Teliti Pengaruh Self-Esteem pada Pembelian Impulsif, Tim UMM Menang Kompetisi

Di zaman yang sudah serba canggih seperti saat ini, terjadi peningkatan signifikan pembelian barang di e-commerce. Menariknya, perilaku belanja impulsif ini sering terjadi pada wanita. Melihat hal tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merasa hal ini harus diperhatikan dengan serius. Akhirnya, mereka mengeksplorasi pengaruh self-esteem terhadap kecenderungan belanja impulsif pada wanita, terutama yang terjadi pada acara twin date atau tanggal kembar di Malang. Riset ini berhasil mendapatkan juara dua di ajang Pimtanas 2024. Salah satu mahasiswa Asri menjelaskan, riset ini terinspirasi oleh fenomena twin date yang merupakan acara tahunan yang digelar setiap bulan dan memberikan diskon besar-besaran untuk produk-produk e-commerce. “Kami terinspirasi dari adanya twin date yang jadi fenomena naiknya pembelian di e-commerce. Kami ingin mengetahui bagaimana pengaruh event-event ini terhadap self-esteem pada wanita,” ungkapnya. Riset tersebut menyoroti pentingnya self-esteem dalam mempengaruhi perilaku berbelanja pada masyarakat. Adapun self-esteem adalah harga diri atau pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri, sementara impulsive buying atau pembelian impulsif adalah tindakan membeli barang secara berlebihan tanpa memikirkan manfaatnya terlebih dahulu. Dari data yang sudah mereka kumpulkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi self-esteem pada wanita di Malang Raya, terutama dalam konteks belanja online. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan emosional atau status sosial sering kali terkait erat dengan cara wanita memandang diri mereka sendiri. “Kami menemukan bahwa belanja online menjadi sarana bagi banyak wanita untuk mengekspresikan gaya hidup atau status sosial. Misalnya dengan membeli barang yang bermerek atau mengikuti tren terbaru yang dapat meningkatkan rasa harga diri. Apalagi jika produk tersebut dianggap sebagai simbol status. Dalam proses penelitian tersebut, mereka menghadapi berbagai tantangan seperti jadwal kuliah yang bertabrakan dan lainnya. Meski begitu, mereka sukses memberikan hasil yang memuaskan. Lebih lanjut, Asri ingin riset yang sudah dilakukan dapat memberikan wawasan bagi banyak orang untuk merancang pengeluaran belanja. Terutama untuk membendung perilaku belanja impulsif myang disebabkan rendahnya self-esteem. “Kami berharap para wanita, khususnya di Malang Raya bisa lebih bijak dalam melakukan pembelian ketika dihadapkan dengan promo-promo di tanggal kembar. Kami juga ingin pembaca memahami bagaimana tingkat self-esteem mempengaruhi kecenderungan mereka untuk membeli barang secara impulsif,” tutupnya. (nam/wil)
Seberapa Bagus Terapi Butterfly Hug? Begini Hasil Riset Mahasiswa UMM

Dalam beberapa tahun terakhir, perilaku self-harm (melukai diri sendiri) di kalangan pelajar di Indonesia, termasuk di Malang, semakin bertambah dan sangat mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan dari tekanan emosional, permasalahan sosial, serta pengaruh dari media sosial sehingga membuat banyak remaja merasa terisolasi dan cemas. Di lain sisi, sebuah penelitian inovatif yang dilakukan oleh tim Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prodi Psikologi dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Sosial Humaniora (PKM RSH) membawa secercah harapan baru. Melalui teknik terapi “Butterfly Hug,” tim dari UMM berusaha mengatasi masalah perilaku self-harm dengan cara yang lebih positif dan mudah diterima oleh pelajar. Gagasan yang sangat inovatif ini terinspirasi dari drama Korea yang berjudul “Its Okay Not to Be Okay”. Tak disangka, gagasan tersebut dapat membawa tim UMM menjadi juara ke-3 pada ajang PIMTANAS bulan lalu. “Awalnya, kami telah menemukan fenomena yang ingin kami angkat, yakni tingginya angka perilaku self-harm di kalangan pelajar di Malang. Namun, kami belum menemukan tindakan yang tepat untuk mengatasinya. Kemudian, salah satu teman kami teringat