April 13, 2026, oleh

Sebagai wujud komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan abad ke-21, program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan terobosan pada Praktik Pengalaman Lapangan (PPL-1). Bertempat di Teater Dome UMM pada Sabtu (11/4), acara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa ini dibuka secara langsung oleh Ketua Tim Kerja PPG UMM, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si.
Pada giat tersebut, Dr. Nurwidodo, M.Kes. hadir memaparkan materi strategis bertajuk ‘Pengintegrasian STEM dalam Modul Ajar’. Dalam sesinya, ia menekankan pentingnya integrasi model pembelajaran PM-STEM-PjBL sebagai solusi pendidikan masa depan. Selain Nurwidodo, adapula sederet pemateri lainnya seperti Dr. Erna Yayuk, Fahdian Rahmandani, dan lainnya.
Adapun Nurwidodo menjelaskan bahwa filosofi utama dari pembaruan ini adalah penyatuan berbagai pendekatan hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat. Menggunakan integrasi tipe nested atau tersarang, ia menjelaskan bahwa pembelajaran harus bermuatan keterkaitan antar materi untuk mewujudkan deep learning. “Tujuannya adalah menuju pemahaman yang bermakna, keterampilan yang menguat, dan sikap yang positif demi memberdayakan keterampilan hidup abad ke-21,” jelasnya.
Model ini memadukan Pendekatan Makna (PM) yang berprinsip pada meaningful, mindful, dan enjoyful. Pendekatan tersebut kemudian dikombinasikan dengan konten STEM yang meliputi sains, teknologi, engineering, dan matematika, serta berproses melalui Project Based Learning (PjBL).
Proses pembelajaran terpadu ini diimplementasikan melalui enam tahapan sintaks PjBL, mulai dari merumuskan pertanyaan mendasar, merencanakan proyek, menyusun jadwal, memonitor pelaksanaan, menilai produk, hingga melakukan refleksi. Dari keenam sintaks tersebut, ia menyoroti dua langkah awal sebagai fase paling krusial, yakni merumuskan pertanyaan mendasar dan merencanakan proyek. Menurutnya, fondasi ini sangat menentukan keberhasilan keseluruhan tahapan siswa. “Bila dua langkah ini benar, maka langkah berikutnya akan berada di jalur yang tepat,” tegasnya.

Terkait perumusan masalah, ia mengibaratkan pertanyaan mendasar sebagai kunci eksplorasi yang tidak menghendaki jawaban singkat maupun dangkal. Pertanyaan yang baik justru akan mendorong siswa belajar secara mendalam melalui penyelidikan dengan bukti ilmiah, berbasis data, dan disimpulkan secara logis.
Untuk merumuskan pertanyaan berkualitas tersebut, Widodo sapaan akrabnya, menyarankan pendidik untuk menggunakan prinsip Aristoteles. Langkah ini dapat dimulai dengan melakukan eksplorasi konsep secara komprehensif, lalu dilanjutkan dengan membuat skema atau peta konsep untuk memetakan potensi masalah.
Di samping meningkatkan kualitas instruksional di kelas, implementasi integrasi PM-STEM-PjBL ini ternyata sangat mendukung pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi pengajar. Terdapat dua tujuan utama PTK dalam konteks ini, yaitu mendeskripsikan proses implementasi pendekatan tersebut dan menganalisis peningkatan kemampuan peserta didik.
Melalui rancangan modul ajar yang terstruktur, kerangka inovasi pembelajaran ini diharapkan mampu mencapai visi akhirnya. Ia berpesan bahwa esensi sejati dari integrasi ini adalah untuk menjadikan peserta didik lebih baik.(faq)
Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman