Pesmaba UMM: Beri Skill Digital, SDGs, dan Anti Bullying

Para mahasiswa senior harus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) harus mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan mahasiswa baru, tanpa praktik kekerasan atau perploncoan. Hal itu ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. di hadapan ribuan mahasiswa baru (maba) pada Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM. Adapun agenda itu dilaksanakan langsung di Dome UMM, 11 September lalu. Lebih lanjut, Muhadjir menerangkan bahwa kehidupan di masyarakat saat ini semakin kompleks dan penuh tantangan. Hal ini membuat pendidikan tinggi memiliki peran krusial dalam membentuk individu yang tangguh. Menurutnya, Kampus Putih menjadi tempat ideal bagi mahasiswa untuk menempa diri, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga spiritual dan sosial. Selama ini, UMM menanamkan nilai bahwa orang yang bermanfaat adalah mereka yang mampu membawa kebaikan di mana pun mereka berada. “Mahasiswa UMM didorong untuk menjadi individu yang diperhitungkan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Hal ini didukung dengan program-program unggulan di UMM, seperti Center of Excellence (CoE) yang berfokus pada pengembangan keterampilan kreatif dan inovatif. Selain itu ada beragam pilihan program pengembangan lain di bidang akademik maupun non-akademik yang bisa saudara geluti,” ungkap Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM itu. Terakhir, ia juga berpesan kepada seluruh mahasiswa senior untuk mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan mahasiswa baru, tanpa praktik kekerasan atau perploncoan. Menurutnya, senior harus menjadi contoh yang baik bagi para juniornya yang masih baru bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Jas Merah Kampus Putih. “Peran senior di lingkungan kampus juga sangat penting. Senior diharapkan tidak hanya menjadi pembimbing, tetapi juga memberikan teladan bagi adik-adik kelas. Dengan dukungan dari senior yang bijak, saya harap juga semakin mempercepat mahasiswa UMM berkembang menjadi generasi yang mampu menghadapi tantangan global dengan baik,” pesannya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa Kampus Putih selalu menyiapkan mahasiswanya untuk menjadi individu tangguh dalam hal pengetahuan, keterampilan, dan keagamaan. Melalui Center of Excellence (CoE), UMM menekankan pentingnya pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia unggul, dengan keterampilan inovatif dan kreatif. CoE ini dirancang sebagai pusat keunggulan yang mengombinasikan pengetahuan dasar (knowledge base) dengan keterampilan khusus sesuai minat dan bakat mahasiswa. Program ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan yang solutif dalam menghadapi tantangan di masyarakat. “Program CoE di UMM bersifat lintas bidang, sehingga mahasiswa dapat memilih program yang tidak terbatas pada jurusan yang ditempuh. Hal ini menunjukkan komitmen UMM dalam mengakomodasi pengembangan individu mahasiswa melalui pendekatan multidisiplin berbasis minat dan passion, yang diimplementasikan melalui praktik nyata,” tegas Nazar, sapaannya. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa tahun ini, UMM juga akan memperkenalkan pendidikan dasar digital kepada seluruh mahasiswa serta program SDGs yang berfokus pada pendidikan iklim dan tanggung jawab terhadap bumi. Selain itu, mahasiswa UMM akan diberikan pembelajaran bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan satu bahasa pilihan sesuai minat, sebagai bekal komunikasi menghadapi masa depan yang semakin dinamis. (Faq/Wil)
UMM-Singapore Polytechnic Jalankan Program Internasional Lex sejak 10 Tahun lalu

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat posisinya sebagai kampus global yang adaptif dengan menyelenggarakan program internasional tahunan Learning Express (Lex). Program ini merupakan hasil kerja sama antara UMM dengan Singapore Polytechnic (SP) yang telah terjalin sejak 2014 dan terus berlanjut hingga saat ini. Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari kedua negara dalam kolaborasi proyek sosial berbasis metode design thinking. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa yang terlibat dalam program ini tidak hanya terjun langsung ke lapangan, namun juga dituntut untuk memahami kondisi sosial dan merumuskan solusi nyata untuk pengembangan UMKM lokal. Proses ini juga diiringi dengan pelatihan fasilitator serta sistem pendampingan intensif dari dosen muda yang dikirim ke Singapura setiap tahunnya. “Lex merupakan program pembelajaran kolaboratif, ajang pembelajaran kontekstual yang setara dengan KKN internasional. Program ini dirancang untuk mempertemukan 30 mahasiswa UMM dan 30 mahasiswa SP yang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok kerja lintas budaya dan lintas disiplin,” jelas Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, Kepala International Relations Office (IRO) UMM. Menurutnya, mahasiswa yang ingin mengikuti program ini harus melewati seleksi terbuka yang diumumkan melalui akun Instagram IRO. Mereka menyaring mahasiswa berdasarkan kemampuan dasar berbahasa Inggris dan kesiapan komunikasi. Terdapat proses wawancara yang dilakukan oleh tiga fasilitator dan satu koordinator dari UMM. “Seleksi ini, juga mempertimbangkan semester perkuliahan karena program ini idealnya diikuti oleh mahasiswa semester dua hingga enam,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa program Lex memiliki tahapan kerja yang padat dan terstruktur. Kegiatan dimulai dari observasi lapangan di UMKM, lalu dilanjutkan dengan proses sense and sensibility, define, ideation, dan diakhiri dengan perancangan prototype. “Prototipe yang dirancang harus disetujui oleh pelaku UMKM, karena kami ingin solusi yang benar-benar bisa dijalankan, bukan sekadar gagasan ideal. Jadi para mahasiswa membuat prototipe berdasarkan kebutuhan UMKM,” ujarnya. Adapun untuk tahun ini, lokasi proyek tersebar di tiga titik: Kebun Strawberry, Tempat Pengolahan Sampah (TPS), dan Pondok Labu. Mahasiswa akan tinggal sementara di lokasi tersebut selama tiga hari untuk menggali persoalan yang paling mendesak. Setelah itu mereka melanjutkan diskusi di UMM. “Lex bukan hanya tentang menyumbang ide, tapi juga menjadi sarana untuk mengasah empati, ketelitian, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam waktu yang singkat namun intensif, dengan tujuan utama membentuk karakter yang adaptif secara global, percaya diri dalam komunikasi lintas budaya, dan mampu merespons permasalahan nyata dengan solusi yang aplikatif,” kata Listiari. Ia menekankan bahwa Lex menjadi ruang pembelajaran sosial yang menyeimbangkan akademik, komunikasi, dan kepekaan sosial dalam skala internasional. Ia berharap Lex tidak hanya menjadi program seremonial tahunan, tetapi pengalaman transformatif yang mampu mengubah cara pandang mahasiswa terhadap diri mereka sendiri dan dunia. “Banyak dari mereka yang setelah ikut Lex menjadi lebih berani mendaftar ke program internasional lain seperti Erasmus atau studi lanjut ke luar negeri. Bahkan hubungan dengan teman-teman dari Singapura pun sering berlanjut hingga bertahun-tahun,” ujarnya. Ia berharap dengan program ini agar mahasiswa UMM memanfaatkan Lex sebagai batu loncatan untuk melatih kepemimpinan, berani tampil di ranah global, serta percaya bahwa setiap masalah sosial selalu punya solusi—asal ada kemauan, empati, dan kerja sama lintas batas. (vin/wil)
Dudung Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan di UMM: Gen Z Harus Ambil Peran Strategis

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkontribusi untuk Indonesia, termasuk dalam bidang pertahanan. Salah satunya menghadirkan Penasihat Khusus Presiden Indonesia Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M. pada 2 Juli lalu. Ia memberikan berbagai pesan bagi mahasiswa, terutama bagaimana anak muda mengambil peran strategis dalam pertahanan bangsa. Dalam paparannya, Dudung menekankan masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda. Gen-Z harus mampu menjadi agen perubahan yang berdaya saing global. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keunggulan teknologi yang dimiliki generasi ini belum tentu membawa dampak positif jika tidak diimbangi dengan karakter kuat, literasi budaya, dan pemikiran kritis. “Saya percaya masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Tapi kalau tidak mempersiapkan diri mulai sekarang, Indonesia hanya akan jadi pasar bagi bangsa lain, bukan pemain utama. Internet itu bebas, tapi kalian harus bisa menyaringnya. Jangan hanya jadi pengikut arus—jadilah pembuat arus,” ujarnya. Ia juga menyoroti ancaman internal yang semakin nyata, seperti disinformasi, radikalisme, dan polarisasi sosial. Dudung mengungkap bahwa indeks kerentanan nasional Indonesia tergolong tinggi dan bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan jika generasi mudanya apatis terhadap kondisi sosial-politik. “Bonus demografi tidak menjamin keunggulan bangsa. Kalau kalian hanya cerdas secara akademik tapi lemah secara moral, justru bisa jadi bencana. Jangan hanya bangga dengan gelar, tapi bangun karakter. Jangan hanya pintar, tapi punya prinsip. Bangsa ini tidak dibangun oleh orang yang nyaman, tapi oleh mereka yang rela berjuang dan berkorban,” ungkap Dudung. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa sudah menjadi tradisi UMM untuk mendatangkan tokoh nasional dan internasional demi memberikan wawasan serta inspirasi. Khususnya bagi para mahasiswa yang akan memegang tonggak kepemimpinan masa depan. Adapun kali ini, Kampus Putih mendatangkan penasihat khusus presiden bidang pertahanan. “Selama karirnya, Pak Dudung tentu merasakan banyak pengalaman yang bisa dibagikan kepada para mahasiswa dan kemudian digunakan untuk mengabdi pada masyarakat. UMM senantiasa berjanji untuk dekat dengan masalah-masalah masyarakat dan menjadi pioner dalam memberiakn solusi terbaik,” tegasnya. Selain itu, Nazar juga menegaskan bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun kerjasama dan kolaborasi produktif. Utamanya demi kemaslahatan umat dan bangsa. UMM juga percaya bahwa kolaborasi menjadi simbol untuk menghadapi berbagai masalah. (vin/wil)
Post 3

What is Lorem Ipsum?Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum. Why do we use it?It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for ‘lorem ipsum’ will uncover many web sites still in their infancy. Various versions have evolved over the years, sometimes by accident, sometimes on purpose (injected humour and the like). Where does it come from?Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of “de Finibus Bonorum et Malorum” (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, comes from a line in section 1.10.32. The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from “de Finibus Bonorum et Malorum” by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham. Where can I get some?There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don’t look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn’t anything embarrassing hidden in the middle of text. All the Lorem Ipsum generators on the Internet tend to repeat predefined chunks as necessary, making this the first true generator on the Internet. It uses a dictionary of over 200 Latin words, combined with a handful of model sentence structures, to generate Lorem Ipsum which looks reasonable. The generated Lorem Ipsum is therefore always free from repetition, injected humour, or non-characteristic words etc.
Post 2

What is Lorem Ipsum?Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum. Why do we use it?It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for ‘lorem ipsum’ will uncover many web sites still in their infancy. Various versions have evolved over the years, sometimes by accident, sometimes on purpose (injected humour and the like). Where does it come from?Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of “de Finibus Bonorum et Malorum” (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, comes from a line in section 1.10.32. The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from “de Finibus Bonorum et Malorum” by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham. Where can I get some?There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don’t look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn’t anything embarrassing hidden in the middle of text. All the Lorem Ipsum generators on the Internet tend to repeat predefined chunks as necessary, making this the first true generator on the Internet. It uses a dictionary of over 200 Latin words, combined with a handful of model sentence structures, to generate Lorem Ipsum which looks reasonable. The generated Lorem Ipsum is therefore always free from repetition, injected humour, or non-characteristic words etc.
