Sekolah Terjebak Formalitas Administrasi, Prof. Nazar: Kualitas Pendidikan Tak Bisa Menguat

MALANG POST – Di tengah maraknya keluhan pendidik terkait beratnya beban birokrasi yang kerap menyita waktu mengajar, sebuah kritik tajam dan reflektif justru mengemuka dari mimbar akademik. Kualitas pendidikan dipastikan tidak akan pernah menguat jika sekolah terus terjebak mengejar formalitas administrasi, tetapi abai dalam membangun ekosistem belajar yang sehat. Peringatan ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam Malik Fadjar Bootcamp bertajuk ‘Manajemen Kelembagaan Sekolah’ yang diinisiasi Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Panduan Kota & Daerah Acara ini dihadiri oleh puluhan akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya, Jumat (22/2026). Dalam stadium generale tersebut, Nazar sapaan akrabnya menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu akar utama menurunnya mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa saat ini masih banyak tenaga pengajar yang terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, sekolah justru terus ditekan untuk memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa. Kondisi ini tidak hanya menggerus kualitas pembelajaran, tetapi juga mengancam kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik. “Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ujarnya. Lebih lanjut, ia mengkritik keras fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai semakin mencengkeram kebebasan berekspresi institusi pendidikan. Banyak sekolah kini perlahan berubah menjadi sekadar institusi pengejar pengakuan administratif dan terlalu fokus memoles citra luar, sehingga melupakan urgensi school leadership. Oleh karenanya, pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah dituntut untuk tidak sekadar mengekor pada pola kerja birokrasi, melainkan harus berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial sekitarnya. “Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” tegasnya. Selain persoalan sistemik, ia juga menyayangkan masih melekatnya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan keliru ini diam-diam membuat banyak generasi muda berprestasi enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama. Padahal, maju mundurnya kualitas pendidikan masa depan sangat bergantung pada sejauh mana profesi mulia ini mampu dihargai, baik secara sosial maupun intelektual. “Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang. Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” ungkapnya. Sumber Daya Pendidikan Sebagai pesan penutup, Nazar menegaskan bahwa manajemen kelembagaan sekolah sejatinya adalah seni membangun sistem yang hidup, bukan sekadar urusan mengelola tumpukan dokumen dan laporan. Kualitas pendidikan sejati tidak pernah lahir dari deretan slogan besar, melainkan dari konsistensi merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Lembaga pendidikan yang kuat bukan hanya yang mampu meluluskan siswa bernilai akademik tinggi, tetapi yang sukses mencetak manusia berkarakter tangguh untuk menghadapi kerasnya dinamika perubahan zaman.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Dobrak Batasan Linieritas: Alumni UMM Berkarier di Safety Officer

MALANG POST – Tren karier generasi muda kini semakin dinamis, mendobrak batasan linieritas antara program studi di bangku kuliah dan realitas dunia kerja. Hal ini terbukti nyata di tengah masifnya industri pertambangan di Kalimantan Timur yang menyerap puluhan ribu tenaga teknis. Siapa sangka, peran krusial menjaga keselamatan operasional para pekerja tambang justru dipegang oleh seorang lulusan Ilmu Pemerintahan. Sains Berbekal berbagai pengalaman berharga selama berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satunya dengan mengikuti kelas Center of Excellence (CoE), Resky Maharani Ma’mur berhasil menembus kerasnya sektor ekstraktif dan berkarier sebagai Safety Officer. Menjalani peran vital di area operasional PT Pangansari Utama, Resky memikul tanggung jawab besar di Departemen Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE). Alumnus Ilmu Pemerintahan angkatan 2020 ini dituntut untuk terus mengawasi penerapan regulasi Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH), Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP), hingga menjaga standar keamanan pangan (Food Safety). Meski sekilas pekerjaannya jauh dari urusan administrasi negara, ia justru menyadari bahwa ilmu tata kelola yang dipelajarinya