Lengkap, Job Fair UMM Fasilitasi Peluang Lulusan Bekerja di Perusahaan Nasional Hingga Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selain berperan sebagai lembaga pendidikan juga bertanggungjawab memberikan segala informasi lapangan kerja bagi lulusannya. Job Fair yang diselenggarakan oleh Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni (PKMA) adalah salah satu upaya guna memudahkan lulusan dalam mencari kerja. Ada 25 lembaga internal maupun perusahaan luar yang terdaftar dalam Job Fair. Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan hasil kerjasama PKMA dengan dinas ketenagakerjaan. “Kami bekerjasama dengan dinas ketenagakerjaan untuk menghubungi perusahaan-perusahaan yang sudah terdaftar di dinas ketenagakerjaan. Sehingga, perusahaan-perusahaan yang kita undang itu adalah perusahaan yang memang tidak bemasalah,” Jelas Fien Zulfikarijah, kepala bagian PKMA. Di antara 25 stan Job Fair tersebut, PKMA juga berhasil menghubungkan kerjasama antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dengan Mate-Care Co. Ltd. Pagi ini Rabu, (4/7) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), UMM dan Mate-Care Co. Ltd. resmi bekerjasama untuk penempatan tenaga lulusan UMM khususnya bidang keperawatan di Jepang. “Dari sekian negara yang kami ajak kerjasama, Vietnam, Nepal, Filipina, yang paling bagus kerjanya dan bekerja dari hati adalah Indonesia. Oleh karena itu saya datang ke Indonesia. Begitu juga yang paling menyambut baik kerjasama ini adalah UMM, itulah mengapa saya ke kampus ini,” ungkap direktur Mate-Care Co. Ltd, Kamimura Yoichiro. UMM mengadakan Job Fair sebanyak empat kali dalam setahun. Periode ini, sesuai dengan jumlah penyelenggaraan wisuda di UMM.
Ciptakan Aplikasi VRS Versi Android, Mahasiswa UMM Mudahkan Masyarakat Latih Ketrampilan Interview Bahasa Inggris

Berkarya tanpa batas adalah visi hidup yang tepat bagi Moh. Kholilurrahman Jailani. Menjadi mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM,) membuatnya peka terhadap situasi yang kerap dialami mahasiswa seangkatannya, terutama yang terkait bidang Bahasa Inggris. “Kami minim praktek untuk mata kuliah interview. Padahal saya lihat yang memiliki masalah saat interview begitu banyak. Tidak hanya mahasiswa tetapi juga masyarakat,” ungkap Mamang panggilan akrab Kholilurrahman saat ditemui Senin (2/7). Kegelisahan ini diakui Mamang, ia rasakan sejak masih berada di semester 4. Ia pun mencoba merumuskan sebuah ide untuk membuat sebuah aplikasi dan menuangkan ide tersebut dalam Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM GT). Sayangnya, keberuntungan masih belum berpihak saat itu. Mamang tidak lolos seleksi. Kegagalan ini tak lantas membuat Mamang berputus asa. Ia pun melanjutkan gagasan tersebut dengan dibantu tiga orang mahasiswa dari Teknik Informatika Fakultas Teknik UMM yakni Ahmad Hamdani, Amruzi Nugrahadiawan, dan Syauqi Hidayatul Hakim. Aplikasi yang diberi nama Virtual Reality System tersebut akhirnya terwujud. Yang istimewa, alat ini tidak hanya dapat dipergunakan bagi mahasiswa Prodi Bahasa Inggris tetapi juga masyarakat umum. “Alat ini tercetus untuk mempermudah mahasiswa Bahasa Inggris menjawab interview. Bisa juga berguna bagi masyarakat umum yang hendak melamar kerja,” kata Mamang. Dalam pengoperasiannya, aplikasi ini memerlukan alat bantu VR Glasses yang dapat dibeli secara online mulai dari kisaran harga Rp 50.000-Rp 300.000. Penggunaannya juga cukup mudah. Hanya dengan mendownload aplikasi Virtual Reality System di Play Store, kemudian menyambungkan dengan alat bantu VR Glasses, secara otomatis pada layar VR Glasses pengguna seolah-olah sedang berada di sebuah ruang interview dengan seorang inteviewer. Sang interviewer akan mengajukan beberapa pertanyaan. Setiap pertanyaan yang