Miliki LPH Sendiri, UMM Siapkan Mahasiswa Kompeten di Bidang Pangan Aman dan Halal

Melihat kebutuhan masyarakat Indonesia yang mayoritasnya muslim, keamanan produk halal menjadi hal yang tak bisa dipisahkan lagi. Mulai dari produk pangan, obat-obatan hingga kosmetik. Maraknya produk yang belum jelas kehalalannya menjadi tantangan tersendiri bagi konsumen muslim. Peduli akan fenomena ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai universitas muslim terkemuka menaruh perhatian khusus terkait kehalalan produk. Bekerja sama dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, UMM telah membentuk Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) sebagai salah satu wujud usaha membangun kesadaran masyarakat terkait pentingnya produk halal. “Kesadaran masyarakat Indonesia terhadapa pentingnya produk yang aman dana halal belum baik dan meluas,” sahut Elfi. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, dosen jurusan Ilmu Teknologi Pangan (ITP), merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam berdiri dan berjalannya LPH UMM. UMM sendiri untuk mencapai visi misi dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), yakni mengembangkan teknologi pangan yang halal-thoyib (halal dan baik) membentuk mata kuliah baru yaitu Manajemen Pangan Aman dan Halal (MPAH). UMM pun menjadi satu-satunya kampus yang memiliki kurikulum ini di Indonesia. Mata kuliah MPAH berisi materi yang didukung studi atau suvey, wisata halal pada akhir kuliah pada perusahaan, UKM, hotel, rumah sakit, katering, restoran, pondok pesantren, asrama, balai hingga sekolah full day. Elfi menjelaskan terdapat beberapa syarat untuk membentuk Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Yang pertama, mempunyai kantor sendiri, kedua mempunyai minimal tiga auditor halal bersertifikasi MUI. Dan yang terkahir memiliki atau bekerjasama dengan laboratorium terakreditasi. “Makanya saya berusaha mendapatkan lab terakreditasi terlebih dahulu,” jelas Elfi. Setelah dua tahun berjalan perlahan, cita-cita Elfi untuk mendapatkan laboratorium terakreditasi tersebut terlaksana. September 2017, akhirnya ia meraih ISO 17025. Ia mengaku, akreditasi laboratorium lebih rumit daripada akreditasi jurusan karena yang dinilai dua hal, yakni aspek manajemen dan aspek tehnis. “Sekarang, saya sedang mengompori beberapa lab untuk menyiapkan pengujian halal seperti alkohol, lemak babi, dan DNA Babi,” simpulnya.
UMM Ajak Pegiat Literasi Malang Raya Pandai Filter Informasi

Menjadi bagian dari praktisi akademisi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta menyebarkan atmosfer literasi. Setelah sukses menebar literasi melalui Mobil KaCa, kini melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan, UMM kembali menebar informasi perihal literasi. Dikemas berbeda, literasi informasi yang disuguhkan oleh UPT Perpustakaan UMM memberikan pelatihan tentang bagaimana masyarakat harus menyaring informasi. “Saat ini informasi yang diterima oleh masyarakat sangat masif sehingga semua harus pandai menyaring informasi,” tutur Kepala Urusan (Kaur) Pengelolaan UPT Perpustakaan UMM Ani Herawatin. Hadir sebagai peserta adalah penggerak literasi Malang Raya yang berada di bawah naungan Gerakan Permasyarakatan Minat Baca (GPMB) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Pada kunjungannya, para penggerak literasi ini berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam pengelolaan sumber informasi yang digunakan di taman baca atau perpustakaan yang mereka kelola. “Senang sekali bisa berdiskusi secara langsung dengan pustakawan yang ada di UMM ini utamanya tentang literasi informasi yang jarang digaungkan,” jelas Makhrumah salah seorang pembina perpustakaan desa di Bululawang. Melalui rangkaian agenda di UMM ini, diharapkan masyarakat dapat semakin lincah dalam mengakses informasi. Selain itu, keberadaan pelatihan yang diselenggarakan UMM ini di masa akan datang diharapkan dapat menjadi bekal bagi para penggerak literasi untuk mempertahankan minat baca masyarakat Malang Raya. “Kehadiran teman-teman dari GPMB ke UMM ini harapannya adalah untuk bisa mendapatkan informasi lebih tentang pengelolaan perpustakaan,” ungkap Kepala Seksi Pengembangan Perpustakaan Sekolah dan Khusus Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Malang Aris Kusdiatmuko. Selain mendapatkan pelatihan perihal literasi informasi, sebagai rangkaian agenda kelas literasi peserta juga mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke beberapa pojok budaya yang ada di perpustakaan UMM salah satunya adalah American Corner (Amcor). Di Amcor, para peserta dapat bertukar informasi tentang bagaimana bentuk perpustakaan yang menyenangkan bagi para pengunjungnya. Disambut dengan melakukan peragaan penggunaan Virtual Reality (VR) oleh Staff Amcor Heru Wibowo, kunjungan ke Amcor menjadi meriah dan menyenangkan. “Amcor sebagai salah satu pusat informasi tentang Amerika yang ada di UMM juga dilengkapi dengan buku-buku dan permaianan,” terang Heru. Imbuhnya, saat ini perpustakaan yang ada di Amerika sedang mengembangkan bentuk perpustakaan yang tidak hanya menyediakan buku namun juga tempat untuk mengasah psikomotorik dan kognitif melalui permainan. “Perpustakaan di Amerika kini mulai menambahkan permainan dalam perpustakaan untuk membuat lebih nyaman saat di perpustakaan,” urai Heru. Selain para penggerak literasi, kelas yang dibuka oleh UPT Perpustakaan UMM ini juga dapat hadiri oleh masyarakat umum. (nis/sil)
Mahasiswa UMM Raih Omzet Jutaan dari Bisnis Sambal

Upaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menyuburkan jiwa entrepreunership mahasiswanya melalui Program UMM Pasti yakni Pasti Lulus 4 Tahun, Pasti Bekerja dan Pati Mandiri perlahan terus membuahkan hasil. Memantapkan langkah sebagai pencetak para wirausahawan muda, kampus putih berhasil menyebarkan virus entrepreunership di kalangan mahasiswanya salah satunya Majid Abdul Azis. Mahasiswa Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengembangkan inovasi sambal kemasan. Sejak dibuka pada 20 April lalu, usaha sambal kemasan miliknya ini sudah meluncurkan 4 varian rasa. “Ada sambal bajak original, pete, teri dan paru,” ujar mahasiswa semester 6 ini. Ide mengembangkan usaha sambal muncul ketika melihat kakak perempuannya suka sekali memasak. Dari situlah, Majid panggilan akrabnya, berkeinginan untuk menginovasikan bahan masakan yang dipakai kakaknya. “Karena kakak saya suka masak, jadinya saya termotivasi untuk membuat terobosan dari bahan masakan yang dipakai kakak saya,” tegasnya. Pemilihan paru sebagai salah satu bahan sambal, bukan tanpa alasan. Menurut Majid, bahan dasar seperti daging sapi dan hati sudah banyak dipakai. Sedangkan bagian organ paru seringkali tidak dimanfaatkan. Majid juga mengatakan, sejak dibuka usahanya selalu mengandalkan keberadaan media sosial sebagai sarana promosi. “Selama ini kita memanfaatkan instagram dan facebook,” tandasnya. Dibantu sang kakak, Majid rutin menyiapkan stok 30 botol sambal tiap varian setiap tiga hari sekali. Selain untuk memenuhi kebutuhan penjualan, hal itu ia lakukan untuk menjaga kualitas sambal yang dijual tetap bagus.”Karena sambalnya cuma tahan 3 hari jadi kita selalu siapin stok baru tiga hari sekali. Dan alhamdulillahnya sebelum kadaluarsa stoknya sudah pasti habis,” ungkapnya senang. Produk yang dijualnya dipatok harga Rp 15.000/botol untuk sambal bajak original, pete dan teri. Sedangkan untuk sambal paru, ia menyiapkan 3 ukuran, M, S, dan Ss yang dijual seharga Rp 15.000-Rp 30.000/botol. Dalam setia bulannya, Majid memproduksi tak kurang dari 300 botol sambal. Meski tidak langsung banyak, jumlah ini terus menerus mengalami kenaikan. “Kita sudah balik modal. Sebagian keuntungan juga kita putar lagi untuk modal promosi,”tambahnya. Sebelum membuka usaha sambal, Majid mengaku bahwa ia sudah cukup banyak mencoba membuka usaha. Mulai dari usaha jamur tiram, e-commerce, gorengan, dan minuman sari tebu. Ketertarikannya pada dunia bisnis dimulai ketika ia terinspirasi setelah menonton sebuah film Thailand , Top The Billioner. “2016 lalu saya mulai bisnis pertama itu jarum tiram. Tapi karena setelah dua tahun akhirnya justru merugikan saya, jadi nggak saya terusin,” tegasnya. Ia berharap, usaha yang kali ini dirintis bisa terus lanjut dan berkembang sampai ke pasar penjualan yang lebih luas. Selain sambal kemasan, ia juga baru saja membuka usaha minuman sari tebu yang berlokasi di Jalan Dermo, Malang.
KBA UMM Siapkan Alumni Keperawatan Sukses Berkarir di Jepang

Atmosfir internasional terus tumbuh di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tidak hanya bagi mahasiswa, dosen dan karyawan, alumni UMM juga disiapkan untuk mampu menghadapi persaingan dengan berbekal kompetensi global. Menindaklanjuti kerjasama sebelumnya dengan Mate-Care CoLtd yakni sebuah asosiasi rumah sakit yang berpusat di Jepang, lembaga Kursus Bahasa Asing (KBA) UMM menggelar Pembukaan Pelatihan Bahasa Jepang di Aula UMM Kampus 1 pada (14/5). Peserta merupakan alumni keperawatan dari berbagai sekolah tinggi dan universitas di Jawa Timur . Mereka nantinya akan menempuh pembinaan bahasa dengan tahapan tertentu sampai dengan mencapai target yang ditentukan dan memenuhi syarat pemberangkatan. Bekerjasama dengan Yayasan Duta Mandiri Indonesia (DMI), program pelatihan bahasa Jepang ini membuka kelas intensif selama kurang lebih 7 bulan yang diajar oleh sensei alumni Pendidikan Bahasa Jepang, dari jam 8 pagi sampai 12 siang. Selain kelas pagi, ada juga kelas siang dari jam 1 sampai 5 sore. Kelas ini menjadi alternatif bagi mereka yang tidak bisa hadir di kelas pagi, seperti ada keperluan bekerja dan yang lainnya. Di akhir kelas, sekitar bulan November akan ada test bahasa Jepang level N4 yang digelar. Jika lulus pada test ini, pada tahap selanjutnya di bulan February 2019 akan ada test bahasa Jepang level N3. Bagi peserta kursus yang berhasil lulus dan menyelesaikan N3 dengan baik, baru akan bisa berangkat ke Jepang. Direktur DMI Foundation, Donny Nobri Dwiyanto menyampaikan harapan besarnya agar alumni keperawatan Indonesia dapat Go Internasional. Dengan demikian, saat kembali ke dalam negeri mereka mampu mengaplikasikan ilmunya lebih dalam dan berkontribusi pada bangsa. Ilmu yang didapat selama bekerja di Jepang juga dapat ditularkan kepada kawan atau junior di bidangnya, seperti pengalaman yang telah ia rasakan. “Selama 14 tahun saya bekerja di Jepang, mindset dan mental saya benar-benar lebih terlatih. Disana dididik untuk sangat menghargai waktu dengan menekankan kedisiplinan, kita juga didorong untuk selalu bekerja keras dan bernovasi, yang lebih penting sikap orang Jepang dalam menghormati satu sama lain amatlah dijunjung tinggi,”urainya. Kerjasama yang dibangun UMM dengan Mate-CareCoLtd, akan memberdayakan lulusan keperawatan di Indonesia khususnya alumni UMM untuk dapat bekerja di rumah sakit lansia di Jepang. Kerjasama ini berlangsung sejak MoU dilaksanakan November tahun lalu. (dya)
Dua Beras Analog UMM Perkaya Jumlah Keanekaragaman Pangan Nasional

