Kajian Al-Quran Tematik Tingkatkan Atmosfer Keislaman Kampus

SEBELUM dimulainya kembali aktivitas kuliah mahasiswa pada 13 September 2016 yang diawali dengan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) pada 5-8 September, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memulai bulan ini dengan tradisi baru, yaitu Kajian Al-Qur’an Tematik yang diadakan setiap Senin dan Kamis ba’da dluhur. Daya tariknya, yang mengisi kajian itu adalah para pejabat universitas. Rektor UMM, Fauzan, menjadi pemateri pertama kajian ini pada Kamis (1/9) kemarin. Secara berturut-turut nantinya akan dilanjutkan oleh Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi, Senin (5/9), Wakil Rektor II Dr Nazaruddin Malik MSi, Kamis (8/9), Wakil Rektor III Dr Sidik Sunaryo MSi, Senin (15/9), lalu diteruskan oleh para pimpinan kampus lainnya, baik di level fakultas maupun universitas. Rektor memulai Kajian Al-Qur’an Tematik dengan mengangkat topik tentang “Menghargai Waktu” dalam memaknai Surat Al-Ashr (103): 1-3. Dalam kajiannya, Fauzan membagi pengertian waktu menjadi dua makna; material dan imaterial. Menurutnya, material ini berkaitan dengan jatah waktu yang manusia miliki selama 24 Jam. Sedangkan dalam konteks imaterial, yaitu rasa berkaitan soal waktu. Dalam melakukan ibadah misalnya, lanjut Rektor,kita kerap merasa waktu berlalu begitu lambat, sedangkan ketika mengerjakan sesuatu yang bersifat rekreatif, kadang waktu begitu cepatnya berlalu. “Sehingga, kita harus mampu mengubah perasaan ibadah kita menjadi sesuatu yang bersifat rekreatif,” tutur Fauzan. Fauzan mengatakan, Allah menciptakan manusia yang pekerjaannya melalaikan waktu. Oleh karena itu, Allah menegaskan dalam surat al-Ashr dengan bunyi“Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan rugi, kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh.” Penyesalan itu erat kaitannya dengan waktu. Banyak hadits juga ungkapan ulama tentang betapa pentingnya kedudukan waktu. Salah satunya, Fauzan mengutip ucapan Imam Syafi’i yang menerangkan bahwa waktu itu ibarat pedang. “Jika kita tidak pandai-pandai memanfaatkannya, maka kita sendiri yang akan dimanfaatkan waktu,” ujar Fauzan. Terkait kegiatan ini, Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin mengatakan, Kajian Tematik ini merupakan bentuk literasi Al-Qur’an pada masyarakat akademik. Hal itu, menurutnya, terintegrasi dengan berbagai kebijakan kampus ini yang berupaya menghidupkan nilai-nilai Islam. “Tradisi ini menandai hidupnya nilai-nilai Islam di lingkungan kampus,” ujarnya. Terlebih, kata Syamsul, yang menjadi narasumber adalah para pejabat, sehingga bisa diperkirakan getaran pengaruhnya akan lebih luas. Selian itu, tema-tema yang diangkat bersifat interdisipliner, sehingga tampak ada upaya mendialogkan antara Al-Qur’an dan sains. Menambahkan hal itu, Asisten Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Dr MohNurhakim MAg menerangkan, tema-tema yang diangkat yakni tema yang sesuai dengan kebutuhan civitas akademika atau yang tengah aktual di masyarakat, yaitu topik-topik sederhana, seperti paparan Rektor tentang menejemen waktu. Meski tidak berhubungan secara langsung dengan upaya integrasi AIK dengan Mata Kuliah non-AIK yang dicangkan UMM pada Rapat Kerja Bidang Akademik UMM Agustus lalu, agenda ini dinilai perlu diadakan sebagai upaya menyempurnakan program Acara ini diharapkan dapat menunjang upaya UMM dalam mengintegrasi mata kuliah AIK dengan non-AIK. “AIK ini kan kurikulum, tapi kurikulum itu apa artinya kalau hanya sekedar formalitas pembelajaran, sedangkan lingkungannya sendiri tidak diciptakan. Agenda ini merupakan bagian dari usaha menciptakan atmosfer yang religius di kampus ini,” kata Nurhakim. Nurhakim berharap, para pimpinan nantinya dapat menjadi role model dengan ikut memenuhi dan memakmurkan masjid untuk shalat dluhur berjamaah. “Implikasinya akan luar biasa,” ujarnya. Ia juga mewanti-wanti kepada seluruh mahasiswa UMM, khususnya yang tengah mengadakan kegiatan pembelajaran AIK di Masjid untuk menghentikan segala aktivitas pembelajaran, lantas ikut bergabung menunaikan shalat berjamaah. “Sebenarnya dari dulu sudah ada kebijakan itu, tapi praktiknya belum begitu sukses,” tutupnya. (can/han)
Dosen FPP Gagas ‘Satu Rumah Satu Kolam’ sebagai Inovasi Urban Farming

PENGUATAN riset berbasis kepakaran menjadi ciri khas UMM untuk mengembangkan mutu akademik agar bisa bersaing di level internasional. Hal itu selaras dengan ikhtiar UMM yang terus berupaya melakukan pemetaan kepakaran para dosen agar memiliki keahlian yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu hasil riset terkini yang dapat menjadi solusi bagi masyarakat urban yaitu konsep one house one pond (satu rumah satu kolam) yang digagas dosen Prodi Perikanan, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, Riza Rahman Hakim MSc. Dalam konsep tersebut, Riza memiliki strategi memanfaatkan lahan sempit di perkotaan untuk berternak ikan hasil dengan hasil maksimal. Dalam konsep ini, Riza menggabungkan antara budidaya ikan lele di kolam terpal dengan budidaya sayuran melalui sistem aquaponik. Ada dua sistem yang dikembangkan Riza, yaitu sistem budidaya lele biona berbasis bio-natural serta budidaya lele bionik yang merupakan kombinasi antara bio-natural dan aquaponik. Secara umum, one house one pond menjadikan kotoran lele sebagai pupuk tanaman di atas kolam yang terus berulang. Selain hemat dalam memberi makan lele, konsep ini juga meminimalisir pemakaian air. “Dalam konsep ini, penggunaan air sangat sedikit. Pada budidaya lele tradisional, sekitar 50% air diganti dan dilakukan hampir setiap hari, airnya juga berbau tak nyaman. Dengan konsep one house one pound, penggantian air hanya 30% dan dilakukan seminggu sekali. Airnya juga tidak berbau,” jelas Ketua Prodi Perikanan ini. Dengan cara ini, Riza menjelaskan, satu meter kolam dapat diberikan 1000 ikan lele dan dalam waktu tigabulan sekali dapat dipanen sebanyak 300 ikan lele.Hal ini, diyakini Riza, tentu dapat menjadi solusi bagi kemandirian pangan keluargalantaran keluarga merupakan kelompok terkecil dan paling efektif dapat mewujudkan kemandirian pangan. Lantaran penelitian tersebut, Riza diundang untuk mengikuti pendidikan singkat selama duapekan di Wageningen University, Belanda, pada 29 Februari hingga 16 Maret 2016, untuk memperkuat risetnya tersebut. Pada kegiatan yang dihadiri peneliti 10 negara tersebut, UMM merupakan satu-satunya kampus swasta yang mengirimkan perwakilannya. Setelah kembali dari Belanda, Riza makin yakin konsepnya sangat relevan diterapkan di kota-kota dengan lahan terbatas. Selain mengembangkan one house one pondsebagai urban farming, Riza juga ingin mengembangkan teknologi perairan yang memang telah menjadi keunggulan Negeri Seribu Tulip itu. Riza berharap, hasil riset ini dapat mewujudkan gagasannya agar terealisasi satu rumah satu kolam di masyarakat perkotaan. “Apalagi, ini akan meningkatkan protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh,terutama untuk masa perkembangan dan asupan otak,” imbuh peraih gelar Master of Science dari Kasetsart University, Thailand ini. (jal/han)
Purnatugas, Nurhadi Kenang Atap Kelas UMM yang Bocor