Post 1

What is Lorem Ipsum?Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum. Why do we use it?It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for ‘lorem ipsum’ will uncover many web sites still in their infancy. Various versions have evolved over the years, sometimes by accident, sometimes on purpose (injected humour and the like). Where does it come from?Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of “de Finibus Bonorum et Malorum” (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, “Lorem ipsum dolor sit amet..”, comes from a line in section 1.10.32. The standard chunk of Lorem Ipsum used since the 1500s is reproduced below for those interested. Sections 1.10.32 and 1.10.33 from “de Finibus Bonorum et Malorum” by Cicero are also reproduced in their exact original form, accompanied by English versions from the 1914 translation by H. Rackham. Where can I get some?There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form, by injected humour, or randomised words which don’t look even slightly believable. If you are going to use a passage of Lorem Ipsum, you need to be sure there isn’t anything embarrassing hidden in the middle of text. All the Lorem Ipsum generators on the Internet tend to repeat predefined chunks as necessary, making this the first true generator on the Internet. It uses a dictionary of over 200 Latin words, combined with a handful of model sentence structures, to generate Lorem Ipsum which looks reasonable. The generated Lorem Ipsum is therefore always free from repetition, injected humour, or non-characteristic words etc.
Meriahnya Pesmaba UMM: Flying Board hingga Formasi Flashlight

Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu menghadirkan hal-hal baru tiap tahunnya. Gelaran ini juga ditunggu-tunggu, tidak hanya oleh para mahasiswa UMM, tapi juga ditunggu oleh masyarakat. Pada Pesmaba 2024 yang dimulai pada 9 September ini, berbagai hal menarik disuguhkan. Mulai dari atraksi flying board di danau UMM, berbagai macam formasi flashlight, hingga pengibaran enam bendera oleh tim flying fox. Bahkan ada ucapan selamat datang raksasa di gedung kuliah dan kehadiran tim pemadam kebakaran yang memeriahkan. Terkait keseruan Pesmaba, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa semua hal menarik tersebut memang sudah disiapkan sejak lama. Khususnya untuk menyambut maba gen 24 UMM. “Maba harus mengawali perkualiahan dengan bahagia. Salah satu cara UMM yakni dengan menampilkan hal baru dan unik seperti di Pesmaba tahun ini,” katanya. Adapun saat atraksi, atlet flying board menunjukkan kebolehannya dengan manuver-manuver di atas air. Selain itu juga melakukan salto yang membuat takjub ribuan penonton yang memadati pinggir danau UMM. Adapula enam bendera yang dikibarkan para mahasiswa melalui jalur flying fox. Di antaranya bendera Selamat Datang Gen 24 UMM, Pionir Digital, dan Pelestari Bumi. Di samping itu juga ada bendera Stop Genosida Palestina, Hapuskan Rasisme Global, serta Bersama Wujudkan Kedamaian. “Tiap bendera memiliki maknanya masing-masing dan menjadi spirit berkontribusi Kampus Putih dan mahasiswa. Maba gen 24 UMM diharapkan mampu menjadi pionir digital sekaligus sukses melestarikan bumi. Mereka harus bisa menjadi pemimpin yang mencegah rasisme global, menghentikan genosida di Palestina, dan bersama mewujudkan kedamaian,” tambah Dr. M. Isnaini, M.Pd. selaku kepala Humas UMM. Sementara itu, koordinator flashlight Pesmaba Jamroji, S.Sos., M.Comms. menjelaskan bahwa setelah menjadi pioner sejak 2014 lalu, kini UMM mulai meninggalkan metode flashmob. Sebagai gantinya, Kampus Putih mempopulerkan flashlight yang lebih menarik dan unik. Adapun cara itu sudah mereka lakukan sejak Pesmaba 2023 lalu. “UMM memang selalu membuat tren baru. Dulu di 2014 kami menjadi pioner flashmob, sekarang kami juga datang dengan tren flashlight memanfaatkan gawai para mahasisa baru. Hal itu tentu memudahkan dan memberikan kesna unik,” katanya. Dalam kesempatan itu, para maba UMM membentuk dua formasi utama. Pertama, formasi dengan tulisan ‘Menyala UMMku’ sebagai komitmen untuk terus menyala dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Kedua, yakni formasi ‘Menyala Mabaku’ yang menjadi harapan agar para mahasisa baru bisa mengembangkan potensi dan bakatnya, kemudian menyala serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Gelaran spektakuler itu membuat takjub para mahasiswa baru. Salah satunya Zafira Azzahra Putri, mahasiswa manajemen asal Kalimantan timur. Ia mengaku senang dan bahagia bisa bergabung dengan UMM, apalagi Pesmaba tahun ini sangat meriah. Ia menilai hal itu membuatnya lebih bersemangat mengawali proses perkuliahannya di Kampus Putih. “Seru sekali, apalagi dengan adanya atraksi flying board dan flying fox. Kemudian juga formasi flashlight yang tidak ada duanya. Keseruan ini tentu akna viral dan membuat Pesmaba tahun ini semakin menarik perhatian masyarakat luas. Semoga berbagai pesan yang ada di pesmaba ini bisa kami laksanakan dan mampu mendorong kami menjadi generasi unggul yang siap wujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Wil)
Meriahnya Pesmaba UMM: Flying Board hingga Formasi Flashlight

Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu menghadirkan hal-hal baru tiap tahunnya. Gelaran ini juga ditunggu-tunggu, tidak hanya oleh para mahasiswa UMM, tapi juga ditunggu oleh masyarakat. Pada Pesmaba 2024 yang dimulai pada 9 September ini, berbagai hal menarik disuguhkan. Mulai dari atraksi flying board di danau UMM, berbagai macam formasi flashlight, hingga pengibaran enam bendera oleh tim flying fox. Bahkan ada ucapan selamat datang raksasa di gedung kuliah dan kehadiran tim pemadam kebakaran yang memeriahkan. Terkait keseruan Pesmaba, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa semua hal menarik tersebut memang sudah disiapkan sejak lama. Khususnya untuk menyambut maba gen 24 UMM. “Maba harus mengawali perkualiahan dengan bahagia. Salah satu cara UMM yakni dengan menampilkan hal baru dan unik seperti di Pesmaba tahun ini,” katanya. Adapun saat atraksi, atlet flying board menunjukkan kebolehannya dengan manuver-manuver di atas air. Selain itu juga melakukan salto yang membuat takjub ribuan penonton yang memadati pinggir danau UMM. Adapula enam bendera yang dikibarkan para mahasiswa melalui jalur flying fox. Di antaranya bendera Selamat Datang Gen 24 UMM, Pionir Digital, dan Pelestari Bumi. Di samping itu juga ada bendera Stop Genosida Palestina, Hapuskan Rasisme Global, serta Bersama Wujudkan Kedamaian. “Tiap bendera memiliki maknanya masing-masing dan menjadi spirit berkontribusi Kampus Putih dan mahasiswa. Maba gen 24 UMM diharapkan mampu menjadi pionir digital sekaligus sukses melestarikan bumi. Mereka harus bisa menjadi pemimpin yang mencegah rasisme global, menghentikan genosida di Palestina, dan bersama mewujudkan kedamaian,” tambah Dr. M. Isnaini, M.Pd. selaku kepala Humas UMM. Sementara itu, koordinator flashlight Pesmaba Jamroji, S.Sos., M.Comms. menjelaskan bahwa setelah menjadi pioner sejak 2014 lalu, kini UMM mulai meninggalkan metode flashmob. Sebagai gantinya, Kampus Putih mempopulerkan flashlight yang lebih menarik dan unik. Adapun cara itu sudah mereka lakukan sejak Pesmaba 2023 lalu. “UMM memang selalu membuat tren baru. Dulu di 2014 kami menjadi pioner flashmob, sekarang kami juga datang dengan tren flashlight memanfaatkan gawai para mahasisa baru. Hal itu tentu memudahkan dan memberikan kesna unik,” katanya. Dalam kesempatan itu, para maba UMM membentuk dua formasi utama. Pertama, formasi dengan tulisan ‘Menyala UMMku’ sebagai komitmen untuk terus menyala dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Kedua, yakni formasi ‘Menyala Mabaku’ yang menjadi harapan agar para mahasisa baru bisa mengembangkan potensi dan bakatnya, kemudian menyala serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Gelaran spektakuler itu membuat takjub para mahasiswa baru. Salah satunya Zafira Azzahra Putri, mahasiswa manajemen asal Kalimantan timur. Ia mengaku senang dan bahagia bisa bergabung dengan UMM, apalagi Pesmaba tahun ini sangat meriah. Ia menilai hal itu membuatnya lebih bersemangat mengawali proses perkuliahannya di Kampus Putih. “Seru sekali, apalagi dengan adanya atraksi flying board dan flying fox. Kemudian juga formasi flashlight yang tidak ada duanya. Keseruan ini tentu akna viral dan membuat Pesmaba tahun ini semakin menarik perhatian masyarakat luas. Semoga berbagai pesan yang ada di pesmaba ini bisa kami laksanakan dan mampu mendorong kami menjadi generasi unggul yang siap wujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Wil)
Ribuan Orangtua Hadiri Silaturahmi Wali Maba UMM

Lulus dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak harus dengan skripsi, ada skema-sekma lain yang bisa ditempuh oleh mahasiswa. Hal Itu ditegaskan langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. di hadapan ribuan wali mahasiswa baru (Maba) pada 7 September 2024 lalu. Adapun agenda tersebut merupakan Pertemuan Wali Maba Kampus Putih tahun ajaran 2024-2025 dengan para pimpinanan UMM. Lebih lanjut, Nazar menjelaskan bahwa jika hanya menggunakan skripsi sebagai satu-satunya skema tugas akhir, maka hal itu akan membatasi kreativitas mahasiswa. Terutama dalam pengembangan minat dna bakatnya. “UMM menyediakan berbagai mekanisme ekuivalensi tugas akhir. Jadi tugas akhir itu tidak selalu melalui skripsi. Namun juga bisa berupa publikasi jurnal imiah bereputasi, penelitian, mekanisme Center of Excellence, bahkan dengan berbagai prestasi lainnya termasuk dibidang non-akademik. Itu sengaja kami berikan agar mahasiswa bisa menjelajahi lebih jauh minat dan bakatnya,” jelasnya Ia juga menerangkan bahwa sistem pembiayaah di UMM sangatlah fleksibel. Orang tua mahasiwa dapat melakukan pembayaran SPP sebanyak dua kali dalam satu semester. Bahkan untuk pembiayaan Dana Pengembangan Pendidikan (DPP) bisa hingga 12 kali selama perkuliahan. “kebetulan saya ini seorang ekonom, jadi tahu betul situasi dan kondisi ekonomi saat ini. Bisa dikatakan, kondisi saat ini belum begitu stabil pasca pandemi Covid. Masih banyak sektor yang mengalami penurunan tingkat, termasuk daya beli masyarakat. Hal itu pasti berpengaruh pada tingkat penerimaan pendapatan. Jadi skema pembiayaan di UMM ini kami desain sedemikian rupa untuk memberikan relaksasi dalam pembayaran,” jelasnya. Sementara itu, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa UMM memberikan sederet kepastian kepada seluruh mahasiswa dan juga orangtua. Di antaranya Pasti Lulus Tepat Waktu, Pasti Bekerja, dan Pasti Mandiri. Menurutnya, hal itu menjadi bentuk komitmen sebuah kampus kepada seluruh mahasiswanya. “Jika bapak ibu sekalian tanya ke kampus, kapan anak saya bisa lulus? Jawaban yang sering diberikan kampus-kampus selalu bergantung pada mahasiswanya dalam menjalani kuliah. Tapi itu menurut saya bukanlah jawaban yang bertanggung jawab. Maka bisa kami pastikan, anak bapak ibu sekalian bisa lulus tepat waktu dengan bekal skill di berbagai program UMM,” tegasnya. Fauzan juga menjelaskan program unggulan UMM, yakni Center of Excellence (CoE) berbasis program studi yang menjadi wadah mahasiswa dalam menningkatkan minat dan bakatnya. Nantinya mahasiswa dapat lebih fokus pada peminatan yang ingin ditekuni. “Kita ambil contoh di program studi peternakan, disitu ada CoE Kelas Profesional Unggas dan Ruminansia. Mahasiswa bisa memilih salah satunya jika ia benar-benar meminati kelas tersebut. Kelas itu juga kerja sama langsung dengan Mitra dari Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Mereka bisa langsung belajar dan praktik, serta sebagai bonusnya juga bisa langsung bekerja di sana bahkan ketika masih belum lulus kuliah,” terangnya. Terakhir, Fauzan berterimakasih kepada seluruh wali maba yang telah mempercayai putra putrinya menjadi bagian jas merah kampus putih. Ia juga berpesan kepada seluruh wali maba untuk tetap memantau perkembangan putra putrinya selama menempuh pendidikan di UMM. “Orangtua jangan sampai putus komunikasi dengan anak selama kuliah. Saya yakin, bapak dan ibu sekalian yang mempercayakan putra putrinya di UMM memang tahu betul akan reputasi UMM di kancah nasional hingga internasional,” pungkasnya. (Faq/Wil)
UMM Pertegas Komitmen Jadi Kampus Inklusi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung inklusivitas di lingkungan akademik. Salah satunya dengan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pembentukan Lembaga Layanan Disabilitas (LLD). Acara ini diselenggarakan pada 4 September lalu dan diikuti puluhan skretaris prodi dan kaprodi dari berbagai program di UMM. FGD ini menghadirkan dua pemateri utama, yakni psikolog Siti Suminarti Fasikhah dan Ni’matuzahroh. Mereka memaparkan tentang pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan ramah bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus. Dalam sesi diskusi, Siti Suminarti Fasikhah menekankan bahwa inklusivitas bukan hanya sekedar label. Namun merupakan upaya berkelanjutan yang harus diwujudkan melalui kebijakan, sarana prasarana, serta dukungan yang menyeluruh bagi seluruh sivitas akademika. Di sisi lain, Ni’matuzahroh selaku pemateri kedua menilai bahwa UMM telah lama membuka peluang bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus dan beragam karakteristik. Termasuk di dalamnya terkait hambatan fisik, kognitif, sosial, dan emosi. “Upaya untuk memodifikasi proses dan evaluasi pembelajaran sudah dilakukan. Namun dengan adanya LLD, diharapkan komitmen ini semakin kuat dan terintegrasi,” katanya menegaskan. Selama ini, UMM terus menunjukkan dedikasinya terhadap prinsip education for all. Melalui FGD ini, berbagai program studi di UMM diharapkan dapat lebih memahami dan meningkatkan kapasitas mereka dalam mendukung mahasiswa berkebutuhan khusus, sehingga tercipta suasana belajar yang adil dan setara. Adapun pembentukan LLD di UMM merupakan langkah strategis untuk menyatukan berbagai upaya yang telah dilakukan secara terpisah menjadi satu lembaga yang terstruktur dan terarah. LLD akan berfungsi sebagai pusat koordinasi dan pengembangan layanan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, serta memberikan pelatihan bagi tenaga pendidik dan staf dalam menangani kebutuhan khusus di lingkungan kampus. Ni’matuzahroh melihat, terselenggaranya FGD ini juga menjadi upaya UMM untuk mempertegas peranannya dalam mendukung inklusivitas. Selain itu juga langkah untuk memastikan bahwa seluruh mahasiswa, tanpa terkecuali, dapat meraih pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan mereka. (*/Wil)