Beras merupakan sumber pangan pokok yang dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Tahun 2017, Indonesia masih menduduki posisi kedua dengan jumlah konsumsi beras 140/kapita. Angka tersebut menunjukkann bahwa Indonesia masih rawan dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Berangkat dari keresahan tersebut, perlu dilakukan inovasi keanekaragaman pangan untuk membantu ketahanan pangan nasional. Bagi dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Damat menciptakan inovasi beras analog yang berbahan baku umbi Garut merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan tanaman umbi. Sejak lama, dosen asal Malang ini meniliti umbi-umbian utamanya umbi Garut. Umbi Garut merupakan salah satu varietas tanaman penghasil glikemik yang rendah sehingga sangat baik sebagai bahan pengganti beras. “Umbi garut itu adalah umbi-umbian yang jarang orang meliriknya, padahal sudah sejak lama banyak penelitian yang menyatakan bahwa umbi Garut memiliki banyak manfaat seperti untuk maag dan diabetes,” jelas salah satu dosen beprestasi UMM ini. Berlabel Beras Garut Kaya Antioksidan (RASGADAN) dan Beras Garut Kaya Bethasianidin (RASGANIN), dua produk beras analog ini kaya akan manfaat utamanya bagi penyitas diabetes mellitus. RASGADAN adalah beras yang dibuat dari campuran pati umbi Garut dan buah naga yang kaya akan antioksidan. “Pemilihan buah naga sebagai bahan campuran ini karena yah sekali lagi saya mencari bahan yang gampang didapat tapi belum maksimal pemanfaatnya,” tegasnya. Sementara itu, beras kedua adalah RASGANIN yang merupakan campuran pati umbi Garut dengan ekstrak wortel yang merupakan sumber vitamin A. Produk beras ini dibuat untuk membantu menurunkan jumlah anak-anak yang mengalami Kekurangan Vitamin A (KVA), yang saat ini mencapai 60% masih kekurangan vitamin A. “Kalau beras yang warna kekuningan ini, campurannya ekstrak wortel. Tujuannya untuk mengurangi jumlah anak-anak yang mengalami Kekurangan Vitamin A (KVA),” tutur dosen Ilmu Teknologi Pangan (ITP) tersebut. Tidak berhenti berinovasi dalam bentuk beras, dosen yang kesehariannya mengajar di Jurusan Ilmu Teknologi Pangan ini juga telah mengembangkan produk tepung pati umbi Garut ini sebagai campuran pembuatan Roti Fungsional dengan nama dagang UMM Bakery. (nis)
Jumlah Peserta Tes Camaba UMM Gelombang I Meningkat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Gelombang 1 Tahun 2018, Senin (14/5). Sebanyak 2.856 calon mahasiswa ikut dalam tes tulis dan wawancara yang berlangsung di Kampus III UMM ini. Lokasi ujian tersebar di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, 2, 3, 4 dan Aula Biro Administrasi Umum. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) PMB UMM, Saiman mengatakan bahwa pada penerimaan gelombang pertama ini, jumlah pendaftar terbesar masih menjadi milik Fakultas Kedokteran. “Dari total 2.875 pendaftar di tahap ini, sebanyak 1.119 calon mahasiswa mendaftar untuk masuk ke Fakultas Kedokteran,” ujarnya. Jumlah pendaftar tahun ini meningkat sebesar 4% bila dibandingkan dengan tahun lalu pada periode penerimaan yang sama, yakni 2.771 orang calon mahasiswa. Saiman juga menambahkan bahwa minat pendaftar masih cukup besar pada lima fakultas, yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. “Pendaftar tahun ini mayoritas masih didominasi dari wilayah Jawa Timur,” tambahnya. Rektor UMM, Fauzan menyampaikan, meskipun jumlah pendaftar untuk Fakultas Kedokteran meningkat, tetapi tidak ada penambahan kuota mahasiswa yang diterima. “Kuota untuk kedokteran tidak bertambah, masih sama dengan tahun lalu 150 kursi,” tegasnya. Untuk mengantisipasi kecurangan, UMM telah menyiagakan 50 personel kepolisian dari Polres Kota Malang selama ujian berlangsung dari pukul 08.00-10.30. Pemeriksaan fisik saat sudah di ruangan juga dilakukan sebagai salah satu upaya pencegahan. Sedangkan bagi peserta yang terlambat, panitia sudah menyediakan ruangan khusus untuk mengikuti ujian agar tidak mengganggu peserta lain. Tahun ini UMM akan menerima sebanyak 7.500 mahasiswa baru. Hasil seleksi tahap ini akan diumumkan pada 18 Mei nanti. Bagi peserta yang lolos, bisa melakukan registrasi mulai tanggal 18 hingga 23 Mei mendatang.