dijawab akan mendapat skor tertentu. Skor muncul sesuai dengan penilaian keakuratan pronunciation dan intonasi pengguna. Dalam aplikasi ini juga terdapat tiga sesi interview mengenai pengetahuan diri, perusahaan, dan loyalitas kerja. Semua pertanyaan layaknya interview pada umumnya, seperti apa yang biasa digunakan di berbagai perusahaan dan instansi. “Masing-masing pertanyaan bernilai 10, jika jawaban kurang jelas maka bernilai 5, dan apabila tidak menjawab bernilai 0. Waktu yang diberikan untuk menjawab sebuah soal adalah 30 detik,” tandasnya. Dibuat dengan disain istimewa, aplikasi ini sangat ramah bagi pemilik android. Saat ini, Mamang yang asli Pamekasan ini tengah gencar memperkenalkan aplikasi buatannya. Ia juga berencana segera memasukkan aplikasi ini di Play Store. “Sehingga dapat didownload dan bermanfat bagi siapa saja yang membutuhkan,” (apn/sil)
Sosiologi UMM, Lewat Film Promosikan Konservasi Lingkungan

Media audio visual merupakan media perantara yang mengkombinasikan pandangan dan pendengaran untuk membangun kondisi yang dapat membuat penontonnya mudah menangkap pesan yang disampaikan. Salah satu media audio visual yang akrab di masyarakat adalah film. Melakukan pengabdian masyarakat dengan membuat film terkait cinta lingkungan, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammmadiyah Malang (UMM) mencoba menyebarkan semangat secara massif agar masyarakat lebih peduli untuk menjaga dan mencintai lingkungannya. Rachmad K Dwi Susilo, Dosen Mata Kuliah Sosiologi Lingkungan menyampaikan bahwa melalui film pendek yang diproduksi mahasiswa, Jurusan Sosiologi UMM bisa sekaligus mempromosikan nilai – nilai konservasi lingkungan kepada masyarakat. Selain itu, pemberian tugas ini juga akan membuat mahasiswa belajar untuk memproduksi sebuah karya yang bisa menginspirasi orang lain. “Mereka bisa memilih tema apa saja, saya bebaskan sesuai keputusan kelompok masing-masing,” ujarnya. Salah satu karya mahasiswa Sosiologi UMM yang sangat menginsipirasi adalah Video Sang Inspirator Lingkungan yang menceritakan bagaimana Ribut Hartono seniman dan aktivis lingkungan yang memperjuangkan ketersediaan air bagi lingkungannya. Berawal dari mengantar air secara manual ember per ember kepada para warga kurang mampu saat masih anak-anak, setelah dewasa Ribut akhirnya berhasil memperluas penyaluran air kepada masyarakat Desa Kukuk Kelurahan Punten Kecamatan Bumi Aji Batu. Ribut yang juga merupakan alumni pendidikan dokter hewan ini, melakukan hanyak hal untuk mengubah kondisi desanya. Meski pernah didemo warga pada tahun 2010 silam atas idenya menyalurkan air dari Sumber Air Banyuning ke rumah-rumah warga, langkahnya tak gentar. Ia bahkan berhasil mengairi hampir seluruh desa Punten dengan “air meteran” yang digagasnya. Menurut Rahadi, MSi, Pembina UKM Kelompok Studi Sinematografi Kine Klub UMM apa yang dilakukan Prodi Sosiologi UMM merupakan suatu langkah yang tepat. Sebuah karya audio visual bisa menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan terkait isu-isu tertentu. Hal itu karena pesan yang dikemas dalam sebuah karya audio visual lebih mudah dipahami. Meski demikian, proses produksi film yang dilakukan harus tetap dilaksanakan dengan cermat agar pesan yang disampaikan dapat tepat sasaran. “Pengerjaan konten audio visual harus benar-benar efektif serta jelas tujuannya,” tegasnya. Ia juga menambahkan, soal bagaimana karya itu berdampak bagi masyarakat tergantung pada audiencenya. “Efeknya bisa berupa kognitif, afektif dan behaviour,” tutupnya. Selain film Sang Inspirator Lingkungan, terdapat juga beberapa film lain diantaranya adalah Kampung Impian, Talun Temalun, Petuah dan Greatly Outdoor. (vin/sil)
UMM Konsisten Kawal Perubahan Masyarakat Madura

