December 25, 2025, oleh

KLIKMU.CO – Berada di hadapan para penyintas yang kehilangan rumah dan keluarga menjadi pengalaman paling mengguncang bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana. Dokter muda yang akrab disapa Dana ini harus belajar menyeimbangkan empati dan profesionalisme saat mendampingi korban banjir bandang di Sumatera Barat melalui layanan psikososial.
Dana merupakan dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) asal Banjarmasin yang tergabung dalam program tanggap bencana UMM berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek).
Program ini berfokus pada pelayanan medis dan psikososial. Para relawan diterjunkan ke Sumatera Barat sepanjang Desember 2025 untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak banjir bandang.
Dalam program tersebut, Dana dipercaya bergabung sebagai anggota tim psikososial yang bertugas mendampingi penyintas dengan gangguan mental akibat trauma bencana.
“Saya langsung turun ke masyarakat dan menanyai perihal gejala serta gangguan mental mereka akibat post-trauma banjir bandang ini,” ujar Dana.
Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi momen awal Dana bersentuhan langsung dengan realitas bencana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang dihuni para penyintas dari Kecamatan Palembayan, wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan tinggi.
“Mereka menceritakan bahwa rumahnya sudah rata dengan tanah, bahkan banyak anggota keluarga yang sudah tidak ada,” katanya.
Dana menjelaskan bahwa mayoritas penyintas yang ia dampingi mengalami kecemasan berat, gangguan panik, serta tekanan emosional akibat kehilangan. Pendampingan dilakukan melalui asesmen, konseling, relaksasi, serta pemberian obat-obatan yang dipantau secara berkala selama dua minggu.
“Sebagian besar pasien adalah mereka yang kehilangan anggota keluarga, tetapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk bertahan hidup,” ungkapnya.
Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat bertugas di Rumah Singgah Sitingkah Tapi, Kecamatan Lubuk Basung, yang menjadi lokasi penampungan penyintas dari Kecamatan Palembayan, salah satu zona merah dengan dampak paling parah.
“Saya bertemu seorang ayah yang rela mengorbankan dirinya agar istri dan anaknya bisa selamat, sebelum akhirnya tergerak untuk melukai diri agar bisa terbebas dari jeratan galodo, setelah mendengar pertanyaan: ‘Ayah, setelah ini kita mau ke mana? Ayah ikut, kan?’ Cerita mereka benar-benar menggoyahkan saya secara personal,” tutur Dana.
Meski pernah menjalani stase kejiwaan saat koas, Dana mengaku pengalaman lapangan ini memberi pelajaran yang jauh lebih dalam.
“Ini adalah pengalaman yang tidak akan tergantikan bagi saya sebagai calon dokter,” ujarnya.
Dana berharap kehadiran program UMM bersama KemendiktiSaintek yang fokus pada layanan medis dan psikososial ini dapat membantu mempercepat pemulihan mental dan sosial para penyintas pascabencana.
(Faqih/AS)