UMM Dipercaya sebagai Perwakilan untuk Indonesia-Brunei Darussalam pada Konferensi Uni Eropa 2018

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kehormatan karena ditunjuk sebagai Perwakilan untuk Indonesia- Brunei Darussalam dalam even bergengsi, Uni Eropa Gathering 2018 di Kuala Lumpur Oktober nanti. Asisten Khusus Rektor Bidang Kerjasama UMM Soeparto menyampaikan kepercayaan ini tidak datang begitu saja. Sebaliknya, undangan istimewa yang diterima UMM merupakan buah dari eratnya berbagai jalinan kerjasama internasional yang dibangun, khususnya dengan Uni Eropa yang telah dibina sejak lama. “Kita bekerjasama dengan uni Eropa mulai tahun 2008, mulai dari Asia Link, Erasmus Mundus hingga Erasmus plus,”urai Soeparto. Rangkaian kerjasama tersebut lanjut Soeparto, tahun demi tahun selalu mengalami peningkatan. Yang membanggakan, melalui program Erasmus+ 2017, tahun 2018 ini UMM mendapatkan 11 grant Erasmus+ yang terdiri dari 8 grant mobility, 1 grant training serta 2 grant riset dan memberangkatkan 35 civitas akademikanya yang terdiri dari mahasiswa, dosen serta karyawan. Adapun ke 11 grant tersebut berasal 1 dari universitas di Portugal, 1 universitas di Spanyol, 1 universitas di Romania, 1 universitas di Latvia, 1 universitas di Italia, 1 universitas di Bulgaria dan 5 universitas di Polandia. “Tahun lalu kita bisa dapet 4 grant Erasmus+, tahun ini target kita bisa dapet 6 lah. Tapi ternyata melebihi target. Ini ada 11. Jumlah ini cukup banyak, dan kalau sampai ditunjuk sebagai perwakilan kan berarti UMM salah satu penerima grand erasmus terbanyak,” urainya panjang. Soeparto melanjutkan, pada konferensi yang berlangsung sekitar satu pekan tersebut UMM akan mempresentasikan sejarah dan rangkaian kerjasama dengan Uni Eropa yang telah berlangsung selama ini. Selain itu, kehadiran UMM juga diharapkan dapat memberikan evaluasi dan masukan untuk berbagai kebijakan kerjasama yang selanjutnya. “Mereka evaluasi dan ingin dengar pendapat serta mencari masukan untuk kelanjutan program-program agar lebih baik,”tambah Soeparto. Selain dalam bidang pendidikan, ajang prestisius ini juga akan dihadiri berbagai pelaku dalam berbagai bidang, mulai dari penelitian, kesehatan lingkungan, kebijakan publik dan berbagai macam projek lain. Soeparto pun berharab, gelaran ini dapat menjadi momen bagi UMM melebarkan sayap kerjasama internasionalnnya dengan Uni Eropa. “Ini akan jadi peluang untuk ‘mengintip’ program-program lain yang potensial dan dapat diterapkan di UMM. Selain itu, acara ini juga menjadi tempat yang tepat untuk mencari mitra baru bagi kerjasama yang lebih luas,”tandasnya. Uni Eropa Gathering direncanalan berlangsung selama satu minggu di Kuala Lumpur Oktober nanti. UMM menjadi 1 dari 3 Perwakilan Uni Eropa untuk Indonesia -Brunei Darussalam.
