Dukung SDGs, UMM Bekali Mahasiswa Wawasan Berkelanjutan

Sebagai salah satu pionir kampus hijau, UMM menghadirkan pembelajaran keberlanjutan yang terintegrasi di segala lini. Tahun 2025, UMM resmi menjalankan program Mata Kuliah Wajib ‘Wawasan Keberlanjutan’ melalui kurikulum lintas disiplin bagi seluruh mahasiswa semester 1. Ini sejalan dengan komitmen Kampus Putih dalam mewujudkan cita-cita global dalam konsep Living laboratory yang berfokus pada isu Sustainable Development Goals (SDGs) di berbagai bidang. Menariknya, program ini tak hanya lintas disiplin, tetapi juga berupa proyek aksi nyata bersama masyarakat. Mahasiswa juga diajak berperan aktif dalam berbagai gerakan hijau, kesehatan, dan sosial. Fokus topik pembahasan yang disampaikan antara lain: One Health melalui pendekatan kesehatan terpadu, Ecosystem Restoration Decade (2021–2030), UNEP Regional Seas Programme, Global Adaptation Network (GAN), dan SDGs. Perkuliahan satu semester ini dibagi menjadi dua batch, yakni pembelajaran berbasis wawasan dan teori hingga pertengahan masa perkuliahan, kemudian dilanjutkan dengan project-based learning. Lebih lanjut, Kepala Biro Pendidikan dan Pengajaran UMM Zulfatman, M.Eng., Ph.D., mengungkapkan bahwa isu SDGs adalah tanggung jawab bersama yang harus terus digerakkan dari generasi ke generasi. Untuk itu, UMM sebagai perguruan tinggi yang turut menyuarakan SDGs juga berkomitmen dan berkontribusi penuh melalui aksi nayata mahasiswa dan dosen. UMM merasa perlu mengambil peran penting dalam mendidik mahasiswa agar memahami serta mampu mengimplementasikan nilai keberlanjutan dalam kehidupan nyata. “Tidak hanya sekadar wawasan, mahasiswa akan diajak aktif menyuarakan dan menggerakkan aksi sederhana namun berdampak sesuai bidang keilmuannya,” terang Zulfatman. Mata kuliah wajib ini dirancang komprehensif, mengombinasikan 17 tujuan SDGs dengan fokus utama pada lingkungan, kesehatan, dan sosial. Tujuannya tidak lain adalah membangun karakter lulusan Kampus Putih kaya akan wawasan kebangsaan, keberagamaan, serta berwawasan global. Output perkuliahan pun bervariasi, mulai dari video, animasi, hingga kampanye kreatif melalui media sosial dan aksi nyata. Sebelum diterapkan, dosen pengampu telah dibekali melalui workshop dan pedoman perkuliahan yang detail. Menurutnya, komponen penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah keseimbangan sinergi antara knowledge dan behavior yang ditransfer oleh dosen kepada mahasiswa. “Suasana perkuliahan yang nyaman itu dimana para pengajar mampu mentrasfer knowledge (wawasan) dengan energy positif kepada mahasiswa. Ini juga menjadi komponen penting agar knowledge yang disampaikan dapat terefleksi dengan baik oleh mahasiswa,” ujarnya. Terkahir, Ia berharap, hadirnya mata kuliah ini tak hanya memperkuat karakter lulusan yang berwawasan nasional dan religius, tetapi juga memiliki pandangan global. Lebih dari itu, keberadaannya diharapkan mampu memperkuat kontribusi UMM dalam kampanye keberlanjutan, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. (din/wil)
Kembali Dipercaya Kementerian, Dosen UMM Kembangkan Teknologi Budidaya Pisang dan Melon di Pandaan

Mengabdi untukk negeri jadi salah satu kegiatan yang terus dijalankan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Termasuk yang dilakukan oleh tim pengabdian Program Desa Binaan (PDB) yang diketuai Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. IPU. di Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Pasuruan. Berkat kiprahnya yang bagus, tim ini kembali dipercaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk melanjutkan program di tahun ketiga. “Untuk tahun ini, kami akan fokus pada pengembangan tanaman pisang. Jadi kami mengembangkannya menjadi 2 hektar dengan tiga jenis tanaman pisang. Yakni pisang Radja nangka, pisang radja bulu dan pisang cavendish. Tentu, prosesnya akan menggunakan teknologi agar memudahkan para warga dan petani,” katanya. UMM tidak hanya mengembangkan dan mendampingi, tapi juga memperkenalkan metode menggunakan teknologi. Yakni dengan menjalankan program smart farming di desa binaan ini. Sehingga, para warga tidak hanya paham menanam pisang, tapi juga paham memanfaatkan teknologi untuk memudahkan kehidupan. Selain itu, Sujono dan tim juga mengembangkan budidaya tanaman melon di greenshouse seluas 50×11 meter. Menariknya, ada beberapa keunggulan yang ditonjolkan dalam budidaya ini, yaitu menggunakan metode hidroponik dengan sistem smart farming. Adapun untuk sistem irigasi penyediaan nutrisi tanaman dikendalikan secara digital dengan handphone, sehingga tidak dilakukan secara manual lagi. Pengembangan tanaman melon dan tanaman pisang ini menjadi upaya menguatkan ciri khas nama desa yaitu “Sumbergedang”. Hal ini untuk mempercepat realisasi perwujudan Desa Sumbergedang menjadi desa mandiri dan sejahtera melalui pengembangan agrowisata desa. “Untuk membekali segenap sumberdaya pengelola desa maka dilakukan sederet pelatihan. Mulai dari budidaya tanaman melon secara Hidroponik dengan sistem Smart Farming, pembibitan secara kultur dan perawatan tanaman pisang, dan model pelayanan wisata yang humanis,” pungkasnya menambahkan. Harapannya, ini menjadi proses yang strategis. Utamanya agar agrowisata desa mampu memberdayakan masyarakat desa untuk membangun semangat wirausaha melalui pengembangan UMKM kuliner desa (*/wil)
Tim UMM Sulap Daun Mangga Jadi Pelapis Telur, Awet Tanpa Ubah Rasa

Siapa sangka, daun mangga tua yang sering dianggap sampah ternyata bisa menjadi kunci untuk membuat telur lebih awet dan aman dikonsumsi. Inilah yang dibuktikan oleh tim PKM-RE UMM yang berhasil mengubah limbah potensial menjadi lapisan pelindung canggih untuk salah satu bahan pangan paling populer di dunia. Permasalahan masa simpan yang pendek dan tingginya risiko kontaminasi bakteri pada telur menginspirasi lima orang mahasiswa untuk menciptakan solusi inovatif berbasis bahan alam. Tim dengan dosen pembimbing Apriliana Devi Anggraini, S.Pt., M.Sc dan diketuai oleh Wirayuda Ahmad Yoga Bimantara dari Fakultas Pertanian Peternakan ini berhasil mengembangkan bio-coating. Ini merupakan lapisan pelindung alami dari ekstrak daun mangga (Mangifera Indica) yang terbukti mampu mempertahankan kualitas telur lebih lama. Penelitian yang terwadahi dalam Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Eksakta (PKM-RE) ini menjawab tantangan besar dalam rantai distribusi telur. Kualitas telur umumnya mulai menurun drastis dan rentan terkontaminasi bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella setelah melewati hari ke-14. Solusi yang ditawarkan adalah lapisan antimikroba yang dibuat dari isolat flavonoid daun mangga golek tua, yang diketahui memiliki kandungan flavonoid tinggi. Isolat ini kemudian dicampurkan dengan kitosan untuk menghasilkan larutan pelapis. Prosesnya terbilang sederhana namun melalui tahapan ilmiah yang ketat. Setelah daun mangga diekstraksi, kandungan flavonoidnya diverifikasi melalui Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan diperkuat dengan Uji FTIR. Tim kemudian membuat tiga variasi konsentrasi larutan pelapis, yaitu 6% (P1), 6,25% (P2), dan 6,5% (P3). Telur segar dari peternakan UMM kemudian dicelupkan ke dalam masing-masing larutan selama lima detik dan disimpan selama 14 hari. Uji coba kualitas telur yang dilaksanakan pada 26 Agustus 2025 menunjukkan hasil yang menjanjikan. Keunggulan utama dari inovasi ini terletak pada keamanannya. Metode pengawetan lain seperti penggunaan natrium silikat berisiko meninggalkan bahan kimia berbahaya. Sementara itu, penggunaan kapur dapat meninggalkan residu dan minyak kelapa dianggap relatif mahal untuk produksi skala besar. Sebaliknya, bio-coating dari daun mangga ini sepenuhnya alami, ramah lingkungan, dan terjangkau. Satu hal yang tak kalah penting, hasil uji organoleptik pada 27 Agustus 2025 membuktikan bahwa lapisan pelindung ini sama sekali tidak mengubah rasa asli telur. Tim yang diketuai oleh Wira ini berharap inovasi mereka tidak berhenti di laboratorium. “Kami berharap penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat dan industri. Mengingat telur rentan terhadap kontaminasi mikroba, produk bio-coating kami menawarkan solusi yang aman dan sejalan dengan isu ramah lingkungan yang kini banyak diminati perusahaan. Dan Kami berharap dapat lolos ketahap PIMNAS.” Ujarnya. (bil/wil)
Lebarkan Sayap Internasional, UMM dan Universiti Malaysia Sabah Selenggarakan ICAS

Pertemuan mahasiswa aktivis lintas negara kini menjadi agenda nyata di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui International Conference of Asian Students (ICAS) 2025, UMM dan Universiti Malaysia Sabah (UMS) menghadirkan program pertukaran yang tidak hanya fokus pada diskusi akademik, tetapi juga pada penguatan kapasitas kepemimpinan dan jejaring organisasi kemahasiswaan. Selama empat hari, sejak 14 hingga 18 September 2025, puluhan mahasiswa aktivis UMS bersama lima dosen pendamping hadir di kampus UMM untuk saling berbagi pengalaman dan bertukar ide mengenai dinamika organisasi kemahasiswaan, khususnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Senat Mahasiswa Universitas (SEMU) di kedua universitas. Program ini menjadi kerja sama UMM dan UMS dalam ranah pengembangan kepemimpinan mahasiswa. Rangkaian kegiatan dimulai dengan konferensi internasional yang menghadirkan stadium general serta call for paper dari mahasiswa UMM maupun UMS. Para peserta mempresentasikan hasil penelitian dengan tema besar keberlanjutan, sesuai dengan tema konferensi Moving Forward for Sustainability. Dr. Ahmad Norazhar Bin Mohd. Yatim, Principal Tun Pangiran Ahmad Raffae Residential College UMS sekaligus Chairperson of MAPEK, menekankan pentingnya forum ini bagi penguatan jaringan mahasiswa Asia. Menurutnya, konferensi ini memberikan jalan berharga untuk memperkuat jaringan regional di antara mahasiswa Asia. Di sinilah wadah bertukar ide, membahas masalah global maupun regional, serta menabur benih kolaborasi yang akan menguntungkan generasi masa kini dan mendatang. Tidak hanya sebatas diskusi akademik dan organisasi, peserta juga diajak mengenal lebih dekat budaya Indonesia. Pada hari ketiga, rombongan mahasiswa UMS diajak mengunjungi sejumlah destinasi budaya dan wisata di Malang Raya, seperti kampung Topeng, candi-candi bersejarah, hingga kawasan wisata di Kota Batu. Melalui kunjungan tersebut, mereka diharapkan dapat memahami konteks sosial dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa Indonesia. Ke depan, kerja sama ini tidak hanya berhenti pada kunjungan UMS ke UMM. Pihak panitia merencanakan adanya kunjungan balasan mahasiswa UMM ke UMS di Malaysia. Selain itu, kerja sama akan diperluas ke ranah lain, termasuk peluang credit transfer dan program peningkatan kapasitas aktivis mahasiswa di bidang kepemimpinan dan manajemen organisasi. “Harapannya, program ini bisa terus berlanjut. Bukan hanya soal silaturahmi, tapi juga wadah belajar bersama, baik dari sisi budaya, keilmuan, maupun pengembangan organisasi. Bahkan ke depan, kami ingin memperkuat kolaborasi di bidang akademik dan pengembangan kapasitas mahasiswa,” ujar Zainul Anwar, M. Psi. selaku ketua panitia pada ICAS 2025. Kolaborasi ini menjadi tonggak awal hubungan strategis antara UMM dan UMS, sekaligus membuka jalan bagi mahasiswa kedua kampus untuk memperluas wawasan kepemimpinan, memperkaya pengalaman lintas budaya, dan memperkuat jejaring internasional. (vin/wil)
Mendunia, UMM Sambut Puluhan Mahasiswa Internasional dari 21 Negara

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat posisinya sebagai kampus global. Sebanyak 47 mahasiswa internasional dari 21 negara yang berbeda secara resmi bergabung menjadi bagian dari keluarga besar UMM. Kehadiran mereka disambut hangat dalam acara welcoming ceremony for International Students yang penuh keakraban, menandai babak baru bagi atmosfer akademik kampus yang semakin kaya akan keberagaman budaya. Acara penyambutan yang berlangsung hangat ini menjadi titik awal penting bagi para mahasiswa internasional untuk menapaki perjalanan akademik mereka di UMM. Suasana penuh kekeluargaan semakin terasa melalui sambutan dari pimpinan universitas serta Kepala International Relations Office (IRO) yang menegaskan komitmen UMM sebagai rumah kedua bagi para mahasiswa dari berbagai negara. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP., dalam sambutannya menyampaikan betapa berharganya kehadiran para mahasiswa asing tersebut. “Kehadiran kalian sangat berarti karena selain mahasiswa baru, beberapa mahasiswa internasional dari angkatan sebelumnya juga turut hadir,” ujarnya dengan penuh kehangatan. Ucapan itu disambut antusias oleh para peserta, menambah nuansa kebersamaan yang erat di antara mahasiswa baru. Listiari memaparkan, 47 mahasiswa ini datang melalui berbagai jalur. Sebanyak 19 mahasiswa mengikuti program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di tahun pertama dan 19 mahasiswa lainnya langsung masuk ke departemen masing-masing. Sisanya, sembilan mahasiswa, masih dalam perjalanan dan akan segera menyusul. Senada dengan Listiari, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si., Kepala BIPA UMM, turut menyambut para mahasiswa dengan penuh semangat. Ia berharap momen ini bukan hanya tentang menimba ilmu, tetapi juga menjadi ajang mempererat persaudaraan lintas negara. “Di UMM, kami ingin Anda merasa seperti berada di rumah sendiri. Jadikanlah momen ini sebagai langkah awal untuk menggapai mimpi, membangun jejaring, dan mempererat persaudaraan lintas negara,” pesannya. Salah satu mahasiswa baru yang mencuri perhatian adalah Anna dari Madagaskar jurusan PGSD. Meski baru tiba, ia sudah menunjukkan antusiasme luar biasa. Ia bahkan bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Indonesia, sebuah kemampuan yang ia pelajari dari seniornya yang juga berkuliah di UMM. Anna mengaku sangat senang bisa mewujudkan mimpinya belajar di Indonesia. “Saya menyukainya karena Indonesia beragam budayanya,” ungkapnya. Saat ditanya tentang kesan pertamanya terhadap UMM dan Malang, Anna menceritakan pengalamannya dengan senyum lebar. “Saya merasa senang. Saya juga memiliki tujuan menjadi guru dengan cara mendisiplinkan diri sendiri. Orang-orang di sini (UMM) suka membantu orang internasional maupun orang lain,” katanya. Melalui kehadirannya, para mahasiswa internasional ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif, tidak hanya dari segi akademik, tetapi juga dalam memperkaya kehidupan kampus dengan perspektif global. Keberagaman yang mereka bawa menjadi bukti nyata bahwa UMM adalah kampus yang terbuka dan siap menjadi jembatan bagi para pemuda dari seluruh dunia untuk menggapai cita-cita. (ali/wil)
FPP Tanamkan Jiwa Nasionalis Lewat Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara

Dalam rangka melatih mental berjuang dan disiplin, Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Pendidikan dan Latihan Bela Negara bagi para mahasiswa baru 2019. Bekerja sama dengan Rindam V Brawijaya, agenda ini diselenggarakan selama satu minggu. Rivana Alsya Firrizqi, mahasiswa baru Agro Teknologi mengungkapkan rasa gembira dapat turut serta dalam agenda tersebut. “Ini pelajaran yang sangat berarti,” tuturnya. Selama tujuh hari di kamp (8-14 September), mahasiswa yang akrab disapa Rivana ini merasa nyaman karena dapat lebih akrab dengan kawan-kawan seangkatannya. Walaupun tak diperbolehkan membawa alat komunikasi, Rivana tetap senang dapat menjalin komunikasi intens. “Kami ingin mahasiswa baru punya dasar mental yang kokoh,” kata Dr., Ir. David Hermawan, M.P., IPM, dekat FPP saat didaulat menjadi inspektur upacara penutupan. Ia juga mengajak para mahasiswa untuk terus sadar kepada kondisi riil dalam lingkup pertanian. Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang mampu menyediakan pangan secara masif bersama Kongo dan Brazil. Namun, menurutnya masih banyak ketidakadilan yang sedang terjadi di dunia pertanian dan peternakan umumnya. “Galilah ilmu sedalam mungkin, ambil semua ilmu yang ada UMM lalu pulanglah ke Desa dan perkuat ketahanan pangan nasional yang hebat,” tuturnya. Baginya, mahasiswa FPP punya peran besar dalam perkembangan Indonesia melalui pertanian dan peternakan. David berharap melalui Pendidikan dan Latihan Bela Negara dapat menanamkan jiwa nasionalisme yang tinggi. Hal tersebut tak lain dan tak bukan semata-mata hanya untuk menguatkan tujuan berilmu adalah demi mensejahterakan dan memakmurkan Indonesia bersama-sama. Senada dengan David, Kolonel Inf. Dendi Suryadi, S.H., M.H. mengatakan jika ia teramat gembira melihat wajah berseri-seri mahasiswa pasca pelatihan selesai dilaksanakan. “Saya melihat wajah Soekarno-Seokarno muda,” pujinya pada para mahasiswa FPP. Ia berpesan agar para mahasiswa terus menjaga segala kebiasaan baik yang telah dipelajari selama pelatihan. Utamanya dalam beribadah. Di akhir pidato ia pun tak lupa mengingatkan mahasiswa untuk menyertakan Tuhan Yang Maha Esa pada setiap perjuangan yang ditempuh. “Jangan lupa sertakan Tuhan ya,” ungkapnya. (mir/can)
Ini Alasan Mahasiswa Madagaskar UMM Belajar di Indonesia

Senyum ramah, sapaan ‘mas’ atau ‘mbak’, hingga kebiasaan menundukkan kepala saat bertegur sapa—hal-hal kecil itu justru membuat Razafindrambinina Marie Anna jatuh hati pada Indonesia. Bagi mahasiswi asal Madagaskar yang kini menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sopan santun masyarakat Indonesia adalah pengalaman budaya yang tak ternilai, sekaligus alasan ia merasa benar-benar diterima di negeri orang. Keputusan Anna untuk kuliah di UMM berawal dari cerita pamannya yang pernah tinggal di Indonesia. Rekomendasi itu semakin kuat ketika ia mendengar banyak testimoni positif dari teman-temannya. “Mereka bilang UMM punya banyak mahasiswa internasional, fasilitasnya bagus, dan rankingnya juga baik. Lalu saya ditawari beasiswa penuh Summit. Itu membuat saya mantap memilih UMM dan mengambil di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP),” ujar Anna. Mahasiswa asal Madagaskar tersebut mengungkapkan jika UMM bukan hanya kampus dengan reputasi akademik, melainkan juga lingkungan yang indah. Ia mengatakan UMM punya fasilitas lebih baik dibanding universitas lain. Kampusnya luas, hijau dengan banyak pepohonan, tapi juga modern. Ia juga suka perpaduan eco-campus dengan arsitektur modern. Pengalaman pertama Anna di Indonesia adalah mengikuti Pesmaba (Pengenalan Studi Mahasiswa Baru), kegiatan tahunan untuk menyambut mahasiswa baru UMM. Baginya, Pesmaba adalah pintu masuk penting untuk mengenal kampus sekaligus budaya Indonesia. “Kesan pertama saya saat Pesmaba adalah senang sekali karena bisa bertemu banyak teman baru dalam kelompok. Saya juga ikut langsung berbagai kegiatan. Di antara semua, flash mob, konser di UMM adalah yang paling berkesan,” ujarnya. Selama seminggu tinggal di asrama menjalani P2KK, Anna belajar arti kebersamaan dalam keberagaman. Ia jadi tahu budaya yang berbeda, seperti musik tradisional, acara seni, hingga lukisan. Ia juga mengatakan jika memiliki teman yang baik dari Indonesia maupun internasional dan sangat ramah sehingga membuat ia menjadi cepat untuk beradaptasi dengan sesama. “Orang Indonesia sangat menghargai orang lain. Ada panggilan khusus seperti mas, mbak, pak, atau bu. Saat menyapa, mereka sedikit membungkuk dan selalu tersenyum. Itu hal yang sangat bagus menurut saya,” katanya. Meski jauh dari keluarga, Anna tetap memelihara semangatnya. Ia sadar bahwa perjalanannya di UMM adalah langkah besar untuk mewujudkan mimpi. “Harapan saya, bisa beradaptasi dengan baik, belajar sungguh-sungguh, dan kelak menjadi guru yang bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing dengan hati,” ujarnya. Anna adalah salah satu potret nyata bagaimana UMM bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan jembatan bagi mahasiswa internasional untuk menjemput mimpi. Dari Madagaskar ke Malang, perjalanannya adalah kisah tentang keberanian, persahabatan, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu melampaui batas negara. (vin/wil)
RBC UMM dan Kak Seto Jadi Daya Tarik di Festival Literasi

Pegiat anak nasional Seto Mulyadi bersama RBC Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut memeriahkan Festival Literasi Renjana Amerta Carita di Wisata Sumber Sira, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, 12–14 September 2025. Kehadiran keduanya menegaskan komitmen nyata dalam memperingati International Literacy Day (ILD) 2025. RBC menghadirkan Mobil Terbang (Bakti Terhadap Bangsa), mobil perpustakaan keliling yang membawa ratusan koleksi buku anak. Selama tiga hari, mobil ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang bermain literasi bagi anak-anak dan keluarga. Sejumlah pengunjung menyambut antusias. Uswah, guru pendamping peserta lomba mendongeng, mengaku anak didiknya begitu antusias saat berkunjung ke Mobil Terbang. “Biasanya anak-anak lebih betah melihat handphone, tapi di sini dia betah membaca. Bahkan minta saya untuk ikut datang lagi besok. Bagi kami, ini pengalaman berharga,” tuturnya. Sementara itu, Kak Seto tampil dengan gaya khasnya, menyapa anak-anak penuh keceriaan dan mengingatkan pentingnya menumbuhkan minat baca sejak dini. Didukung penampilan seorang ventriliquist, suasana festival semakin riuh penuh tawa. “Festival literasi seperti ini memberi ruang bagi anak-anak untuk bertemu buku sekaligus menemukan kegembiraan. Kami dengan senang hati berpartisipasi dan berharap Mobil Terbang dapat menjadi jembatan literasi yang dekat dengan masyarakat,” ujar Subhan Setowara, Direktur Eksekutif RBC Institute. Rangkaian kegiatan festival semakin kaya dengan pertunjukan seni anak, lomba mendongeng, hingga lomba mewarnai. Semua dirancang untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kreativitas, serta kecintaan pada bacaan. Kehadiran Mobil Terbang RBC memperkuat suasana dengan menyediakan bacaan yang bisa langsung dinikmati anak-anak di lokasi. Subhan menegaskan, RBC akan terus memperluas jangkauan Mobil Terbang ke berbagai wilayah. “Literasi adalah pintu masa depan, dan setiap anak berhak atas akses itu. Karena itu, Mobil Terbang akan terus bergerak menghadirkan bacaan di tengah masyarakat,” ujarnya. Kolaborasi Kak Seto dan RBC Institute dalam festival ini menjadi penanda penting bahwa gerakan literasi tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan komunitas, akademisi, orang tua, serta pegiat anak nasional adalah kunci agar literasi benar-benar tumbuh sebagai budaya bersama. (*/wil)
Mahasiswa UMM Kembangkan CryoSynctive, Teknologi Plasma Penyembuhan Luka Diabetes

Meningkatnya kasus diabetes di Indonesia membawa tantangan besar, s alah satunya adalah penanganan luka kronis yang sulit sembuh. Di tengah permasalahan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir dengan inovasi menjanjikan. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), mereka menciptakan alat bernama CryoSynctive: Perangkat Nonthermal Plasma Berbasis Edge AI dan IoT untuk Penyembuhan Luka Kronis pada Pasien Diabetes. CryoSynctive merupakan prototipe alat kesehatan dari PKM-KC (Karya Cipta) yang dikembangkan oleh mahasiswa UMM. Ide ini dicetuskan oleh Fikri Yuda Pranata bersama tim beranggotakan lima orang dengan latar belakang beragam tiga mahasiswa teknik mesin, satu fisioterapi, dan satu biologi. Mereka dibimbing oleh dosen Andinusa Rahmandhika, S.T., M.Eng. yang berperan aktif memberikan arahan teknis, memperkuat metodologi, sekaligus memastikan rancangan alat sesuai standar keamanan medis. “Kami melihat ada celah di mana terapi luka yang ada saat ini seringkali kurang efisien dan mahal. Maka, kami mencoba menggabungkan metode terapi plasma yang sudah ada dengan teknologi terkini untuk menciptakan solusi yang lebih baik,” jelas Fikri. Cara kerja CryoSynctive dirancang agar mudah digunakan. Prinsip dasarnya seperti printer. Jadi, tangan atau kaki pasien yang luka dimasukkan ke dalam alat tersebut, lalu alat akan secara otomatis memetakan titik-titik luka yang ada. Proses ini dimulai dengan kamera termal yang memindai dan memetakan koordinat luka. Data tersebut kemudian dianalisis oleh sistem Edge AI di dalam alat. Setelah luka terpetakan, perangkat akan bergerak secara otomatis ke posisi luka dan menyinari area tersebut dengan Nonthermal Plasma. Nonthermal plasma bekerja dengan menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) dan Reactive Nitrogen Species (RNS). Molekul-molekul reaktif ini berfungsi ganda yaitu membasmi bakteri dan mikroorganisme patogen, serta merangsang pertumbuhan sel-sel baru dan perbaikan jaringan. Proses ini juga disesuaikan dengan kedalaman luka pasien yang bervariasi. “Kami sudah membuat sistemnya semi-otomatis, jadi jika pasien tiba-tiba bergerak, alatnya akan berhenti secara mandiri untuk menjaga keamanan,” kata Fikri. Saat ini, CryoSynctive sudah mencapai sekitar 60% penyelesaian dengan fokus pada perakitan dan pemrograman. Tim juga merencanakan tahap uji coba terbatas sebelum pengembangan menuju tahap klinis. Harapannya, alat ini tidak hanya menjadi karya inovasi mahasiswa, tetapi juga bisa dipatenkan dan dikembangkan lebih lanjut sebagai produk medis yang dapat digunakan di rumah sakit maupun klinik. Keunggulan utama CryoSynctive terletak pada integrasi Nonthermal Plasma dengan teknologi terkini. Terapi plasma ini masih jarang digunakan di Indonesia karena sebagian besar penelitian baru sebatas laboratorium. Dibandingkan dengan terapi vakum atau ozon yang lebih umum, CryoSynctive menghadirkan pendekatan berbeda yang lebih cepat dan akurat. Selain itu, integrasi Edge AI dan IoT membuat alat ini lebih unggul. AI memberikan analisis luka yang presisi, sementara IoT memungkinkan data terapi tersimpan otomatis dan dikirim ke dashboard tenaga medis. Dengan begitu, dokter dapat memantau perkembangan pasien secara jarak jauh, melihat riwayat terapi digital, dan menerima notifikasi real-time jika terjadi anomali. Fitur ini juga membuka peluang pengembangan telemedicine yang semakin relevan di era digital. “Saya berharap alat ini bisa membuka peluang terapi baru yang lebih efektif dan efisien, serta membantu meringankan beban pasien maupun tenaga medis. CryoSynctive dirancang untuk mempermudah, bukan menggantikan, peran tenaga medis,” tegasnya. (ali/wil)
Ara, Maba Berprestasi UMM yang Menangi Kejuaran Nasional hingga Internasional

Keterbatasan postur tubuh tidak menjadi penghalang bagi Nayla Auvara Izzetiyya untuk mengukir prestasi gemilang di panggung seni pertunjukan pencak silat dan tapak suci. Mahasiswi baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 ini telah membuktikan bahwa dedikasi dan fokus adalah kunci utama kesuksesan. Ia juga menjadi salah satu mahasiswa baru berprestasi yang bergabung dengan Kampus Putih. Nayla, yang akrab disapa Ara, merupakan mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Di balik statusnya sebagai mahasiswa baru, ia adalah seorang atlet dengan segudang prestasi di cabang pencak silat seni, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ara memilih fokus pada kategori seni (peragaan jurus) karena postur tubuhnya tidak memenuhi kualifikasi kelas pada kategori tanding (sabung). “Kategori seni tidak memiliki aturan postur tubuh seperti berat atau tinggi badan, sehingga saya bisa fokus sepenuhnya untuk menampilkan keindahan gerakan,” jelasnya. Pilihan tersebut terbukti tepat. Ara berhasil meraih berbagai kejuaraan bergengsi, antara lain, Peringkat Pertama Seni Tunggal Putri (SMA) – Indonesia Paku Bumi Open 12th 2024 (Tingkat Asia-Eropa), Juara 1 Seni Tunggal Putri Tangan Kosong – Dandim Cup Kota Malang 2024 (Nasional), Juara 1 Seni Tunggal Putri Tangan Kosong – Ipsi Malang Championship 4 2024 (Nasional), hingga Juara 2 Seni Tunggal Putri Bersenjata – Ipsi Malang Championship 2 2023 (Nasional). Terbaru, ia menyabet Juara 1 Kategori Tunggal Putri Tangan Kosong Dan Bersenjata Pada Ajang 8th Invitasi Tapak Suci Open Ismail Navianto Cup 2025 Tingkat Provinsi. Kecintaan Ara pada pencak silat dimulai sejak kelas 3 SD, berawal dari keisengan semata. Meski perjalanannya tidak selalu mulus, ia sempat beralih ke cabang atletik saat SMP sebelum akhirnya kembali ke pencak silat di jenjang Madrasah Aliyah (MA). Dedikasinya tecermin dari jadwal latihannya yang intens. “Mendekati sebuah event, saya berlatih setiap hari dari sore hingga pukul sembilan atau sepuluh malam,” ungkap gadis asli Malang ini. Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, Ara memiliki filosofi yang unik dalam setiap kompetisi. Tujuan utamanya bukan untuk sekadar menang, tetapi untuk mengalahkan versi dirinya yang kemarin. Untuk mewujudkan filosofi itu, ia selalu merekam setiap penampilannya sebagai bahan evaluasi. “Salah satu kelemahan saya adalah keseimbangan kaki yang terkadang kurang stabil. Dengan evaluasi rutin, saya terus memperbaikinya,” tambahnya. Pada kompetisi terakhirnya, ia menampilkan Jurus Tapak Suci yang disusun bersama pelatihnya. Ia menjelaskan ketatnya aturan, seperti durasi tampil yang harus tepat 2 menit. Apabila ada lebih atau kurang 10 detik maka dapat berujung diskualifikasi. Selain itu, poin dapat dikurangi jika terjadi kesalahan gerakan atau penggunaan aksesori yang dilarang. Dalam penampilannya, ia secara apik memadukan gerakan tangan kosong dengan kelihaian menggunakan tiga senjata: kipas ganda, karambit, dan tongkat kalif. Ketika ditanya mengenai kesan terhadap rangkaian pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM 2025, Ara tampak antusias. Sebagai mahasiswa baru, ia mengaku sangat terkesan dengan kemeriahan acara yang disajikan. Menurutnya, rangkaian pertunjukan yang ditampilkan mampu memberikan semangat sekaligus pengalaman berkesan di awal perjalanannya sebagai mahasiswa. “Secara keseluruhan sangat asyik, terutama saat Flash Mob dan Laser Show. Ditambah lagi kehadiran maskot SwanUMM,” ujarnya. Menutup perbincangan, Ara menitipkan pesan untuk rekan-rekan mahasiswa baru seangkatannya. Ia berpesan agar tetap berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan, menjaga semangat hingga penutupan Pesmaba, serta menjadikan masa orientasi ini sebagai awal yang positif. (bil/wil)