FEB UMM Ajak Wujudkan Ketahanan Pangan Melalui Maksimalisasi Sumber Daya Maritim
Sejumlah masalah di berbagai sektor dihadapi pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pembangunan bangsa, salah satunya yakni masalah pangan. Bagaimana tidak, ketika jumlah populasi penduduk bumi semakin meningkat, luas lahan justru semakin sempit tergerus oleh pembangunan infrastruktur. Salah satu akibatnya, produksi pangan pun juga semakin berkurang. Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Dr. Widayat, MM mengatakan, di tengah pesatnya pembangunan bangsa masalah ketahanan pangan menjadi isu yang masih sering diperdebatkan. Ia juga menyampaikan, selama ini kebijakan pemerintah dinilai cenderung berasentris. “Kita sebagai next generation dari bangsa ini harus merubah orientasi tersebut, membangun ketahanan pangan yang tidak hanya berfokus pada swasembada beras,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin M.Sc Guru Besar FEB UMM menyampaikan, idealnya bumi hanya mampu menampung 3 sampai 4 milyar penduduk. Namun pada tahun 2017 jumlah populasi penduduk bumi sudah mencapai 8 milyar. “Dan lahan juga semakin banyak yang digunakan sebagai bangunan,” tandasnya pada kuliah tamu yang diadakan oleh Program Studi Ilmu ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) di Aula BAU, Rabu (2/5). Selain penyempitan lahan, masalah mendasar yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah di bidang pangan adalah tingginya tingkat ketergantungan Indonesia pada produk impor terutama benih holtikultura dan pakan ternak. “Saat ini, beberapa bahan pangan seperti beras, daging sapi, gula, gandum, bawang putih kedelai, dan garam masih harus diimpor dari luar,” tambahnya. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah pengembangan pedesaan sebagai upaya memakmurkan masyarakat pedesaan dengan memanfaatkan sumber daya alam, khususnya sumber daya maritim dan agraris sehingga hasil-hasil pertanian tersebut menjadi produk industri utama di tengah masyarakat. “Tidak akan mandiri suatu bangsa jika pangannya masih dikuasai negara lain”, ujar Prof Laode menandaskan.
Robot DOME UMM Sabet Juara I Regional IV Kontes Robot Indonesia 2018

Pada pertandingan penyisihan di Wilayah Regional IV yang terdiri dari Jawa bagian timur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua, DOME yang memiliki tingkat akurasi tinggi dan kecepatan stabil keluar sebagai Juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI). Keunggulan ini membuat robot canggih tersebut berhasil menggeser 32 peserta lain dari berbagai universitas. Selanjutnya, Robotika UMM tengah menyiapkan diri untuk berlaga di tingkat nasional. Menyambut even berikutnya, banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Robotika UMM, salah satunya meningkatkan kecepatan dan keakuratan DOME. Ketua Tim Alfan Achmadillah Fauzi menyatakan walaupun DOME telah pada posisi aman untuk maju ke tingkat nasional, masih banyak hasil evaluasi yang harus diselesaikan. “DOME memang sudah aman akan maju ke nasional, tapi kita tidak bisa bersantai. Justru dengan semakin ketatnya kompetisi, kita harus semakin kompak,” tegas mahasiswa Teknik Elektro tesebut. Setelah melewati tiga tahapan dalam KRI 2018 Regional IV, Robotika UMM akan berlaga bersama 24 tim lainnya di tingkat nasional pada Juli mendatang. Pembina Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika UMM Nur Alif Mardiyah mengaku bahwa Robotika UMM sudah sangat prima dan siap untuk melenggang ke nasional. “Walaupun sudah memperoleh juara tapi kita masih harus menyiapkan diri, karena jalan masih panjang untuk meraih prestasi lebih gemilang,” jelasnya. Keluar sebagai Juara I pada kompetisi ini, UMM berhasil mengungguli dua universitas negeri yakni Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) di Peringkat II dan Universitas Brawijaya (UB) di Peringkat III. Selain berlomba pada kategori KRPAI, pada kompetisi tahun ini UMM juga mengeluarkan tim untuk berlaga pada kategori Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda. (nis/ sil)
Gelar Expo Kewirausahaan, Mahasiswa FEB UMM Kampanyekan Percaya Diri Jadi Pengusaha

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelengarakan Pameran Produk Kreatif dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) bertajuk “ Let’s Start by Entrepreneur” di Area Dome UMM, (3/5). Acara ini digelar sebagai langkah menumbuhkan jiwa entrepreneurship sejak dini mahasiswa FEB UMM. “Mengembangkan jiwa entrepreneur harus mulai sejak dini,” ujar Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si Kamis (03/05). Expo produk ini merupakan kolaborasi Program Studi Managemen, Akuntasi dan Ekonomi Studi Pembangunan (ESP) FEB. Pameran diikuti peserta sebanyak 21 kelas dan 205 kelompok wirausaha mahasiswa. Tidak hanya sebagai jalan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa, melalui acara ini FEB juga ingin memupuk rasa percaya diri mahasiswa untuk menjadi wirausahawan yang sukses. Ketua pelaksana Expo Kewirausahaan Sulfian menegasakan, pameran ini juga sebagai ajang mahasiswa untuk menampilkan produk inovasi mereka setelah mengampu mata kuliah Kewirausahaan. ”Acara ini merupakan bentuk praktik nyata dari mata kuliah kewirausahaan,”ujar mahasiswa Program Studi Manajemen tersebut.
Rayakan Hardiknas, Ratusan Siswa SD Kuliah di UMM

Mengusung tema Penguatan Karakter dan Kebudayaan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 dengan cara unik. Bekerjasama dengan Jawa Pos Radar Malang, UMM merayakan Hardiknas 2018 dengan menghadirkan kurang lebih 460 siswa sekolah dasar (SD) di Malang Raya untuk menikmati pengalaman belajar di perguruan tinggi. Kegiatan dikemas menarik dalam bentuk eksplorasi kampus. Seluruh peserta diajak mengikuti upacara peringatan Hardiknas bersama seluruh civitas akademika UMM. Pada momen ini, setiap perwakilan sekolah mendapat kesempatan untuk disematkan toga oleh Rektor UMM Fauzan. Mereka lalu berkunjung ke beberapa laboratorium yang ada di UMM dan merasakan pengalaman diajar oleh profesor, diantaranya Laboratorium Jalan Raya, Laboratorium Drama, Laboratorium Terpadu Pertanian dan Peternakan, Laboratorium Ilmu Komunikasi, Laboratorium Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPA IPTEK), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), dan Panel Surya. Selain memperingati Hardiknas, acara ini juga digelar sebagai bentuk tanggungjawab UMM untuk memupuk mimpi dan cita-cita generasi muda Indonesia yang merupakan para calon pemimpin bangsa. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Sidik Sunaryo pada pembukaan upacara menyampaikan bahwa ia berharap, acara ini dapat memberikan semangat kepada anak-anak untuk terus melanjutkan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Ia pun mengapresiasi semangat para siswa yang datang ke UMM. “Saya ucapkan selamat kepada adik-adik SD yang hari ini turut serta merayakan Hardiknas di Kampus Putih,” jelasnya. Ratusan siswa SD berbondong-bondong mengunjungi satu laboratorium ke laboratorium lainnya. Salah seorang guru pendamping dari SD Kristen Petra Feri Ferdiansyah mengaku sangat mengapresiasi kegiatan ini. Baginya UMM merupakan kampus yang sangat menjunjung