MoU dengan BNSP, Kampus Putih Sempurnakan Program UMM Pasti

Menyambut perkembangan dunia karir mahasiswa yang semakin beragam di era millennial, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan meluncurkan program UMM Pasti, yakni Pasti Lulus 4 Tahun, Pasti Bekerja dan Pasti Mandiri. Melalui program ini Fauzan yakin, lulusan UMM akan mampu berkompetisi di dunia luar bahkan sebelum menyelesaikan studinya. “Saya yakin jika UMM PASTI ini bisa dijalankan dengan baik, tidak akan ada lagi mahasiswa UMM yang tidak bekerja setelah lulus dari sini,” kata Fauzan. Untuk memberikan penguatan gerak langkah UMM dalam mendorong program UMM Pasti, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) mengadakan penandatanganan kesepahaman bersama dengan Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Ir Sumarna F Abdurahman, M.Sc. Berlangsung di Theater Dome UMM, acara tersebut dihadiri oleh kepala biro, kepala program studi, pejabat struktural kampus serta mahasiswa. Fauzan menyebutkan bahwa, hadirnya LSP di UMM adalah untuk memberikan fasilitas dalam rangka penguatan gerak langkah UMM untuk mengantarkan mahasiswa agar saat lulus dari UMM pasti bekerja. “Dan penandatanganan kesepahaman ini adalah salah satu jalan untuk mewujudkan hal tersebut,” tandasnya. Kepala BNSP, Ir Sumarna F Abdurahman, M.Sc mengatakan, sertifikasi kompetensi sendiri pada dasarnya adalah program inti yang dilakukan oleh BNSP. Sertifikasi ini merupakan proses pemberian, sebagai pengakuan penguasaan yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standart kompetensi nasional Indonesia. BNSP di dalam proses melakukan uji ini, memberikan lisensi kepada beberapa jenis LSP dengan mengacu pada ISO/IEC 17024:2012 (2003). LSP UMM sendiri termasuk kepada kategori LSP 1 yakni, LSP yang diselenggarakan oleh perusahaan/organisasi maupun instansi pendidikan. Dengan adanya sertifikasi tersebut nantinya seseorang akan mendapatkan pengakuan kompetensinya yang dapat digunakan untuk meningkatkan jenjang karir, baik dalam ranah nasional maupun Internasional. “Saya sangat optimis UMM kedepannya akan dapat berjalan sesuai dengan filsafat Sang Surya, yakni memberikan penerangan ditengah kegelapan, khususnya dibidang ketenagakerjaan,” tegas Ir. Sumarna. Selain itu langkah yang lebih panjang juga ditempuh UMM dalam mensukseskan Program UMM Pasti yakni dengan membekali para dosen dengan Ketrampilan Khusus Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Mahasiswa. Pematangan strategi ini dilakukan dengan menggelar Training for Trainer Dosen Karir dan Kewirausahaan UMM. Rektor UMM Fauzan menyampaikan, membangun jiwa kewirausahaan merupakan sejarah baru bagi UMM untuk menghadapi era millenial. Karenanya Fauzan berpesan kepada para dosen perwakilan dari seluruh program studi agar mengintergrasikan perkembangan isu-isu terbaru dalam kegiatan belajar mengajar. “Perubahan mindset dalam mengajar harus dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas hasil belajar mahasiswa,” tandasnya. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang I Syamsul Arifin menambahkan, UMM saat ini berada di posisi yang ideal untuk mengembangkan model pembelajaran yang futuristik sebagai upaya pembentukan profil lulusan yang berkualitas. Hal ini salah satunya dapat dilakukan dengan pembentukan jiwa kewirausahaan. “Saat ini, perkembangan UMM menuntut kita untuk membentuk profil lulusan yang berkualitas,” jelas Syamsul. Menambahkan Syamsul, Wakil Rektor Bidang II Nazaruddin Malik menyampaikan bahwa langkah yang tengah digiatkan UMM merupakan usaha untuk membangun lingkungan sosial yang dapat membentuk semangat kewirausahaan bagi semua civitas akademika. “UMM saat ini berusaha membangun lingkungan sosial yang memberikan ruang berekspresi bagi seluruh elemen universitas,” jelas Nazaruddin. Selain membekali para dosen, nantinya akan dibuka Kelas Khusus Karir dan Kewirausahaan bagi mahasiswa semester akhir yang ditempuh dan diselesaikan dalam beberapa pertemuan. Harapannya, dengan berbagai inovasi yang dilakukan semua mahsiswa UMM siap mandiri saat lulus nanti.
