UMM dan Warga NTT Terus Bergandengan Tangan Atasi Stunting

Kampus UMM terus menekan stunting di NTT melalui program profesor penggerak masyarakat. Foto: dok.UMM MAKLUMAT – Program Profesor Penggerak Masyarakat (PPM) dari Universitas Muhammadiyah Malang menegaskan peran kampus dalam menjawab persoalan di lapangan. Sejak awal Oktober, tim yang dipimpin Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep menjejak Desa Nusa, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Yakni daerah yang selama ini bergulat dengan tingginya angka stunting. Namun, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak datang sekadar memberi penyuluhan kesehatan. Melalui program ini, tim PPM berupaya membangun kesadaran, menggerakkan masyarakat, dan memperkuat daya tahan sosial warga desa. Pendekatannya tak berhenti di gizi dan tumbuh kembang anak. Di dalamnya juga menyentuh akar persoalan seperti ketersediaan air bersih. Persoalan ini kerap luput dari perhatian dalam upaya mengatasi stunting. “Program ini bukan soal kesehatan, tapi bagaimana masyarakat punya daya untuk berubah. Kami bekerja sama dengan BKKBN, pemerintah desa, dan kecamatan untuk menemukan sumber-sumber air baru,” ujar Yoyok di sela kegiatan. UMM memetakan tiga kluster utama dalam programnya. Pertama adalah kader kesehatan dan BKKBN, kedua kelompok ayah, kemudian kelompok ibu tangguh. Masing-masing kluster memiliki rancangan dengan pendekatan berbeda. Namun memiliki satu tujuan, memutus stunting dengan melibatkan seluruh elemen keluarga. Pendekatan Orang Tua Bangun Keluarga Mandiri Pada kelompok ibu, misalnya, tim UMM membangun keyakinan diri agar para ibu tidak pasrah menghadapi kondisi anak stunting. Melalui inisiatif bertajuk “Ibu Tangguh dengan Keluarga Stunting,” para ibu diajak berdiskusi. Baca Juga  Aktivis adalah Sosok Cerdas: Pesan Muhadjir Effendy di Pelantikan BEM UMM Setidaknya para ibu bisa berbagi pengalaman, sekaligus belajar bersama cara merawat anak dengan gizi seimbang, serta menjaga sanitasi rumah tangga. “Sering kali ibu-ibu merasa tidak berdaya. Kami ingin menumbuhkan keyakinan bahwa mereka mampu mengubah situasi. Setidaknya dari keluarga sendiri,” jelas Yoyok. Sementara itu, peran ayah menjadi aspek yang tidak kalah penting. Selama ini, ayah melekat hanya sebagai pencari nafkah. Padahal, keterlibatan mereka dalam pengasuhan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Peran Ayah Menekan Stunting di Keluarga Melalui program PPM, para ayah didorong lebih aktif mendampingi anak dan ikut dalam kegiatan posyandu maupun penyuluhan keluarga. Inisiatif ini mendapat respons hangat dari masyarakat setempat. Salah satu warga Desa Nusa mengaku bersyukur atas kehadiran tim UMM yang membawa perubahan. “Program ini menyenangkan dan bermanfaat. Kami belajar banyak hal, bisa melanjutkan pendampingan di posyandu, membantu ibu hamil, ibu nifas, dan anak-anak stunting. Semoga kegiatan ini terus berlanjut untuk kebaikan desa kami,” katanya. Di tengah kompleksitas persoalan stunting di NTT, mulai dari keterbatasan sumber air, gizi, hingga edukasi keluarga, kehadiran UMM memberi warna baru. Bukan hanya memberi solusi teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa perubahan bisa berawal dari masyarakat sendiri.

