Sekul UMM, Hadirkan Wisata Kuliner Bernuansa Kekayaan Budaya

Malang adalah kota tua yang kaya akan budaya, salah satunya adalah Topeng Malangan. Berangkat dari hal tersebut, pada Sabtu (31/3) Sengkaling Kuliner (Sekul) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) atas inisiatif Dr.Nazaruddin Malik selaku Direktur Utama Taman Sengkaling UMM, menggelar pertunjukan budaya Pagelaran Topeng Malangan yang bertajuk “Panji Mbangun Candi”. Pagelaran ini dimainkan oleh seniman dan seniwati dari Sanggar Kayu Tangan Malang. Pertunjukan menceritakan kisah kepahlawanan seorang Panji yang bernama Raden Inu Kertapati atau Panji Asmarabangun dalam membangun Candi yang banyak menghadapi rintangan. Karena semangatnya yang luar biasa, Panji berhasil mengalahkan musuh-musuhnya sehingga rakyatnya pun hidup aman dan sejahtera. Rektor UMM, Fauzan, menyampaikan bahwa pertunjukan topeng ini mencerminkan semangat yang diusung UMM.  Seperti halnya kegigihan Panji dalam membangun candi, UMM bertekad untuk berekspansi dalam hal sarana dan prasarana untuk mendukung dan memajukan pendidikan meskipun banyak rintangan yang harus dihadapi. “Kami akan terus memperbaiki sarana dan prasarana agar kualitas pendidikan kami semakin baik dan maju,” tandas Fauzan. Selain itu Fauzan juga menambahkan, pagelaran ini diharapkan dapat memberi warna baru dalam mengenalkan budaya serta kearifan lokal Malang Raya pada masyarakat luas dengan cara baru. “Selain berkuliner, pengunjung juga bisa belajar mengenal dan mempelajari budaya lokal asli Malang,”katanya. Seperti diketahui, untuk menunjang pendanaan kampus, UMM memiliki banyak unit bisnis salah satunya adalah Taman Rekreasi Sengkaling yang diakuisisi UMM sejak 2013 lalu dan berubah nama menjadi Taman Sengkaling UMM. Selain civitas akademika, acara ini juga dihadiri masyarakat umum. Huynh My Phoi, seorang mahasiswa asing asal Vietnam mengaku senang menyaksikan pertunjukan ini karena dapat belajar budaya dan bahasa lokal Indonesia. ”Saya suka gamelan dan angklung. Tarian Indonesia sangat indah, bajunya juga indah,”pungkas mahasiswi yang sudah setahun di Indonesia tersebut. (lus/sil)

Rancang Lembaga Pendidikan Vokasi, UMM Siapkan SDM untuk Profesi Kreatif

Kebutuhan sumberdaya manusia dengan keterampilan khusus dalam memenuhi kebutuhan industri terus dilahirkan oleh lulusan Pendidikan Vokasi. Lulusan Pendidikan Vokasi dinilai lebih mumpuni karena lebih banyak melaksanakan praktik dari pada teori. Kesadaran akan hal tersebut membuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersiap untuk merancang Lembaga Pendidikan Vokasi. Hadir dalam gelaran diskusi perancangan Pendidikan Vokasi, Ananto Kusuma Seta yang menyampaikan bahwa di Indonesia saat ini membutuhkan sumberdaya manusia dalam bidang tertentu yang dituntut memiliki kualifikasi keterampilan secara terpusat. “Saat ini reformasi industri menuntut banyak hal pada setiap sumberdaya manusia salah satunya kualifikasi keterampilan secara khusus,” jelas Staff Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam perannya, pendidikan vokasi mempersiapkan sumberdaya manusia yang benar-benar sesuai kebutuhan industri. Selain itu, sumberdaya manusia yang dididik melaluI pendidikan vokasi telah memenuhi kebutuhan keterampilan industri seperti lebih memahami teknis, managerial dan praktik di lapangan. “Lulusan vokasi adalah sumberdaya manusia yang lebih melek dengan keadaan lapangan,” terang Ananto. Rektor UMM Fauzan menyatakan bahwa rencana pendirian pendidikan vokasi di UMM adalah sebagai tindak lanjut dari beberapa program studi di UMM yang sudah lebih dahulu melakukan kerjasama. Saat ini program kerjasama tersebut masih dalam bentuk praktik lapang yang tujuannya juga sebagai bekal mahasiswa untuk memperoleh peningkatan keterampilan sesuai bidang keahlian masing-masing. “Rencana didirikannya lembaga pendidikan vokasi ini sebagai bentuk tindaklanjut kerjasama-kerjasama dalam bidang peningkatan keterampilan bagi mahasiswa,” terangnya. Sementara itu, Lembaga Pendidikan Vokasi yang akan dibuka oleh UMM akan menjadi lembaga pendidikan vokasi pertama yang dimiliki perguruan tinggi swasta di Jawa Timur. (nis/…)

Sambut Perayaan HFN, Kemendikbud RI Gandeng Kine Klub UMM Gelar Nobar Film Sejarah

Menjadi salah satu pelopor perfilman di Malang menjadikan Kine Klub UMM terus berkreasi dalam berbagai kegiatan salah satunya dalam menyambut perayaan Hari Film Nasional (HFN) ke – 68 yang dipusatkan di Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada pembukaan rangkaian acara Nontom Bareng (Nobar) ini hadir Staff Khusus Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) bidang Komunikasi Publik Nasrullah menyampaikan bahwa film adalah produk budaya yang harus dijaga dan terus dilestarikan sebagai bentuk penguatan karakter bangsa. “Kemendikbud menjadikan film sebagai produk budaya, sebagai bentuk penguatan karakter bangsa,” jelasnya. Selain itu, Nasrullah juga mendukung sekali produk-produk film yang telah dibuat oleh mahasiswa UMM yang bergabung di Kine Klub atau secara perseorangan. Menurutnya, masa depan perfilman Indonesia menunjukkan hal yang semakin baik dari segi kualitas dan kuantitas. Film adalah produk ekonomi kreatif yang menjadi magnet baru untuk melahirkan sineas muda di Malang khusunya. “Era saat ini profesi-profesi kreatif akan terus mendominasi perkembangan perekonomian nasional salah satunya adalah film,” tegas Nasrullah. Menggandeng Pusat Pengembangan Film (Pusbang Film Kemendikbud RI) dan PPPPTK PKn dan IPS, acara yang dikemas dalam kegiatan Nonbar film “Ketika Bung di Ende” ini mendapat antusiasme yang luar biasa dari mahasiswa UMM dan masyarakat umum. Salah satu masyarakat umum yang hadir, Yuhalisana Kusuma Wardhani mengaku tertarik hadir dalam kegiatan ini karena sangat menggemari film bertemakan sejarah dan pemutaran film ini sangat berkesan baginya. “Memang sengaja datang ke UMM untuk nonton film sejarah ini apalagi nonton bareng Pusbangfilm,” jelasnya. Melalui penayangan film-film bergenre sejarah seperti ini diharapkan dapat memperkuat nasionalisme yang dimiliki oleh pemuda khusunya mahasiswa. Ketua Umum Kine Klub UMM Hafidz Alamudi, dipilihnya film Ketika Bung di Ende ini merupakan upaya untuk mengingatkan kembali kepada seluruh pemuda bahwa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika dan melalui film karakter bangsa akan semakin kuat. “Penayangan film ini sebagai bentuk upaya kita untuk memperkenalkan pada khalayak bahwa film dapat menjadi saran penguatan karakter bangsa,” jelasnya. Film Ketika Bung di Ende ini merupakan film yang digarap oleh Kemendikbud sebagai bentuk apresiasi kepada Proklamator Indonesia Soekarno sekaligus sebagai bentuk unjuk gigi bahwa melalui pertunjukkan drama yang merupakan salah satu adegan dalam film ini masyarakat Indonesia bisa menjadi kuat. (nis/sil)