Terus Pelihara Cita-cita, Meski Terhalang Dana

Kita tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan di keluarga yang seperti apa, miskin atau kaya. Tapi kita punya pilihan untuk memenentukan jalan hidup kita. Hal ini menjadi “pegangan” bagi Erfina Wisudawan Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) yang meraih Wisudawan Terbaik Pertama Tingkat Fakultas dan Wisudawan Terbaik Ketiga Tingkat Universitas. Fina lulus dengan IPK hampir sempurna, 3,95. Mengalami kendala finansial, tidak membuat Fina demikian panggilan akrabnya lantas putus harapan dalam mengenyam pendidikan. Usai lulus SMP, Erfina berusaha mencari “jalan” untuk terus dapat bersekolah. Pucuk dicinta, ulam tiba. Saat menjelang kelulusan, sekolah Fina, demikian panggilan akrabnya mendapat kunjungan dari sebuah SMA swatsa yang menawarkan beasiswa pendidikan, biaya hidup hingga pemodokkan. Ia pun kembali meneruskan mimpinya. “Usai SMA, ternyata ada pengumuman bahwa UMM yang kampus swasta ternyata menerima Beasiswa Bidik Misi juga. Saya pun mencoba. Dari sekitar 500 pendaftar, 20 diantaranya diterima dan saya salah satunya,”ujar Fina. Memutuskan mengambil Prodi Sosiologi, Fina yang sebelumnya belajar di jurusan IPA di SMA agak kesulitan dan ketinggalan dari teman yang lain. Ia pun mencari jalan dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan kampus, yakni internet gratis. Maklum saja, uang saku yang diterima Fina dari orang tuanya hanya 50 ribu rupiah setiap bulannya. “Internet gratis di Perpustakaan sangat membantu. Dari sini saya mulai mencintai Sosiologi,”ujar anak bungsu dari tiga bersaudara ini. Menempuh studi dengan dukungan beasiswa, tidak lantas membuat Fina berleha-leha. Smabil terus mempertahankan kualitas belajar, Fina juga mengikuti berbagai kegiatan ekstrakulikuler di kampus. Fina bertekad, meski ayahnya hanya seorang buruh pabrik dan kedua kakanya hanya sekolah hingga SMA, Fina harus terus mengayuh semangat untuk berbagai mimpi. “Saya ikut berbagai ektra, mulai dari IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiya.red.), Jamaah Al Faruq, hingga JF (Jmaah AR Fachruddin.red). Saya selalu ingat pesan ibu, Nduk sekolah sing pinter biar gak kayak bapak dan ibu yang hanya sekolah sampe SD. Ini makanya saya semangat ikut banyak kegiatan, ”tambah gadis yang bercita-cita menjadi tenaga pengajar ini. Tidak hanya mengikuti berbagai ektra di UMM untuk meningkatkan kualitas diri, wisudawati yang mengambil skripsi dengan judul Interpretasi maysarakat atas mitos ritual jaranan di Desa Wonojoyo Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri ini juga bekerja mulai dari berjualan gorengan, menjadi driver makanan cepat saji, penjaga gerai minuman hingga menjadi karyawan home industry rujak teng-teng. “Saya juga sekarang mengajar di sebuah LBB. Pengen dapet banyak pengalaman dan sebisa mungkin kita gak minta orang tua,”tambahnya. Fina percaya, berbagai hal yang terjadi dalam kehidupannya telah dijamin oleh Allah SWT. Ia pun tidak khawatir tentang apa yang terjadi, termasuk soal rezeki.. “PastinAllah nanti kasih jalan yang lebih indah. Seperti saat ini, sebelum lulus saya sudah diterima bekerja di PT Litera Media Taman di Belimbing sebagai editor untuk naskah buku,” katanya. Di akhir, gadis yang gemar membaca ini berpesan kepada anak-anak dan remaja Indonesia untuk terus memelihara mimpi. Soal rezeki, asal mau berusaha jalan pasti ada. “Inget saja selalu orang tua untuk motivasi kita. Banyak kok beasiswa baik negeri maupun swasta. Asal mau usaha, karena kalau diam Allah tidak akan merubah nasib kita. Terakhir, jangan lupa berdoa,”pungkasnya. (sil)
Harnold, “Calon Diplomat Muda” UMM yang Jelajah Beberapa Benua

Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya sekali, pria asal Tarakan itu berkesempatan menjadi salah satu delegasi dari Indonesia di Jerman, Kanada, dan terakhir di Bangkok awal tahun 2018. Bahkan, pria yang aktif di klub UMM MUN ini juga mendapatkan penghargaan Honourable Mention saat di Jerman. “Kita menyimulasikan bagaimana sidang PBB terjadi. Kita seolah-olah merepresentasikan negara kita seperti apa, jadi presiden, jadi diplomat, atau jadi menteri luar negeri membahas suatu isu,” ujarnya. MUN sendiri merupakan ajang mengasah kemampuan seperti public speaking, debat, kerjasama tim, dan keterampilan menulis. Ia mulai aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang menggiringnya ke luar negeri tersebut sejak berada di semester empat. “Itu awalnya coba-coba,”akunya. Mulai dari sekedar coba-coba, Harnold kini justru sadar bahwa hadirnya berbagai peluang justru dari kenekatan niat untuk menjajal sesuatu.“Karena ketika mendaftar lalu diterima, peluang untuk mundur itu akan hilang. Ini real saya rasain waktu di Kanada. Sampai di sana saya takut, mau gimana lagi masak mau pulang. Sehingga mau nggak mau saya harus jalani. Jadi cari kegiatan yang memang memaksa kita melawan rasa takut itu,” tambahnya lagi. Kerap menjadi “diplomat muda” Harnold membagi tips yang menunjang aktivitas-aktivitas seputar dunia diplomasinya. Pria yang telah puluhan kali menjadi delegasi konferensi dan mengerjakan proyek internasional ini mengaku tidak suka membaca buku. Ia justru gemar membaca berita-berita online internasional. “Saya buka portal berita seperti BBC, newspaper, dan itu saya download aplikasinya. New York Times juga untuk anak HI ini cukup membantu,” tutup mahasiswa yang bercita-cita segera melanjutkan studi Strata 2 nya melalui beasiswa Strata 2 nya di luar negeri ini. Saat ini, setelah menyelesaikan studinya di UMM Harnold berencanakan untuk segera mengambil jenjang pendidikan selanjutnya dengan konsen baru yakni Politik Lingkungan. Pria yang sangat lekat dengan dunia politik ini mengaku sangat tertarik dengan isu lingkungan yang kini sudah mulai menjadi konsen banyak negara dan menurutnya Indonesia membutuhkan banyak ahli pada bidang politik lingkungan ini. “Sekarang saya sedang fokus mempersiapkan jenjang master saya. Saya mau ambil Politik Lingkungan karena saya rasa Indonesia sangat butuh banyak SDM untuk konsen di bidang ini,” tutupnya. (ani/ sil)