Menuju Indonesia Emas 2045: PSIB UMM Bedah Ancaman Demografi

Malang (beritajatim.com) – Narasi Indonesia Emas 2045 kerap didengungkan sebagai puncak kejayaan bangsa. Namun, tanpa fondasi yang kuat, visi tersebut bisa berbalik menjadi bencana demografi. Hal ini menjadi sorotan utama dalam diskusi kritis yang digelar oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mengambil momentum awal tahun, PSIB UMM menggelar diskusi bertajuk “Refleksi Awal Tahun: Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045” di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026). Diskusi ini menjadi antitesis dari kebiasaan publik yang kerap menjadikan awal tahun sekadar jeda perayaan, melainkan mengubahnya menjadi momen krusial menakar arah bangsa. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menekankan pentingnya strategi proaktif dalam menawarkan inovasi sejak dini. Menurutnya, wacana Indonesia Emas tidak boleh hanya berhenti sebagai jargon di podium politik, tetapi harus diuji dan dikawal secara akademis. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak. Visi besar ini membutuhkan fondasi ilmiah yang kuat dan keberanian melakukan koreksi,” tegas Prof. Gonda. Ia menambahkan bahwa diskusi ini didesain agar tidak menguap sebatas wacana. Hasil pemikiran dalam forum ini akan dirumuskan menjadi sebuah book chapter yang diproyeksikan sebagai rujukan strategis bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan. Diskusi semakin menukik tajam saat Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan, membunyikan alarm bahaya terkait bonus demografi. Luthfi memperingatkan bahwa keberhasilan menuju 2045 sangat bergantung pada keseriusan negara dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) dan sektor kesehatan secara bersamaan. Tanpa kedua pilar ini, impian menjadi negara maju hanyalah utopia. “Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius, bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045,” ujar Luthfi. Ia menekankan perlunya tata kelola pemerintahan yang bersih dan efektif. “Kita butuh penopang yang kuat, bukan sekadar memanen jumlah penduduk usia produktif tanpa skill yang memadai,” tambahnya. Melengkapi analisis tersebut, Pakar Sosiologi Politik UMM, Abdus Salam, M.Si., mengajak peserta melihat realitas lapangan yang sering luput dari narasi besar pembangunan, yakni kemiskinan struktural. Ia membedah persoalan ini hingga ke akar masalah mikro. Abdus Salam menyoroti fenomena kemiskinan yang masih menjerat masyarakat, mulai dari sektor agraria hingga perkotaan. “Kita masih menemui wajah kemiskinan struktural yang nyata. Ada kemiskinan agraria di mana petani tak lagi punya lahan, hingga kemiskinan urban akibat lemahnya struktur industri yang memaksa masyarakat bergantung pada sektor informal,” jelas Abdus Salam. Menurutnya, penyelesaian kemiskinan struktural adalah pekerjaan rumah besar yang wajib diselesaikan jika Indonesia benar-benar ingin bicara soal kemajuan. Forum yang dihadiri puluhan peserta dari kalangan aktivis mahasiswa hingga pegiat literasi ini ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal isu-isu strategis bangsa. PSIB UMM berharap gagasan kritis ini menjadi kontribusi nyata bagi peta jalan masa depan Indonesia. (dan/but)
UMM Siapkan Lulusan Siap Halal, Mahasiswa Jadi Garda Depan Industri Syariah Nasional

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah strategis dalam memperkuat ekosistem industri syariah nasional dengan menjadikan kompetensi halal sebagai nilai tambah lulusan. Melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal), UMM mendorong mahasiswa tampil sebagai aktor utama penggerak industri halal. Di tengah rendahnya indeks literasi ekonomi syariah Indonesia yang masih berada di bawah 50 persen. Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, menjelaskan bahwa industri halal tidak hanya berbicara soal produk. Tetapi mencakup empat elemen utama, yakni barang dan jasa, infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), serta dukungan kebijakan pemerintah. Atas dasar itu, UMM mengintegrasikan materi halal ke dalam kurikulum lintas program studi. Mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syari’ah, hingga Fakultas Hukum. Pentingnya Sertifikasi Halal Menurut Prof. Elfi, penguasaan kompetensi halal membuka peluang karier yang semakin luas bagi lulusan. Termasuk dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menekankan bahwa dapur MBG tidak hanya membutuhkan tenaga gizi, tetapi juga SDM yang memahami proses sertifikasi dan penjaminan kehalalan. “Kompetensi ini menjadi nilai tambah yang luar biasa. Alumni kami dari Teknologi Pangan kini banyak dicari karena memiliki keahlian ganda. Contohnya Iffi Amalia, S.T.P., alumni yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM. Kini sukses diterima sebagai Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi karena kemampuan sertifikasi halalnya,” ungkapnya 12 Januari lalu pada tim humas UMM. Program Pendamping Proses Produk Halal UMM Lebih jauh, Prof. Elfi menerangkan bahwa PS P3 Halal UMM, yang berdiri sejak 2008 sebagai pusat kajian pangan aman halal pertama di Indonesia. Telah merancang skema pembelajaran terintegrasi yang memberi manfaat langsung bagi mahasiswa. Salah satunya melalui program Pendamping Proses Produk Halal (P3H) yang melibatkan mahasiswa untuk mendampingi pelaku UMKM. “Mahasiswa kami mendapatkan empat manfaat sekaligus dari program ini. Pertama, kompetensi teknis halal. Kedua, konversi nilai A tanpa perlu ikut UAS jika berhasil meloloskan sertifikat halal UKM,” ungkapnya. “Ketiga, lulus tepat waktu karena laporan pendampingan bisa dijadikan skripsi tanpa riset ulang yang memakan biaya. Dan keempat, ini menjadi amal jariyah karena membantu UMK mendapatkan sertifikasi gratis,” jelasnya. Implementasi Program Implementasi program tersebut menunjukkan dampak nyata. Dalam waktu empat minggu, sebanyak 14 dari 90 mahasiswa berhasil menyelesaikan tugas terstruktur. Juga mengawal terbitnya sertifikat halal bagi sejumlah produk UMKM. Mulai dari Minuman Bu Neneng di kawasan Sengkaling, Bumbu Pecel Bu Romlah di Singosari, hingga produk Dimsum Littlebite. “Mahasiswa adalah agent of change. Dengan bekal ini, mereka tidak hanya siap kerja, tetapi juga menjadi penggerak gaya hidup halal yang inklusif di masyarakat,” pungkasnya. (Djoko W)
Cegah Pinjol dan Judol, FAI UMM Bekali Literasi Keuangan Digital Siswa MAMumtaza

pwmu.co –Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membekali literasi keuangan digital kepada siswa kelas XII Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Malang (MAMumtaza) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, Selasa (13/1/2026). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas XII IPA, IPS, dan Bahasa. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa agar mampu mengelola keuangan secara bijak serta terhindar dari risiko pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) yang marak di era digital. Kepala MA Muhammadiyah 1 Malang, Akhmad Ari Wibowo, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kerja sama antara MAMumtaza dan FAI UMM telah terjalin dengan baik, termasuk melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi siswa sebagai bekal kehidupan, khususnya dalam memahami pengelolaan keuangan secara tepat. Oleh karena itu, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim pengabdian serta FAI UMM atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Khozin, M.Si., menjelaskan bahwa setiap siswa umumnya menerima uang saku dari orang tua, baik harian, mingguan, maupun bulanan. Menurutnya, sebagian uang saku tersebut perlu disisihkan untuk ditabung dan tidak dihabiskan seluruhnya. Ia menekankan pentingnya kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan harus dipenuhi karena bersifat mendasar, sementara keinginan perlu disesuaikan dan tidak selalu harus dituruti. Suasana Pembekalan Literasi Keuangan (Slamet Riadi/PWMU.CO) “Orang yang mampu membedakan dan membuat prioritas antara keinginan dan kebutuhan, merekalah yang nantinya akan memperoleh keberhasilan dan kesuksesan hidup,” ungkap Khozin yang juga Ketua Komite MAMumtaza. Sementara itu, pemateri Afifah Nur Millatina, S.E., M.SEI., menyampaikan data terkait risiko keuangan digital pada generasi muda. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan Suara ‘Aisyiyah 2024 yang dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 37,17 persen kredit macet pinjaman online dilakukan oleh generasi Z. Selain itu, jumlah pemain judi online dari generasi Z tercatat sebanyak 191.380 orang dengan sekitar 2,1 juta transaksi senilai Rp282 miliar. Adapun dari generasi Alpha tercatat sebanyak 4.514 anak dengan 45 ribu transaksi senilai Rp7,9 miliar. Afifah menegaskan pentingnya kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, sebagaimana disampaikan Prof. Khozin. Ia juga mengingatkan bahwa sebagai seorang muslim, setiap transaksi keuangan harus dihindarkan dari praktik riba dan sikap boros, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Isra’ ayat 26–27. Ia menambahkan bahwa di era digital, akses informasi dan berbagai tawaran keuangan sangat mudah dijumpai, mulai dari bunga, bonus, giveaway, hingga potongan harga. Namun, tanpa kehati-hatian dan pengendalian diri, kondisi tersebut berpotensi menjerumuskan pada pinjol, judol, dan gaya hidup konsumtif. “Oleh karena itu, penting membangun kesadaran literasi keuangan digital agar terhindar dari pinjol dan judol,” ujarnya. Kegiatan berlangsung dengan antusias hingga selesai. Sejumlah siswa turut aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman, serta memperoleh doorprize sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. (*) *) Penulis : Slamet Riadi | Editor : Tanwirul Huda
Korupsi dan manusia Tersandera
Wamendiktisaintek Tekankan Pentingnya Kesinambungan Nilai dan Budaya Organisasi

Reportasemalang – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menegaskan pentingnya kesinambungan nilai dan budaya organisasi sebagai fondasi utama perguruan tinggi dalam menghadapi dinamika dan persaingan global. Hal tersebut disampaikan saat memberikan pengarahan kepada jajaran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Aula Biro Administrasi Umum (BAU), Sabtu (10/1/2026). Fauzan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM ini menyampaikan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan formal. Tetapi juga oleh proses pewarisan nilai lintas generasi yang menjaga spirit, etos kerja, serta arah pengembangan sivitas akademika. “Proses kesinambungan nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan kompetisi antar perguruan tinggi,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Fauzan turut mengulas kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ia menyebutkan bahwa UMM termasuk dalam klaster mandiri. Ke depan, perguruan tinggi swasta (PTS) yang masuk klaster tersebut akan diarahkan menjadi PTS unggul mandiri dengan kewenangan yang lebih luas, khususnya dalam pengelolaan program studi dan akreditasi. Menurutnya, kebijakan tersebut dirancang untuk mempercepat transformasi serta meningkatkan daya saing PTS yang telah memiliki tata kelola yang baik dan berkelanjutan. “Program khusus bagi PTS klaster mandiri sedang kami siapkan agar memiliki kewenangan yang lebih fleksibel dan berdampak signifikan,” katanya. Wamendiktisaintek bersama Rektor UMM Fauzan juga mengapresiasi iklim akademik dan budaya organisasi UMM yang dinilainya kondusif, stabil, serta minim konflik. Ia menilai suasana kampus yang kolaboratif dan nyaman menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan karakter UMM yang mengedepankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar capaian simbolik. Selain itu, ia menegaskan bahwa program studi merupakan elemen utama dalam penggerak perguruan tinggi. Ketua program studi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab menjaga keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan paradigma perguruan tinggi dari sekadar pusat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi, sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa arahan yang disampaikan Wamendiktisaintek menjadi penguatan strategis bagi UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola kampus. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Mahasiswa BSI Modern UMM Pentaskan Dua Lakon Teater Sarat Konflik

Sketsamalang.com – Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mementaskan dua lakon teater sarat konflik dalam rangka luaran mata kuliah Penyutradaraan. Pementasan tersebut berlangsung selama dua hari, 11–12 Januari 2026, di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM. Dua naskah yang dipentaskan ialah *Lakon Elegi Musim Panas* karya Chandra Kudapawarna pada hari pertama dan *Orang Kasar* karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra pada hari kedua. Pementasan ini menjadi wadah pembelajaran mahasiswa dalam mengasah kemampuan penyutradaraan, keaktoran, serta pembacaan dan penafsiran teks drama. *Lakon Elegi Musim Panas* mengisahkan Nikolas, seorang lelaki yang menjalin perselingkuhan dengan seorang perempuan demi menguasai hartanya. Perselingkuhan tersebut merupakan bagian dari rencana yang ia susun bersama istrinya. Tanpa disadari, perempuan yang terlibat hubungan tersebut mengalami kebangkrutan serta keterpurukan batin setelah mengetahui bahwa relasi yang ia jalani hanyalah bentuk manipulasi. Lakon ini dibangun dengan suasana emosional yang kuat, menonjolkan tema pengkhianatan, tipu daya, dan kehancuran perasaan. Sementara itu, *Orang Kasar* menghadirkan nuansa yang lebih dinamis dan sarat ironi. Lakon ini berkisah tentang seorang nyonya yang setia pada mendiang suaminya dengan memilih hidup dalam balutan pakaian serba hitam. Konflik muncul ketika Bilal, sahabat mendiang suaminya, datang menagih utang lama dan menolak pergi sebelum utang tersebut dilunasi. Dalam situasi tersebut, tumbuh benih cinta antara keduanya, sehingga sang nyonya berada dalam dilema antara kesetiaan dan perasaan baru. Adegan-adegan komikal yang lahir dari gengsi dan kecanggungan tokoh membuat penonton terpancing emosi hingga akhir pertunjukan. Salah satu adegan dalam pementasan teater Mahasiswa BSI Modern UMM Pembina mata kuliah Penyutradaraan, Dr. Hari Sunaryo, M.Si., menilai pementasan ini sebagai ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara. Menurutnya, kedua naskah memiliki tantangan tersendiri yang menuntut kepekaan serta kedewasaan dalam pengolahan adegan. “Dalam proses pendampingan, saya melihat naskah-naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan tertentu. Jika tidak cermat, ada kemungkinan masuk ke wilayah sensor. Oleh karena itu, penting bagi sutradara dan pemain untuk tetap mengusung nilai-nilai. Proses ini menjadi pelajaran berharga bagi mahasiswa sebagai pribadi yang menjalani kehidupan sekaligus menjaga kehidupan,” ujarnya. Apresiasi juga disampaikan Kepala Program Studi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. Ia menilai proses panjang yang dilalui mahasiswa selama produksi, termasuk dinamika suka dan duka latihan, turut memperkuat kualitas permainan aktor di atas panggung. “Banyak proses yang mereka lalui selama produksi. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga alur cerita sulit ditebak oleh penonton. Plot twist yang memancing reaksi jengkel justru menunjukkan keberhasilan aktor dalam mendalami peran,” tuturnya. Ia berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif. Menurutnya, pertunjukan teater memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa setelah lulus, terutama bagi mereka yang akan berkecimpung di dunia kerja yang berkaitan dengan seni peran dan keaktoran. Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pementasan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk kepekaan serta profesionalitas mahasiswa dalam bidang seni pertunjukan.
Pusat Studi Islam UMM : Bonus Demografi Justru Bisa Jadi Bencana Indonesia 2045

Indonesiandaily.com – Pusat Studi Islam Berkemajuan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar diskusi awal tahun. Dalam refleksi tersebut, mengemuka, jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius. Maka bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan. Ia dalam kesempatan tersebut memberikan peringatan keras atau alarm bahaya terkait bonus demografi. Menurutnya keberhasilan menuju Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kemampuan negara membangun sumber daya manusia (SDM) dan kesehatan secara simultan. Tanpa prasyarat tersebut, impian menjadi negara maju hanyalah utopia. “Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius, bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045,” ungkap Luthfi Kurniawan. Dalam pandanganya Indonesia butuh tata kelola pemerintahan yang bersih serta efektif untuk menopang ini, bukan sekadar memanen jumlah penduduk usia produktif tanpa skill yang memadai. Menyambung kekhawatiran tersebut, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam, M.Si., mengajak peserta menengok realitas di lapangan yang sering luput dari jargon pembangunan, yakni kemiskinan struktural. Ia membedah persoalan ini dari berbagai sisi yang lebih mikro dan menyentuh akar masalah. “Kita masih menemui wajah kemiskinan struktural yang nyata. Ada kemiskinan agraria di mana petani tak lagi punya lahan,” ucapnya. Hingga kemiskinan urban akibat lemahnya struktur industri yang memaksa masyarakat bergantung pada sektor informal. Abdus Salam menilai, ini adalah ‘pekerjaan rumah’ besar yang harus diselesaikan jika ingin bicara soal kemajuan Dalam kesempatan tersebut, Kepala PSIB UMM, Prof Gonda Yumitro PhD, juga memberikan perspektif yang tajam. Baginya, narasi Indonesia Emas tidak boleh berhenti di podium politik, melainkan harus diuji secara akademis. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak,” ujar Prof Gonda. Visi besar ini membutuhkan fondasi ilmiah yang kuat dan keberanian melakukan koreksi. Diskusi ini sengaja diarahkan agar tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi akan dirumuskan menjadi book chapter. yakni sebagai rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis. Diskusi ini sendiri dihadiri puluhan peserta dari berbagai elemen, mulai dari aktivis mahasiswa hingga pegiat literasi. Hingga ditutup dengan komitmen bersama untuk mengawal isu-isu strategis bangsa. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi peta jalan Indonesia masa depan
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Dorong UMM Kuatkan Nilai Civitas Akademika

Indonesiandaily.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Dr Fauzan MPd, mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk semakin menguatkan nilai budaya civitas akademika. Hal tersebut disampaikan Prof Fauzan, saat memberikan pengarahan kepada jajaran UMM di Aula BAU, Sabtu (10/1). Ia menekankan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak semata bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga pada proses kesinambungan nilai lintas generasi. Proses tersebut menjaga spirit, etos kerja, dan cara beraktivitas sivitas akademika agar tetap selaras dengan cita-cita institusi. “Proses sambung nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan persaingan perguruan tinggi,” ujarnya. Ia juga menyinggung kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan oleh Kemendiktiksaintek. Dalam kebijakan tersebut, UMM masuk dalam klaster mandiri. Rencananya, perguruan tinggi swasta pada klaster ini akan diarahkan menjadi PTS unggul mandiri. Dengan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan program studi serta akreditasi. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing PTS yang telah mapan secara tata kelola. Program ini dalam proses desain agar PTS ke depan memiliki kewenangan yang lebih luwes dan berdampak. Selain itu, Fauzan mengapresiasi iklim akademik dan corporate culture UMM yang dinilainya kondusif, stabil, dan minim konflik. Menurutnya, budaya kampus yang nyaman dan kolaboratif justru menjadi pembeda utama dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. “Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter UMM yang lebih menekankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar pencapaian simbolik,” ujarnya. Prof Fauzan juga menegaskan bahwa program studi merupakan mesin utama perguruan tinggi. Ketua prodi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta dampak keilmuan bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan cara pandang kampus, dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi. Hal ini sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak yang tengah digencarkan pemerintah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa arahan yang disampaikan Sekretaris BPH itu menjadi penguat UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif. Sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya
Angkat Isu Selingkuh, Teater Mahasiswa BSI UMM Pukau Penonton

Malang (beritajatim.com) – Lorong Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berubah menjadi arena emosi yang memikat ratusan pasang mata. Selama dua hari berturut-turut, tepatnya pada 11 – 12 Januari 2026, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern UMM menyuguhkan pementasan teater yang sarat akan konflik batin dan kritik sosial. Pementasan ini merupakan puncak dari mata kuliah Penyutradaraan, di mana mahasiswa ditantang untuk menghidupkan naskah ke dalam panggung pertunjukan. Dua lakon yang diangkat pun memiliki nuansa yang sangat kontras: “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna yang kelam, dan “Orang Kasar” karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra yang jenaka namun ironis. Pada hari pertama, panggung dikuasai oleh ketegangan emosional lewat “Lakon Elegi Musim Panas”. Penonton dibawa masuk ke dalam kehidupan Nikolas, sosok lelaki manipulatif yang menjalin hubungan gelap demi menguasai harta seorang perempuan.] Konflik memuncak ketika terungkap bahwa perselingkuhan tersebut hanyalah skenario jahat yang disusun Nikolas bersama istri sahnya. Sang selingkuhan, yang awalnya dimabuk asmara, harus menelan pil pahit kebangkrutan dan kehancuran mental saat menyadari dirinya hanya menjadi objek tipu daya. Atmosfer panggung terasa begitu intens. Para aktor berhasil menerjemahkan naskah yang penuh dengan pengkhianatan dan kepalsuan ini, membuat penonton larut dalam rasa simpati sekaligus geram terhadap karakter yang dimainkan. Berbeda 180 derajat dengan hari pertama, pementasan hari kedua menyajikan “Orang Kasar” dengan nuansa yang lebih dinamis dan mengundang gelak tawa, meski tetap membawa pesan mendalam. Lakon ini mengisahkan seorang nyonya muda yang bersikeras hidup dalam kesetiaan pada mendiang suaminya, menyelimuti diri dengan pakaian serba hitam. Ketenangannya terusik oleh kedatangan Bilal, sahabat mendiang suaminya yang datang menagih utang lama dengan cara yang kasar dan memaksa. Situasi berbalik menjadi ironi yang menggelitik ketika Bilal, yang awalnya emosional dan bersikeras tidak akan pergi sebelum dibayar, justru perlahan jatuh hati pada sang nyonya. Adegan tarik-ulur antara gengsi, kemarahan, dan benih cinta yang tumbuh di situasi yang salah sukses membuat penonton geregetan. Plot twist emosional ini dieksekusi dengan gaya komikal yang menyegarkan. Di balik kesuksesan pementasan ini, terdapat proses kurasi dan pembelajaran yang ketat. Dr. Hari Sunaryo, M.Si., selaku dosen pembina mata kuliah Penyutradaraan, mengungkapkan bahwa naskah-naskah ini dipilih bukan tanpa risiko. Menurutnya, ada banyak jebakan adegan yang jika tidak dieksekusi dengan hati-hati bisa melanggar norma. “Saya yang mendampingi adik-adik ini berproses sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan yang terlibat. Jika tidak seksama sebagai sutradara dan pelaku, ada banyak hal yang bisa masuk dalam wilayah sensor,” ungkap Hari Sunaryo, Selasa (13/1/2026). Ia menegaskan pentingnya peran sutradara muda UMM dalam menjaga nilai-nilai moral di atas panggung. “Sutradara dan UMM memiliki filter yang lebih presisi. Semua ini menjadi pelajaran berharga ketika menyutradarai sebagai pribadi yang memiliki kehidupan sekaligus penjaga kehidupan,” tambahnya. Apresiasi tinggi juga datang dari Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. Ia menilai dinamika jatuh-bangun selama proses latihan telah mematangkan mental mahasiswa. Baginya, teater bukan sekadar seni peran, melainkan simulasi dunia profesional. “Banyak proses yang mereka jalani selama produksi, ada suka dan dukanya. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga imajinasi penonton dibuat sulit menebak alur ceritanya,” ujar Isnaini. Ia menyoroti keberhasilan para aktor dalam membangun reaksi penonton, mulai dari rasa jengkel hingga tawa. Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa telah berhasil mendalami peran dengan kedewasaan emosi. “Kami harap, karya mahasiswa ini bisa mendapatkan panggung publikasi yang lebih luas karena kualitasnya yang layak tonton dan relevansinya sebagai bekal soft skill di dunia kerja kelak,” tutup Isnaini. (dan/but)
Wamendiktisaintek Beri Arahan di UMM; Tekankan Kesinambungan Nilai dan Budaya Organisasi Kampus