Mahasiswa UMM dan Politeknik Singapura Ciptakan Alat Atasi Masalah Sampah

KOLABORASI 24 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan 24 mahasiswa Singapore Polytechnic (SP) sukses memberikan dampak positif bagi pengembangan Desa Temas, Kota Batu. Di sana, 48 mahasiswa tersebut berhasil menyelesaikan tiga proyek, yaitu pengelolaan bank sampah, industri mainan truk, serta industri rumahan panci dan oven. Kesuksesan itu terungkap dalam pameran hasil karya dan penutupan proyek LEx yang digelar di Auditorium UMM, Kamis (6/10). Karya mereka dipamerkan setelah selama sepuluh hari, yaitu sejak Senin (26/9) para mahasiswa tersebut melakukan observasi lapangan dan dilanjutkan dengan pembuatan produk yang memudahkan kerja warga desa. Dilihat dari hasil karya mereka, tampak jelas bahwa inovasi yang mereka lakukan telah menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat. Pada proyek bank sampah di Desa Temas RW 6 misalnya, selama ini masyarakat merasa kesulitan dalam mencari ruang untuk mengatur sampah yang sudah dipilah. Sampahnya sangat banyak dengan tempat yang sangat minim. Berdasarkan hasil observasi dan analisa, koordinator LEx untuk proyek bank sampah Arief Rachman Hakim menjelaskan, ditemukanlah solusi, yaitu membuat garbage crusher, yaitu alat penekan agar sampah yang sudah dikirim ke bank sampah dapat diatur sedemikian rupa hingga muat di satu tempat. “Garbage crusher ini dapat menekan atau membuat tipis atau gepeng semua sampah. Sampah yang sudah dikumpulkan 70 kepala keluarga tersebut ditekan hingga benar-benar tipis. Kaleng, botol minuman, tempat makanan dan sebagainya bisa dimasukkan di alat ini,” jelas mahasiswa Program Studi Psikologi UMM ini. Selain garbage crusher, para mahasiswa ini juga membuat super troller yang berguna untuk menjemput sampah dari rumah warga, sehingga warga tak perlu lagi menghabiskan waktu dan tenaga untuk datang ke bank sampah. Kehadiran dua alat ini, yaitu garbage crusher dan super troller, terbukti sangat memudahkan pengelolaan sampah di desa tersebut. Sementara itu pada proyek industri rumahan panci dan oven, masalah yang dihadapi yaitu pengusaha oven membutuhkan waktu yang sangat lama dalam memproduksi satu oven. Menurut Syol Indra Syafril, koordinator proyek industri rumahan panci dan oven, dalam satu bulan hanya bisa menghasilkan maksimal 100 oven saja. “Pengusaha oven ini sampai menolak pesanan karena permintaannya melonjak dan waktu pembuatan sangat lama,” jelas Syol. Proses paling lama yaitu pelurusan kawat guna dipasang di dalam bagian oven. Syol menjelaskan, selama ini kawat diluruskan dengan cara manual dan menggunakan tangan biasa satu persatu. Agar maksimal waktu pembuatannya, peserta LEx membuat solusi yaitu membuat alat yang memudahkan dalam meluruskan kawat. Dengan alat tersebut, pengrajin oven hanya perlu memasukkan kawat yang bengkok dan kawat itu akan seketika keluar dalam keadaan lurus. “Alat ini dapat meringkas waktu pembuatan oven sehingga dalam satu bulan bisa memproduksi lebih dari 100 oven,” ujar Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM itu. Perwakilan Politeknik Singapura, Virendra Yadav mengatakan, LEx memang sengaja didesain agar dalam waktu singkat mahasiswa dapat belajar dari dunia nyata sekaligus memberi manfaat kongkrit bagi masyarakat setempat. Dengan cara itu, mahasiswa Singapura selain dapat terkoneksi dengan masyarakat setempat, juga sekaligus membuktikan rasa pedulinya dengan menciptakan teknologi baru yang bisa langsung dimanfaatkan untuk kepentingan produksi yang lebih efisien. (jal/han)
Sukses Implementasikan Proyek HELM, USAID Ajak UMM Kerjakan Program Lainnya

DIREKTUR Keuangan United States Agency for International Development (USAID) Jeff Collen yang berkedudukan di Washington DC secara khusus datang ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (5/10), untuk meninjau langsung implementasi program Higher Education Leadership and Management (HELM). Program hasil kolaborasi UMM dan USAID perihal tata kelola perguruan tinggi ini mulai berjalan sejak 2011 dan berakhir November 2016. Dalam kunjungannya, Jeff mengevaluasi pelaksanaan program HELM. Antara lain terkait general administration and leadership, quality assurance, financial management, serta colaboration with external stakeholder. Selain itu, terdapat juga pemaparan proyek-proyek yang dianggap berhasil oleh HELM Jakarta. Di antaranya dalam bidang menejemen keuangan, serta yang lebih spesifik terkait quality assurrance untuk pembelajaran mahasiswa. Untuk memperkuat jalannya evaluasi, USAID juga meminta pihak UMM untuk menghadirkan mahasiswa dan memberikan testimoni untuk menilai level keberhasilan penerapan program tersebut. “Dari hasil dialog tersebut, alhamdulillah UMM dianggap sebagai salah satu perguruan tinggi yang sukses melaksanakan program HELM ini,” kata Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto. “Dari hasil evaluasi kegiatan-kegiatan itu, kelihatan bahwa program HELM memang relevan dengan pengembangan UMM. Sehingga, program-program HELM dapat mengakselerasi program-program yang ada di UMM. Tanpa HELM,mungkin kita jalannya 70 kilometer per jam, dibantu HELM kita bisa lari 90 kilo meter per jam,” ungkap Soeparto. Berangkat dari keberhasilan tersebut, USAID dan UMM bakal kembali merencanakan kerjasama, yaitu program Strategic Economic Research and Analysis (SERA) dimana UMM yang bakal mengetuainya. SERA sendiri merupakan proyek pembuatan pusat-pusat penelitian di Indonesia bagian Timur. Selain itu,program tersebut juga mendukung perkembangan analisis kebijakan, memperkuat ekonomi pemerintah di Indonesia bagian Timur, serta meningkatkan diseminasi dan diskusi pihak negeri-swasta terkait riset kebijakan ekonomi. “Rencananya, proyek ini bakal melibatkan limaperguruan tinggi di Indonesiayang akan berkolaborasi dengan satu perguruan tinggi dari Amerika Serikat,” paparnya. Pasca melakukan proses penilaian, Jeff berpesan pada seluruh mahasiswa yang hadir, khususnya bagi mahasiswa yang berkesempatan mendapat pengalaman di luar negeri, agar ilmu yang didapat bisa diterapkan untuk mendukung perubahan dan kemajuan di Indonesia. “Kalian mendapatkan peluang yang sangat baik dengan berkesempatan belajar di UMM. Bagi yang sudah mendapat peluang kuliah ke luar negeri, saya berharap kalian dapat kembali ke Indonesia membuat perubahan. Selain untuk lingkungan sekitar, juga untuk keluarga sendiri,” nasehat Jeff pada sejumlah mahasiswa UMM tersebut. (can/han)
RS UMM Latih Perawat Tangani Sindrom Koroner Akut

PERHIMPUNAN Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Komisariat Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) mengadakan Seminar dan Workshop Keperawatan Sindrom Koroner Akut (SKA), Ahad (2/10) di Museum Tubuh Jawa Timur Park I, Malang.Kegiatan yang diikuti 70 tenaga keperawatan se-Jawa Timur ini untuk mengedukasi pentingnya kesehatan jantung sebagai alat kerja pernafasan manusia, khususnya terkait penanganan penyakit sindrom koroner akut. Menurut dokter speasialis jantung RS UMM dr Andi Wahjono Adi SpJp, penyakit SKA merupakan salah satu penyakit pembuluh darah yang disebabkan penyumbatan dan pengurangan pasokan oksigen secara tiba-tiba. Solusinya, kata Andi, dengan memasukkan selang kateter ke dalam pembuluh darah untuk dipasangring/stent. Andimenjelaskan, penyumbatan pembuluh darah ini dikarenakan beberapa hal, seperti merokok, hipertensi, atau keturunan keluarga. “Biasanya gejala awal yang sekaligus dapat menyebabkan kematian itu adalah angin duduk, dalam istilah masyarakat awam,” ujarnya. Solusi yang dilakukan bukan dikerok, lanjut Andi, tapi dilakukan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dengan memasukkan stent ke dalam tubuh tanpa pembedahan. Materi lain yang disampaikan pada kegiatan ini yaitu tentang peran perawat dalam pelaksanaan door to balloon oleh ketua PPNI Komisariat RS UMM Teguh Santoso AMdKep. Teguh menjelaskan bagaimana seharusnya perawat berperan dalam operasi sehingga kesalahan dapat diminimalisir. Menurutnya, peran perawat sangat vital dalam tindakan PCI seperti mencegah dan mendeteksi dini potensial komplikasi, memberikan pendidikan pada pasien dan keluarga serta rehabilitasi. “Riwayat pasien dan riwayat pembehan sebelumnya juga perlu diperhatikan oleh perawat sebelum tindakan PCI dilaksanakan,” ujar salah satu perawat Kateter Laboratorium tersebut. Selepas seminar,peserta diajak mengunjungi museum jantung untuk menyaksikan secara langsung implementasi dari pemasangan kateter. Saat ini,di Malang pemasangan kateter hanya bisa dilakukan di dua RS, yaitu RSUD Saiful Anwar dan RS UMM Menurut ketua pelaksana seminar Fandy Dharmawan SKep Ns, di Malang Raya hanya terdapat limaperawat yang khusus menguasai bidang Kateter Laboratorium. “Dua diantara limaperawat tersebut berada di RS UMM,” jelasnya. Fandy berharap,dengan diselenggarakannya acara ini,para perawat memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang penanganan sindrom koroner akut.“Saat ini yang terserang penyakit jantung tidak hanya yang tua saja, namun yang masih muda pun sudah berpotensi terkena penyakit jantung,” pungkasnya.(jal/han)
Film ‘Play On’ Karya Mahasiswa UMM Bakal Diputar di Asia Pacific Festival

MESKI sempat diguyur hujan, hal itu tak menyurutkan minat masyarakat untuk nonton bareng (nonbar) roadshow Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016 yang dihelat di Alun-Alun Kota Malang, Sabtu (2/10) malam. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang turut mendukung gelaran dua hari ini juga memutar film garapan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Studi Sinematografi Kine Klub UMM lewat filmnya, Play On. Film yang pada 2015 lalu sempat diputar di Guangxi Normal University China ini akan kembali dipertontonkan di Asia Pacific Festival pada akhir Oktober 2016 di Bandung. Film bedurasi 15 menitan ini melibatkan 30 kru anggota Kine Klub UMM yang berasal dari latar belakang program studi berbeda. Produser film Play On Rindya Fery Indrawan menjelaskan, judul “Play On” dalam film tersebut memiliki dua makna sekaligus, yang pertama play on merupakan kata dari bahasa Inggris yang memiliki arti “mainkan”, dan yang kedua merupakan plesetan dari kata playonan yang berarti “berlari-lari”. Film ini mengangkat tentang seorang anak kecil bernama Deva yang memadukan pendekatan modern dan tradisional dalam bermain. Dalam film ini, Deva menggunakan tablet untuk membangun strategi pemenangan permainan tradisional gobak sodor. Film ini, kata Rindya, sekaligus membuktikan keberadaan teknologi tak selamanya membawa pengaruh buruk bagi fase bermain anak-anak. Sebaliknya, dengan memanfaatkan teknologi, Deva dengan laku sebagai seorang anak kota yang disekolahkan di desa, mampu menampilkan sudut pandang berbeda tentang bagaimana teknologi jika digunakan dengan tepat, dapat mengembangkan keterampilan anak-anak. Rindya mengatakan, salah satu kendala dibuatnya film ini yaitu cuaca. “Karena sering hujan, jadi proses produksi agak molor. Rehat sebentar, terus kita shooting lagi,” curhat Rindya yang saat membuat film tersebut, yaitu pada 2014, berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan dan Perikanan UMM. Devalia Ilafi Savani, salah satu pemeran Play On juga turut hadir dalam pemutaran film tersebut. Siswi yang kini duduk di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 5 Kota Malang ini mengaku senang filmnya bisa turut diputar dalam Roadshow Festival Film berskala nasional ini. “Selama main film, cuma butuh percaya diri aja. Pokoknya aku yakin, kalau semua orang punya bakat tersendiri,” kata Deva. Kabar baik lainnya, gelaran festival film besutan Kine Klub UMM, yaitu Malang Film Festival (MAFI Fest) masuk dalam nominasi Apresiasi Festival Film. Pada nominasi tersebut, MAFI Fest akan bersaing dengan empat festival lainnya, yaitu Denpasar Film Festival, Anti-Corruption Film Festival, Jogja-Netpac Asian Film Festival, dan Jakarta Documentary & Experimental Film Festival. Di antara kelima festival yang masuk nominasi, MAFI Fest merupakan satu-satunya festival film garapan mahasiswa, mengingat festival lainnya merupakan garapan sineas profesional. (can/han)
Hadirkan Pakar dari New Zealand, UMM Kembali Gelar Workshop Jurnal Internasional

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus berupaya meningkatkan produktivitas penulisan jurnal bagi para dosennya. Salah satunya, melalui Workshop Kepenulisan Jurnal Ilmiah Internasional yang diadakan oleh Internasional Relations Office (IRO) di Ruang Sidang Senat UMM, Jumat (2/9). Dalam workshop ini, IRO mengadirkan pembicara Assoc Prof Tim Pasang dari Auckland University of Trchnology, New Zealand. Tim, sapaan akrabnya, memang dikenal sangat mumpuni di bidang ini.Hal itu di antaranya dapat dilihat dari portofolionya yang telah memiliki lebih dari 30 jurnal internasional. Kehadiran Tim di UMM dipandang relevan karena para dosen dapat menimba ilmu dan pengalaman Tim di bidang jurnal internasional. Pada paparannya, Tim mengatakan, sebagai dosen, ada tiga poin yang harus diperhatikan yakni teaching, service, dan research. Dalam konteks Indonesia, tiga poin itu kita kenal dengan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian pada masyarakat. Bagi Tim, agar kualitas kita terus meningkat, yang terpenting adalah keterbukaan. “Jangan jadi orang yang merasa pintar kemudian menutup diri. Janganlah kita rakus,” ungkapnya. Tim menambahkan, ketika ada proyek penelitihan jangan dipaksanakan untuk dikerjakan sendiri. “Jika ada proyek sebaiknya dikerjakan bersama-sama dengan teman, terutama tema yang memiliki kajian ilmu yang berbeda. Sehingga hasilnya akan lebih cepat dan berkualitas.” Selain itu, kata Tim, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam mempercepat penulisan jurnal internasional hingga ter-publish. “Menulislah sesuai dengan bidang yang kita kuasai, berkolaborasilah dalam melakukanpenelitihan sehingga ada tim diskusi, dan tentunya harus ada fasilitas pendukung sebagai penunjang dilajukannya riset tersebut,misalnya perpustakaan atau library of open access journals. Dengan begini kalian akan mudah untuk membuat jurnal internasional,” papar pria yang mahir berbahasa Sunda ini. Wakil Rektor IUMM yang hadir di acara ini mengatakan, UMM memiliki banyak dosen potensial. Namun, dari 56 prodi di universitas,guru besar yang dimiliki hanya 13 orang. “Semoga kegiatan ini tak hanya berhenti pada workshop namun juga ada produk jurnal internasionalnya. Paling tidak,calon guru besar punya dua artikel yang ter-publishdijurnal internasional karena ini juga bagian dari internasionalisasi UMM,”tuturnya. (nov/han)
Prodi Kehutanan Kenalkan Potensi Pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

PROGRAM Studi (Prodi) Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Kuliah Tamu bertajuk “Pengelolaan Kawasan Peletarian Alam dan Zonasi” Jumat (30/9) di Auditorium UMM. Kuliah tamu menghadirkan Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTN-BTS) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Muhammad Wahyudi SP MSc. Acara dihadiri mahasiswa baru Prodi Kehutanan dan sejumlah fungsionaris Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kehutanan. Dalam materinya, Wahyudi mengurai Pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sesuai SK Menteri Kehutanan Nomor 178/Menhut-II/2005 tanggal 29 Juni 2005, berdasarkan wilayah admisnistrasinya, Taman Nasional Bromo Tengger Semerumemiliki luas tanah sebesar 50.276,20 hektar. Bentangan tersebut, kata Wahyudi, tentu menyimpan banyak potensi kawasan yang luar biasa. “Selain potensi keanekaragaman hayati berupa flora dan Fauna, TN-BTS juga banyak menyimpan potensi lainnya. Antara lain, potensi jasa lingkungan, potensi objek wisata budaya, potensi wisata alam serta potensi objek wisata alam,” papar alumni Prodi Pendidikan Biologi UMM angkatan 1993 ini. Untuk meningkatkan kerjasama pengelolaan taman nasional, BBTN-BTS telah bekerjasama dengan beberapa pihak terkait, mulai dari instansi pemerintah, perusahaan swasta, perguruan tinggi serta organisasi internasional. “Misalnya dalam pemanfaatan jasa lingkungan air, kami bekerjasama dengan pemerintah desa untuk pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga dan pertanian. Selain itu, dalam aspek pembangunan maupun penyempurnaan infrastruktur wisata alam, kami bekerjasama dengan perusahaan swasta, juga bantuan sarana dan prasarana bagi paguyuban pelaku wisata,” lanjut Wahyudi. Di akhir sesi, Wahyudi juga memberi pesan moril kepada peserta. Ia menyebut, aspek penting dalam pengelolaan potensi-potensi di atas dapat berjalan baik dengan tidak mengutamakan kepentingan sesaat dan mengorbankan kepentingan masa depan. “Mari bergandeng tangan menjaga kelestarian hutan,” pungkasnya. (can/han)
Roadshow AFI 2016, MAFI Fest Nominasi Apresiasi Festival Film Terbaik

SEBELUM nantinya acara puncak Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016 digelar di kota Manado, Sulawesi Utara pada 8 Oktober 2016, AFI 2016 melakukan roadshow ke beberapa kota, yaitu Banjarmasin, Makassar, Padang, dan Malang. Di Malang, roadshow diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama dua hari, Jumat-Sabtu (30/9-1/10). Dipilihnya UMM sebagai lokasi roadshow, menurut Kepala Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film)Kemendikbud RI Maman Wijaya,lantaran komunitas film di UMMgaungnya sudah terdengar ke seantero Nusantara. Terlebih dengan masuknya gelaran tahunan apresiasi film milik UMM, Malang Film Festival (MAFIFest) ke salah satu nominasi, yaitu apresiasi festival film. Pada nominasi tersebut, MAFI Fest akan bersaing dengan empat festival lainnya, yaitu Denpasar Film Festival, Anti-Corruption Film Festival, Jogja-Netpac Asian Film Festival, dan Jakarta Documentary & Experimental Film Festival. Di antara kelima festival yang masuk nominasi, MAFI Fest merupakan satu-satunya festival film garapan mahasiswa, mengingat festival lainnya merupakan garapan sineas profesional. “Ini merupakan awal kerjasama yang baik. Mudah-mudahan menghasilkan sesuatu yang lebih produktif di masa depan. Kami berharap dari Malang ini,terutama dari Malang Film Festival, akan lahir sineas-sineas unggul, yang bisa bicara di kancah nasional maupun internasional,” harap Maman. Tahun depan, lanjut Maman, UMM dan Pusbang Film akan mengagendakan kerjasama yang lebih konkrit. “Pak menteri sangat concern, terutama dalam pengembangan film. Serta mendorong para komunitas perfilm untuk maju,” lanjut Maman. Terkait rangkaian acara roadshow AFI 2016 di UMM, beberapa kegiatan yang digelar yaitu nonton bareng (nonbar) dan diskusi film Sepatu Dahlan bersama sang pemeran utama, Donny Damara pada Jumat (30/9) di UMM Dome, dilanjurkan nonbar film Princess, Bajak Laut dan Alien pada Sabtu (1/10) di alun-alun Kota Malang. Film Sepatu Dahlan merupakan karya inspiratif garapan sutradara Benni Setiawan yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama mengangkat kisah sosok Dahlan Iskan. Setelah film selesai, para penonton yang mayoritas mahasiswa diajak berdiskusi terkait perkembangan perfilman tanah air. Donny Damara yang sekaligus bertindak sebagai Ketua Panitia AFI 2016, sangat mengapresiasi kegiatan nonbar tersebut. Menurutnya, film yang baik adalah film yang tidak memiliki jarak dengan para penontonnya. Nonbar, baginya, adalah salah satu cara efektif untuk meniadakan jarak tersebut. “Kegiatan pemutaran film seperti nonbar kali ini merupakan salah satu kesempatan langka untuk lebih mendekatkan jarak antara para sineas tanah air dengan para penikmat film. Dan seharusnya, kegiatan-kegiatan semacam ini lebih sering diadakan, sebagai wadah edukasi terhadap perfilman tanah air,” ucap Donny saat ditemui di sela-sela pemutaran film. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan menyambut baik gelaran AFI 2016. “Roadshow AFI digelar di UMM, ini tidak lain dalam rangka memberikan penajaman cara berpikir kita, sehingga memperoleh sesuatu yang produktif dan edukatif. Ini bagus bagi sineas muda UMM,” kata Fauzan.(acs/han)
Unggulkan Kurikulum dan Kerjasama Internasional, Prodi Biologi Pertahankan Akreditasi A

PROGRAM Studi (Prodi) Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mempertahankan akreditasi A. Sesuai surat ketetapan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) No 1699/SK/BANPT/Akred/S/VIII/2016, Prodi Biologi UMM menyandang akreditasi tertinggi itu hingga 2021. Dengan begini, sudah dua kali berturut-turut Prodi Biologi UMM meraih akreditasi A, yang diawali pada 2011. Ketua Prodi Biologi UMM Dr Yuni Pantiwati MPd mengatakan, untuk akreditasi kali ini Biologi UMM memiliki keunggulan di bidang kurikulum. “Dalam bidang kurikulum kami mengikuti seluruh kurikulum yang diterbitkan oleh pemerintah serta melakukan implementasi kurikulum tersebut dengan baik,” ungkap Yuni. Tidak hanya berfokus pada penerapan kurikulum, namun Biologi UMM juga terus menggenjot berbagai kerjasama dalam maupun luar negeri. Lebih lanjut, dikatakan Yuni, Biologi UMM saat ini sedang berupaya untuk meningkatkanprestasi melalui kerjasama internasional. “Kerjasama internasional ini sudah menjadi kewajiban bagi setiap Prodi untuk saat ini,” ujar dosen asal Jember tersebut. Yuni mengaku mahasiswa dan dosen Biologi UMM beberapa kali sudah melakukan kunjungan ke tiga negara, yaitu Thailand, Malaysia, dan Singapurauntuk kepentingan benchmarking prodi. Bahkan, Biologi UMM memiliki Studi Lapang Terintegrasi (SLT). Studi ini mengajak mahasiswauntuk belajar lebih dan mencari pengalaman lebih di dunia internasional. Dosen Biologi UMM juga tengah mengembangkan penelitian hewan merayap dan tumbuhan merambat dengan salah satu perguruan tinggi di China, Guangxi University di Guilin. Penelitian dosen, pengabdian masyarakat dan publikasi jurnal maupun oral menjadi pekerjaan rumah yang masih harus dievaluasi untuk akreditasi ke depannya. Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar,Prodi Biologi jugamenyediakan program pemagangan biologi dan nantinyasetiap mahasiswa direkomendasikan untuk magang di instansi-instansi. “Saat ini Prodi Biologi sedang menyiapkan Memorandum of Understanding(MoU) serentak dengan semua instansi yang terkait untuk mempermudah mahasiswa dalam proses magang nanti,” jelas dosen FKIP UMM tersebut.(jal/han)
UMM Diundang Perkenalkan Islam Indonesia di Taiwan

DIREKTUR Kamar Dagang Taiwan, Ismail Mae, mengundang secara khusus Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memperkenalkan Islam Indonesia kepada sejumlah lembaga pendidikan dan pemerintahan di Taiwan. MenurutIsmail,sebagai lembaga Islam terkemuka di Indonesia, UMM memiliki tradisi keilmuan yang kuat, juga nuansa keislaman yang kental. Selain mengenalkan Islam Indonesia, UMM juga akan mempercepat kerjasama yang telah dimulai UMM sebelumnya dengan sejumlah perguruan tinggi di Taiwan. Salah satunya,pihak Taiwan akan menawarkan program magang di perusahaan Taiwan yang ada di Indonesia. “Pak Ismail Mae akan merekomendasikan perusahaan yang dituju. Pada saat yang bersamaan, mahasiswa kita juga dilibatkan disitu,” papar Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto. Selain UMM, pimpinan perguruan tinggi yang turut diundang mengenalkan Islam di Taiwan yakni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Al-Azhar, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan UIN Medan.Tak kalah penting, tujuan berangkatnya limapimpinan universitas Islam ini juga bakal membantu memberdayakan serta membantu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan. Salah