Dosen Kesos UMM Berdayakan Masyarakat Melalui Sekolah Literasi

Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara yang didirikan Hutri tak hanya menjadi perpustakaan, namun juga tempat melakukan berbagai aktivitas lain. Semangat literasi juga digalakkan Hutri Agustino, dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP. Sekembalinya dari studi di University of Trento Italia melalui program beasiswa Erasmus Mundus, kegelisahan Hutri tentang semangat literasi semakin menjadi. Akhirnya sekitar tahun 2015-2016, Hutri merealisasaikan idenya memanfaatkan sedikit tempat disamping rumah untuk dibangun menjadi perpustakaan sederhana dengan nuansa tempo dulu yaitu nuansa bambu dengan modal sekitar 1000 koleksi buku pribadi. “Awalnya cuma berfikir saya punya buku dan saya membuka perpustakaan, tapi ketika buka perpustakaan atensi masyarakat begitu luar biasa. Ada yang disitu ingin les privat, tempat pemberdayaan dan macam-macam. Akhirnya saya merasa  kapasitas ruang tidak cukup untuk memadai segala aktifitas,” ujarnya. Melihat hal tersebut, Hutri pun menambahkan halaman rumahnya untuk dapat memperluas perpustakaan tersebut hingga dapat menampung sekitar 100 orang dengan nama Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara. Dengan ini ia berharap, akan semakin banyak masyarakat yang datang dan sadar akan pentingnya literasi. Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara ini juga membawanya menemukan forum literasi lain di Kota Malang. Pada akhir tahun 2017 di Kabuaten Malang terbentuklah organisasi bernama Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) yang kemudian pada tahun 2018 organisasi ini memberi amanah kepada Hutri untuk menjadi pemimpin selama periode 2018-2022. Melalui organisasi ini lah Hutri mulai sadar bahwa ternyata di Kota Malang pegiat  literasi juga sedang naik daun dan memiliki banyak peminat. “Beberapa bulan setelah menjabat jadi ketua, saya melakukan observasi dan pengamatan kecil-kecilan, ternyata tidak hanya di Kabupaten Malang fenomena minat baca muncul pada masyarakat. Ini sedang booming-boomingnya khususnya di Kota Pendidikan seperti Malang,” ujarnya. Dari sini, Hutri menggagas Sekolah Literasi yang soft launching pada Rabu (25/7) kemarin di Gazebo Literasi, Dau. Untuk Grand Launching, rencananya akan dilaksanakan pada bulan Agustus dengan mengangkat tema Literasi Kemerdekaan dan Pancasila. “Target awal memang pegiat literasi dengan harapan mereka jadi duta baca, duta perpus dan duta literasi. Ketika di level mereka sudah selesai, maka mereka yang bertugas untuk menyemai pemahaman itu di komunitas masing-masing,” tandasnya. Di akhir, Hutri menyampaikan bahwa ia ingin menjadikan komunitas literasi ini sebagai alat untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dengan model yang berbeda, yakni berbasis gerakan literasi. “Minimal mengorganisasikan masyarakat, mengedukasi, merubah mindset yang selama ini. Membuat mereka hidupnya lebih terarah,”pungkasnya.

Bekali Lulusan ESP UMM, Manager Garuda Indonesia Bagikan Rahasia Sukses Dunia Kerja

Project Manager Garuda Indonesia Setyasmono berbagi tips sukses di dunia kerja Persaingan dunia kerja yang semakin hari semakin ketat menuntut para mahasiswa untuk dapat bersaing dan memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan Program Studi Ekonomi Sosial Pembangunan (Prodi ESP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan seminar “Pembekalan Memasuki Dunia Kerja”, Sabtu (29/7) bertempat di Aula Teknik UMM dan dihadiri oleh mahasiswa prodi ESP angkatan 2014 yang akan lulus pada tahun ini. Untuk meraih sukses, mahasiswa harus mempunyai kemauan yang kuat untuk bergelut dengan tuntutan pekerjaan dan perusahaan. Namun sebelum memasuki dunia kerja, ada hal-hal yang harus mereka persiapkan agar diterima di perusahan-perusahan sesuai dengan minat dan keinginan, seperti memiliki etika kerja yang bagus, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang memenuhi standar industri, dan skill yang mumpuni. Menghadirkan pembicara dari perusahaan penerbangan paling elit di Indonesia, Setyasmono yang merupakan seorang Project Manager Garuda Indonesia, memaparkan bagaimana cara mempersiapkan diri memasuki dunia kerja dan kiat-kiat apa saja yang yang perlu dipelajari agar perusahaan tertarik untuk merekrut. Setyasmono menerangkan, “Ada hal-hal yang sering kali diabaikan oleh seseorang ketika melamar kerja, seperti cara berjalan, cara duduk, nada ketika berbicara saat wawancara, dan cara berpakaian. Padahal, hal teknis semacam itu adalah poin penting yang dipertimbangkan perusahaan apakah pelamar ini berkualifikasi atau tidak”, jelasnya. Setyasmono, yang telah berpengalaman merekrut karyawan di berbagai negara dari Korea, Jepang, Tiongkok, Singapura , dan Negara Asia lainnya menjelaskan bahwa pada saat wawancara, para pelamar hendaknya menyiapkan CV (data diri) yang baik, menunjukkan kelebihan, tidak menonjolkan kelemahan, bermotivasi tinggi, kreatif, dan bersemangat. Setyasmono melanjutkan, “IPK bukan segalanya, namun bukan berarti tidak penting, yang lebih penting adalah anda harus percaya diri”. Selain itu, ada beberapa komponen pencapaian keberhasilan yang biasanya dijadikan sebagai standar perusahaan atau industri, seperti kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan computer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, percaya diri, ramah, sopan, bijaksana, IPK, kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha. Shochihul Muslim, salah seorang panitia dari seminar ini mengaku bahwa ia mendapatkan ilmu baru tentang dunia kerja. Mahasiswa ESP angkatan 2014 ini mengatakan, “Acara ini sangat berguna sekali untuk kami yang akan segera lulus agar siap memasuki dunia kerja karena kita menjadi tahu apa dan bagaimana kriteria perusahaan itu seperti apa”. (lus/sil)

PDM Kota Malang Ajak Saudagar Muhammadiyah Dialog Bisnis

Dialog bisnis tersebut membahas perkembangan dunia bisnis saat ini. Narasumber utama,  Prof. Dr. Khusnul Ashar, SE. MA., Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (UB) mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim dengan angka mencapai 85%. Sayangnya dari jumlah tersebut hanya 14% muslim yang menjadi pengusaha. “Kita memasuki era digital, eranya teknologi. Bersaing secara online. Era digital dapat membuat bisnis menjadi mudah. Apalagi di era digital, masyarakat tidak hanya bisa berbisnis secara tatap muka tetapi juga melalui online,” ujar Khusnul Ashar. Khusnul menambahkan bahwa organisasi Muhammadiyah memiliki sambutan positif di masyarakat. Brand image Muhammadiyah tidak hanya di sisi pendidikan tetapi juga kesehatan. Hal itu seharusnya menjadi pelecut bagi saudagar-saudagar Muhammadiyah untuk berani mengembangkan bisnis masing-masing. Setuju dengan pendapat Khusnul, Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa timur Dr. Ec. Indra N. Fauzi, MM melihat peluang bisnis dari segi kecanggihan internet. “Semakin ke sini saya melihat anak muda makin tidak suka membaca. Mereka cenderung membaca bagian atas seperti judul, sedangkan isinya tidak,” kata Indra kemudian melanjutkan dengan pengalamannya bertemu pengusaha yang usianya masih muda 20 tahun di bawahnya. Khusnul menjadi paham dengan fenomena anak muda yang meninggalkan busaya baca akibat perkembangan teknologi. Teknologi membuat segalanya menjadi mudah. Anak muda kini cenderung menyukai yang instan. “Itulah mengapa bisnis secara online menjadi menguntungkan,” pungkasnya. Di akhir acara PDM Kota Malang memberikan ruang bagi nasabah Bank Jatim dan Bank BNI Syariah untuk bertukar cerita. Bank Jatim juga memperkenalkan aplikasi barunya yang bernama ‘Bejomu’ yang bisa mempermudah dan mendukung nasabah melakukan segala transaksi, terutama untuk mendukung llu lintas perdagangan(apn/sil)

Si Pemuda Pesisir Ketua PSIF UMM Jadi Asisten Staf Khusus Kepresidenan

Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pradana Boy ZTF segera bergabung di Istana Negara. Berdasarkan surat Keputusan Sekertaris Kabinet Republik Indonesia (RI) No. 46 Tahun 2018, ia akan mendampingi Siti Ruhaini Dzuhayatin Staf Khusus Bidang Kegamaan Internasional yang baru saja dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo.Besar di tengah keluarga petani sederhana di Kota Lamongan, Pradana adalah  sosok bersahaja yang penuh semangat dan motivasi untuk terus berprestasi. “Untuk apa manusia hidup jika tidak untuk terus bersemangat dan menantang diri sendiri agar tahu kelemahan diri,” pantik dosen Program Studi (Prodi) Syariah UMM ini. Di sela kesibukannya mempersiapkan diri sebelum bergabung di Istana Negara, Sabtu (28/7) Pradana membagikan kisah perjuangan panjangnya hingga sampai di titik ini. Pradana remaja yang saat itu baru saja lulus SMA, memutuskan hijrah dari Lamongan untuk menempuh studi strata satu di UMM. Ia berencana segera mengambil Program Studi Manajemen. “Syariah itu bukan pilihan utama saya kuliah di UMM. Pikiran lugu saya orang pesisir Lamongan, baru lulus SMA, sekolah manajemen dan jadi manager. Sudah hanya itu, tapi ternyata saya harus memupuskan niat kuliah di jurusan tersebut,” jelasnya. Tak disangka, biaya untuk jurusan impiannya ternyata cukup mahal. Tak ingin kembali ke Lamongan sia-sia, ia pun memutuskan untuk mencari jurusan paling murah di UMM kala itu agar bisa tetap berada di Malang dan keinginannya menjadi mahasiswa terwujud. “Cari yang paling murah atau kalau gak bisa dapat yang murah kita pulang. Itu kalimat Bapak yang akhirnya membuat saya menjatuhkan pilihan pada Syariah,” kisahnya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan menempuh studi di perguruan tinggi, Pradana terus meningkatkan kualitas diri. Ia memanfaatkan berbagai peluang untuk dapat menyuarakan tulisan, gagasan, dan karyanya.Tak disangka, gaung karya Pradana sampai pada Kedutaan Besar Amerika. “Saat dihubungi oleh staf kedutaan Amerika dan diajak untuk makan malam saya hanya berpikir bahwa saya diundang makan malam dalam konferensi,” tegasnya. Namun kemudian ia sangat terkejut saat tahu bahwa menjadi satu-satunya perwakilan Muhammadiyah yang berada di meja makan malam duta besar Amerika tersebut. Pradana mengingat bahwa hanya ada delapan orang di meja makan malam itu. “Saya pikir hanya makan malam biasa, ternyata jamuan makan malam khusus dan hanya saya yang dari Muhammadiyah,” terangnya dengan Bahasa Jawa. Keberlanjutan makan malam tersebut, membawa pria asal dusun Mencorek Lamongan ini mengenyam pendidikan singkat bidang ilmu politik di University of Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Menyelesaikan Pendidikan Magister bidang Antropologi di Australian National University (ANU) dan Pendidikan Doktoral di National University of Singapore (NUS) bidang Kajian Melayu tak serta merta membuat putra Muhammadiyah ini lupa dengan tanah air. Selama menyelesaikan tesis dan disertasinya, penulis novel Kembara ini terus menggali sejarah Islam dan peradaban dunia di nusantara. Pemikiran-pemikirannya terhadap perkembangan Islam di nusantara  menjadikannya terkenal dengan julukan pemuda pemikiran moderat. Dipercaya sebagai Asisten Staf Khusus Bidang Kegamaan Internasional, Pradana berharap dapat mengemban kepercayaan ini dengan sebaik-baiknya. “Karena ini amanah, maka saya berharap bisa menyelesaikan tugas ini hingga selesai,” pungkasnya. (nis/sil)

