Rektor UMM Sebut Ramadan Momentum Lahirkan Manusia Ulul Albab dan Peradaban Unggul

MALANG POST – Ramadan tidak sekadar momentum menahan lapar dan dahaga bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., menegaskan bahwa Ramadan 1447 Hijriah adalah titik tolak kebangkitan peradaban para intelektual kampus ini. Pernyataan itu disampaikan dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin, Selasa malam 17 Februari 2026. “Nabi puasa bukan hanya menahan diri, tetapi membentuk karakter dan intelektual untuk melahirkan generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan nyata,” ujar Nazaruddin. Rektor menekankan agar bulan suci ini tidak menjadi rutinitas ritual belaka, melainkan ruang pembentukan etos kerja, inovasi, dan kemajuan sosial. Ia menceritakan bahwa bangsa-bangsa maju lahir dari etos perbaikan berkelanjutan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Ia menegaskan bahwa integrasi dimensi ibadah ke dalam kehidupan sehari-hari akan mendorong kemajuan, bukan perusakan. “Jika semua dimensi ibadah terintegrasi dalam keseharian, always ada dorongan untuk kemajuan baru,” tegasnya. Nazar mengaitkan komitmen ini dengan visi akademik UMM sebagai Kampus Putih yang menjadikan Ramadan sebagai fondasi Center of Excellence. Pendidikan, menurutnya, adalah instrumen strategis untuk mereformasi bangsa dari karakter pasif menjadi pribadi yang tangguh dan progresif. Mahasiswa dan dosen didorong menjadi Ulul Albab: pemikir cerdas, peka terhadap tanda-tanda Kebesaran Allah, dan mampu menelurkan kebudayaan luhur serta pembaruan tiada henti demi kemaslahatan umat. Terkait tantangan sosial, Nazar membahas ketertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of the commons. Ia menilai puasa sebagai latihan disiplin untuk menahan ego individual maupun sektoral, sehingga perilaku koruptif bisa dicegah karena menghargai hak orang lain di ruang publik. Lebih lanjut, ia menguraikan makna jihad dalam konteks modern: bukan lagi semata-mata perang, melainkan ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya. Seorang muslim yang berpuasa diharapkan memiliki etos kerja superior, solutif, dan inovatif, sehingga umat tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi produsen kebudayaan yang diakui dunia. “Bangsa unggul adalah yang selalu berpikir untuk melakukan perubahan yang membawa kemajuan dan membesarkan hati semua orang,” ujar Nazar, yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM. Ceramah ditutup dengan harapan agar momentum Ramadan menjadi gerakan kolektif. UMM diharapkan melahirkan insan saleh secara ritual, sosial, dan intelektual, serta mampu memberikan solusi konkret bagi permasalahan bangsa. “Marilah kita jadikan Ramadan sebagai titik berpikir untuk mewujudkan the society of Ulul Albab,” pungkasnya. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Mahasiswa UMM Jadi Pelita Pendidikan bagi Anak Pekerja Migran

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah mengajar dan mendampingi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sanggar Belajar, Bukit Jambul, Penang, Malaysia. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO — Kurangnya tenaga pendidik di Bukit Jambul, Pulau Pinang, Malaysia, tidak menyurutkan semangat anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk tetap belajar. Hal ini dijawab langsung oleh empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional sebagai pelita pendidikan bagi mereka. Sejak 21 Januari hingga akhir Februari 2026, tim KKN fokus mengabdi di Sanggar Belajar, yang menjadi tumpuan utama pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Penang yang menghadapi kendala biaya sekolah lokal serta hambatan bahasa Melayu dan Inggris. Kehadiran mahasiswa tidak hanya membantu proses belajar mengajar, tetapi juga membangun kembali kepercayaan diri anak-anak untuk terus meraih cita-cita. “Jujur kami merasa sedih saat tahu pengajarnya sangat sedikit, sementara anak-anaknya sangat banyak. Namun, melihat antusiasme dan bagaimana orang tua mereka menanti kehadiran kami, rasanya terharu karena merasa sangat bermanfaat bagi mereka,” ungkap Aina Zuzaila, salah satu mahasiswa KKN Internasional, 12 Februari lalu kepada Tim Humas UMM. Dalam praktik pengajaran, mahasiswa menyesuaikan metode belajar dengan kebutuhan siswa. Mereka memadukan materi akademik dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung dengan pendekatan kreatif mulai dari permainan edukatif, diskusi kelompok, hingga pembelajaran berbasis visual agar anak-anak tetap semangat meski belajar di luar sekolah formal. Selain aktivitas mengajar, mahasiswa juga memperluas wawasan internasional melalui kolaborasi dengan Permai Pineng serta interaksi akademik di Universiti Sains Malaysia (USM). Mereka mengikuti seminar dan diskusi bersama sejumlah tokoh, mulai dari pimpinan fakultas hingga mantan pejabat daerah, guna membahas dinamika perkuliahan, isu migrasi, serta kehidupan sosial masyarakat lintas negara. “Pengalaman internasional yang kami rasakan sangat luas, mulai dari belajar cara berdiskusi hingga memahami perbedaan cara bersosialisasi masyarakat luar negeri yang tidak bisa kami temukan di dalam negeri,” tambah Aina. Meski menghadapi tantangan adaptasi dari sisi bahasa, budaya, maupun sistem pendidikan, keramahan warga lokal menjadi pendukung utama kelancaran kegiatan. Kehangatan hubungan ini terlihat dari keterlibatan warga dalam aktivitas sehari-hari. Bahkan, orang tua murid turut merayakan hari ulang tahun salah satu mahasiswa sebagai bentuk terima kasih atas dedikasi yang diberikan. Sementara itu, dosen pembimbing KKN Internasional, Dr Arina Restian MPd, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi mahasiswanya. Ia menilai program ini bukan sekadar pengabdian, tetapi juga ruang pembelajaran nyata yang membentuk kepedulian sosial dan kompetensi global mahasiswa. Menurutnya, keterlibatan langsung di komunitas PMI membuat mahasiswa memahami persoalan pendidikan dari perspektif lebih luas, mulai dari akses, kebijakan, hingga faktor sosial budaya yang memengaruhi keberlangsungan belajar anak-anak migran. “Mahasiswa tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar tentang empati, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan internasional. Ini menjadi bekal penting, baik untuk dunia kerja maupun peran mereka sebagai agen perubahan di masyarakat,” ujarnya. Ia berharap program KKN Internasional semacam ini terus berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak kantong PMI di berbagai negara, sehingga kontribusi perguruan tinggi Indonesia semakin nyata dalam menjawab persoalan pendidikan global. Melalui aksi nyata ini, mahasiswa UMM membuktikan bahwa semangat pengabdian mampu menembus batas negara demi masa depan generasi muda Indonesia, di mana pun mereka berada. (Faqih/AS)
Perluas Akses Pendidikan Lintas Negara, Mahasiswa UMM Dampingi Anak PMI di Penang

Mahasiswa KKN UMM dampingi anak PMI di Penang Malaysia. (Istimewa/PWMU.CO) pwmu.co –Keterbatasan jumlah tenaga pengajar di kawasan Bukit Jambul, Pulau Pinang, Malaysia, tidak memadamkan semangat belajar anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI).Situasi tersebut mendapat respons nyata dari empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan anak bangsa di luar negeri. Sejak 21 Januari hingga penghujung Februari 2026, tim KKN mengabdikan diri di sebuah Sanggar Belajar yang menjadi pusat pendidikan alternatif bagi anak-anak Indonesia di Penang. Sanggar ini hadir sebagai solusi atas keterbatasan biaya pendidikan formal serta kendala bahasa Melayu dan Inggris yang kerap dihadapi para siswa. Kehadiran mahasiswa tidak hanya memperkuat proses pembelajaran, tetapi juga menumbuhkan kembali rasa percaya diri anak-anak untuk mengejar cita-cita mereka. Aina Zuzaila, salah satu peserta KKN Internasional, mengaku terharu melihat kondisi di lapangan. Minimnya jumlah pengajar berbanding terbalik dengan banyaknya siswa yang ingin belajar. Namun, antusiasme anak-anak dan harapan besar para orang tua membuat para mahasiswa merasa kehadiran mereka benar-benar membawa manfaat. Dalam pelaksanaannya, metode pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Materi dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung dipadukan dengan pendekatan kreatif melalui permainan edukatif, diskusi kelompok, serta media visual. Strategi ini diterapkan agar proses belajar tetap menyenangkan meskipun berlangsung di luar sistem sekolah formal. Tak hanya mengajar, mahasiswa juga memperkaya pengalaman internasional melalui kerja sama dengan Permai Pineng dan keterlibatan akademik di Universiti Sains Malaysia (USM). Mereka mengikuti seminar serta diskusi bersama sejumlah akademisi dan tokoh masyarakat untuk membahas dinamika pendidikan tinggi, isu migrasi, dan realitas sosial masyarakat lintas negara. Aina menambahkan bahwa pengalaman tersebut membuka wawasan baru, terutama dalam memahami perbedaan budaya, pola komunikasi, dan cara berinteraksi di lingkungan internasional yang tidak mereka temui di Indonesia. Meski dihadapkan pada tantangan adaptasi bahasa, budaya, dan sistem pendidikan, dukungan masyarakat setempat menjadi faktor penting keberhasilan program. Kedekatan yang terjalin terlihat dari partisipasi warga dalam berbagai kegiatan, bahkan para orang tua siswa turut merayakan ulang tahun salah satu mahasiswa sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka. Dosen pembimbing KKN Internasional, Dr. Arina Restian, M.Pd., memberikan apresiasi atas komitmen mahasiswa. Ia menilai program ini tidak hanya menjadi bentuk pengabdian, tetapi juga sarana pembelajaran kontekstual yang mengasah kepedulian sosial dan kapasitas global mahasiswa. Menurutnya, keterlibatan langsung di komunitas PMI membantu mahasiswa memahami persoalan pendidikan secara lebih komprehensif, mulai dari aspek akses dan kebijakan hingga dinamika sosial budaya yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak migran. Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak sekadar berperan sebagai pengajar, melainkan juga belajar tentang empati, kepemimpinan, serta kemampuan beradaptasi di lingkungan internasional—bekal penting untuk dunia profesional maupun peran mereka sebagai agen perubahan. Ke depan, ia berharap program KKN Internasional dapat terus dilanjutkan dan diperluas ke berbagai komunitas PMI di negara lain, sehingga kontribusi perguruan tinggi Indonesia semakin signifikan dalam menjawab tantangan pendidikan global. Melalui pengabdian ini, mahasiswa UMM menunjukkan bahwa komitmen terhadap pendidikan mampu melampaui batas geografis demi masa depan generasi muda Indonesia, di mana pun mereka berada.(*)
Rektor UMM Sebut Ramadan Momentum Lahirkan Manusia Ulul Albab dan Peradaban Unggul
Awal Puasa Berbeda, Pakar Ilmu Falak UMM: Muhammadiyah Berdasarkan KHGT dan Ijtihad Global
Melanjutkan Warisan Pendidikan A. Malik Fadjar
Puasa Sosial Media di Era Individualisme
Muhammadiyah Gelar Tarawih Perdana, Jemaah Padati Masjid di Kota Malang

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Muhammadiyah resmi menggelar salat tarawih malam pertama Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2) malam. Ratusan hingga ribuan jamaah memadati masjid-masjid naungan Muhammadiyah di Kota Malang, menyambut datangnya bulan suci dengan penuh antusias. Sejumlah masjid terlihat dipenuhi jamaah sejak Salat Isya, di antaranya Masjid A.R. Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang dan Masjid Manarul Islam Sawojajar. Warga Muhammadiyah dijadwalkan mulai menjalankan ibadah puasa pada Rabu (18/2). Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis (19/2). Salah satu tokoh Muhammadiyah Kota Malang, KH Zubeir Suryadi Abdullah, Lc, menjelaskan bahwa perbedaan waktu dalam memulai puasa merupakan hal yang wajar di Indonesia. Ia menyebut, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki dalam menentukan kalender Hijriah. “Dalam metode lain ada rukyat dan hisab yang digunakan sebagian masyarakat Indonesia dan juga beberapa negara seperti Malaysia. Ini hal yang diperbolehkan, dan jika berpegang pada keduanya, semuanya tepat,” ujarnya. Pembina Yayasan Amal Shaleh Malang yang menaungi Masjid Manarul Islam itu juga menekankan agar perbedaan awal puasa tidak menimbulkan kesenjangan sosial di tengah masyarakat. “Kita bisa memulai puasa besok dan ada yang memulai lusa. Jangan sampai bertemu saudara kita lalu muncul perasaan yang tidak baik. Ini hal wajar dan beberapa kali juga pernah bersamaan,” katanya saat memberikan tausiyah sebelum tarawih. Ia berharap umat Muslim, khususnya warga Muhammadiyah yang mulai berpuasa lebih awal, tetap menjaga sikap saling menghormati. Menurutnya, puasa adalah ibadah mulia yang tidak boleh ternodai oleh perasaan tidak nyaman akibat perbedaan. “Mari kita ikhlaskan bersama. Kalau Allah saja membolehkan kita berbeda, maka kita perlu saling mengerti dan memahami, serta memperbanyak ibadah di bulan Ramadan ini,” pungkasnya. (rex/aim)
ASPIKOM Jawa Timur Tegaskan Kepemimpinan Strategis Pendidikan Ilmu Komunikasi, Kukuhkan Pengurus 2025–2029 di UMM

tuntasmedia, ASPIKOM Jawa Timur menegaskan kepemimpinan strategisnya dalam penguatan pendidikan tinggi ilmu komunikasi melalui rangkaian pelantikan pengurus periode 2025–2029 dan seminar nasional yang digelar di Aula GKB 5 Universitas Muhammadiyah Malang pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kegiatan ini dihadiri sekitar 80 dosen dan perwakilan dari 32 perguruan tinggi se-Jawa Timur, mencerminkan konsolidasi organisasi profesi yang semakin solid dan terarah. Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. selaku tuan rumah. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran organisasi profesi dalam menjaga mutu lulusan komunikasi agar adaptif terhadap transformasi digital dan responsif terhadap kebutuhan pembangunan daerah. Prosesi pelantikan dipimpin oleh Ketua ASPIKOM Pusat Prof. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.COMM. Ketua ASPIKOM Jawa Timur periode 2025–2029, Awang Dharmawan, S.Ikom., M.A., dosen Universitas Negeri Surabaya, memimpin pembacaan ikrar kepengurusan yang diikuti seluruh pengurus dan peserta sebagai simbol komitmen kolektif menjalankan amanah organisasi secara profesional dan berdampak. Struktur kepengurusan periode ini dirancang lebih komprehensif melalui pembentukan Badan Pengurus Harian, Dewan Pakar dalam lima bidang strategis, serta enam departemen utama yang mencakup kurikulum dan laboratorium, akreditasi dan penjaminan mutu, penelitian dan publikasi ilmiah, kehumasan, kerjasama strategis, serta organisasi dan keanggotaan. Struktur ini diarahkan untuk menjawab tantangan kebijakan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi serta kebutuhan penguatan mutu prodi komunikasi di Jawa Timur. Rangkaian kegiatan juga diisi seminar nasional bertema Memperkuat Peran Strategis Ilmu Komunikasi dalam Peta Jalan Diktisaintek yang Berdampak untuk Pembangunan Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. Emil Elestianto Dardak berhalangan hadir dan diwakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin, S.Si., M.IP. Dalam paparannya, Sherlita menyampaikan bahwa ilmu komunikasi memiliki peran krusial dalam mendukung literasi digital, pengelolaan informasi publik, serta penyebarluasan kebijakan pendidikan tinggi yang inklusif dan akurat. Diskusi berlangsung interaktif dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi yang membahas integrasi kecerdasan artifisial dalam kurikulum komunikasi, etika media digital, serta kontribusi riset komunikasi terhadap pembangunan daerah. Seminar ini memperkuat posisi ASPIKOM Jawa Timur sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mengawal kebijakan pendidikan tinggi berbasis kebutuhan lokal. Sebagai langkah konkret penguatan akademik, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara ASPIKOM Jawa Timur dan Intrans Publishing untuk mendukung penerbitan buku dan publikasi ilmiah dosen anggota. Usai pelantikan dan seminar, kegiatan dilanjutkan dengan rapat koordinasi wilayah dan sidang pleno yang membahas penyusunan program kerja lima tahunan serta pemaparan rencana strategis tiap departemen. Pertemuan ini tidak hanya menjadi forum seremonial, tetapi juga ruang silaturahmi dan peningkatan insight antar dosen komunikasi se-Jawa Timur. Konsolidasi yang terbangun diharapkan memperkuat kolaborasi lintas kampus dalam peningkatan akreditasi, riset bersama, pengabdian masyarakat, serta pengembangan laboratorium komunikasi. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, ASPIKOM Jawa Timur menegaskan komitmennya membangun ekosistem pendidikan ilmu komunikasi yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi pembangunan Jawa Timur. (RF)
Arak-Arakan dan Nyadran Empu Topeng Malang, Puncak Sakral Festival Kampung Budaya Polowijen #9

KLIKTIMES.COM | MALANG– Kampung Budaya Polowijen, Malang kembali menghadirkan kekayaan tradisi budaya melalui agenda arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang, Mbah Reni, yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, pukul 17.00 WIB, dalam rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Prosesi budaya ini berlangsung penuh makna dan sarat nilai spiritual, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang Kelompok 14 yang turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Arak-arakan Topeng Malang menuju Ke Makam Empu Topeng Malang (HO/KLIKTIMES.COM) Arak-arakan topeng dipimpin langsung oleh Ki Demang yang berada di barisan terdepan sambil membawa dupa sebagai simbol penghormatan dan penyucian. Di belakangnya, para penari berjalan beriringan sembari memegang Topeng Malangan, melangkah pelan dari panggung utama festival menuju makam Mbah Reni. Sepanjang perjalanan, alunan musik Gendhing Kebo Giro mengiringi prosesi, menambah kesan sakral dan khidmat dalam setiap langkah arak-arakan tersebut. Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 turut berjalan bersama masyarakat dalam prosesi sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus pembelajaran langsung mengenai nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Polowijen. Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) kliktimes, Setibanya di makam Mbah Reni, topeng-topeng yang dibawa oleh para penari kemudian diletakkan dengan tertib di area makam. Prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan, disertai pembacaan doa yang dipimpin oleh Ki Demang. Seluruh rangkaian nyadran berlangsung dengan penuh kekhusyukan, diikuti oleh seluruh peserta dan hadirin yang larut dalam suasana spiritual. Dalam pernyataannya, Ki Demang menegaskan pentingnya menghormati dan melanjutkan perjuangan leluhur. “Siapapun kita, wajib menghormati dan menghargai para leluhur yang telah mendahului. Mbah Reni adalah tokoh yang menciptakan kesenian Topeng Malang. Hari ini sebagian masyarakat bisa mencari penghidupan dari kesenian itu. Maka warisan ini bukan sekadar untuk dikenang, tetapi harus dilanjutkan melalui pelestarian budaya yang sungguh-sungguh,” ujarnya di sela prosesi. Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) Sebelum prosesi nyadran melalui arak-arakan Topeng Malangan dilaksanakan, sejak pagi hingga sore telah digelar berbagai rangkaian kegiatan Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Kegiatan diawali dengan Nandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan toga, dilanjutkan Workshop Busana Khas Malang, serta pementasan seni budaya yang menampilkan tari tradisional Malang, tari topeng, tari kreasi, pembacaan cerita rakyat, dan tembang dolanan. Memasuki sore hari, prosesi Megengan menjadi agenda sakral sebelum arak-arakan dan nyadran digelar sebagai penutup festival. Arak-arakan dan nyadran juga diikuti oleh perwakilan berbagai komunitas yang hadir, antara lain Pokdarwis se-Kota Malang, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, Perempuan Kebaya Konde Malangan, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Komunitas Budaya Jowo Line Dance, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Malang, Duta Budaya Kota Malang, dan Miben Voice Kota Malang. Ari Sulistyowati, guru sejarah dari SMA Sugijopranoto Kota Pasuruan, turut hadir mengikuti prosesi ini karena ketertarikannya menelusuri rekam jejak pelestarian kesenian di Malang. Ia menyampaikan kesannya, “Saya melihat ini bukan sekadar sakralitas dalam berkesenian, tetapi bagaimana rekam jejak seorang tokoh budaya bisa dihidupkan kembali melalui tradisi nyadran. Ini sangat menyentuh, karena sejarah tidak hanya dibaca di buku, tetapi dirawat dan dijalankan bersama masyarakat,” ungkap Ari yang juga anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) Arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang berakhir dengan turunnya hujan gerimis setelah sebelumnya cuaca terang benderang. Bagi masyarakat setempat, gerimis yang turun selepas prosesi dipercaya sebagai pertanda berkah dari Sang Maha Kuasa. Momen ini semakin menguatkan nilai sakral dan makna filosofis tradisi nyadran serta arak-arakan topeng sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur sekaligus komitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya Topeng Malangan agar tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.