satunya memperjuangkan hak libur hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha. Saat kunjungan ke UMM, Rabu (28/9), Ismail Mae menyebut, di Taiwan setidaknya terdapat 300 ribu TKI yang tidak mendapat hak libur di duahari raya. “Di sini para rektor bisa berperan. Caranya sederhana, pimpinan perguruan tinggi yang nantinya berangkat mengusahakan, dalam kontrak TKI, dimasukannyaklausul yang bunyinya kurang lebih ‘dapat jatah libur duahari pada hari raya’. Jika berhasil, itu sudah luar biasa,” terangnya. Rektor UMM Fauzan yang turut menjamu Ismail menyarankan untuk dibuat pusat studi Islam di sejumlah perguruan tinggi di Taiwan, dengan mengadopsi konsep American Corners dan China Corners seperti yang terdapat di UMM. Menjelang akhir kunjungan, Ismail Mae menyempatkan diri mengunjungi American Corners dan China Corners UMM serta mahasiswa yang sedang menjalani kelas bahasa Mandarin di China Corners. Ismail juga sedikit berbasa-basi dengan sapaan “Apa Kabar” dalam bahasa Mandarin. (can/han)
MoU dengan Youngsan University, Mahasiswa UMM Bisa Raih Gelar Ganda

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini memiliki banyak kesempatan untuk kuliah di kampus luar negeri melalui program kredit transfer. Terbaru, UMM baru saja menandatangani naskah kerjasama (MoU) dengan Youngsan University (YSU), Korea Selatan. MoU dilakukan saat Rektor UMM Drs Fauzan MPd, Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi, dan Kepala Kantor Hubungan Luar Negeri Dr Abdul Haris MA mengunjungi YSU pada 17 hingga 23 September lalu. Menindaklanjuti MoU tersebut, perwakilan YSU, Prof Dr Je Dae Sik yang gantian mengunjungi UMM pada Selasa (27/9) lalu. Abdul Haris menjelaskan, beberapa program telah disepakati antara UMM dan YSU, di antaranya yaitu program kredit transfer dan gelar ganda (double degree). “Kalau kredit transfer, mahasiswa UMM bisa menjalankan sisa SKS-nya di sana. Kalau double degree, mahasiswa yang sedang menempuh sarjana dapat kuliah dua tahun di UMM dan dua tahun sisanya di Youngsan,” jelas Haris. Haris menambahkan, jika mahasiswa UMM melakukan program double degree, maka otomatis akan mendapat dua ijazah. Nantinya, untuk pengerjaan tugas akhir atau skripsi bisa dibimbing melalui sistem online. “Jika sudah selesai nanti yang bersangkutan akan mendapatkan ijazah dari UMM dan dari Universitas Youngsan.” Tidak hanya mahasiswa yang sedang menempuh sarjana saja yang dapat belajar disana, namun alumni UMM juga dapat melanjutkan studinya di Youngsan dan mendapat perlakuan khusus. “Jika alumni UMM mendapat surat keterangan dari Rektor akan mendapatkan potongan biaya 50% di Universitas Youngsan,” terangnya lebih lanjut. Abdul Haris menyatakan, UMM sengaja mengambil kerjasama itu dalam rangka mencapai pengakuan internasional. “Kami menginginkan mahasiswa UMM bisa memiliki pengalaman internasional, karena pengalaman internasional itu dapat menjadi bekal bagi kedepannya,” ujar dosen Fakultas Agama Islam (FAI) tersebut. Terlebih, kata Haris, YSU merupakan universitas yang berada di daerah industri. “Mahasiswa bisa dengan mudah mencari pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk biaya perkuliahannya,” jelasnya. Hingga saat ini, UMM telah banyak menjalin kerjasama dengan berbagai universitas internasional. Dengan banyaknya kerjasama ini, UMM berharap semua mahasiswa dapat terpacu keinginannya untuk memiliki pengalaman internasional. Sementara itu perwakilan YSU Prof Dr Je Dae Sik menyatakan, rencana perkuliahan yang ditawarkan adalah mahasiswa harus menempuh 16 SKS dalam dua semester pertama dan juga harus memiliki kemahiran dalam bahasa Inggris paling tidak meiliki nilai TOEFL 530. Tak hanya itu, Je Dae Sik menjelaskan, YSU akan memfasilitasi mahasiswa UMM yang akan melanjutkan studinya. “Studi yang bisa dilakukan S1 ataupun S2 dengan belajar di 40 Program Studi sarjana dan 5 fakultas untuk program pascasarjana,” ujarnya. (jal/han)