menjadi fondasi kuat. Ia menjelaskan bahwa ilmu dari bangku kuliah menyadarkannya tentang pentingnya pengawasan implementasi sebuah regulasi melalui proses monitoring agar berjalan efektif. Panduan Kota & Daerah “Ilmu Pemerintahan mengajarkan saya bagaimana kebijakan tidak hanya dibuat secara administratif, tetapi juga harus diawasi implementasinya melalui monitoring dan evaluasi agar benar-benar berjalan efektif di lapangan,” tegasnya. Lebih lanjut, kemampuannya beradaptasi di industri swasta ini sangat ditunjang oleh keputusannya mendalami kelas CoE Analis Kebijakan. Langkah strategis tersebut amat relevan dengan kebutuhan industri masa kini yang bertumpu pada data. Kompetensi membedah data terbukti amat krusial ketika dirinya dituntut menyusun laporan HSE, memantau capaian Key Performance Indicators (KPI), hingga merumuskan mitigasi insiden kerja di area tambang yang penuh risiko. Menurutnya, kurikulum yang ditawarkan dalam kelas unggulan Kampus Putih tersebut sangat aplikatif karena langsung menargetkan penguasaan keterampilan teknis seperti pengolahan hingga visualisasi data. “Keunggulan program CoE ini lebih fokus pada praktik dan skill yang dibutuhkan dunia kerja, seperti pengolahan, analisis, dan visualisasi data, bukan hanya teori perkuliahan,” ungkapnya. Selain ketajaman analitis, keluwesan Resky saat berkomunikasi dengan pemangku kepentingan maupun pekerja teknis merupakan buah manis dari proses berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) dan keterlibatannya di Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Sains Guna melengkapi profesionalismenya, ia bahkan berhasil mengantongi sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kementerian Ketenagakerjaan. Mengingat rekam jejak kariernya yang inspiratif tersebut, ia menegaskan bahwa mahasiswa harus peka terhadap peluang dari kampus dan bersabar dalam menekuni satu bidang keahlian secara mendalam. “Manfaatkan program CoE sebaik mungkin karena skill analisis data sangat dibutuhkan. Dalami skill yang disukai, ketika kita sudah tahu apa bidang yang kita sukai, dalami, sabar juga menjadi yang paling utama,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Dosen UMM Berdayakan Ibu Balita di Karangploso, Cegah Stunting Lewat Pangan Lokal

Indonesiandaily.com – Sejumlah Posyandu di Kecamatan Karangploso menggelar program pengabdian masyarakat untuk mencegah stunting pada balita. Program ini memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai basis penyusunan menu bergizi sehari-hari anak, sebagai upaya konkret menekan angka stunting di tingkat kecamatan. Kegiatan yang digagas oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu balita dalam memilih, mengolah, dan menyajikan makanan bergizi dari bahan-bahan yang mudah didapat di lingkungan sekitar. Tim pengabdian masyarakat terdiri dari dosen Fakultas Keperawatan dan Fakultas Psikologi UMM, yaitu: Ika Rizki Anggraini, S.Kep.Ns.M.Kep Dr. Siti Maimunah, S.Psi., M.M., M.A. Ratih Eka Pertiwi, M.Psi. Menurut tim, program ini dirancang secara berkelanjutan melalui pendampingan langsung kepada para ibu. Kegiatan mencakup penyuluhan tentang pentingnya gizi seimbang, simulasi praktik pengolahan pangan lokal seperti sayuran, umbi-umbian, kacang-kacangan, telur, ikan, dan sumber protein lokal lainnya menjadi menu sehat yang menarik bagi anak. Selain edukasi dan praktik memasak, kegiatan juga meliputi pemantauan tumbuh kembang balita. Tim melakukan pengukuran dan evaluasi pertumbuhan anak secara rutin, sekaligus memberikan arahan kepada orang tua mengenai pola asuh yang tepat, pola makan sehat, serta pentingnya pemeriksaan rutin ke posyandu untuk deteksi dini risiko stunting. Pengarahan dari Tim Dosen UMM diikuti dengan seksama oleh ibu-ibu balita di Karangploso. (Istimewa) “Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak harus bergantung pada makanan mahal. Bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar kita dapat diolah menjadi makanan bernutrisi tinggi yang mendukung pertumbuhan optimal anak,” ujar salah satu anggota tim. Program ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain. Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan aspek keperawatan dan psikologi, kegiatan ini tidak hanya menyasar aspek fisik anak, tetapi juga memberdayakan ibu sebagai garda terdepan pemenuhan gizi keluarga serta kesiapan mental orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membantu penurunan angka stunting di tingkat kecamatan.
Dosen UMM Ajarkan Refusal Skill kepada Remaja Toyomarto untuk Hindari Penyalahgunaan NAPZA

Indonesiandaily.com – Sebanyak 40 remaja Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, mengikuti penyuluhan pencegahan penyalahgunaan NAPZA melalui pendekatan Refusal Skill. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat SAFE-Teens yang digelar di Balai Desa Toyomarto pada Minggu, 26 April 2026. Penyuluhan ini menghadirkan Muhammad Ari Arifianto, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.J, dosen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai pemateri. Kegiatan turut dihadiri Kepala Desa Toyomarto Sumito, SH, Sekretaris Desa Anas, serta penanggung jawab remaja desa, Kak Irgi. Dalam sesi penyuluhan, Muhammad Ari Arifianto memberikan pemahaman mendalam mengenai NAPZA, mulai dari pengertian, jenis-jenis, dampak yang ditimbulkan, hingga tanda-tanda dan gejala penggunaannya. Ia juga menjelaskan metode, modul, serta tahapan yang biasanya terjadi dalam penyalahgunaan NAPZA pada kalangan remaja. “Pengetahuan saja tidak cukup. Remaja harus memiliki keterampilan untuk menolak tawaran NAPZA,” ujar Ari Arifianto. Puncak materi adalah penjelasan dan praktik Refusal Skill atau keterampilan menolak. Peserta diajak melakukan role play simulasi situasi nyata agar mereka mampu menolak ajakan teman atau lingkungan dengan tegas namun tetap sopan. Antusiasme remaja terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Penyuluhan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama oleh para remaja untuk menjauhi segala bentuk penyalahgunaan NAPZA. Para remaja yang menghadiri penyuluhan menandatangani komitmen. (Istimewa) Program SAFE-Teens (Supportive, Aware, Free from Excess) ini merupakan intervensi kesehatan jiwa berbasis kelompok inklusif yang diharapkan dapat membentuk generasi muda Toyomarto yang lebih tangguh menghadapi tantangan kesehatan jiwa, termasuk bahaya NAPZA.
Pembagian Daging Kurban: Menghidupkan Nilai Sosial dan Ketakwaan dalam Spirit Muhammadiyah

pwmu.co –Hari raya Iduladha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga tentang bagaimana nilai ketakwaan, kepedulian sosial, dan keadilan diwujudkan dalam kehidupan umat Islam. Sebagai warga Muhammadiyah, kita perlu memahami bahwa kurban bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari dakwah sosial Islam yang sangat besar maknanya. Dalam praktik di masyarakat, sering kali pembahasan kurban hanya berhenti pada besar sapi, harga hewan, atau jumlah kupon pembagian. Padahal, Islam telah memberikan tuntunan yang jelas mengenai bagaimana daging kurban dibagikan dan kepada siapa prioritas itu diberikan. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Quran dan Sunnah juga memiliki pandangan yang tegas dan moderat mengenai hal ini. Allah SWT berfirman dalam Surah al-Hajj ayat 36: فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ Ayat ini menjelaskan bahwa daging kurban boleh dimakan oleh orang yang berqurban dan juga diberikan kepada masyarakat, baik yang meminta maupun yang tidak meminta. Muhammadiyah memahami ayat ini sebagai dasar bahwa qurban memiliki dimensi ibadah sekaligus dimensi sosial. Karena itu, pembagian daging tidak boleh hanya berputar pada kalangan tertentu, melainkan harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, terutama kaum dhuafa. Dalam praktik pembagian, sering muncul pertanyaan tentang kepala, kaki, tulang, kulit, dan jeroan hewan qurban. Muhammadiyah berpandangan bahwa seluruh bagian hewan qurban merupakan bagian dari amanah ibadah. Karena itu, bagian-bagian tersebut tidak boleh diperjualbelikan untuk kepentingan pribadi dan tidak boleh dijadikan upah jagal. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa Muhammad memerintahkan seluruh bagian hewan kurban dibagikan dan jagal tidak dibayar dari bagian qurban tersebut. Dalam pelaksanaan di lapangan, pembagian juga perlu dilakukan secara adil dan transparan. Misalnya seekor sapi dengan berat hidup 420 kilogram dapat menghasilkan sekitar 160 kilogram daging bersih setelah dipisahkan dari kepala, kaki, kulit, tulang, dan isi perut. Dari jumlah tersebut, sebagian dapat diberikan kepada shahibul qurban, dan sebagian besar lainnya dibagikan kepada masyarakat. Prinsip ini menunjukkan bahwa qurban bukan tentang “mengambil kembali” daging sebanyak-banyaknya, tetapi tentang berbagi dan menghadirkan manfaat sosial. Muhammadiyah juga menegaskan bahwa pembagian “sepertiga untuk pengkurban, sepertiga hadiah, dan sepertiga untuk fakir miskin” bukanlah angka mutlak yang wajib dibagi persis seperti itu. Yang paling penting adalah tercapainya tujuan syariat, yaitu pemerataan manfaat dan kepedulian kepada sesama. Dalam kondisi masyarakat yang banyak membutuhkan, maka memperbesar bagian untuk fakir miskin tentu lebih utama. Jika kita melihat sejarah pada masa Nabi Muhammad SAW, semangat sosial dalam kurban sangat terasa. Pernah suatu ketika Nabi melarang umat Islam menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari. Larangan itu bukan karena daging kurban haram disimpan, tetapi karena saat itu banyak fakir miskin dan pendatang di Madinah yang membutuhkan makanan. Setelah kondisi masyarakat membaik, Nabi kemudian membolehkan umat Islam menyimpan daging kurban kembali. Dari kisah ini kita belajar bahwa Islam sangat memperhatikan kemaslahatan sosial. Allah SWT juga menegaskan: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah darah dan dagingnya, melainkan ketakwaan dan keikhlasan kita. Maka sebagai warga Muhammadiyah, sudah seharusnya kita menjadikan kurban sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial, mempererat ukhuwah, dan menunjukkan bahwa Islam benar-benar hadir untuk menolong masyarakat. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih egoisme dan rasa ingin memiliki sendiri. Semangat inilah yang perlu terus dihidupkan oleh warga Muhammadiyah agar Iduladha tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi gerakan sosial Islam yang membawa keberkahan bagi seluruh umat.
Rektor UMM Ingatkan Marwah Guru sebagai Pembangun Peradaban: Pendidikan Indonesia Jangan Terjebak Formalitas

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Pesan penting disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik kepada para guru dan dunia pendidikan nasional secara umum. Pesan ini disampaikan di tengah maraknya keluhan pendidik terkait beratnya beban birokrasi yang kerap menyita waktu mengajar, hingga memunculkan sebuah kritik tajam dan reflektif yang mengemuka dari mimbar akademis. Kualitas pendidikan dipastikan tidak akan pernah menguat jika sekolah terus terjebak mengejar formalitas administrasi, tetapi abai dalam membangun ekosistem belajar yang sehat. Peringatan ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Pesan tegas ini terungkap dalam Malik Fadjar Bootcamp bertajuk ‘Manajemen Kelembagaan Sekolah’ yang diinisiasi Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Acara ini dihadiri oleh puluhan akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya pada Jumat (22/5). Dalam stadium generale tersebut, rektor yang akrab disapa Nazar ini menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu akar utama menurunnya mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa saat ini masih banyak tenaga pengajar yang terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, sekolah justru terus ditekan untuk memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa. Kondisi ini tidak hanya menggerus kualitas pembelajaran, tetapi juga mengancam kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik. “Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ungkap Nazar. Ia mengkritik keras fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai semakin mencengkeram kebebasan berekspresi institusi pendidikan. Banyak sekolah kini perlahan berubah menjadi sekadar institusi pengejar pengakuan administratif dan terlalu fokus memoles citra luar, sehingga melupakan urgensi school leadership. Oleh karenanya, pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah dituntut untuk tidak sekadar mengekor pada pola kerja birokrasi, melainkan harus berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial sekitarnya. Rektor UMM, Nazaruddin Malik dalam acara bincang-bincang konstruktif Malik Fadjar Bootcamp, Jumat (22/5)./dok. UMM “Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” lanjutnya. Selain persoalan sistemik, ia juga menyayangkan masih melekatnya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan keliru ini diam-diam membuat banyak generasi muda berprestasi enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama. Padahal, maju mundurnya kualitas pendidikan masa depan sangat bergantung pada sejauh mana profesi mulia ini mampu dihargai, baik secara sosial maupun intelektual. “Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang. Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” sambungnya. Nazar menegaskan, manajemen kelembagaan sekolah sejatinya adalah seni membangun sistem yang hidup, bukan sekadar urusan mengelola tumpukan dokumen dan laporan. Menurutnya, kualitas pendidikan sejati tidak pernah lahir dari deretan slogan besar, melainkan dari konsistensi merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Ia menekankan, lembaga pendidikan yang kuat bukan hanya yang mampu meluluskan siswa bernilai akademik tinggi, tetapi yang sukses mencetak manusia berkarakter tangguh untuk menghadapi kerasnya dinamika perubahan zaman. *** Editor: YAN
UMM kembali ditunjuk Dikdasmen gelar OSN 2016

elshinta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali mempercayai Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi kembali ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMA sederajat Indonesia tahun 2026. “Kepercayaan untuk kedua kalinya ini diberikan berkat rekam jejak Kampus Putih yang sukses menghadirkan fasilitas dan atmosfer akademik berstandar dunia pada penyelenggaraan sebelumnya,” kata Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Dr. Maria Veronica Irene Herdjiono, S.E., M.Si. seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto, Kamis (21/5). Ditambahkan Irene, keputusan Kemendikdasmen untuk kembali menggandeng UMM tentu telah melewati serangkaian proses evaluasi dan kurasi yang sangat ketat. Irene memaparkan kesiapan infrastruktur fisik, kelengkapan fasilitas laboratorium tingkat tinggi, serta profesionalitas kerja panitia lokal. “Lebih dari itu, langkah strategis ini diambil guna memberikan pengalaman langsung bagi para peserta didik SMA untuk merasakan atmosfer pembelajaran di perguruan tinggi yang unggul,” ujar Irene. Menurut Irene, kepuasan terhadap ekosistem belajar UMM tersebut bahkan diamini langsung oleh para dewan juri, yang sebagian besar diisi oleh guru besar dan penilai olimpiade kaliber internasional. “Review dari para juri yang ada, mereka mengatakan bahwa tahun lalu ini adalah OSN yang terbaik karena diadakan di tempat yang atmosfer akademiknya benar-benar terasa,” jelasnya. Selain itu, mengenai skala kompetisi, OSN 2026 di UMM dipastikan akan berjalan sangat kompetitif. Ajang prestisius ini akan mempertemukan sekitar 600 talenta siswa-siswi berprestasi dari seluruh penjuru Nusantara, yang telah sukses menyisihkan lebih dari 946 ribu pendaftar pada tahapan seleksi daerah. “Puspresnas tahun ini merancang sebuah terobosan edukatif agar siswa tidak hanya tegang menghadapi ujian keilmuan semata. Di sela-sela jadwal ujian kompetisi, para peserta akan dilibatkan dalam program baru bertajuk ‘Bina Talenta Indonesia Kolaboratif’. Sebuah langkah maju yang difokuskan pada penguatan jejaring, kolaborasi, dan kecerdasan emosional anak bangsa,” tandas Irene.
UMM Siapkan Beasiswa Khusus Demi Hapus Stigma Negatif Aktivis Kampus

babelinsgiht – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalankan langkah progresif untuk mengikis anggapan negatif mengenai aktivis kampus. Kegiatan berorganisasi selama ini sering dituding membuang waktu dan menunda kelulusan mahasiswa. Perguruan tinggi yang dikenal sebagai Kampus Putih tersebut berencana mengapresiasi kiprah penggerak organisasi. Apresiasi ini diberikan melalui skema beasiswa khusus dan pengakuan sebagai mahasiswa berprestasi, seperti dilansir dari Edukasi. Rencana besar ini mencuat dalam forum Dialektika Kampus Putih yang digelar Badan Executif Mahasiswa (BEM) UMM di Convention Hall Sengkaling Kuliner, Sabtu (4/4/2026). Forum silaturahmi pasca-Idul Fitri tersebut berubah menjadi panggung kabar gembira bagi ratusan fungsionaris organisasi mahasiswa (Ormawa). Wakil Rektor III UMM Nur Subeki menegaskan komitmen universitas untuk mengubah paradigma mengenai aktivis. Kontribusi mahasiswa yang aktif di BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) merupakan aset berharga bagi reputasi universitas. ”Kami sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis. Kami ingin mereka tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga merasa didukung secara finansial dan akademis oleh kampus,” ujarnya melansir laman UMM, Selasa (7/4/2026). Keaktifan para mahasiswa tersebut ke depan akan dikategorikan sebagai prestasi. Nur Subeki meyakini bahwa berkiprah di dalam organisasi adalah bentuk pencapaian yang luar biasa bagi mahasiswa. UMM juga berkomitmen memberikan fasilitas pendampingan selain dukungan materi. Pihak kampus akan mengawal setiap inisiatif mahasiswa, termasuk Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan lapangan. Jawaban atas Keresahan Mahasiswa Kebijakan baru ini disambut positif oleh Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal. Langkah ini dinilai menjadi solusi atas dilema mahasiswa dalam membagi fokus antara biaya kuliah, tuntutan akademik, dan tanggung jawab organisasi. ”Ini adalah langkah strategis. Selama satu periode ini, kami di BEM berusaha menjalankan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa,” tutur Wahyuddin. Minat mahasiswa dalam berorganisasi diyakini akan meningkat tajam dengan adanya beasiswa bagi pengurus ormawa. Wahyuddin menambahkan bahwa berorganisasi adalah soft skill yang tidak didapatkan mahasiswa di dalam kelas. Perwakilan UKM yang hadir, Siti Aminah, turut mengaku lega dengan adanya kebijakan baru tersebut. Ia merasa peran aktivis yang selama ini dianggap bekerja di balik layar akhirnya mendapatkan apresiasi yang setara. “Selama ini kami sering merasa ‘pejuang di balik layar’ yang kurang terlihat. Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, kami merasa dihargai. Ini membuktikan UMM melihat prestasi secara luas, tidak hanya soal angka di KHS (Kartu Hasil Studi),” ungkap Siti. Dukungan beasiswa dan pengakuan resmi ini diharapkan membantu para aktivis UMM tidak hanya lulus sebagai sarjana secara akademik. Mahasiswa juga diharapkan tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kemandirian serta integritas tinggi. Advertisement
Rincian Biaya Kuliah UMM 2026 Semua Jurusan S1, Cek Estimasi Terbaru Sekarang

inikata – Memilih kampus swasta memerlukan perencanaan matang, terutama terkait kesiapan finansial calon mahasiswa. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah merilis rincian biaya kuliah untuk tahun akademik 2026/2027 sebagai panduan pendaftaran. Komponen utama biaya pendidikan di UMM disebut dengan Biaya Studi Semester atau BSS. Penting untuk dicatat bahwa calon mahasiswa yang mendaftar pada gelombang II akan mengalami kenaikan Dana Pengembangan Pendidikan (DPP) sekitar 10 persen. Memahami Komponen Biaya Kuliah UMM Biaya Studi Semester (BSS) di UMM mencakup beberapa elemen penting pendukung perkuliahan. Komponen ini meliputi biaya daftar ulang, SPP, DPP, serta biaya layanan untuk teknologi informasi dan perpustakaan. Pihak kampus memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk melunasi BSS melalui sistem cicilan tiga kali dalam setiap semester. Pembayaran tersebut dibagi menjadi angsuran pertama saat KRS, angsuran kedua menjelang UTS, dan angsuran terakhir sebelum UAS dimulai. Beberapa pengeluaran akademik tertentu tidak termasuk dalam skema BSS rutin dan harus dibayarkan secara terpisah : Kuliah Kerja Nyata (KKN) Penyusunan Skripsi Proses Yudisium Pelaksanaan Wisuda Biaya di atas dibayarkan sesuai dengan waktu pelaksanaan masing-masing kegiatan tersebut di akhir masa studi. Hal ini perlu dipersiapkan oleh mahasiswa di luar biaya semesteran rutin. Estimasi Biaya Kuliah Per Jurusan Tahun 2026 Besaran biaya kuliah di UMM sangat bervariasi tergantung pada program studi yang dipilih dan gelombang pendaftaran mahasiswa. Perbedaan biaya paling mencolok biasanya terlihat pada program studi bidang kesehatan dibandingkan humaniora. Tabel di atas menunjukkan bahwa biaya pada semester pertama cenderung lebih tinggi karena mencakup biaya pengembangan dan pendaftaran awal. Memasuki semester pertengahan hingga akhir, biaya studi umumnya menjadi lebih stabil atau bahkan menurun. Bagi calon mahasiswa yang memilih program studi seperti Sosiologi atau Kesejahteraan Sosial, biaya semester awal dimulai dari Rp 7,2 juta. Seluruh data ini bersumber dari ketentuan resmi yang dikeluarkan oleh pihak Universitas Muhammadiyah Malang.
Dosen Kedokteran UMM Ungkap Bahaya Hantavirus Saat Musim Hujan dan Banjir

pwmu.co – Tingginya curah hujan yang memicu genangan air dan banjir di berbagai daerah tidak hanya meningkatkan risiko Demam Berdarah Dengue (DBD), tetapi juga ancaman penyakit berbahaya lain yang ditularkan hewan pengerat, yakni hantavirus.Penyakit ini perlu diwaspadai karena memiliki gejala awal yang mirip DBD dan dapat memicu komplikasi serius pada paru-paru maupun ginjal apabila terlambat ditangani. Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. H. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., FISPH., FISCM., menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus. Menurut Febri, hantavirus berbeda dengan leptospirosis atau penyakit kencing tikus yang disebabkan oleh bakteri. “Hantavirus murni merupakan infeksi virus yang penularannya sangat mudah menyebar lewat medium cairan hingga udara,” jelasnya. Ia menerangkan bahwa virus dapat menular kepada manusia melalui urin maupun gigitan langsung hewan pengerat. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui aerosol atau udara yang mengandung partikel virus dari kotoran tikus yang terhirup manusia. “Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung oleh hewan pengerat. Bahkan, penularannya juga bisa melalui aerosol karena paparan udara yang mengandung partikel virus hanta dari kotoran tikus yang terhirup oleh manusia,” jelasnya. Secara klinis, Febri memaparkan bahwa infeksi hantavirus terbagi menjadi dua kondisi utama. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang fungsi ginjal. Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang mengganggu sistem pernapasan. Gejala awal penyakit ini umumnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas seperti flu biasa. Namun, kondisi dapat berkembang menjadi sesak napas, perdarahan, hingga muncul ruam kulit yang khas. “Yang membedakan dengan DBD, biasanya muncul ruam-ruam di kulit yang disertai gangguan pada ginjal maupun pernapasan. Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, ini sudah masuk kondisi serius dan baiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat,” tegasnya. Hingga kini, belum ditemukan obat spesifik maupun vaksin untuk menangani hantavirus. Penanganan medis yang dilakukan masih berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien agar tetap stabil. Febri menjelaskan, risiko penularan virus ini meningkat saat musim hujan dan banjir karena tikus cenderung keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut lembap rumah. “Karena virus itu tidak ada pengobatan spesifik, maka hal utama yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien,” tambahnya. Merespons ancaman kesehatan tersebut, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun disiplin menerapkan langkah pencegahan. Mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, seperti rutin membersihkan lingkungan dan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker, sarung tangan, dan sepatu saat membersihkan gudang atau area yang berpotensi menjadi sarang tikus. Selain itu, menjaga nutrisi dan istirahat yang cukup dinilai penting untuk memperkuat sistem imun tubuh. “Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan lingkungan dan imunitas tubuh agar terhindar dari paparan infeksi,” pungkasnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria