Malik Fadjar: Kampus Ini Besar Karena Inspirasi

ANGGOTA Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia yang juga merupakan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM), Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc., Senin (29/10), menginjeksi energi baru kepada dosen dan karyawan UMM. Malik memberi pengajian umum sebagai salah satu wujud dari pembinaan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di UMM. Kegiatan berlangsung di Ruang Sidang Senat dan Auditorium BAU. Dalam penyampaianya, Malik menyampaikan bahwa Kampus Putih besar karena inspirasi yang dilahirkan darinya. Ditegaskan Malik, kepala unit, karyawan, dosen hingga kalangan akar rumput juga mesti memberi inspirasi antara satu dengan yang lainnya. Memberi inspirasi itu, kata Malik, bisa berupa hadirnya figur-figur inspiratif, sepak terjang yang positif, juga langkah-langkah yang menginspirasi. “Inspirasi inilah yang mesti ditumbuh kembangkan di lingkungan kita. Sama halnya juga di keluarga kita. Kita juga mesti menumbuhkan inspirasi. Inspirasi itu tumbuh di ruang kerja, ruang kelas, juga apa-apa yang kita jalani sehari-harinya,” ungkapnya. Demikian Rektor UMM juga pada hari ini, untuk kesekian kalinya, menerima ASEAN Energy Award 2018 dengan kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings sub kategori Tropical Building. Banyak kampus yang lebih dulu besar. Namun begitu, sebut Malik, kiprahnya sedikit saja bahkan tidak sedikitpun memberikan inspirasi bagi sekitarnya. Terlebih bagi dunia pendidikan pada khususnya. “Seluruh pejabat struktural harus memberikan inspirasi, tidak hanya di unitnya, tapi juga ditingkatan universitas, juga jika memungkinkan di tingkatan yang lebih luas lagi,” pesannya. “Bagaimana seorang pemimpin unit, pejabat struktural, dosen dapat memberikan inspirasi bagi unit kerja dan lingkungannya. Yakni lewat cara memotivasi, bersikap ramah, tidak egois. Juga selalu menyebarkan virus-virus energi positif. Tak kalah penting, berinteraksi dengan lainnya,” tutur Malik. Demikianlah prinsip ini merupakan perwujudan komitmen yang telah dicanangkan UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Tak kalah penting, seorang pemberi inspirasi harus mampu membaca tanda-tanda zaman. Yang dimaksud membaca tanda-tanda zaman, kata Malik, adalah ia yang melihat segala sesuatu secara optimis. “Contohnya, dulu ketika Kampus III ini dibangun, tidak ada yang berpikir bahwa kemudian kampus ini bakal menjadi sebesar ini. Mereka cuma bisa bilang, tanah kayak gini (tidak strategis, kontur tanah buruk, red.) kok dibeli,” ceritanya. Inspirasi itu dapat muncul, sambung Malik, jika kita senantiasa berpositif thinking atau berpikiran positif. Dalam istilah lain, kita senantiasa berpikir huznudzon atau berprasangka baik. Dengan berprasangka baik, kita bakal melahirkan cinta. Karena cinta lah yang lantas melahirkan komitmen-komitmen positif. “Kampus ini besar karena kaya akan inspirasi. Inspirasi melahirkan imajinasi yang berwujud mimpi dan pikiran-pikiran besar,” pungkasnya. (can)

Safety Watch, Alat Deteksi Denyut Jantung Cegah Kecelakaan Akibat Mengantuk Buatan Mahasiswa UMM

PENYEBAB kecelakaan dapat terjadi kapanpun dan di manapun. Faktor penyebab kecelakaan terbesar menurut korps lalu lintas Kepolisian Republik Indonesia 2017 adalah faktor manusia, dengan presentase lebih dari 50%. Sisanya adalah sikap manusia dengan presentase 40%, terjadi karena mengantuk. Berangkat dari latar belakang itu, Ari Devianto mahasiswa program studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) bersama 2 rekannya, Adwin Nugriho dan Fikri Febrianto, membuat ide karsa cipta berjudul “Safety Watch”; arloji pintar sebagai penstabil frekuensi denyut nadi saat berkendara. Oktober lalu, ide tersebut dikompetisikan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Forum Grup Diskusi Teknologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PKM FGDT-PTM) yang merupakan acara tahunan bagi Fakultas Teknik perguruan tinggi Muhammadiyah se-Indonesia. Karsa cipta yang dibimbing Dosen Teknik UMM Mohammad Chasrun Hasani ST., MT dan Ir. Nur Alif Mardiyah MT ini mendapat juara 1 dalam kompetisi tersebut. Keunggulannya, Safety Watch ini sudah berbasis Internet of Things (IoT), atau perangkat yang terhubung dengan konektifitas internet. Di mana pada era revolosi industri 4.0, sudah mumpuni untuk digunakan. Dewan juri tertarik dengan alat tersebut. Pada awalnya tim mereka masih takut saat diujikan. Meskipun alat kejut mereka sudah memenuhi standar. Untuk menguji alat tersebut layak digunakan manusia, mereka mendaftarkan safety watch kepada Ethical Clearance (EC) atau kelayakan etik sehingga dinyatakan layak digunakan oleh manusia. Kedepannya mereka akan melakukan pendaftaran hak cipta dan mengembangkan alat tersebut berbasis IoT itu, sehingga terintegrasi dengan smartphone. “Tujuannya agar penggunan Safety Watch dapat memantau denyut nadi melalui aplikasi smartphone. Juga dapat mengirimkan pesan kepada keluarga apabila pengguna mengalami bahaya, dilihat dari frekuensi denyut nadi,” imbuh Ari Devianto selaku ketua PKM tersebut. (bel/can)

Anak Muda Wajib Kritis dan Cerdas Pilih Caleg

PASCA munculnya polemik terkait dikabulkannya permohonan para mantan narapidana kasus korupsi menjadi calon legislatif (Caleg) pada Pemilu 2019 mendatang, banyak di antara kalangan akademisi melakukan kritisi atas kebijakan tersebut. Disampaikan Asri Rezki Saputra, keberadaan regulasi tersebut secara tidak langsung justru melahirkan cikal bakal penyalahgunaan kekuasaan. Padahal, tindakan korupsi dapat dicegah dimulai dari proses rekrutmennya. “Regulasi ini menurut saya dapat menjadi cikal dari semakun besarnya tindak pidana korupsi,” paparnya. Selain itu, mahasiswa yang aktif menjadi debater ini juga menyatakan sikap bahwa sebagai mahasiswa, sebagai anak muda, kita semua harus kritis dan jeli dalam menanggapi hal-hal semacam ini. Mahasiswa Progran Studi (Prodi) Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga mengkritisi keberadaan mahasiswa yang ada pada posisi sebagai calon legislatif. Baginya, sebagai mahasiswa belum saatnya untuk terjun menjadi anggota legislatif. Justru langkah paling tepat adalah mahasiswa menjadi ujung tombak kritisi dari hasil aspirasi masyarakat. Senada dengan pernyataan Rezki, dosen Fakultas Hukum (FH) UMM Mokhammad Najih, Ph.D juga menyatakan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam ranah menganalisis, mengkritisi, dan menyampaikan buah pikiran mereka. “Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh pembicara sebelumnya, bahwa pemuda memiliki ranah yang luas dalam menganalisis dan mengkritisi polemik ini,” ujarnya, Sabtu (27/10). Penulis buku best seller Hukum Indonesia: Sejarah, Konsep Tata Hukum dan Politik Hukum Indonesia ini berpendapat bahwa regulasi hukum tentang korupsi di Indonesia sudah terlalu berlebihan. Lanjutnya, koruptor di Indonesia semakin diberi regulasi semakin bebas untuk melangsungkan tindakan pidana tersebut. “Regulasi hukum untuk para koruptor di Indonesia ini sudah over regulation yang jatuhnya tidak untuk ditakuti,” tandasnya. Perlu diketahui bersama bahwa terdapat 38 Caleg mantan narapidana kasus korupsi yang namanya sudah terdaftar di Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilu Legislatif. Najih menyampaikan bahwa keberadaan jumlah tersebut harus diawasi dan dianalisis oleh generasi muda yang merupakan pemilih dengan suara yang banyak direbutkan oleh para Caleg tersebut. “Sebagai pemilih dengan suara yang diperebutkan oleh para Caleg, anak muda harus kristis dalam menganalisis,” ungkapnya. (nis/can)

Rektor: Guru Milenial itu yang Kuat Karakter Keagamaan, Intelektual dan Humanisnya

DI TAHUN 2030 nanti, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Artinya di tahun itu, Indonesia akan memiliki lebih banyak warga negara yang berada di usia produktif. Generasi milenial, yang akan hidup di masa itu, tentunya saat ini menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah dan berbagai kalangan. Hal inilah yang mendorong Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kuliah Khusus, Kamis (25/10) siang. Acara ini bertajuk, “Penguatan Karakter untuk Mempersiapkan Generasi Milenial”. Pada kesempatan ini Dr. Fauzan, M. Pd, Rektor UMM hadir sebagai pemateri. Ia menyampaikan optimisme bahwa mahasiwa PGSD UMM  harus menjadi generasi yang maximize atau generasi unggulan. “Jangan kemudian telat masuk kuliah. Sering alasan, yang penting masuk. Inilah yang dinamakan bermental minimize,” contohnya. Setiap manusia, sambungnya, memiliki potensi yang luar biasa. Namun sangat disayangkan kebanyakan dari diri seseorang, terkhusus para mahasiswa calon guru, masih memelihara kemalasan dan kerap beralasan. Boleh dikatakan, lanjut Fauzan, terlalu terlena dengan zona nyaman. Tak lupa, Fauzan juga menjelaskan betapa pentingnya menjadi seseorang yang bermental pekerja keras. Hal ini nanti tentu harus dimiliki oleh seorang guru. Karena guru, sambung Fauzan, adalah suri tauladan bagi murid-muridnya. Ditegaskan Fauzan, penguatan karakter juga mesti dilakukan dengan maksimal dalam rangka menyiapkan generasi milenial ke depan. Perbedaan gaya hidup dan perilaku di setiap masa akan menjadi tantangan tersendiri bagi guru. “Maka dari itu, penting kiranya calon-calon guru masa kini mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Agar ke depan anak-anak didik yang tak lain adalah generasi penerus bangsa menjadi anak-anak yang kuat dalam karakter keagaamaan, keintektualan dan humanisnya,” tutup Fauzan. (mir/can)

Mahasiswa Kedokteran Ini Siap Wakili Indonesia di Miss Glam 2019 di India

MEMILIKI paras cantik nan menawan dengan visi dan misi yang kuat merupakan bekal utama yang harus dimiliki peserta beauty pageant atau kontes kecantikan. Demikian di dunia kontes kecantikan dikenal dengan istilah beauty with purpose. Keunggulan ini pula lah yang membawa Paradifa Githa Saphira menjadi 2nd Runner Up Miss Global Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu. Setelah sukses meraih gelar bergengsi itu, Difa sapaan akrabnya, kini tengah mempersiapkan diri untuk melaju di Miss Glam World 2019 yang akan berlangsung di India. Miss Glam World adalah salah satu kontes kecantikan yang diperhitungkan di dunia. Kontes ini di selenggarakan untuk mencari bakat perempuan, yang selain cantik juga bertalenta dari seantero dunia. Kepada wartawan kami, Difa memulai menceritakan kisah inspiratifnya hingga menjadi 2nd Runner Up Miss Global 2018. Statusnya sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tidak menjadi hambatan bagi Difa untuk terus meniti karir sekaligus hobi yang telah ia tekuni sejak duduk di Taman Kanak-kanak (TK) ini. “Ya walaupun menjadi mahasiswa FK itu memang sangat sibuk. Tapi dengan bermodalkan tekad dan semangat, pasti ada jalan,” ungkap gadis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat ini. Dukungan dari orang tua menjadi salah satu faktor Difa terus berkarya di bidang modeling. Baginya, memiliki bakat menjadi model dapat membawanya untuk bertemu dengan orang-orang inspiratif. Kemampuan yang ia miliki saat ini tidak lepas dari peran Ibu yang sampai membawa Difa mengikuti kelas kepribadian saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Mama itu melihat di diriku ada bakat. Tapi aku terlalu tomboy, akhirnya aku diajak Mama untuk ikut kelas kepribadian,” tuturnya. Padatnya perkuliahan membuat Difa semakin ketat dalam mengatur jadwalnya. Dara yang juga Duta GenRe UMM 2017 ini punya prinsip, bahwa selama kita masih diberi kesempatan untuk berkarya, maka tidak ada alasan untuk tidak menggelutinya. Sementara saat merasa putus asa, kata Difa, maka kita harus segera bangkit dan memotivasi diri lagi. “Kita kan hidup nggak lama dan cuma sekali. Kalau menurutku itu nggak ada alasan lagi buat nggak diisi dengan kegiatan-kegiatan positif,” tandasnya. Diakhir, Miss Global Jawa Timur ini juga menyampaikan pendapatnya tentang bagaimana anak muda harus berpikir dan bertindak. Bertemu dengan banyak orang-orang yang jauh lebih dahulu sukses darinya, membuat Difa terus termotivasi untuk mengisi hari-harinya dengan kegiatan postif. Menebar kebermanfaatan bagi banyak orang. “Pesanku untuk anak muda, jangan pernah yang namanya berpikir negatif. Pikiran yang diisi dengan hal-hal positif akan membuat hidup kita semakin progresif,” imbuhnya. Memiliki bekal selama menjadi Miss Global Indonesia, Difa berharap kedepannya ia dapat membentuk sebuah komunitas yang dapat merangkul Orang dengan HIV/ AIDS (ODHA). Menurutnya, ODHA masih belum mendapatkan tempat di masyarakat. Hal tersebut karena masyarakat masih memiliki stigma bahwa ODHA adalah mereka yang memiliki latar bekalang kejahatan dan wajib untuk dijauhi. (nis/can))