Infrastruktur merupakan kebutuhan dasar fisik bagi masyarakat. Namun adakalanya infrastruktur yang memadai, menjadi pintu gerbang masuknya arus modernisasi yang mampu menggeser budaya lokal di suatu kawasan. Mengingat hal tersebut, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencoba melakukan pencegahan, untuk meminimalisir adanya pengikisan budaya akibat perubahan lingkungan khususnya di wilayah Madura. Mengawal hadirnya jembatan penyeberangan Surabaya-Madura (Suramadu), dalam sepuluh tahun terakhir Prodi Sosiologi berbagi informasi dengan masyarakat melalui siaran radio. Adalah Rachmad K Dwi Susilo, Ph.D dan Muhammad Hayat, MA dosen Sosiologi UMM yang menjadi pembicara dalam program tersebut. “Kami mengharapkan, Sosiologi mampu mengawal masyarakat yang sedang berproses dalam sebuah perubahan. Apa yang kami lakukan ini bukti nyata semboyan UMM, dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” tegas Rachmad. Pada kenyataannya, modernisasi yang terus terjadi kerap kali menggeser keberadaan identitas lokal sebuah daerah. Demi membantu menjaga budaya – budaya lokal milik masyarakat Madura, pertukaran informasi lewat radio ini dilakukan. “Lewat talkshow ini kami bermaksud untuk memberikan informasi terkait bagaimana seharusnya masyarakat memposisikan diri ketika ada perubahan. Intinya, meskipun modernisasi terus masuk, masyarakat masih tetap bisa menjaga budayanya, ” tambahnya. Menambahkan Rachmad, Muhammad Hayat, M.A, menyampaikan bahwa selain tujuan di atas, talkshow radio ini juga dilakukan untuk mengenalkan Sosiologi UMM ke masyarakat Madura. Selain itu keduanya juga ingin memberikan gagasan – gagasan sosiologi yang erat kaitannya dengan kondisi di Madura. “Pertama talkshow, respon dari pendengar bagus. Mereka menunjukkan penerimaan informasi yang kita berikan,” jelasnya. Hayat juga menambahkan bahwa talkshow yang sudah berlangsung di berbagai kota di Madura yakni Bangkalan, Sampang dan Pamekasan ini akan terus berlanjut di tahun – tahun berikutnya. “Untuk talkshow yang akan diakukan setelah lebaran ini, rencananya kami juga akan melibatkan mahasiswa,” pungkasnya.(vin/sil)
Berkat Cinta Karya Tulis Ilmiah, Mahasiswa UMM Langganan Juara 1 LKTI Nasional

Rasa cintanya pada dunia menulis membuat Samsul Arifin mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih prestasi demi prestasi. Mahasiswa asal pulau garam Madura ini, sejak 2014 silam telah akrab dengan pencapaian gemilang, khususnya dalam penulisan karya ilmiah. Bulan April lalu, Samsul bersama teman-teman satu timnya ikut serta dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional (LKTI) yang diadakan di Universitas Negeri Jakarta.”Awalnya kami daftar hanya untuk iseng saja, coba-coba mengumpulkan paper,” tutur Samsul Kamis (28/6). Keisengan tersebut ternyata membawa Samsul dan timnya menjadi Juara 1 dalam ajang tersebut. Mereka berhasil unggul dari empat perguruan tinggi lain yang memilih tema pembahasan yang sama. “Jadi sebenernya ada beberapa tema, kebetulan kami memilih tema Pengembangan Media Pembelajaran,” jelasnya. Mengusung konsep konvensional, Samsul dan tim justru berhasil mencuri perhatian para juri. Mereka satu – satunya finalis yang tidak membuat model pembelajaran dengan sistem telepon pintar. Tim Samsul mempresentasikan media pembelajaran inkuiri dimana para siswa dituntut untuk mampu menemukan materi pembelajarannya sendiri. Mereka membuat modul yang dilengkapi dengan preparat anatomi tumbuhan. Tidak disangka, media ini yang mengantarkan Samsul dan timnya meraih Juara. “Awalnya kami minder, rasanya pengen pulang duluan pas liat pesaingnya,” tegasnya. Sebelumnya Samsul juga telah mengikuti berbagai lomba serupa. Ketertarikannya pada penulisan karya ilmiah muncul sejak pertama kali masuk universitas. Serius dengan minatnya, Samsul mengikuti LKTI untuk