Ajarkan Tari Tradisional, Mobil Kaca UMM Tanamkan Anak Cinta Budaya dan Sejarah Indonesia

Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengaspal Kamis (26/7). Kali ini, mobil pintar mengajak anak-anak siswa SDN Wiyurejo 2 Pujon Kabupaten Malang untuk mecintai budaya, terutama tari tradisional. Dibawah bimbingan Venska Natasha Olivia peraih Runner Up 2 pada ajang pemilihan Joko Roro Kabupaten Malang tahun 2018, puluhan anak menari dengan gemulai. Venska yang jago menari, mengajarkan teknik-teknik dasar Tari Gading Alit dan Tari Topeng Bapang yang merupakan tari asli Malang. Meski tidak mudah, mahasiswa  Program Studi Ilmu Hukum UMM ini mengaku senang melihat antusias anak-anak yang cukup tinggi. “Ini sangat  menyenangkan melihat anak-anak sangat bersemangat, tapi memang harus sabar menghadapi anak  kecil. Dari tari tradisional pasti ada ilmu dan sejarah yang bisa kita petik dan gunakan di kehidupan, jadi bagaimanapun anak-anak harus tetap melestarikan budaya bangsa sendiri,” ujar Duta Budaya Indonesia dalam Tong Tong Fair di Belanda tersebut. Bekerjasama dengan kelompok KKN 108 UMM dengan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Luluk Dwi Kumalasari yang merupakan Dosen Sosiologi UMM, Mobil KaCa juga  mengadakan berbagai kegiatan lain. Sekretaris Desa Wiyurejo Muhammad Wahib merasa senang dengan kedatangan Mobil KaCa yang menjadi angin segar bagi masyarakat di tempatnya. “Dari dulu belum pernah, baru ini ada kegiatan seperti ini. Desa sudah mencoba memfasilitasi perpustakaan desa tapi ya minim karena tidak jemput bola. Tapi kalau dengan mobil pintar seperti ini anak lebih tertarik apalagi ada hiburan film,  permainan tradisional dan lain-lain. Alhamdulillah masyarakat sangat menyambut baik,” urai Wahib. Mengusung konsep “Fun Education”, mahasiswa KKN 108 UMM mencoba menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada anak-anak lewat berbagai kegiatan seperti membaca, menonton film hingga merasakan permainan tradisional. Wakil Koordinator Desa KKN 108 UMM Eka Aprilda Astrid menyampaikan, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pada anak-anak dan masyarakat bahwa membaca itu penting. “Kegiatan ini bertujuan untuk menarik minat baca anak-anak disini dan untuk mendukung karakter mereka, karena disini minat baca masih kurang,” ujar Astrid, yang juga merupakan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM tersebut. Fahma salah satu siswi kelas 4 SDN Wiyurejo 2 Pujon sangat senang mendapat kesempatan belajar menari dengan Venska. Apalagi kedua tari tersebut merupakan tari kesukannya.  “Itu kan tari favorit saya, jadi senang sekali,” ujarnya gembira.