BEM-U UMM Ajak Mahasiswa Sadar Tantangan Pemuda Masa Kini

BONUS DEMOGRAFI yang akan diterima Indonesia pada tahun 2030 tentu menjadi perhatian khusus Pemerintah dan masyarakat. Artinya, Indonesia akan memiliki lebih banyak warga negara yang berusia produktif. Dapat dikatakan bahwa jumlah pemuda lebih banyak daripada jumlah masyarakat usia lainnya. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM-U UMM) menaruh perhatian lebih pada situasi tersebut. Melalui Kementerian Politik, Hukum dan HAM, BEM-U mengadakan Diskusi Publik Sumpah Pemuda, Jumat (26/10). Dalam kesempatan ini, Fajrin Fadlillah Redaktur Politik Media Mahasiswa mengajak para peserta untuk mengahayati sumpah pemuda. “Hari ini, yang kita lakukan hanya sebatas bereuforia. Hanya sebatas perayaan. Padahal, hingga terjadinya Sumpah Pemuda ada spirit hebat yang bisa kita ambil,” jelas pria asal Banten tersebut. Menurut Fajrin, sebuah perjuangan tentu tak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Harus bersama-sama atau berkelompok. Bonus demografi yang akan diperoleh Indonesia di tahun 2030 tentu akan menjadi tantangan baru bagi pemuda Indonesia. Banyaknya pemuda di tahun tersebut tentu harus diimbangi dengan pemahaman pemuda terkait perannya. Maka, refleksi hari Sumpah Pemuda tentu tidak dilaksanakan cuma sebatas euforia. Sumpah Pemuda, sambung pria yang juga aktivis pergerakan Malang Raya ini, seharusnya menjadi momen bagi para pemuda untuk berefleksi terkait hakikat perjuangan kita sebagai pemuda. Terkhusus, pemuda terdidik atau mahasiswa yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. Dilanjutkan Fajrin, beberapa semangat lain yang dapat diambil dari Sumpah Pemuda ialah kesadaran atas tanggung jawab sosial dan kerjasama untuk meraih kemerdekaan seutuhnya. “Bila dikontekskan dengan kita hari ini, tentu jangan terbuai dengan fasilitas-fasilitas yang menyamankan kita. Harus sadar,” tutup Fajrin. (mir/can)

Dosen Polandia Beri Kuliah Tamu ke Ratusan Mahasiswa Teknik Industri

SETIDAKNYA terdapat 2,12 miliar ton limbah global tiap tahunnya. Penumpukan limbah global membuatnya bergerak terbawa arus dan dapat mengotori lautan. Belakangan ini, mulai banyak perusahaan dengan konsep green company yang dapat melakukan efisiensi dan efektifitas dalam pengolahan limbah. Demikian, di dunia industri dikenal adanya konsep Zero Waste (tanpa limbah). Zero Waste sendiri merupakan konsep di mana produk atau limbah yang sudah diproduksi dapat didesain dan digunakan kembali. Konsep ini dirasa penting dalam proses efisiensi dan efektifitas dalam sistem industri yang erat kaitannya dengan teknik industri. Berangkat dari hal tersebut, Jurusan Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan dosen dari Wroclaw University of Science and Technology Polandia, Dr. inz. Emilia den Boer, Rabu (25/10). Kegiatan ini merupakan kuliah tamu bagi mahasiswa Teknik Industri dengan materi Manajemen Limbah dan Manajemen Teknologi. Emilia menjelaskan, bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi penghasil limbah di Indonesia. Di antaranya, angka pertumbuhan yang tinggi, musim buah, gaya hidup, mobilitas dan juga sisa makanan yang tidak diolah. “Indonesia menghasilkan limbah sebanyak 277 kg/capita setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan faktor-faktor tersebut,” imbuhnya. Sebelumnya, beberapa dosen teknik industri UMM juga diundang dalam kuliah tamu di Wroclaw University of Science and Technology Poland. Mereka di antaranya Dian Palupi Restuputri, St. Mt tentang Safety Engineering dan Shanty Kusuma Dewi, St. Mt tentang Reliability Engineering. “Ini merupakan kuliah tamu yang kami datangkan dari Polandia sebagai bentuk balasan dari dosen kita yang telah berangkat untuk memberikan kuliah tamu di sana,” terang Dr. Hj. Lailis Syafa’ah, MT, Wakil Dekan II Fakultas Teknik UMM. (bel/can)