tinggi makna perbedaan kebudayaan sesuai dengan semangat perayaan Hardiknas 2018. “Saya sebagai perwakilan dari sekolah non-muslim sangat senang dan mengapresiasi kegiatan ini. Ini merupakan bukti nyata bahwa UMM sangat menjunjung tinggi perbedaan,” tegasnya. Tidak hanya menyajikan wisata mengelilingi UMM, agenda bertajuk Kids on Campus ini juga menghadirkan Mobil KaCa di tengah waktu peserta menunggu giliran masuk ke dalam setiap laboratorium. Syaqif Jalaludin Ahmad salah satu siswa dari SD As-Salam mengaku sangat senang saat diajak berkunjung ke Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. “Tadi ke pabrik roti dan nata de coco, belajar buat roti tapi gagal. Tapi gak masalah saya senang sekarang bisa buat roti di pabrik,” kata siswa kelas lima ini. Acara ditutup dengan gelaran wisuda bagi seluruh siswa-siswi sekolah dasar. Setiap siswa disematkan gordon layaknya wisudawan universitas sebagai tanda mereka telah lulus kuliah satu hari di UMM. (nis/ sil)
Reaktualisasi Pancasila, Prodi PPKN UMM Selamatkan Karakter Generasi Muda

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia dan merupakan pedoman dan pandangan hidup bagi masyarakat. Namun pada saat ini masyarakat Indonesia khususnya generasi muda hanya sedikit yang paham dan mengerti hakikat dari Pancasila, sehingga perilaku dan moral mereka tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada di Pancasila. Situasi tersebut membuat Program Studi (Prodi) PPKN (Civic Hukum) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tergerak mengadakan Seminar Nasional Pancasila bertemakan ‘Reaktualisasi Pancasila sebagai Roh Penguatan Pendidikan Karakter’ yang digelar di Aula GKB 4 lantai 9 pada Sabtu (28/4). Seminar ini merupakan serangkaian kegiatan dari Festival Pancasila II yang diadakan Prodi PPKN UMM. Lewat seminar ini para pembicara yaitu Rektor Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr. Warsono, M.S, Wakil Ketua DPRD dan Budayawan Jatim Dr. H.M. Soenarjo, M.Si dan Dosen Prodi PPKN UMM dan Ketua PDM Kota Batu Drs. Nurbani Yusuf, M.Si mengajak generasi muda Indonesia untuk berperilaku sesuai dengan Pancasila karena Pancasila merupakan ideologi bangsa. Rektor Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr. Warsono juga merinci Pancasila sesungguhnya ada didalam diri para manusia, oleh karena itu negara-negara yang tidak punya Pancasila pun sebetulnya memiliki nilai-nilai tersebut. Sayangnya, bangsa Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara justru kehilangan hal ini. “Bangsa Indonesia masih belum bisa menerapkan nilai-nilai tersebut, maka dari itu kita harus bisa mengamalkan Pancasila yang merupakan ideologi bangsa kita sendiri,” ujar Warsono. Mengamini Warsono, Ketua Prodi PPKN UMM, Drs. M. Mansur Ibrahim, M.Hum. menyampaikan bahwa saat ini para generasi muda telah megalami degradasi moral. Untuknya, pembaruan nilai-nilai kehidupan masyarakat perlu dilakukan. “Kegiatan ini bagian dari kepedulian Prodi PPKN untuk mereaktualisasi yang mana sekarang banyak persoalan seperti anak-anak kecil degradasi moralnya sudah tidak bagus lagi,” pungkasnya. (gan/sil)
Sukses Digelar, Rektor Cup UMM jadi Kompetisi Elegan untuk Lahirkan Generasi Hebat
Sabtu (28/4), menjadi hari terakhir penyelenggaraan rangkaian kegiatan Rektor Cup 2018 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setelah berlangsung (10/3-28/4) akhirnya hari ini Rektor Cup mencapai puncaknya. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs. H. Fauzan, M. Pd menutup secara resmi rangkaian kegiatan Rektor Cup 2018 di Helypad kampus III UMM. “Hari ini saya lihat, tahun ini masa saya pelaksanaan rektor cup cukup menggembirakan, tidak menyisahkan ketegangan, tidak menyisakan dendam, tidak menyisakan hal-hal yang negatif, tetapi semuanya dijalaankan dengan fair dan Alhamdulillah berakhir dengn husnul khotimah (berakhir dengan baik.red)”, ujar Drs. H. Fauzan, M. Pd selaku rektor umm sekaligus menutup kegiatan Rektor Cup 2018. Dimeriahkan oleh penampilan pemenang delegasi pada kompetisi Rektor Cup 2018 diantaranya Perform Solo Vokal Pop (Pa/Pi), Perform Vokal Dangdut dan tampilan-tampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) acara berhasil menarik animo mahasiswa dan sebagian besar civitas akademika. Dengan mengusung tema “Smart And Elegant Competition to be Great Generation” Ketua pelaksana Rektor Cup 2018, Dr. Nur Subeki, MT memaparkan bahwa Rektor Cup merupakan kesatuan program yang tidak dapat dipisahkan dari garis kebijakan UMM sebagai lembaga pendidikan. “Seluruh program kegiatan senantiasa diarahkan pada penggalian dan pengembangan potensi mahasiswa demi terciptanya insan yang utama,”tandasnya. Bekerjasama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mempertandingkan dan memperlombakan bidang olahraga, kesenian, penalaran dan keagamaan rangkaian kompetisi tertinggi di tingkat universitas ini diikuti oleh kontingan dari 10 fakultas dan didampingi oleh 34 UKM di UMM. Mengumpulkan medali emas terbanyak, pada Rektor Cup 2018 ini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP0 ) kembali meraih juara umum, diikuti dengan Juara II dari Fakultas Teknik dan Juara III diraih Fakultas Psikologi.
Mahasiswa UMM Motivasi Korban Bullying Hingga ke AS
Publikasi data yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada akhir tahun 2017 menyatakan bahwa hampir satu juta orang pada setiap bulannya meregang nyawa karena gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang dialami oleh orang-orang tersebut pada umumnya adalah berakar dari depresi dan rasa kecewa akibat bullying. Fenomena tersebut menggugah, Rizka Aliya Putri untuk mengampanyekan kesadaran masyarakat pada korban gangguan kesehatan mental yang berujung pada tindakan bullying. Rizka mengaku bahwa isu ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun di luar sana juga menjadi isu utama dalam penanganan kesehatan jiwa. “Isu ini, isu yang legit untuk diselesaikan soalnya ini kan berhubungan dengan kehidupan manusia yang bukan sekedar how to manage people orang sakit terus biar jadi nurut,” jelas mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Melalui Teman Bicara yang merupakan hasil praktikum pada salah satu mata kuliah di Ilmu Komunikasi, Rizka melanjutkan projek ini untuk bisa menjangkau lebih luas individu dengan gangguan kesehatan jiwa ini. “Aku udah minta restu ke temen-temen pas ngerjakan praktikum ini buat terus jalan dan pengen ngerangkul banyak orang untuk sharing lagi,” tegasnya. Menjadi salah satu dari 37 delegasi seluruh dunia pada ajang Global Engagement Summit (GES) 2018 di Chicago, Amerika Serikat menjadikan Rizka satu-satunya perwakilan Indonesia yang hadir dalam ajang bergengsi tersebut. GES merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh anggota organisasi GES dari North Western University, Evanston, Amerika Serikat. Rizka yang juga pernah menjadi korban bullying ini menjelaskan lebih jauh tentang pengalamannya saat ia menjadi korban dan bagaimana dia menyelesaikannya. “Aku tuh korban bullying pas SMP dan bullying yang aku rasain itu lewat ucapan yang orally dan itu kan lebih membekas yah,” jelas gadis asal Malang ini. Ia juga mengaku Teman Bicara merupakan projek sosial yang memfasilitasi individu dengan gangguan kesehatan jiwa untuk dapat berbagi dan mendapatkan motivasi. Kehadirannya pada ajang GES ini semakin membulatkan tekatnya untuk membentuk social support campaign. Selain itu, projek ini juga mendapatkan sambutan hangat dari tim sukses Barack Obama yang saat itu menjadi mentornya pada salah satu sesi di GES. “Mereka itu appreciate banget sama kerja keras temen-temenku lewat Teman Bicara ini, bahkan ada yang bilang kalau aku adalah orang yang unik karena mau ngurusin ginian,” papar Rizka. Lebih lanjut, Rizka juga menjelaskan bahwa di Indonesia sendiri banyak individu yang membutuhkan dukungan dari lingkungan sosialnya untuk menyelesaikan permasalahan yang menganggu kesehatan jiwa individu tersebut. Namun, ia mengaku bahwa di Indonesia stigma bahwa mereka yang pergi ke psikolog adalah orang yang gila dan harus ditempatkan di suatu kelompok berbeda. “Karena mereka gak dapat tempat di lingkungan sosialnya, orang-orang itu milih memendam dan terus menjadi introvert tanpa tahu sebenarnya ada masalah apa pada dirinya,”tambahnya. Gadis berhijab ini berpesan kepada siapapun untuk tidak melakukan tindankan perudungan dan intimidasi pada orang-orang yang diduga memiliki gangguan kesehatan jiwa. Baginya, gangguan jiwa yang terjadi pada diri individu seseorang mayoritas diciptakan oleh lingkungan yang tidak memberikan dukungan dan cenderung mengasingkan individu tersebut. “Jadi waktu jalan event ini waktu buat praktikum, aku nemuin ratusan manusia dengan berbagai masalah kesehatan jiwa yang kebanyakan karena lingkungan sosial yang gak aware dan support,” pungkasnya.
Gelar Semnas, Psikologi UMM Ajak Optimalkan Pendidikan ABK
Pendidikan menjadi hal krusial yang harus diperhatikan dalam fase hidup seseorang. Sebab, pendidikan adalah kunci peradaban untuk menjadikan tata bangsa menjadi lebih baik. Hal tersebut berlaku juga untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, maka hal itu berlaku bagi siapapun tanpa harus membeda-bedakan. Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dra. Poppy Dewi Puspitawati, M. menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah menggalakkan program Gerakan Indonesia Pintar, Sekolah Vokasi dan Pendidikan Karakter. Untuk sekolah vokasi khususnya, perlu terus dikembangkan dengan maksimal untuk memberikan bekal keahlian khusus pada siswa termasuk siswa ABK. Selama ini, setelah menempuh sekolah luar biasa (SLB) mereka tidak tahu harus melangkah kemana. Padahal para siswa ini juga perlu memiliki keahlian khusus untuk berpartisipasi dalam membangun negeri. “Bagaimanapun, ABK tidak boleh ketinggalan menjadi bagian dalam pembangunan Indonesia,” tandas Poppy pada Seminar Nasional tentang Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Aula BAU, Sabtu (28/4). Senada dengan Poppy, Senior Staff Fakultas Psikologi UMM Dr. Tulus Winarsunu dalam materinya memaparkan, peran aktif orang tua dalam penyediaan layanan pendidikan yang fleksibel serta keterlibatan tenaga profesional merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam mengatasi masalah-masalah anak berkebutuhan khusus. “ABK seharusnya memperoleh pendidikan yang dapat membantu mengaktualisasikan potensi-potensi spesialnya sehingga berguna bagi bangsa dan negara,” tuturnya. Dihadiri oleh guru dan praktisi terapis di bidang ABK yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur seminar ini digelar utnuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei nanti. Mengusung tema “Optimalisasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus yang Humanis dan Aksesibel di Sekolah” seminar dimeriahkan dengan tari merak oleh siswa ABK dari SMK 2 Malang, penampilan angklung oleh siswa-siswi SLB River Side Malang. Selain itu, jaga dilakukan launching Laboratorium Psikologi Terapan Pengembangan Individu Berkebutuhan Khusus (LPT-PIBK) UMM yang digagas untuk memberikan layanan profesional untuk membantu mengembangkan potensi individu berkebutuhan khusus. Ketua Pelaksana Acara, Putri Saraswati menuturkan atraksi yang disajikan menjadi bukti bahwa ABK juga dapat berkarya. Meski dalam keterbatasan, mereka mempunyai banyak potensi yangd apat terus dikembangkan. “Harapannya kita mampu memfasilitasi dan menggali potensi-potensi tersebut,” tutup dosen Fakultas Psikologi UMM tersebut. (Humas UMM)
UMM Lestarikan Budaya Berpuisi Lewat Musikalisasi Puisi
Kembali dihelat untuk ketiga kalinya, apresiasi karya sastra puisi oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam memperingati hari puisi nasional yang jatuh pada tanggal 28 April, hari ini dikemas apik dalam balutan penampilan musikalisasi puisi. Sebagai salah satu upaya memasyarakatkan puisi, kegiatan ini ditujukkan secara khusus bagi siswa SMA untuk melestarikan puisi sebagai produk budaya. Sebagai rangkaian acara yang bertajuk Malam Seribu Puisi ini, juga dilaksanakan lomba menulis dan musikalisasi puisi antar SMA/ SMK Sederajat yang diikuti oleh hampir seluruh sekolah di Malang Raya. Pada pembukaan, Rektor UMM Fauzan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dilaksanakannya kegiatan ini. Ia juga berpesan kepada seluruh civitas akademika UMM, untuk terus berkarya dalam bidang apapun. Hal tersebut merupakan bentuk penyaluran kreatifitas mahasiswa. “Kreatifitas yang anda ukir tidak akan berhenti pada malam ini,” jelas pria yang juga dosen Pendidikan Bahasa Indonesia UMM tersebut. Selain itu, secara khusus UMM mengundang AriReda yang merupakan duo vocal yang terdiri dari Ari Malibu dan Reda Gaudiamo yang terkenal dengan album-album karya musikalisasi puisinya. Musikalisasi puisi dipilih sebagai sarana mengedukasi masyarakat melalui perpaduan musik dan puisi yang juga sekaligus bentuk baru dalam menikmati puisi. Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UMM Sugiarti mengaku bahwa agenda ini dilaksakan sebagai jalan bagi akademisi membawa misi melestarikan budaya. “Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya kita (PBSI) untuk melestarikan budaya berpuisi,” jelasnya. Pada helatan ini AriReda mempersembahkan sepuluh lagu, salah satu diantaranya adalah musikalisasi puisi Pada Suatu Hari Nanti yang merupakan puisi karangan sastrawan Sapardi Djoko Damono. Bagi Reda, musikalisasi puisi adalah cara mereka untuk melestarikan sastra di tengah kehidupan modern. Ia bersama pasangan duetnya Ari juga berharap anak-anak muda Indonesia terus mencintai sastra dengan cara yang paling sedehana yakni membacanya. “Aku sama Ari paling seneng kalau bisa lihat anak muda itu mau baca sastra, apalagi kalau bisa menciptakannya,” jelas wanita berkacamata ini. Acara yang dimulai sejak pukul 19.00 ini, membius para hadirin dengan kumpulan-kumpulan puisi yang telah dimusikalisasi oleh AriReda. Bahkan salah satu pengunjung berasal dari Surabaya Yanti Dewi Permata mengaku sengaja kembali ke kampus putihnya untuk menyaksikan dan sekaligus menyapaikan rasa bangganya kepada UMM karena menghelat agenda apresiasi sastra secara konsisten. “Saya alumni sini, tahu ada AriReda saya langsung deh beli tiket ke Malang. UMM emang selalu bikin bangga,” jelas alumni mahasiswa PBSI ini.
