Pakar Komunikasi Eropa Paparkan Pandangannya di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu memberikan eksposur internasional bagi mahasiswanya. Salah satunya yang dilakukan oleh prodi Ilmu Komunikasi yang kedatangan dosen dari Babeş-Bolyai University, Rumania yakni Delia Pop-Flanja sejak 23 September lalu. Kehadiran dia juga merupakan bagian dari skema Erasmus Mundus di mana UMM juga masuk di dalamnya. Ia juga diajak berdiskusi terkait peluang kerjasama serta didapuk menjadi pembicara di Inagurasi School of Creative Digital Communication UMM, 24 September lalu. Di momen inagurasi itu, Delia, sapaan akrabnya, menjelaskan bagaimana pandangan di eropa timur terkait raktisi profesional di bidang komunikasi. Khususnya dalam aspek media sosial. Menurutnya, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan yakni critical thinking, creativity, dan juga nilai lokal serta global. Aspek-aspek itulah yang dibahas di depan para mahasiswa Kampus Putih. Menurutnya, UMM memiliki kampus yang hijau dan segar. Selain itu memiliki kurikulum dan fisik yang bagus, termasuk prodi Ilmu Komunikasinya yang memang fokus pada digitalisasi. Bahkan ia juga kagum dengan banyaknya mahasiswa yang turut belajar di Kampus Putih. Delia menilai, kurikulum yang dilaksanakan di UMM tergolong advance dan cukup kompleks dibandingkan di Rumania. Ini menjadi bahan menarik untuk didiskusikan dan dikaji lebih dalam. “Kemarin juga sudah berdiskusi dengan teman-teman UMM terkait kerjasama yang bisa dilakukan. Mulai dari pertukaran pelajar, jurnal, summer school, bahkan konferensi. Semoga bisa dijajaki dan dijalankan di masa depan,” katanya. Di sisi lain, Ketua prodi Ilmu Komunikasi UMM Nasrullah, M.Si. menjelaskan kedatangan Delia merupakan bagian dari benchmarking kurikulum. Baik itu kurikulum di Rumania dengan UMM maupun sebaliknya. “Ia juga tertarik bagaimana Ilmu Komunikasi UMM memiliki tiga spesialisasi. Mulai dari PR and creative branding, journalism and creative media, hingga audio visual communication creative. Begitupun dengan progra di laboratorium yang tidak hanya berkegiatan di dalam lab, tapi juga di masyarakat. Mulai dari melangsungkan event hingga menggarap film,” katanya. Nasrullah melanjutkan, ada beberapa aspek yang dikerjasamakan dengan Delia dan kampusnya. Sejauh ini, Delia setuju untuk menjadi reviewer jurnal, kemudian juga mengajar kelas-kelas internasional yang ilmu komunikasi UMM miliki. Apalagi memang Ilkom Kampus Putih sudah memiliki kelas internasional sejak angkatan 2022. “Jadi, Delia akan mengampu mata kuliah yang fokus pada kajian perkembangan ilmu komunikasi di era digital. Utamanya dalam perspektif ilmuwan eropa. Selain itu, untuk kerjasama jangka panjang dengan universitas di Rumania yang bisa dilakukan seperti short course, credit transfer, double degree, dan lainnya. Jadi mahasiswa bisa dapat dua gelar, satu dari UMM satu dari kampus Rumania,” katanya mengakhiri. (wil)

Mahasiswa KKN UMM Ajari Warga Bikin Pupuk dari Limbah hingga Digitalisasi Peternakan

Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan pengabdian menarik di masyarakat. Salah satunya tim yang melangsungkan program kerja di Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang. Mereka mengajari warga untuk mengubah limbah ktooran hewan menjadi pupuk. Bahkan mendampingi para peternak konvensional menyambut digitalisasi dan teknologi. Vemas Wika Putra, salah satu mahasiswa, mengatakan bahwa timnya mengusung tema mengembangkan potensi peternak lokal, mengolah limbah kotoran dan digitalisasi peternak konvensional. Fokus utamanya bagaimana mengubah permasalahan menjadi peluang, sekaligus membantu peternak meningkatkan daya saing. “KKN yang dilaksanakan sejak 21 Juli hingga 29 Agustus ini mencoba mengajari warga untuk menyulap limbah kotoran hewan menjadi pupuk organik, sehingga tidak mencemari lingkungan. Prosesnya melalui metode fermentasi sederhana yang ramah lingkungan namun efektif,” kata Vemas. Menuruntya, inovasi ini memberikan manfaat kepada warga, utamanya dalam aspek lingkungan dan membuka peluang ekonomi baru. Pupuk organik hasil olahan bisa dipakai petani setempat bahkan dipasarkan melalui platform digital marketplace. Hal ini menambahkan hasil peternakan tidak hanya daging atau susu, tetapi juga produk turunan yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Selain pengolahan limbah, mahasiswa PMM UMM juga memperkenalkan digitalisasi peternakan. Peternak dilatih menggunakan aplikasi sederhana untuk mencatat data produksi, kesehatan ternak, hingga strategi pemasaran. “Dengan begitu, peternak tidak ketinggalan di era yang serba digital ini. Jika mereka bisa memanfaatkan teknologi, mereka tidak hanya bergantung pada pasar tradisional tetapi sudah menembus pasar yang lebih luas melalui platform online,” katanya. Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan, Falistya Roisatul Mar’atin Nuro, M.Pd, mengapresiasi mahasiswa yang mampu menghadirkan solusi nyata. Mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga turun ke lapangan. Program ini menunjukkan bahwa ilmu yang mereka miliki bisa langsung diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal serupa juga disampaikan para warga Desa Tempeh Tengah. Dengan adanya pengolahan pupuk dan pelatihan digital, mereka berharap usaha ternak di desa dapat terus berkembang. Perekonomian lokal pun berpotensi meningkat karena hasil peternakan bisa dipasarkan lebih luas, baik secara offline maupun online. Vemas tidak sendiri, ia melaksanakan program tersebut bersama mahasiswa jurusan lain. Termasuk A. Kurzany Akbar, Akmal Kautsar Ristio, Nigel Firdauzza R.D.E, dan Ramadya Faiza. (*/wil)

Tim Vokasi UMM Menangi Lomba Nasional berkat Ciptakan Taman Cerdas

Tim mahasiswa Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kalahkan ribuan peserta lainnya dalam ajang Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA), akhir Juli lalu. Ajang bergengsi ini diikitu 1.400 tim dari 28 perguruan tinggi vokasi se-Indonesia. Adapun mereka sukses memenangi juara 3 dalam kategori Applied Skill: Landscape Gardening. Adalah Krisna Hendriansyah, Andrhira Siva Kristy, dan Chyallo Exsel Heiga Handika yang tergabung dalam tim Gartonic UMM sukses menelurkan ide menarik dan memenangkan juara. Ide yang mereka tawarkan yakni sustainable park dan taman cerdas dengan parkir yang mampu memproduksi daya listrik dari panel surya. Di dalam taman tersebut, disediakan panel surya sebagai cari mendapatkan energi listrik yang mana digunakan untuk semua kebutuhan yang ada di taman. Mulai dari air mancur, charging station sepeda listrik, dan lainnya. “Jadi, taman ini sama sekali tidak mengambil listrik dari PLN. Sehingga semua kebutuhan listrik di taman ini diambil dari panel surya. Kalau kita lihat, ada banyak sekali taman tapi tidak dirawat dengan baik. Maka dari itu, ini jadi salah satu solusi yang mahasiswa vokasi UMM tawarkan,” kata Ilham Pakaya, M.Tr.T. selaku dosen pembimbing. Ilham melanjutkan, kompetisi ini merupakan ajang lomba kampus-kampus nasional yang memiliki program vokasi serta politeknik. Agar bisa bersaing, para mahasiswa vokasi UMM sudah mempersiapkan diri sejak Mei lalu. Mengikuti berbagai seleksi hingga akhirnya bisa mencapai babak final. Menurutnya, kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan vokasi mampu melahirkan talenta-talenta unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan. Para mahasiswa vokasi UMM berhasil mengalahkan kampus-kampus lain dalam kategori ini seperti Universitas Sebelas Maret, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, hingga IPB. “Keberhasilan Gartonic UMM tak hanya menjadi kebanggaan bagi civitas akademika UMM, namun juga menjadi motivasi bagi mahasiswa vokasi di seluruh Indonesia untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkompetisi secara sehat dalam mengembangkan keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional,” kata Ilham mengakhiri. (*/wil)

Mahasiswa UMM Wujudkan Kampung Iklim lewat Teknologi Hijau

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) optimis buktikan dampak positif bagi masyarakat Gunungsari Kota Batu. Melalui proyek inovasi penggagasan Kampung Iklim dengan implementasi teknologi hijau mereka memberikan dapmak signifikan. Mereka berupaya meningkatkan mitigasi dan adaptasi emisi gas rumah kaca untuk mewujudkan kampung iklim Gunungsari Kota Batu, dimulai Juli 2025 ini. Kelompok mahasiswa yang berhasil lolos dalam seleksi PPK ORMAWA 2025 dan terdiri dari 15 mahasiswa lintas prodi ini menggagas program untuk membenahi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perubahan iklim dan dampaknya. Dalam hal ini, Mahasiswa UMM memanfaatkan limbah ternak (Sapi) yang mengandung gas metana sebagai biogas yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat desa tesebut. “Awalnya fokus kami adalah untuk membenahi atau meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perubahan iklim dan juga dampaknya. Karena di situ banyak kotoran sapi yang dibuang begitu saja dan mengandung gas metana yang akan berpengaruh pada perubahan iklim. Jadi ini sebagai upaya kami untuk mengadaptasi dan juga mitigasi terhadap perubahan iklim di desa tersebut,” ujar Nur Fatihatus, salah satu anggota kelompok. Sejak juli lalu hingga beberapa bulan ke depan, mahasiswa berupaya mewujudkan Kampung Iklim ini melalui tiga inovasi unggulan. Pertama, Biodigester atau pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas. Inovasi ini disosialisasikan kepada masyarakat setempat agar limbah dari ternak yang mereka miliki tidak dibuang begitu saja, tapi bisa dimanfaatkan. Kedua, pembuatan pupuk organik cair. Produk ini dibuat dengan memanfaatkan limbah masyarakat yang telah di manfaatkan sebagai biogas dan kemudian Biosurinya juga diolah untuk kemudian dimanfaatkan sebagai Pupuk Organik Cair (POC). “Sebenarnya produk unggulan kami itu ada tiga, tadi yang pertama itu Biogas atau Biodigester, kemudian dari Biogas itu Biosurinya kami jadikan POC atau Pupuk Organik Cair. Kemudian yang ke tiga itu pembuatan pakan silase,” jelasnya. Melalui program ini, mahasiswa sukses berperan sesuai visi UMM sebagai kampus berdampak. Program-Program pengembangan mahasiswa terbukti berdampak langsung pada masyarakat seperti sederet rumah masyarakat telah terpasang biodigester dan menerapkan penggunaan pupuk cair organik. Selain itu faktor utama yang membantu suksesnya program ini juga tidak terlepas dari dukungan penuh dari pihak kampus, mulai dari perencanaan, pemberkasan administrasi hingga teknis saat pelaksanaan. “Pihak kampus tentunya sangat sportif. Misalnya dukungan ormawa dan dosen yang membantu mulai dari perencanaan hingga pendampingan,” pungkasnya. (hud/wil)

