Pengamat Kritik Wacana Prabowo Jadi Mediator Konflik

Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, mengkritisi wacana Presiden Prabowo Subianto yang ingin memediasi negara-negara yang berperang. Dalam teori resolusi konflik, mediasi dinilai sulit dilakukan jika pertemp Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, mengkritisi wacana Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator bagi negara-negara yang sedang berperang. Menurutnya, dalam teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan saat pertempuran masih terjadi. Dion Maulana menyampaikan bahwa mediasi idealnya dilakukan setelah kekerasan mereda. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” ujarnya di Malang, Selasa (3/3/2026). Lebih lanjut, Dion juga mendorong evaluasi terhadap posisi diplomatik Indonesia di forum internasional Board of Peace (BoP) pascaserangan Iran. Ia menekankan bahwa kredibilitas forum perdamaian seharusnya tercermin dalam tindakan nyata para anggotanya. Menurutnya, Indonesia perlu mengambil sikap yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional, dan tidak hanya mengikuti arus politik global. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengeklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” kritiknya. Dion menjelaskan bahwa konflik antara Iran dan Israel telah mencapai level ancaman eksistensial. Dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit merasa aman selama pihak lawan dianggap sebagai ancaman utama. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya. Ia menyinggung kebuntuan negosiasi nuklir Iran dengan Washington yang terjadi sejak tahun lalu, yang memicu serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran. Dion menambahkan, Presiden Donald Trump mempertimbangkan isu pengayaan nuklir serta ancaman terhadap sekutu AS di Timur Tengah, terutama Israel dan pangkalan militer Amerika. Meskipun situasi memanas, Dion meminta publik untuk tidak terburu-buru menyimpulkan konflik tersebut akan berujung pada Perang Dunia Ketiga. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” pungkasnya. Dion menegaskan bahwa eskalasi konflik saat ini masih berada dalam kerangka rivalitas regional, meskipun dampaknya bisa meluas ke sektor energi, pangan, dan stabilitas ekonomi global.

Ramadan di Portugal, Mahasiswa UMM Jalani Puasa di Negeri Minoritas Muslim

Muhammad Zair Baitil Atiq. Foto: dok.UMM. MAKLUMAT – Menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga menjadi pengalaman berbeda. Itulah yang dirasakan Muhammad Zair Baitil Atiq, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang. Saat ini ia tengah mengikuti program pertukaran pelajar di Universidade do Minho, Portugal. Bagi Zair, menjalani Ramadan di Portugal menghadirkan suasana yang jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Negara di Eropa tersebut memiliki populasi muslim yang sangat kecil, sehingga nuansa Ramadan tidak semeriah di tanah air. Mahasiswa angkatan 2022 itu saat ini mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus Programme dan tinggal di kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana menjalankan ibadah puasa di lingkungan dengan jumlah umat Islam yang hanya sekitar satu persen dari total populasi. “Kalau di Indonesia orang-orang sangat antusias menyambut Ramadan. Di sini rasanya lebih tenang, seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya. Dukungan Keluarga Besar Meski begitu, Zair tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadan di negeri orang. Tahun ini bahkan menjadi pengalaman pertamanya menjalani puasa sekaligus merayakan Idulfitri jauh dari keluarga. Dari sisi durasi, waktu berpuasa di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan lama puasa sekitar 12 jam. Baca Juga  Tata Cara Salat Gerhana Menurut Muhammadiyah: Dalil, Waktu, dan Khutbahnya Informasi jadwal sahur, imsak, hingga berbuka juga mudah ia dapat melalui komunitas muslim. Selain itu, informasi yang ia peroleh melalui jaringan Persatuan Pelajar Indonesia di Portugal yang rutin membagikan jadwal ibadah selama Ramadan. Respek dan Tingginya Toleransi Menariknya, pengalaman Ramadan di Portugal juga memperlihatkan kuatnya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengaku teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang ia jalankan. “Teman-teman sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa dan juga tahu saya tidak makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” katanya. Selama berada di Portugal, Zair juga mengaku memiliki kebiasaan baru, yakni memasak sendiri. Hal itu dilakukan untuk memastikan makanan yang dikonsumsi tetap halal. Ia bahkan membawa beberapa bumbu dari tanah air untuk keperluan memasak. Pengalaman dan Pembelajaran Namun dalam situasi tertentu, ia juga berbuka puasa di restoran. Salah satu tempat favoritnya adalah restoran Turki yang berada tidak jauh dari kampus. Restoran tersebut menyediakan menu halal seperti kebab dan bahkan memberikan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa. Bagi mahasiswa asal Kalimantan itu, menjalani Ramadan di Portugal menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi serta penghargaan terhadap perbedaan. Baca Juga  Ini Jempolan! Dua Mahasiswa UMM Paparkan Ide Bisnis di Korea Ia berpesan kepada mahasiswa lain yang berkesempatan mengikuti program serupa di luar negeri untuk tetap menikmati setiap proses. Tak lupa ia meminta untuk memanfaatkan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran hidup.

Tak Otomatis Batal, Pelukan dan Ciuman Suami-Istri Saat Berpuasa Tetap Harus Dikendalikan

ILUSTRASI— Berpelukan pasangan suami-istri. POS METRO PADANG – BULAN suci Ramadhan menjadi momentum bagi umat Islam untuk me­ning­katkan kualitas ibadah se­kaligus menjaga perilaku selama menjalankan puasa. Di tengah masyarakat, kerap muncul pertanyaan mengenai hukum berpelukan dan berciuman dengan pasangan di siang hari saat berpuasa. Menanggapi hal tersebut, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Ahmad Fatoni, menjelaskan bahwa secara hukum Islam, pelukan dan ciuman antara suami dan istri tidak otomatis membatalkan puasa. Menurutnya, hal itu dibolehkan selama tidak me­ngarah pada hubungan intim atau menyebabkan keluarnya mani yang da­pat membatalkan puasa. “Berpelukan dengan istri atau hanya mencium kening yang tidak me­nye­babkan basah atau keluarnya mani tidak membatalkan puasa. Ini sesuai dengan hadis Nabi SAW dari Aisyah bahwa beliau mencium dan berpelukan ketika puasa, namun mampu mengendalikan birahinya,” kata Ahmad Fatoni. Ia merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mencium dan berpelukan saat berpuasa, tetapi beliau mampu mengendalikan diri. Hadis tersebut tercantum dalam riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj. Baca Juga  Dampak Gangguan Jaringan , Dua Kecamatan Terancam Gelap Gulita Selain itu, Ahmad Fatoni juga mengutip hadis dari Umar bin Khattab yang mempertegas bahwa ciuman tidak membatalkan puasa. Dalam riwayat ter­sebut, Umar pernah merasa khawatir setelah mencium istrinya saat berpuasa. Namun Nabi SAW mengqiyaskannya dengan berkumur ketika puasa, yang hukumnya tidak memba­talkan. Hadis tersebut diriwa­yatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad bin Hanbal, yang pada intinya menunjukkan bahwa tindakan tersebut tidak membatalkan puasa selama tidak terjadi hal yang membatalkan. Dari dua hadis itu, para ulama menyimpulkan bahwa pelukan dan ciuman antara suami istri diperbolehkan ketika berpuasa, dengan syarat tidak berujung pada hubungan biologis atau keluarnya mani. Baca Juga  Kakan Kemenag Bantah Tudingan Anak Buah LGBT Meski demikian, Ahmad Fatoni mengingatkan agar pasangan suami istri tetap berhati-hati. Menurutnya, tindakan tersebut sebaiknya dihindari apabila berpotensi membangkitkan syahwat yang sulit dikendalikan dan bisa mengarah pada pelanggaran yang membatalkan puasa. Dalam kondisi tertentu, sebagian ulama mengategorikan perbuatan itu sebagai makruh. Artinya, tidak dilarang secara mutlak, tetapi lebih baik ditinggalkan demi menjaga ke­sempurnaan ibadah puasa. “Hukum makruh tidak memengaruhi sah atau tidaknya puasa. Jika suami istri berpelukan atau berciuman di siang hari Ramadhan dan tidak terjadi apa-apa setelahnya, puasanya tetap sah. Intinya, berpelukan, berciuman, atau bersentuhan ringan tidak membatalkan puasa,” paparnya. Dengan penjelasan ter­sebut, umat Islam diharapkan dapat lebih memahami batasan-batasan dalam berinteraksi dengan pa­sangan selama berpuasa, sehingga ibadah tetap terjaga dan nilai spiritual Ramadhan semakin meningkat. (*/rom)