pertama kali di Universitas Brawijaya tahun 2014. Tidak disangka, momen ini menjadi langkah awal rangkaian prestasinya di bidang karya tulis ilmiah. “Pengalaman pertama kali ikut alhamdulillah langsung terpilih sebagai juara favorit,” ungkapnya bangga. Euforia yang dirasakan saat itu membuatnya semakin bersemangat mengirimkan tulisan – tulisannya keberbagai perlombaan. Meski demikian, ia sempat memutuskan untuk berhenti karena tulisannya tidak kunjung lolos. “Tapi karena banyak orang disekitar saya yang mendukung untuk kembali menulis, jadi saya mulai membuat karya tulisan lagi,”terangnya. Apa yang dicapai Samsul, menjadi kebanggaan juga bagi Prodi Pendidikan Bilogi UMM. Husamah, S.Pd, M.Pd, salah seorang dosen pembimbing menyampaikan bahwa apa yang sudah dicapai anak didiknya saat ini adalah hasil dari usaha bersama antara Prodi dan mahasiswa untuk menciptakan kualitas mahasiswa yang unggul. “Tentu saja ini berkat kemauan yang kuat juga dari anak – anak. Kalau mereka semangat, kami para dosen selalu siap untuk membimbing,” tegasnya. Tahun 2017 lalu, Samsul juga berhasil menjadi juara 3 LKTI tingkat Nasional yang diadakan di Universitas Mulawarman. Akrab dengan prestasi, ia mengajak teman – teman dan juga adik tingkat untuk terus berkarya dan berprestasi. Samsul sendiri mentargetkan diri untuk dapat kembali berprestasi, utamanya di tingkat yang lebih luas. “Ke depan saya berharap bisa mempresentasikan hasil karya di ajang internasional,”pungkasnya. (vin/sil)
UMM Lepas 4.885 Mahasiswa KKN Mengabdikan Diri di Dalam dan Luar Negeri

Terus memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat, hari ini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Pengarahan dan Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun ajaran 2018/2019 di Hall Dome UMM, Selasa (26/6). Tahun ini UMM melepas 4.885 mahasiswa yang terbagi ke dalam tiga jenis KKN yaitu, KKN Khusus, KKN Internasional dan KKN Muhammadiyah untuk Negeri. Dikelompokkan menjadi 142 kelompok, para peserta akan diberangkatkan pada tanggal (11-13/7). Wakil Direktur Bidang Pengabdian Masyarakat Dr. Masduki, M.Si. menyampaikan tahun ini pelaksanaan KKN di dalam negeri ada di 11 kabupaten/kota, 13 kecamatan, dan 142 desa. “Mereka tersebar di Malang, Probolinggo, Tulungagung, Jombang, Lamongan, Pasuruan, Lumajang, dan Pacitan,” ujarnya. Alik Ansyori Alamsyah, Kepala Divisi KKN menambahkan kelompok-kelompok tersebut harus memiliki program unggulan. Selain mensukseskan program, para peserta juga diminta untuk belajar mempublikasikan programnya melalui media cetak dan elektronik, membuat buku tentang KKN, membuat profil desa hingga video KKN yang kemudian diupload di youtube untuk meluaskan semangat pengabdian masyarakat. Disiapkan secara matang sebelum keberangkatan, setiap kelompok juga dilengkapi dengan berbagai divisi untuk memaksimalkan kinerja. “Masing-masing kelompok terdapat divisi dan program di bidang agama, sosial, ekonomi, kesehatan, kewirausahaan, dan lingkungan,” ujarnya. Sementara itu, untuk KKN Internasional di luar negeri, peserta tersebar di beberapa negara, mulai dari kawasan Asia hingga Timur Tengah. “KKN internasional ada yang ke Thailand 55 orang dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ke Singapura 2 orang dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan ke beberapa negara yang sudah masuk program AIESEC yaitu, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Turki,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor III Dr. Sidik Sunaryo berpesan agar mahasiswa menghindarkan diri dari tindakan-tindakan yang tidak baik serta selalu menjaga nama baik almamater selama menjalani KKN. “Tolong niatan baik kampus dalam rangka pengabdian di masyarakat ini diikuti peran serta mahasiswa dengan cara berperilaku dan bersikap baik,” tutup Sidik.(apn/sil)