Kapolres Malang Ajak Mahasiswa Wujudkan Pemilu Damai

DALAM enam bulan terakhir, Malang Raya dirundung duka korupsi. Mulai dari kasus korupsi yang menjegal Wali Kota Malang, Mochamad Anton, 41 Anggota DPRD Kota Malang dan yang terakhir korupsi Bupati Kabupaten Malang, Rendra Kresna. Hal inilah yang menggerakkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Malang Raya untuk mengadakan Seminar Anti Korupsi dan Deklarasi Damai Pemilu 2019. Acara dibuka langsung Wakil Rektor III Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.Hum. Dalam sambutannya, ia menggambarkan sosok seorang pemimpin dan rakyat yang ideal. “Pemimpin itu adalah manusia setengah dewa. Bisa membuat orang susah menjadi bahagia, namun juga bisa sebaliknya,” jelasnya. Maka dari itu, sambungnya, seorang pemimpin harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya dan tentu rakyat perlu mengawal setiap jengkal kebijakannya. Hadir pula sebagai keynote speaker, Yade Setiawan Ujung, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Malang. Dalam pidatonya, Yade memaparkan data-data terkait kasus korupsi. Salah satunya adalah corruption index yang dikeluarkan oleh Transparency International. Indonesia menempati posisi 118 dari 176 negara di dunia. Artinya, sambung Yade, Indonesia dikategorikan sebagai negara gawat korupsi. Yade menjelaskan pula, bahwa Polres Malang sejak awal tahun 2018 ini sudah melakukan penyidikan terhadap sembilan kasus korupsi. Rata-rata kasus yang ditangani adalah kasus Dana Desa. Hal ini ditengarai karena banyak Kepala Desa tidak memiliki keterampilan mengelola anggaran. Penyalahgunaan dana biasanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Menjelang tahun politik 2019, Kapolres yang lahir di Jakarta ini, mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk mewujudkan Pemilu yang aman dan damai. Hal ini perlu diusahakan agar seluruh perputaran baik ekonomi maupun aktivitas sosial dapat berjalan dengan lancar. Menjelang sesi diskusi, seluruh peserta  melaksanakan Deklarasi Damai Pemilu 2019. Beberapa isi deklarasinya adalah tidak menyebarluaskan hoax, terlibat aktif dalam penyelenggaraan Pemilu damai serta menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai Undang-undang Dasar 1945. (Humas UMM)

UMKM Sukses Binaan Halal Center UMM Jadi Penampil Terbaik dalam Pameran Hari Santri Nasional