Pakar Ekonomi UMM: Industri Hasil Tembakau di Persimpangan Jalan

Malang (beritajatim.com) –  Industri Hasil Tembakau (IHT) nasional tengah berada di persimpangan jalan. Selain menghadapi tekanan regulasi baru melalui rencana implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, industri ini juga digempur fenomena down trading yang mengancam stabilitas pasar dan penerimaan negara. Pakar Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Yunan Saifullah, mengungkapkan bahwa IHT merupakan ekosistem kompleks yang melibatkan mata rantai hulu hingga hilir yang sangat panjang. Menurutnya, kebijakan yang tidak sinkron antara semangat regulasi kesehatan dengan realitas industri dapat memicu masalah ekonomi baru yang serius. Dr. Yunan menyoroti fenomena down trading yang kian masif dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini terjadi ketika konsumen beralih ke produk dengan harga yang lebih murah meskipun bahan bakunya tetap sama, yakni tembakau. “Industri hasil tembakau ini sedang menghadapi fenomena down trading. Bahan bakunya sama dari tembakau, pasarnya sama, tetapi dari segi branding dan harga itu tidak sama. Ini menjadi problem serius karena memengaruhi peta kompetisi di pasar yang sangat terbuka bagi pelaku-pelaku penting,” ujar Dr. Yunan saat memberikan analisis ekonominya pada beritajatim.com, Selasa (4/3/2026). Fenomena ini berdampak langsung pada pendapatan negara melalui cukai. Pergeseran konsumsi ke produk dengan golongan cukai lebih rendah otomatis akan mengubah struktur penerimaan negara di Departemen Keuangan dan Direktorat Jenderal Bea Cukai. Dari sudut pandang makro, Dr. Yunan menekankan bahwa IHT adalah sektor industri yang sangat mengandalkan tenaga kerja (labor skill) konvensional. Sektor ini menjadi tumpuan hidup bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan dan keahlian khusus yang sulit dialihkan ke sektor lain dalam waktu singkat. “IHT itu harus kita akui adalah labor intensive. Banyak melibatkan tenaga kerja konvensional yang mengandalkan keterampilan tangan. Di situ ada unsur usia dan pendidikan. Jika sektor ini terganggu karena regulasi yang tidak tepat, ada warisan masa lalu yang tersisa dan akan hilang begitu saja di berbagai daerah,” jelas dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut. Merespons rencana penerapan kebijakan baru terkait pembatasan konten dan kemasan rokok, Dr. Yunan mengingatkan pemerintah agar memastikan aturan tersebut selaras dengan kondisi lapangan. Ia melihat adanya potensi ketidaksinkronan antara semangat kesehatan dalam PP tersebut dengan keberlangsungan industri yang sudah ada. “Saya melihat, akankah rencana (regulasi) itu sudah sinkron dengan industri hasil tembakau yang ada sebelumnya? Jika tidak sinkron, ini akan melahirkan masalah baru. Jangan sampai peraturan di bawah undang-undang justru mematikan nafas industri yang menjadi kontributor besar bagi pasar nasional,” tegasnya menutup penyampaian. (dan/but)

UMM Gelar Bakti Sosial Ramadan di Gondanglegi, Warga Terima Sembako dan Layanan Kesehatan