RABU (31/1), jajaran dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta pejabat struktural Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti acara silaturrahim dan purnatugas dosen Prodi Civic Hukum FKIP UMM Drs Nurhadi MSi yang telah mengabdi di kampus ini sejak 1981. Nurhadi dan UMM memiliki kedekatan emosi yang sangat kuat. Saat ia bergabung di UMM, kala itu kampus ini tengah melakukan perintisan. Kegiatan perkuliahan masih sulit dilakukan karena keterbatasan ruangan. “Bukan hanya itu, ketika hujan menerpa, atap kelas seringkali bocor,” kenang Nurhadi. Alas dan lantai yang masih terbuat dari papan kayu juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Ia harus berhati-hati saat akan menempatkan kakinya pada pijakan papan agar tidak terperosok lantaran papan yang sudah reot. Layaknya orang sukses lainnya, Nurhadi memiliki filosofi yang menjadi ciri khasnya sehingga selalu diingat dosen lainnya karena selalu ia sampaikan di berbagai forum. Filosofi hidup tersebut yaitu NK4: Niat, Kesempatan, Keberanian, Kekayaan dan Ketahanan. “Di UMM ini diniati ibadah saja, jangan hanya niat mencari uang saja,” kata Nurhadi. Rektor UMM, Fauzan, dalam sambutannya di Auditorium UMM bercerita bahwa Nurhadi adalah dosennya, di mana beliau dikenal sebagai sosok yang tegas namun tidak pemarah. “Pak Nurhadi tetaplah bagian dari keluarga UMM, jangan sampai pensiun membuat jarak yang merenggakan silaturrahim di UMM,” tuturnya. Bagi Rektor, yang paling penting dalam acara ini adalah merawat rasa. “Merawat rasa itu tidak mudah, apalagi di tengah-tengah keringnya hubungan. Ini adalah bentuk penghormatan atas jasa-jasa atau dedikasi yang telah dilakukan Pak Nurhadi,” imbuhnya. Fauzan juga berpesan bahwa kehormatan itu bukan jabatan tapi kehormatan. “Kehormatan didapatkan karena diri sendiri, maka berbuatlah baik di mana saja,” tutup Rektor. Wakil Rektor I Syamsul Arifin menganalogikan hidup Pak Nurhadi ibarat mengayuh sepeda, yang dilakukan untuk mencapai keseimbangan. “Nah, Pak Nurhadi saat ini sudah mencapai keseimbangan itu,” ujarnya mengapresiasi dosen yang telah mengabdi di UMM selama 35 tahun itu. (nov/han)
UMM Sediakan Beasiswa S2 HAM dan Syariah

PUSAT Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (PPs UMM) bekerjasama dengan The Asia Foundation, menawarkan beasiswa pendidikan jenjang strata dua (S2) untuk studi Hak Asasi Manusia (HAM) dan Syariah. Beasiswa diberikan kepada 10 calon mahasiswa yang dinyatakan memenuhi persyaratan. Tujuan beasiswa ini, kata Wakil Rektor I, Prof Dr Syamsul Arifin MSi, untuk memberikan pemahaman akademik ihwal interkonektivitas HAM dan Syariah. “Berbagai persoalan pelanggaran HAM yang terjadi sebenarnya bersumber dari pemahaman terhadap ajaran agama, terhadap syariah. Bisa dikatakan, syariah juga terkadang ikut menjustifikasi terjadinya pelanggaran. Karena itu, muncullah program ini,” ujar Syamsul Arifin. Diakuinya, isu syariah dan HAM tidak banyak diminati masyarakat. Kendati demikian, Syamsul menilai isu tersebut amat penting. “Indonesia adalah negara yang memiliki instrumen HAM, bahkan Indonesia sudah meratifikasi instrumen HAM, baik nasional maupun internasional,” lanjut Syamsul. Adapun beasiswa yang diberikan meliputi biaya pendaftaran, biaya daftar ulang (4 semester), SPP (4 semester), biaya ujian proposal, dan biaya ujian tesis.“Yang tidak ter-cover itu biaya wisuda dan living cost saja,” kata Syamsul. Masa studi pada konsentrasi ini dirancang 4 semester yang ditempuh dalam kurun waktu 2 tahun. Mahasiswa yang lulus berhak menyandang gelar kesarjanaan Magister Agama Islam. Kegiatan perkuliahan akan berlangsung pada 13 September 2016 mendatang. Syamsul menjelaskan, kompetensi yang diharapkan dari lulusan program ini di antaranya memiliki wawasan yang mendalam tentang HAM secara historis, filosofis dan teoritis. Selain itu, lulusannya juga akan memiliki wawasan tentang syariah dan keterkaitannya dengan isu-isu HAM dalam konteks nasional dan internasional; memiliki kemampuan mengkaji interseksi antara HAM dan syariah dengan menggunakan pendekatan keilmuan interdisipliner, serta memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap komunitas yang menghadapi persoalan HAM. “Sebelum ada program beasiswa ini, PUSAM telah memiliki banyak aktivitas maupun kerjasama dari dalam maupun luar negeri,” kata Syamsul. Selain itu, terdapat pula kursus yang bernama Master Level Course on Syariah and Human Rights (MLC-SHR) yang pada 2016 ini telah memasuki tahun kelima dalam penyelenggaraannya. “Tim PUSAM berpikir, kalau cuma berbentuk kursus saja kok kurang mantap ya. Transfer dan transformasi yang berkaitan dengan HAM dan syariah itu bagus kalau dilembagakan atau diformalkan menjadi program pendidikan setingkat magister,” pungkasnya. (can/han)
Ciptakan Pewarna Makanan Alami, Kini Dosen UMM Ini Miliki Sembilan Hak Paten

KEPRIHATIAN Dr Ir Elfi Anis Saati MP akan pewarna tekstil pada makanan mendorong dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menciptakan pewarna alami makanan dari bunga. Ikhtiarnya berbuah sukses. Hingga saat ini, Elfi telah mengantongi sembilan hak paten dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Lebih dari itu, karena berbagai hasil temuannya dipandang sebagai produk yang sehat, aman dan halal, Elfi diganjar penghargaan sebagai salah satu dari lima poster produk halal terbaik di dunia pada gelaran World Halal Research 2011 oleh Halal Industry Development Corporation (HDC) Global di Kuala Lumpur, Malaysia. Mulanya, dosen Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM ini amat resah dengan pewarna makanan buatan yang banyak beredar di masyarakat. Diakuinya, pewarna tekstil memang membuat warna makanan terlihat lebih mencolok dan tampak menarik, sehingga masyarakat cenderung mengkonsumsinya karena tampilan visual yang menggoda. Padahal, kata Elfi, warna yang mencolok itu justru patut dicurigai menggunakan pewarna tekstil yang dapat merusak tubuh. “Karena saya orang gizi, maka perhatian saya lebih ke arah keamanan pangan,” tutur auditor halal Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia, Jawa Timur ini. Keresahan itu lantas mengantarkannya pada penemuanfungsi ekstrak pigmen bunga mawar merah sebagai zat pewarna dan antioksidan alami. Awalnya, Elfi mengamati bunga cacar air yang warnanya dapat larut dalam air. Ia lantas berpikir jika antosianin atau pigmen bunga yang dapat larut dalam air ini dapat diolah menjadi bahan pewarna makanan sehingga membuat makan lebih sehat. Elfi pun kemudian meramu antosianin dengan beberapa asam, seperti asam sitrat dan asam asetat, sehingga warna yang dilahirkan aman dikonsumsi manusia dan aman bagi lingkungan. Elfi sampai rela mengunjungi berbagai kampus terkemuka di Indonesia hingga Australia untuk mengidentifikasi struktur molekul mawar merah. Selain mawar merah, ia juga mengambil zat pewarna dari anggur, kulit buah naga, ubi, bunga kana, bayam merah, turi merah, dan berbagai sumber lainnya yang dijaminkeamanannya. Selain itu, pewarna alami milik Elfi juga memiliki warna yang cantik, sehingga tetap dapat terlihat menarik di mata konsumen. “Manfaat antosianin pada bunga sangatlah banyak karena sifatnya yang larut dalam air. Selain dapat menjadi bahan warna alami makanan, ia juga bersifat anti-oksidan, anti-herbal, anti-akrobia, menghambat mikroba, bahkan dapat menambah awet muda dan mencegah penyakit kulit,” papar Elfi. Lebih dari itu, Elfi juga mengungkapkan bahwa ia telah memproduksi antoksianin mawar dalam bentuk tablet effervescent. Tablet ini merupakan salah satu penemuannya yang telah diujicobakan pada tikus oleh anaknya yang berprofesi sebagai dokter. Hasilnya, pewarna tersebut berfungsi sebagai pelindung hati dan ginjal tikus. Elfi mengaku bahwa penemuannya sempat diminati salah satu produsen kosmetik nasional untuk digunakan sebagai pewarna hand and body lotion. Hasil risetnya itu juga mengundang tawaran dari berbagai negara, seperti Malaysia dan Korea yang tertarik membelinya. Namun, Elfi menolak tawaran-tawaran itu lantaran baginya, bunga-bunga yang ditelitinya merupakan bagian dari kekayaan alam bangsa ini. (nov/han)
Jalankan Sistem Blok Terintegrasi, FK Fokus Tingkatkan Akreditasi

FAKULTAS Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kian serius untuk meningkatkan akreditasinya. Sebelumnya, Rektor UMM Fauzan menyatakan, FK UMM telah mengalami banyak perkembangan. Fauzan mencontohkan banyaknya Sumber Daya Manusia (SDM) FK, secara kualitas maupun kuantitas, yang turut dibuktikan dengan peningkatan hasil penelitian dan karya ilmiah lainnya. Mengamini hal tersebut, Dekan FK UMM, dr Irma Suswati M Kes, menyebut bahwa tulisan-tulisan dosen FK UMM sudah banyak yang dipakai di perguruan tinggi lainnya. “Salah satunya buku yang ditulis oleh dr. Mochamad Aleq Sander tentang Atlas Patologi Anatomi yang telah menjadi buku pegangan di kampus-kampus lainnya,” kata Irma. Selain peningkatan jumlah karya ilmiah dan produk dosen, FK juga tengah fokus mengembangkan sistem pendidikan dokter. Terkait hal tersebut, saat ini FK UMM telah menerapkan sistem pembelajaran blok terintegrasi, yang mengkolaborasi antara mata kuliah dasar (pre-klinik) dan mata kuliah tahap kedua (klinik). “Antara pre-klinik dan klinik dikolaborasikan. Contohnya, jika ada pasien yang sakit harus ditinjau fisiologisnya dulu, lantas dilihat patologisnya, baru kemudian muncul kesimpulan,” jelasnya. Integrasi dan kolaborasi, lanjur dr Irma, juga dilakukan dengan menambahkan ciri-ciri khusus UMM, misalnya integrasi yang dilakukan antara ilmu kedokteran dan keislaman. Irma mencontohkan, dalam blok trauma juga diajarkan tentang merawat jenazah serta bagaimana beribadah dalam keadaan darurat dengan keadaan trauma. “Jadi setiap mata kuliah kita buat ada nilai keislamannya, dengan memasukkannya ke pembelajaran,” jelasnya. Sistem pembelajaran yang dijalankan FK UMM ini terbukti menuai hasil. Pada 2016, 2 mahasiswa FK UMM termasuk dalam 10 lulusan terbaik se-Indonesia dalam ujian keterampilan Objective Structure Clinical Examination (OSCE). “Kita masih mengusahakan untuk menjadi yang terbaik dalam tes tulisnya juga,” tutur dr Irma. Selain itu, dari segi lulusan, setiap periode FK UMM selalu stabil dalam meluluskan mahasiswanya. “Dalam satu periode, idealnya sekitar 11-14 orang yang lulus. Di FK UMM selalu stabil, kami selalu meluluskan satu station yang terdiri dari 11-14 mahasiswa itu. Untuk menaikkan akreditasi, kami juga terus berusaha meningkatkan kualitas mahasiswa dan dosen,” ujarnya. Pada tahun ini, FK UMM mengadakan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) dengan 60 peserta dan OSCE dengan 50 peserta ujian. UKMPPD yang dilaksanakan di UMM kampus II pada Sabtu (27/8) ditinjau langsung oleh pihak penyelenggara, yaitu Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen-Dikti). “Semoga dengan diadakannya ujian ini bisa menghasilkan lulusan-lulusan terbaik lagi,” harap Irma. Saat ini, menurut Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi, FK UMM berstatus akreditasi B dan tengah menargetkan akreditasi A. Jika nantinya target itu tercapai, maka UMM dapat menerima mahasiswa baru FK sebanyak 250 mahasiswa. “Karena sekarang statusnya masih akreditasi B, kuotanya tidak boleh lebih dari 200 mahasiswa,” ujar Syamsul. (jal/han)
Laboratorium Sentral UMM Akan Tingkatkan Akreditasi

UMM saat ini memiliki 42 laboratorium yang terdiri dari 25 laboratorium eksakta dan 17 laboratorium sosial. Menurut Rektor UMM, Fauzan, laboratorium tidak hanya menjadi sumber belajar mahasiswa dan kepentingan internal-akademiklainnya tapi juga akan melayani perusahaan yang menginginkan uji laboratorium. Agar konsep makro tersebut terlaksana, maka ide pendirian laboratorium sentralgagasan Kantor Pengelola dan Pengendalian Akreditasi (KPPA) UMM, kata Rektor, tengah direalisasikan. “Pembangunannya sudah direncanakan tahun 2015 lalu dan pada tahun berikutnya diperkirakan akan segera rampung,” ungkap Fauzan. Sejauh ini, menurut Fauzan,belum banyak perguruan tinggi yang memiliki laboratorium khusus untuk pengujian. Dengan hadirnya laboratorium sentral nantinya otomatis akan mengangkat akreditasi kampus. “Kita akan mengidentifikasi laboratorium yang memiliki tipologi yang sama, khususnya laboratorium-laboratorium eksakta. Jadi, laboratorium sentral akan melayani uji laboratorium, terutama perusahaan yang ingin uji laboratorium ke UMM,” ujar Fauzan. Kepala Divisi Akreditasi Laboratorium dan Perpustakaan UMM, Elfi Anis Saati menjelaskan, laboratorium sentral berada dibawah naungan divisinya yang juga bertanggungjawab meningkatkan Sistem Manajemen Mutu (SMM) laboratorium melalui peningkatan kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM). Pendirian laboratorium sentral ini, kata Elfi,mengalami proses yang panjang dengan awal mula pembekalan setiap laboratorium untuk peningkatan akreditasi. Langkah tersebut merupakan usaha meningkatkan kualitas akademik UMM. “Upaya pendirian laboratorium sentraldimulai dengan peningkatan laboratorium eksakta yang sudah memiliki ISO 17025. Melalui tahap klasterisasi maka terpilihlah enamlaboratorium yang terus diberikan pendampingan,” ujar dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMMitu. Laboratorium sentral ini mempunyai tiga tujuan,yaitu meningkatkan manajemen mutu, meningkatkan kualifikasi SDM, dan memperoleh rekognisi berupa akreditasi. Tapi, lanjut Elfi,kemudian diperluas lagi dimana laboratorium sentral menjadi fasilitas yang tidak hanya untuk layanan internal saja,namun juga eksternal,termasuk menerima uji laboratorium dari luar.(jal/han)
KKN UMM Penuh Inovasi dan Pemberdayaan Masyarakat

BAGI Mahasiswa UMM, Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak sekadar formalitas memenuhi kewajiban jelang akhir kuliah. Dari hasil kerja mahasiswa KKN Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017 yang baru saja berakhir pada pertengahan Agustus ini, tampak bahwa apa yang mereka lakukan penuh inovasi dan kreasi, khususnya bagi pemberdayaan masyarakat. Rektor UMM Fauzan memang menegaskan, dalam program KKN, mahasiswa harus mengangkat isu-isu pemberdayaan yang berkesinambungan. “Mahasiswa harus bisa menjadi inisiator, inovator, mencetuskan ide dan mengeksekusinya bersama masyarakat. Tak hanya itu, ide tersebut harus dipastikan bisa berjalan terus. Jangan sampai KKN selesai program terhenti,” kata Fauzan. Kelompok KKN 47 misalnya, yang melibatkan 200 warga Bedayu Talang, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, untuk menanam 1000 pohon Sengon di area tanah kosong seluas tiga hektar. Seperti diketahui, menanam satu pohon bisa menghasilkan sekitar 1,5 kg oksigen, jadi satu pohon yang tertanam bisa menghidupi dua manusia setiap harinya. Penanaman pohon juga bertujuan meningkatkan perekonomian warga Desa Bedayu Talang dan menumbuhkan kepedulian pada lingkungan. Demikian pula yang dilakukan kelompok KKN 123 yang berupaya memperkuat perekonomian warga Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kota Batu, dengan mengajarkan tentang bagaimana mengubah labu siam menjadi stik gondes beserta sistem pengolahannya. Atau yang dilakukan KKN 149, melatih gabungan kelompok tani (gapoktan) menghasilkan pestisida nabati di Dusun Supiturang, Desa Bocek, Kecamatan Karangploso. Juga upaya KKN 21 dalam membuat Desa Jombok, Ngantang, Malang menjadi Desa Agropolitan. Menurut Kepala Divisi KKN Direktorat Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (DPPM) UMM, Amir Syarifudin, KKN kali ini diikuti 5099 mahasiswa UMM yang menyebar di 116 Desa, 61 Kecamatan dan 17 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur. Mulai dari desa di Kabupaten dan Kota Malang, Kota Batu, Pasuruan, Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Jombang, Magetan, Madiun, Tulungagung, Blitar, Bondowoso, Probolinggo, Lumajang, Mojokerto, hingga Sampang. Peserta KKN mengabdi pada masyarakat sejak. (can/han)
Lulusan UMM Harus Mampu Membaca Tanda Zaman
REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan, berpesan agar lulusan UMMmampumemainkan peran penting di tengah-tengah masyarakat lewat ilmu dan pengalaman yang didapat dari kampus ini.Hal tersebut disampaikan Fauzan pada prosesi Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-81yang berlangsung Sabtu (27/8) di hall UMM Dome. “Di samping itu, modal spritual dan juga kepercayaan masyarakat atas pendidikan yang diselenggarakan UMM turut ambil bagian dan sekaligus memberikan kontribusi yang sangat strategis kepada lulusan UMM dalam menjalankan kompetisi kualitatif di bidangnyamasing-masing,” ujar Rektor di hadapan 1,312 wisudawan beserta orang tua/wali yang hadir. Sementara itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Prof HA Malik Fadjar MSc, pada kesempatan ini turut mengajak kaum terdidik,khususnya seluruh para lulusan UMM untuk terus-menerus melakukan olah pikir, menatap, menganalisa, dan sekaligus melakukan gerak antisipasi sehingga mampu mewujudkan harapan-harapan setelah menuntaskan studinya di perguruan tinggi. Bagi Malik, setiap fase tantangannya berubah-ubah. Oleh karenanya, lanjutnya, perubahan di setiap fase tersebut diperlukan kemampuan membaca tanda-tanda zaman. “Lulusan UMM bukan sekedar lulusan yang telah diwisuda,membawa sebuah ijazah, tapi mampu membaca seluruh perkembangan dan mampu memainkan peranan ditengah-tengah perkembangan tersebut,” kataKetua Badan Pembina UMM ini. “Sebagai sarjana UMM, dalam konteks ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’, maka komitmen saudara pada pertumbuhandan perkembangan bangsa ini tidak bisa tidak, mesti kita tunjukkan. Tentang rezeki, tentang nasib, berada di tangan kekuasaan Tuhan, tugas kita cuma berikhtiar dan bekerja sebaik mungkin,” ujarnya. Malik berharap, di mana saja alumni UMM berada, diharapkan mampu menjalankan tugas-tugas amal bakti. “Saya titip sekali lagi kepada saudara, di mana saja Anda berada, disitu pasti ada Muhammadiyah. Jangan lupa katakan saudara-saudara adalah alumni UMM, insya Allah berkahnya itu banyak.” Sedangkan Dirjen Dikdasmen Kemendikbud RI Hamid Muhammad MSc PhD dalam orasi ilmiahnya mengharapkan lulusan UMM dapat mengabdikan diri pada pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. “Saya yakin, lulusan universitas dengan akreditasi sangat baik seperti UMM mampu mencetak sarjana unggul yang bermanfaat bagi masyarakat, apalagi dengan pengakuan internasional yang disandangnya,” paparnya. (can/han)
UMM Perkuat Internasionaliasi dan Hilirisasi Hasil Riset

PROGRAM Pengembangan Karya Ilmiah Doktor (PPKID) yang digagas Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat kinerja penelitian kampus ini terus meningkat. Hal itu ditandai keberhasilan UMM yang kembali mempertahankan Klaster Penelitian Mandiri. Dalam standarisasi Dikti, menurut Direktur DPPM Prof Dr Sujono MKes, kampus-kampus di Indonesia dikategorikan ke dalam empat klaster, yakni Binaan, Madya, Utama dan yang tertinggi adalah Mandiri. Sujono menambahkan, secara kualitas dan kuantitas, penelitian di UMM meningkat, terutama lantaran semakin banyaknya publikasi ilmiah pada jurnal-jurnal internasional. Melalui skema PPKID, para doktor di UMM digelontorkan dana sebesar 25 juta untuk dapat melakukan publikasi internasional. “Program ini kita lakukan karena makin banyaknya pesaing, tidak hanya PTN (perguran tinggi negeri) tapi juga PTS (perguruan tinggi swasta),” paparnya. Tingginya persaingan dapat dilihat dari meningkatnya peraih klaster mandiri. Ketika mendapat klaster mandiri pada 2014, UMM menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta dari total 14 peraih klaster mandiri. Namun, saat tahun ini UMM kembali mempertahankan klaster penelitian tertinggi tersebut, jumlah peraihnya kian bertambah yaitu 25 perguruan tinggi, dan UMM tidak lagi menjadi satu-satunya peraih dari kampus swasta. Untuk itu, kata Sujono, pengembangan penelitian UMM saat ini lebih terfokus pada publikasi internasional dan komersialisasi hasil riset. Publikasi dilakukan agar internasionalisasi karya ilmiah dosen kian menguat. “Salah satunya, melalui publikasi di jurnal internasional terindeks oleh lembaga terindeks terpercaya seperti Scopus.” Sementara itu komersialisasi hasil riset dilakukan dengan cara hilirisasi, yaitu dengan lebih banyak menggandeng kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) daripada menyasar industri besar. Hal itu dilakukan agar prinsip pengembangan akademik melalui riset dapat berjalan beriringan dengan pengabdian masyarakat. Dengan cara itu pula, kata Sujono, UMM juga akan mempunyai income yang diperoleh secara mandiri dari luaran penelitian yang dihasilkan dosen. Agar misi tersebut benar-benar terealisasi, UMM tengah gencar melakukan workshop dan pertemuan ilmiah yang mendukung hal tersebut, semisal sosialisasi e-journal, workshop penulisan jurnal terindeks Scopus, serta temu ilmiah menghadirkan peneliti internasional yang memiliki banyak hak paten. Terakhir, pada pekan lalu, Selasa (24/8), DPPM UMM mendatangkan Prof Wu Da Ying, CEO dan presiden perusahaan biokimia yang berbasis di Amerika Serikat. Prof Wu juga merupakan ahli bio-kimia dan bio-teknologi yang telah memegang lebih dari 14 paten internasional. Sujono berharap, kedatangan Prof Wu dapat memperkuat klaster mandiri yang dimiliki UMM. Terlebih, Prof Wu berencana mengembangkan kemitraan lebih lanjut, salah satunya dengan menyumbangkan buku-buku dan hasil-hasil risetnya pada kampus ini melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan UMM. (han)