Mahasiswa UMM Ajak Anak Tingkatkan Jiwa Kompetisi Hadapi Arus Globalisasi

Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tangga 23 Juli lalu, menjadi satu hari istimewa untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya memperhatikan para generasi penerus bangsa. Hal yang sama dirasakan oleh Kelompok KKN 138 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui semangat untuk meningkatkan kecerdasan dan kreativitas anak-anak di Desa Jugo, Kesamben, Blitar para mahasiswa ini menggelar pemutaran film anak dan berbagai perlombaan bertajuk Arek Jugo Mbois. Koordinator Desa KKN 138 Muhammad Mar’ie Diliyatna menyampaikan, melalui acara ini kelompoknya berharap dapat meningkatkan semangat anak-anak dalam berinovasi. “Tujuan membuat anak semakin cerdas, inovatif dan kreatif agar kelak berguna bagi nusa dan bangsa, dan yang paling penting mereka  siap menghadapi globalisasi yang saat ini sangat cepat masuk keberbagai lini, termasuk dalam dunia anak-anak,” ujarnya Kamis (26/7) Rangkaian acara peringatan ini diikuti oleh beberapa SD, mulai dari SDN 02 Jugo,  SDN 03 Jugo, SDN 04 Jugo, dan SDN 05 Jugo yang sekaligus menjadi tempat digelarnya acara. Adapun serangkaian agenda yang  dilombakan antara lain, lomba mewarnai, hafalan surat pendek, lomba adzan dan lomba permainan tradisional yang dimulai sejak pagi. Acara kemudian ditutup dengan pemutaran film anak dan penyerahan hadiah kepada peserta lomba. Juara Umum jatuh kepada SD Negeri 03 Jugo. Perwakilan Guru SD Negeri 03 Jugo, Febry menyampaikan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa KKN Kelompok 138 UMM. Baginya, rangkaian acara yang digelar dapat menghidupkan jiwa kompetisi mahasiswa, khususnya untuk saling berlomba meraih prestasi. “Saya sangat antusias dengan kegiatan ini yang dapat menumbuhkan semangat anak-anak, terutama dalam meraih prestasi yang cemerlang,“pungkasnya. (Humas UMM)

Belajar Lebih Mudah dengan Aplikasi Beneko Karya Mahasiswa UMM

Perkembangan teknologi menuntut manusia untuk terus beradaptasi. Berbagai aspek kehidupan termasuk dunia pendidikan, harus selalu bersiap untuk mengikuti perkembangan yang ada. Mempersiapkan diri menghadapi hal ini, mahasiswa Program Studi (Prodi) Civic Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan sebuah inovasi pembelajaran. Dialah Naufal Muhammad Kautsar, mahasiswa yang mengembangkan sebuah aplikasi pembelajaran bagi para pelajar yang diberi nama Beneko yang merupakan singkatan dari nama para anggota tim yakni Ibnu Choirin Tafsirudin, Eko Prasetyo Utomo dan Naufal Muhammad Kautsar. “Saya awalnya tertarik dengan pembelajaran power point presentation berbasis android yang diajarkan di kelas. Kemudian saya tertantang untuk membuat inovasi lain,” jelasnya. Hadir untuk memudahkan para penggunanya, aplikasi ini memiliki berbagai fitur penunjang diantaranya video pembelajaran, e-book hingga fasilitas chat yang bisa digunakan untuk berdiskusi ketika menemui kesulitan belajar. “Saat ini aplikasinya masih dalam proses penyempurnaan biar bisa lebih mudah dipakai di semua jenis telefon pintar,” tambahnya. Meskipun Naufal merupakan mahasiswa Prodi Civic Hukum, namun aplikasi belajar ini tidak hanya memuat pelajaran PPKn saja. Pelajaran lain seperti biologi dan bahasa inggris juga dapat diakses di aplikasi ini. Siap diluncurkan ke publik, rencananya aplikasi belajar Beneko dapat digunakan oleh masyarakat umum mulai Agustus ini. Dr. Nurul Zuriah, M. Si, dosen Civic Hukum UMM menyampaikan bahwa pihaknya tidak berhenti selalu mendorong mahasiswanya untuk bisa menciptakan berbagai inovasi, termasuk dengan hadirnya aplikasi ini. “Awalnya saya berfikir bahwa zaman sudah banyak berubah dan kami harus mulai untuk memperbanyak inovasi khususnya tentang model pembelajaran,” tuturnya. Dengan adanya aplikasi Beneko yang dikembangkan oleh mahasiswanya, ia mengaku bangga bahwa usahanya untuk memancing mahasiswa melakukan inovasi dapat terus diwujudkan. Nurul berharap, lahirnya berbagai inovasi pembelajaran tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Ia mengajak seluruh masyarakat yang peduli dengan model pembelajaran, harus terus berusaha menciptakan kreasi yang sesuai dengan perkembangan jaman. “Kita harus berfikir futuristik. Mempersiapkan segala sesuatunya yang sesuai dengan tantangan masa depan yang akan kita hadapi,” tutupnya. (vin/sil)

Skill dan Attitude Bagus, Waktu Tunggu Lulusan Singkat, Fikes UMM Terus Berkembang

Dewasa ini, fasilitas kesehatan menjadi salah satu kebutuhan primer yang menjadi perhatian utama masyarakat. Tidak hanya sekedar fasilitas yang tersedia, kualitas tenaga medis juga menjadi pertimbangan masyarakat untuk berobat dan melakukan perawatan. Terus berkontribusi memberikan yang terbaik bagi negeri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta mempersiapkan alumni-alumni Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) sebagai tenaga medis profesional untuk turut serta membangun kesehatan bangsa. Juli ini, UMM resmi menindaklanjuti program kerjasama pengiriman tenaga kerja alumni Program Studi (Prodi) Ilmu Keperawatan Fikes UMM di beberapa rumah sakit naungan Mate Care Jepang. Setelah mengikuti kelas persiapan untuk memenuhi standart Bahasa Jepang, pada awal 2019 nanti para alumni Program Studi D3 Ilmu Keperawatan dan S1 Ilmu Keperawatan ini akan bekerja di berbagai rumah sakit mitra Mate Care yang bergerak dalam bidang perawatan lansia. Direktur Mate-Care Jepang Kamimura Yoichiro menyampaikan bahwa saat ini Jepang sedang kekurangan banyak tenaga kerja di beberapa lapangan pekerjaan antara lain bidang keguruan, teknik perkapalan, teknik informatika, pariwisata dan kesehatan. Karenanya, peluang kerja khususnya bagi para alumni Ilmu Keperawatan UMM terbuka lebar. Khusus pada kontrak kerjasama ini, nantinya para alumni Ilmu Keperawatan UMM akan bekerja selama 5 tahun di Jepang dengan gaji sekitar 25 juta/per bulan. Ia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada UMM atas kerjasama ini. Yoichiro  mengaku sudah banyak melakukan pertemuan dengan beberapa universitas di Indonesia, namun hanya UMM yang segera dan siap menyambut kerjasama tersebut. “Kami sudah melakukan banyak kerjasama, tapi saya sangat bangga dan kagum dengan kesungguhan UMM dalam mengembangkan peluang pekerjaan bagi alumninya,” ujarnya. Dekan Fikes UMM Faqih Ruhyanudin, M. Kep., Sp. Kep.MB menuturkan, dalam menyambut kerjasama ini pihaknya tidak main-main melakukan persiapan, baik secara keilmuan maupun praktek di lapangan. “Kita juga ada mata kuliah Keperawatan Gerontik dan mata kuliah lain yang secara khusus mempelajari tentang lansia,” urainya Selasa (24/7). Selain berharap para alumninya dapat menimba banyak ilmu dan sukses berkarir di Jepang, Faqih secara umum berharap para perawat alumni UMM ini dapat meningkatkan kompetensi setara dengan standar internasional. “Selain bahasa, sebelum bekerja nantinya mereka akan diajari budaya hingga cara penggunaan ala-alat kesehatan berstandar Jepang. Jadi tidak hanya secara keilmuan, mereka juga bisa belajar hal-hal baik yang lain,” tambahnya. Selain Ilmu Keperawatan, Fikes UMM juga terus meningkatkan kualitas alumni nya di Prodi yang lain seperti Farmasi. Pada penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2018/2019 ini, UMM kebanjiran peminat pada Prodi ini. “Farmasi yang sekarang sedang booming, jumlah pendaftarnya meningkat tajam. Ini sehubungan dengan hasil Uji Kompetensi Apoteker Indonesia alumni kita yang lulus 96%. Bukan hanya itu, angka kelulusan tepat waktu juga tinggi  dan waktu tunggu mencari kerjasanya singkat hanya sekitar tiga bulanan,” tambah Faqih. Di akhir Faqih menyampaikan, melalui berbagai upaya yang dilakukan, Fikes UMM saat ini medapat kepercayaan yang cukup besar dari masyarakat. Hal tersebut tak lain lantaran secara akreditasi fakultas yang terdiri dari Prodi Farmasi, D3 Ilmu Keperawatan, S1 Ilmu Keperawatan dan Fisioterapi ini sudah cukup bagus. Selain itu, berdasarkan evaluasi dari pembimbing praktek di lapangan juga diketahui bahwa lulusan Fikes UMM cukup berkompeten. “Untuk skill, dari evaluasi pembimbing di lapangan mahasiswa-mahasiswa UMM yang praktek di rumah sakit dan puskesmas, secara skil dan attitude bagus. Ini  saya kira yang menjadi daya tarik tersendiri,” pungkasnya. (sil)

AIESEC UMM Fasilitasi 22 Mahasiswa dari 12 Negara Belajar Wirausaha dan Mengajar di Malang Raya

Di pertengahan tahun 2018 ini, AIESEC Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan Exchange Participant Gathering Summer Project. Diikuti 22 mahasiswa yang berasal dari 12 negara yakni Brazil, Tunisia, Algeria, Kenya, Korea Selatan, Hongkong, Tiongkok, India, Ceko, Pakistan, Thailand dan Vietnam, AIESEC UMM membuat dua pilihan program yakni, program  entrepreunersh (kewirausahaan) dan education (pendidikan). “Entrepreneurship ini sudah kita laksanakan dari tanggal 25 Juni dan berakhir 8 Agustus nanti. Sedangkan education project dimulai 16 Juli dan berakhir 28 Agustus,” ujar Puspa Pratiwi, Vice President Incoming Global Volenteer (VP IGV) AIESEC UMM. Acara juga diawali dengan sambutan dari Koordinator Program Magang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Nur Widodo yang sangat mengapresiasi keinginan para peserta untuk berbagi ilmu baik di bidang kewirausahaan maupun pendidikan. “Saya harap program ini tidak berakhir disini saja, semoga kita dapat melaksakan program program lain kedepannya. UMM sangat menyambut baik kedatangan kalian semua disini dan kalian bisa datang lagi tahun depan bersama orang asing lainnya,” katanya. Ke 22 mahasiswa tersebut dibagi menjadi dua kelompok, 10 untuk bidang kewirausahaan dan 12 untuk pendidikan. Program entrepreneurship bekerjasama dengan UKM Niki Say UFS dan UKM Aurasufa, sedangkan program pendidikan bekerjasama dengan Kantor Magang FKIP UMM. Untuk program pendidikan, nantinya para mahasiswa ini akan menempatkan di tujuh sekolah yang ada di Malang Raya. Lim Tae Gyun salah seorang peserta asal Korea Selatan yang mengambil program education mengaku antusias dan senang dapat mengikuti kegiatan ini. Selain dapat menambah pengalaman internasional, kegiatan ini juga memberikannya kesempatan untuk bekerjasama dengan orang Indonesia yang ramah, sopan dan mudah bersosialisasi. “Saya mengajar di salah satu sekolah di Batu. Sejauh ini saya tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakan project karena kami saling membantu. Saya sangat senang mengikuti program ini karena dapat memperluas wawasan internasional saya,” pungkasnya. (apn/lus/sil)

Sehat dan Unik, Laboratorium ITP UMM Produksi Mie dan Macaroni Berbahan Umbi Garut

Laboratoroium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah mengembangkan berbagai produk inovatif berbasis umbi-umbian. Salah satu produk yang saat ini dikembangkan yakni mie dan makaroni yang terbuat dari campuran tepung singkong dan pati garut. “Mie dan makaroni merupakan jenis makanan yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Trennya terus meningkat. Tapi yang perlu diketahui bahwa mayoritas mie yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia adalah dari tepung terigu yang berasal dari gandum. Sayangnya sampai hari ini seratus persen masih import,” terang Dr. Ir. Damat, MP, Kepala Laboratorium ITP UMM, Jumat (20/7). Disebut dosen Ilmu dan Teknologi Pangan ini, pada tahun 2018 saja, import gandum masyarakat Indonesia diproyeksi sudah mencapai lebih dari 10 juta ton. Indonesia, kata Damat, menjadi importir gandum terbesar kedua setelah Mesir. Bahkan berdasarkan data yang dirilis Departemen Pertanian Amerika Serikat, lima tahun lagi Indonesia diproyeksi akan menjadi importir gandum terbesar di dunia. Untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang kuat, sambung Damat, upaya untuk mengembangkan produk pangan berbasis sumber pangan lokal harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Selain itu, pemanfaatan umbi-umbian untuk mensubstitusi tepung terigu diketahui memiliki nilai potensi nilai ekonomi yang sangat besar. “Berdasarkan data statistik, tren konsumsi tepung terigu gandum dari tahun ke tahun terus meningkat. Katakanlah kalau kita berhasil mengembangkan produk umbi-umbian ini, tidak mesti lima puluh persen, cukup sepuluh persen kita kuasai pasar, nilainya sudah sangat luar biasa besar,” ungkap Damat yang juga menginisiasi roti bebas pengawet ini. Ditilik nilai gizinya, beberapa jenis ubi-ubian seperti ubi jalar, singkong dan umbi garut diketahui memiliki kandungan serat lebih tinggi ketimbang gandum. Selain itu, pada ubi jalar misalnya, diketahui kaya antioksidan, yakni salah suatu senyawa yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh. Sementara itu, tepung terigu mengandung protein khas yang disebut gluten. Protein inilah yang membuat produk roti dapat mengembang baik. Namun bagi sebagian orang, keberadaan gluten ini justru dapat menimbukan efek negatif. Bagi penyandang autisme misalnya, mengonsumsi gluten secara berlebihan membuat pengkonsumsinya hiper aktif. “Selain itu, bagi mereka yang intoleran terhadap gluten, keberadan gluten juga dapat memicu kerusakan jaringan mikrofili pada usus halus yang dikenal dengan penyakit celiac deases. Jika mikrofili rusak, maka absorpsi atau penyerapan makronutrien (zat gizi yang dibutuhkan tubuh, red.) akan terganggu, sehingga dapat berakibat malnutrisi,” terangnya. Kedepan, Lab ITP berencana menindaklanjuti produk ini untuk dikembangkan sebagai produk komersial. Yakni dengan segera membentuk unit khusus di UMM yang menampung segala inovasi dari sejumlah laboratorium yang ada agar bernilai ekonomis. (can/sil)