Rektor UMMAS Hadiri Rakornas Forum Rektor PTMA di Universitas Muhammadiyah Malang

Rektor UMMAS Hadiri Rakornas Forum Rektor PTMA di Universitas Muhammadiyah Malang (Dokpri) kompasiana – Rektor Universitas Muhammadiyah Asahan (UMMAS), Prianda Pebri, M.Pd., menghadiri kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), baru-baru ini. Rakornas ini menjadi momentum penting bagi para pimpinan PTMA se-Indonesia untuk menyatukan visi dan strategi dalam menjawab tantangan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif. Kehadiran Rektor UMMAS menunjukkan komitmen kuat perguruan tinggi tersebut dalam membangun kolaborasi antar-PTMA, khususnya dalam meningkatkan kualitas tata kelola dan daya saing institusi. Dalam forum tersebut, salah satu agenda utama adalah presentasi dari Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Prof. Dr. Agussani, MAP, yang memaparkan progres pembangunan dua fasilitas utama untuk Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-49 yang akan digelar di Medan pada tahun 2027. Pembangunan Auditorium Berkemajuan dan Sport Hall Walidah, masing-masing berkapasitas 7.000 dan 3.000 orang, diharapkan menjadi ikon baru Persyarikatan Muhammadiyah di Sumatera Utara. Rektor UMMAS, Prianda Pebri, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Rakornas ini dan mengungkapkan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Muktamar 49. Ia juga menekankan pentingnya peran aktif PTMA di daerah dalam menyukseskan agenda-agenda nasional Muhammadiyah. “Kami di UMMAS siap berkontribusi untuk kesuksesan Muktamar 49 di Sumatera Utara, sekaligus terus memperkuat sinergi antar PTMA untuk kemajuan bersama,” ujar Prianda. Kegiatan Rakornas ini dihadiri oleh ratusan rektor dan pimpinan PTMA dari seluruh Indonesia, sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring, berbagi pengalaman, dan merumuskan strategi bersama dalam pengembangan pendidikan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.        

Tidak Hanya Fokus pada Ibu, Program Pengentasan Stunting UMM di NTT juga Libatkan Ayah

Program Pengentasan Stunting UMM di NTT juga Libatkan Ayah.(Ist) Kamis, 23 Oktober 2025 Malangpariwara.com – Stunting masih menjadi tantangan besar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu upaya nyata datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Profesor Penggerak Masyarakat yang salah satu timnya dipimpin oleh Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep. Program yang dimulai sejak Oktober 2025 ini menyasar tiga kluster penting: kader kesehatan dan kader BKKBN, kelompok ayah, serta kelompok ibu tangguh. Menurut Yoyok, program ini tidak hanya fokus pada penanganan kesehatan, tetapi juga pada aspek ketersediaan air bersih. Program ini dilaksanakan di Desa Nusa, Timor Tengah Selatan. Adapun program ini bekerja sama dengan BKKBN serta pemerintah desa dan kecamatan untuk menggerakkan masyarakat menemukan titik-titik sumber air baru. Ketersediaan air bersih menjadi faktor penting dalam mengatasi stunting di desa. Program yang dijalankan mencakup berbagai pendekatan. Untuk kluster ibu, fokus utamanya adalah membangun keyakinan diri agar para ibu mampu menghadapi tantangan dalam merawat anak dengan stunting. “Sering kali ibu-ibu mengalami rasa apatis atau pasrah. Melalui program ‘Ibu Tangguh dengan Keluarga Stunting’, kami ingin menumbuhkan keyakinan bahwa mereka bisa mengatasi masalah ini dalam keluarga masing-masing,” tambahnya. Sementara itu, keterlibatan ayah juga menjadi perhatian khusus. Keterlibatan ayah dan ibu yang seimbang akan memberikan pengasuhan yang lebih baik, sehingga semakin memperkuat upaya penanganan stunting di Desa Nusa. Selama ini ayah lebih banyak diposisikan sebagai pencari nafkah. Namun, dalam program ini ayah didorong untuk berperan aktif dalam pengasuhan dan pendampingan anak. Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satu warga mengungkapkan rasa syukur atas hadirnya UMM di desa mereka. “Kami sangat senang dengan kegiatan ini. Program ini memuaskan dan menyenangkan. Kami bisa melanjutkan pendampingan dalam posyandu, penyuluhan, serta mendampingi anak-anak stunting, ibu hamil, dan ibu nifas. Terima kasih kepada UMM yang sudah datang ke Desa Nusa. Semoga kegiatan ini bermanfaat untuk desa kami ke depan,” tuturnya. (Djoko W)

Relawan Bencana Maharesigana UMM dan Forum Brantas Malang Inisiasi Susur Sungai Brantas 2025

Malangpariwara.com – Upaya meningkatkan kesadaran lingkungan dan mitigasi risiko bencana terus digalakkan. Salah satunya dalam kegiatan “Susur Sungai Brantas 2025” yang diinisiasi Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Forum Brantas Malang Raya , Rabu (15/10/202). Sejak pagi, peserta sudah berkumpul di Heliped UMM. Mereka kemudian menyusuri aliran Sungai Brantas yang membentang dari Kota Batu, Kota Malang, hingga Kabupaten Malang. Tujuan utamanya untuk mengamati, memetakan, dan mendokumentasikan kondisi Sungai Brantas, sekaligus mengidentifikasi potensi kerentanan lingkungan dan risiko bencana yang dapat timbul akibat aktivitas manusia di sekitar sungai. Ketua Umum Maharesigana UMM, Rindya Fery Indrawan, menegaskan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seperti ini merupakan bentuk nyata dari tema kegiatan tahun ini, yaitu “Mahasiswa Berdampak dalam Pengurangan Risiko Bencana. “Mahasiswa memiliki peran strategis dalam upaya pengurangan risiko bencana,” katanya. Melalui kegiatan Susur Sungai Brantas ini, tambah Rindya, tim ingin menunjukkan bahwa mahasiswa dapat turun langsung, belajar dari lapangan, dan memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan. Tak hanya itu, Tim Maharesigana juga mendukung proses pemetaan lapangan, dokumentasi kondisi sungai, serta pengumpulan data pendukung untuk mitigasi bencana seperti wilayah dengan sedimentasi tinggi, sampah padat, dan area rawan longsor. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diajak untuk memahami secara langsung bagaimana perubahan lingkungan dapat berdampak pada potensi bencana alam di masa mendatang. Sebagai organisasi kebencanaan berbasis mahasiswa, Maharesigana UMM tidak hanya berperan sebagai relawan, tetapi juga sebagai agen edukasi dan perubahan perilaku mitigasi bencana di lingkungan kampus dan masyarakat. Lebih lanjut, Rindya menambahkan, kegiatan ini menjadi wadah kolaboratif untuk memperkuat kapasitas relawan mahasiswa dalam mengenali potensi risiko bencana berbasis ekosistem sungai. “Ini bukan sekadar kegiatan lapangan, tapi proses belajar sosial dan lingkungan yang berdampak jangka panjang,” imbuhnya. Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang. Susur Sungai Brantas dinilai memberikan efek positif terhadap upaya pelestarian Sungai Brantas. “Tentunya, kegiatan ini memberikan dampak yang luar biasa agar sungai benar-benar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat di sepanjang aliran Sungai Brantas, mulai dari Kota Batu, Kota Malang, hingga Kabupaten Malang,” ujar Raymond. Kegiatan juga melibatkan kolaborasi lintas sektor. Mulai dari Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), TNI AD, TNI AL, serta sejumlah perguruan tinggi. Di antara perguruan tinggi yang terlibat adalah Universitas Brawijaya (UB), Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI), Politeknik Negeri Malang (POLINEMA), dan UMM melalui Maharesigana, dan beberapa UKM juga HMJ lainnya. Sebagai organisasi mahasiswa yang berfokus pada penanggulangan bencana Maharesigana UMM akan terus melaksanakan kegiatan serupa yang tidak hanya memberikan dampak bagi lingkungan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga alam dan mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana.(Djoko W)

Peneliti UMM Kembangkan Sistem AI untuk Membantu Analisis Putusan Hukum di Indonesia

Kabar Baru, Malang, 12 Oktober 2025 — Tim peneliti lintas disiplin dari Prodi Informatika dan Prodi Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menjawab pertanyaan hukum secara akurat dengan mengacu pada ribuan putusan pengadilan di Indonesia. Inovasi ini memanfaatkan teknologi Retrieval-Augmented Generation (RAG) yang dikombinasikan dengan model bahasa besar (Large Language Models/LLM) seperti Qwen, LLaMA, dan Gemma. Penelitian ini menandai langkah penting menuju penerapan AI di bidang hukum di Indonesia, khususnya dalam upaya mempercepat proses analisis putusan dan meningkatkan konsistensi penalaran hukum. Sistem RAG yang dikembangkan dapat membantu Lembaga Peradilan, Praktisi Hukum, Peneliti dan Akademisi, hingga masyarakat umum untuk menemukan informasi relevan dalam putusan pengadilan dengan cepat dan terverifikasi. Dengan jumlah putusan pengadilan yang mencapai lebih dari 800 ribu setiap tahun, pencarian dan analisis manual sudah tidak akan efisien lagi. Pendekatan yang diusulkan dalam penelitian ini mampu menjawab permasalahan tersebut secara kontekstual namun tetap akurat. Dalam penelitian ini, tim menggunakan 408 putusan pengadilan pada kasus-kasus Tindak Pidanan Perdagangan Orang (TPPO) yang diambil dari 143 pengadilan negeri di Indonesia selama periode 2023–2024. Semua data telah disusun sesuai standar Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. 359/KMA/SK/XII/2022 agar dapat diproses secara komputasional oleh model AI. Tiga model AI besar diuji: Gemma (Google DeepMind), LLaMA (Meta), dan Qwen (Alibaba). Hasilnya menunjukkan bahwa Qwen menjadi model paling unggul dengan kemampuan mampu mengodentifikasi elemen putusan pengadilan. Indikator ini menunjukkan kemampuan Model dalam menangkap informasi struktural dari teks hukum. “Penelitian kami menunjukkan bahwa keberhasilan RAG tidak hanya ditentukan oleh ukuran model, tetapi juga oleh karakteristik linguistik teks hukum. Struktur bahasa yang baku, seperti dalam bagian identitas terdakwa, memungkinkan sistem bekerja lebih optimal,” jelas Galih Wasis Wicaksono, sebagai ketua peneliti dari Program Studi Informatika UMM. Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi antara Fakultas Teknik dan Fakultas Hukum UMM. Ketua Tim Peneliti Galih Wasis Wicaksono, anggota tim peneliti Nur Putri Hidayah, Christian Sri Kusuma Aditya, Andiko Febriyan Praja Dewa, Herlena Fatikasari, Mutiara Anggun Puspa Insani, Muhammad Hariz Faizul Anwar, dan Nizam Avif Anhari. Penelitian ini juga bermitra dan mendapat dukungan dari Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) serta Mahkamah Agung RI. Proyek ini didanai melalui hibah Penelitian Fundamental Reguler Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Selain itu dukungan penuh juga diberikan UMM melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyakarat. Tim berharap, pengembangan sistem ini dapat menjadi pondasi bagi penerapan kecerdasan buatan di ranah hukum Indonesia, termasuk untuk mendukung analisis dan penelitian hukum berbasis data, serta teknologi termutakhir. “Analisis putusan dengan menggunakan AI bukan untuk menggantikan hakim atau penegak hukum, melainkan untuk memperkuat ketajaman, transparansi dan efisiensi dalam penegakan hukum,” tutup Galih.

Prof Dr Agussani MAP Paparkan Persiapan Muktamar ke-49 Muhammadiyah pada Rakernas Forum Rektor PTMA

Sumutpos.jawapos.com-Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Prof Dr Agussani MAP memaparkan persiapan pelaksanaan muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah 2027 pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia. Prof Dr Agussani MAP selsku ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-49 Muhammadiyah berbicara pada Rakernas PTMA di Universitas Muhammadiyah Malang yang berlangsung 16-19 Oktober. Rektor UMSU menegaskan bahwa muktamar ke-49 di Sumut akan menjadi momentum bersejarah karena digelar 25 tahun setelah muktamar ke-25 yang juga berlangsung di Kota Malang. “Muktamar tahun 2027 ini sangat luar biasa karena 25 tahun yang lalu muktamar di Kota Malang adalah muktamar ke-25. Dua puluh lima tahun kemudian, giliran Sumur menjadi tuan rumah,” ujarnya. Prof Dr Agussani MAP menjelaskan bahwa keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan Sumut dan UMSU sebagai penyelenggara. Hal ini tercantum dalam surat keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2023. “Sejarahnya, Sumut ditunjuk langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanpa melalui Tanwir. Saya masih ingat rapat di UAD waktu itu, Pak Ketua Umum menunjuk langsung Sumatera Utara sebagai tuan rumah,” ungkapnya. Dalam Rakernas ini, rektor UMSU memaparkan berbagai tahapan persiapan yang telah dilaksanakan. Termasuk pembentukan panitia pelaksana dan rapat koordinasi dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kemudian pembangunan dua gedung utama di lokasi muktamar yang bersebelahan. Yaitu Auditorium Berkemajuan berkapasitas tujuh ribu untuk muktamar Muhammadiyah dan Spot Hall Walidah kapasitas tiga ribu untuk muktamar Aisyiyah. “Diperkirakan dana untuk kedua gedung ini lebih kurang Rp352 miliar. Kedua venue ini akan dibangun berdampingan diatas lahan seluas 25 hektar milik Persyarikatan Muhammadiyah di Desa Saintis, Deliserdang,” paparnya. Dipaparkan juga tentang kesiapan infrastruktur pendukung. Seperti Stadion Utama Sumatera Utara berkapasitas 26.800 orang, Bandara Kualanamu, Pelabuhan Belawan dan jaringan jalan tol Trans-Sumatera. “Sumatera Utara kini memiliki akses transportasi yang semakin mudah. Infrastruktur yang memadai serta 363 hotel yang siap menampung peserta dan penggembira muktamar,” jelasnya. UMSU, lanjut Prof Dr Agussani MAP, bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sebagai pendamping pembangunan venue. Ia mengapresiasi semangat kolaborasi antar-PTMA dalam menyukseskan agenda besar tersebut. Prof Dr Agussani MAP juga mengajak seluruh pimpinan PTMA untuk berkontribusi dalam kegiatan simbolis penanaman 100 pohon durian di lokasi muktamar. “Sampai saat ini, 48 pohon yang tertanam. Kami mengundang para rektor PTMA untuk datang dan menanam pohon durian sebagai simbol kontribusi dan kebersamaan,” ajaknya. Dalam kesempatan ini, rektor UMSU menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah Rakernas Forum Rektor PTMA tahun 2026 atau 2027 sebelum pelaksanaan muktamar ke-49. “Kami siap menjadi tuan rumah Rakernas Forum Rektor berikutnya. Baik tahun 2026 maupun 2027. Mohon doa dan dukungan kita semua agar muktamar ke-49 berjalan sukses,” katanya. Rektor mengungkapkan bahwa hubungan baik antara Muhammadiyah dengan pemerintah daerah juga menjadi modal penting dalam suksesnya muktamar mendatang. (dmp)

Prof. Dr. Abdul Mu’ti Terima Penghargaan dari Forum Rektor Kampus Muhammadiyah/Aisyiyah

MALANG, RADARBANYUMAS.CO.ID – Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menerima penghargaan sebagai Tokoh Peduli Pendidikan dari Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah (FRPMA). Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Penghargaan ini diserahkan oleh Prof. Dr. Ma’mun Murod, Ketua FRPMA, pada Rapat Kerja Nasional FRPMA di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 16-18 Oktober 2025. Prof. Dr. Ma’mun Murod menyatakan bahwa Prof. Dr. Abdul Mu’ti layak menerima penghargaan ini karena banyaknya prestasi yang ditonjolkan selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satu kontribusinya adalah kebijakan revitalisasi pendidikan di sektor swasta, dengan capaian lebih dari 30% revitalisasi dilakukan di sektor swasta. Sekretaris Jenderal FRPMA, Prof. Dr. Jebul Suroso, juga menambahkan bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah membuka sinergi dan kolaborasi antara kementerian dan pendidikan tinggi melalui berbagai program, seperti revitalisasi pendidikan, beasiswa pendidikan, program PPG, dan RPL. Dengan penghargaan ini, diharapkan Prof. Dr. Abdul Mu’ti dapat terus memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan Indonesia dan menjadi inspirasi bagi para pendidik dan siswa di seluruh negeri. (*)

Mulai 2027, Siswa SD Akan Belajar Coding dan AI Selain Bahasa Inggris

INDOPOLITIKA – Pendidikan di Indonesia akan mengalami transformasi besar mulai tahun 2027 dengan diberlakukannya pelajaran coding dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah. Selain itu, bahasa Inggris juga akan mulai diajarkan sejak siswa berada di kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Pengumuman kebijakan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah atau Mendikdasmen Abdul Mu’ti, dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menekankan bahwa kebutuhan akan guru yang menguasai materi coding dan AI akan meningkat secara signifikan di masa mendatang. Oleh karena itu, perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam dunia pendidikan diharapkan berperan aktif dalam menyiapkan tenaga pengajar yang kompeten. Menurutnya, meskipun saat ini pelajaran coding dan AI masih merupakan pilihan, keduanya akan resmi masuk ke dalam kurikulum nasional. Pemerintah sedang menyiapkan langkah-langkah strategis agar para guru memiliki kemampuan dan kualifikasi yang memadai untuk mengajarkan materi tersebut secara efektif. Bahasa Inggris Wajib Mulai Kelas 3 SD Selain memfokuskan pada teknologi digital sejak dini, pemerintah juga menetapkan kebijakan agar bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib mulai dari kelas 3 SD. Menurut Abdul Mu’ti, pelatihan guru bahasa Inggris akan menjadi perhatian utama, dengan upaya mengubah istilah “pelatihan” menjadi “pendidikan” agar program ini dapat disertifikasi dan meningkatkan profesionalisme guru. Lima Program Prioritas Kemendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa saat ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memiliki lima hingga enam program prioritas yang sedang dijalankan bersama perguruan tinggi, termasuk kampus PTMA. Beberapa program prioritas tersebut meliputi: – Revitalisasi Satuan Pendidikan, yang fokus pada perbaikan manajemen sekolah, tata kelola, serta peningkatan kapasitas kepala sekolah dan guru. Pada tahun ini, lebih dari 16.100 sekolah telah direvitalisasi dengan anggaran sebesar Rp16,9 triliun. – Peningkatan Kualitas Guru, dilakukan melalui pelatihan dan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Pemerintah menyediakan kuota sebanyak 808 ribu untuk PPG dan memperluas program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana. – Penguatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), yang bertujuan memperkuat karakter dan kompetensi siswa dengan dukungan universitas dalam pengembangan modul pembelajaran serta pelatihan guru. – Pendidikan Berbasis Kajian Akademik, di mana setiap kebijakan pendidikan diharapkan lahir dari kajian akademik yang kuat, bukan hanya sebagai aspek administratif. Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya kebijakan pendidikan sebagai rekayasa sosial yang dapat membentuk karakter bangsa. Kemendikdasmen juga membuka peluang bagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk berperan aktif dalam penelitian kebijakan (policy research), terutama yang berkaitan dengan pendidikan karakter dan kebiasaan belajar siswa. Menteri Abdul Mu’ti menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi keagamaan dalam menciptakan sistem pendidikan nasional yang inklusif, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Menuju Pendidikan Masa Depan Rapat Kerja Nasional Forum Rektor PTMA 2025 yang berlangsung selama 16 hingga 19 Oktober di UMM Malang menjadi momentum penting untuk refleksi dan konsolidasi kebijakan pendidikan nasional. Forum ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan jaringan kampus Muhammadiyah-Aisyiyah, sehingga pendidikan Indonesia dapat semakin unggul, adaptif, dan berdampak positif bagi kemajuan bangsa.(Hny)

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Raih Penghargaan Tokoh Peduli Pendidikan dari Forum Rektor PTMA

MALANG, iNewsPurwokerto.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Dr. Abdul Mu’ti, menerima penghargaan Tokoh Peduli Pendidikan dari Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah (FRPMA). Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kiprahnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Ketua FRPMA, Prof. Dr. Ma’mun Murod, dalam Rapat Kerja Nasional FRPMA yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 16–18 Oktober 2025. Prof. Ma’mun Murod menilai, Prof. Abdul Mu’ti layak mendapatkan penghargaan tersebut berkat sejumlah prestasi yang telah ditorehkan selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satu kebijakan penting yang menjadi sorotan adalah revitalisasi pendidikan di sektor swasta, di mana lebih dari 30 persen revitalisasi berhasil dilakukan di lembaga pendidikan swasta. “Prof. Dr. Abdul Mu’ti layak menerima penghargaan ini karena banyaknya prestasi yang ditonjolkan selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satu kontribusinya adalah kebijakan revitalisasi pendidikan di sektor swasta, dengan capaian lebih dari 30% revitalisasi dilakukan di sektor swasta,” ujar Prof. Ma’mun dalam keterangannya, Senin (20/10/2025). Sementara itu, Sekretaris Jenderal FRPMA, Prof. Dr. Jebul Suroso, menambahkan bahwa kepemimpinan Abdul Mu’ti telah membuka ruang kolaborasi luas antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan perguruan tinggi di Indonesia. Sinergi tersebut terwujud melalui berbagai program strategis seperti revitalisasi pendidikan, beasiswa pendidikan, program Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). “Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah membuka sinergi dan kolaborasi antara kementerian dan pendidikan tinggi melalui berbagai program, seperti revitalisasi pendidikan, beasiswa pendidikan, program PPG, dan RPL,” ungkap Prof. Jebul. Pemberian penghargaan ini diharapkan semakin memotivasi Prof. Abdul Mu’ti untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan Indonesia, sekaligus menjadi inspirasi bagi para pendidik dan peserta didik di seluruh tanah air.

Muhammadiyah Jadi Organisasi Pertama di Indonesia yang Dapat Verifikasi EMT WHO, Haedar: Wujud Dakwah Nyata di Tingkat Global

Pantau – Muhammadiyah resmi menjadi organisasi pertama di Indonesia yang mendapatkan verifikasi Emergency Medical Team (EMT) dari World Health Organization (WHO), menandai kiprah global dalam bidang kesehatan dan kemanusiaan. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyatakan bahwa pencapaian ini akan memperluas peran Muhammadiyah di dunia internasional. “Semoga dengan EMT tersebut kiprah Muhammadiyah dalam program kesehatan dan kemanusiaan maupun kerja sama dengan WHO serta lembaga dunia lainnya di level global semakin baik dan meluas,” ungkapnya. Verifikasi EMT oleh WHO menegaskan kesiapan dan kapabilitas Muhammadiyah dalam merespons situasi darurat kesehatan secara profesional dan terorganisir. Apresiasi untuk Lembaga-Lembaga Pendukung Haedar memberikan apresiasi kepada Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan sejumlah lembaga lainnya yang berkontribusi dalam proses verifikasi EMT ini. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Lazismu, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang), Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI), serta Muhammadiyah Aid. Menurut Haedar, keterlibatan lembaga-lembaga tersebut menunjukkan bahwa gerakan Muhammadiyah dalam pelayanan kesehatan, penanggulangan bencana, dan program kemanusiaan terus mengalami percepatan. Wujud Praksis Al-Ma’un dan Dakwah Rahmatan lil-‘Alamin Haedar menekankan bahwa program kemanusiaan yang dijalankan Muhammadiyah tidak bersifat sporadis atau karitatif semata. “Jadi bukan program sporadis dan pelayanan karitatif jangka pendek semata. Karenanya sangat tepat jika memperoleh verifikasi EMT di tingkat global,” ia mengungkapkan. Ia juga menjelaskan bahwa praksis ajaran Al-Ma’un dijalankan secara sistematis oleh berbagai lembaga seperti Lazismu, MDMC/LRB, MPKU, MPKS, MPM, serta gerakan komunitas. Lembaga-lembaga tersebut terlibat dalam pemecahan masalah, penanganan krisis, pemberdayaan, pembebasan, dan pemajuan masyarakat secara berkelanjutan. Haedar berharap keberadaan EMT dapat semakin menguatkan posisi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan yang inklusif dan berdampak luas. “Itulah wujud dakwah Islam rahmatan lil-‘alamin di dunia nyata, bukan retorika dan kata-kata,” tegas Haedar.