Foto bersama beberapa warga yang terima sembako pada kegiatan Bakti Sosial Ramadan UMM di Masjid Al-Khairat Sepanjang. (Ist) Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir kembali di tengah masyarakat dengan semangat berbagi di bulan suci Ramadan melalui bakti sosial. Kegiatan ini digelar di Masjid Al-Khairat Sepanjang, 9 Maret 2026. Ratusan warga Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang hadir mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian program sosial yang disediakan. Pemeriksaan Kesehatan dan Sosialisasi Parenting Jadi Bagian dari Bakti Sosial Ramadan Bakti sosial ini menghadirkan berbagai layanan bagi masyarakat. Di antaranya pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian obat dari RSU UMM. Selain itu, digelar permainan edukatif untuk anak-anak dan sosialisasi parenting bagi para orang tua. Tim UMM juga menyalurkan sekitar 300 paket sembako bagi warga yang membutuhkan. Program tersebut menjadi wujud kepedulian kampus kepada masyarakat. Terutama pada bulan Ramadan yang identik dengan semangat berbagi. Mobil Perpustakaan Hadir Untuk Tingkatkan Literasi Anak-anak Kegiatan ini juga menghadirkan Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang). Kedua kendaraan itu merupakan perpustakaan keliling milik UMM. Kehadiran mobil perpustakaan tersebut disambut antusias oleh anak-anak. Mereka terlihat senang memilih dan membaca berbagai buku yang tersedia. Kegiatan membaca ini sekaligus mendorong peningkatan minat literasi anak sejak dini. Program tersebut diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Perwakilan UMM, Dr. Faridi, M.Si., membuka acara dengan salam dan ungkapan syukur kepada Allah SWT. Ia menyapa warga dengan hangat dalam sambutannya. Suasana semakin cair ketika Faridi sempat bercanda menggunakan bahasa Madura. Meski demikian, ia mengaku bukan berasal dari Madura, melainkan dari Probolinggo. Faridi juga menyampaikan salam dari pimpinan UMM kepada masyarakat. Ia menyebut pimpinan kampus sedang menjalankan agenda Safari Ramadan di kampus. Kegiatan Safari Ramadan itu melibatkan berbagai unit usaha UMM. Di antaranya rumah sakit, hotel, hingga pom bensin. Bakti Sosial Jadi Agenda Tahunan UMM Menurutnya, bakti sosial merupakan agenda tahunan universitas. Program ini menjadi komitmen UMM untuk terus hadir di tengah masyarakat. Ia menegaskan perguruan tinggi tidak hanya fokus pada pendidikan akademik. Kampus juga memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat. “Tugas perguruan tinggi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Faridi juga menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia. Ia menyebut masa depan dunia ditentukan kualitas SDM. Ia mengutip pandangan mantan pejabat kabinet Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Menurutnya, kemajuan tidak hanya ditentukan kekayaan sumber daya alam. Bakti Sosial UMM Jadi Langkah Muhammadiyah untuk Cetak Generasi Unggul Ia menilai langkah Muhammadiyah membangun lembaga pendidikan merupakan strategi penting. Upaya itu bertujuan mencetak generasi unggul. Ia juga berpesan umat Islam tidak hanya mendalami ilmu fikih. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi juga sangat penting. Sementara itu, Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat, Edi Yuliant, menyampaikan rasa terima kasih kepada tim UMM. Ia juga merasa bangga kegiatan digelar di Masjid Al-Khairat. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada UMM. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya,” ujarnya. Kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Warga memanfaatkan layanan kesehatan serta bantuan sembako yang diberikan. Momentum ini juga mempererat hubungan masyarakat dengan civitas akademika UMM. Kehadiran kampus di tengah masyarakat disambut positif oleh warga. (Djoko W)