pada sebuah teknik terapi yang diperkenalkan dalam drama Korea Its Okay Not to Be Okay yaitu Butterfly Hug,” kata Wahyuddin Fahrurrijal. Ia tidak sendiri dalam menjalankan penelitian ini. Ia ditemani Ramadani Nur Pratiwi, Maulidatul Aisyah dan Anisa Nur Akhidah. Mereka merupakan mahasiwa psikologi UMM yang didampingi Ahmad Sulaiman S.Psi., M.Ed. Adapun Butterfly Hug, yang dalam bahasa Indonesia berarti “pelukan kupu-kupu,” awalnya dikenal sebagai teknik relaksasi yang digunakan untuk mengurangi kecemasan dan stres. Dalam drama tersebut, karakter utama menggunakannya sebagai salah satu cara untuk mengelola perasaan traumatis dan depresif. Teknik ini kemudian diadaptasi oleh tim kami untuk dijadikan solusi alternatif bagi pelajar di Malang yang seringkali merasa tertekan dengan berbagai masalah, baik dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun pergaulan. Butterfly Hug adalah salah satu bentuk meditasi yang melibatkan pemelukan diri sendiri. Teknik ini terbilang sederhana, namun efektif untuk menenangkan perasaan dan membantu individu mengatur emosi mereka. Caranya pun sangat mudah, yaitu dengan menyilangkan kedua tangan di depan tubuh dan memeluk bahu sendiri. Kemudian, peserta diminta untuk menutup mata perlahan sambil melakukan pengaturan napas menggunakan teknik “4-4-4” (tarik napas dalam 4 detik, tahan selama 4 detik, dan hembuskan selama 4 detik). Proses ini dapat dilakukan berulang-ulang sampai individu merasa lebih tenang dan nyaman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim itu, terapi Butterfly Hug terbukti efektif dalam meningkatkan self-acceptance pada pelajar yang sebelumnya terlibat dalam perilaku self-harm. Teknik ini memberi mereka alat untuk mengelola perasaan mereka secara lebih positif, sehingga mereka dapat mengurangi perilaku melukai diri sendiri. “Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan tim kami, beberapa faktor utama yang menyebabkan pelajar melakukan perilaku self-harm adalah masalah keluarga, tekanan sosial di lingkungan teman sebaya, serta pengaruh media sosial. Masalah keluarga yang tidak terselesaikan seringkali menjadi pemicu utama. Pelajar merasa tidak mendapatkan dukungan dari keluarga, yang menyebabkan mereka merasa tertekan dan kesepian,” jelas Wahyu. Selain itu, masalah hubungan pertemanan juga bisa memperburuk keadaan, karena mereka merasa tidak mampu menyelesaikan masalah emosional mereka dengan teman-teman. Namun, faktor yang paling dominan adalah pengaruh dari media sosial. Banyak pelajar yang terjebak dalam tren di dunia maya, dan melakukan self-harm untuk menunjukkan kesedihan atau untuk mendapatkan perhatian dari banyak orang. Dalam melakukan penelitian ini, mereka mendapati tantangan yang cukup intens. Apalagi ini merupakan topik yang cukup sensitif sehingga perlu adanya kehati-hatian dalam menyampaikan dan menengahi topik. Lebih jauh lagi, mereka berharapa seluruh pihak, mulai dari sekolah hingga orang tua, dapat bekerja sama untuk memberikan dukungan yang lebih baik kepada pelajar yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental. “Kami juga ingin Butterfly Hug dapat menjadi teknik terapi yang lebih dikenal dan diterima luas di kalangan pelajar,” katanya menambahkan. (*/wil)
Dosen UMM Beri Pandangan terkait Kasus Viral Penjual es dengan Pendakwah

Menyikapi kontoversi yang melibatkan tokoh agama dengan seorang pedagang bakul es teh yang sedang viral, Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Agus Supriyadi, Lc, M.H.I. menekankan pentingnya mengimplementasikan prinsi-prinsip dasar dalam berdakwah yakni Islam rahmatan lil alamin, agama Allah yang dihiasi kedamaian dan kasih sayang di dalamnya. Tertata secara sistematis, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan duniawi maupun akhirat. Mengutip penjelasan dalam kitab “Ushulud Dakwah”, Agus menyebut ada empat prinsip dasar dalam berdakwah yang harus dijaga. Di antaranya pemilihan tema dan materi dakwah, karakteristik pendakwah (da’i), siapa objek dakwah (mad’u), serta strategi