UMM Bahas Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Terhadap Cara Berlalu Lintas

Memahami perspektif orang lain, ternyata dapat dilihat dari cara seseorang berkendara. Hal ini disampaikan Prof. Ivars Austers dari Latvia University. Di hadapan para dosen dan staf, Ivars memaparkan hasil penelitiannya tentang psikologi lalu lintas. Ia menemukan bahwa kebudayaan di suatu negara, berpengaruh terhadap perspektif seseorang dalam berlalu lintas. “Perspective-taking is not inborn but it is developed in her true life,” ujarnya saat menjadi pemateri pada kuliah tamu Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (25/6) yang bertajuk ‘Caring about Perspective-taking’. Lebih dalam Prof. Ivars menyampaikan bahwa perspective-taking berbeda dengan empati. Empati lebih ke kondisi emosional seseorang, sedangkan perspektif taking lebih ke kondisi kognitif atau kemampuan berpikir seseorang. Ivars melanjutkan, Indonesia dan negara-negara Asia lain cenderung memiliki kebudayaan kolektif. Hal tersebut berbeda dengan negar-negara Amerika dan Eropa yang individualis. Kebudayaan ini, juga turut mempengaruhi kemampuan seseorang dalam memahami perspektif orang lain. “Jadi, tadi Prof Ivars banyak mencontohkan perspective-taking dalam berlalu lintas. Kita tidak hanya bertanggungjawab atas kendaraan yang kita bawa, tapi kita juga harus memahami pengendara lain ketika di lalu lintas,” papar Dian Caesaria Widyasari salah satu dosen yang juga menjadi moderator acara. Dian mengaku berbagai materi-materi yang dibawakan Prof Ivars tersebut sangat menarik. Salah satunya, tentang Human Values and Risking Car Driving. Ternyata nilai yang dibawa seseorang sejak kecil mempengaruhi caranya mengendarai mobilnya. “Tadi dicontohkan seseorang yang mengagungkan kekuasaan cenderung apatis tidak memberi aba-aba ketika hendak belok kanan atau kiri di jalan raya. Tetapi berbeda ketika seseorang tumbuh besar dengan nilai-nilai baik yang dikembangkan di lingkungannya, maka dia bisa lebih bijak dalam berkendara,” simpulnya. (Humas UMM)
Semangat Halalbihalal Untuk Hari Esok Menerapkan Nilai-Nilai Spiritual

Nuansa kekeluargaan hangat terasa. Ribuan keluarga dosen dan karyawan mengikuti Halalbihalal 1439 Hijriyah Keluarga Besar Civitas Akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Minggu (24/6) di Hall Dome UMM. Acara diawali dengan sambutan Rektor Fauzan dan tausyiah oleh Prof. Dr. Malik Fadjar MSc selaku Ketua Badan Pembina Harian UMM. Pada kesempatan tersebut, Malik menyampaikan bahwa UMM sejak berdirinya terus mendidik dan membangun tradisi serta banyak memberi kebajikan yang luar biasa. Organisasi yang dinaungi oleh Muhammadiyah ini bergerak dalam bidang pendidikan dan menjadi tempat beramal sholeh. Hal ini membuat UMM menjadi uswah hasanah atau contoh yang baik. Di akhir Malik menyampaikan, momen Halalbihalal kali ini diharapkan dapat memberikan semangat baru khususnya secara spiritual kepada dosen dan karyawan UMM untuk melaksanakan tanggungjawab pekerjaannya. “Setelah Halalbihalal ini seluruh karyawan dan staf UMM diharapkan mampu menyambut kehadiran mahasiswa yang menjalankan tugas-tugasnya serta mempunyai komitmen yang tinggi. Semangat Halalbihalal ini juga kita jadikan untuk hari esok dalam menerapkan nilai-nilai spiritual,” pungkasnya. (sal/sil)
Mesin Cuci Gowes Tanpa Listrik Hasil Karya Mahasiswa UMM

Pemakaian listrik pada mesin cuci membuat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi. Hal ini menggugah sekelompok mahasiswa Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan Mesin Cuci Gowes. Sembari menempuh mata kuliah Pengembangan Produk untuk membuat satu karya, salah satu kelompok yang di wakili oleh Arfian Sinatrya Darussalam berhasil membuat alat baru dengan memodifikasi berbagai peralatan lama. Dibawah bimbingan dosennya Muhammad Lukman, kelompok ini manfaatkan mesin cuci rusak yang sudah tidak dipakai lagi lalu menggabungkannya dengan sepeda. Inovasi yang dilakukan Arvian dan delapan orang anggota kelompoknya ini, memberikan solusi khususnya bagi ibu rumah tangga untuk memudahkan mencuci baju dengan biaya yang relatif murah. Mesin ini dibuat dengan manfaatkan beberapa bagian rangka yang dirangkai dengan semacam gir untuk memutar bagian dalam mesin cuci. Mengandalkan kaki untuk menggowes sepeda, alat ini cukup mudah digunakan. Memakan waktu pengerjaan sekitar tiga bulan, proses penyempurnaan terus dilakukan mulai dari riset hingga produksi. “Kedepannya kami ingin membuat mesin cuci gowes yang lebih baik dan lebih baik lagi,” tutur Arvian. Saat ini mesin cuci gowes masih di pakai secara pribadi oleh Arvian dan teman-temannya di kos. Setelah unjuk gigi di gelar produk universitas, mesin ini akan di ikutkan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Mereka pun berharap kelak mesin ini dapat dikomersilkan. Mata kuliah Pengembangan Produk menjadi awal dari mahasiswa menghasilkan suatu karya, baik memodifikasi yang sudah atau membuat karya baru yang belum pernah ada sebelumnya. Hal ini ditegaskan Sekretaris Prodi Teknik Industri Dian Palupi Restuputri. “Keterampilan jurusan teknik industri salah satunya adalah membuat suatu produk yang mana nantinya dapat diaplikasikan baik untuk dunia industri maupun masyarakat,” tegasnya. (sal/sil)
UMM Ikut Jaga Sumber Mata Air Terakhir di Desa Kucur

Air merupakan salah satu kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dengan jumlah populasi manusia yang meningkat, kebutuhan akan air juga terus bertambah. Perubahan ini, memerlukan upaya pelestarian kawasan sumber mata air untuk memastikan ketersediaan air di masa depan. Sebagai bentuk pengaplikasian ilmu pengetahuan bagi masyarakat sekitar, Program Studi Kehutanan Fakultas Ilmu Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta dalam melestarikan kawasan sumber mata air. Melalui penanaman bambu di sekitar sumber mata air Desa Kucur, Kecamatan Dau Kabupaten Malang, Prodi Kehutanan UMM turut menjaga mata air terakhir di daerah tersebut. “Bisa dibilang air itu dibutuhkan di hampir semua aktivitas manusia. Karena sekarang sudah mulai banyak daerah yang beralih fungsi jadi pemukiman, karenanya kita berusaha jaga mata air ini,” jelas Agus Firmansyah Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kehutanan. Lebih lanjut Agus menyampaikan, kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi Prodi Kehutanan UMM untuk kelestarian lingkungan. Tanaman bambu yang dianggap mampu menyimpan air dalam jumlah besar meski di musim kemarau tersebut, diharapkan mampu menjaga ketersediaan dan debit air di sumber mata air ini. “Karena bambu memang bisa menyimpan air banyak, maka dari itu kami berharap dengan semakin banyaknya bambu di sekitar mata air ketersediaan air dapat terjaga bahkan meningkatkan debitnya,” tambah Agus. Kepala Program Studi Kehutanan, Tatag Muttaqin, S. Hut, M.Sc, menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan ini merupakan bentuk tri dharma perguruan tinggi yang terkait pengabdian dan penelitian. “Bersama masyarakat setempat, kami dosen dan mahasiswa bergotong royong untuk menjaga lingkungan khususnya disekitar kawasan mata air Desa Kucur,” tegasnya. Kedepannya, kegiatan serupa diagendakan akan terus dilakukan. Selain memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, mahasiswa juga bisa merasakan bagaimana praktek langsung di lapangan. “Dibandingkan sekedar teori, pengalaman di lapangan akan lebih bisa dirasakan oleh mahasiswa karena pada akhirnya semua ilmu tersebut akan dipraktekkan di kehidupan,” tutup Tatag. (vin)