UMM Gelar Bakti Sosial Ramadan di Masjid Al-Khairat Sepanjang

UMM Gelar Bakti Sosial Ramadan di Masjid Al-Khairat Sepanjang, Foto: Ist/PWMU.CO pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan semangat berbagi di bulan Ramadan melalui kegiatan bakti sosial yang digelar di Masjid Al-Khairat Sepanjang pada Senin (9/3/2026). Kegiatan sosial tersebut dihadiri ratusan warga Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, yang tampak antusias mengikuti berbagai program pelayanan masyarakat yang disiapkan oleh tim UMM. Layanan Kesehatan Gratis dan Pembagian Sembako Dalam kegiatan bakti sosial ini, UMM menghadirkan sejumlah program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, seperti pemeriksaan kesehatan gratis serta pembagian obat yang difasilitasi oleh RSU UMM. Selain itu, warga juga menerima bantuan sekitar 300 paket sembako yang dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Tak hanya layanan kesehatan, kegiatan ini juga diramaikan dengan permainan edukatif atau fun game bagi anak-anak serta sosialisasi parenting bagi para orang tua. Program tersebut menjadi wujud kepedulian kampus terhadap masyarakat sekitar, terutama di bulan Ramadan yang identik dengan semangat berbagi dan mempererat solidaritas sosial. Mobil Perpustakaan Keliling UMM Disambut Antusias Kegiatan bakti sosial juga menghadirkan mobil perpustakaan keliling milik UMM, yakni Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang). Kehadiran kedua mobil tersebut langsung menarik perhatian anak-anak yang tampak antusias memilih berbagai buku bacaan yang tersedia. Melalui fasilitas ini, UMM berupaya menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak serta memperkenalkan budaya literasi sejak dini kepada masyarakat. UMM Tegaskan Komitmen Pengabdian kepada Masyarakat Perwakilan UMM, Dr. Faridi, M.Si., dalam sambutannya membuka kegiatan dengan menyampaikan salam serta ungkapan syukur kepada Allah SWT. Ia menyapa warga dengan hangat dan bahkan sempat mencairkan suasana melalui candaan menggunakan bahasa Madura, meskipun dirinya mengaku bukan berasal dari Madura melainkan dari Probolinggo. Faridi juga menyampaikan salam dari pimpinan UMM, termasuk rektor universitas yang pada waktu bersamaan sedang menjalankan agenda Safari Ramadan di lingkungan kampus bersama berbagai unit usaha UMM. Menurutnya, kegiatan bakti sosial merupakan agenda rutin universitas sebagai bentuk komitmen kampus untuk terus hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Tugas perguruan tinggi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Pentingnya Penguatan Sumber Daya Manusia Dalam kesempatan tersebut, Faridi juga menekankan pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tengah perkembangan zaman. Ia mengutip pandangan seorang mantan pejabat kabinet Presiden Amerika Serikat Bill Clinton yang menyatakan bahwa masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, langkah Muhammadiyah yang sejak awal fokus membangun lembaga pendidikan merupakan strategi penting dalam mencetak generasi unggul yang mampu bersaing secara global. Ia juga berpesan agar umat Islam tidak hanya mempelajari ilmu fikih semata, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat berperan aktif dalam perkembangan dunia modern. Apresiasi dari Warga Setempat Sementara itu, Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat, Edi Yuliant, menyampaikan rasa bangga sekaligus terima kasih kepada tim UMM yang telah memilih Masjid Al-Khairat sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan warga sekitar. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada UMM. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya,” ujarnya. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Warga yang hadir memanfaatkan kesempatan tersebut tidak hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan dan bantuan sembako, tetapi juga untuk menjalin kedekatan dengan civitas akademika UMM yang hadir langsung di tengah masyarakat. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang *) Editor : Satria

Lebih dari 25 Tahun UMM Tumbuh Bersama Insan Pers

Wartawan yang hadir pada buka puasa bersama UMM menyampaikan apresiasi atas hubungan hangat dan kolaborasi lebih dari 25 tahun antara kampus dan media. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Hubungan panjang antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan insan pers kembali terjalin hangat melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara pimpinan universitas, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain mempererat hubungan, forum ini juga menjadi ruang refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung akrab sekaligus penuh diskusi tentang perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media. Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi mengatakan tradisi buka puasa bersama media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor sebelumnya, Prof Dr Muhadjir Effendy MAP. Tradisi tersebut bahkan sudah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang. Dalam setiap etape perjalanan itu selalu lahir hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perjalanan media di Indonesia mengalami perubahan besar dari waktu ke waktu. Pada masa lalu, media cetak menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Wartawan memiliki posisi penting dalam menyampaikan berita dan sering kali memiliki akses luas di berbagai ruang publik. Namun perkembangan teknologi kemudian mengubah lanskap media secara drastis. “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan kalau ke mana-mana membawa kartu pers sering kali bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi. Pola reproduksi informasi juga menjadi semakin beragam,” jelasnya. Meski terjadi perubahan besar dalam dunia media, Nazaruddin menilai peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik. Dalam berbagai momentum sejarah bangsa, perkembangan gagasan masyarakat juga banyak dipengaruhi oleh media. Karena itu, hubungan antara kampus dan media menjadi sangat strategis. Menurut Nazaruddin, universitas memiliki tanggung jawab untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Kampus harus mampu menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi. Dari proses tersebut lahir berbagai pemikiran yang dapat mendorong perubahan sosial. Universitas juga menjadi ruang penting untuk merawat cita-cita bangsa menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Dia menambahkan, hubungan UMM dan media dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan. Perkembangan media yang terus berubah juga memengaruhi cara kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Meski begitu, komitmen UMM untuk menjalin kolaborasi dengan insan pers tetap sama. Menurutnya, keberadaan media turut membawa UMM berkembang menjadi universitas yang berdampak. “UMM sekarang tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Pola reproduksi informasi kini sangat beragam. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Rektor menegaskan bahwa menjadi universitas berdampak tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut harus dilandasi niat tulus untuk berbuat baik tanpa kepentingan pribadi maupun kelompok. Selain itu, kerja keras juga menjadi nilai penting yang sering kali diabaikan dalam proses pembangunan. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak. Nilai kerja keras ini yang sering kali diabaikan,” pungkasnya.

Sisi Lain Ramadan: Kisah Mahasiswa UMM Jalani Puasa di Negeri Minoritas Muslim

Zair berpose foto di Universidade do Minho yang berada di kota Braga, Portugal. Selasa (10/3/2026). (Humas UMM for JN) KOTA MALANG, jurnalnusa.com — Bulan suci Ramadan selalu identik dengan suasana hangat bersama keluarga, tradisi buka puasa bersama, hingga aktivitas ibadah yang ramai di masjid. Namun, pengalaman berbeda dirasakan oleh Muhammad Zair Baitil Atiq, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjalani Ramadan di negara dengan populasi Muslim sangat kecil. Zair, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional angkatan 2022, saat ini sedang mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus di Universidade do Minho yang berada di kota Braga, Portugal. Menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga dan tanah air tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Suasana yang tidak seramai di Indonesia hingga kebiasaan baru dalam menjalani ibadah menjadi tantangan tersendiri bagi Zair. Menurutnya, atmosfer Ramadan di Portugal terasa jauh lebih tenang dibandingkan di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari jumlah umat Islam yang hanya sekitar 1 persen dari total populasi. “Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujar Zair kepada Tim Humas UMM, 8 Maret lalu. Meski demikian, ia tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadan selama berada di perantauan. Tahun ini bahkan menjadi pengalaman pertama baginya menjalani bulan suci tanpa keluarga sekaligus merayakan Idul Fitri di luar negeri. Durasi Puasa Lebih Singkat Zair mengungkapkan bahwa durasi puasa di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Ia menyebut waktu berpuasa sekitar 12 jam dalam sehari. Untuk mengetahui jadwal sahur, imsak, hingga waktu berbuka puasa, ia biasanya mengakses informasi dari komunitas Muslim setempat maupun melalui jaringan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal yang menyediakan jadwal ibadah Ramadan secara daring. Toleransi yang Tinggi Menariknya, pengalaman Ramadan di Portugal juga memperlihatkan tingginya sikap toleransi antar pemeluk agama. Zair mengaku teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang ia jalani sebagai seorang Muslim. “Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya. Sikap saling menghargai tersebut membuat Zair merasa lebih nyaman menjalani aktivitas perkuliahan meski berada di lingkungan dengan mayoritas non-Muslim. Belajar Memasak di Negeri Orang Selama menjalani Ramadan di Portugal, Zair juga mendapatkan pengalaman baru, yakni belajar memasak sendiri. Hal itu ia lakukan untuk memastikan makanan yang dikonsumsi tetap halal. Mahasiswa asal Kalimantan tersebut bahkan membawa beberapa bumbu khas Indonesia dari tanah air untuk memasak menu berbuka puasa. Namun dalam kondisi tertentu, Zair juga berbuka puasa di restoran halal. Ia mengaku memiliki restoran favorit berupa restoran Turki yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Selain menyediakan menu halal seperti kebab, restoran tersebut juga kerap membagikan takjil gratis bagi umat Muslim yang berbuka puasa. Pelajaran tentang Toleransi Bagi Zair, menjalani Ramadan di luar negeri menjadi pengalaman berharga yang memberinya pelajaran tentang toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang mendapatkan kesempatan mengikuti program internasional untuk tetap menikmati setiap proses yang dijalani, termasuk menjalani ibadah Ramadan di lingkungan yang berbeda. “Ini pengalaman yang sangat berharga. Kita belajar hidup mandiri, menghargai perbedaan, sekaligus tetap menjaga identitas dan ibadah sebagai seorang Muslim,” pungkasnya. (**) Pewarta: Rendika Rakita Dewa Editor: Doi Nuri