Mobil Pintar UMM Hibur Pengunjung Pameran Semarak Hadiknas Kota Malang
Kehadiran Mobil Pintar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ternyata tidak hanya digandrungi di sekolah saja, tapi di arena pameran yang berada di halaman kampus PPPTK BOE/VEDC Kota Malang. Kali ini Selasa (24/4) Mobil yang juga popular dengan sebutan Mobil KaCa (Kamis Membaca) tersebut menyapa pengunjung pameran Semarak Hardiknas yang Senin kemarin di buka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. VEDC sebagai penyelenggara pameran bekerjasama dengan tujuh UPT Kemdikbud, Dinas Kota Malang dan Dindik Propinsi Jawa Timur diikuti puluhan peserta dari perkumpulan UPT dibawah Kemdikbud, Lembaga Pembinaan Bahasa, Program Darmasiswa Malang, Dinas Pemerintahan Kota Malang serta beberapa politeknik. Sebagai mana fungsinya, Mobil Kaca UMM menyapa pengunjung dengan menyediakan buku-buku terbaiknya yang menarik untuk dibaca. Lebih dari itu, mobil pintar kali ini menghadirkan hiburan musik akustik yang dibawakan oleh Jasmine mahasiswa asing asal Vietnam dari lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing / BIPA UMM. Dengan iringan gitar dari Danang, staf BIPA UMM, Jasmine dengan santai menyapa para pengunjung dengan berbahasa Indonesia yang fasih dan sesekali di selingi dengan Bahasa Vietnam. Sontak, suara lembut nan melengkingnya membuat pengunjung yang sedang asyik membaca dan berjalan diarena pameran terkesima menyaksikan alunan lagu kebangsaan yang dinyanyikannya. Ternyata, lagu-lagu yang dinyanyikan Le Thi Nhu Lai, nama asli Jasmin, adalah lagu kebangsaan yang kita sebagai warga Indonesia hampr melupakannya seperti Tanah Air, Indonesia Jaya dan lainnya. “Wahh… orang Vietnam kok mirip orang sini ya. Fasih dan logatnya sudah mirip orang Jawa dan merdu sekali suaranya,” ujar Rika, seorang siswi SMP Negeri di Kota Malang.. Santi, siswa SMP Negeri 16 Kota Malang mengungkapkan kesenangannya membaca buku ensiklopedi Sains yang dibawa mobil pintar UMM. “Buku ini sangat jarang dijual umum di toko buku biasa. Saya bersyukur, bisa menemukannya disini meski tidak boleh dibawa pulang. Makanya saya sempatkan untuk mendalami isinya di sini. Terima kasih Mobil Pintar UMM yang telah menyediakan buku-buku yang menarik dan bermutu”, ujar dara manis ini dengan senyum khasnya. Mobil Kaca yang mempunyai konsep Kancane ternyata tidak hanya terpaku dengan makna kepanjangannya saja. Tetapi inovasi lain yang bisa menghibur, membangkitkan dan menggairahkan literasi dikalangan masyarakat bisa saja dilakukan. Seperti halnya hiburan musik akustik dengan dibawakan oleh vokalis dari luar negeri juga sebagai inovasi kreatif dalam rangka memajukan dan mencerdaskan bangsa. Seperti Indonesia Pusaka, Bendera, Tanah Air merupakan lagu negara yang semestinya kita lebih kuat menghayatinya karna dalam liriknya selelau memberikan semangat kebangsaan dan kecintaan sebagai bagian dari warga Indonesia. “Semoga kehadiran mobil pintar UMM ini bisa menyadarkan kita akan pentingnya literasi dalam rangka ikut mencerdaskan generasi bangsa”, ungkap Ridlo Setyono, Koordinator Operasional Mobil Pintar UMM. Kedepan, harapannya Mobil Pintar ini akan lebih mewarnai dan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat umum yang kedepannya manjadikan budaya sadar literasi yang merupakan salah satu kunci kemajuan bangsa.