UMM Luncurkan Program Beasiswa Indonesia Emas

Untuk membuka peluang pendidikan bagi anak-anak muda Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sediakan beasiswa baru yakni Beasiswa Pendidikan Indonesia Emas. Adapun kesempatan ini sudah bisa diraih sejak 21 Agustus 2025 hingga September mendatang. Kuota untuk beasiswa ini juga banyak dan memberikan pengalaman menarik. Terkait hal ini, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. mengatakan, anak-anak muda yang punya impian besar untuk Indonesia memiliki peluang besar untuk diterima. Apalagi beasiswa ini memang dirancang untuk menjaring talenta terbaik tanpa terkecuali. Baik itu anak-anak SMA yang di Aceh, Kalimantan, Sulawesi, hingga papua. “Kami percaya bahwa setiap anak bangsa apapun latar belakangnya, layak mendapatkan akses ke pendidikan tinggi yang berkualitas dan UMM siap menjalankan hal itu. Utamanya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” katanya. Adapun beasiswa pendidikan Indonesia emas ini menawarkan beberapa hal. Pertama, bisa langsung daftar tanpa uang pendaftaran. Kemudian juga pengurangan biaya studi semester (BSS) semester I sebesar 50% dan mendapat kemudahan dan peluang mengembangkna potensi kemampuan bahasa asing dan teknologi dihgital. Terakhir, mereka juga mendapatkan beasiswa lain selama kuliah. Krisna, sapaan akrabnya melanjutkan, beasiswa ini terbuka bagi siapapun dan berbagai jurusan di UMM. Paling tidak, ada lebih dari 27 prodi yang bisa didaftar dengan beasiswa ini. “Semoga beasiswa ini menjadi pintu yang tepat dan luas untuk anak-anak muda bertalenta dengan potensi terbaik,” katanya mengakhiri. (wil)

Penasihat Presiden di Pelantikan BEM UMM: Aktivis adalah Sosok yang Cerdas

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong anak-anak muda untuk jadi generasi unggul masa depan. Slaah satunya dengan resmi melantik jajaran fungsionaris Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) periode 2025-2026, pada 19 Agustus lalu. Agenda yang penuh khidmat ini menjadi meomentum penting bagi mahasiswa untuk meneguhkan komitmen dalam mengabdi, berinovasi, serta berkontribusi nyata bagi kampus, masyarakat, dan bangsa. Pelantikan itu turut dihadiri Penasihat Presiden Bidang Hai sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. yang memberi motivasi. Ia menekankan bahwa aktivis adalah sosok yang cerdas, karena berorganisasi adalah proses seleksi alam yang mengasah fisik, mental, dan intelektual. Dalam masa pengabdian yang singkat, detik demi detik waktu sangat berharga untuk membangun program berdampak dan membentuk impian yang besar. “Lingkungan organisasi yang baik dan sehat adalah sebagai pusat pengembangan diri yang didalamnya tidak ada diskriminasi, bersaing sehat, dan dengan semangat membangun kemajuan bangsa,” katanya. Sementara itu, dalam pengarahannya, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengapresiasi dedikasi BEM dan Senat periode 2024-2025, sekaligus memberikan pesan kepada fungsionaris baru. UMM sebagai wadah sudah dengan luas memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berproses, mengasah diri dan memperdalam ilmu pengetahuan di segala bidang keilmuan. Ini merupakan upaya kampus untuk membekali para mahasiswa menghadapi tantangan serta kebutuhan kemajuan zaman yang menuntut keterampilan berpikir kritis dan solutif. “Mahasiswa harus memanfaatkan masa kuliahnya untuk mengasah ilmu dan kepemimpinan. Jadilah provider solution, pribadi yang mampu memberi solusi dan pencerahan bagi masyarakat,” pesannya. Pelantikan ini juga menjadi refleksi pasca peringatan ke-80 tahun kemerdekaan Indonesia. Semangat perjuangan pahlawan harus dilanjutkan oleh generasi muda, termasuk mahasiswa UMM untuk membawa bangsa lebih maju dan berdaya saing global. BEM UMM 2025-2026 diharapkan mampu menjadi motor penggerak kreativitas, produktivitas, dan kepemimpinan mahasiswa. UMM mendukung penuh aktivitas positif mahasiswa yang siap menjadi garda terdepan dalam mewujudkan ekosistem pendidikan tinggi yang unggul, berdaya saing, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Di sisi lain,  Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM, Wahyuddin Fahrurrijal dalam orasinya menegaskan bahwa BEM merupakan ruang kolektif yang dihidupkan oleh semangat mahasiswa. Tempat ini bukan hanya wadah berorganisasi, tetapi juga arena tumbuh, berkreasi, dan mengasah kepemimpinan. “Kami percaya, mahasiswa bukan sekedar bagian dari sivitas akademika, tetapi juga mitra stratgis sekaligus kritis dalam membangun atmosfer kampus berkemajuan,” ujarnya melajutkan. Selain itu, dengan landasan Tridarma Perguruan Tinggi dan spirit tajdid Muhammadiyah, BEM UMM bertekad menghadirkan gerakan reflektif dan kolektif. Arah perjuangan akan difokuskan pada penguatan internal, pengembangan program, pelayanan mahasiswa, serta pengabdian yang berdampak luas. Presiden BEM itu menambahkan bahwa, organisasi ini akan menjadi simpul kebersamaan di tengah perbedaan, bergerak secara transformatif dan futuristik. (din/wil)

Dosen UMM Ini Satu-satunya Perwakilan Indonesia di Forum ICLRS Inggris

Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil terpilih sebagai salah satu peserta The International Center for Law and Religion Studies (ICLRS) Young Scholars Fellowship on Religion and the Rule of Law. Program akademik bergengsi ini mempertemukan cendekiawan dari berbagai negara untuk mendalami isu-isu hukum, agama, dan hak asasi manusia. Kegiatan ini berlangsung di Christ Church, University of Oxford, Inggris, pada 14 Juli hingga 1 Agustus 2025 ini. Forum tersebut menjadi ruang strategis bagi penguatan jejaring internasional sekaligus kontribusi ilmiah dalam diskursus global. Program fellowship ini diikuti akademisi dari berbagai negara dengan proses seleksi ketat. Dari ratusan pelamar, sebanyak 50 orang dipanggil untuk wawancara, dan hanya 17 peserta dari 16 negara yang akhirnya diterima. Keikutsertaan Syamsul menjadi representasi penting Indonesia sekaligus wujud kontribusi UMM dalam forum akademik global. Selama tiga minggu, para peserta mengikuti kuliah, seminar, dan diskusi yang membahas hak asasi manusia, hukum, serta agama. Mereka juga mendapat kesempatan melakukan kunjungan singkat ke lembaga penting di London, termasuk parlemen dan Mahkamah Konstitusi. Kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga membuka jejaring internasional lintas negara. “Dalam kegiatan ini saya menulis dan membahas tentang pendidikan agama bagi mahasiswa non-Muslim di perguruan tinggi Muhammadiyah. Saya meneliti implementasi UU No. 20 Tahun 2003 dan PP No. 55 Tahun 2007, khususnya di kampus-kampus dengan mayoritas mahasiswa non-Muslim, seperti Kupang, Sorong, dan Maumere,” jelasnya. Adapun output yang ia susun di agenda internasional tersebut adalah karya berjudul “When Constitutional Rights Meet Institutional Identity: A Case Study of Religious Education for Christian-Majority Students at Muhammadiyah Universities in Eastern Indonesia”. Ini menjadi sumbangsih pemikiran bagi para peneliti dan juga untuk dunia akademik. Syamsul menuturkan, alasan memilih tema tersebut karena adanya fenomena tingginya jumlah mahasiswa non-Muslim di sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah, bahkan mencapai 60–85 persen di beberapa daerah. Menurutnya, penting untuk menelaah apakah hak mereka dalam memperoleh pendidikan agama sesuai keyakinan masing-masing telah terpenuhi sebagaimana diamanatkan undang-undang. “Program ini memberi ruang untuk belajar langsung dari profesor yang ahli di bidangnya. Pengalaman tersebut juga menjadi sarana untuk merefleksikan dan menyegarkan gagasan sebagai akademisi,” ujarnya. Ke depan, Syamsul berharap semakin banyak dosen UMM yang berani mendaftar dalam fellowship ini. Ia juga menekankan bahwa hasil penelitian seperti yang dilakukannya diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata, tidak hanya untuk pengembangan riset, tetapi juga bagi perumusan kebijakan pendidikan agama di Indonesia. (vin/wil)

Local Caffeine, Inovasi Mahasiswa UMM Ubah Limbah Kopi dan Majukan Kopi Lokal

Desa Tambakasri di Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, seolah menyimpan paradoks. Di satu sisi, hamparan perkebunan kopi seluas 285 hektar menjanjikan potensi ekonomi yang melimpah. Mampu menghasilkan buah kopi sebanyak 1-1½ ton/Ha/tahun. Namun, di sisi lain, potensi itu terhalang oleh tumpukan limbah kulit kopi yang tak termanfaatkan, mencapai 30 kg/kuintal kulit kopi. Belum lagi tantangan para petani dan pelaku UMKM yang kesulitan memasarkan produk mereka secara luas. Menanggapi dilema ini, hadir 15 mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (Himatekpa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bersama UKM Golf dan Program Studi Agribisnis. Membawa angin segar melalui program inovatif melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) bertauk Local Caffeine: Optimalisasi Komoditas Kopi Berbasis Zero Waste sebagai Manifestasi Produk Unggulan Lokal Menuju Desa Tambakasri Mandiri. Menariknya, program yang dilaksanakan pada Juli-Oktober 2025 ini juga didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemdikti Saintek). Amalia Putri Hendrayana atau akrab di sapa Putri, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa program ini berawal dari kesadaran akan masalah limbah dan pemasaran. “Kami menyadari bahwa kopi adalah komoditas utama di sini, namun pemanfaatannya belum optimal. Masyarakat hanya menjual bubuk kopi dengan merek Kopi E Mas E yang pemasarannya terbatas,” katanya. Ia menambahkan bahwa limbah kulit kopi yang mencapai 30 kilogram per kuintal green bean tidak memiliki nilai jual, padahal bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Konsep zero waste adalah inti dari program ini. Alih-alih membuang limbah, tim Local Caffeine mengolahnya menjadi produk bernilai jual. Prosesnya dimulai dengan pendampingan langsung oleh dosen pembimbing Afifa Husna S.TP., M.T.P., M.Sc. bersama dosen lainnya yang memastikan setiap langkah terencana dengan baik. “Dosen pembimbing kami turut andil dalam membantu merancang konsep dan menentukan judul. Beliau benar-benar mendampingi kami setiap progres dan kendala yang dihadapi,” ucap Putri. Setelah melakukan uji coba produk di laboratorium kampus, tim bergerak ke Desa Tambakasri. Tahapan selanjutnya adalah melakukan penyuluhan dan pelatihan untuk memberdayakan puluhan orang perintis UMKM baru. Materi yang diberikan mencakup pengolahan kopi kemasan botol dan strategi pemasaran digital. Pelatihan tersebut dilanjutkan dengan pengolahan limbah kulit kopi menjadi briket dan pupuk kompos yang pematerinya didatangkan langsung dari pengusaha briket dan dosen. Melalui program ini, tim Local Caffeine berhasil mengembangkan tiga produk unggulan. Pertama, bubuk kopi dengan branding ulang merek Kopi E Mas E yang memiliki cita rasa murni. “Kami memastikan bubuk kopi ini murni, tanpa campuran, sehingga rasa pahit, asam, manis, dan kacangnya benar-benar terasa,” jelas Putri. Kedua, kopi kemasan botol yang formulasi utamanya 70-80% kopi dan tanpa pengawet. Produk ini dirancang untuk menjangkau semua kalangan. Terakhir, ada briket kulit kopi dengan keunggulan menghasilkan sedikit asap. Produk-produk ini dianggap unggulan karena memanfaatkan kekayaan alam lokal secara maksimal dan inovatif. Hasilnya, masyarakat tidak lagi hanya mengandalkan penjualan green bean dengan harga murah. Mereka juga belajar strategi pemasaran digital melalui Instagram, TikTok, dan lokapasar, serta menjalin kerja sama dengan kafe, minimarket, dan dinas pertanian. Dampak nyata sudah terlihat dari bertambahnya ilmu dan keterampilan masyarakat dalam mengolah produk dan memasarkannya. “Saya berharap, program yang kami jalani ini bisa terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan. Masyarakat bisa melanjutkan sendiri tanpa pendampingan kami dan perekonomian desa semakin maju,” tutup Putri. (ali/wil)

Sasar Luar Jawa, Ini Program KKN UMM di Kalimantan

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlangsung Juki-Agustus ini tidak hanya menyasar pulau Jawa. Para mahasiswa dikirim ke berbagai pulau untuk berikan program inovatif mendorong masyarakat yang lebih baik. Salah satunya di Kalimantan, di mana ratusan mahasiswa melakukan pengabdian. Termasuk tim yang tengah mengabdi di Kutai Kartanegara. Tidak banyak yang tahu, di sudut Kalimantan Timur terdapat kain tenun bernama Ulap Doyo, hasil karya tangan terampil masyarakat Kutai Barat yang berbahan dasar serat tumbuhan doyo. Kini, kain ramah lingkungan ini mendapat sentuhan teknologi dari mahasiswa UMM melalui Program KKN UMM. Mengusung tema Pendampingan Digitalisasi UMKM Lokal, mereka fokus membina UMKM Pokant Takaq di Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Program meliputi pendampingan pembuatan E-Katalog dan Katalog cetak, pelatihan media sosial, desain konten menarik, hingga sesi foto produk. Menariknya, Ulap Doyo sendiri sudah menorehkan prestasi gemilang. Terakhir, kesenian ini masuk Top 10 International Product dalam agenda pameran di Amerika Serikat. “Program ini kami rancang sebulan penuh dan berkelanjutan, dengan target utama memasarkan Ulap Doyo secara digital, hingga Go International,” ungkap Muhammad Rizky Akmal, anggota kelompok. Tak hanya fokus pada pemasaran digital, tim KKN UMM membekali pelaku usaha UMKM dengan keterampilan komunikasi untuk melayani wisatawan mancanegara. Di samping itu, mereka menggelar forum diskusi yang melibatkan sekolah dan masyarakat untuk membahas ancaman punahnya seni tenun Ulap Doyo akibat minimnya minat dan keterampilan generasi muda. Anak-anak juga diperkenalkan pada proses tenun agar kecintaan pada budaya tumbuh sejak dini. Program ini mendapat sambutan positif. Sejumlah tokoh dan tamu penting, seperti perwakilan persatuan Istri Penjabat Bank Indonesia, pihak Kejaksaan, hingga Putri Indonesia. “Alhamdulillah, ini juga berkat dukungan penuh UMM. Termasuk ide dan bimbingan dari dosen pendamping lapangan Dr. M. Isnaini. M.Pd. yang terus mendampingi,” katanya. Hal yang tak kalah menarik perhatian masyarakat dan pemerintah adalah sebagai penggerak realisasi program pengelolaan Bank Sampah Rotok Etam di Kelurahan Loa Ipuh. Menjemput sampah organik dari ratusan rumah warga menggunakan gerobak, lalu memilah secara manual sebelum dijual ke DLHK. Selain itu, adapula tim KKN berdampak lain di Balikpapan fokus memajukan makanan dan minuman tradisional khas Kalimantan yaitu bawang dayak. Mereka membuat sistem pemasaran yang inovatif untuk mengembangkan produk UMKM bawang dayak di bawah Koperasi Merah Putih Kelurahan Graha Indah agar dikenal masyarakat luas. Meningkatkan pemasaran ekonomi masyarakat yang berbasis UMKM. (din/wil)

Upacara Kemerdekaan Indonesia di UMM: Ribuan Baju Adat hingga Makanan Daerah

Ribuan baju adat dikenakan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 17 Agustus 2025. Ini menjadi bukti semangat kebangsaan dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Baju adat yang dikenakan sangat beragam, mulai dari Aceh hingga Papua. Bahkan ada yang mengenakan baju profesi, aladin, baju belanda zaman sebelum merdeka, dan lain sebagainya. Momentum bersejarah ini menjadi pengingat atas perjuangan para pahlawan bangsa sekaligus pemicu bagi sivitas akademika UMM untuk memberikan kontribusi nyata dalam memajukan bangsa melalui pendidikan tinggi yang berdampak. UMM juga mendorong UMKM sekitar dengan membeli dan menyediakan ribuan makanan daerah. Mulai dari soto, rawon, dan lainnya yang bisa diambil usai melaksanakan upacara kemerdekaan. Dalam refleksinya, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa aktualisasi semangat kemerdekaan harus diwujudkan dalam bentuk dedikasi dan pengabdian di berbagai bidang, utamanya pendidikan Perguruan Tinggi. “UMM memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi emas yang tak hanya berilmu, tetapi juga berdaya saing tinggi dan berkarakter yang kuat,” katanya. Berdasarkan data BPS tahun 2024, Indonesia tengah berada pada fase bonus demografi dengan 68% penduduk usia produktif dari toral 286 juta jiwa. Angka ini diproyeksikan meningkat hingga 70% pada periode 2030-2045, yang digadang-gadang sebagai puncak bomus demografi RI. Ini merupakan momentum emas untuk melahirkan bangsa yang mandiri, inovatif, serta mampu menghasilkan kemajuan signifikan di berbagai sektor kehidupan Lebih lanjut, Nazar juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai modal utama. Program-program pendidikan harus berfokus pada penguasaan teknologi, inovasi, kreativitas, pelatihan keterampilan, hingga pemebentukan etos kerja yang kokoh. Tak hanya itu, menurutnya pembangunan berkelanjutan dalam bidang kesehatan, lingkungan serta kepemimpinan dan manajerial juga menjadi prasyarat bagi bangsa yang maju. “Jika tekad ini diwujudkan dengan sungguh-sungguh, kita optimistis indeks modal manusia Indonesia dapat meningkat dari 0,56 menjadi 0,73 di masa mendatang. Tantangan terbesar tentu adalah penciptaan lapangan kerja produktif di tengah ketidakpastian ekonomi global,” demikian ujar Nazar melanjutkan. Era disrupsi dan digitalisasi yang menuntut generasi muda untuk lebih adaptif, kreatif, dan inovatif, adalah satu keniscayaan. Hal ini hanya dapat dicapai melalui proses pendidikan tinggi yang berkualitas tinggi dan kolaboratif. Nazar berharap, UMM dapat menjadi pusat lahirnya energi kolektif bangsa untuk menghadapi perubahan zaman. Di sisi lain, UMM juga mengapresiasi penuh pencapaian dan dedikasi sivitas akademika yang telah berbakti pada bangsa melalui tenaga, inovasi, dan jasa. Untuk itu, beragam penghargaan dengan berbagai kategori. Mulai kategori dosen berprestasi tahun 2025, tenaga kependidikan berprestasi, program studi dengan kinerja keuangan terbaik, dan lain sebagainya. Untuk itu, melalui semangat pergerakan Muhammadiyah, UMM berkomitmen mengubah bonus demografi menjadi peluang yang besar. Harapannya, cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan hanya sekedar wacana, melainkan kenyataan yang diraih melalui kerja keras, dedikasi, serta Ridho Allah SWT. (din/wil)