HARI SANTRI NASIONAL yang jatuh hari ini (22/10), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang menggelar Pameran Wisata Halal. Dibuka sejak pukul 8 pagi di sekitar Balai Kota Malang, warga antusias memadati areal pameran. Pada kesempatan ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Halal Center turut meramaikan ragam jenis produk-produk halal. Pada pameran ini, Halal Center UMM menggandeng binaannya UD. Latanza untuk memamerkan produk-produk terbaiknya. UD. Latanza merupakan salah satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang didampingi Halal Center UMM. Dikelola langsung Trinuk Kurniawati, UMKM-nya ini memproduksi jajanan ringan hingga bumbu dapur. Produk-produknya saat ini sudah berhasil menguasi pasar Jawa dan Bali. Dalam pameran ini, Halal Center UMM berhasil masuk ke dalam lima Penampil Terbaik. Mereka adalah Halal Center UMM, Ubud Hotel, Brawijaya Edupark, Kampung Biru dan Trifle. “Produk-produk kami saat ini lebih meluas dalam segi pemasarannya. Juga mendapatkan trust (kepercayaan, red.) lebih dari para pelanggan. Ini berkat sertifikat halal yang kami dapatkan atas pendampingan Halal Center UMM,” ungkap Trinuk. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., ketua Halal Center UMM menjelaskan bahwa inisiasi Halal Center UMM telah dimulai sejak 2008, saat itu masih bernama Pusat Kajian Aman Halal di Prodi Teknologi Hasil Pertanian yang saat ini bernama Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan. Pada 2016 kemudian berganti nama menjadi Halal Center UMM. Halal Center UMM membantu UMKM lewat mengajukan pengabdian pada Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti). Elfi menambahkan, diawal inisiasi berdirinya Halal Center, yang didampingi kepengurusan halal hanyalah makanan. Namun sejak berganti nama pada tahun 2015, halal center UMM mengurusi banyak bidang seperti kosmetik dan lain sebagainya. “Tentu, dalam mengurus sertifikasi perlu banyak sekali persiapan. Proses persiapan inilah yang kami dampingi,” pungkasnya. Elfi. (mir/can)

Satu-satunya Pemain Perempuan, Alea Antarkan Kemenangan Bagi Tim U-11 SSB UMM

SIAPA sangka, di balik kemenangan Tim Sekolah Sepak Bola U-11 Universitas Muhammadiyah Malang (SSB UMM), ada sosok perempuan yang punya peran teramat penting. Dialah Alea Yoi Salwa. Striker Tim SSB UMM ini menghantarkan timnya sebagai juara 2 perhelatan 2 tahunan Kompetisi Sepak Bola U-11 Piala Rektor UMM 2018. Alea menyumbang 2 gol bagi kemenangan SSB UMM. Raihan itu pula mengukuhkan kedua Tim dari SSB UMM sebagai juara umum. Darah sepak bola memang mengalir di tubuh gadis mungil kelas 2 siswi SDN Ngadirejo 1 ini. Bagaimana tidak. Ayahnya, Dwi Cahyono, merupakan pelatih sepak bola SSB UMM yang melatih langsung Alea. Sementara sang kakak, Jasmine Sefia Waini Cahyono masuk dalam komposisi pemain tim nasional (Timnas) putri Indonesia U-15 dan U-16. Jasmin, awal 2017 lalu, mewakili Indonesia dalam kompetisi Asean Football Federation (AFF) di Laos tahun 2017 dan 2018 di Palembang. Juga, perhelatan Asian Football Confederation (AFC) di Kirgistan baru-baru ini. Karena sering mangantar kakaknya bermain sepakbola, Alea juga akhirnya tertarik belajar bermain seni mengolah si kulit bundar ini. Diakui sang Ayah, melalui tangan dingin dari dirinyalah yang membuat mereka punya semangat bermain sepak bola. “Di lapangan, mereka selalu saya ajarkan sendiri cara bermain sepak bola yang benar. Selesai dari lapangan, selalu saya evaluasi kesalahan-kesalahannya. Alhamdulillah, sampai saat ini sudah terlihat hasilnya,” ungkap Dwi Cahyono bangga. Ia berharap Alea dapat mengikuti jejak sang Kakak untuk turut bergabung ke Timnas Indonesia. Mengomentari prestasi ini, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd menyampaikan, ke depan pihaknya akan mengadakan kompetisi ini rutin dua tahunan. Ini adalah wujud komitmen UMM mendukung penuh olahraga sepak bola, sekaligus pembibitannya. “Kami akan tingkatkan kerjasama dengan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia, red.), baik di tingkat Malang Raya maupun Provinsi,” tangkasnya. Ia ingin, dari kompetisi ini lahir Alea dan Jasmin lain yang dipersiapkan menjadi pemain-pemain handal di kancah nasional maupun internasional. Visi SSB UMM sebagai penyelenggara utama kompetisi ini, kata Fauzan, sejalan dengan harapan adanya kompetisi ataupun turnamen sepakbola yang sportif, ramah dan damai. Dilanjutkan Fauzan, adapun kompetisi semacam ini sekaligus menunjukan kepedulian dan keseriusan berbagai elemen masyarakat dalam mewujudkan masyarakat yang sehat. Dua tahun kedepan, sebut Fauzan, Piala Rektor UMM bakal diselenggarakan dengan skala lebih besar. Ia berharap para SSB dari berbagai kota bisa mempersiapkan timnya lebih baik lagi. (can)