Bocius, Boneka Anti Galau Temuan Mahasiswa UMM

PERNAH galau karena merindukan orang-orang yang kita kasihi? Rasa ini mungkin pernah hinggap hampir di perasaan setiap orang, terutama kaum muda saat ini. Tapi tidak perlu khawatir, beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini telah menciptakan boneka lucu yang bisa mengobati dan menghibur disaat kita merasa ‘galau’. Boneka ini diberi nama ‘Bocius’. ‘Bocius’ merupakan akronim dari boneka tarsius. Boneka ini diciptakan lima mahasiswa UMM, yakni Thomi Dhia, Farida Alisha, Ramadhani Putri Isnaeni, Annisatul Izzah, dan M. Andi Putra. Boneka ini mampu menghasilkan suara berupa ucapan motivasi, semangat maupun kata bijak dari sesorang yang ingin menghibur sahabat, keluarga, pacar atau orang-orang terdekat yang sedang merasakan galau. Anissa menjelaskan, Bocius ciptaannya merupakan hasil kerjasama anggota kelompok yang berlatar dari jurusan psikologi dan teknik elektro UMM. Suara yang dihasilkan Bocius berasal dari rekaman suara yang disimpan disebuah micro sd. Kemudian rekaman tersebut bisa diputar melalui audio player yang telah ditanam dalam perut boneka ini. “Jadi kalo beli langsung, pemesan tinggal mengirimkan suara siapa yang mau ditanamkan, jadi nanti kalau mau memutar suara tinggal pencet berut bonekanya, suara orang-orang yang kita rindukan bisa keluar, ” terangnya. Annisa bercerita, ide membuat Bocius bermula dari kekhawatirannya melihat fenomena penyakit ‘galau’ yang menyerang generasi muda saat ini. Mereka menilai penyakit yang bersumber dari kekacauan pikiran ini bisa berakibat fatal jika tidak segera disembuhkan. “Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, tak kenal waktu, efeknya juga dari mulai ngga bisa tidur sampai ada yang mau bunuh diri,” jelas mahasiswa jurusan Psikologi UMM ini. Melihat permasalahan ini sebagai peluang, kemudian Ia bersama keempat rekannya mendaftarkan idenya tersebut dalam kegiatan Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang kewirausahaaan pada akhir 2015 lalu. Setelah melalui seleksi yang ketat, mereka berhasil mengalahkan ide-ide kreatif lainnya. Kemudian pada Maret 2016, karya mereka berhasil terpilih dan didanai oleh Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk dibiayai pengerjaannya. Bocius berbentuk karakter hewan Tarsius yakni hewan asli Indonesia yang termasuk dalam kategori hewan langka. Hewan nocturnal bermata besar ini juga kurang diperhatikan pemerintah keberadaannya serta kurang dikenal masyarakat di Indonesia. “Lewat karya kami ini, kami juga mau mengedukasi masyarakat kalau Indonesia punya hewan semacam ini,” jelas Annisa. Selain mengurangi kegalauan dengan ucapan penyemangat, Annisa menambahkan, Bocius juga bisa digunakan untuk mengutarakan ungkapan yang tidak bisa disampaikan secara langsung kepada sesorang. “Misalkan permintaan maaf, penolakan terhadap sesuatu atau informasi yang sulit diungkapkan lainnya,” ujarnya sambil tertawa. Ada juga jenis Bocius yang isinya rekaman surat-surat pendek dalam Al-Quran dan Bocius yang mampu mengeluarkan suara perpaduan antara Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Untuk satu buah Bocius dibanderol dengan harga 120.000 rupiah. Ada tiga model yang ditawarkan yakni orange, pink, dan ungu. Selain dipasarkan secara langsung, pemasaran juga dilakukan online melalui toko online, instagram @bociusumm, twitter @BociusUmm dan via blog bociuscare.blogspot.com. “Alhamdulillah sampai saat ini pemesan sudah lumayan banyak, sepuluh persen hasil penjualam ini nantinya kita akan sumbangkan ke yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan konservasi alam,” ujar Annisa. Annisa berharap pembuatan Bocius nantinya tidak hanya membantu orang-orang yang merasa galau, terutama anak muda, namun juga membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. “Mudahan-mudahan bisa melatih jiwa wirausaha kami dan juga kami akan bekerjasama dengan para pengerajin boneka yang ada di Kota Malang untuk proses produksinya,” pungkasnya. (gas/nas)

Gebyar Seni Islami UMM Libatkan Anak Jalanan dan Anak Yatim

  DIGELAR di panggung terbuka, di halaman depan Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bazar dan gebyar seni Islami yang merupakan bagian dari Syiar Ramadhan 1247 Hijriyah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang mendatanginya. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (18/6) ini sengaja diadakan di dekat mesjid agar kental dengan nuansa syiar. Sebanyak 148 undangan spesial hadir pada acara ini. Mereka merupakan anak yatim binaan Panti Asuhan (PA) Sunan Giri, PA As-Salam, Yayasan Yatim Mandiri serja anak jalanan binaan Lembaga Perlindungan Anak Kota Malang. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah hiburan di antaranya tari sufi, band akustik Islami, parade puisi dan nasyid, tari aceh, musik hadrah dan marawis, parodi Ramadhan, dan yang paling spesial tentunya performance dari anak jalanan dan anak yatim. “Tak hanya mengundang, kami juga memberikan santunan kepada mereka berupa uang tunai senilai Rp. 7.200,000,-. Kami ingin berbagi kebahagiaan di bulan suci ini,” ungkap salah satu panitia, Muhammad Sri Wahyudi. Ketua Pelaksana Syiar Ramadhan UMM, Gonda Yumitro mengungkapkan, dari segi konsep kegiatan Syiar kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, sekalipun secara makna dakwah tetaplah sama. Rangkaian acara dimulai dengan penampilan musik Islami sebelum maghrib, dilanjutkan buka bersama, shalat tarawih berjamaah. Pentas seni lainnya seperti tari sufi, parade puisi dan nasyid, musik hadrah dan marawis kembali ditampilkan selepas tarawih.   “Dalam kegiatan kali ini, kami ingin berbagi kebahagiaan pada sesama, terlebih pada mereka yang kekurangan. Dengan adanya santunan ini, semoga mereka dapat berbahagia dan semangat beribadah di bulan Ramadhan ini. Saya berhadap mereka sadar bahwa mereka tidak hidup sendiri, banyak orang yang masih peduli sehingga mereka dalam tetap bersemangat,” tutur Gonda. Gonda juga mengatakan, dengan adanya kegiatan ini, masyarakat bisa memaknai dakwa secara luas, yang di dalamnya dapat menyangkut semua aspek kehidupan, di mana salah satunya yaitu di bidang seni dan budaya. Radiah, mahasiswa FAI UMM yang pengunjung dalam acara ini mengaku sangat terhibur dengan penampilan yang disajikan. “Saya juga tetap melakukan sholat di masjid secara berjamaah sehingga ibadah saya tidak terganggu dan dapat kembali menikmati acara setelah selesai beribadah,” tandasnya. (nov/han)

Bakti Sosial di Ngajum Warnai Syiar Ramadhan UMM

MELANJUTKAN kegiatan syiar di Bulan Ramadhan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan bakti sosial untuk masyarakat Desa Ngajum, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Sabtu (18/5). Ratusan masyarakat terlihat antusias mengikuti berbagai kegiatan mulai dari pengobatan gratis, bimbingan konseling, pengajian hingga pemberian bantuan sembako. Acara diawali pukul 14.00 dengan pengobatan gratis. Dalam kegiatan ini ratusan masyarakat yang didominasi lansia datang berbodong-bondong mengantri untuk diperiksa. Tim dokter dan perawat yang didatangkan langsung dari RS UMM dan Tim Bantuan Medis Mahasiswa (TBMM) Nurul Qolbi Fakultas Kedokteran (FK) UMM dengan cekatan melayani setiap masyarakat yang sudah terdaftar sebagai pasien. Di tempat terpisah, tim Bimbingan Konseling (BK) dari Fakultas Psikologi (Fapsi) UMM dengan riang mengajak anak-anak usia sekolah dasar yang ada di Desa Ngajum untuk outbond bersama. Tampak keceriaan di wajah anak-anak menyambut segala jenis permainan yang difasilitasi tim BK UMM. Tim ini juga tak ragu memberikan nasihat kepada orang tua yang menanyakan permasalahan perihal kepengurusan anak. Ketua Kegiatan Bakti Sosial, Dr. med. Tommy A. Nazwar, Sp.BS mengatakan kegiatan ini dilakukan selain untuk membantu masyarakat, juga untuk menjaga jalinan silaturahmi UMM dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) setempat. “Kami memfasilitasi segala kebutuhan dan berkoordinasi dengan PCM untuk menggerakan masyarakat agar ikut kegiatan ini,” ujarnya. Tommy pun merasa senang dan bahagia bisa terlibat langsung dalam kegiatan yang rutin diselenggarakan UMM tiap tahunnya ini. “Alhamdulillah UMM terus bisa berbagi kebaikan dan berkah Ramadhan, semoga bermanfaat bagi kita semua,” ucap pria yang menjabat sebagai wakil direktur RS UMM ini. Sementara itu, Ketua PCM Kecamatan Ngajum, Muhammad Sholeh mengatakan masyarakat menyambut kegiatan bakti sosial ini dengan sangat positif. Ia menerangkan, tidak hanya warga Muhammadiyah saja yang ikut dalam kegiatan ini, namun masyarakat umum juga berbondong-bondong ikut datang. “Selama dua kali kegiatan bakti sosial yang diadakan UMM warga selalu antusias ikut,” ungkapnya. Sholeh berharap, kegiatan ini mampu mempererat tali silaturahmi warga Muhammadiyah dengan masyarakat umum. “Anggota Muhammadiyah Ngajum juga semakin rajin untuk ikut setiap kegiatan yang diadakan,” imbuhnya. Setelah pengobatan gratis, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian bersama warga Desa Ngajum di Masjid Al Mansur PCM Ngajum serta pemberian bantuan berupa 100 paket sembako kepada masyarakat tidak mampu. Salah satu masyatakat yang merasakan manfaat kegiatan ini adalah Sri Yati (52). Ia bisa mendapatkan pengobatan gratis sekalis bantuan sembako untuk mencukupi kebutuhan keluarga. “Alhamdulillah mas, dapet rezeki di bulan puasa, mudah-mudahan sering diadakan kegiatan seperti ini,” ungkapnya. (gas/han)

AIK Ciri Khas Perguruan Tinggi Muhammadiyah

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen mengembangkan ilmu pengetahuan lewat proses pembelajaran Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Hal ini diungkapkan Rektor UMM, Fauzan, dalam Lokakarya Integrasi dan Implementasi Pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), Sabtu (18/6). Dalam kegiatan yang digelar di Ruang Sidang Senat UMM ini, Fauzan mengatakan, UMM sebagai bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah memiliki komitmen dan semangat untuk mengembangkan keilmuan lewat Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Mata kuliah AIK ini, ia menjelaskan, memang sudah menjadi ciri khas di semua PTM se-Indonesia. “Ke depan UMM akan mengintegrasikan AIK sebagai suatu nilai muatan pada mata kuliah umum lainnya, sehingga AIK bisa jadi nilai yang hidup dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. Sementara itu Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat (Dikti PP) Muhammadiyah Prof Dr Tobroni mengatakan, AIK sebagai mata kuliah wajib yang diterapkan dalam kurikulum di setiap PTM se-Indonesia memiliki peran penting sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah. Selain itu AIK disebutnya sebagai pembeda antara PTM dan non-PTM. “AIK ini harus menjadi cikal bakal, ruh dan sumber kekuatan PTM,” ujar dosen FAI UMM ini. Ia menerangkan, pengorganisasian AIK dapat dilakukan tersentral atau di masing-masing fakultas. Proses pembelajaran AIK, lanjut Tobroni, dilaksanakan dalam bentuk perkuliahan yang diperkaya kursus, darul arqam, dauroh, pelatihan, asistensi, halaqah, pengajian dan proses yang menunjang lainnya. “Pembelajaran AIK bisa dilakukan secara terpadu dengan sistem pendidikan di PTM,” jelasnya. (gas/han)

Prodi Komunikasi Terbitkan Buku Fotografi Traveling

UNTUK ketiga kalinya, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meluncurkan buku bertema fotografi. Buku yang diberi judul “Traveling” ini mengangkat lima jenis tempat wisata berbeda yang ada di sekitar Malang Raya. Seperti wisata candi, sumber air, coban, pantai, serta wisata budaya dan kuliner. Rahadi, dosen mata kuliah Dasar Fotografi ini mengungkapkan, sedikitnya ada 202 mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2015 dengan 250 karya foto ada dalam buku ini. “Saya menyadari, kini aktivitas traveling dengan foto menjadi tren, terutama di media sosial instagram. Tapi, ada dampak-dampak baik positif maupun negatif dari tren tersebut,” ujar Rahadi. Ia menyebut, beberapa dampak negatif dari tren foto traveling saat ini yakni dari angle atau sudut pengambilan fotonya dan kurangnya aktivitas traveling yang terekam dalam foto tersebut. “Seperti contoh, banyak orang rela foto selfie di ketinggian, di tepi kawah gunung, atau di tempat-tempat berbahaya lainnya tanpa memikirkan resikonya. Selain itu, banyak tempat-tempat yang menarik tapi yang ditunjukkan di foto hanya kakinya saja,” katanya. Namun, masih ada dampak-dampak positif dari fotografi traveling yang kini ngetren. Seperti semakin banyak tempat-tempat wisata baru yang ditemukan. “Dengan adanya buku ini, semoga dapat memberikan referensi bagi para traveler yang ingin berlibur di Malang dan memberikan edukasi baru tentang aturan-aturan di tempat wisata agar terjaga kelestariannya,” harapnya. Sophia Mega Sabila, salah satu mahasiswi yang berpartisipasi dalam buku ini mengatakan cukup tertantang saat mengerjakan proyek buku fotografi ini. “Saya kebagian tugas untuk foto di wisata paralayang. Cukup susah dapat fotonya, karena halangannya ada kabut yang selalu menutupi pandangan, dan terbatasnya jam buka rumah pohon di tempat tersebut. Namun hasil fotonya cukup memuaskan,” ujar mahasiswi asli Malang ini. Demikian pula dengan Afifah Rachmawati dan Ade Jamal Akbar. Afifah yang kebagian memotret di Coban Pelangi ini mengaku sangat susah mendapatkan pelangi yang diharapkan. Begitu pula dengan Ade yang mendapatkan tugas memotret di Pantai Gatra. “Cuacanya sudah mulai mendung, jadi agak susah mendapatkan hasil yang diinginkan,” ujar keduanya yang gemar fotografi ini. “Kami berharap buku fotografi yang terbit ini dapat menginspirasi mahasiswa yang lain untuk terus berkarya dengan caranya masing-masing,” ujar ketiganya yang masih berada di semester dua ini. Sebelumnya, prodi ini sudah menerbitkan dua buku bergenre fotografi yakni “Simple” dan “Pasar”. Rencananya, buku ini akan dilepas ke beberapa toko buku di Malang dan dijual secara online. (zul/han)

Prodi Ilmu Pemerintahan Evaluasi Penerapan Otonomi Daerah

PROGRAM Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kuliah tamu bertema “Ironi Otonomi Daerah dan Kerjasama Antar Daerah”, Jumat (3/6) di Aula Masjid AR-Fachruddin UMM. Kuliah tamu menghadirkan Direktur Riset Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kerja Sama Antar Daerah (LEKAD) Dr Hardi Warsono MAP. Menurut Hardi, penerapan otonomi daerah di Indonesia menimbulkan berbagai persoalan. Ia mengatakan, semestinya kerangka otonomi daerah yang telah diterapkan mengharuskan daerah mengelola semua hal yang dimilikinya secara mandiri dengan tujuan pemanfaatan bagi kesejahteraan masyarakat daerah tersebut. Hardi menilai, implementasi aturan terkait otonomi masih tidak sesuai dengan kondisi daerah dan masyarakat yang ada di Indonesia. Baginya, aturan yang diterapkan pada otonomi saat ini masih terlalu mengadopsi aturan sejenis yang diterapkan negara-negara barat. “Banyak ketidaksesuaian di dalamnya yang menyebabkan ketimpangan di mana-mana,” terang Kepala Jurusan Ilmu Administrasi Publik, Universitas Diponegoro ini. Terkait kerjasama antar daerah, Hardi menerangkan, untuk mengembangkan wilayahnya, daerah di Indonesia bisa bekerjasama dengan negara-negara internasional. Namun harus atas persetujuan daerah yang ada di atasnya. “Misalkan kabupaten mau kerjasama dengan luar negeri maka harus izin pada tingkat provinsi, supaya tidak menyalahi wewenang kerjasama antar negara,” terangnya Ketua prodi IP UMM, Hevi Kurnia Hardini SIP MAGov mengatakan, dengan adanya kuliah tamu ini mahasiswa memiliki pemahaman tentang segala permasalahan terkait otonomi daerah. “Sehingga mereka mampu berpikir kritis serta menganalisi kasus-kasus perjalanan otonomi dari masa ke masa di Indonesia,” pungkasnya. (gas/han)

Dexa Minati Lulusan Farmasi UMM

UNTUK yang kedua kalinya, perusahaan farmasi Dexa Group, melakukan pendekatan untuk mencari tenaga profesionalnya ke Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (Fikes-UMM). Dexa membawa misi Dexa Career Goes to Campus 2016 di kampus II UMM, Kamis (16/6). Dekan Fikes UMM, Yoyok Bekti Prasetyo, mengungkapkan kunjungan Dexa yang kedua kalinya ini merupakan wujud kepercayaan perusahaan farmasi terbesar itu kepada alumni UMM. “Untuk menjaga kepercayaan ini tentu kami harus menyediakan lulusan yang memang handal dan profesional, terutama di bidang teknologi dan industri farmasi,” tuturnya. Tak kurang 300 mahasiswa Prodi Farmasi semester delapan mengkuti paparan dari pihak Dexa. Menurut Wakil Dekan II Fikes UMM, Dra. Uswatun Chasanah, M.Kes. Apt, kegiatan ini dapat mendekatkan dunia kerja (improving access) bidang farmasi khususnya bidang teknologi dan industri farmasi (pharmacetiucal industry). “Kegiatannya dikemas dalam bentuk kegiatan seminar dan open recruitment dengan tajuk unlock your potential, prepare your right career,” terang Uswatun Chasanah. Dexa Group dikenal sebagai industri farmasi no.1 di Indonesia dengan andalan produk obatnya golongan ethical pharmacy. Sekprodi Farmasi UMM, Dian Ermawati, M. Farm. Apt, menambahkan ethical pharmacy merupakan obat yang diresepkan oleh dokter yang meliputi obat generik dan obat bermerk dagang. Di sisi lain Chief HRD Dexa Grou, Joana, mengakui datang ke kampus UMM karena terpesona oleh keindahan kampusnya yang eksotik, akreditasi universitasnya A dan tentu saja dengan kualitas di prodi Farmasi. Ia berharap hari ini dalam open recruitment akan mendapatkan SDM yang handal bergabung dengan Dexa Group dari Farmasi UMM. “Untuk tahun tahun ke depan bila lulusan dari Farmasi UMM yang tergabung dengan Dexa Group memiliki kapasitas profesional sebagai seorang farmasis yang handal, maka kami tidak perlu datang lagi ke kampus UMM tinggal telpon atau kirim surat untuk meminta alumni terbaiknya bekerja di Dexa,” ungkapnya. Saat ini Dexa Group membutuhkan 44 orang SDM Farmasi yang akan ditempatkan di Dexa Laboratories of Biomoluculer Sciences (DLBS) units, di Cikarang Jakarta. Yoyok menambahkan, potensi kerjasama ke depan yang bisa dilakukan antara Fikes UMM dengan Dexa Group tidak saja terkait dengan pemberdayaan alumni tetapi juga menindaklanjuti kerjasama yang telah dibangun oleh Rektor UMM dengan DanLanud Abdurahman Saleh Malang terkait pemanfaatan lahan untuk pengembangan industri obat herbal. Fitokimia yang merupakan salah satu cabang ilmu di bidang farmasi yang mempelajari dan mengembangkan tanaman herbal juga menjadi produk andalan di Dexa Group yang dikembangkan di DBLS unit. (nas)

LK Elaborasi Hukum Adat Perspektif Dakwah Kultural Muhammadiyah

LEMBAGA Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kajian multidisipliner bertema “Tradisi dan Hukum Adat dalam Perspektif Muhammadiyah”. Kajian yang memasuki seri kesepuluh ini menghadirkan Dekan Fakultas Agama Islam UMM Drs Achmad Faridi MSi dan Dosen Fakultas Hukum UMM Tinuk Dwi Cahyani SH SHI MHum. Kegiatan yang diikuti dosen di lingkungan UMM dan pimpinan Aisiyah se-Malang Raya berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM (15/6). Ketua LK UMM Dr Tri Sulistyaningsih MSi menilai, perkembangan hukum adat menurut perspektif Muhammadiyah merupakan topik menarik, di mana hal tersebut diyakini memiliki keterkaitan dengan perbedaan cara pandang dalam mempersepsi dakwah kultural. “LK ingin menjadikan Islam sebagai agama yang ditradisikan dan LK sebagai supporting system UMM yang bersinergi dengan lembaga-lembaga di masyarakat,” ungkap dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM ini. Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi yang membuka kegiatan ini memulai dengan paparan bahwa dalam dakwah kultural terdapat tradisi. Tradisi menurunya adalah warisan masa lalu. Tradisi terdiri dari tradisi kecil yang tidak berlaku universal dan tradisi besar yang berlaku universal. “Muhammadiyah menganut dan mengembangkan tradisi besar, jadi Muhammadiyah tidak harus dipertentangkan dengan tradisi. Karena apa yang kita lakukan saat ini adalah keberlanjutan dari tradisi yang ada sebelumnya,” jelas Syamsul. Faridi dalam kajiannya menyampaikan tentang interaksi Islam dengan budaya lokal. Fenomena keislaman di Indonesia menurutnya berbeda-beda berdasarkan tradisinya. “Fenomena keislaman ini dapat dilihat hampir di seluruh pelosok tanah air. Di Sulawesi saja ada Islam Bugis dan ada Islam Makassar, demikian juga fenomena keislaman di Aceh, Minangkabau, Banten, Madura, Jawa. Hal ini telah memberi kontribusi sangat besar terhadap penyebaran maupun perkembangan Islam khususnya di kepulauan Nusantara”, ungkapnya. Sementara itu Tinuk mengatakan, dalam perkembangannya, hukum adat mengandung dua arti yaitu hukum kebiasaan yang bersifat tradisional dan hukum kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat dalam hubungan pergaulan antara yang satu dan yang lain. Tiga dimensi hukum adat yang mengatur gerak hidup manusia di muka bumi ini yait udimensi adat Tapsila atau akhlaqul-karimah, dimensi adat krama dan dimensi adat Pati atau gama. Tinuk juga menambahkan, hukum adat dalam masyarakat Indonesia memuat aspek struktur kejiwaan dan cara berpikir yang memiliki corak atau pola yang khas yaitu mempunyai sifat kebersamaan atau komunal, mempunyai corak magis-religius, sistem hukum adat diliputi oleh pikiran penataan serba konkret dan hukum adat mempunyai sifat yang sangat visual. Tinuk mencontohkan Suku Tengger, di mana di pagi hari para warga petani di Suku Tengger masih berbincang bincang santai, yang hal itu berbeda dengan beberapa aktivitas petani di daerah Jawa umumnya yang pergi ke sawah atau ke ladang lebih dini. Tidak hanya itu, di Suku Tengger menikah juga harus dengan sesama Suku Tengger. “Jika menikah dengan seorang luar dari Suku Tengger maka diharuskan untuk keluar atau tinggal di luar suku tengger,” ujarnya. Bagi Tinuk, hukum adat juga merupakan hukum yang berkembang dan hidup di masyarakat. Karenanya, unsur-unsur yang ada dalam hukum adat dapat menjadi asumsi bagi putusan-putusan para warga masyarakat. Terutama keputusan yang dapat membantu pelaksanaan perbuatan hukum dengan keyakinan hukum rakyat yang senafas dan seirama dengan kemaslahatan masyarakat. (roh/han)

Pertahankan Akreditasi A, Psikologi Konsisten Bela Kaum Marjinal

PROGRAM Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mempertahankan status akreditasinya. Prodi yang berdiri sejak tahun 1986 itu dinyatakan kembali Terakreditasi A (sangat baik) oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Sesuai surat ketetapan nomor 0493/SK/BAN-PT/Akred/S/V/2016, Psikologi UMM akan menyandang status ini hingga 2021. Dengan demikian, selama sepuluh tahun berturut-turut Psikologi UMM pada posisi sangat baik. Ketua Program Studi Psikologi UMM, Yuni Nurhamida, S.Psi, M.Si, mengatakan meski sama-sama bernilai A, kali ini ada kenaikan angka skor. Untuk itu ia meyakini bahwa Psikologi UMM sudah jauh lebih baik dibanding lima tahun lalu. Lebih lanjut, dikatakan Yuni, Psikologi UMM memiliki keunggulan yang memungkinkan lulusannya langsung siap kerja meski tidak melanjutan ke program profesi. “Kami menerapkan Psikologi terapan yang memberikan tidak hanya knowledge tapi juga skill melakukan intervensi psikologi non klinis pada ranah individu, kelompok, organisasi, dan komunitas. Jadi meski tidak melanjutkan Profesi, siap kerja dalam berbagai area sesuai batasan kode etik psikologi,” ungkap Yuni. Di sisi lain, diakui Yuni, Psikologi UMM berupaya menerjemahkan visi Muhammadiyah yang berpihak pada kelompok marginal. Hal ini dilakukan dengan cara praktikum dan pengabdian pada individu berkebutuhan khusus, sekolah inklusi,  anak-anak panti asuhan, komunitas, serta masyarakat yang kurang memiliki akses pada perguruan tinggi. “Kami ingin membumikan teori dalam realitas ke-Indonesiaan,” tutur Yuni tentang kurikulum yang diterapkan di prodinya. Sampai saat ini UMM merupakan kampus swasta yang secara kontinyu menaikkan status akreditasi Prodinya. Oleh karena secara institusi sudah terakreditasi A, maka saat ini UMM lebih menfokuskan pada kenaikan Akreditasi Prodi-prodi, tak hanya untuk tingkat nasional tetapi juga global. Wakil Rektor I UMM, Prof Dr Syamsul Arifin, MSi, mengatakan pihaknya sedang menyiapkan akreditasi tingkat internasional. Untuk tahap awal, Prodi yang sudah terakreditasi A akan menjadi pilot project. “Seluruh kaprodi sudah diberi kesempatan untuk mencari benchmark di luar negeri sebagai rujukan awal melangkah ke pengakuan internasional,” kata Syamsul. (nas)

Miyuki: Belajar di UMM Sangat Berkesan

JUMAT (10/6) bisa jadi adalah hari paling membuat Miyuki Washiyama bersedih. Bagaimana tidak, hari itu adalah hari terakhirnya di kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) setelah sembilan bulan belajar bahasa dan budaya Indonesia. Ia harus kembali ke negara asalnya, Jepang, saat ia sedang senang-senangnya mengenal UMM, Malang dan Indonesia. Matanya berkaca-kaca saat berpamitan dengan dosen, staf dan teman-teman kuliahnya di Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) UMM. Pengalaman berharga selama studi di UMM membuatnya sulit untuk berpisah. “Saya suka orang-orang, budaya, makanan, saya suka semuanya, saya merasa sedih harus pulang ke Jepang, saya masih mau di sini,” ungkap penggemar nasi goreng dan bakso Malang ini. Sebelum ke UMM, Miyuki adalah mahasiswa di Nihon University. Di kampusnya itu ia mengambil jurusan International Development. Jurusannya ini mewajibkan setiap mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa diluar bahasa Jepang. Oleh karenanya mereka diberi pilihan untuk mempelajari bahasa China, Spanyol atau Bahasa Indonesia. “Karena teman-teman sudah banyak sekali yang memilih belajar bahasa China dan Spanyol, saya memilih Bahasa Indonesia saja, saya juga mau tahu tentang Indonesia” ujar gadis yang akrab disapa Miyuki ini. Kemudian Miyuki mencoba ikut program Beasiswa Darmasiswa. Beasiswa ini merupakan program yang digagas oleh pemerintah Indonesia untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa asing untuk bisa belajar bahasa dan budaya Indonesia. UMM adalah salah satu kampus rujukan yang ditetapkan bagi mahasiswa asing yang berhasil lolos beasiswa ini. Tidak mudah bagi Miyuki untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Ia mengakui harus tes melawan ratusan mahasiswa dari Jepang lainnya. Setelah berhasil melewati semua tahapan tes, kemudian Miyuki dinyatakan lolos untuk belajar Bahasa Indonesia di UMM. “Saya senang sekali bisa belajar di Indonesia,” ungkap gadis kelahiran Tokyo, 23 Januari 1995 ini Akhirnya pada September 2015, Miyuki tiba di Malang. Menginjakkan kaki pertama kalinya di kampus UMM, ia surprise karena melihat kampus UMM yang menurutnya sangat bagus. Ia juga terksesan dengan sambutan hangat yang diterimanya. “Mereka semua baik-baik sekali, sangat ramah, membuat saya langsung merasa nyaman berada disini,” aku Miyuki yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini. Di BIPA UMM banyak mahasiswa asing selain Miyuki yang juga mempelajari Bahasa Indonesia baik mahasiswa dari kawasan Asia, Eropa, Amerika hingga Afrika. Miyuki mengaku memang tidak mudah mempelajari Bahasa Indonesia. “Saya susah bicara yang ada huruf L nya, karena di Jepang tidak ada,” akunya. Miyuki menjelaskan selama sembilan bulan belajar Bahasa Indonesia, Dosen pengajar di BIPA UMM sangat mengayominya dengan baik. Selain itu berkat teman-teman di UMM membuat dirinya bisa belajar dengan cepat. “Mereka sangat baik, mau membantu saya selama belajar disini,” katanya. Setelah menguasai Bahasa Indonesia, Miyuki mengungkapkan keinginannya kembali dan bisa berkarir di Indonesia. Ia mengaku ingin bekerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia. “Saya juga ingin sekali membantu orang-orang di Indonesia terutama di Malang,” tuturnya Sayonara, Miyuki. We love you. (gas/nas)