Cerita Zair, Mahasiswa UMM Jalani Ramadan di Negeri Minoritas Muslim

Kisah Zair, Mahasiswa UMM Jalani Ramadan di Negeri Minoritas Muslim* SAPA TOKOH| JATIMSATUNEWS.COM:;Menjalani ibadah puasa Ramadhan di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Jauh dari keluarga, suasana yang tidak seramai di Indonesia, hingga kebiasaan baru dalam menjalani ibadah menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Muhammad Zair Baitil Atiq untuk tetap produktif menjalani aktivitasnya selama menjalankan ibadah puasa di Portugal. Zair sapaan akrabnya merupakan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 yang saat ini sedang mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana atmosfer Ramadhan di negara dengan populasi muslim yang sangat kecil. Menurut Zair, Ramadhan di Portugal memiliki suasana yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Jika di tanah air masyarakat menyambut Ramadhan dengan penuh antusias, di Portugal ia merasakan suasana yang lebih tenang karena umat Islam hanya sekitar 1% dari total populasi. “Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadhan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya 8 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Meski begitu, ia mengaku tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadhan di perantauan. Terlebih, tahun ini menjadi pengalaman pertama baginya menjalani bulan suci tanpa keluarga sekaligus merayakan Idulfitri di luar negeri. Dari segi durasi berpuasa, di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan waktu berpuasa hanya sekitar 12 jam. Ia menambahkan bahwa informasi terkait waktu sahur, imsak, hingga berbuka puasa sangat mudah diakses melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal maupun komunitas muslim setempat yang menyediakan jadwal ibadah selama Ramadhan melalui situs resmi mereka. Menariknya, Zair bercerita pengalamannya Ramadhan di Portugal juga memperlihatkan tingginya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengungkapkan bahwa teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang sedang ia jalankan. Bahkan, mereka memahami beberapa batasan yang harus ia jaga sebagai seorang muslim. “Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya. Mahasiswa asal Kalimantan ini juga mengungkapkan keahlian barunya semenjak berpuasa di negeri orang, yaitu memasak. Ia mengatakan bahwa dirinya lebih sering memasak sendiri untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi nya. Ia bahkan membawa beberapa bumbu khas Indonesia dari tanah air. Namun, di beberapa situasi mendadak Zair juga berbuka puasa di restoran. Ia mengatakan bahwa restoran kesukaannya adalah restoran Turki yang berada tidak jauh dari kampus tempatnya belajar. Selain menyediakan menu halal seperti kebab, restoran tersebut juga menyediakan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa. Bagi Zair, menjalani Ramadhan di luar negeri menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang menjalani program serupa untuk tetap menikmati setiap proses yang dijalani.(Ans)

