UMM dan Shimonoseki City University Bentuk Japan Corner

RRI.CO.ID – KBRN, Malang : Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membentuk Japan Corner sebagai pusat akademik dan kebudayaan Jepang yang akan menjadi wadah pembelajaran, riset, serta penguatan hubungan antarbangsa. Inisiatif ini merupakan hasil kerja sama antara UMM dan Shimonoseki City University (SCU), Jepang, yang ditandai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Rabu (5/11/2025) di Kampus Putih. “Japan Corner menjadi simbol konkret kolaborasi lintas negara antara UMM dan SCU, sekaligus menjadi Japan Academic and Cultural Center pertama di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah,” kata Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik. Ia berharap, Japan Corner dapat memperkuat jembatan pendidikan, budaya, dan penelitian antara Indonesia dan Jepang. “Japan Corner akan menjadi ruang belajar dan dialog budaya yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Di sini, mereka dapat mempelajari bahasa, budaya, dan etos kerja Jepang sekaligus mengembangkan kolaborasi riset dan inovasi bersama,” jelas Prof. Nazaruddin. Ia menambahkan, pusat ini juga akan menjadi tempat pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar, riset bersama, dan studi lanjut di Jepang. Kolaborasi dengan SCU sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Putih yang berdampak global melalui riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, Presiden Shimonoseki City University, Prof. Chang Wan Han, menyampaikan bahwa kemitraan dengan UMM menjadi kerja sama pertama SCU dengan perguruan tinggi di Asia Tenggara sekaligus universitas Islam. “Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, kami ingin tetap menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan, menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” ujarnya. Prof. Chang juga menegaskan, melalui Japan Corner, SCU dan UMM akan memperkuat kerja sama di bidang penelitian agribisnis, pengembangan pascasarjana, pertukaran mahasiswa, serta riset sosial-humaniora yang relevan dengan tantangan global masa kini.
Mendikdasmen Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO, Dosen UMM: Bukti Diplomasi Budaya Berhasil

KLIKMU.CO – Hal menarik terjadi dalam Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, beberapa waktu lalu. Dalam forum internasional tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan pidato perdananya menggunakan Bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa bahasa nasional Indonesia kini diakui secara resmi di panggung dunia, sekaligus menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Menanggapi hal itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr M Isnaini MPd, menjelaskan bahwa pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. “Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia,” ujarnya, Kamis (6/11/2025). Menurut Isnaini, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten di bidang pendidikan bahasa serta siap menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, Isnaini—yang akrab disapa Krisna—menilai bahwa keputusan UNESCO merupakan bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. Ia menegaskan bahwa UMM memandang peristiwa ini bukan sekadar bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. “Ini langkah yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia,” ujarnya. Krisna menambahkan, diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara, katanya, dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis. Ia juga menyebut bahwa langkah UNESCO tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 44, undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Implementasi konkret dari kebijakan ini, menurutnya, diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program tersebut, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya. UMM sendiri terus mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan pedagogis, linguistik, dan interkultural yang mumpuni untuk menjadi pengajar bahasa di luar negeri. “Kami ingin lulusan UMM menjadi bagian dari tenaga profesional yang dapat mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, baik melalui program pemerintah maupun kerja sama internasional,” jelasnya. Lebih jauh, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Isnaini menegaskan bahwa internasionalisasi bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif perguruan tinggi dalam mencetak tenaga pengajar yang berkualitas. “Kami melihat peluang besar bagi para lulusan fresh graduate untuk menjadi tutor dan pengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing di berbagai belahan dunia. Melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan pengajaran BIPA, UMM bertekad menjadi pusat pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia yang berdaya saing global,” ungkapnya. Dengan optimisme tinggi, ia berharap Bahasa Indonesia terus memperluas pengaruhnya di dunia internasional. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga bahasa, dan pemerintah, menurutnya, menjadi kunci keberhasilan diplomasi kebahasaan di masa depan. “Harapannya, Bahasa Indonesia semakin mendapatkan ruang yang luas di dunia internasional,” pungkasnya. (Wildan/AS)
Dilema Purbaya, Dosen FEB UMM: Menopang Industri Lokal atau Mematikan Thrifting?

MALANG POST – Pelarangan total impor pakaian bekas atau akrab di telinga sebagai thrifting, kembali memicu geger di jagat ekonomi Indonesia. Setelah disuarakan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, kebijakan ini sontak menjelma menjadi “bola panas” yang dilematis. Di satu sisi, pemerintah berambisi melindungi industri tekstil dalam negeri yang meredup. Di sisi lain, ribuan pedagang kecil dan jutaan konsumen bergantung pada perputaran ekonomi barang bekas ini. Lantas, apakah melarang total merupakan jurus pamungkas yang paling bijak? Terkait hal itu, M.S. Wahyudi, S.E., M.E., Ph.D., yang akrab disapa Yudi, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memberikan pandangan komprehensif yang mencerahkan. Ia sepakat dengan urgensi pemerintah untuk melindungi pabrik-pabrik lokal, namun ia secara gamblang tidak menyetujui pendekatan yang tergesa-gesa dan melarang tanpa solusi. Menurut Yudi, fokus utama kebijakan ini adalah mendorong daya saing industri tekstil dalam negeri, bukan semata-mata mengurangi defisit perdagangan. Menurutnya, isu ini menjadi perhatian karena Menkeu Purbaya ingin melindungi industru tekstil dalam negeri. Dampak lesunya industri tekstil ini berpotensi menimbulkan gelombang PHK di sektor yang banyak menyerap tenaga kerja. Namun, Yudi memberikan kritik tajam yaitu melarang saja tidak cukup. Konsumen memilih barang bekas impor karena alasan kualitas yang lebih bagus, harga yang lebih murah, dan bahkan faktor lebih fashionable. Maka menurutnya, industri tekstil dalam negeri harus harus memenuhi itu juga, tidak sekedar melarang. Apalagi saat ini industri lokal juga menghadapi gempuran barang baru murah dari luar negeri, seperti Tiongkok, menunjukkan bahwa masalahnya terlalu kompleks jika hanya menyalahkan thrifting saja. Yudi menekankan perlunya solusi yang bertahap dan berhati-hati agar tidak menimbulkan guncangan di tingkat ekonomi mikro. Banyak pelaku usaha kecil, mulai dari pedagang pasar hingga penjual online, menggantungkan hidup pada sektor thrifting. “Industri domestik harus dikuatkan dulu sebelum langsung melarang total,” kata dekan FEB itu. Untuk meredam gejolak ekonomi mikro, Yudi menawarkan solusi yang lebih komprehensif. Pertama adalah penguatan industri domestik, di mana pemerintah wajib memberikan insentif fiskal, seperti pemotongan pajak atau subsidi untuk pengembangan inovasi. Sekaligus menyingkap akar masalah yang menyebabkan UMKM tekstil domestik tidak mampu bersaing, bahkan dengan barang bekas. Kedua, dilakukan pembinaan pelaku usaha thrifting. Daripada dilarang total, pelaku usaha dapat dibina untuk beralih atau terlibat dalam usaha kreatif, seperti industri daur ulang tekstil atau upcycling. Terakhir, ia menyarankan adanya standarisasi impor bertahap. Di mana larangan total dapat dimulai dengan menolak 100 % barang impor bekas yang mengandung zat berbahaya atau tidak layak kesehatan, sehingga kebijakan lebih terukur dan solutif. Menurut Yudi, kebijakan thrifting bukan hanya tentang pakaian bekas, tetapi juga mencakup gaya hidup berkelanjutan (sustainability) yang dianut sebagian generasi muda. Agar berhasil, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur industri dan alternatif pilihan, sehingga tidak terkesan membatasi pilihan konsumen. Generasi muda juga harus didorong untuk bangga terhadap produk domestik melalui kampanye yang gencar. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Mendiktisaintek Apresiasi Vokasi UMM, Lepas 150 Mahasiswa PKL ke Jepang

Malang, Tugumalang.id – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto memuji langkah nyata Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (Vokasi UMM) dalam mencetak dan memacu tumbuh kembang SDM unggul generasi masa depan. Pujian tersebut disampaikan saat prosesi pelepasan 150 mahasiswa Vokasi UMM yang akan menjalani Program Kerja Lapangan (PKL) internasional ke Jepang, Jumat (31/10/2025). Para mahasiswa ini akan mengikuti program tersebut selama lima tahun ke depan. Menurut Brian Yuliarto, program PKL internasional yang digagas Vokasi UMM merupakan bentuk praktik baik (best practice) dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) vokasi yang unggul, kompeten, dan berdaya saing global. “Program ini bukan hanya tentang bekerja, tetapi juga belajar dari budaya kerja Jepang yang disiplin, produktif, dan berorientasi mutu. Saya berharap mahasiswa dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan membawa pulang nilai-nilai positif tersebut untuk membangun bangsa,” ujarnya. Brian menambahkan, program ini dirancang untuk menanamkan disiplin, etos kerja, serta keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri global. Melalui kolaborasi bersama berbagai perusahaan di Jepang, khususnya di sektor manufaktur, otomasi, dan sistem energi cerdas, para peserta akan mendapatkan pelatihan langsung berstandar profesional internasional. Pengalaman lintas budaya dan interaksi dengan para profesional di Jepang diharapkan mampu membentuk karakter mahasiswa yang adaptif, inovatif, dan berintegritas tinggi. Karena itu, Brian berpesan agar para peserta tetap menjaga etika, karakter, dan jati diri bangsa Indonesia selama menjalankan program. “Langkah ini sejalan dengan visi besar Indonesia untuk memperkuat daya saing global. Saya berharap, setelah lima tahun nanti, para mahasiswa siap berkontribusi dalam pembangunan nasional setelah kembali ke tanah air,” tegasnya. PLTMH UMM Jadi Contoh Kampus Mandiri Energi dan Berkelanjutan Selain menghadiri pelepasan mahasiswa, Mendiktisaintek juga meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) UMM yang memanfaatkan aliran Sungai Brantas. PLTMH tersebut mampu menghasilkan daya listrik hingga 140 kilowatt. Energi yang dihasilkan tidak hanya memenuhi sebagian kebutuhan listrik kampus, tetapi juga dimanfaatkan untuk menyalurkan air bersih bagi masyarakat sekitar. “Inovasi seperti ini membuktikan bahwa kampus dapat menjadi pionir dalam penerapan teknologi hijau. PLTMH UMM adalah contoh nyata bagaimana pendidikan tinggi bisa mandiri energi dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Brian. Kini, PLTMH UMM juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan wisata ilmiah bagi mahasiswa serta masyarakat umum. Melalui proyek ini, UMM memperkuat komitmennya dalam transisi energi bersih dan pendidikan keberlanjutan lingkungan.
Jadi Pembicara di MUI Batu, Pakar UMM Tekankan Esensi Kejujuran dalam Sertifikasi Halal

pwmu.co –Tak ada hari tanpa berbagi ilmu. Itulah semangat sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mengabdi untuk kemaslahatan umat. Salah satunya ditunjukkan oleh Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., pakar sekaligus asesor halal UMM, yang menjadi pembicara utama dalam Sosialisasi dan Akselerasi Sertifikasi Halal untuk Hotel dan Rumah Makan yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batu, akhir Oktober lalu. Dalam paparannya, Elfi menjelaskan bahwa sertifikasi halal tidak sekadar urusan administrasi legal atau formalitas syariat. Lebih dari itu, katanya, hakikat produk halal terletak pada niat dan kejujuran produsen dalam mengolah produk. “Produk halal tidak hanya harus bebas dari bahan haram, tapi juga thayyib atau baik. Artinya mencakup gizi holistik dan keberkahan. Jika proses pengolahan dilakukan dengan niat yang benar, hasilnya bukan hanya menyehatkan tapi bisa menjadi penyembuh,” jelas Elfi. Elfi juga menjawab berbagai keraguan para pelaku usaha tentang pentingnya sertifikasi halal. Salah satunya, mengapa yang diwajibkan adalah sertifikasi halal, bukan sertifikasi haram. “Sejak tahun 90-an sudah ada aturan agar produsen mencantumkan label bila mengandung babi. Tapi, dipatuhi tidak? Kurang dari satu persen. Karena itu masyarakat muslim jadi bingung dan was-was,” ungkapnya. Menurutnya, kehadiran sertifikasi halal menjadi solusi atas kebingungan itu. Label halal kini bahkan dipercaya juga oleh konsumen nonmuslim sebagai jaminan mutu, kebersihan, dan kualitas tertinggi. Selain itu, Elfi juga mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan bahan baku lokal sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW agar menggunakan sumber daya terdekat. Langkah ini, katanya, bukan hanya menekan biaya produksi, tetapi juga memperkuat kemandirian pangan nasional. Sebagai praktisi yang pernah meraih penghargaan halal dunia di Malaysia melalui produk olahan mawarnya, Elfi mengajak pelaku UMKM di Batu agar berani berinovasi. “Gunakan potensi lokal. Misalnya bunga mawar bisa diolah jadi antioksidan, bubuk bayam merah sebagai suplemen zat besi, atau kulit buah naga sebagai pewarna alami. Dari situ bisa lahir produk unggulan khas Batu,” tandasnya. Dengan pendekatan ilmiah dan spiritual yang seimbang, Elfi menegaskan bahwa sertifikasi halal bukan sekadar label, melainkan komitmen moral dan tanggung jawab sosial dalam menghadirkan produk yang berkah dan menyehatkan.
Mengapa Perlu Sertifikasi Halal? Pakar UMM Jelaskan Alasannya

Malang (beritajatim.com) – Pertanyaan mengenai urgensi sertifikasi halal di Indonesia kerap menjadi perdebatan. Salah satu keraguan yang sering muncul di kalangan pengusaha adalah, Mengapa harus repot mengurus sertifikasi halal, bukan sertifikasi haram saja? Menjawab kebingungan publik ini, seorang pakar dan asesor halal dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., memberikan penjelasan mendalam. Menurut Elfi, alasan utamanya adalah masalah kepatuhan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki undang-undang sejak tahun 90-an yang mewajibkan produsen mencantumkan label khusus jika produknya menggunakan babi. Namun, implementasinya di lapangan jauh dari harapan. “Tapi kira-kira (aturan itu) dipatuhi tidak? Hanya kurang dari satu persen (yang patuh). Karena itulah masyarakat muslim bingung dan galau,” jelas Elfi pada Selasa (4/11/2025). Karena kegagalan sistem pelabelan non-halal tersebut, sertifikasi halal hadir sebagai solusi untuk memberikan ketenangan dan jaminan bagi konsumen Muslim. Lebih jauh, Elfi menegaskan bahwa esensi dari sertifikasi halal jauh melampaui sekadar pemenuhan aspek legal dan syariat. Menurutnya, mutu tertinggi produk halal justru terletak pada aspek intrinsik yang tidak terlihat, yaitu niat dan kejujuran dari produsen. Ia menekankan bahwa produk halal tidak hanya harus terbebas dari bahan haram, tetapi juga wajib thayyib atau baik. “Maksudnya adalah mencakup gizi holistik. Proses pengolahan yang diiringi dengan niat baik akan menghasilkan produk yang membawa keberkahan dan bahkan menjadi makanan penyembuh,” tambahnya. Fakta menarik diungkap Elfi. Kepercayaan terhadap label halal ternyata tidak hanya datang dari kalangan Muslim. Saat ini, label halal telah dianggap sebagai standar global. “Kepercayaan ini bahkan meluas ke konsumen non-muslim yang menganggap label halal sebagai jaminan mutu, kebersihan, dan kualitas tertinggi,” ungkapnya. Sebagai seorang praktisi, yang produk olahan mawarnya pernah meraih penghargaan halal dunia di Malaysia, Elfi juga mendorong para pelaku usaha untuk berinovasi dan memaksimalkan bahan baku lokal. Ia mencontohkan bagaimana sumber daya alam di Kota Batu bisa diolah menjadi produk bernilai tambah. “Misalnya bunga mawar yang berhasil ia olah jadi antioksidan. Ada juga bubuk bayam merah yang bisa digunakan sebagai suplemen zat besi atau juga kulit buah naga sebagai pewarna alami,” paparnya. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya terdekat ini tidak hanya lebih efisien secara biaya, tetapi juga sejalan dengan anjuran Rasulullah dan dapat memperkuat kemandirian pangan nasional. (dan/but)
UMM dan Shimonoseki City University Jepang Resmikan Japan Corner

Kota Malang, tagarjatim.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menjalin kerja sama internasional dengan Shimonoseki City University (SCU) Jepang. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner, Rabu (5/11/2025). MoU tersebut juga menjadi kerja sama akademik pertama bagi SCU dengan perguruan tinggi di Indonesia. Melalui perjanjian ini, kedua universitas sepakat menjalin kolaborasi di bidang penelitian bersama, pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pendirian pusat kebudayaan Jepang di UMM. Japan Corner akan berfungsi sebagai pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang, serta wadah penelitian dan inovasi bersama. Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, menyampaikan apresiasi atas kerja sama tersebut. Ia menilai kolaborasi antara UMM dan SCU merupakan langkah strategis memperkuat hubungan pendidikan dua negara. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama ini menjadi fondasi bagi generasi muda yang akan membentuk masyarakat berkelanjutan. Kami berharap penandatanganan hari ini menjadi langkah awal bagi hubungan yang lebih luas di masa mendatang,” ujar Kaori. Sementara itu, Presiden Shimonoseki City University, Prof. Chang Wan Han, menuturkan bahwa kemitraan ini menjadi kerja sama pertama SCU dengan universitas di Asia Tenggara sekaligus universitas berbasis Islam. Ia menilai, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, pendidikan berbasis kemanusiaan harus tetap menjadi prioritas. “Kami sangat senang dapat bermitra dengan UMM, salah satu universitas terbaik dunia di bawah Muhammadiyah. Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, kami tetap ingin menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan, menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” ungkap Prof. Chang. Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menyebut kerja sama ini sebagai langkah konkret internasionalisasi kampus. Menurutnya, MoU tersebut membuka jalan bagi kolaborasi riset, program gelar ganda, hingga dialog kebudayaan antarnegara. baca juga : Menteri Diktisaintek Tegaskan Riset Harus Hidup dan Bermanfaat bagi Masyarakat “Melalui MoU ini, kami berharap dapat membuka pintu yang lebih luas untuk penelitian bersama, program gelar ganda, dan inisiatif budaya yang menumbuhkan saling pengertian. Japan Corner akan menjadi ruang belajar, berdialog, dan berkolaborasi yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya. Acara peresmian juga dimeriahkan oleh penampilan UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian “Senbonzakura”, kolaborasi antara tarian tradisional Jepang dan tari daerah Indonesia. Pertunjukan tersebut menjadi simbol harmonisasi dua budaya yang kini kian erat melalui dunia pendidikan.(*)
Label Halal Adalah Kualitas Tertinggi: Profesor UMM Jelaskan di Sertifikasi Halal MUI Kota Batu

MALANG POST – Tak ada waktu tanpa berbagi ilmu. Ini menjadi bahan bakar sivitas akademika Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengabdi bagi negeri. Salah satunya seperti yang dilakukan pakar sekaligus asesor halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. Ia didapuk menjadi pembicara utama dalam acara bertajuk ‘Sosialisasi dan Akselerasi Sertifikasi Halal untuk Hotel dan Rumah Makan’ yang dilaksanakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batu, akhir Oktober lalu. Elfi, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa esensi dari sertifikasi halal melampaui sekadar pemenuhan aspek legal dan syariat. Mutu tertinggi produk halal justru terletak pada aspek intrinsik yang tidak terlihat, yaitu niat dan kejujuran dari produsen. Menurutnya, produk halal tidak hanya harus terbebas dari bahan haram, tetapi juga harus thayyib atau baik. Maksudnya adalah mencakup gizi holistik, di mana proses pengolahan yang diiringi dengan niat baik akan menghasilkan produk yang membawa keberkahan dan bahkan menjadi makanan penyembuh. Elfi juga menjawab sederet keraguan yang dirasakan oleh pengusaha terkait penting tidaknya sertifikasi halal. Salah satunya pertanyaan mengapa harus mengurus sertifikasi halal, bukan sertifikasi haram. “Di Indonesia sudah ada undang-undang sejak tahun 90-an yang mewajibkan produsen mencantumkan label jika menggunakan babi.” “Tapi kira-kira dipatuhi tidak? Hanya kurang dari satu persen. Karena itulah masyarakat muslim bingung dan galau,” jelasnya. Menurutnya, sertifikasi halal hadir memberikan ketenangan. Menariknya, kepercayaan ini bahkan meluas ke konsumen non-muslim. Lantaran mereka menilai, label halal sebagai jaminan mutu, kebersihan dan kualitas tertinggi. Ia juga terus mendorong para pelaku usaha untuk memaksimalkan penggunaan bahan baku lokal. Sesuai dengan anjuran Rasulullah untuk memanfaatkan sumber daya terdekat. Langkah ini dinilai tidak hanya lebih efisien secara biaya. Tetapi juga dapat memperkuat kemandirian pangan nasional. Sebagai praktisi yang produk olahan mawarnya pernah meraih penghargaan halal dunia di Malaysia, Elfi mengajak para pengusaha untuk menciptakan keunikan dan nilai tambah pada produk mereka. Misalnya memanfaatkan bahan-bahan yang ada di Batu. Termasuk bunga mawar yang berhasil ia olah jadi antioksidan. Ada juga bubuk bayam merah yang bisa digunakan sebagai suplemen zat besi atau juga kulit buah naga sebagai pewarna alami. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Japan Corner UMM Jadi Babak Baru Hubungan Lintas Negara

Malang, VIVA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang pada Rabu, 5 November 2025. Dengan MoU ini UMM dan SCU resmi membuka babak baru hubungan pendidikan lintas negara. MoU ditandai denga peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner sebagai wujud nyata kerja sama kedua universitas. Penandatanganan ini tidak hanya menandai kerja sama akademik pertama Shimonoseki City University dengan perguruan tinggi di Indonesia. Tetapi juga meneguhkan komitmen kedua institusi untuk memperkuat pertukaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan riset lintas negara. Melalui kerja sama ini, UMM dan SCU sepakat menjalin kolaborasi di bidang penelitian bersama, program pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pendirian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner di UMM. Berdirinya Japan Corner diharapkan menjadi wadah pembelajaran bahasa dan budaya Jepang bagi mahasiswa, sekaligus pusat kegiatan penelitian dan inovasi bersama antara UMM dan SCU. Fasilitas ini juga disiapkan sebagai tempat pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar dan studi lanjut ke Jepang. Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, mengatakan bahwa hubungan pendidikan antara Jepang dan Indonesia merupakan fondasi penting dalam memperkuat masa depan kedua negara. Kaori menyebut pemerintah Jepang memandang kerja sama akademik sebagai langkah strategis dalam membangun jembatan pemahaman antarbangsa. Ia menilai kolaborasi antara UMM dan Shimonoseki akan menjadi model kerja sama yang berorientasi pada kemajuan pendidikan, kebudayaan, serta penelitian yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, MoU ini menjadi peluang untuk mendorong generasi muda agar mampu beradaptasi dengan tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang mereka miliki. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama di bidang pendidikan dan akademik ini menjadi fondasi bagi generasi muda yang akan membentuk masyarakat berkelanjutan. Kami berharap penandatanganan hari ini menjadi langkah awal bagi hubungan yang lebih luas di masa mendatang,” kata Kaori. Presiden Shimonoseki City University, Prof Chang Wan Han mengaku rasa bangga karena kemitraan ini menjadi kerja sama pertama SCU dengan universitas di Asia Tenggara, sekaligus kerjasama pertama dengan universitas berbasis Islam
UMM dan SCU Jepang Jalin Kerja Sama Akademik Internasional

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas jejaring internasionalnya. Kali ini, Kampus Putih ini resmi menjalin kerja sama dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang. Kesepakatan ini dituangkan dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang digelar di Kampus UMM, Rabu (5/11/2025). Penandatanganan ini menjadi kerja sama akademik pertama SCU dengan perguruan tinggi di Indonesia. Selain MoU, acara juga dirangkai dengan peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner di lingkungan kampus UMM. Fasilitas ini akan menjadi pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang bagi mahasiswa. Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menyebut kerja sama ini bagian dari upaya internasionalisasi kampus. Melalui kemitraan dengan SCU, UMM membuka peluang penelitian bersama, pertukaran mahasiswa, hingga pengembangan program pascasarjana di bidang agribisnis. “Japan Corner akan menjadi ruang belajar dan dialog budaya. Kami berharap kolaborasi ini menghasilkan riset dan kegiatan akademik yang bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya. Bukan Sekadar Kolaborasi Pertama Presiden SCU, Prof. Chang Wan Han, menyambut baik kemitraan ini. Ia menilai UMM sebagai mitra strategis dalam memperkuat pendidikan lintas budaya dan riset global. “Ini kerja sama pertama kami di Asia Tenggara. Kami ingin membangun pendidikan yang menempatkan manusia di pusat kemajuan, meski teknologi dan kecerdasan buatan terus berkembang,” katanya. Konsulat Muda Konjen Jepang di Surabaya, Kaori Marohira, turut hadir dan menyampaikan apresiasinya. Ia menilai kerja sama antara UMM dan SCU menjadi langkah penting memperkuat hubungan pendidikan antara Indonesia dan Jepang. “Kolaborasi ini membangun jembatan pemahaman antarbangsa dan menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan global,” ujarnya. Acara penandatanganan MoU turut dimeriahkan oleh penampilan UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian Senbonzakura, perpaduan antara budaya Jepang dan Indonesia.