atau metode yang digunakan dalam berdakwah. Sejatinya, tujuan dakwah adalah mampu menemani, mengayomi dan memberikan kasih sayang secara lemah lembut tapi tetap tegas. Seorang pendakwah wajib hukumnya kaya atau mampu secara penguasaan materi, menyesuaikan metode penyampaian materi dan dirinya dengan segmentasi objek dakwah. Menurutnya, tak hanya unggul secara kecerdasan kognitif, kepandaian dalam beretika juga harus dimiliki oleh seorang da’iatau mubaligh (pendakwah) dalam mentransfer pesan yang ada. “Kedua unsur penting tersebut saling terikat dan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan dalam berdakwah. Karena sebagus apapun retorika seorang pendakwah, jika tidak dibarengi dengan etika, pesan dakwahnya tidak akan masuk ke hati objek dakwah,” tegasnya. Lebih lanjut, belajar dari kasus tersebut, Agus mengungkapkan penting bagi para pendakwah untuk menghindari stigma negatif. Maksudnya, pendakwah harus mampu menjaga sikap dan diksi yang dipilih dalam menyampaikan materinya. Seperti tidak mengandung unsur merendahkan diri seseorang baik, secara fisik atau profesi sehingga menyakiti perasaan dan membuat stigma negatif terhadap dirinya. Hal ini juga bertentangan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, yang mana kemuliaan seseorang disisi Allah, tidak cukup dinilai hanya dari yang tampak (dzohir) seperti fisik atau profesi saja. Namun, kemuliaan seorang hamba dinilai dari ketaqwaannya kepada Allah SWT. Di samping itu, Ia juga mengatakan bahwa peran dakwah sejati adalah untuk menyatukan, bukan memecah belah dan menjauhkan satu dengan yang lain. Seperti hadits Rasulullah SAW ‘Barang siapa yang tidak mampu memberikan kasih sayang kepada orang lain, maka ia juga tidak akan mendapatkan kasih sayang dari orang lain’. Sebaliknya, setelah kegiatan dakwah tersebut banyak hujatan serta komentar negatif yang berimbas memecah persaudaraan. “Adapun humor dalam dakwah merupakan salah satu metode untuk menyegarkan suasana atau mendidik dengan konten yang bijak dan tidak menyinggung orang lain. Jangan sampai humor malah menjadi cara menghina orang lain,” ungkapnya. Meski begitu, respon publik tidak perlu berlebihan kepada penjual es teh. Menurutnya, hal itu malah menciptakan mental peminta-minta. Bahkan kini makin banyak penjual es teh di pengajian-pengajian yang menjajakan dagangannya dengan harapan bisa diborong oleh pendakwah. Begitupun dengan hujatan-hujatan berlebihan yang mengarah pada Gus Miftah. Kritik dan refleksi diri memang diperlukan agar ke depan bisa lebih baik. Apalagi Gus Miftah juga sudah meminta maaf dan bertanggungjawab atas ucapannya, bahkan mundur dari jabatan utusan presiden. Terakhir, Agus menegaskan peran kuat refleksi diri setelah berdakwah. Ia juga berharap, dunia dakwah Islam di Indonesia kedepannya semakin maju dengan materi-materi membangun secara berkelanjutan. Kemudian, pemilihan metode atau strategi harus sesuai dengan segmentasi. “Perlu kita ingat bersama bahwa metode dakwah itu memang penting. Tapi bukan menjadi satu-satunya ukuran kesuksesan dari buah dakwah itu sendiri. Kesusksesan dakwah dapat dilihat dari efek positif yang dirasakan oleh keduanya (pendakwah dan objek dakwah),” pesannya. (din/wil)
Dua Film karya Dosen UMM Ini Menang di Festival Film Jatim

Novin Wibowo, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil mencetak prestasi gemilang dengan meraih dua penghargaan sekaligus di ajang Kompetisi Film Asli Jawa Timur (Komfilasi) Jawa Timur. Kompetisi bergengsi yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur ini berlangsung meriah di Gedung Cak Durasim, Surabaya, pada 8 Desember lalu. Novin berhasil menyabet Juara 1 untuk film “Kepaten Obor” dan Juara 3 untuk film “Mbiyodo”. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Penjabat Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono, dan disaksikan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Adapun Komfilasi sendiri merupakan ajang kompetisi film yang melibatkan 89 karya dari sineas Jawa Timur. Film-film yang masuk diseleksi secara ketat oleh tim kurator dari unsur akademisi, media, pembuat film, budayawan, dan pemerintah. Penilaian akhir dilakukan oleh juri utama, yaitu aktris Marcella Zalianty dan Prisia Nasution, serta juri kehormatan, Arumi Bachsin. Salah satu film Novin, film “Kepaten Obor”yang menjadi juara pertama, bercerita tentang perjalanan seorang anak perempuan bernama Betari yang mencari keberadaan ibunya, Lastri, seorang perempuan asli Tengger. Cerita ini menyuguhkan pergulatan emosional antara ibu dan anak, dengan latar indah Gunung Bromo yang menjadi daya tarik visual film tersebut. “Film ini tidak hanya mengangkat keindahan alam, tetapi juga nilai budaya dan emosi yang menyentuh. Jadi ada banyak hal yang menarik,” ujar Novin menjelaskan. Film ini diproduksi oleh Raya Media Creative dengan Novin sebagai produser, Lukman Hakim sebagai sutradara, dan Arai Amelya sebagai penulis skenario. Proses produksi berlangsung selama tiga bulan dengan melibatkan 45 kru film dan tiga pemeran utama. Sebelumnya, ide cerita film ini telah memenangkan kompetisi pitchdeck “Layar Perempuan” yang diselenggarakan Indonesiana TV, menyisihkan ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Selain di Komfilasi, karya Novin lainnya, “Majestic Rhythm”, juga tengah berlaga di ajang internasional Japan World’s Tourism Film Festival di Okayama, Jepang. Film ini merupakan bagian dari program Wonderful Indonesia Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, yang mengangkat keindahan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. “Ini adalah langkah kami untuk membawa cerita-cerita lokal Indonesia ke panggung dunia,” kata Novin. Dengan berbagai penghargaan dan karya yang dihasilkan, Novin Wibowo menjadi salah satu sineas yang konsisten mengangkat potensi budaya dan keindahan Indonesia melalui film. Prestasinya di ajang Komfilasi ini sekaligus membuktikan bahwa karya sineas lokal Jawa Timur mampu bersaing dan diakui di tingkat nasional maupun internasional. (*/wil)
Libatkan Ratusan Pelajar, Kehutanan UMM Tanam 1000 Mangrove di Probolinggo

Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Cabang Dinas Kehutanan Lumajang sukses menggelar kegiatan penanaman 1000 bibit mangrove di Pantai Toggu, Probolinggo, 9 Desember lalu. Kegiatan yang melibatkan sekitar 100 siswa dari berbagai SMA/SMK di Malang, Batu, dan Probolinggo ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem mangrove dan memberikan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian lingkungan. Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh perwakilan Cabang Dinas Kehutanan dan Kelompok Tani Hutan Pesisir, Azis. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif UMM dalam melibatkan generasi muda dalam aksi penanaman mangrove. “Penanaman mangrove ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan aksi nyata dalam menjaga kelestarian pantai utara Jawa. Mangrove memiliki peran yang sangat penting dalam melindungi pantai dari abrasi, mencegah intrusi air laut, dan menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut,” ujar Azis. Senada dengan hal tersebut, Kaprodi Kehutanan UMM, Galit Gatut Prakosa juga menekankan urgensi penanaman mangrove. Menurutnya, mangrove adalah benteng alami yang melindungi pantai dari berbagai ancaman. Menanam mangrove tidak hanya menjaga ekosistem pantai, tetapi juga berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim. Ini juga menjadi upaya mengatasi permasalahan banjir yang kerap melanda wilayah Probolinggo. Penanaman mangrove dipilih sebagai solusi karena tanaman ini memiliki akar yang kuat dan dapat menahan abrasi serta gelombang laut. Dengan adanya hutan mangrove, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim seperti naiknya permukaan air laut dan intrusi air asin. Para siswa yang terlibat dalam kegiatan ini terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Mereka tidak hanya melakukan penanaman, tetapi juga diberikan edukasi mengenai pentingnya mangrove dan cara menanam yang benar. Harapannya, melalui kegiatan ini, para siswa dapat menjadi agen perubahan dan mengajak masyarakat sekitar untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan. Di sisi lain, salah satu siswa asal Batu, Annisa mengungkapkan rasa senangnya bisa ikut serta dalam kegiatan ini. Baginya, penanaman mangrove bukan hanya sekadar kegiatan menanam pohon, tetapi juga menjadi momen untuk belajar tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. “Saya jadi lebih paham kenapa mangrove itu penting untuk kita. Saya juga ingin mengajak teman-teman saya yang lain untuk ikut peduli sama lingkungan,” ucap Annisa. Kegiatan penanaman mangrove ini merupakan salah satu bentuk implementasi program SDG’S poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan poin 15 (Pembangunan Ekosistem Berkelanjutan). UMM berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat. (*/wil)
Kata Dosen Psikologi UMM tentang Kasus Tragis Anak Bunuh Keluarga

Kisah tragis yang mencengangkan terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu. Seorang anak membunuh ayah dan neneknya sementara sang ibu dalam kondisi kritis. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar tentang apa yang mendorong tindakan tersebut. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hudaniah, S.Psi., M.Si., memberikan pandangannya mengenai kasus ini. Hudaniah mengatakan bahwa dari informasi media, pelaku sempat mengaku mendengar suara-suara yang disebut sebagai halusinasi auditori. Namun, hal ini belum cukup untuk memastikan adanya gangguan psikologis tertentu. “Untuk mendiagnosa seseorang mengalami gangguan psikologis, asesmen mendalam sangat diperlukan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pernyataan media atau pengakuan sepihak, apalagi diagnosa halusinasi memerlukan konfirmasi lebih lanjut oleh ahli melalui wawancara dan pengujian,” ungkapnya. Dalam wawancara, Hudaniah juga mengungkapkan bahwa pelaku memiliki riwayat kunjungan ke psikiater sebanyak empat kali atas inisiatif ibunya. Selain itu, pelaku disebut mengalami insomnia yang berkepanjangan. “Sulit tidur bisa menjadi salah satu pemicu tekanan psikologis, namun perlu ditekankan lagi bahwa tindakan ekstrem seperti pembunuhan tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, tapi bisa dipengaruhi oleh bagaimana mereka belajar menghadapi tekanan dari lingkungan sosial terutama dengan keluarga. Pada umumnya, perilaku seperti ini merupakan hasil dari akumulasi berbagai tekanan,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa perilaku melanggar hukum pada anak tidak muncul secara tiba-tiba. Biasanya, ada tanda-tanda yang mendahului, seperti perubahan perilaku menjadi lebih pendiam atau mudah tersinggung. Hudaniah juga menekankan pentingnya pola asuh dan faktor sosial dalam membentuk perilaku anak. “Anak belajar dari lingkungan terdekatnya, terutama orang tua tentang bagaimana cara mengatasi masalah. Ketika tidak ada contoh positif, mereka mungkin mencari referensi dari media sosial atau lingkungan lain yang tidak selalu konstruktif,” tuturnya. Pengalaman traumatis atau tekanan yang tidak terselesaikan di masa lalu juga dapat memicu perilaku negatif pada anak. Pengalaman-pengalaman ini jika tidak diatasi atau dikomunikasikan bisa menjadi tekanan yang berat bagi anak. Untuk menangani kasus seperti ini, Hudaniah menegaskan pentingnya pendekatan integratif. Penanganan tidak hanya fokus pada pelaku, tetapi juga melibatkan keluarga dan lingkungan sosialnya. “Pendekatan integratif mencakup terapi psikologis, dukungan sosial, hingga intervensi medis jika diperlukan. Misalnya, jika ditemukan gangguan neurologis, maka terapi farmakologis bisa menjadi salah satu solusi,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya peran lembaga sosial dan pemerintah dalam memberikan layanan pendampingan kepada keluarga yang mengalami tekanan. Layanan seperti konseling di puskesmas atau komunitas pendukung dapat membantu keluarga menghadapi masalah secara lebih positif. Hudaniah berharap tragedi serupa tidak terulang. Ia mendorong semua pihak mulai dari keluarga hingga pemerintah, untuk memperkuat sistem pendukung bagi anak dan keluarga. “Masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan secara parsial. Diperlukan pendekatan dari berbagai aspek, mulai dari keluarga, komunitas, hingga kebijakan pemerintah. Dengan begitu, kita bisa mengatasi persoalan secara menyeluruh dan mencegah peristiwa serupa terjadi lagi,” tutupnya. (vin/wil)
Bantu Penderita Dermatitis Atopik, Tim UMM Bikin Bathbomb Berkhasiat

Anak muda selalu memiliki kreativitas untuk melahirkan inovasi. Hal itu pula yang dilakukan tim mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) yang menciptakan bathbomb untuk pengobatan dermatitis atopik. Inovasi ini berhasil menyabet juara 3 PKM RE di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah Tingkat Nasional (Pimtanas) 2024. Adalah Fricilia Nur Syahada, Nabila Nur Jasmine, Nafisatuz Zain, dan Permata Shafa Salsabila dari prodi Farmasi yang mengembangkannya. Dibantu Anugrah Wahyu Pribadi mahasiswa prodi Aquakultur. Nabila menjelaskan, lomba PKM kategori RE ini merupakan jenis perlombaan yang menghasilkan suatu produk melalui riset dan proses pengujian. Dari situ, muncul sebuah hasil yang nantinya dapat dituangkan kedalam suatu produk. Terkait khasiat dari produknya, Nabila mengatakan bahwa selama ini penderita penyakit kulit eksim atau dermatitis atopik ini harus rutin menggunakan pelembab setiap hari. Padahal menurutnya hal itu kurang efektif karena penggunaannya tidak dilakukan secara menyeluruh. Penggunaan pelembab untuk pengobatan penyakit kulit eksim yang tidak konsisten akan menurunkan kadar kesembuhan penderitanya. “Hal itulah yang melatarbelakangi kami untuk mengembangkan sediaan bathbomb yang berasal dari bahan Mackarel Oil dan juga Black Seed Oil. Bathbomb ini mampu memberikan efek terapi bagi penderitanya, apalagi produk ini bisa dengan mudah menjangkau bagian-bagian tubuh,” tegasnya. Adapun pemilihan bahan mackarel oil dan black seed oil untuk sediaan bathbomb bukan tanpa alasan. Keduanya mampu meredakan gejala gatal-gatal, juga sebagai anti bakteri dan flamasi, hingga mengandung omega 3 yang bagus untuk regenerasi kulit. Meski begitu, ada beberapa tantangan dalam proses pembuatannya. Salah satunya terbatasnya penelitian terkait sediaan bathbomb yang mampu dijadikan terapi penyakit kulit, serta pemilihan mackarel oil dari ikan tenggiri yang dianggap berbeda dan baru. “Penggunaan bathbomb ini cukup mudah. Pengguna cukup menyiapkan ember ataupun bathtub yang berisi air kemudian memasukkan bathbomb tersebut. Kemudian akan muncul efek gelembung busa dan siap untuk digunakan,” jelasnya. Mereka juga sudah melakukan uji coba pada telur ayam. Hasilnya, efek daya iritasi yang dialami cukup kecil, yakni pada formula 1 atau 1:3 Black Seed Oil dan Mackarel. Maka, dapat dikatakan dikatakan inovasi bathbomb ini sudah positif mengandung anti bakteri dan juga anti iritasi. “Harapannya bathbomb ini dapat terus dikembangkan dan juga bermanfaat bagi para penderita penyakit kulit eksim. Semoga dalam dua atau tiga tahun ke depan, bathbomb ini bisa diuji farmatologi yang lebih memadai dan diujikan kepada hewan ataupun manusia. Jadi, ketika lolos maka produk ini bisa diedarkan ke masyarakat,” katanya. (zaf/wil)
Begini Cara PKN UMM Siapkan Negarawan Sejati Melek Teknologi Digital

Siapkan generasi negarawan sejati ideologis dan melek teknologi digital, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar giat kuliah tamu, 4 Desember 2024. Turut hadir sebagai pemateri pakar PKN etnopedagogik, Dr. Iim Siti Masyitoh, M.Si. Ia menjelaskan rumusan terkait aspek keterikatan akses informasi yang luas dan partisipasi aktif warga digital. Itu merupakan dua hal utama dalam menyelami era digitalisasi. Maka, ada beragam kemahiran yang perlu diasah dalam menghadapi era baru digital abad 21 sebagai negarawan sejati. Tidak hanya bagi anak muda, tapi juga para masyarakat lainnya. Menurutnya, akademisi harus membekali siswa untuk berpartisiapsi di dunia digital yang bertanggungjawab dengan berbekal kemahiran yang baik. Misalnya kemampuan kritis dalam pemecahan masalah dan kreativitas yang mencirikan keunikan diri masing-masing. Di samping itu, aspek spiritual juga memiliki tempat penting dalam menjaga keseimbangan berkehidupan. Manusia sebagai makluk monopluralis, pembinaan jiwa dan raga tidak terpisahkan dan saling ketergantungan satu sama lain. “Selain itu, literasi penting juga kita kembangkan. Literasi digital meliputi literasi informasi, media, dan teknologi. Begitupun dengan kemandirian hidup dan memanfaatkan teknologi yang beretika juga jadi bagian kesiapan bersaing,” ungkapnya. Di sisi lain, Dr. Leni Anggraeni, M.Pd. menyoroti cara mencegah radikalisme dan disinformasi di era digital. Leni mengungkapkan, anatomi disinformasi memiliki pola tersendiri. Petisi yang muncul tidak semua benar dan potensi manipulasi sentimen terkait petisi sangat mungkin terjadi di era digitalisasi. “Sifat media itu hanya satu arah. Untuk itu, peluang terpapar informasi melalui konten visual palsu (hoaks) sangat besar. Maka perlu kita bandingkan satu informasi dengan informasi lainya. Counter media diperlukan dalam mengimbangi algoritma pemberitaan informatif yang salah. Ketika diam, kita malah semakin minim informasi yang benar dan semakin banyak informasi salah,” pesannya. Wakil Dekan III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Bayu Hendro Wicaksono, M.Ed., Ph.D. sangat mengpresiasi kuliah tamu itu. Ini merupakan suatu kegiatan akademik yang baik dan bagus diterapkan di prodi PPKN. Menurutnya, inovasi ini memberikan wawasan baru untuk seluruh mahasiswa demi menyongsong pendidikan di kampus. Saat ini, manusia sudah masuk di era baru Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) yang tidak menentu, serba cepat, kompleks, dan sangat dinamis. Di samping percepatan arus kemajuan digitalisasi, penting bagi masyarakat berpegang teguh pada ideologi-ideologi pondasi bangsa Indonesia. “PPKN menjadi pondasi bangsa, lebih dari itu juga untuk membangun peradaban yang kuat dalam kemajuan tanah air. Anak-anakku, kita satukan tekad berpadu, agar semakin kokoh bisa sukses melangkah di dunia baru tanpa meninggalkan ideologi-ideologi dasar bangsa kita,” sambungnya. (din/wil)
RBC UMM dan PWNA Jatim Ajari Anak Difabel tentang Kesadaran Lingkungan

Dalam rangka memperingati Hari Difabel Dunia, RBC Institute Abdul Malik Fadjar UMM bersama Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur sukses menggelar agenda kolaboratif di Kota Malang, 3 Desember lalu. Tepatnya di SLB-B YPTB yang tidak hanya menjadi momen istimewa untuk mengapresiasi potensi siswa difabel, tetapi juga menghadirkan nilai edukasi literasi dan kesadaran lingkungan melalui program unggulan Merdeka Sampah. Sebagai wujud bakti terhadap bangsa, kegiatan ini diramaikan dengan kehadiran Mobil Terbang, perpustakaan keliling milik RBC Institute. Para peserta diajak membaca bersama, bermain game interaktif, hingga belajar memilah sampah sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Program ini dirancang untuk membangun kesadaran generasi muda, terutama anak-anak difabel, tentang pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan hidup. Direktur Eksekutif RBC Institute Subhan Setowara menyampaikan, kegiatan ini mencerminkan peran institusi sebagai penggerak literasi yang inklusif. “Literasi tidak hanya soal membaca buku, tetapi juga tentang membangun kesadaran terhadap berbagai isu penting, termasuk lingkungan. Mobil Terbang hadir untuk menjembatani kebutuhan itu sekaligus menyebarkan semangat belajar di kalangan siswa difabel,” ujarnya. Highlight dari acara ini adalah sesi edukasi memilah sampah yang disampaikan dengan pendekatan kreatif. Peserta diajak mengenali jenis sampah organik, anorganik, dan B3 (bahan beracun dan berbahaya) melalui permainan edukatif, sehingga konsep ini mudah dipahami. Sesi ini menjadi pengalaman yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menyenangkan bagi siswa SLB-B YPTB Kota Malang. Kolaborasi antara RBC Institute dan PWNA Jatim ini merupakan bukti nyata komitmen untuk menciptakan program-program yang tidak hanya inklusif tetapi juga relevan dengan tantangan masa kini. Pimpinan PWNA Jatim, Nia Ambarwati mengungkapkan rasa bangganya terhadap antusiasme para peserta. “Kita harus terus menghadirkan kegiatan yang memberi manfaat nyata bagi semua kalangan, termasuk siswa difabel yang memiliki potensi luar biasa,” katanya. Dengan semangat literasi dan peduli lingkungan yang digaungkan melalui program ini, RBC Institute dan PWNA Jatim berharap mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat luas. Momentum ini sekaligus menegaskan pentingnya membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan tema besar Hari Difabel Dunia tahun ini. (*/wil)
Dosen UMM Jelaskan Konsep Pria Mapan dan Perempuan Independen

Belakangan, viral komentar salah satu artis ternama tentang perempuan independen dan pria mapan. Hal itu juga menarik perhatian Luluk Dwi Kumalasari, M.Si., selaku dosen sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pernyataan tersebut mencerminkan realitas sosial yang kompleks, namun perlu dipahami secara lebih mendalam. “Perempuan independen itu adalah perempuan yang berdaya, mandiri, dan memiliki prinsip hidup yang kokoh. Namun, konsep ini sering kali disalah artikan sebagai kebebasan ekonomi semata. Padahal, independensi juga mencakup kemampuan berpikir rasional dan bijak dalam menghadapi berbagai tantangan hidup,” ujar Luluk. Ia menegaskan bahwa peningkatan jumlah perempuan independen di Indonesia tidak hanya terbatas pada mereka yang belum menikah, tetapi juga pada perempuan yang telah berkeluarga. Lebih lanjut, Ibu Luluk menyoroti perbedaan konsep antara independensi perempuan dan kemapanan pria. Menurutnya, mapan sering kali dimaknai secara sempit sebagai kecukupan finansial. “Mapan itu sejatinya lebih luas. Seseorang bisa dianggap mapan ketika ia mantap secara pribadi, bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dan mampu memberikan kontribusi kepada orang lain, seperti keluarga,” jelasnya. Ia juga mencatat bahwa pandemi Covid-19 turut memengaruhi dinamika sosial-ekonomi. Banyak pria mengalami penurunan kelas sosial akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kebangkrutan usaha. “Fenomena ini bisa saja menjadi dasar persepsi bahwa jumlah pria mapan menurun, tetapi kita harus melihatnya dari perspektif yang lebih luas. Kemapanan tidak hanya tentang finansial, tetapi juga tentang kemampuan untuk bertahan dan bangkit,” tambahnya. Dalam era digital, media sosial memiliki peran besar dalam membentuk opini publik. Namun, Luluk mengingatkan pentingnya sikap kritis terhadap informasi yang beredar. Generasi saat ini cenderung berpikir instan, sering kali membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi. Ini sangat berisiko, terutama ketika isu-isu seperti independensi perempuan dan kemapanan pria diperdebatkan. Ia juga menekankan pentingnya filterisasi dan kritisisasi dalam menyikapi berita di media sosial agar tidak terjebak dalam arus informasi yang menyimpangkan. Menurut Lulus, anggapan bahwa peningkatan perempuan independen mengurangi peluang bagi pria merupakan hal yang keliru. Ia mengimbau pria untuk bersikap bijak dan tidak emosional dalam menghadapi isu ini. “Pernyataan seperti ini sering kali lahir dari perspektif yang sempit atau kasus tertentu, sehingga tidak mewakili mayoritas. Kita harus menghindari generalisasi yang dapat menimbulkan kebencian antar-gender,” jelasnya. Sebagai penutup, Luluk menyampaikan pesan kepada generasi muda agar menjadi individu yang bijak, terutama dalam menggunakan media sosial. Ia mendorong anak muda untuk menghargai konsep independensi dan kemapanan secara positif. “Independen bukan berarti bebas tanpa batas, melainkan memiliki prinsip yang kuat sambil tetap menghormati orang lain. Begitu pula dengan mapan, ini adalah kualitas yang perlu diraih dengan tanggung jawab dan ketekunan,” tutupnya. (Vin/Wil*)