Abdidaya Ormawa 2025: UMM Jadi Panggung Lahirnya Solusi Inovatif

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi saksi bisu pertemuan gagasan terbaik bangsa pada Anugerah Abdidaya Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) 2025. Digelar bersamaan dengan Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025 pada 4-6 Desember 2025, ajang yang diinisiasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi ini tak sekadar menjadi panggung apresiasi, tetapi juga perayaan kolaborasi, inovasi, dan semangat pemberdayaan. Sebagai tuan rumah, UMM tampil melalui tim mahasiswanya yang menyuguhkan inovasi konkret untuk problem pertanian lokal. Kolaborasi lintas disiplin antara Himpunan Mahasiswa Agribisnis, Teknik Elektro, dan Teknik Informatika menjadi magnet perhatian pengunjung hari kedua. Tim ini memperkenalkan alat Smart Farming berbasis IoT bertenaga surya yang mampu mengusir hama burung dan tikus menggunakan gelombang ultrasonik, solusi yang lahir dari observasi mereka terhadap keluhan kelompok tani. Salah satu anggota tim, Muhammad Firdaus, menjelaskan bahwa keluhan petani mengenai hama menjadi titik awal lahirnya inovasi tersebut. “Kami turun langsung ke lahan dan melihat sendiri bagaimana burung dan tikus merusak hasil panen. Dari situ kami sadar, harus ada teknologi yang bisa membantu tanpa membebani petani,” ujarnya. Firdaus juga mengungkapkan kebanggaan timnya ketika akhirnya bisa melaju hingga tahap Abdidaya. “Tahun sekarang ini kami pecah rekor! Ini pertama kalinya Himpunan Mahasiswa Agribisnis mencapai titik ini,” tuturnya. “Kami ingin membuktikan bahwa inovasi dari mahasiswa UMM bukan hanya konsep, tapi benar-benar bisa menyentuh kebutuhan masyarakat.” Sejak pagi, kompleks kampus UMM dipenuhi energi. Aroma kopi dan masakan dari bazar UMKM berbaur dengan semangat para peserta yang hilir mudik. Sorotan utama tertuju pada kegiatan Lokakarya dan Expo Poster, galeri terbuka yang menampilkan luaran wajib dan produk tambahan dari ratusan tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Area pameran menjadi ruang penilaian karya terbaik. Dewan juri menyeleksi poster dan video berdasarkan unsur informatif, kreatif, visual menarik, kelengkapan, serta inovasi. Persaingan ketat terlihat, mengingat pemenang Anugerah Abdidaya akan diumumkan pada sesi penganugerahan malam nanti. Kategori penghargaan mencakup Tim Pelaksana (13 kategori), Ormawa (7 kategori), Mitra Keberlanjutan (3 kategori), hingga Perguruan Tinggi (5 kategori). Euforia masih terasa sejak pembukaan Abdidaya Ormawa di UMM pada Kamis malam, 4 Desember 2025. Rizal, salah satu peserta dari UNDIP, mengenang hangatnya suasana yang tercipta. “Kesan dari teman-teman sih seru banget ya kemarin. Bahkan hampir gak mau pulang,” ujarnya. Keseruan itu hadir karena semangat kebersamaan yang terbangun, di mana seluruh tim saling bahu-membahu tanpa hanya membebankan pada satu penanggung jawab. Menutup hari yang penuh inspirasi, Rizal menyampaikan harapan agar Abdidaya Ormawa terus hadir setiap tahun. “Impact-nya bukan cuma ke individu, tapi benar-benar ke pemberdayaan masyarakat.” Doa agar pemerintah terus mendukung penyelenggaraan ini menjadi penutup manis dari rangkaian kegiatan hari kedua di Bumi Arema.(*bil/faq) Penulis: Zlatan Abil Ibrahim | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Ketua IDI di UMM: Kreativitas Mahasiswa Bisa Jadi Motor Inovasi Kesehatan

Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) punya peran strategis dalam upaya perbaikan kesehatan masyaratak. Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. dr. Slamet Budiarto, MH.Kes., di hall dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam acara sarasehan yang merupakan rangkaian dari giat Abdidaya Ormawa 2025 pada Jumat, 05 Desember 2025. Lebih lanjut, Ketua IDI itu kemudian memerinci peran strategis ormawa yang diyakininya mampu memberi dampak signifikan pada kesehatan publik. Ia menyebut bahwa ormawa dapat berperan dengan membangun desa binaan sebagai desa sehat, memperkuat kolaborasi dengan instansi dalam pendampingan desa, serta melakukan kampanye kesehatan yang mencakup PHBS, gizi seimbang, sanitasi, kesehatan reproduksi, dan kesehatan mental. Selain itu, menurutnya ormawa juga dapat mendorong penyebaran literasi kesehatan melalui seminar, diskusi publik, IG Live, serta health talk berbasis data; mengadvokasi kebijakan kampus seperti kawasan tanpa rokok dan lingkungan sehat; serta menyelenggarakan aksi sosial seperti pemeriksaan kesehatan gratis dan donor darah. “Mahasiswa itu kreatif, dekat dengan masyarakat, dan mampu menghadirkan edukasi dengan pendekatan yang lebih segar dan efektif,” jelasnya. Konsep desa sehat berbasis ormawa, menurutnya, merupakan pendekatan inovatif yang sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat hari ini. “Mahasiswa jangan hanya datang untuk kegiatan seremonial. Mereka harus menjadi pendamping berkelanjutan berbasis data, edukasi, dan pemberdayaan nyata,” tegas Slamet. Ia menambahkan bahwa kontribusi mahasiswa melalui program yang konsisten dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan pada akhirnya mendorong kenaikan angka harapan hidup nasional. Dalam pemaparannya, Slamet juga mengungkapkan tantangan serius status kesehatan di Indonesia, mulai dari angka umur harapan hidup rendah 68,25 tahun, angka tb tertinggi nomor 2 di dunia, angka stunting tinggi nomor 5 di asean. Ia menilai, persoalan kesehatan hari ini bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga medis, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, termasuk mahasiswa dan ormawa. Institusi pendidikan tinggi di Indonesia selama ini dikenal aktif menjalankan berbagai program pengabdian masyarakat, termasuk di bidang kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan desa. Peran ini memperlihatkan bahwa kampus bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga pusat produksi gagasan dan inovasi sosial yang melibatkan mahasiswa sebagai aktor utama. Kehadiran Ketua IDI dalam forum akademik semacam ini semakin menegaskan posisi perguruan tinggi sebagai ruang strategis yang mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan, profesi kesehatan, dan masyarakat. Slamet menutup sesi pemaparannya dengan pesan optimistis mengenai potensi besar generasi muda di lingkungan kampus. “Saya percaya mahasiswa di perguruan tinggi memiliki kapasitas besar untuk menjadi motor inovasi kesehatan dan menghadirkan dampak nyata bagi Indonesia yang lebih sehat,” ujarnya.(*alg/faq) Penulis: Musthafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Inovasi Maritim Menggema di UMM, KKI 2025 Satukan Teknologi, Kreativitas, dan Kolaborasi Mahasiswa

Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025 tingkat nasional berlangsung meriah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 4–6 Desember 2025. Tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan mahasiswa dalam teknologi maritim, kegiatan ini juga menunjukkan kesiapan UMM sebagai tuan rumah berfasilitas lengkap dan berstandar nasional. Para peserta dari berbagai kampus memberikan apresiasi atas penyelenggaraan yang dinilai rapi, nyaman, dan mendukung jalannya lomba. UMM sendiri turut berkompetisi melalui Lembaga Semi Otonom Mekatronic dengan dua kapal andalan: Sangkaling Evo 6 untuk kategori Fuel Engine Remote Control (FERC) dan Boeing Mary Evo 5 untuk kategori Electric Remote Control (ERC). Persiapan panjang dilakukan selama enam bulan penuh. Devany Aurellia Putri Setiawan, mahasiswa Teknik Industri UMM, menegaskan keseriusan timnya. “Dari tim UMM ini sudah menyiapkan dari enam bulan sebelum lomba, mulai dari desainnya. Sebelum turun regulasi pun kami sudah bikin planning-planning ke depan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa berbagai kendala sempat dihadapi, terutama saat uji coba. “Kalau nabrak kan ada kemungkinan tenggelam, jadi mesin-mesinnya harus di-repair dan di-upgrade lagi,” katanya. Selain lomba kapal cepat, ada juga lomba Inovasi desain dan konstruksi (IDK), yang menitikberatkan pada kemampuan peserta merancang kapal berdasarkan pendekatan Desain Konstruksi Kapal (DKK). Peserta melewati tahapan konsep, desain awal, desain kontrak, hingga desain detail. Berbagai sistem konstruksi memanjang, melintang, hingga campuran menjadi elemen penilaian, disertai pemahaman struktur kapal seperti lunas, pelat alas, dan penumpu. Lomba ini menuntut ketelitian tinggi agar rancangan memenuhi standar kekuatan dan keselamatan. Disisi lain, fasilitas UMM juga mendapat perhatian positif dari peserta luar kampus. Reviana Azzara Putri dari Universitas Sebelas Maret (UNS) mengaku terkesan dengan kondisi kampus. “Jujur, ini pertama kali aku datang ke UMM, dan menurutku sangat bagus,” ungkap Revi. Ia secara khusus memuji sarana pendukung. “Menurut aku sudah cukup bagus dari segi tata letak dan arsitekturnya. Terutama kamar mandinya itu bersih,” tambahnya. Revi juga menilai arena perlombaan di Danau Kampus UMM dan area Sengkaling sudah sangat memadai untuk kompetisi kapal. Selain memacu kemampuan teknis, KKI 2025 mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah, membuka peluang relasi baru dan pertukaran ide. Dengan fasilitas lengkap dan lingkungan tertata, UMM berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi peserta. Gelaran ini sekaligus menegaskan komitmen UMM untuk menjadi pusat pengembangan teknologi dan inovasi maritim di Indonesia.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Empat Kali Pimpin Gelaran KKI, UMM Tegaskan Dominasi dalam Ekosistem Inovasi Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meneguhkan posisinya sebagai pusat inovasi mahasiswa tingkat nasional melalui peresmian Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025, yang untuk pertama kalinya disatukan dalam satu panggung. Gelaran akbar pada Kamis, 4 Desember 2025, di Hall Dome UMM ini berlangsung meriah dan sekaligus menandai kepercayaan nasional terhadap UMM, yang kembali dipercaya sebagai tuan rumah KKI untuk keempat kalinya. Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi hadir membawa karya terbaik mereka, menciptakan atmosfer kompetisi yang penuh energi, kolaborasi, dan kreativitas. Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Mendiktisaintek), Prof. Dr. Brian Yulianto, M.Eng., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi kepada UMM atas konsistensinya membangun ekosistem inovasi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan terpadu KKI dan Abdidaya merupakan momentum penting untuk memperkuat budaya riset, rekayasa teknologi, dan pengabdian masyarakat. Bagi negara, kedua ajang ini bukan sekadar perlombaan tahunan, melainkan investasi strategis untuk mencetak generasi muda yang berani menghadapi ketidakpastian, piawai menciptakan solusi berbasis sains, serta memiliki kepedulian sosial yang kuat. “KKI adalah arena inovasi maritim yang memperkuat visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Abdidaya menunjukkan bagaimana mahasiswa membaca kebutuhan masyarakat melalui program yang inovatif dan berkelanjutan. Ada tiga pesan penting: keberanian menghadapi masalah, kemampuan mencari solusi berbasis ilmu dan teknologi, serta komitmen pada keberlanjutan. Lomba ini adalah investasi untuk melahirkan pemimpin masa depan. Jangan hanya mengejar juara, namun hadirkan karya yang berdampak dan dapat direplikasi,” tegasnya. Disisi lain, Ketua Pelaksana, Amrul Faruq, M.Eng., Ph.D., menyebut penyelenggaraan tahun ini sebagai momen bersejarah karena untuk pertama kalinya KKI dan Abdidaya digelar secara terpadu. Tercatat 93 perguruan tinggi berpartisipasi dengan 131 tim KKI dan 119 tim Abdidaya. Itu membuktikan adanya peningkatan signifikan yang menunjukkan tingginya antusiasme mahasiswa terhadap inovasi maritim dan pemberdayaan masyarakat. Ia menambahkan bahwa kualitas karya tahun ini meningkat pesat. “Desain kapal, sistem kontrol, dan pendekatan teknis mahasiswa semakin cerdas dan efisien. Abdidaya juga terus menjadi rujukan nasional dalam menilai program pengabdian masyarakat yang berorientasi keberlanjutan,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, MT., menekankan bahwa ajang ini tidak hanya melatih kemampuan teknis, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan dan mental kompetitif mahasiswa. Ruang kolaborasi lintas kampus seperti ini, menurutnya, sangat dibutuhkan untuk menghadapi persaingan global. “Keberanian tampil dan membawa nama almamater adalah nilai penting dalam proses pembentukan calon pemimpin bangsa. Mereka bukan hanya peserta lomba, tetapi generasi masa depan yang sedang ditempa,” tutupnya.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dosen UMM Soroti Lonjakan Harga Pangan Jelang Nataru

Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, Indonesia kembali dihadapkan pada lonjakan harga bahan pangan yang kian memberatkan masyarakat. Sejak awal November, harga sejumlah komoditas pokok di berbagai pasar tradisional terus merangkak naik, terutama beras, cabai, bawang merah, dan daging sapi yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga. Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus petani asal Banyuwangi, Ary Bakhtiar., M.Si., IPM., Asean Eng, menegaskan bahwa produksi pangan turun signifikan pada akhir tahun ini. “Harga cabai saja yang awalnya Rp20.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp73.000. Ibu-ibu akhirnya hanya membeli seperempat kilogram,” jelasnya, Selasa (2/12/2025). Ia menambahkan bahwa berbagai agenda besar yang berdekatan yakni Natal, Tahun Baru, hingga Ramadan pada Februari 2026 juga turut mendorong meningkatnya permintaan. Selain itu, ia menerangkan bahwa kenaikan ini dipicu oleh kombinasi antara cuaca ekstrem, terganggunya distribusi pasokan, serta penurunan produksi akibat curah hujan tinggi. Perubahan iklim turut memperburuk kondisi, sementara kebutuhan masyarakat meningkat menjelang perayaan akhir tahun. Sebagai langkah mitigasi, Ary menyarankan sejumlah solusi. “Pemerintah perlu hadir lebih kuat dalam menjaga stabilitas pangan, terutama di tingkat produksi dan distribusi,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa pendampingan dan perlindungan bagi petani harus diperkuat, mulai dari teknologi pengendalian hama berbasis cuaca hingga akses pupuk dan bibit yang lebih stabil. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan infrastruktur distribusi agar pasokan tidak terhambat saat cuaca ekstrem. Selain itu, menurutnya, pemerintah daerah dan pusat perlu menyiapkan operasi pasar dan cadangan pangan untuk menekan lonjakan harga pada komoditas yang paling sensitif. Lonjakan harga bahan pangan ini menjadi persoalan serius karena memengaruhi banyak lapisan masyarakat dan mengancam stabilitas ekonomi rumah tangga maupun usaha kecil. Jika tidak dikendalikan segera, kondisi ini dikhawatirkan akan memperburuk daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha di awal tahun mendatang. Terakhir, Ary berharap agar upaya stabilisasi pangan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan oleh berbagai pihak. “Saya berharap pemerintah dapat memperkuat sistem pangan kita, bukan hanya saat krisis atau menjelang hari besar, tetapi sepanjang tahun,” ujarnya. Ia menekankan bahwa petani, UMKM, dan konsumen harus sama-sama mendapat perlindungan agar rantai pasok tetap kuat. Menurutnya, perencanaan yang matang, dukungan teknologi, dan pendampingan yang konsisten merupakan kunci untuk menciptakan ketahanan pangan yang benar-benar tangguh. (*alg/faq) Penulis: Musthafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Banjir dan Longsor Sumatera, Akademisi UMM Ajak Perbaiki Pengawasan dan Ketaatan Hukum

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 menimbulkan dampak besar. Ratusan warga dilaporkan meninggal dunia, puluhan ribu lainnya mengungsi, dan kerusakan lingkungan terjadi di banyak titik. Di balik bencana hidrometeorologi yang dipicu curah hujan tinggi ini, sorotan kini mengarah pada dugaan deforestasi dan praktik tambang ilegal. Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sumali, M.Hum, menegaskan bahwa persoalannya bukan pada kurangnya aturan, tetapi lemahnya implementasi. “Regulasinya sudah baik, tetapi implementasi law enforcement selalu menyisakan kesenjangan. Kenapa aturan kuat justru tidak mampu mencegah kerusakan lingkungan?” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa undang-undang mengenai lingkungan dan pertambangan telah tersedia sejak 2012, termasuk kewajiban pemerintah daerah untuk mengawasi izin tambang dan AMDAL. Lembaga lingkungan juga diberi ruang untuk berpartisipasi dalam pengawasan. Namun, Sumali mengidentifikasi tiga masalah utama yang membuat penegakan hukum sulit berjalan optimal. Pertama, dominasi kapital korporasi yang mampu mempengaruhi aparat. “Aparat sering kali tergoda oleh fasilitas atau materi, sehingga izin diterbitkan tanpa kajian layak, tanpa AMDAL, bahkan disertai praktik suap,” katanya. Kedua, persoalan peradilan, di mana vonis tidak sebanding dengan kerusakan. Ia menegaskan, “Ada kasus yang dituntut puluhan triliun, tetapi divonis hanya miliaran. Ini bentuk judicial corruption.” Ketiga, minimnya akses dan informasi bagi masyarakat, sehingga kontrol publik menjadi lemah. Ia juga mengutip teori Donald Black yang menjelaskan bahwa penegakan hukum dipengaruhi stratifikasi sosial. “Kelompok yang punya modal dan jabatan lebih mudah mendapat izin. Belum lagi kedekatan pejabat dan korporasi yang membuat persyaratan perizinan sering kali diloloskan,” terangnya. Melihat kerusakan yang terjadi, Sumali menegaskan bahwa inti penyelesaian berada pada penegakan amanat. “Kerusakan ini adalah peringatan. Allah menunjukkan akibat ulah manusia agar kita kembali ke jalan benar,” ujarnya merujuk Surat Ar-Rum ayat 41. Ia berharap aparat dan pemerintah memiliki kesadaran moral serta keberanian untuk menjaga lingkungan. “Kita butuh pemimpin yang berani memberi penghargaan kepada pejabat yang tegas menegakkan hukum. Intinya, kualitas amanat harus dibangun dari manusia yang beriman dan bertanggung jawab,” pungkasnya.(*bil/faq) Penulis: Zlatan Abil Ibrahim | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Cepat Tanggap, UMM Turun Tangan Bantu Bencana di Aceh–Sumut–Sumbar

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan komitmennya untuk membantu penanggulangan bencana yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A, menyampaikan bahwa UMM turut bersimpati dan berduka atas bencana yang terjadi, terutama banjir bandang dan longsor yang melanda Medan serta daerah sekitarnya. Berdasarkan data terbaru BNPB per Rabu pagi (3/12/2025), pukul 07.15 WIB, jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mencapai 753 jiwa. Selain itu, terdapat 650 orang hilang dan 2.600 warga mengalami luka-luka. Sementara itu, sebanyak 576.300 orang tercatat mengungsi, tersebar di ketiga provinsi tersebut. Angka ini menunjukkan betapa besar dampak bencana sekaligus menegaskan urgensi penanganan cepat dan terkoordinasi. Dr. Juanda menjelaskan bahwa UMM telah berkomunikasi dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) sebagai AUM terdekat di lokasi bencana untuk memperkuat koordinasi dan langkah bantuan. “UMM tidak tinggal diam. Kami langsung berkoordinasi, termasuk dengan MDMC, untuk menerjunkan tim Maharesigana UMM membantu penanganan di lapangan. Secara real, kami sudah bergerak,” ujarnya. Selain mengirimkan relawan, UMM juga menaruh perhatian khusus kepada mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana. Kampus Putih akan mempertimbangkan keringanan pembiayaan pendidikan dan dukungan kebutuhan dasar. “Intinya, UMM peduli. Mahasiswa yang keluarganya terdampak akan kami bantu semaksimal mungkin, baik dalam bentuk biaya pendidikan maupun dukungan sehari-hari,” tegasnya. Dalam merespons kebencanaan khususnya di Padang, Sumatera Barat, tiga dosen UMM akan diberangkatkan dalam minggu ini bersama 17 relawan mahasiswa dari berbagai jurusan. Misi kemanusiaan ini akan berfokus pada layanan psikososial, kesehatan, operasional dapur umum, serta pemasangan filter air bersih. UMM melalui Maharesigana juga menggalang dana bersama civitas akademika. Dana tersebut akan digunakan untuk pengadaan hygiene kit dan family kit bagi warga terdampak di Sumbar, Aceh, dan Sumut. Langkah ini menegaskan komitmen UMM untuk hadir secara nyata dalam pemulihan pascabencana. Wakil Rektor II UMM itu menegaskan bahwa seluruh relawan telah dipersiapkan dengan matang, baik dari sisi kompetensi maupun mental. “Kami berangkat bukan hanya membawa bantuan, tetapi membawa kehadiran yang menenangkan dan semangat untuk memulihkan harapan warga, setidaknya kini sudah terkumpul dana puluhan juta untuk bantuan” ujarnya. Di akhir, Ia menegaskan bahwa UMM akan terus berdiri di garis depan respon kebencanaan. Dengan kolaborasi, kesiapsiagaan, serta kepedulian terhadap mahasiswa dan masyarakat, UMM menegaskan komitmennya sebagai kampus yang cepat tanggap dan hadir untuk Indonesia. (faq) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman
Banjir dan Longsor Sumatera, Akademisi UMM Ajak Perbaiki Pengawasan dan Ketaatan Hukum

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 menimbulkan dampak besar. Ratusan warga dilaporkan meninggal dunia, puluhan ribu lainnya mengungsi, dan kerusakan lingkungan terjadi di banyak titik. Di balik bencana hidrometeorologi yang dipicu curah hujan tinggi ini, sorotan kini mengarah pada dugaan deforestasi dan praktik tambang ilegal. Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sumali, M.Hum, menegaskan bahwa persoalannya bukan pada kurangnya aturan, tetapi lemahnya implementasi. “Regulasinya sudah baik, tetapi implementasi law enforcement selalu menyisakan kesenjangan. Kenapa aturan kuat justru tidak mampu mencegah kerusakan lingkungan?” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa undang-undang mengenai lingkungan dan pertambangan telah tersedia sejak 2012, termasuk kewajiban pemerintah daerah untuk mengawasi izin tambang dan AMDAL. Lembaga lingkungan juga diberi ruang untuk berpartisipasi dalam pengawasan. Namun, Sumali mengidentifikasi tiga masalah utama yang membuat penegakan hukum sulit berjalan optimal. Pertama, dominasi kapital korporasi yang mampu mempengaruhi aparat. “Aparat sering kali tergoda oleh fasilitas atau materi, sehingga izin diterbitkan tanpa kajian layak, tanpa AMDAL, bahkan disertai praktik suap,” katanya. Kedua, persoalan peradilan, di mana vonis tidak sebanding dengan kerusakan. Ia menegaskan, “Ada kasus yang dituntut puluhan triliun, tetapi divonis hanya miliaran. Ini bentuk judicial corruption.” Ketiga, minimnya akses dan informasi bagi masyarakat, sehingga kontrol publik menjadi lemah. Ia juga mengutip teori Donald Black yang menjelaskan bahwa penegakan hukum dipengaruhi stratifikasi sosial. “Kelompok yang punya modal dan jabatan lebih mudah mendapat izin. Belum lagi kedekatan pejabat dan korporasi yang membuat persyaratan perizinan sering kali diloloskan,” terangnya. Melihat kerusakan yang terjadi, Sumali menegaskan bahwa inti penyelesaian berada pada penegakan amanat. “Kerusakan ini adalah peringatan. Allah menunjukkan akibat ulah manusia agar kita kembali ke jalan benar,” ujarnya merujuk Surat Ar-Rum ayat 41. Ia berharap aparat dan pemerintah memiliki kesadaran moral serta keberanian untuk menjaga lingkungan. “Kita butuh pemimpin yang berani memberi penghargaan kepada pejabat yang tegas menegakkan hukum. Intinya, kualitas amanat harus dibangun dari manusia yang beriman dan bertanggung jawab,” pungkasnya .(bil/faq) Penulis: Zlatan Abil Ibrahim | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Santri PPI AMF Borong Penghargaan di ME Confest 2025

Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dalam ajang Muhammadiyah Education Conference and Festival (ME Confest) 2025 yang digelar di Sidoarjo pada 29–30 November lalu, mereka berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan dari berbagai kategori lomba. ME Confest 2025 mengusung tema “Ekspresi, Kolaborasi, dan Kepeloporan Generasi Berkemajuan” dan diikuti lebih dari 4.000 peserta dari sekolah Muhammadiyah se-Jawa Timur dan Bali, mulai jenjang SD hingga SMA. Prestasi ini menjadi bukti kualitas pembinaan PPI AMF dalam mencetak generasi berprestasi dan percaya diri. Wakil Kepala SMP-SMA AMF Bidang Kesiswaan, Iqbal Alfian Rusydi, mengungkapkan rasa syukurnya. Dari enam lomba yang diikuti, empat di antaranya berhasil meraih prestasi. Adapun rinciannya yaitu Juara 2 Tapak Suci Kategori Tunggal Tangan Kosong SMP oleh Rabbani Kaffatan Hasan, Juara 3 Bulu Tangkis Ganda Putra SMP oleh Abyan Agha Alghifari dan Dzabdan Arkananta Nasrullah, Special Award Kreator Konten SMP oleh Delisa Anandita Rachman, Berlian Rigana Kasih, dan Honey Azzahra Ratu Anggra, serta Special Award Mendongeng SMP yang diraih oleh Mumtaz Hanin Nabilah. Iqbal menjelaskan, peserta lomba dipilih melalui seleksi internal, sebagian diambil dari para juara Bulan Bahasa dan Sastra 2025 di PPI AMF. “Ada juga yang dipilih berdasarkan rekomendasi pembina dan pelatih,” ujarnya saat ditemui di PPI AMF, Senin (1/12/2025). Setelah proses seleksi, para santri menjalani pelatihan intensif selama sebulan penuh. Untuk kategori mendongeng, sekolah bahkan menyiapkan properti khusus sebagai pendukung lomba. Iqbal berharap prestasi santri bisa semakin meningkat pada ajang yang lebih tinggi. Salah satu peraih prestasi, Rabbani Kaffatan Hasan, mengaku sangat senang bisa meraih Juara 2 Tapak Suci Kategori Tunggal Tangan Kosong. Raihan tersebut sesuai dengan target pribadinya. “Target saat itu juara satu atau dua,” ungkap santri yang akrab disapa Kaffa itu. Menariknya, Kaffa baru mulai mengikuti Tapak Suci setelah masuk PPI AMF. Saat di SD ia tidak pernah menekuni bela diri tersebut. Berkat ketekunan dan minat besar, ia cepat menguasai teknik dasar hingga akhirnya dipercaya mewakili sekolah di ME Confest 2025. Meski sempat gugup, Kaffa mampu mengatasinya dengan doa dan selawat. Ia pun membawa pulang piala, sertifikat, uang pembinaan, dan boneka Tapak Suci. Kebahagiaan juga dirasakan oleh tim kreator konten: Delisa Anandita Rachman, Berlian Rigana Kasih, dan Honey Azzahra Ratu Anggra. Mereka tidak menyangka videonya mendapat perhatian juri. “Senang banget. Dari sekian peserta, kita masuk 10 besar se-Jawa Timur dan Bali,” ujar Honey. Konten yang mereka buat menampilkan profil sekolah, program unggulan, suasana PPI AMF, serta pesan motivasi. Pengambilan gambar dilakukan di beberapa titik pondok, seperti resepsionis, lapangan, asrama, lorong kelas, hingga halaman sekolah. Mereka berharap bisa terus berkompetisi dan meraih prestasi lebih tinggi. Dengan berbagai prestasi yang telah diraih tersebut, membuktikan bahwa PPI AMF berkomitmen penuh dalam memfasilitasi minat dan bakat yang dimiliki oleh para santrinya. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Cetak talenta kreatif, Alumnus UMM Ini Jadi Sosok Penting di Creative Production Krisdayanti

Perjalanan panjang mencari jati diri justru mengantarkan Dwi Prasetyo Yulianto, alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menuju pencapaian yang membanggakan. Saat ini, Pras begitu ia akrab disapa telah dipercaya menjadi bagian dari Creative Production pribadi keluarga diva internasional Krisdayanti. “Aku sekarang ada di bagian dari Krisdayanti, banyak terlibat dalam projectnya seperti konten manggung, liburan, ataupun yang lain. Aku di percayai menjadi tim creative production dibagian videografi maupun fotografi yang outputnya nanti dimuat dimedia sosial.” jelasnya Mengingat bahwa skill yang dimiliki pras sangatlah profesional, ia juga terkadang menggarap project bisnis yang diberikan oleh suami Krisdayanti, Raul Lemos. “kalau project yang saat ini aku kerjakan bikin video promosi pariwisata untuk Timor Leste” tambahnya Namun, perjalanan menuju titik ini tidaklah singkat. Pras mengaku sempat mengalami masa pencarian identitas ketika awal kuliah. “Jadi aku waktu semester 1–2 itu cuma mencari jati diri, masih bingung ke depan mau fokus ke mana,” ungkapnya. Baru pada semester tiga ia mulai berani bangkit dan mencoba berbagai hal baru, termasuk mengikuti program magang. Kesempatan pertama datang saat ia bergabung dengan salah satu production house (PH) ternama di Malang. Selama enam bulan magang, ia belajar banyak hal, terutama tentang mengelola sumber daya manusia. Menurutnya, pengalaman itu sangat berharga karena tidak mungkin didapatkan secara otodidak. Ia pun bersyukur karena dukungan dosen UMM menjadi jembatan baginya untuk menembus dunia profesional lebih awal. Tidak berhenti di situ, Pras juga memperluas pengalamannya dengan magang di Polres Malang Kota dan Humas UMM. Di Humas UMM, ia merasakan perkembangan signifikan dalam keterampilan videografi dan fotografi. “Di Humas UMM ini menurut saya menjadi gudang ilmu. Banyak sekali para ahli yang mempercepat peningkatan skill saya, mulai dari bikin konten harian, liputan wisuda, hingga pembuatan video pesmaba,” jelasnya. Berbagai pengalaman itu kemudian membentuk portofolio yang sangat kuat. Bekal tersebutlah yang akhirnya membukakan pintu bagi Pras untuk dipercaya mendokumentasikan kegiatan keluarga Krisdayanti. Tak hanya itu, ia juga menyalurkan hobinya lewat kanal YouTube pribadi bernama “Prastopia”. Kanal tersebut kini telah meraih lebih dari 100 ribu subscriber dan mendapatkan penghargaan Silver Play Button dari YouTube. Bagi Pras, semua pencapaian yang diraih saat ini merupakan hasil dari konsistensi serta keberanian memanfaatkan peluang. Ia menekankan bahwa UMM memberikan ruang sangat luas bagi mahasiswanya untuk berkembang, baik lewat jaringan maupun program magang. “Jaringan di UMM ini luas sekali, itu yang saya rasakan dan manfaatkan. Jadi jangan ragu untuk bergabung dengan UMM,” pesannya. Kisah sukses Pras membuktikan bahwa kebingungan di awal bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan menuju kesuksesan. Dengan tekad, kerja keras, serta pemanfaatan fasilitas kampus secara maksimal, ia kini berhasil berdiri di barisan terdepan dokumentasi keluarga salah satu penyanyi ternama Indonesia. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman