January 7, 2026, oleh Humas Universitas

Malang (beritajatim.com) – Prediksi cuaca ekstrem yang melanda awal tahun 2026 menjadi peringatan serius bagi masyarakat.

Fenomena ini dinilai tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan fisik, tetapi juga membawa risiko besar terhadap kesehatan publik.

Perubahan suhu yang drastis, curah hujan tinggi, hingga fluktuasi kelembapan menuntut tubuh manusia untuk beradaptasi lebih keras. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyoroti kondisi ini sebagai stresor lingkungan.

Jika tidak diantisipasi, stresor ini dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan. Zaqqi menegaskan bahwa cuaca ekstrem jangan hanya dipandang sebagai fenomena alam biasa, melainkan sebagai ancaman nyata bagi kesehatan populasi.

Paparan terus-menerus terhadap kondisi lingkungan yang tidak menentu membuat tubuh gagal melakukan adaptasi optimal, yang berujung pada meningkatnya kerentanan terhadap penyakit.

“Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat,” ujar Zaqqi, Selasa (6/1/2026).

Ia menekankan pentingnya respons kesehatan yang bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif atau mengobati saat penyakit sudah menyerang. Menurut Zaqqi, cuaca ekstrem memicu stres fisiologis kronik yang menurunkan daya tahan tubuh.

Secara spesifik, ia menjelaskan dampaknya. Pertama, suhu dingin dan lembap, dapat melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan, mempermudah masuknya virus dan bakteri. Kedua, suhu panas ekstrem, meningkatkan risiko kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat.

“Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa penurunan imunitas bukan semata karena cuaca, melainkan kegagalan tubuh mempertahankan keseimbangan internal (homeostasis) dalam jangka waktu lama.

Untuk menghadapi tantangan ini, pendekatan keperawatan menyarankan pencegahan primer. Kuncinya ada pada Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), nutrisi seimbang, dan hidrasi yang cukup.

Zaqqi mengingatkan bahwa asupan protein, vitamin, dan mineral adalah fondasi utama sistem imun. Sementara itu, suplemen hanyalah pendukung dan tidak bisa menggantikan peran makanan sehat (real food).

“Langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten, memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi, serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif,” paparnya.

Penting dicatat, saat cuaca ekstrem, tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meskipun rasa haus tidak selalu muncul. Oleh karena itu, disiplin minum air menjadi krusial.

Lindungi Kelompok Rentan dan Kesehatan Mental

Dosen UMM tersebut juga memberikan perhatian khusus pada kelompok rentan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis lebih rendah, yakni anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan pekerja lapangan.

Perlindungan terhadap mereka membutuhkan benteng berupa dukungan keluarga dan komunitas, mulai dari pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, hingga penciptaan lingkungan yang aman.

Tak hanya fisik, faktor psikologis juga berperan vital. Stres dan kecemasan akibat ketidakpastian cuaca dapat memicu hormon kortisol yang menekan sistem imun.

“Menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten,” tegas Zaqqi.

Menutup penjelasannya, Zaqqi berharap adanya sinergi antara kesadaran individu, peran keluarga, serta kebijakan pemerintah yang responsif. Edukasi kesehatan yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menekan dampak buruk perubahan iklim. “Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” pungkasnya. (dan/ted)