Pusat Studi Kebudayaan UMM Bedah Kampung Budaya Polowijen Lewat Kajian Multidisipliner

Pentas tari toping di Kampung Budaya Polowijen. Istimewa Tugusatu.com, MALANG—Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengangkat Kampung Budaya Polowijen sebagai objek kajian multidisipliner yang melibatkan berbagai bidang ilmu. Kegiatan ini diselenggarakan selama empat hari, Selasa hingga Jumat (3–6/3/2026), dengan menghadirkan 12 pembicara dari berbagai disiplin keilmuan. Kepala PSK UMM, Daroe Iswatiningsih, menjelaskan selama empat hari pelaksanaan, webinar ini diikuti sekitar 320 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, Kampung Budaya Polowijen dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan praktik pelestarian budaya berbasis komunitas. Kampung ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mengelola budaya sebagai sumber pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan masyarakat. “Ini merupakan komitmen Pusat Studi Kebudayaan UMM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis komunitas kebudayaan. Kampung Budaya Polowijen telah menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan dalam membangun identitas dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya Kajian yang dilakukan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berbasis pada pengalaman lapangan. Sebelum pelaksanaan webinar, para pembicara terlebih dahulu melakukan observasi langsung ke Kampung Budaya Polowijen. Mereka berdialog dengan pengelola kampung budaya dan mengamati berbagai aktivitas budaya yang berkembang di sana, mulai dari kesenian, tradisi kuliner, hingga praktik pendidikan berbasis kearifan lokal. Sekretaris PSK UMM sekaligus PIC kegiatan,  Frida Kusumastuti, menjelaskan setelah observasi lapangan, para akademisi diberi kesempatan untuk melakukan penggalian data lebih lanjut sesuai dengan perspektif keilmuan masing-masing selama kurang lebih dua bulan. “Dari proses itulah lahir berbagai kajian yang kemudian dipresentasikan dalam webinar ini. Semua tulisan nantinya akan diterbitkan sebagai artikel ilmiah dan juga dihimpun menjadi buku yang akan kami serahkan kepada pengelola Kampung Budaya Polowijen,” jelasnya. Melalui pendekatan multidisipliner, Kampung Budaya Polowijen dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi hukum, dibahas mengenai pentingnya regulasi sebagai pilar pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Dari perspektif pendidikan, para peneliti mengkaji nilai-nilai kehidupan dalam tembang macapat serta penerapannya dalam pembelajaran berbasis budaya. Sementara itu, kajian kesehatan menyoroti budaya minum jamu sebagai praktik tradisional yang memiliki potensi meningkatkan imunitas masyarakat. Kajian lain juga membahas makanan tradisional, filosofi budaya, serta praktik kesehatan berbasis kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Polowijen. Dari bidang komunikasi dan teknologi, Kampung Budaya Polowijen dipandang sebagai ruang narasi budaya yang dapat dikembangkan melalui media digital, termasuk pengembangan web galeri interaktif untuk memperluas jangkauan promosi budaya kepada generasi muda. Tidak hanya itu, perspektif sosiologi dan psikologi juga melihat kampung budaya ini sebagai ruang refleksi sosial sekaligus representasi perjalanan nilai-nilai budaya masyarakat. Bahkan tembang-tembang macapat yang hidup di lingkungan kampung tersebut dikaji sebagai refleksi tahapan perkembangan individu dalam perspektif psikologi. Bagi Pusat Studi Kebudayaan UMM, Kampung Budaya Polowijen tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan pendidikan kebudayaan berbasis pengalaman langsung. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia akademik dan komunitas budaya, sekaligus mendorong lahirnya berbagai gagasan baru untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal.