FKIP UMM Kukuhkan Guru Besar Baru, Kaji Mikrobiologi, Kurikulum, hingga Bioetika

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah dan mengukuhkan guru besarnya. Kali ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengukuhkan tiga guru besar baru pada 22 November 2025. Penelitian dan kepakaran bidang yang dimiliki juga menarik, ada yang fokus pada pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Adapun ketiganya adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Pertama, ada Mahfud yang memberikan orasi ilmiah menarik. Ia menegaskan bahwa gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan keberagaman. Ia menilai pendidikan nasional selama ini kerap terjebak pada keseragaman, padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa, dan tradisi yang harus tetap hidup dalam proses belajar. Karena itu, KIS menurutnya wajib memberi ruang bagi identitas lokal, menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran sekaligus pijakan untuk melangkah ke arah global. Kurikulum ini diharapkan tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga menuntun arah peradaban bangsa menuju tujuan pendidikan yang humanis dan berkeadaban. “Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya. Lebih jauh, Mahfud menjelaskan bahwa KIS mesti terintegratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya, dan kehidupan nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Ia menekankan perlunya kurikulum yang menghubungkan mata pelajaran dengan kearifan lokal serta realitas sosial, sehingga anak tidak belajar untuk ujian, tetapi untuk memahami dunia dan dirinya. Menurutnya, kurikulum berjiwa humanis, inklusif, dan berbasis teknologi yang berkeadilan adalah syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, dalam orasinya, Lud menjelaskan persoalan limbah cair yang kini semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu juga hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Ia menegaskan bahwa pendekatan kimia tidak lagi memadai karena berpotensi menciptakan residu baru yang berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, krisis ekologis modern hanya dapat diatasi melalui teknologi hijau yang memanfaatkan kemampuan biologis organisme hidup secara lebih aman dan berkelanjutan. “Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan bahwa solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri, riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS serta efektif mematikan patogen. Ini kemudian saya rumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan kemampuan tinggi menurunkan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen,” katanya. Lebih lanjut, ia mengembangkan konsep biofitoremediator, yakni teknologi hibrid yang menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. Sistem ini terbukti mempercepat penurunan polutan, meningkatkan jangkauan remediasi, serta memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan, termasuk logam berat hingga 100 ppm. Ia menegaskan bahwa keberhasilan paten biofitoremediator dan penerapannya pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan, dan tapioka menjadi bukti bahwa pendekatan bioremediasi tidak hanya solusi teknis, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral manusia untuk menjaga keberlanjutan ekologis. Di sisi lain, Atok menilai bahwa pendidikan sains di Indonesia masih lemah karena peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik laboratorium yang dilakukan. Perkembangan bioteknologi yang cepat menghadirkan dilema etis baru yang tidak tertampung dalam kurikulum konvensional, sehingga pendidikan bioetika menjadi kebutuhan mendesak agar keputusan ilmiah tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Menurutnya, pembelajaran biologi tidak boleh berhenti pada hafalan konsep, melainkan harus menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap tindakan ilmiah. Ia menjelaskan bahwa lemahnya literasi etis membuat mahasiswa mengerjakan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya, dan kondisi ini berpotensi melahirkan praktik berisiko serta mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab persoalan ini, ia mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model OIDDE secara konsisten meningkatkan kemampuan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral ketika menghadapi dilema eksperimen, serta memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” pungkasnya. (vin/wil)

Roky Leksana, Mahasiswa Vokasi UMM Raih Juara 3 di Kejurprov Wushu 2025

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini datang dari Roky Leksana, mahasiswa Program Studi D4 Agribisnis Unggas yang sukses meraih juara 3 dalam ajang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Wushu Jawa Timur 2025 di Surabaya. Capaian yang diraih pada Oktober 2025 ini menambah deretan prestasi mahasiswa UMM di tingkat regional maupun nasional, sekaligus menunjukkan komitmen kampus dalam mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa di berbagai bidang. Di tengah persaingan yang sangat kompetitif, Roky tampil percaya diri. Ia menunjukkan teknik yang matang, ketahanan fisik kuat, serta fokus yang terjaga sepanjang pertandingan. Berkat kombinasi tersebut, Roky berhasil mengamankan posisi ketiga dan berhak atas medali perunggu. “Alhamdulillah, ini pengalaman yang sangat berharga. Saya akan terus berlatih dan memperbaiki diri agar bisa meraih prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang,” ujarnya penuh antusias. Adapun Kejurprov Wushu Jatim 2025 merupakan salah satu kompetisi bergengsi yang menjadi barometer kualitas atlet wushu di tingkat provinsi. Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M. Dalam sambutannya, Aries menegaskan pentingnya kejuaraan ini sebagai wadah pembinaan karakter, penguatan sportivitas, serta pencarian bibit atlet terbaik untuk masa depan wushu Jawa Timur. Ratusan atlet dari berbagai kabupaten dan kota turut ambil bagian, mempertandingkan dua nomor utama, yakni Taolu (seni jurus) dan Sanda (tarung bebas). Sementara itu UMM juga turut menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih Roky. Pencapaian ini membuktikan mahasiswa D4 Agribisnis Unggas tidak hanya cakap dalam ranah akademik, tetapi juga mampu bersinar di bidang olahraga. Prestasi Roky diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi diri. Dengan raihan ini, Roky Leksana diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu atlet andalan Jawa Timur yang mampu melangkah hingga ke level nasional. Prestasi ini sekaligus mengukuhkan komitmen UMM dalam mencetak generasi unggul yang berprestasi di berbagai bidang. (*/wil)

Mahasiswa IP UMM Borong Juara di Ahmad Dahlan International Youth Camp

Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan capaian akademik yang membanggakan. Terbaru, Mahendra Dwi Febrian, salah satu mahasiswa IP UMM meraih sederet penghargaan di Ahmad Dahlan International Youth Camp, 14 November ini. Adapun agenda internasional ini diselenggarakan di Khayangan Adventure Park Kulon Progo, Yogyakarta. Pada kompetisi tersebut, Mahendra memperoleh tiga penghargaan sekaligus. Di antaranya juara 1 best critical thinker, harapan 2 kategori best essay dan juara 2 kategori best presentation. Sederet penghargaan ini mencerminkan kapasitas analitis, kemampuan komunikasi ilmiah, dan kualitas akademik mahasiswa Kampus Putih. “Kegiatan PTMA di Yogyakarta ini memberikan pengalaman akademik dan personal yang signifikan. Suasana kegiatan yang inklusif dan penuh semangat membuat proses pembelajaran berlangsung efektif, memungkinkan peserta untuk bertukar gagasan serta memperluas jaringan akademik dengan mahasiswa dari berbagai universitas Muhammadiyah di Indonesia,” katanya. Menurutnya, prestasi ini tidak lahir semata-mata dari kemampuan individu, tetapi merupakan hasil dari dukungan, motivasi, dan kepercayaan yang diberikan oleh lingkungan sekitar. Dukungan tersebut sangat berperan dalam membangun kepercayaan diri selama kompetisi. Ia juga menambahkan bahwa karakteristik Yogyakarta sebagai kota budaya turut memberikan suasana kondusif bagi proses kegiatan, sehingga memperkaya pengalaman akademik maupun non-akademik. Prodi IP UMM memberikan apresiasi atas capaian yang diraih Mahendra Dwi Febrian. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan kompetensi akademik dan berpartisipasi aktif dalam forum ilmiah pada tingkat regional, nasional, maupun internasional. (*/wil)

Latih Warga, Mahasiswa UMM Sulap Limbah Sereh Jadi Karbol

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dorong mahasiswanya untuk memberi manfaat ke masyarakat. Salah satunya tim mahasiswa UMM yang tergabung dalam program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Mereka melakukan pemberdayaan masyarakat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Pujon Hill, Pujon Kabupaten Malang. Tim ini mengajari masyarakat cara menglah ekstrak sereh untuk dijadikan produk ekonomis yakni karbol sereh, Oktober-November ini. Ketua tim, Dara Ayu Suryani mengatakan mereka melibatkan warga Bendosari untuk diajari cara melakukan penyaringan dan penyulingan minyak atsiri. Selain itu juga menggelar pelatihan tentang pembuatan karbol sereh. Pelatihan tersebut dikemas sedemikian rupa lalu dipasarkan secara offline di toko-toko, pameran, pasar, maupun acara masyarakat setempat. Bahkan mereka juga mendorong agar bisa dipasarkan melalui media sosial maupun platform online. Dara menjelaskan, kegiatan itu meliputi sosialisasi, pemanenan sereh, pelatihan teknik penyulingan minyak atsiri, pembuatan karbol berbahan dasar sereh, hingga proses pengemasan dan pemasaran sederhana. Program ini membuktikan bahwa tanaman sereh, terutama sereh tua yang sebelumnya tidak termanfaatkan, dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. “Melalui kolaborasi antara mahasiswa, petani, dan masyarakat sekitar, kegiatan ini berjalan efektif serta mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam pengolahan hasil pertanian. Masyarakat menjadi lebih memahami manfaat tanaman sereh, cara ekstraksi minyak, serta potensi ekonomi dari produk turunan seperti karbol sereh,” katanya. Dengan demikian, program ini tidak hanya membantu pengurangan limbah sereh, tetapi juga memberikan nilai tambah dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dara tidak sendiri dalam menjalan program ini, ia ditemani oleh Amelia Syafarani, Amelia Syafarani, serta Dhara Atika Maharani. (*/wil)

UMM Raih CRM Award berkat Kembangkan Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak pernah berhenti memberikan manfaat dan pengabdian bagi masyarakat. Termasuk pada warga Muhammadiyah baik di level cabang, ranting, bahkan masjid. Bahkan berkat hal ini pula, UMM baru saja meraih penghargaan CRM Award dari Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 16 November ini. Penghargaan ini bukan tanpa alasan. Selama ini, Kampus Putih memang seringkali bekerjasama dengan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah untuk melangsungkan kegiatan pengabdian, pengajian, hingga pengembangan masyarakat. Tidak hanya di Malang, tapi juga di berbagai kota dan daerah lain di dalam maupun luar jawa. “UMM adalah amal usaha Muhammadiyah, jadi tidak heran jika kami terus mendorong cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah untuk terus berkembang. Tidak hanya pada aspek keagamaan saja, tapi juga dalam aspek sosial dan pengabdian kepada masyarakat,” kata Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malaik, M.Si. Menurutnya, penghargaan ini menjadi bahan bakar untuk terus menebar manfaat dan kebaikan. Termasuk untuk mendorong pengebangan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah. Dalam prosesnya, banyak dosen dan sivitas akademika UMM yang menjadi penggerak di berbagai cabang dan ranting. Mereka juga seringkali menajdi narasumber dalam acara-acara yang diadakan, imam dan khotib di masjid Muhammadiyah, dan lain sebagainya. Kerjasama untuk menyelengagrakan bazaar, festival, zakat, infak, kurban, dan lainnya juga selalu diupayakan dalam meningkatkan kualitas cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah. Adapun LPCR PM PP Muhammadiyah memang senantiasa berusaha memberdayakan dan membina struktur di tingkat akar rumput, yaitu cabang dan ranting. Tugas ini mencakup menghidupkan kepengurusan yang mati, dan melakukan pendataan cabang dan ranting. Selain itu juga memetakan kondisi serta masalahnya, meningkatkan kapasitas organisasi, dan melakukan pembinaan masjid. (*/wil)

Cetak Generasi Berwawasan Global, Santri PPI AMF Raih Best Paper di Ajang MUN 2025

Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Muhammad Kuffih Taqiyyudin berhasil mendapatkan predikat best position paper dalam ajang Brawijaya Model United Nations (MUN) 2025. Raihan yang dimenangkan akhir Oktober lalu ini menjadi bukti komitmen PPI AMF dalam mencetak generasi berwawasan global. Muhammad Kuffih Taqiyyudin berhasil meraih penghargaan Best Position Paper sebagai delegasi Jepang dalam bidang ECOSOC (Economic and Social Council). Makalah yang dibuat santri yang disapa Taqi ini mengangkat pernyataan Jepang. “Saya mengangkat tema berkaitan dengan peran dan tanggapan Jepang dalam membantu pemulihan ekonomi pascabencana,” jelas santri SMA Abdul Malik Fadjar tersebut saat ditemui di PPI AMF, beberapa waktu lalu. Taqi mengatakan, makalah yang ia tulis wajib menggunakan bahasa Inggris baku. Oleh karena itu, situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi santri asal Malang ini. Ditambah lagi, ini menjadi pengalaman pertama Taqi dalam mengikuti ajang tersebut. Menurut Taqi, tantangan tersebut berhasil dihadapi berkat persiapan yang diberikan PPI AMF. “Dengan bantuan dari pembina, Ustadz Iqbal dan narasumber yang didatangi oleh Ustadzah Wilda, saya akhirnya jadi bisa menerka-nerka,” ucapnya. Sebelum ditetapkan sebagai perwakilan Jepang dalam ajang MUN, Taqi sebelumnya memilih dua negara saat pendaftaran, yakni Kanada dan Jepang. Setelah itu, barulah ditetapkan bahwa dia menjadi perwakilan Jepang dalam MUN 2025. Taqi mengaku sengaja memilih negara-negara tersebut dalam ajang MUN. Dia lebih mengutamakan negara yang tidak terlalu problematik tetapi punya turut andil menangani ekonomi dan sosial. Wakil Kepala Sekolah PPI AMF Bidang Kesiswaan, Iqbal Alfian Rusydi mengatakan, pada kegiatan ini, para peserta berperan sebagai delegasi negara dalam simulasi sidang PBB. Adapun tema yang diangkat oleh MUN tahun ini adalah “Strengthening Diversity Response in Handling Humanitarian Crises.PPI AMF mengirim sekitar 14 orang dari jenjang SMA. Dari jumlah tersebut, 11 santri mengikuti secara daring sedangkan lainnya mengikuti secara luring di Hotel Rayz UMM. Kegiatan ini dilaksanakan selama kurang lebih dua hari. Iqbal berharap partisipasi para santri dalam ajang ini dapat membentuk pemimpin berwawasan global yang berani berbicara di forum internasional. Mereka yang ikut MUN dapat bersosialisasi dengan peserta luar negeri. Ke depannya, kemampuan public speaking juga meningkat termasuk dalam berbahasa Inggris. Salah seorang peserta MUN dari PPI AMF, Thaariq El Haq Bahtiar juga mengungkapkan hal sama. Kegiatan MUN dianggap dapat melatih kemampuan public speaking. Apresiasi terkait kegiatan MUN juga muncul dari santri PPI AMF lainnya, Khairunnisa Aqila Nurrahima. Ia mengaku terkesan dan ajang tersebut menjadi hal yang tidak akan mudah untuk dilupakan. Sebab, kegiatan ini merupakan pengalaman pertama baginya. (*/wil)

Kisah Asep, Alumnus UMM yang Jadi Hakim di Kepulauan Riau

Dunia peradilan seringkali menjadi muara akhir bagi lulusan hukum. Namun, siapa sangka jika profesi mulia sebagai hakim justru bukan cita-cita utama bagi Mohamad Asep, alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2016. Kini, setelah kurang lebih lima bulan bertugas di Pengadilan Agama Tanjung Balai Karimun, ia justru menemukan keseruan dalam variasi perkara yang ditangani. Di sana, ia berhadapan dengan kasus yang beragam, dari harta bersama, waris, hingga kasus perceraian yang unik terkait pencabutan hak aswana. Alumnus lulusan tahun 2020 ini menceritakan bahwa dorongan untuk melangkah ke dunia peradilan muncul belakangan, tepatnya menjelang wisuda. Semula, arah fokusnya lebih kepada bidang keilmuan dan kepenulisan atau dosen. Tidak heran karena ia sempat magang di Jurnal Ulumuddin program studinya. Keputusan untuk mencoba jalur hakim datang di saat akhir. “Muncul pikiran untuk menjadi hakim itu ya mungkin di akhir akhir di wisuda itu ya. Karena ada informasi hakim, kayaknya perlu dicoba gitu. Seperti apa sih dunia peradilan gitu? Khususnya apalagi jadi seorang hakim gitu,” ungkap Asep, mengenang perjalanannya. Perjalanan Mohamad Asep menjadi hakim terbilang melalui proses panjang dan bertahap. Setelah lulus kuliah pada tahun 2020, di mana ujian skripsinya dilaksanakan secara daring karena kasus awal Covid 19. Ia sempat magang sebagai asisten di Jurnal Ulumuddin Program Studi Hukum Keluarga Islam UMM selama kurang lebih tiga bulan. Setelahnya, ia fokus pada persiapan tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sambil mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). Ia mengikuti tes CPNS sebanyak dua kali di Jakarta, mencakup Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Menariknya, tes SKB yang ia ikuti melibatkan wawancara dalam dua segmen, yaitu wawancara kompetensi dan wawancara bahasa Inggris. Lolos sebagai CPNS dengan formasi Analis Perkara Peradilan (APP), ia bertugas pertama kali di Pengadilan Agama Natuna selama kurang lebih satu tahun 10 bulan. Formasi APP angkatan 2021 sendiri memang telah diproyeksikan untuk menjadi calon hakim. Setelah berstatus PNS, ia mengikuti tes lanjutan untuk menjadi calon hakim, yang meliputi tes kompetensi bidang Pengadilan Agama dan tes psikotes. Lulus dari tahapan ini, ia menjalani magang sebagai calon hakim di Pengadilan Agama Kota Malang selama sekitar satu tahun tiga bulan, sebelum akhirnya kini bertugas sebagai hakim di Pengadilan Agama Tanjung Balai Karimun. Wilayah Kepulauan Riau ini, yang tergolong cukup padat penduduknya, menyajikan kasus yang beragam sehingga perkaranya cukup variatif. Diakhir, Mohamad Asep menyampaikan harapan dan pesan bagi dirinya sendiri serta bagi para mahasiswa UMM. Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas diri. “Fokuslah untuk meningkatkan kualitas diri sehingga kita benar benar layak menjalani profesi saat ini maupun di masa datang. Asah terus critical thinking dan gunakan dalam berbagai aspek kehidupan,” pesannya. (bill/wil)

UMM Menangi Dua Penghargaan Kampus Terbaik dari Belmawa Dikti

Keberhasilan institusi pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari banyaknya mahasiswa berprestasi, tetapi dari bagaimana kampus menyiapkan sistem yang menopang prestasi itu lahir secara konsisten. Prinsip ini tampak jelas di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pada tahun 2025 berhasil meraih dua penghargaan sekaligus dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). November ini. UMM dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi dengan Pembinaan Terbaik sekaligus Perguruan Tinggi Terproduktif yang diberikan oleh Belmawa Dikti, menandai kekuatan budaya riset yang tidak dibangun secara instan. Kepala Biro Kemahasiswaan dan alumni (BKA) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., menilai bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif yang panjang, bukan capaian sesaat. Ia menegaskan bahwa UMM telah membangun ekosistem riset mahasiswa yang kuat sejak beberapa tahun terakhir, dengan sistem pembinaan yang terintegrasi antara dosen dan mahasiswa. Menurutnya, capaian tahun ini menjadi refleksi dari keberhasilan UMM dalam menjaga keseimbangan antara kuantitas proposal dan kualitas gagasan yang dilahirkan. “Sejak lama, UMM menempatkan PKM bukan hanya sebagai ajang lomba, tapi ruang pembentukan karakter ilmiah. Kita ingin mahasiswa terbiasa meneliti dan berpikir kritis. Dua penghargaan ini menegaskan bahwa sistem pembinaan kita sudah bekerja,” ujar Tatag. UMM berhasil meloloskan 114 judul PKM pada pendanaan 2025, menempatkannya di posisi dua besar Jawa Timur dan sepuluh besar nasional. Angka tersebut menjadi indikator bahwa pembinaan riset di tingkat mahasiswa tidak hanya masif secara jumlah, tetapi juga matang dalam kualitas. Setiap proposal yang diajukan harus melalui proses seleksi dan penyuntingan berlapis, memastikan penelitian mahasiswa memiliki relevansi terhadap isu sosial, ekonomi, maupun teknologi yang aktual. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa keberhasilan UMM tidak lepas dari peran aktif para dosen pembimbing yang berkomitmen mendampingi mahasiswa secara intensif. Kampus menerapkan pola Training of Trainer (TOT) agar dosen mampu menjadi fasilitator riset yang efektif. Menurutnya, pembimbing yang memiliki pemahaman mendalam terhadap karakter mahasiswa dapat menciptakan suasana riset yang produktif dan menumbuhkan semangat ilmiah tanpa tekanan berlebihan. “Generasi mahasiswa sekarang cepat jenuh. Karena itu, pembimbing harus tahu cara menjaga ritme semangat mereka. Kami tidak hanya menuntut hasil, tapi juga membangun kesadaran riset sebagai bagian dari proses akademik yang membentuk karakter,” ujarnya. Tema-tema penelitian mahasiswa UMM tahun ini banyak menyentuh isu strategis seperti ketahanan pangan, energi terbarukan, dan teknologi terapan berbasis sosial. Beberapa inovasi bahkan telah diinkubasi untuk pengembangan industri kreatif mahasiswa, memperlihatkan bahwa riset di UMM tidak berhenti di meja laboratorium, tetapi diarahkan pada solusi nyata yang berdaya guna. Capaian ini sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa UMM membaca persoalan bangsa dan menjawabnya dengan pendekatan ilmiah yang konkret. Meski demikian, Tatag menekankan bahwa penghargaan tersebut bukan akhir dari perjalanan, melainkan tantangan baru bagi UMM untuk terus memperkuat kualitas riset mahasiswa. Menurutnya, masih ada ruang besar untuk perbaikan, terutama dalam meningkatkan kemampuan publikasi ilmiah dan kolaborasi lintas bidang. Ia berharap, sistem pembinaan riset di UMM dapat berkembang menjadi model nasional bagi perguruan tinggi lain yang ingin menyeimbangkan antara kreativitas, kompetisi, dan keberlanjutan akademik. “Kita ingin riset mahasiswa UMM tidak hanya berhenti di tingkat pendanaan, tapi bisa berlanjut ke publikasi, paten, bahkan implementasi sosial. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan kualitas itu dalam jangka panjang,” ujarnya. Melalui dua penghargaan ini, UMM menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai kampus produktif, tetapi juga kampus yang berhasil menanamkan kultur ilmiah di kalangan mahasiswa. Di tengah derasnya arus pragmatisme pendidikan, UMM memilih jalan yang lebih berat dengan menumbuhkan intelektualitas yang kritis dan berorientasi pada kemanfaatan sosial. Memiliki strategi pembinaan yang terukur dan visi akademik yang jelas, kampus ini sekali lagi menunjukkan bahwa inovasi sejati lahir dari konsistensi dan kesadaran akan tanggung jawab keilmuan. (vin/wil)

UMM Gandeng Sekolah Indonesia Jeddah

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mengembangkan dan menebar manfaat. Salah satunya melalui pengembangan program internasionalisasi ke berbagai lokasi dan negara, termasuk dengan Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) di Arab Saudi, November ini. Keduanya resmi bekerjasama dalam bidang penelitian dan pengabdian dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang ada langsung di Jeddah. Terkait kerjasama ini, koordinator program Innany Muhklishina, M.Pd. menjelaskan bahwa kedua belah pihak menjalankan kolaborasi yang menggabungkan penelitian pendidikan dan penandatanganan kontrak kerja sama strategis antar lembaga. Menurutnya, penelitian ini merupakan bentuk kolaborasi akademik yang bertujuan mengevaluasi efektivitas pendekatan pembelajaran berbasis media cerita bergambar dalam meningkatkan pemahaman konsep sains dan penguatan karakter siswa. Lebih lanjut, Innany juga menuturkan, metode yang digunakan menitikberatkan pada integrasi antara materi sains dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Misalnya terkait gotong royong, bernalar kritis, mandiri, dan beriman. Berdasarkan hasil awal dari pengamatan dan asesmen formatif, terlihat adanya peningkatan antusiasme, pemahaman konsep, serta keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. “Pendekatan visual dan naratif dari cerita bergambar terbukti mampu menjembatani pemahaman materi sains secara lebih kontekstual dan menyenangkan,” katanya. Di sisi lain, salah satu dosen UMM Arinta Rezty Wijayaningputri, M.Pd. menilai, kegiatan ini menjadi momentum penting penandatanganan kontrak kerja sama. Mencakup program penelitian pengabdian bersama dan kegiatan akademik lainnya sebagai bentuk penguatan sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan sekolah luar negeri. Melalui kolaborasi ini, kedua institusi berharap dapat mendorong inovasi pendidikan yang lebih luas, tidak hanya di lingkungan SIJ tetapi juga sebagai model yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah Indonesia lainnya, baik di dalam maupun luar negeri. Sementara itu, Kepala Sekolah Indonesia Jeddah, Mahrani, M.Pd. menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperkuat karakter kebangsaan siswa Indonesia di luar negeri. “Harapannya, kolaborasi ini dapat memberikan dampak yang baik. Terutama untuk pendidikan anak-anak Indonesia, termasuk anak-anak yang ada di luar negeri,” katanya. (*/wil)

Berangkat ke Dubai, Begini Kontribusi Dosen UMM di Konferensi Bahasa Arab

Bahasa Arab menjadi bahasa global dunia, hal ini lantaran banyak dari penutur yang menggunakan bahasa Arab baik untuk komunikasi, pembelajaran, bisnis, dan lainnya. Hal itu pula yang mendorong Dr. Achmad Tito Rusady, S.S., M.Pd salah satu dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berkontribusi dalam konferensi bahasa Arab internasional yang ke-11 di Dubai, Uni Emirat Arab, 22-24 Oktober lalu. Konferensi ini diikuti lebih dari 85 negara dengan menghadirkan hampir 800 makalah penelitian, yang dipresentasikan dalam 122 sesi ilmiah secara luring atau offline. Tito sapaan akrabnya, menuturkan bahwa konferensi ini ia ikuti atas sebuah tulisan karyanya yang menarik. Yakni hasil dari konferensi internasional bahasa Arab ke 10 tahun lalu. Sehingga ia turut mencoba unjuk materi dalam kegiatan konferensi ke-11 ini. Pada kesempatan tersebut, karya buku ‘Belajar Bahasa Arab dari Bacaan Sholat’ yang ditulisnya mendapat banyak apresiasi. Termasuk dari dua pemakalah asal Bangladesh. Bahkan mereka meminta buku dan makalah untuk diterapkan di negara mereka. Berbagai metode dan isi dalam dalma bukunya menjadi sudut pandang baru bagi mereka. “Alhamdulillah dapat kesempatan untuk upgrade diri dalam penelitian di kancah internasional secara offline di luar negeri. Biasanya selama ini ikut secara online atau offline tapi dalam negeri. Tentu agenda ini punya kesan tersendiri yang unik dan mendalam,” katanya. Tentu dengan pengalaman yang langka ini menambah pengalaman yang luar biasa bagi dosen terkait, institusi, dan bisa berbagi pengalaman dan motivasi untuk para mahasiswa nantinya. Selain itu, ia juga berpesan kepada para pembelajar bahasa Arab agar menguasai bahasa Arab fushah baik lisan maupun tulisan karena memudahkan seseorang untuk komunikasi antar negara Arab maupun non Arab, di samping bahasa fushah juga digunakan dalam aktivitas ibadah sehari-hari umat Islam. Raihan ini menjadi torehan sepak terjang dari para dosen PBA, termasuk Tito. Ia berharap dengan keikutsertaannya dapat menambah kebermanfaatan dan keberkahan untuk banyak pihak. Termasuk perkembangan Bahasa Arab di Indonesia. (*/wil)