Bekraf RI Siap Kawal Mahasiswa UMM Ciptakan Produk Kreatif

Kembali menggaungkan program UMM Pasti yakni mahasiswa pasti lulus empat tahun, mahasiswa pasti bekerja setelah lulus dan mahasiswa pasti mandiri Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan membakar semangat mahasiswa melalui Kuliah Umum Ekonomi  Kreatif oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Bekraf RI) Triawan Munaf. Dalam pembukaannya Fauzan menyampaikan bahwa banyak mahasiswa UMM yang telah memiliki karya dan siap dijadikan produk ekonomi kreatif. “Belakangan ini sudah banyak mahasiswa UMM yang memiliki produk-produk kreatif,” tandas Fauzan. Senada dengan Fauzan,  Menteri Pendidikan dan Kebudayan Muhadjir Effendy juga menyampaikan hal yang sama. Ia bahkan menegaskan bahwa sejak lama UMM menjadi salah satu pionir perfilman yang ada di Malang. Berbagai karya dan cinemas muda juga lahir dari kampus ini. “Di Malang, UMM merupakan pelopor perfilman hingga Eagle Awards digelar beberapa kali di sini,” tegas Muhadjir. Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Bekraf RI) Triawan Munaf memaparkan sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar kedua, perfilman Indonesia sejatinya harus terus berbenah. Usaha tersebut utamanya dapat dilakukan dengan mengandeng para sineas muda. Apalagi mengingat peminat terbesar perfilman Indonesia saat ini adalah para remaja. “Anak muda yang sekarang berkarya dalam bidang perfilman sangat banyak dan karya mereka sudah mulai diperhitungkan,” jelas bapak artis papan atas Sherina Munaf tersebut. Pada gelaran yang dilaksanakan di Hall BAU UMM ini, Triawan juga menyampaikan bahwa peluang mahasiswa untuk berkiprah dalam bidang ekonomi kreatif sangat besar. Keberadaan mereka bahkan mendominasi penciptaan produk-produk kreatif saat ini. Selain bangga, Triawan juga menyatakan kesiapannya untuk mendukung hal ini. “Bekraf sangat siap dalam mendampingi,” kata Triawan. Tidak hanya sekedar kuliah umum, di akhir UMM dan Bekraf juga melaksanakan MoU untuk mendukung  program dan produk kreatif ciptaan mahasiswa UMM.  (nis/sil)

LP3A UMM Sosialisikan Empat Pilar Ketahanan Keluarga

Hal ini disampaikan Kepala Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Thathit Manon Andini pada kajian Optimalisasi Organisasi dalam Rangka Meningkatkan Wawasan Perempuan untuk Ketahanan Keluarga di Ruang Sidang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Rabu (28/3). “Sebagai guru untuk anak kita harus banyak wawasan,” tegas dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMM ini. Pada gelaran yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Klub Wanita Internasional yang jatuh pada tanggal 27 Maret tersebut, Thathit juga menyampaikan bahwa dalam membangun ketahanan keluarga, ada empat pilar yang perlu ditegakkan. Yakni spiritual, kesejahteraan, keamanan dan kenyamanan, serta keadilan. Selain itu, seorang ibu juga penting untuk memastikan bahwa anak-anak nyaman ketika berkomunikasi dengan orang tua dan anggota keluarga. “Kalau anak tidak nyaman di rumah maka dia akan mencari kenyamanan di luar dan di luar pengaruhnya sangat luar biasa,”tambahnya. Pada pemaparan selanjutnya, Kepala LP3A sebelumnya Periode 2012-2015 Nurul Asfiah memaparkan tentang penguatan kapasitas perempuan dalam kolaborasi dan kemitraan menuju ketahanan keluarga. Menurutnya, sistem terkecil dari sebuah negara adalah keluarga. “Sebagai unit terkecil di masyarakat, keluarga mempunyai peran yang penting dalam pembangunan nasional,” ujar Nurul. Ia juga menyampaikan bahwa ketahanan sebuah negara selaras dengan kehidupan anak mudanya, karena yang akan meneruskan nasib sebuah negara adalah generasi muda itu sendiri. “Masa depan sebuah bangsa dilihat dari kehidupan anak-anak pada hari ini,” ucap alumni Magister Manajemen UMM tersebut. (ardr/sil)

Inovatif, Mahasiswa UMM Gagas Aplikasi Sapu Bersih Pungli

Korupsi telah membudaya di Indonesia. Tidak hanya pada kalangan pemerintah dan elit politik, budaya laten ini juga telah menginfeksi masyarakat hingga ke bawah, salah satunya adalah pungutan liar (Pungli). Menyikapi fenomena ini, Presiden Joko Widodo bahkan secara khusus menyerukan pemberantasan Pungli mulai tahun 2016 lalu. Website saberpungli.id, SMS dan call center juga disiapkan untuk memaksimalkan program gerakan tersebut. Dalam rangka mendukung program pemerintah ini, Zul Fahmi Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  membuat aplikasi Sapu Bersih Pungli berbasis android. Zul merasa, penggunaan cara konvesional seperti SMS kurang efektif untuk digunakan saat ini. “Pada era milineal seperti hari ini, dibutuhkan inovasi yang lebih mudah digunakan dan dapat membantu tugas pemerintah untuk memberantas praktik Pungli  yang meresahkan,” ujar mahasiswa asal Balikpapan tersebut. Cara kerja aplikasi Sapu Bersih Pungli ini cukup mudah. Hanya dengan fitur shake you’re phone (mengguncangkan telepon genggam) saat berada di lokasi  yang dicurigai terjadi pungli, maka secara otomatis aplikasi akan menangkap titik koordinat lokasi dimana anda berada. Informasi ini lalu secara otomatis akan terkirim pada server aplikasii dan ditindak lanjuti oleh petugas. “Diharapkan dengan adanya aplikasi ini dapat menjembatani kepentingan masyarakat untuk hidup tenang tanpa Pungli dengan kepentingan pemerintah untuk memberantas Pungli,”tandas Zul Fahmi. Tengah merampungkan proses finishing, Zul berharap kedepannya ia dapat menjalin kerjasama dengan pemerintah agar aplikasi ini lekat dengan masyarakat dan memberikan manfaat optimal. Target pemerintah untuk memberantas Pungli juga lebih cepat tercapai. “Dibuat sejak Mei 2017 lalu, rencananya aplikasi ini rampung pada pertengahan April. Setelah itu aplikasi ini akan dilaunching di App Store Android agar setiap pengguna smart phone dapat mengunduh dengan mudah,”pungkasnya. (usy/sil)

Ajak Mahasiswa Kenali Animasi, Lab Komunikasi UMM Adakan Kelas Kreatif

Industri kreatif dewasa ini menjadi bidang yang menjanjikan, salah satunya dunia animasi. Hal tersebut dapat terlihat dari produksi game dan animasi 3D yang makin digemari  oleh masyarakat. Animasi juga banyak digunakan di berbagai bidang dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari dunia periklanan, industri film, simulasi, pembuatan game, seni, dan bahkan pendidikan. Berangkat dari latar belakang tersebut Laboratorium Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kelas kreatif mengenai Pengenalan Teknik Dasar Animasi dengan menghadirkan pemateri muda berprestasi Eeng Ahmadi, pendiri Studio Engon Animasi. Acara bertajuk Creative Class tersebut diselenggarakan di Mini Teater Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM Selasa (27/3). Kepala Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM Novin Farid menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini pihaknya ingin memfasilitasi mahasiswa agar tidak hanya terjebak  pada materi di kelas-kelas reguler.  Hadirnya kegiatan ini menjadi salah satu alternatif semacam kelas inspirasi dan kelas kreatif. “Apalagi animasi kan menarik sekali, mungkin mahasiswa yang punya passion di bidang ini bisa mengembangkan bakatnya melalui fasilitas yang kita berikan ini,” ujar Novin. Kedepannya, Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM berencana akan menjalin terus memperkuat kerjasama dengan berbagai ahli di bidang ilmu komunikasi, terutama dengan para alumni agar creative class semacam ini dapat terus terselenggara. Rafi Zainu Fawaiz, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM angkatan 2016 mengaku  mengikuti acara ini karena ketertarikannya terhadap editing.  “Saya ingin mendalami dan mengembangkan minat serta bakat saya dalam editing. Acara creative class ini sangat menarik,”pungkasnya.

Kuatkan Silaturahmi Antar PTM, UMM dan UMS Gelar Sparring Tour

Untuk menjaga silaturahmi dan kekeluargaan antar klub olahraga dilingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tennis dan Badminton  menjalani sparring tour ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Ahad (25/3/18). Ini merupakan kunjungan balasan setelah tim UMS hadir ke Malang pada bulan Januari kemarin. Bertandang ke kota Batik Solo, UMM tidak hanya membawa tim tenis tapi juga sekalian mempertandingkan tim badmintonnya. Wakil Rektor II UMS Dr Sardjito mengaku sangat senang dan bangga atas kehadiran tim UMM di Solo. “Semoga pertandingan persahabatan ini memperkuat jalinan silaturohmi dan mempererat rasa kekeluargaan antara tim tenis UMM dan UMS,” ujarnya memberikan sambutan pembuka sembari memperkenalkan satu persatu pemain dari timnya. Sementara itu, perwakilan dari tim UMM Dr. Sulardi, selaku Wakil Ketua UMM Tenis mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah atas sambutan yang hangat dan meriah. “Semoga eratnya silaturohmi ini bisa terawat dan memberikan keberkahan bagi semua. Bukan kalah menangnya, tapi semangat jalin silaturahminya sehatkan jasmani dengan jargon menang Alhamdulillah, kalah bersedekah,” ungkap dosen FH UMM tersebut. Dijalannya pertandingan tenis, pasangan perdana UMM Sulardi dan Bayuaji berhasil menggebrak skor awal dengan menang telak 6 – 0 mengalahkan pasangan UMS Sardjito dan Fuad. Dipasangan selanjutnya, UMS membalas dengan kemenangan melalui 3 pasangan sekaligus. Silih berganti kemenangan antar kedua tim dengan poin ketat menambah semangat meski sempat break  karena hujan. Hingga laga pamungkaspun, yang mempertandingkan pasangan UMM Ridlo dan Prapto melawan UMS Dimyati dan Fuad disudahi dengan skore 5 : 5. Walhasil, pertandingan tenis ini tim UMM menang 5, draw 1 dan pending 1. “Kelak kedepan semoga akan ada semacam pekan olah raga antar dosen karyawan perguruan tinggi Muhammadiyah yang tujuannya ya seperti UMM dan UMS,” ujar Ridho, salah satu pemain UMM sembari bergurau dengan pemain lain. Di partai bulutangkis yang mempertandingankan 11 pasangan ganda, UMM berhasil mendominasi kemenangan dengan tim UMS. Diawali laga pembuka, peringkat pertama pasangan UMM Haeri dan Ridlo  berhasil mengalahkan pasangan UMS Ngatono dan Aan melalui pertandingan sengit diakhiri dengan skore 30 – 21. Ngatono, SE, MM selaku Ketua Tim UMS ketika sambutan membuka pertandingan, menyampaikan bahwa para pemain memiliki kemampuan yang rata-rata. “Tapi, tim UMM yang sebagian masih berusia lebih muda berhasil memberikan perlawan sengit sehingga  mendominasi kemenangan,”ujarnya. Pada akhir pertandingan kedua tim berharap semoga silaturahmi yang terjadil dalam bidang olah raga ini dapat mengeratkan hubungan antara kedua universitas dan memberi keberkahan untuk kemajuan pendidikan tinggi Muhammadiyah.  (rid/sil)

Produksi Jamu Pace Kualitas Super, Mahasiswa UMM Raih Omzet Puluhan Juta

Jika biasanya jamu lekat dengan orang yang sudah tua, berbeda dengan anak muda yang satu ini. Shoffie Bunga Navandia, atau yang akrab disapa Shoffie mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mencetuskan ide brilian dengan memproduksi jamu tradisional yang berkhasiat membantu penyembuhan berbagai macam penyakit. Dara 20 tahun tersebut mengatakan bahwa idenya untuk membuat jamu muncul sekitar lima tahun lalu. Saat itu, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya mengidap penyakit liver stadium C. “Saya bingung harus bagaimana. Biaya berobatnya mahal sekali,”ujar Shoffie. Saat Soffie mulai “galau” dengan biaya pengobatan sang ayah, salah satu kawan sang ayah dari Korea datang menjenguk dan membawakan jamu tradisional untuk dikonsumsi setiap hari. Tak disangka, setelah meminum jamu tersebut, lambat laun, penyakit ayahnya membaik. Sayangnya, Soffie tak punya cukup uang untuk terus membeli jamu berbahan dasar mengkudu tersebut. Ia pun berinisiatif untuk membuat sendiri jamu dengan bahan yang sama. “Jadi awalnya saya buat untuk dikonsumsi ayah saya yang sedang sakit waktu itu, tidak ada pikiran sama sekali untuk menjualnya ke masyarakat,”urainya. Jamu yang diproduksi Soffie adalah jamu tradisional yang terbuat dari 100% fermentasi buah  mengkudu tanpa campuran apapun. Buahnya juga dipilih melalui proses seleksi. “Harus benar-benar dipilih kualitas terbaik,”tambahnya. Setelah dibersihkan dengan baik, mengkudu kemudian diproses untuk diambil airnya. Sari buah mengkudu tersebut lalu difermentasi selama 6-12 bulan. Usai masa fermentasi, jamu mengkudu kemudian akan dikemas dalam botol ukuran 500 ml. Setiap botol dihargai Rp 65.000,-. Selain menjual eceran per botol, Soffiee juga menyediakan paket hemat yang berisi enam botol pada setiap paketnya.  Setiap paket dibandrol dengan harga Rp 350.000,-. “Kalau paketan lebih hemat. Satu paket hanya 350.000 rupiah,”tambahnya. Mencari pasokan mengkudu dengan jumlah yang banyak diakui Soffie bukan hal yang mudah. Jika awalnya hanya mencari dari satu daerah ke daerah yang lain, kini Soffie sudah memiliki lahan khusus untuk menanam mengkudu. Ia bahkan bekerjasama dengan pemerintah desa dan kelurahan untuk ikut serta mengajak masyarakat menanam pekarangan rumah. ”Lumayan bisa bantu para tetangga. Mereka saya kasih bibit, nanti kalau sudah panen saya beli Rp 2.000,-/kg nya,”tambahnya. Bukan bisnis namanya jika tidak ada rintangan menghadang. Meskipun sudah mematenkan merk dagangnya, kesulitanpun juga pernah dialami Soffie dalam menjankan bisnisnya yang sudah dimulai  sejak tahun 2014 ini. Ia belum mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meski telah mendapatkan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). “Saya juga sudah mengantongi hasil uji laboratorium. Tapi masih belum terdaftar di BPOM,ada beberapa syarat yang perlu ditambahkan misalnya masalah lahan produksi. Saat ini saya masih produksi di rumah,”katanya. Agar dikenal lebih luas oleh masyarakat, Soffie sudah memasarkan produknya melalui iklan komersial di stasiun TV lokal, brosur, serta pameran-pameran UMKM di daerahnya. Jamu pace ini juga sudah banyak dipesan konsumen dari berbagai daerah mulai Gresik, Jakarta hingga Palembang.  Tak tanggung-tanggung, omzet yang didapatnya mencapai puluhan juta pada setiap periode pengemasan. “Sekali pengiriman untuk proses fermentasi, ada enam ember. Setiap ember berisi sepuluh liter sari mengkudu,”pungkasnya.

Himatekpa UMM Ajak Masyarakat Kenali Kopi Lebih Dalam

Siapa yang tidak mengenal kopi? Biji yang umumnya banyak disajikan dalam bentuk minuman ini seringkali menjadi teman terbaik untuk menghangatkan suasana dikala santai maupun bekerja.  Minuman yang satu ini banyak digemari oleh berbagai kalangan mulai muda hingga tua. Selain itu, berbagai jenis kopi hasil perkebunan Indonesia juga telah menjadi primadona di berbagai negara karena mutu dan kenikmatannya yang tidak diragukan lagi. Kopi Gayo asal Aceh misalnya, ia telah tersohor hingga mancanegara dan bahkan di ekspor ke berbagai negara Eropa serta Amerika. Kualitas dan kepopuleran kopi di tengah masyarakat tersebutlah yang mendasari para mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Teknologi Pangan(Himatekpa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membuat acara bertajuk Story About Coffee. Berlokasi di Basecamp Kopi Karlos , Karangploso Malang Sabtu (24/3) acara ini diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, pemilik kedai kopi, dan juga masyarakat penggemar kopi.  Acara  tersebut diawali dengan pengenalan dasar seputar kopi,  diskusi  seputar kopi, mencicipi berbagai jenis kopi, dan tata cara pengolahan kopi serta proses penyeduhan kopi. Siti Hariyani mahasiswi anggota Himatekpa UMM yang juga merupakan Ketua pelaksana dari acara tersebut menyampaikan, acara ini dapat menjadi “perkenalan” bagi para pecinta kopi untuk mengenal komuditas yang sudah dikembangkan di lebih dari 50 negara . Siti Hariyani mahasiswi anggota Himatekpa UMM yang juga merupakan Ketua pelaksana dari acara tersebut. “Harapan kami para penikmat kopi tidak hanya sekedar menikmati kopi saja, tapi juga mengetahui seluk beluk kopi tentang kualitas kopi yang baik itu seperti apa, jenis-jenis kopi itu apa saja, dan bagaimana proses pengolahannya” ungkapnya. Berdiri sejak tahun 2013 Basecamp Kopi Karlos  mengolah berbagai jenis kopi yang dihasilkan oleh petani dari lereng Gunung Arjuno. Setiap tahunnya, panen dilakukan antara Mei hingga September. Dalam satu kali panen, Basecamp Kopi Karlos biasanya menampung sekitar 10 ton biji kopi. Kopi yang diolah di Basecamp ini diantaranya yakni kopi Luwak, Arabica, Robusta, Liberika dan Cascara. Pandu Prabowo pria 45 tahun yang merupakan pemilik Basecamp Kopi Karlos menyampaikan, dirinya mendirikan basecamp tersebut untuk mengangkat citra petani lokal khususnya di wilayah Karangploso sendiri. Selain itu basecamp ini juga diharapkan dapat menjadi tempat berkumpulnya komunitas pecinta kopi, dan sarana edukasi tentang kopi,” ujar Pandu. Menanggapi terselenggaranya acara Himatekpa tersebut, Ketua Jurusan  Program Studi Ilmu Teknologi Pangan UMM, Mochammad Wachid menuturkan bahwa kegiatan tersebut baik untuk berwirausaha. Selain itu, melalui acara ini sisi keilmuan pengolahan pangan juga mereka lebih terasah. “Apalagi bertemu dengan narasumber langsung, tentunya banyak pengalaman yg menjadi inspirasi,”tandasnya. (ani/sil)