratorium ini demi kenyamanan mahasiswa maupun dosen agar tidak mempunyai batasan waktu ketika melakukan riset di dalam laboratorium,” ungkap Dr. Lailis Syafa’ah, M.T. selaku Wakil Dekan 2 Fakultas Teknik saat ditemui di ruangannya Sabtu (20/4). Laboratorium praktikum dan riset yang terletak di GKB 2 lantai 6 ini diresmikan dan sudah mulai digunakan sejak 5 April 2019 lalu. Laboratorium ini mendukung kegiatan praktikum empat bidang minat. Yakni rekayasa perangkat lunak, sistem dan keamanan jaringan, sains data, dan game cerdas. Terlebih didukung tiga puluh orang asisten, seorang laboran, juga lima orang partime yang siap melayani. Selain itu, laboratorium ini juga telah terstandardisasi yakni melalui skema kerjasama sertifikasi dengan Oracle Academy dan Cisco Networking Academy. Menurut kepala Laboratorium Agus Eko, S.Kom, M.Kom, laboratorium riset ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang. Selain ruangan yang bebas diakses 24 jam, koneksi internet juga cepat, ruangan ber-AC, meeting room, 3D printing, neurosky, bahkan terdapat pula console game (Xbox 360 + Kinect) dan juga Coffee Bar untuk sekedar menghilangkan suntuk saat melakukan riset di dalam laboratorium. Selain itu Agus juga berharap dengan adanya laboratorium ini akan dimudahkannya akses kerjasama dengan para pelaku industri. ”Selain beberapa target tersebut saya juga berharap nantinya mahasiswa teknik informatika dapat menghasilkan produk-produk yang inovatif, dan yang paling penting bisa menciptakan sinergitas antara dosen dengan mahasiswa maupun sebaliknya dalam setiap riset,” ungkapnya Sabtu (20/4). Menurut Rama Daniswara, salah satu mahasiswa Prodi Teknik Informatika mengaku, kehadiran laboratorium riset ini dinilai sangat menunjang prestasi mahasiswa. “Saya harap dengan adanya laboratorium riset baru ini, nantinya dapat membuat kami nyaman dalam menggunakan dan juga memperdalam riset. Sehingga dapat menciptakan penemuan dan juga pengetahuan yang lebih berkembang,” ungkapnya. (zak/can)
Dosen Ini Kenalkan Budaya Lewat Matematika

Keanekaragaman budaya Nusantara menjadi identitas suatu bangsa, khususnya Indonesia. Hal ini mengilhami dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yakni Dyah Worowirowirastri Ekowati, Dian Ika Kusumaningtyas, dan Nawang Sulistrani untuk menulis buku Ethnomatika. Dijelaskan oleh Dyah bahwasanya Ethnomatika berasal dari gabungan dua kata yaitu Etnik atau kebudayaan dan Matematika. Secara harfiah bisa diartikan pembelajaran matematika dengan menggunakan budaya sebagai medianya. “Jadi tidak hanya belajar saja, tetapi mereka juga bisa mengenal budaya nusantara lewat matematika,” ujarnya. Dilanjutkan Dyah, Ethnomatika pertama kali diperkenalkan oleh D’Ambrosio, seorang matematikawan Brasil pada tahun 1977. Namun dalam perjalanannya mengalami perkembangan dan mulai dikenal luas di berbagai belahan dunia. Karena pembelajarannya yang lebih efektif dan simpel melalui media yang ada disekitar siswa. “Pembelajaran matematika khususnya untuk anak SD, musti diajari sesuatu yang konkrit. Jadi tidak bisa hanya menjelaskan materi dan memberikan soal saja. Karena di Matematika, ada program yang dinamakan Matematika Realistik. Menggunakan benda-benda realistik yang ada disekitar, lewat budaya misalnya,” bebernya. Pada permainan Engklek, misalnya, secara tidak langsung siswa juga belajar Matematika saat melewati petak yang sudah diberi angka dan menghitung jumlah angka yang dilewati. Selanjutnya, membentuk rumah adat yang terdiri atas bangun datar apa saja dan membentuk kelompok yang terdiri dari segitiga, dan lainnya. Kemudian, sambung Dyah, melalui permainan Engklek siswa juga diajak bermain dengan membentuk rumah adat berdasarkan kelompok-kelompok yang telah dibagi. Lalu siswa dipersilahkan untuk memadupadankan antar kelompok sehingga membentuk rumah adat dari bangun datar-bangun datar tersebut. Penerapan buku ini telah dilakukan dalam penelitian dan pengabdian di sekolah-sekolah. “Ini adalah bagian dari Pengembangan program Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) dalam pembuatan buku yang diperuntukkan bagi dosen. Lahir tahun 2017 dan untuk proses cetak lanjutannya tahun ini,” jelasnya. Melalui metode ini, pertama, Matematika menjadi lebih realistis. Kedua, pembelajaran Etno (melalui observasi) merupakan wahana belajar sambil bermain dan outdoor learning bagi siswa. Ketiga, memperkenalkan kebudayaan kepada siswa. “Dengan begitu diharapkan mereka memiliki kepedulian untuk melestarikannya,” ungkapnya. “Yang terakhir tentu saja memacu siswa untuk terus mensyukuri kenikmatan Tuhan atas benda di sekitar kita. Nilai ini sesuai dengan nilai karakter dalam kurikulum 2013. Demikian keunggulan dari pembelajaran berbasis Ethnomatika yang kami garap dalam buku ini,” lanjutnya saat diwawancarai Kamis (18/4) siang di ruangannya. “Belajar Matematika itu tidak abstrak saja, tetapi mampu diterapkan dalam kehidupan nyata. Karena bagi saya belajar Matematika itu bukan hanya bicara tentang rumus. Lebih dari itu, Matematika adalah aktivitas dan bahasa dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas perempuan yang juga dosen Prodi PGSD UMM. (riz/can)